Berterima Kasih

Botanischer Garten Bayreuth 2013

Botanischer Garten Bayreuth, August 2013

Tiga tahun lalu saya sempat bertanya kepada salah seorang sahabat: bagaimana rasanya menjadi doktor. Hampir empat minggu yang lalu saya mendapatkan pertanyaan yang sama. Ternyata jawaban yang saya berikan juga sama dengan jawaban dari sahabat saya itu: biasa saja. Memang biasa saja, selain kelegaan yang cukup besar karena telah selesai melakukan satu tugas. Namun, saya selalu percaya bahwa tidak pernah ada akhir, semua selalu menjadi awal. Dan untuk saya, hampir 4 tahun menjalani proses promosi ini bukan hanya masalah akademis, intelektualitas, jadi doktor atau tidak jadi doktor, tetapi lebih dari itu. Selama itu pula saya semakin belajar mengenal diri saya: saya yang tidak sabaran, saya yang panikan, saya yang pencemas, saya yang penakut, saya yang pemalas, saya yang sering menunda pekerjaan, saya yang keras kepala, saya yang masih mementingkan apa kata orang, dan saya saya yang lain, yang selama ini mungkin tidak muncul terlihat ke permukaan.

Maka untuk saya bukan hasil akhir yang semata-mata membuat saya lega, tetapi keseluruhan proses panjang yang terus terang saya rasakan cukup berat ini ternyata terlewati juga. Dan ini bukan hasil kerja saya sendiri, ada banyak bantuan dan kekuatan dari Sang Maha Membantu lewat orang-orang yang dikirimkanNya untuk saya dan berada di sekeliling saya: dengan cara apapun. Maka, bagian paling personal dan paling saya sukai dari setiap karya saya adalah ucapan terima kasih. Jika diijinkan, mungkin seperempat bagian dari disertasi saya bisa penuh oleh nama-nama. Sayangnya tidak bisa. Jadi, saya menulis di sini, karena saya tidak bisa melepaskan nama-nama mereka yang membantu saya –langsung tidak langsung- sampai pada titik lain perjalanan hidup saya.

Selain kepada para guru dan para professor saya, saya sangat berterima kasih pada Peter Kistler yang sejak tahun 1992 menjadi teman diskusi, teman yang mendukung saya secara akademis dan secara personal, teman yang membantu saya melihat diri saya dan keIndonesiaan saya dari kacamata lain, teman yang siap memberikan kritik pedas yang konstruktif. Svann Langguth yang juga selalu siap mendukung saya. Jutta Kunze yang juga selalu siap membantu. Ilona Kruger yang dengan caranya memungkinkan saya melanjutkan perjalanan. Gaby Ziegler yang selalu ada dan selalu siap saya repotkan. Begitu juga dengan Barbara Schwarz-Bergmann yang sudah „rela“ dibuat pusing dan menjadi tempat saya protes. Walter dan Ulla Wagner yang selalu menyediakan rumahnya untuk saya, membuat saya merasa selalu memiliki „rumah“ di Bayreuth. Begitu juga dengan Mbak Ivo Oppl, my big sister and my partner in crime di Bayreuth, atas kebesaran hati dan pintu yang selalu dibuka lebar untuk saya. Terima kasih telah ada dan membantu saya.

Bicara tentang data dan transkrip, maka saya harus berterima kasih banyak pada Mbak Yanti Mirdayanti, Poppy Siahaan, Mbak Andi Nurhaina, Jutta Kunze, Gabriella Otto,  Tanja Schwarzmeier, Astrid Krake, Ibu Dian Indira serta semua narasumber yang bersedia direkam dan dianalisis. Pada Shita Sarah, Hani Priandini, Lastari Duggan, Mia Marwati, Genita Canrina, Fitri Khairani dan Sarifah Alia terima kasih atas bantuannya mentranskripsi data saya. Ganjar Gumuruh yang telah mengajarkan saya mengedit video dan membantu mengkonversi semua data rekaman.

Terima kasih juga untuk Sina Friedrich dan Ani serta Ronald Nangoy yang selalu siap dengan kunjungan dadakan saya dan yang membuat saya selalu merasa bahwa Jerman adalah mereka. Mbak Rahayu Nurwidari yang juga selalu siap membuka pintunya untuk saya. Sarah Merret yang banyak sekali membantu, dari mulai mengoreksi pekerjaan saya, menyediakan rumahnya, sampai mengajari saya memasak nasi biryani :)

Teman-teman sesama „minoritas“ di Bayreuth: Mas Rizal dan Ani, Yusri dan Meta –teman jalan-jalan dan diskusi-, Heriyanto Tjoa dan terutama Andhika Puspito Nugroho, yang selalu siap membantu dan selalu bersedia saya repotkan termasuk dalam urusan menyiram tanaman dan belanja daging :) Bantuan dan keberadaan mereka membuat saya tidak merasa sendiri.

Sahabat-sahabat seperjuangan dan teman-teman curhat: Ahmad Zahra, Mohammed el Nasser, Sherine Elsayed –yang juga menyediakan tempatnya untuk saya saat mengambil data-,  Chen Jieying, Ahmad Alradi, Ahmad Keshavarzi, Mariusz Woloszyn, Sandra Romero, Sokol Keraj –sang sutradara, yang menjadi teman berbagi keluhan, kerumitan ide dan pikiran, Gao Qian yang juga selalu siap membantu saya dan menjadi tempat curhatan saya. Terima kasih khusus untuk Monika Pondelek, sahabat saya, teman curhat, teman bergossip, teman diskusi, teman nonton dan teman yang membuat saya menjadi suka mewarnai kuku saya :) Dia juga teman yang menyediakan kamarnya untuk saya tempati dan menyepi agar saya bisa bekerja dengan tenang dan yang bersedia ditelfon serta didatangi tengah malam untuk diinapi karena pintu rumah terkunci :) Terima kasih untuk pengertian dan bantuannya.

Sahabat-sahabat saya sehati, seperjuangan, seperjalanan: Lola Devung, sinkronisitas di Mannheim 2010 membawa pada chatting panjang malam-malam sambil mentranskrip, mengolah data, bergossip, facebooking, twittering, youtubing serta berujung pada perjalanan murah meriah ke Schwarzwald, Colmar, Barcelona, Turki dan kehebohan-kehebohan yang masih berlanjut sampai sekarang. Juga Vita Yusadiredja dengan modus operandi yang sama berujung pada perjalanan gila ke Itali, Swiss dan Nordsee. Teh Ani Rachmat teman seperjuangan sejak dari Bandung yang akhirnya tercapai juga keinginannya main bersama di Eropa, walaupun cuma menghabiskan satu akhir pekan bersama di Berlin. Shita Sarah Safaryah, si neneng jeprut, walau bagaimana pun jeprutnya dia, saya berterima kasih karena dia telah membantu saya mentranskrip dan bersedia begadang bersama untuk membicarakan hal-hal yang sangat “penting” dan “gila” bersama dengan teman sehatinya: Cicu Finalia, yang juga bersedia menemani saya begadang (atau tepatnya membuat dia juga ikut begadang bersama kami). Seperti juga teman-teman di Fakultas Sebelah: Nani Darmayanti –bantuannya sangat tidak terkira-, Tanti Skober, Evi RD, Iwan Khrisnanto, Teh Kamelia Gantrisia dan tentu Teh Sofia Agustriana yang selalu bersedia saya repotkan. Juga Lusi Lian Piantari dan Harfiyah Widiawati yang selalu menjadi sahabat yang penuh pengertian. Mereka ini yang membuat saya tetap ada di jalur yang “benar” :)

Kuncoro Wastuwibowo, Mbak Hindraswari Enggar Dwipeni, Gilang Yubiliana, Ari Asnani, Wayan Lessy, Bettina David, Tarlen Handayani adalah orang-orang yang menebarkan banyak energi dan inspirasi positif bagi saya. Terima kasih.

Kolega-kolega saya di Jurusan, yang memberikan banyak keluangan waktu untuk saya, terutama untuk ibu Hesti Puspa Handayani, ibu Dian Indira, ibu Damayanti Priatin, ibu Yunni Sugianto, yang selalu mendukung dan mempercayai saya.

Sahabat saya Insan Fajar, yang selalu siap kapan pun saya “teriaki” dan saya mintai bantuan jika ada masalah dengan laptop atau program-program yang tidak saya mengerti, teman berbincang panjang lebar dan berbagi ide. Dien Fakhri Iqbal, tempat berbagi kekeraskepalaan dan kegilaan, yang membuat saya merasa bahwa saya ternyata masih cukup “normal” dengan semua kerumitan cara berpikir saya. Kuswandi Amijaya, sahabat dalam suka dan duka, yang selalu bersedia saya repotkan, yang selalu bersedia mendengarkan semua keluhan dan ocehan saya, yang selalu siap membantu saya apapun situasinya. Bima Bayusena, yang dengan caranya yang tenang dapat “menarik“ saya kembali serta “melambatkan” langkah jika saya sudah melampaui batas, menjadi telinga yang dengan sabar  mendengarkan semua keluhan saya dari hal-hal besar sampai hal-hal sepele. Mereka ini lah yang mengetahui dengan pasti, bahwa saya pun menangis :)

Untuk saya tidak berlebihan jika saya berterima kasih pada Pearl Jam, Peterpan (lalu Noah), Phil Collins, Sting, U2, Coldplay, Boyce Avenue, Scala Choir, pada banyak musisi yang musik-musiknya telah setia menemani hari-hari saya bekerja dan melewati masa-masa naik turun sampai saat ini (dan juga nanti). Juga pada Akhmad Dody Firmansyah yang telah memberikan hadiah yang selalu bisa membuat saya tersenyum saat ada dalam tekanan.

Terima kasih terbesar adalah untuk orang tua saya, adik-adik saya dan keponakan saya yang menjadi penjaga utama api hidup saya. Tidak ada cukup kata untuk mengungkapkan (dan memang tidak bisa saya ungkapan) rasa terima kasih dan rasa syukur saya atas keberadaan mereka.

Pada akhirnya memang hanya kepada Sang Maha Pengasih dan Penyayang saya bersyukur atas limpahan berkah dan kasih sayangNya, yang diberikan langsung kepada saya dan dipanjangkan melalui keberadaan semua orang yang selalu ada dan menyayangi saya, juga yang saya sayangi.

Untuk saya tidak pernah ada akhir, semua adalah awal. Berada di titik ini adalah awal saya untuk semakin memahami, bahwa tidak ada sedikit pun nikmat yang bisa saya dustakan. Ini adalah awal saya untuk semakin menyadari, bahwa saya dapat berada pada titik ini saat ini karena mereka semua. Dan semua ini akhirnya memang untuk mereka, bahkan untuk mereka yang namanya tidak sempat atau lupa saya sebut. Saya ada di titik ini bukan semata untuk saya. Maka saya hanya bisa berharap, semoga keberadaan saya di titik ini juga bisa membawa berkah bagi semua.

Advertisements