Biasa Saja

Bulan lalu, dua orang sahabat saya menyelesaikan program doktoralnya. Setelah berkutat jatuh bangun sekitar 4 dan 5 tahun mereka berhasil menyelesaikannya. Saat saya tanya bagaimana perasaan kedua „Herr Doktor“ baru itu, jawaban mereka sama „Biasa saja. Tidak ada yang istimewa. Hanya perasaan lega karena satu beban sudah lepas. Tapi hidup kan tidak berhenti. Beban di depan sudah menunggu. Dan terus terang, kalau waktu bisa diputar kembali, saya tidak akan memilih ini, tapi memilih berkumpul dengan keluarga saya. Dengan tambahan gelar itu tanggung jawab malah semakin besar.” Heran, jawaban keduanya bisa sama, padahal mereka tinggal di dua kota yang berbeda.

Saya tersenyum dan teringat pada satu hari di akhir Agustus 6 tahun silam, hari terakhir ujian program magister saya dan saya dinyatakan lulus dari program itu. Saat itu yang saya rasakan juga hanya kelegaan karena “tanggung jawab” atas pilihan yang saya ambil saat itu menemui akhirnya. Bahagia? Iya, tapi rasanya tidak terlalu. Bersyukur sangat tentu saja, kemudian hal yang pertama saya lakukan adalah menelfon orang tua saya memberitahukan kabar tersebut.  Tidak ada eforia kegembiraan yang berlebih. Cenderung datar malah, karena saya merasa bahwa selesai kuliah itu bukanlah akhir, tapi awal. Awal dari perjuangan dan tanggung jawab berikutnya dan biasanya lebih berat, karena apa yang saya lakukan tidak berimbas untuk diri saya sendiri tapi juga untuk orang lain. Toh apa yang saya raih tidak lepas dari bantuan dan dukungan orang lain juga.

Dan benar. Tanggung jawab pekerjaan saya semakin banyak dan besar. Saya berusaha melihatnya sebagai sebuah kepercayaan yang positif dari lingkungan saya. Siapapun itu. Amat sangat tidak mudah, karena ada saat-saat tertentu sebagai manusia biasa saya bisa merasa sangat lelah dan terbebani. Walaupun jadi beban atau tidak kita sendiri sebenarnya yang memaknai. Namun, sering pertanyaan-pertanyaan seperti “Untuk apa ini semua? Apa gunanya?” atau semacamnya muncul di saat kondisi psikis dan fisik sedang turun, karena tidak selamanya irama tubuh dan hati saya terjaga konstan baiknya. Pada akhirnya saya mau, bisa dan kadang “harus” bertahan pada satu atau dua pilihan adalah lebih karena “tanggung jawab” atas pilihan yang sudah saya buat itu. Jadi, ketika satu “tanggung jawab” itu menemui akhirnya, sebenarnya itu jadi semacam lepas dari satu ikatan, untuk kemudian biasanya “mengikatkan” diri lagi pada pilihan-pilihan hidup yang lain. Sadar atau tidak sadar. Rela atau tidak rela.

Jadi, apakah ada yang benar-benar perlu terlalu dibanggakan dan dieforiakan dalam hidup? Entahlah itu harta, gelar, status, kondisi fisik, termasuk juga kesalehan dan ketaatan –semacamnya-? Untuk saya rasanya tidak. Rasanya mungkin juga begitu untuk kedua sahabat saya “Herr Doktor” baru di atas. Selama masih hidup, maka hidup untuk saya selalu jadi awal untuk pilihan-pilihan hidup berikutnya. Dan awal ini tidaklah selalu mulus dan lurus, tidaklah selalu ringan dan tenang. Bahkan kematian pun untuk saya adalah awal bagi hidup yang lain. Namun, dijanjikan bahwa akhir selalulebih baik daripada awal dan memang benar, karena rasanya lega jika sudah selesai melakukan sesuatu. Setelah selesai dengan satu urusan maka selesaikan urusan yang lain, karena juga memang benar, urusan tidak pernah selesai selama kita hidup. Jadi perlukah terlalu berbangga hati? Rasanya tidak juga. Masih banyak urusan yang harus diselesaikan. Untuk itu, saya tidak terlampau heran dengan jawaban kedua “Herr Doktor” sahabat saya tadi: “Biasa saja.” Ya, memang hidup itu biasa-biasa saja kok :)