Patrick Süskind: „Saya tidak memainkan kontrabass, melainkan piano“

suskind

Patrick Süskind. Tidak banyak hal yang bisa diungkap dari kehidupan lelaki kelahiran 1949 di Ambach am Starnberger See ini. Padahal anak kedua dari penulis dan jurnalis Wilhelm Emanuel Süßkind ini termasuk pengarang Jerman yang paling berhasil di kurun waktu belakang. Walaupun ia tidak terlalu banyak berkarya, tetapi setiap karyanya selalu mencapai sukses.

Kebalikan dengan karya-karyanya yang terkenal, Süskind lebih senang menutup rapat cerita tentang diri dan kehidupan pribadinya. Kehidupan pribadinya benar-benar disembunyikan secara ekstrim dari pemberitaan media massa. Tidak pernah ada wawancara, pengambilan foto dirinya, tidak pernah mau muncul di acara-acara talkshow, bahkan penghargaan-penghargaan di bidang sastra yang dianugerahkan kepadanya pun ditolaknya. Kalaupun ia bersedia bicara sedikit tentang dirinya, ungkapan yang keluar pun tetap terasa ironis dan berjarak. Ia lebih suka “menampilkan dirinya” lewat tokoh-tokoh karyanya yang juga tidak cukup banyak.

Weiterlesen

Auferstehung – Kebangkitan dengan Musik

Hari Sabtu cerah di saat orang-orang sibuk menyiapkan paskah: bersenang-senang dengan melukis telur dan menghadiahkan coklat berbentuk kelinci. Makan siang bersama dua orang teman, satu dari Taiwan, satu dari Korea Selatan, kami bicara banyak hal, mulai dari soal kuliah, rencana masa depan, Yogya, Borobudur, Prambanan dan Parangtritisnya (Joana, teman dari Korea Selatan itu pernah berlibur di Yogya dan Jakarta), sampai ke soal durian dan salak Pondoh yang semakin membuat saya rindu rumah.

Pembicaraan akhirnya berlanjut ke situasi ekonomi dan politik di negara kami masing-masing. Masalah yang dihadapi memang sama: pemerintahan yang korup. Kemudian ke soal Korea Selatan dan Korea Utara. Situasi separah itu tidak pernah terbayang sebelumnya dalam kepalaku. Bagaimana militer Amerika tetap bercokol di Korea Selatan, punya privilege lebih, tak tersentuh pajak dan hukum apapun, membuat mereka merasa berhak memperkosa perempuan-perempuan Korea, melakukan tindak kriminalitas lainnya, tetap mendapatkan uang, berfoya-foya di negara yang bukan negaranya. Padahal di negaranya sendiri mereka bukan apa-apa. Melakukan berbagai tuduhan bahwa pihak Utara memiliki senjata kimia, nuklir. Tuduhan basi. Ikut campur dan mengintimidasi pemerintahan Selatan bahkan isi kepala orang-orang Selatan. Membuat mereka merasa bahwa mereka lebih demokratis dibandingkan Utara.

Weiterlesen