(Belajar) Puasa

Bulan Ramadhan di Jerman biasanya bulan saya mendadak „beken“. Bukan karena apa-apa, tetapi karena banyak orang yang bertanya tentang puasa, dari mulai pertanyaan yang murni karena tidak tahu dan ingin tahu seperti mengapa puasa, bagaimana menjalankannya, bagaimana kalau tidak kuat, dll sampai ke pertanyaan yang jawabannya kadang mereka sudah punya sendiri, misalnya puasa itu tidak bagus untuk kesehatan karena tubuh tidak mendapatkan nutrisi dan cairan sepanjang puasa, sampai ke masalah penyiksaan badan. Saya bukan pakar di bidang agama, belum cukup sholeh dan pintar dalam mengutip ayat-ayat dan hadist lengkap dengan istilah dalam bahasa Arab, jadi saya jawab pertanyaan-pertanyaan itu semampu logika dan pemahaman saya.  Kalau mood sedang bagus, biasanya saya jawab dengan „bagus“ juga, tapi kalau mood sedang jelek ya tidak saya jawab juga, atau saya jawab pendek agak jutek. Ya, ya, ini penyakit saya. Namun, saya jarang kok menjawab seperti itu, kan sedang puasa, masa jutek sama orang lain sih. Paling saya buat jadi candaan saja. Atau saya sudah „mengancam“ duluan dengan bilang: bosan pertanyaannya begitu  terus, sepertinya saya harus merekam jawaban saya karena dari tahun ke tahun pertanyaannya tidak kreatif, itu terus, jawaban saya juga jadinya tidak kreatif. :)

Jadi, tahun ini kalau dihitung sudah 7 kali saya puasa di Jerman, walau tak berurutan. Pertama kalinya di tahun 1997. Saat itu tak terasa kalau mau dilihat puasa sebagai saat menahan lapar dan haus, karena musim dingin, siang jauh lebih pendek. Matahari baru terbit jam 7.30an dan terbenam jam 16.30an. Lagipula saat itu saya kerja sampai jam 15. Selesai kerja, siap-siap bentar, maghrib deh. Begitu juga tahun-tahun berikutnya, saya masih kebagian puasa di musim dingin. Tahun lalu baru saya „kena“ puasa di musim panas, dan tahun ini juga. Puasa yang „menakutkan“ karena siang yang panjang. Imsak jam 2.30an dan buka jam 21 bahkan 21.30an. Terus terang, awalnya juga saya „takut“ membayangkan apakah saya kuat menahan lapar dan haus selama itu. Selama di Jerman, saat „membayar“ puasa pun biasanya saya lakukan segera saat musim dingin, takut siang keburu panjang. :)

Namun, bicara ketakutan, rasanya saya memang penakut. Dulu pun sempat takut saat pertama kali akan menjalani puasa di Jerman, saat musim dingin. Takut tidak kuat lah karena harus berpuasa pada suhu di bawah nol, takut ngiler lihat makanan ini itu, takut semua.  Perlukah? Ternyata tidak, karena setelah dijalani ternyata puasa ya biasa-biasa saja. Lapar memang, haus memang, tapi rasanya saya malah sering merasa kelaparan dan kehausan berat saat tidak berpuasa. Ah, sugesti saja. Mungkin. Karena otak „memanipulasi“ perut untuk tidak terlalu merasa lapar dan haus. Tergantung niat, kata orang-orang yang mengerti agama. Dan puasa di musim panas, yang tadinya saya bayangkan akan terasa sangat panjang,lama, pokoknya menakutkan, ternyata tidak semenakutkan itu. Entah kenapa juga, dua kali puasa saat musim panas, suhu dan cuacanya juga cukup mendukung untuk tidak merasa terlalu kehausan dan kelaparan.

Itu kalau masalah lapar dan haus. Bagaimana dengan godaan lainnya? Melihat orang bebas makan dan minum di mana-mana? Ternyata tidak berpengaruh juga. Puasa jalan terus. Ngiler? Yah, sedikit, tapi bisa tahan lah. Godaan lainnya? Lihat yang telanjang di sana sini termasuk melakukan „adegan panas“? Lama-lama biasa juga, lagipula tidak harus ikutan bernafsu :). Untuk saya yang paling sulit ditahan itu jutsru nafsu belanja dan urusan mengantuk yang tiada tara. Selain tentu saja nafsu mau marah kalau ada hal-hal yang tidak berkenan di hati. Atau nafsu bergossip. Hmm, banyak juga ya? Hehe.

Khusus untuk puasa di musim panas ini, saya baru sadar bahwa mengantuk adalah godaan terbesar saya. Saya yang makhluk nocturnal biasanya tahan begadang sampai subuh dan tidur setelah subuh. Namun, di bulan puasa ini, segera setelah saya berbuka, mata pun langsung terasa dikenai beban seberat beberapa ton. Lebay. Tapi memang sulit sekali untuk bisa tetap membuka mata saat berbuka puasa dan menahan diri untuk tetap terjaga dan sadar bahkan di saat shalat maghrib. Biasanya saya sulit untuk beranjak ke tempat tidur (kalau sudah kena bantal sih saya memang selalu mudah tidur, tapi beranjak menuju tempat bantal itu berada yang sulit), kali ini di mana pun saya bisa jatuh tertidur.

Tadi sore saya diwawancara seorang sahabat untuk sebuah acara di sebuah radio di Jerman (ini wawancara serius walaupun sebelum dan sesudah wawancara acara ngobrol sana sininya lebih banyak), dia bertanya bagaimana cara saya mengatur waktu shalat saat puasa di musim panas ini. Saya terdiam sejenak, iya ya, ini yang sulit untuk saya. Subuh jam 3an, dhuhur jam 13an, ashar jam 17an, maghrib jam 20an dan isha jam 23an. Tarawihnya kapan? Ya pasti setelah isha dong. Bisa sampai jam 24 itu, kalau kebetulan sedang ikut tarawih di mesjid Arab (istilah untuk mesjid yang pengunjungnya kebanyakan dan dikelola orang Arab, bukan orang Turki, tapi orang Indonesia sih enak, bisa ke mesjid mana saja, dan diakui di mesjid mana saja. Tinggal pilih ingin yang cepat atau yang pendek, hehe. Eh, mesjid juga politis lho, walaupun seharusnya tidak  ;) ) yang imamnya sering membacakan surat-surat panjang dan tarawihnya sampai 21 bahkan 23 rakaat. Pulang ke rumah istirahat sebentar sudah siap-siap lagi untuk sahur. Nah lho, tidurnya kapan?

Ternyata untuk saya pertanyaannya jadi terbalik,  bukan lagi bagaimana saya mengatur waktu shalat jadinya, karena shalat ya jadwalnya sudah ditetapkan, dan ingin saya jalankan sesuai waktu. Namun, bagaimana saya mengatur waktu tidur saya. Karena di bulan puasa ini, biasanya saya juga suka mendadak jadi ingin lebih rajin melakukan ritual spiritual saya. Atau jangankan itu lah, untuk „urusan duniawi“ saja, di bulan puasa juga saya tetap harus bekerja dan menyelesaikan urusan ini itu yang seringkali harus dilakukan pagi-pagi jam 8 atau jam 9. Sehabis makan sahur dan buka saya tidak bisa langsung tidur juga, berbahaya untuk kesehatan (ini tentu berlaku untuk setelah jam-jam makan lainnya juga).  Jadi kapan saya tidur, jika saya baru bisa tidur sekitar jam 5 atau jam 6 pagi kemudian jam 8 atau jam 9 sudah berkegiatan sepanjang hari sampai sore, sementara waktu malam yang pendek juga tidak memungkinkan untuk tidur langsung sampai subuh, kecuali kalau mau tidak sahur. Namun, saya bukan tipe orang yang bisa puasa tanpa makan sahur atau dengan cukup minum air putih saja. Tepatnya lagi saya tidak mau, sadar diri saja, perut saya sudah cukup bermasalah, jadi tidak mau mengambil resiko sok kuat tidak pakai sahur, walaupun biasanya saat sahur pun saya masih cukup kenyang, karena jarak dari waktu berbuka ke sahur itu cukup pendek. Akhirnya, saya mencuri-curi waktu untuk tidur di antara waktu dhuhur dan ashar, atau di antara ashar dan maghrib atau di antara maghrib dan isha. Sejam dua jam saja. Tidak cukup kalau mau mengikuti keinginan, tapi daripada tidak tidur sama sekali, waktu ini sudah sangat berharga.

Jadi, masalah utama saya ternyata bukan di saat berpuasa siang hari, tapi justru di saat malam ketika sedang tidak berpuasa lagi. Itu kesulitan utama untuk saya, jika saya ditanya apa kesulitan puasa saat musim panas:  menyesuaikan waktu tidur. Dan makhluk nocturnal seperti saya pun ternyata menyerah juga pada godaan kantuk ini. Ujian terberat untuk saya ternyata bukan pada saat menahan lapar dan haus, menahan nafsu makan dan minum di siang hari, namun menahan kantuk, ya itu tadi, agar saya bisa tetap dalam keadaan sadar saat makan dan minum di waktu berbuka dan di saat shalat, agar saya tidak jatuh tertidur menelungkup di atas piring atau langsung nyenyak saat sujud di waktu shalat.

Ya, tentu saja, puasa bermakna lebih dari sekedar menahan lapar dan haus, begitu pelajaran yang saya ketahui dari orang-orang yang lebih mengerti agama. Puasa katanya juga bermakna pengendalian diri. Dan saya bersetuju dengan itu, sudah disebutkan di atas. Namun, puasa untuk saya juga adalah proses penyeimbangan, lahir dan batin, dengan menahan beberapa hal untuk melakukan beberapa hal lainnya. Dan proses ini, saya tahu, seharusnya tidak hanya terjadi di bulan puasa saja, tetapi –idealnya- di bulan-bulan yang lainnya juga. Tidak mudah, saya sering –dan hampir selalu- gagal.  Lebih dari itu semua, puasa untuk saya juga bermakna syukur. Tidak hanya pada kenikmatan mencecap teh hangat pertama setelah belasan jam tak minum, tapi juga pada kenikmatan bisa memejamkan mata di sela-sela proses penyeimbangan lahir dan batin tadi. Untuk ini, saya harus selalu diingatkan dan mengingatkan diri sendiri, karena saya masih sering juga lupa pada nikmatNya yang bertebaran dalam hidup saya. Termasuk nikmat jadi orang yang mendadak „beken“ di bulan puasa, karena saya pun jadi bisa bertanya lebih banyak pada diri sendiri dan lebih banyak belajar untuk mencari jawabannya. Semoga :)