„Saya Terima Nikahnya“: ‚Menerima‘ Realita (2)

STN Lovers 20150907_071855

Perubahan dalam STN, dimulai dari hal-hal kecil, memang sangat disayangkan terjadi pada komedi situasi yang mulai banyak diminati ini. Hal ini bermula dari break cukup panjang STN pada akhir April sampai akhirnya dibuatkan Season 2 yang tayang kembali pada tanggal 15 Juni dengan kualitas tayangan yang secara teknis dan penceritaan menurut saya lebih menurun dari sebelumnya. Entah apa alasan NETmediatama menghentikan STN sementara tanpa pemberitahuan, sehingga kemudian mengurangi hari tayang STN dari Senin – Jumat menjadi Senin – Rabu saja. Itu pun dengan jam tayang yang sering berubah-ubah. Bahkan setelah lebaran, hari tayang STN hanya menjadi Sabtu – Minggu. Selain hari tayang, durasi tayang pun rasanya menjadi lebih singkat. Puncaknya adalah hari ini, saat tayangan STN dihentikan oleh NET juga tanpa pemberitahuan. “Pemberitahuan” bahwa STN sudah selesai, justru dilakukan oleh Tika Bravani, salah seorang pemain. Hal ini tentu menimbulkan banyak kekecewaan dan tanda tanya muncul dari para penggemar STN, mengapa STN dihentikan di tengah cerita yang menggantung begitu saja.

Sebagai seorang peminat dan pemerhati media, saya tahu betul bahwa satu tayangan di TV sangat bergantung pada rating. Rating tinggi berarti banyak penontonnya, mengundang banyak iklan yang berarti banyak pemasukan, yang artinya lagi, pemasukan itu adalah modal bagi biaya produksi berikutnya. Seterusnya begitu dan menjadi lingkaran setan, karena jika ratingnya rendah, maka acara sebagus apapun dapat diputus semena-mena. Namun, realita di dunia media memang keras. Karena persaingan cepat dan ketat, maka apapun dapat dilakukan untuk sebuah tayangan agar mendapat sharing rating yang tinggi.

Promosi adalah salah satu cara untuk membantu menaikkan rating. Sayangnya STN sepertinya tidak mendapatkan “hak” ini dari NETmediatama yang menaungi mereka. Jika di awal-awal masa tayangnya NET cukup gencar mempromosikan STN, bahkan membawa mereka ke acara live sebuah talk show besar di NET, semakin lama hak promosi ini semakin menurun –jika tidak dikatakan hilang- dari NET. Kalau pun masih ada, iklan STN ditayangkan di malam hari, saat hanya sedikit orang yang menonton TV. Lalu sebagai stasiun TV yang mengklaim dirinya sebagai “TV Masa Kini” dengan format “digital” untuk promosinya, salah satunya dengan berbagai sosial media, admin promosi STN pun tampaknya tidak segencar admin tayangan NET lainnya dalam mempromosikan STN. Entah karena apa. Bahkan beberapa kali admin STN justru lebih banyak mempromosikan acara lain di akun resmi STN. Juga entah karena apa. Jam tayang STN yang cenderung sering berubah –lagi-lagi tanpa pemberitahuan- mungkin juga mengakibatkan jumlah penonton STN tidak bertambah banyak. Akun STN baik di twitter maupun di instagram lebih sering tidak aktifnya daripada aktifnya. Tidak hanya akun STN, akun NETmediatama pun sering tidak mempromosikan STN, entah lupa atau karena apa. STN pun pernah diistirahatkan cukup panjang, sehingga memungkinkan tayangan-tayangan baru di NET masuk dan mengisi slot STN. Maka, ketika STN masuk kembali, penonton STN mungkin sudah memiliki pilihan tayangan yang lain. Namun, menurut pendapat awam saya, jika pihak NET memang ingin STN tetap bertahan, maka segala upaya perlu dilakukan untuk mempromosikannya. Apakah keinginan itu ada? Itu pertanyaannya.

Selain kualitas teknis, penceritaan, dan terutama promosi yang semakin menurun, STN beruntung memiliki pemain yang sangat berkualitas dan kompak. Kualitas dan kekompakan mereka inilah yang menghidupkan dan menyelamatkan STN. Kurangnya kualitas script terbantu oleh kualitas para pemain ini. Kehadiran bintang tamu-bintang tamu yang mungkin diniatkan untuk menaikkan rating STN, menurut saya malah justru “merusak” cerita, karena cenderung dipaksakan, bahkan hanya sekedar tempelan karena tidak masuk ke dalam konteks cerita atau tidak memiliki benang merah yang jelas dengan tokoh-tokohnya atau dengan tema ceritanya. Keempat pemain utama STN ini sangat kuat dari sisi akting dan kekompakan, bahkan cerita dapat menjadi sangat lucu jika hanya dimainkan oleh mereka berempat, karena mereka sudah mendapat “feel”nya. Tidak perlu ditambahi bintang tamu, cukuplah. Hal ini terasa, misalnya saat Dimas Aditya absen sekitar dua minggu dari STN, dan saat itu dengan “paksa” dimasukkan beberapa bintang tamu ke dalam cerita. Kecuali di episode “Tari Datang”, episode lain saat Dimas absen hasilnya cukup mengecewakan. Padahal tidak hanya saat itu ada pemain yang absen. Ray Sahetapy pun pernah absen beberapa lama di Season 1, tetapi cerita bisa tetap dibuat menarik, tanpa kehadiran Ray Sahetapy dan tanpa bintang tamu.

Lepas dari apapun dugaan saya, lepas dari alasan apapun yang melingkupi diberhentikannya STN oleh NETmediatama, lepas dari kelebihan dan kekurangan STN, secara pribadi saya merasakan hal yang berbeda dari dan karena tayangan ini. Tidak pernah sebelumnya saya terlibat dengan intens, baik secara pikiran dan emosi, pada satu tayangan TV. Tidak pernah sebelumnya saya merasa sesedih ini saat satu tayangan TV berhenti. Tidak pernah juga sebelumnya saya merasa sekecewa ini atas perlakuan yang saya rasa tidak adil terhadap tayangan ini. Adanya sosial media pun memungkinkan saya mendapatkan pertemanan baru dengan sesama penggemar berat STN, juga pemainnya. Pertemanan yang terjadi begitu saja, tetapi sangat intens, walaupun kami baru saja kenal dan belum pernah bertemu muka. Mengapa hal ini bisa terjadi? Saya rasa ini karena energi cinta, kehangatan, dan kebersamaan yang sudah berhasil diteruskan oleh para pemain STN kepada penonton yang menyaksikannya. Mereka bermain dengan sepenuh hati dan jiwa untuk membuat tayangan yang menarik dan menghibur, yang “membahagiakan pemain dan yang menontonnya” –seperti kata Nungki Kusumastuti-,dan yang menularkan cinta dan kasih sayang mereka lewat scene-scene manis dan kadang-kadang membuat “kupu-kupu di dalam perut” ikut menari, tetapi tetap wajar tidak lebay. Mungkin sampai di bagian ini saya lah yang lebay, tetapi tak apa lah.

STN mungkin memang harus “menerima” realita, bahwa dia kalah bersaing dalam persaingan di dunia media yang keras. Namun, STN juga mendapatkan realita bahwa ternyata banyak orang yang terhibur dan merasa kehilangan saat STN dihentikan. STN memang boleh berhenti sejak tadi sore, tetapi cinta, kasih sayang, dan kebersamaan yang disampaikannya akan tetap ada melekat. Seperti yang diungkapkan oleh Tika Bravani dalam “pemberitahuan resmi”nya tentang berakhirnya STN. Dan saya berterima kasih untuk semua usaha, kerja keras sepenuh hati dan jiwa dari para pemain STN serta tim kreatifnya untuk menghasilkan tayangan yang berkualitas dan berbeda dari tayangan lainnya. STN dan para pemainnya berhak mendapatkan hal yang lebih baik dari apa yang mereka dapatkan selama ini.

Mungkin ke depannya dapat pula dibuat film STN dengan pemain yang sama, karena menurut saya, sayang sekali kualitas mereka hanya dipakai untuk satu tayangan akhir pekan berdurasi 30 menit, itu pun masih dipotong iklan. Tema konflik mertua laki-laki dan menantu laki-laki pun jarang –atau bahkan belum pernah- diangkat dalam kisah apapun, sehingga hal ini bisa menjadi point yang menjual. Tema ini ada “di luar” pakem dan selama ini tidak pernah dengan gamblang diungkap, yang sebenarnya di balik itu tersembunyi „keposesivan“ laki-laki pada perempuan lewat caranya sendiri: ayah pada anak perempuannya, dan suami pada istrinya. Sehingga mereka dengan caranya masing-masing bersaing untuk itu. STN berhasil mengemas tema ini dengan menarik dan lucu tanpa harus menghakimi salah satu pihak dan menjadikannya dikotomi protagonis vs antagonis.

Pada tanggal 26 Januari STN dibuka oleh Prasta yang gugup saat akan menikah. Dan sore tadi, 6 September, STN juga diakhiri oleh Prasta yang “menerima” bahwa suara Papi dan Mami memang menganggunya, tetapi karena itu tidak bisa dihindari, maka dia memilih menyumbat telinganya dengan kapas lalu tersenyum agar dia bisa tidur dengan tenang. Ya, masalah memang selalu ada, namun hidup terus berjalan :)

Bandung, 070915, 00:00

Advertisements

„Saya Terima Nikahnya“: ‚Menerima‘ Realita (1)

sayaterimanikahnya

Seperti biasa saya selalu terlambat jika menyukai sesuatu, tetapi kemudian biasanya saya akan menyukainya dengan sepenuh hati. Contohnya saat saya menyukai “Saya Terima Nikahnya” (STN) salah satu judul komedi situasi yang ditayangkan oleh NET TV sejak tanggal 26 Januari sampai 6 September 2015. Saya memang tahu bahwa ada acara situasi komedi ini, iklannya pun beberapa kali saya lihat, tampaknya menarik, tetapi saya tetap tidak menontonnya karena satu dan lain hal. Baru pada suatu hari di bulan Maret, saya tumben-tumbenan dapat menonton tayangan talkshow “Just Alvin” di Metro TV dengan bintang tamu salah satunya Tika Bravani dan Dimas Aditya, dua pemain di komedi situasi STN. Melihat mereka berdua saat diwawancara Alvin Adam membuat saya tersenyum-senyum sendiri dan entah mengapa juga “kupu-kupu di perut” saya ikut “menari”. Sejak itu saya penasaran pada STN sampai akhirnya saya membuka youtube. Untungnya NET TV memang mengunggah semua tayangan di saluran youtube, sehingga memudahkan saya untuk melihat semua rekaman tayangan STN dari episode awal. Episode “Preman KW” lah yang akhirnya saya saksikan langsung di TV. Untuk pertama kalinya, setelah 2 bulan STN tayang, saya menontonnya dan ternyata saya suka.

STN berkisah tentang sebuah keluarga menengah ke atas bernama Keluarga Arifin dengan tokoh utama Papi (Ray Sahetapy) yang berprofesi sebagai dokter spesialis jantung, tetapi harus pensiun dini karena menderita sakit jantung, Mami (Nungki Kusumastuti) seorang ibu rumah tangga yang sangat peduli pada kesehatan Papi dan keluarganya, tetapi dia juga sangat memperhatikan penampilan dan kecantikan dirinya, Kirana (Tika Bravani) anak tunggal Papi dan Mami berpendidikan S2, tetapi tidak berkarir di luar rumah karena menikah dengan Prasta (Dimas Aditya), seorang creative director yang memiliki karir bagus di sebuah perusahaan periklanan besar, tetapi di rumah tidak pernah ‘dianggap’ oleh Papi.

Dengan judul yang diambil dari kalimat sakral saat proses akad nikah, yang mengandung tanggung jawab dan “konsekuensi” besar untuk menerima apapun yang terjadi setelah kalimat tersebut diucapkan, maka STN mengangkat tema keseharian keluarga yang cukup “heboh” tersebut dan “konflik” yang tercipta antara Prasta dan Papi setelah Prasta masuk ke dalam kehidupan keluarga itu, yang pada akhirnya juga melibatkan Mami dan Kirana. Penggambaran keseharian, masalah-masalah yang muncul dalam kehidupan keluarga, dan konflik-konflik yang melibatkan anggotanya ini sering menimbulkan situasi yang lucu, menggemaskan, dan juga manis.

Diawali dengan tayangan perdana saat Prasta akan melakukan proses akad nikah, kegugupannya, dan klimaksnya adalah gangguan panggilan dari telefon genggam milik Abi, sahabatnya. Scene ini yang kemudian menjadi awal bagi “konflik-konflik” dan masalah-masalah lain yang terjadi antara dirinya dan Papi, yang pada akhirnya mau tidak mau juga melibatkan anggota keluarga lainnya. “Konflik” dan masalah yang dimaksud di sini bukanlah konflik dan masalah dalam arti per sè sehingga memunculkan dikotomi protagonis vs antagonis, seperti yang sering digambarkan dalam kisah sinetron-sinetron Indonesia pada umumnya, melainkan “konflik” dan masalah amat sangat ringan yang justru sering muncul dan dialami dalam kehidupan siapapun. Dengan demikian, siapapun yang menontonnya akan dapat tertawa atau minimal tersenyum simpul, karena penonton seolah dapat bercermin pada kisah yang diangkat. Misalnya tentang kekesalan Papi kepada Prasta karena burung kenari dan ayam kate peliharaannya tidak sengaja mati dan lepas oleh Prasta di epidose “Macan” dan “Cobra dan Singa”. Atau usaha-usaha keras Prasta untuk mengambil hati Papi, tetapi sayangnya selalu gagal, seperti dalam episode “Keran Air”, “Ramalan Zodiac”, “Mesin Cuci”, “Belajar Golf”, dll. Konflik batin Kirana sebagai istri, yang lulusan S2 tetapi tidak berkarir dalam episode “Melamar Kerja”, “Miss Kirana” atau “Fashion Blogger”, namun dia tetap berusaha belajar dan selalu ingin menyenangkan Prasta, walaupun juga sering gagal seperti dalam episode “Masakan Kirana”, “Satu Rumah Dua Koki”, dll. Konflik batin Papi yang biasanya sibuk, tetapi terpaksa harus pensiun dini karena penyakitnya dalam episode “Gelang Kolesterol”, dan juga konflik batin Mami sebagai seorang ibu yang takut kehilangan anak tunggal yang sangat dicintainya dalam episode “Brosur Rumah”. Tak ketinggalan tentu konflik batin Prasta yang selalu salah di mata Papi, seperti dalam episode „Preman KW“, „Menantu Pemberani“, „Prasta Minder“atau „Mobil Antik“.

Selain itu, tentu saja kisah cinta Prasta dan Kirana menarik untuk dimunculkan, misalnya dalam episode “Flash Back”. Lalu masalah-masalah yang muncul dalam kehidupan mereka sebagai pasangan muda yang baru menikah juga menjadi sumber cerita yang menarik. Tema cemburu misalnya muncul dalam episode “Salah Paham”, “Masuk 86”, “Pria Idaman”, “Garage Sale”, “Personal Trainer”, “Kiriman Masa Lalu”, “Rahasia Baju Kenangan”, dll, sampai pada “konflik batin” pasangan muda yang belum juga memiliki anak seperti dalam „Ayo ke Posyandu“ dan “Cara Cepat Pengen Hamil”. Hal-hal kecil yang dalam kehidupan rumah tangga sering menjadi masalah disajikan dalam “Honeymoon Tertunda”, “Gara-gara Handphone”, “Liburan ke Bali”, “Mau Kerja Kok Repot”, “Gagal Nonton Bola”, dll. Selain itu, tema-tema yang sangat akrab dengan kehidupan perempuan seperti dalam “Diet”, “Penuaan Dini” atau “DVD Mami” atau kebalikannya hal-hal yang biasanya sangat disukai laki-laki, seperti “Bimasakti”, “Gamebox Idaman”, “Nobar”, dll. Tema-tema umum, terutama yang berkaitan dengan kesehatan, dimunculkan dengan segar dalam “Hidup Sehat”, “Cacar”, “Salah Obat”, “Demam Berdarah” atau “Sakit Gigi”.

Dari sisi tema, STN mengusung tema besar yang sangat tidak biasa sebagai benang merahnya, yaitu mengangkat konflik menantu laki-laki dan mertua laki-lakinya. Selain itu, jam tayang awal dari Senin sampai Jumat memungkinkan penulis cerita untuk menggali beragam tema sehari-hari yang tetap mengacu kepada benang merah kisah ini. Menariknya, STN dapat mengintegrasikan program acara lain di NET TV ke dalam ceritanya, seperti dalam “Berpacu dalam Melodi”, “Masuk 86” dan pada episode terakhir STN sore tadi “Mami Belajar Nyanyi”.

Dari sisi pemain, STN didukung oleh pemain-pemain kawakan yang sudah dikenal dan tidak diragukan lagi kemampuannya dalam dunia perfilman dan pertelevisian Indonesia. Ray Sahetapy sangat berhasil menghidupkan sosok Papi yang tegas, galak, posesif, percaya diri, tetapi juga jahil, suka iseng, manja, dan romantis. Nungki Kusumastuti adalah Mami yang lembut, sangat perhatian, penuh cinta, teliti, pandai memasak, tetapi sebenarnya sangat tegas dan galak. Pada akhirnya, rumah besar itu  sebenarnya dimotori oleh Mami, walaupun Papi adalah “Kepala Negara” nya. Tika Bravani juga berhasil menghidupkan sosok Kirana, anak tunggal kesayangan Mami –Papi, yang manja, kadang terlihat lugu dan polos, tetapi pintar dan sangat menyayangi serta setia pada Prasta, suaminya. Apapun akan dilakukannya untuk kebahagiaan Prasta, walaupun dia harus berbohong pada Papi. Dimas Aditya adalah sosok sentral dalam STN ini. Dia menjelma menjadi Prasta yang sering gugup, minder, tidak percaya diri, dan penakut –terutama bila berhadapan dengan Papi, tetapi tulus, penyayang, sekaligus jahil dan suka iseng. Wajah ganteng Dimas Aditya dan aktingnya sebagai Prasta yang penurut, tulus, dan penuh cinta, membuatnya langsung menjadi suami idaman para istri dan menantu idaman para mertua. Namun, tentu tidak di mata Papi.

Keempat pemain STN ini bermain sangat natural. Kedekatan dan keakraban mereka in frame tidak terasa dibuat-buat, mengalir alami begitu saja. Bahkan emosi marah, cemburu, atau pertengkaran pun muncul seolah-olah memang begitu adanya. Apalagi ekspresi cinta dan kasih sayang. Dengan demikian penonton dapat merasa, bahwa mereka sepertinya tidak sedang berakting, melainkan sedang memperlihatkan kisah kehidupan mereka sendiri di layar kaca. Celetukan-celetukan spontan dan lucu juga sering muncul dari Dimas Aditya dan Ray Sahetapy. Celetukan-celetukan itu menjadi lucu, karena mereka melakukannya dengan biasa saja, tidak dibuat-buat.

Para pemain STN bermain dengan hati sehingga menubuh kuat pada karakter-karakter yang mereka mainkan. Sehingga pada akhirnya penonton pun sulit untuk memisahkan Ray Sahetapy dari sosok Papi, Nungki Kusumastuti dari Mami, Tika Bravani dari Kirana, dan Dimas Aditya dari Prasta. Energi yang mereka mainkan in frame bisa sampai pada penonton. Sampai-sampai banyak komentar muncul dari penggemar STN di media sosial yang mengungkapkan bahwa mereka kasihan pada Prasta karena terus menerus dibully oleh Papi atau ikut terhanyut pada romantisme Kirana dan Prasta, dan sebagainya. Pertanyaan-pertanyaan yang sifatnya peduli seperti kapan Kirana dan Prasta punya anak, atau mengapa orang tuanya Prasta tidak dimunculkan, menunjukkan bahwa STN cukup berhasil menarik perhatian penontonnya. Penonton tidak sedang melihat suatu tayangan komedi situasi di televisi, tetapi mereka sedang “diputarkan” dan melihat kisah kehidupan mereka sendiri, hal-hal yang mereka rasakan, mereka alami atau yang mereka inginkan. Pengalaman, rasa, dan impian para penonton direfleksikan lewat tokoh-tokoh dan setiap episode STN. STN menyuguhkan realita rasa dan kehidupan.

Hal ini pula lah yang mungkin membuat saya juga akhirnya menjadi betah dan sangat intens mengikuti STN sampai episode terakhirnya sore tadi. Saya yang biasanya tidak pernah menonton TV, kalau menonton pun hanya sekilas-sekilas untuk update saja dan untuk kepentingan mengajar, ternyata merasa harus mengosongkan waktu untuk menonton STN di hari dan jam tayangnya. Saya bahkan dapat mengulang-ulang scene-scene yang menarik perhatian saya. Saya sampai hafal dialog apa muncul dalam episode apa dan detil serta alur ceritanya. Beberapa kali pula dialog dan tema-tema di STN saya angkat dan diskusikan dalam perkuliahan saya.

Namun, sebagai penonton yang selalu melihat tayangan dengan detil –kalau ini memang kebiasaan saya-, saya merasa bahwa secara kualitas teknis STN Season 1 lebih baik daripada Season 2. Di kedua Season memang tetap ditampilkan gambar-gambar yang sangat “DSLR”, dengan samaran dan fokus yang pas. Sudut-sudut pengambilan gambarnya juga cukup bagus. Season 1 lebih berkisar mengambil gambar di sudut ruang yang sempit, tetapi sangat fokus, sedangkan Season 2 lebih berani mengambil sudut yang lebar dan luas. Mengenai detil setting dan properti, STN Season 1 juga lebih baik dari Season 2. Bahkan jarum jam pun diperhatikan betul kesesuaiannya dengan konteks cerita yang muncul dalam scene. Demikian juga dengan tattoo yang dimiliki Dimas Aditya  diperhatikan betul agar tidak tampak, walaupun sesekali sempat sedikit terlihat pula. Season 2 agak lemah dalam hal ini. Misalnya beberapa kali Kirana dan Prasta terlihat tidak menggunakan cincin kawin mereka, yang dalam Season 1 selalu tidak pernah lepas dari jari manis tangan kanan mereka. Jarum jam pun demikian, sering tidak sesuai konteks cerita, misalnya Prasta yang akan berangkat kerja pagi-pagi, tapi jarum jam dinding menunjuk ke angka 4 dan di luar terang benderang. Belum lagi setting ruang kerja Prasta yang tiba-tiba berubah menjadi sangat “tidak jelas”. Setting kamar Papi dan Mami pun baru dimunculkan di episode terakhir. Behind the scenes, yang biasanya sangat menarik perhatian penonton, juga dihilangkan diganti dengan foto-foto pemain, yang pemilihan warnanya menurut saya agak sendu. Script STN Season 2 pun tampak lemah. Beberapa cerita bahkan mengalir hambar tanpa alur yang jelas. Sayang sekali.

Seperti Biasa

Tanggamus waktu maghrib

Tanggamus waktu maghrib

Seperti biasa, saya tidak suka hingar bingar malam pergantian tahun. Saya lebih suka menepikan diri. Setahun tidak menulis di sini. Terakhir menuliskan Soekarno. Dan sekarang saya menulis lagi. Di salah satu kota di pulau yang pernah menjadi pulau tempat buangan Soekarno. Di daerah ini pula, sampai tadi siang saya melihat, menyaksikan, dan ikut dalam kisah yang tentu saja tidak diinginkan terjadi oleh Soekarno dan Hatta saat memproklamasikan kemerdekaan negara ini 69 tahun silam. Tadi pagi saya mendengar pernyataan dari seorang ibu: “Merdeka? Tidak. Kami belum merdeka. Listrik saja belum punya.” Tahun lalu saat saya menuliskan tentang Soekarno, saya dibenturkan pada kenyataan di depan mata saya dan kali ini saya pun kembali dibenturkan pada kenyataan yang sama, mungkin lebih parah. Itu hanya di satu daerah, di daerah lainnya ada duka, ada air mata, ada putus asa, tetapi tentu saja tetap ada asa, ada hati dan jiwa-jiwa yang hidup dan selalu bersemangat untuk menjadikan hidup lebih baik. Saya bersyukur.

Seperti biasa, saat banyak orang berusaha membuat resolusi untuk tahun depan, saya lebih suka menghitung nikmat-nikmat yang sudah saya dapat selama setahun ini. Dan tentu saja itu tak terhitung. Saya bersyukur atas nikmat sehat untuk saya dan orang-orang tercinta saya, bersyukur atas cinta dan berkah yang Maha Kasih berikan untuk saya lewat orang-orang yang saya temui di manapun, baik kenal atau tidak kenal. Saya bersyukur atas waktu yang diberikan, yang sering masih tidak saya manfaatkan dengan baik. Saya bersyukur atas kesempatan yang juga diberikan pada saya, kesempatan yang sering tak terduga datangnya. Saya bersyukur atas perjalanan-perjalanan yang saya lakukan, yang menghubungkan saya pada banyak orang, peristiwa yang kembali membuat saya bersyukur bahwa hidup saya penuh nikmat, bahwa tidak ada lagi nikmat yang bisa saya dustakan. Saya bersyukur atas ujian yang diberikan yang membuat hidup saya seimbang. Saya bersyukur.

Seperti biasa, di akhir tahun selalu ada hal-hal menarik yang membantu saya merefleksikan kembali perjalanan hidup yang saya lalui. Malam tahun baru harus mengepel lantai kamar mandi atau menikmati salju yang berebutan menyentuh tanah (oh, betapa saya merindukannya) atau menikmati hujan yang sebenar-benarnya hujan atau di bandara saat transit menuju rumah atau tahun ini, berkesempatan untuk menyeimbangkan hidup saya dengan berada di tengah-tengah alam dan orang-orang hebat yang bertahan pada hidup. Saya bersyukur.

Seperti biasa, pertemuan-pertemuan membawa saya pada perasaan bahwa hidup adalah pilihan dengan segala konsekuensinya. Ada yang menguras energi, ada yang membuncahkan semangat. Namun, justru itu yang membuat hidup semakin indah. Saya semakin bersyukur.

De Green, Bandar Lampung, 311214 (di tengah hingar bingar kembang api dan petasan)

„Soekarno: Indonesia Merdeka“ – (Bukan) Romantisme Masa Lalu?

soekarno filmDalam satu bulan ini saya menonton tiga film Indonesia: NOAH Awal Semula, Sokola Rimba dan Soekarno. Jika NOAH Awal Semula cukup sukses membuat saya mengantuk, Sokola Rimba dan Soekarno cukup sukses membuat saya terharu dan mengeluarkan air mata. Tiga film yang bergenre sama yaitu biografi, dengan teknik penceritaan yang berbeda, tetapi memiliki tema yang sama: perjuangan, mewujudkan mimpi. Yang satu berjuang bangkit dari keterpurukan, mewujudkan kembali mimpi yang hilang, yang kedua berjuang mewujudkan mimpi meratakan pendidikan tanpa kecuali, ketiga tentu berjuang melepaskan diri dari belenggu penjajahan, memerdekakan diri dan bangsa. Dan film Soekarno seolah menjadi simpulan dari dua film sebelumnya, bahwa tidak akan ada NOAH dan Sokola Rimba, jika tidak ada Soekarno dan para pendiri negeri ini.

Kisah tentang Soekarno ini siapalah yang tidak tahu, tetapi tetap menarik juga untuk mengikuti perspekstif Hanung dalam menceritakan ulang kisah tokoh besar ini. Dimulai dengan “kehebohan” di rumah Soejoedi yang diperankan oleh Budiman Sudjatmiko saat ada penangkapan para pemuda pergerakan, kemudian cerita beralih ke masa Soekarno kecil yang sering ikut bersama Tjokroaminoto serta berteman dengan Kartosoewirjo, di mana dia kemudian belajar politik. Kisah kemudian mundur lagi saat dia masih bernama Kusno dan sakit-sakitan sehingga namanya pun diganti menjadi Soekarno, dengan harapan agar dia kuat seperti Adipati Karna. Lalu kembali ke masa remaja saat dia tertarik pada seorang noni Belanda bernama Mien (entah benar atau tidak kisah ini), kemudian dia diusir oleh bapak si noni. Hinaan si meneer Belanda inilah yang dalam film dikisahkan menjadi pemicu dia untuk melawan Belanda, membangkitkan semangat dan harga diri kaum pribumi, selain tentu sajakarena melihat kondisi pribumi sebagai bangsa terjajah. Cerita beralih maju mundur ke masa penjara di Banceuy dan Sukamiskin, pembacaan pledoii Indonesia Menggugat yang berakhir dengan pembuangan ke Ende dan kemudian ke Bengkulu. Kemudian cerita bertutur maju sampai ke masa Belanda kalah, Jepang masuk, persiapan kemerdekaan, sampai pada akhirnya pembacaan proklamasi.

Kisah panjang yang dipadatkan. Amat padat untuk durasi sekitar 2,5 jam.  Namun, Hanung ternyata cukup berhasil membuat penonton diam di tempat duduknya bahkan sampai credit title selesai. Padahal penonton film Soekarno tadi bervariasi, dari mulai anak sekolah SD, SMP, SMA, sampai orang-orang tua yang mungkin ingin bernostalgia. Bahkan semua penonton berdiri dan dengan khidmat menyanyikan lagu Indonesia Raya serta diam hening mendengarkan dengan seksama proklamasi dibacakan dengan suara asli Soekarno. Saya merinding.

Dan lepas dari kontroversi tentang film Soekarno ini, saya rasa film ini secara teknis cukup bagus. Hanung tidak lagi terlalu irit dengan pencahayaan, seperti yang saya lihat dalam Sang Pencerah. Editing dari Cesa David lebih bagus di film ini daripada hasil editingnya untuk NOAH Awal Semula. Scoring music dari Tya Subyakto juga cukup mendukung film ini menjadi film tentang perjuangan yang lirih, bukan yang memberikan semangat berapi-api dan hingar bingar tembakan senjata, seperti yang biasa terjadi dalam film yang ada adegan perangnya. Saya cukup tersentuh dengan scoring musiknya, karena menampilkan tiga lagu yang selalu sukses membuat saya menangis jika mendengarnya: Indonesia Raya, Indonesia Pusaka dan Syukur. Pilihan yang bagus menempatkan lagu Syukur setelah pembacaan teks proklamasi.

Akting para pemainnya juga cukup bagus. Ario Bayu saya rasa pas memerankan tokoh Soekarno, walaupun alas bedaknya terlihat terlalu tebal. Namun, dia bisa menghidupkan sisi humanis tokoh besar yang selama ini dikenal dan „diharapkan“ menjadi sempurna: Soekarno manja dan senang „didominasi“ oleh Inggit, dia juga bisa galau saat jatuh cinta pada Fatmawati, dia pun bisa sakit dan kena malaria, juga takut pada darah. Maudy Koesnaedi sebagai Inggit juga dapat “membalikkan” stereotype perempuan Sunda yang sering digambarkan senang bersolek dan pekerjaannya “menghibur” orang (digambarkan Soekarno mendatangkan perempuan dari Jawa Barat untuk “menghibur” tentara Jepang). Sedangkan Inggit adalah perempuan kuat, dominan, tegas, mandiri, dan cantik. Dia punya pendirian dan berani bersikap. Tika Bravani menampilkan sisi ceria Fatmawati usia 15 tahun yang berhasil memikat seorang lelaki bernama Soekarno.  Pemain lainnya pun berkarakter cukup kuat, seperti Hatta yang diperankan Lukman Sardi dan Sjahrir yang diperankan Tanta Ginting. Soejiwo Tedjo dan Agus Kuncoro selalu bermain bagus walaupun hanya tampil sebentar. Beberapa pemain figuran membuat film ini lebih humanis lagi.

Saking padatnya film ini, sulit untuk saya menentukan scene mana yang paling saya suka atau tidak saya suka. Namun, saya cukup tergetar saat Soekarno menyampaikan ide-idenya tentang landasan negara yang kemudian dikenal dengan Pancasila. Pancasila memang tak hanya sekedar pemikiran sambil lalu, dia dasar yang berdasar pada keragaman suku bangsa, budaya dan agama di Nusantara. Ini pemikiran cerdas yang pengejawantahannya sekarang bisa dilihat sendiri betapa menyedihkannya.

Pada akhirnya film ini bukan sekedar rekonstruksi sejarah atau cerita tentang romantisme masa lalu seorang tokoh besar nan sempurna, tetapi kontroversial. Jika ingin murni jadi film sejarah memang masih banyak detil yang harus diperhatikan. Namun, dalam film ini ada jalinan yang cukup kuat antara masa lalu, kini dan masa depan yang dijalin lewat dialog antartokohnya. Soekarno, Hatta, Sjahrir, dll berusia sekitar 24 tahunan ketika mereka berpikir jauh ke depan tentang negara dan bangsa ini. Saya kemudian bertanya pada diri sendiri, apa yang saya lakukan ya di saat saya berusia segitu, ya? Apa yang ada di pikiran anak-anak sekarang di usia segitu, ya? Dan seperti yang dikatakan Soekarno saat berdialog panjang dengan Hatta tentang keraguan dan harapan akan bangsa ini, apakah mereka berdua akan mampu memimpin bangsa yang benar-benar kompleks isinya, jawabnya adalah “Kemerdekaan bukanlah tujuan, kemerdekaan adalah awal. Dan biarlah sejarah yang membersihkan nama kita, jika kita melakukan hal yang buruk untuk satu tujuan yang baik.Kita sudah memulai, kita percayakan pada anak cucu kita untuk melanjutkannya.” Duh, yang ini rasanya jleb sekali, apalagi ditingkahi lagu Indonesia Pusaka yang selalu dan selalu mampu membuat dada saya sesak dan menangis. Dipercayakan. Diberi kepercayaan. Bisakah kepercayaan itu dijaga dan dilaksanakan?

Di luar hujan. Orang-orang berteduh menunggu angkot. Anak-anak yang bertelanjang kaki menyewakan payung berseliweran menawarkan jasanya. Oh, itu suasana di Jalan Merdeka Bandung. Tak jauh dari situ ada Jl. Perintis Kemerdekaan, di mana Gedung Landraad berada. 83 tahun yang lalu di gedung itu Soekarno menyampaikan gugatannya kepada pengadilan Belanda atas ide kemerdekaan Indonesia. Apakah dulu dia membayangkan kemerdekaan seperti ini yang terjadi tak jauh dari gedung itu? Air mata saya menetes lagi. Ah, mungkin saya terlalu terbawa pada ide-ide „romantis“ masa lalu atau jangan-jangan kemerdekaan pun „hanya“ sekedar idealisme yang hanya ada di dunia ide atau hanya ada di gedung bioskop? :)

Tautan: http://www.filmsukarno.com/home

Berterima Kasih

Botanischer Garten Bayreuth 2013

Botanischer Garten Bayreuth, August 2013

Tiga tahun lalu saya sempat bertanya kepada salah seorang sahabat: bagaimana rasanya menjadi doktor. Hampir empat minggu yang lalu saya mendapatkan pertanyaan yang sama. Ternyata jawaban yang saya berikan juga sama dengan jawaban dari sahabat saya itu: biasa saja. Memang biasa saja, selain kelegaan yang cukup besar karena telah selesai melakukan satu tugas. Namun, saya selalu percaya bahwa tidak pernah ada akhir, semua selalu menjadi awal. Dan untuk saya, hampir 4 tahun menjalani proses promosi ini bukan hanya masalah akademis, intelektualitas, jadi doktor atau tidak jadi doktor, tetapi lebih dari itu. Selama itu pula saya semakin belajar mengenal diri saya: saya yang tidak sabaran, saya yang panikan, saya yang pencemas, saya yang penakut, saya yang pemalas, saya yang sering menunda pekerjaan, saya yang keras kepala, saya yang masih mementingkan apa kata orang, dan saya saya yang lain, yang selama ini mungkin tidak muncul terlihat ke permukaan.

Maka untuk saya bukan hasil akhir yang semata-mata membuat saya lega, tetapi keseluruhan proses panjang yang terus terang saya rasakan cukup berat ini ternyata terlewati juga. Dan ini bukan hasil kerja saya sendiri, ada banyak bantuan dan kekuatan dari Sang Maha Membantu lewat orang-orang yang dikirimkanNya untuk saya dan berada di sekeliling saya: dengan cara apapun. Maka, bagian paling personal dan paling saya sukai dari setiap karya saya adalah ucapan terima kasih. Jika diijinkan, mungkin seperempat bagian dari disertasi saya bisa penuh oleh nama-nama. Sayangnya tidak bisa. Jadi, saya menulis di sini, karena saya tidak bisa melepaskan nama-nama mereka yang membantu saya –langsung tidak langsung- sampai pada titik lain perjalanan hidup saya.

Selain kepada para guru dan para professor saya, saya sangat berterima kasih pada Peter Kistler yang sejak tahun 1992 menjadi teman diskusi, teman yang mendukung saya secara akademis dan secara personal, teman yang membantu saya melihat diri saya dan keIndonesiaan saya dari kacamata lain, teman yang siap memberikan kritik pedas yang konstruktif. Svann Langguth yang juga selalu siap mendukung saya. Jutta Kunze yang juga selalu siap membantu. Ilona Kruger yang dengan caranya memungkinkan saya melanjutkan perjalanan. Gaby Ziegler yang selalu ada dan selalu siap saya repotkan. Begitu juga dengan Barbara Schwarz-Bergmann yang sudah „rela“ dibuat pusing dan menjadi tempat saya protes. Walter dan Ulla Wagner yang selalu menyediakan rumahnya untuk saya, membuat saya merasa selalu memiliki „rumah“ di Bayreuth. Begitu juga dengan Mbak Ivo Oppl, my big sister and my partner in crime di Bayreuth, atas kebesaran hati dan pintu yang selalu dibuka lebar untuk saya. Terima kasih telah ada dan membantu saya.

Bicara tentang data dan transkrip, maka saya harus berterima kasih banyak pada Mbak Yanti Mirdayanti, Poppy Siahaan, Mbak Andi Nurhaina, Jutta Kunze, Gabriella Otto,  Tanja Schwarzmeier, Astrid Krake, Ibu Dian Indira serta semua narasumber yang bersedia direkam dan dianalisis. Pada Shita Sarah, Hani Priandini, Lastari Duggan, Mia Marwati, Genita Canrina, Fitri Khairani dan Sarifah Alia terima kasih atas bantuannya mentranskripsi data saya. Ganjar Gumuruh yang telah mengajarkan saya mengedit video dan membantu mengkonversi semua data rekaman.

Terima kasih juga untuk Sina Friedrich dan Ani serta Ronald Nangoy yang selalu siap dengan kunjungan dadakan saya dan yang membuat saya selalu merasa bahwa Jerman adalah mereka. Mbak Rahayu Nurwidari yang juga selalu siap membuka pintunya untuk saya. Sarah Merret yang banyak sekali membantu, dari mulai mengoreksi pekerjaan saya, menyediakan rumahnya, sampai mengajari saya memasak nasi biryani :)

Teman-teman sesama „minoritas“ di Bayreuth: Mas Rizal dan Ani, Yusri dan Meta –teman jalan-jalan dan diskusi-, Heriyanto Tjoa dan terutama Andhika Puspito Nugroho, yang selalu siap membantu dan selalu bersedia saya repotkan termasuk dalam urusan menyiram tanaman dan belanja daging :) Bantuan dan keberadaan mereka membuat saya tidak merasa sendiri.

Sahabat-sahabat seperjuangan dan teman-teman curhat: Ahmad Zahra, Mohammed el Nasser, Sherine Elsayed –yang juga menyediakan tempatnya untuk saya saat mengambil data-,  Chen Jieying, Ahmad Alradi, Ahmad Keshavarzi, Mariusz Woloszyn, Sandra Romero, Sokol Keraj –sang sutradara, yang menjadi teman berbagi keluhan, kerumitan ide dan pikiran, Gao Qian yang juga selalu siap membantu saya dan menjadi tempat curhatan saya. Terima kasih khusus untuk Monika Pondelek, sahabat saya, teman curhat, teman bergossip, teman diskusi, teman nonton dan teman yang membuat saya menjadi suka mewarnai kuku saya :) Dia juga teman yang menyediakan kamarnya untuk saya tempati dan menyepi agar saya bisa bekerja dengan tenang dan yang bersedia ditelfon serta didatangi tengah malam untuk diinapi karena pintu rumah terkunci :) Terima kasih untuk pengertian dan bantuannya.

Sahabat-sahabat saya sehati, seperjuangan, seperjalanan: Lola Devung, sinkronisitas di Mannheim 2010 membawa pada chatting panjang malam-malam sambil mentranskrip, mengolah data, bergossip, facebooking, twittering, youtubing serta berujung pada perjalanan murah meriah ke Schwarzwald, Colmar, Barcelona, Turki dan kehebohan-kehebohan yang masih berlanjut sampai sekarang. Juga Vita Yusadiredja dengan modus operandi yang sama berujung pada perjalanan gila ke Itali, Swiss dan Nordsee. Teh Ani Rachmat teman seperjuangan sejak dari Bandung yang akhirnya tercapai juga keinginannya main bersama di Eropa, walaupun cuma menghabiskan satu akhir pekan bersama di Berlin. Shita Sarah Safaryah, si neneng jeprut, walau bagaimana pun jeprutnya dia, saya berterima kasih karena dia telah membantu saya mentranskrip dan bersedia begadang bersama untuk membicarakan hal-hal yang sangat “penting” dan “gila” bersama dengan teman sehatinya: Cicu Finalia, yang juga bersedia menemani saya begadang (atau tepatnya membuat dia juga ikut begadang bersama kami). Seperti juga teman-teman di Fakultas Sebelah: Nani Darmayanti –bantuannya sangat tidak terkira-, Tanti Skober, Evi RD, Iwan Khrisnanto, Teh Kamelia Gantrisia dan tentu Teh Sofia Agustriana yang selalu bersedia saya repotkan. Juga Lusi Lian Piantari dan Harfiyah Widiawati yang selalu menjadi sahabat yang penuh pengertian. Mereka ini yang membuat saya tetap ada di jalur yang “benar” :)

Kuncoro Wastuwibowo, Mbak Hindraswari Enggar Dwipeni, Gilang Yubiliana, Ari Asnani, Wayan Lessy, Bettina David, Tarlen Handayani adalah orang-orang yang menebarkan banyak energi dan inspirasi positif bagi saya. Terima kasih.

Kolega-kolega saya di Jurusan, yang memberikan banyak keluangan waktu untuk saya, terutama untuk ibu Hesti Puspa Handayani, ibu Dian Indira, ibu Damayanti Priatin, ibu Yunni Sugianto, yang selalu mendukung dan mempercayai saya.

Sahabat saya Insan Fajar, yang selalu siap kapan pun saya “teriaki” dan saya mintai bantuan jika ada masalah dengan laptop atau program-program yang tidak saya mengerti, teman berbincang panjang lebar dan berbagi ide. Dien Fakhri Iqbal, tempat berbagi kekeraskepalaan dan kegilaan, yang membuat saya merasa bahwa saya ternyata masih cukup “normal” dengan semua kerumitan cara berpikir saya. Kuswandi Amijaya, sahabat dalam suka dan duka, yang selalu bersedia saya repotkan, yang selalu bersedia mendengarkan semua keluhan dan ocehan saya, yang selalu siap membantu saya apapun situasinya. Bima Bayusena, yang dengan caranya yang tenang dapat “menarik“ saya kembali serta “melambatkan” langkah jika saya sudah melampaui batas, menjadi telinga yang dengan sabar  mendengarkan semua keluhan saya dari hal-hal besar sampai hal-hal sepele. Mereka ini lah yang mengetahui dengan pasti, bahwa saya pun menangis :)

Untuk saya tidak berlebihan jika saya berterima kasih pada Pearl Jam, Peterpan (lalu Noah), Phil Collins, Sting, U2, Coldplay, Boyce Avenue, Scala Choir, pada banyak musisi yang musik-musiknya telah setia menemani hari-hari saya bekerja dan melewati masa-masa naik turun sampai saat ini (dan juga nanti). Juga pada Akhmad Dody Firmansyah yang telah memberikan hadiah yang selalu bisa membuat saya tersenyum saat ada dalam tekanan.

Terima kasih terbesar adalah untuk orang tua saya, adik-adik saya dan keponakan saya yang menjadi penjaga utama api hidup saya. Tidak ada cukup kata untuk mengungkapkan (dan memang tidak bisa saya ungkapan) rasa terima kasih dan rasa syukur saya atas keberadaan mereka.

Pada akhirnya memang hanya kepada Sang Maha Pengasih dan Penyayang saya bersyukur atas limpahan berkah dan kasih sayangNya, yang diberikan langsung kepada saya dan dipanjangkan melalui keberadaan semua orang yang selalu ada dan menyayangi saya, juga yang saya sayangi.

Untuk saya tidak pernah ada akhir, semua adalah awal. Berada di titik ini adalah awal saya untuk semakin memahami, bahwa tidak ada sedikit pun nikmat yang bisa saya dustakan. Ini adalah awal saya untuk semakin menyadari, bahwa saya dapat berada pada titik ini saat ini karena mereka semua. Dan semua ini akhirnya memang untuk mereka, bahkan untuk mereka yang namanya tidak sempat atau lupa saya sebut. Saya ada di titik ini bukan semata untuk saya. Maka saya hanya bisa berharap, semoga keberadaan saya di titik ini juga bisa membawa berkah bagi semua.

It was cold, but it’s Coldplay!

Setelah nonton konser Sting – Symphonicity Tour bulan Juli 2011 lalu di München, tanggal 12 September kemarin konser Coldplay lah yang saya tonton bersama sahabat saya. Pagi-pagi sudah bersemangat pergi dari Bayreuth ke München naik kereta. Suhu sudah cukup dingin saat itu, tapi belum hujan. Pakaian kami seadanya saja. Karena masih awal-awal September, jadi rasanya t-shirt, cardigan, trench coat tipis, syal tipis, jeans dan sepatu flat dengan stocking tipis saja cukup. Setibanya di München suhu ternyata lebih dingin, hujan mulai turun pula. Tapi tekad dan excitement mau menonton Coldplay mengalahkan segalanya, haha. Lagipula ini “petualangan” kami berdua, cewek-cewek yang tergila-gila pada Coldplay, hehe. Jauh-jauh dari Bayreuth, iseng menginap di hotel karena konser pasti sampai malam tak mungkin mengejar kereta pulang ke Bayreuth. Jadi kami menikmati betul perjalanan kali ini. Tidak ada niat belanja, tumben, karena tujuan utamanya adalah Coldplay.

Setelah mengisi perut sekitar jam 16an dengan Thai Food yang enak dan murah di sebelah hotel tempat kami menginap, kami jalan-jalan dulu ke kota, mau ngopi ceritanya. Ini ternyata keputusan yang tepat, makan nasi dan sup panas, karena ternyata ini membuat kami bisa bertahan sekitar 4 jam di ruang terbuka pada suhu 6°C dengan kostum seadanya. Nekat, haha, tapi itu di luar perkiraan kami.

Kami kemudian santai ngopi dulu di Starbucks sambil menghangatkan badan dan menunggu waktu serta menunggu hujan berhenti. Namun, hujan tidak berhenti juga, suhu juga malah semakin dingin. Sekitar jam 17 lebih kami berangkat ke Olympiastadion München, supaya bisa mendapatkan tempat duduk yang strategis, karena kami membeli tiket tribun dengan pemilihan tempat duduk yang bebas. Konsernya sendiri menurut jadwal akan dimulai jam 19. Jadi setidaknya jam 18 lah kami sudah ada di sana. Sampai di Olympiapark sudah banyak orang berdatangan. Di depan sudah ada calo-calo yang menjual tiket. Ya, calo-calo tiket tidak hanya ada di Indonesia, di Jerman juga ada. Selain mereka, ada juga yang membagikan plastik jas hujan dan bantal tiup. Dan ini gratis! Ini semua akan berguna, karena hujan tak juga berhenti. Kursi stadion dari besi juga dingin, bantal ini lumayan membantu mengatasi supaya tidak duduk kedinginan di tribun.

Di gerbang masuk ke arena Olympiastadion yang bisa memuat sekitar 100.000 orang itu, tiket diperiksa. Tidak begitu ketat, hanya dilihat isi tas. Tidak boleh membawa kamera dan tidak boleh membawa air minum lebih dari 250 ml. Itu saja, biasa. Di dalam kemudian kami dibagikan gelang xylo. Kami minta gelang masing-masing dua dan diberi, hehe. Dan seperti biasa di setiap acara di Jerman, selalu ada penjual bir, Bretzel dan Bratwurst. Orang-orang masih berkumpul di luar, makan dan ngebir dulu. Kami mencari tempat di dalam. Masih kosong, jadi masih bisa dapat tempat di tengah. Tadinya kami kira cuma kami yang agak-agak dewasa yang nonton konser tersebut, ternyata di sebelah kami ada kakek-kakek berusia sekitar 60 tahun lebih dengan perempuan yang mungkin pacarnya, haha. Gossip dimulai, ngapain si kakek nonton Coldplay?! :))

Bild

Nunggu lumayan lama juga, sementara hujan tak juga berhenti, makin dingin. Panggung bahkan diberi tenda-tenda untuk melindungi alat-alat band dan sound system supaya tidak terkena air. Tepat jam 19 penyanyi pembuka, namanya entah siapa lupa, perempuan, dari Inggris juga, memulai acara. Heboh sendiri dia, tapi lumayan lah untuk goyang-goyang badan sedikit, supaya agak hangat. Berharap ada yang jualan bandrek atau bajigur dan kacang rebus saat itu, haha. Lumayan juga ini band pembuka tampil sekitar 45 menit di bawah guyuran hujan. Selanjutnya masih ada satu penyanyi lagi, juga dari Inggris, perempuan juga, lupa juga siapa namanya. Yang ini tidak begitu enak, cara nyanyinya terlalu dibuat-buat. Mereka main di bawah tenda juga, karena hujan malah makin deras.

Lucu juga ternyata nonton konser di arena terbuka seperti itu dalam suasana hujan. Penonton yang berdiri di depan panggung dengan payung warna warni dan jas hujan warna warni membuat suasana meriah, sesuai dengan tata panggung Coldplay dan latar belakangnya yang menggunakan warna-warna spotlight. Ambulance disediakan di pinggir arena, karena ternyata benar saja ada beberapa orang yang pingsan kedinginan. Orang-orang Münchennya sendiri yang datang menonton membawa perlengkapan yang lengkap, ada yang bawa selimut segala. Pakaian mereka sudah seperti pakaian musim dingin saja. Saya dan teman saya nekat juga dengan kostum yang hanya seadanya seperti itu.

Hujan yang deras membuat panggung basah, sehingga beberapa kali panggung harus dibersihkan dan disapu airnya. Menjelang pukul 21, tenda dibongkar, panggung dibersihkan lagi, dan penonton di tribun tempat saya dan teman saya duduk sudah berteriak histeris saat ada dua mobil hitam masuk ke arena. Pasti mobil itu membawa personil Coldplay dan benar!

Stadion yang tadinya gelap kemudian terang benderang seiring dengan naiknya semua personil Coldplay ke atas panggung. Whoaaaa!!!! Teriakan dan tepuk tangan bergema di seluruh penjuru stadion. Merinding!! Padahal mereka belum mulai sama sekali. Lampu kemudian dipadamkan kembali, dan musik pembuka dimulai, permainan lampu di empat layar besar dimulai dan…gelang xylo tiba-tiba menyala!!! Seluruh stadion yang gelap menjadi berkelip-kelip. Luar biasa!! Intro mylo xyloto dan „Hurts Like Heaven“ pun dimulai! Yeaaahhhhh!!!!

Bild

Penonton semua langsung berteriak, ikut bergoyang dan ikut bernyanyi dengan Chris Martin. Whoaaaa!!! Rasanya seperti mimpi mendengarnya bernyanyi langsung! Tata lampu dan cahaya ditambah kembang api membuat panggung tampak spektakuler. Di layar besar ditampilkan semua personil. Saya dan teman saya sudah teriak-teriak saja: oooowoooohhh….ooowooohhh….bersama-sama membuat koor massal dengan lebih dari 70.000 orang di sana. Chris Martin bernyanyi sambil main piano yang penuh coretan warna warni. Kemudian menyapa kami dengan beberapa kalimat dalam bahasa Jerman: „Wir sind glücklich und es ist eine Ehre, hier in München zu sein“ Walaupun hujan dan dingin „no matter what the weather is doing“. Yeaaahhhh!!! Semua berteriak bersama.

Selanjutnya lagu-lagu Coldplay yang lain dinyanyikan di bawah hujan, dengan Chris Martin yang berlari ke sana kemari di panggung berbentuk T itu. Dia hanya pakai t-shirt tipis lengan pendek. Keringetan dan kedinginan sekaligus, pasti masuk angin tuh sudahnya, haha. Di setiap lagu penonton selalu ikut berteriak, tepuk tangan dan melompat-lompat. Di beberapa lagu kojonya mereka, kami semua bernyanyi bersama, membuat koor massal lagi, tidak membiarkan Chris Martin menyanyi, seperti di lagu „In My Place“, „The Scientist“, „Yellow“, „Paradise“, „Fix You“, „Every Teardrop is a Waterfall”, “Peanut”, “I’m singing in the Rain” dan tentu saja di lagu „Viva la Vida“. Koor massal penonton terjadi lagi lagi di akhir lagu „Viva la Vida“ ini. Yuhuuuuu!!! Di lagu „Princess of China“, gambar dan suara Rihanna muncul di layar besar, kemudian Chris Martin “berduet” bersamanya.

Selain gelang xylo yang berkelip-kelip, kembang api, lampu-lampu spotlight, balon-balon juga ikut diterbangkan, belum lagi lampion-lampion berbentuk kupu-kupu raksasa yang ada di pinggir-pinggir tribun juga ikut dinyalakan. Seru! Chris Martin yang energik, juga personil lainnya, membuat suasana semakin meriah dan hangat. Padahal hujan turun terus menerus, malah semakin rapat. Tapi hujan ini juga jadi  latar yang bagus saat lagu “Fix You” dinyanyikan. Huaaa…..romantis!

Entah karena kedinginan atau apa, beberapa kali Chris Martin nyanyi dengan nada yang tidak pas. Bahkan di lagu “Yellow” dia tidak terlalu bagus, lebih bagus suaranya Ariel NOAH saat mengcover lagu itu, hehehehe. Tapi dimaafkan lah untuk seorang Chris Martin selip-selip dikit ;)) Acara nada yang selip-selip ini terjadi kembali saat mereka menyanyikan lagu “Speed of Sound” secara akustik. Sebelumnya kami mengira pertunjukan selesai, karena lampu dipadamkan, dan mobil hitam mendekati panggung akan menjemput mereka. Tapi masa sih berhenti begitu saja tanpa pamitan?! Hehe. Ternyataaaa…mobil hitam itu berhenti tepat di depan tribun kami, Chris Martin dan personil lainnya keluar dan berlari menuju panggung kecil agak ke tengah penonton. Huaaaaa…..tidak ada yang menyangka! Penonton yang berdiri dekat situ beruntung sekali tuh. Kami yang di tribun saja senang lihatnya.

Bild

„Speed of Sound“ dimulai dengan petikan gitar akustiknya Chris Martin. Di tengah-tengah lagu, saat sedang asyik-asyiknya menyanyi, tiba-tiba di second chorus suaranya selip, haha! Dan dia minta maaf, “Sorry!” Sambil ketawa dan ditertawakan oleh personil lainnya. Lalu dia menghentikan nyanyinya sambil ketawa-ketawa juga dan bilang bahwa dia nyanyinya jelek, minta maaf pada personil dan semua penonton lalu minta second chorusnya diulang lagi. Hahaha! Dimaafkan! Rocker juga manusia, hehehhe. Penonton malah senang diberi suguhan yang sangat manusiawi itu. Apa sih yang ngga untuk Chris Martin yang saat itu mengenakan t-shirt ungu muda dan jacket jeans serta Coldplay nya, hahaha. Lanjut lagi!

Beberapa lagu dinyanyikan secara akustik sebelum mereka pindah kembali ke panggung besar. Kali ini mereka tidak naik mobil, tapi lari sambil melambaikan tangan melewati depan tribun kami. Yeaaahh, geer bener deh berasa didadahin Chris Martin, haha, jadi semangat ikut lambai-lambai tangan juga :))

Sesampainya di panggung besar, setelah “Fix You”, Chris Martin bilang bahwa gitaris mereka, Jonny Buckland, hari itu berulang tahun. Jadilah seluruh stadion menyanyikan lagu Happy Birthday untuk si Jonny. Dilanjutkan dengan acara membuka botol champagne. Seruuu!!

Beberapa lagu masih dinyanyikan sampai akhirnya sekitar jam 22:30 dinyanyikan lagu terakhir dan kemudian mereka berpamitan. Huaaa…belum puas! Sebentar sekali. Ada sekitar 15 lagu yang dibawakan, tapi walaupun kami bertepuk tangan minta tambah, tidak diberi juga, huhuhu. Padahal saya tadinya mengharapkan lagu “Hardest Part” ada dalam songlist. Tapi ya sudahlah, sudah kedinginan juga, haha. Yang jelas saya puas berteriak-teriak sambil loncat-loncat dengan teman saya dan ada satu laki-laki sebelah teman saya yang nonton sendirian, yang tadinya malu-malu mau goyang-goyang dan lompat-lompat, gara-gara melihat kami cuek saja, dia akhirnya ikut cuek juga, hahaha. C’mon! It’s coldplay! Jangan terlalu “cold” ;)

Pulang, keluar mengantri dengan tertib. Inilah enaknya nonton konser di Jerman, semua tertib, ngga ada desak-desakan dan rebut-rebutan. Yang jelas semua gembira dan puas. Kedinginan? Tidak dirasakan, haha! Berjalan beramai-ramai menuju stasiun U-Bahn sambil masih bernyanyi-nyanyi, beberapa gelang bahkan masih menyala. Seru! Karena di dalam U-Bahn pun kami masih menyanyi-nyanyi. Tapi semua senang, semua tersenyum dan membicarakan konser tadi. Benar-benar malam yang menyenangkan. Danke Coldplay, danke München!

Bild

Dalam perjalanan menuju hotel baru terasa deh bahwa perut kami lapar dan minum coklat hangat kayaknya enak juga. Jadilah, jam 00:00 tepat kami mengantri di Burger King, satu-satunya restoran yang buka jam segitu dan baru bisa makan burgernya 30 menit kemudian. Dan semua yang mengantri itu adalah mereka yang juga baru pulang nonton Coldplay bersama kami, terlihat dari gelang yang masih mereka pakai :))

Pulang ke hotel, masuk ke selimut hangat, tidur nyenyak sambil tersenyum. Rasanya masih seperti mimpi, haha. It was cold, but it’s Coldplay, man! Puas banget deh pokoknya! So, the next concert is …. The Cranberries on 2nd of December. Yeaaahh, can’t wait! Excitednya sudah dari sekarang :))

Merefleksikan Mungkin

Kemarin malam tiba-tiba saya jadi memikirkan kata „mungkin“. Tiba-tiba? Tidak juga sih, dalam rangka kerja sebenarnya, tidak datang begitu saja. Iseng banget kalau pikiran itu muncul tiba-tiba, walaupun kadang terjadi juga, hehe.

Si „mungkin“ ini membuat saya penasaran karena sering sekali muncul, bahkan di beberapa bagian digunakan bersamaan dengan berbagai kata bermakna setara menjadi seperti ini: „mungkin nanti kalau coba“. Redundan, tetapi itu yang muncul di hadapan saya. Terjadi, nyata, ada rekamannya, hehe. Lalu saya langsung memaknai ujaran itu menjadi „tidak“. Saya juga „gregetan“ ketika kata „mungkin“ dipakai untuk menyatakan sesuatu yang sebenarnya sudah pasti. Duh, kenapa ngga pakai kata yang pasti-pasti saja sih?! Kenapa ujaran atau situasi yang sudah pasti direlatifkan lagi dengan kata „mungkin“, kan bikin bingung.

Namun, ternyata tampaknya hanya saya yang bingung, orang yang diajak bicara tampaknya tidak tuh. Percakapan berjalan mulus-mulus saja, secara verbal dan nonverbal terlihat sangat kooperatif, tidak ada „pertentangan“, aman-aman saja. Jadi, si „mungkin“ tidak berpengaruh apapun, kan? Bisa jadi, bisa juga tidak. Lihat, saya pun mulai merelatifkan kalimat saya sendiri, dengan mempertentangkan „ternyata“ dengan „tampaknya“ dan menggunakan „bisa jadi.“ Maunya saya apa sih?

Ini yang membuat saya semalaman sok berpikir jauh. Manusia toh bermain dengan kata, kalimat, bahasa, sengaja atau tidak sengaja. Dengan atau tanpa maksud, baik maksud yang disadari atau tidak disadari. Kata dipilih, kalimat dibuat. Indikatif disandingkan dengan konjunktif. Pernyataan dengan pertanyaan. Kepastian dengan ketidakpastian (jika tidak mau menyebutnya keraguan). Jangan salah, kata, kalimat dan bahasa yang dipilih juga bisa sangat politis. Politis dalam makna luas. Berhubungan dengan kuasa. Kuasa dalam makna luas pula. Siapa bisa, berhak dan memilih bicara, siapa yang lebih memilih atau terpaksa diam.

„Dan berbahagialah orang Indonesia karena kalian memiliki kata ‚mungkin‘“, demikian kata teman diskusi saya tadi siang. „Mungkin“ dalam konteks Indonesia adalah kata yang tidak mengandung penilaian baik atau buruk, benar atau salah. „Mungkin“ dapat membuka peluang besar dan luas untuk masuknya unsur-unsur lain di luar sesuatu yang dianggap pasti. “Mungkin” dapat menjadi penanda masa depan yang kita tidak pernah tahu akan seperti apa. “Mungkin” dapat mengandung makna penyerahan pada sesuatu atau seseorang yang dianggap lebih “berkuasa”. “Mungkin” dapat menjadi penanda kewaspadaan: melihat dulu situasi, melihat dulu waktu yang tepat, melihat dengan siapa saya berhadapan. Perlu bicara atau diam. Perlu dilanjutkan atau tidak.

Lihat, saya kembali merelatifkan kalimat-kalimat saya dengan menyandingkan kata „mungkin“ dengan kata-kata setara lainnya: kata-kata yang setara tidak pastinya, yang abstrak. Itu sengaja saya lakukan, karena saya ingin menegaskan (pun untuk diri saya sendiri) bahwa tidak ada yang pasti dalam hidup ini, selain kematian. Itupun waktunya entah. Namun, itu juga berarti bahwa dalam hidup ada banyak peluang, celah, pilihan, kemungkinan atau apapun lah namanya. “Kalau bukan yang ini, mungkin yang itu.”

Itu kalau mau diambil sisi positifnya ya. Terus terang, semakin ke sini saya tidak bisa lagi membedakan dengan jelas antara „penyangkalan“ dengan „mencoba berpikir positif“. Namun, kali ini saya ingin menyugesti diri saya dengan „mencoba berpikir positif“ tanpa mengenyampingkan „kemungkinan“ lain yang „mungkin“ muncul dari kata „mungkin“ ini. Apakah saya sudah terdengar sedikit positif? Tidak juga tampaknya, malah terdengar „skeptis“, haha. Jadi, bisa dilihat kan, jika sesuatu dilakukan dengan berlebihan, jika kata dipakai berlebihan, maka jadinya tidak sesuai dengan yang diinginkan, hehe.

Daripada semakin melantur, saya kembali ke sisi lain yang mungkin muncul dari kata „mungkin“. Dalam beberapa konteks, kata „mungkin“ dan kata-kata modalitas lainnya, justru sering digunakan untuk „meneguhkan“ dan atau „melanggengkan kuasa“ (ini istilah seorang sahabat saya), bahkan menurutnya „pasti itu terikat dengan budaya orang Indonesia yang tidak mau memberi kepastian, karena tidak ada kemampuan atau tidak mau bertanggung jawab atas statementnya.“ Hipotesis yang cukup menarik, jika dikaitkan dengan konteks dan situasi sosial politik di Indonesia bertahun-tahun belakangan ini. Tampaknya sahabat saya cukup skeptis melihat kondisi ini. Berbeda dengan teman diskusi saya tadi siang yang berusaha melihat bahwa kondisi „yang terlihat“ buruk di Indonesia juga sebenarnya terjadi di manapun, jika saja orang mau melihatnya dengan kritis dan tidak menganggap rumput tetangga terlihat lebih hijau dari rumput di rumah sendiri. Tidak menganggap yang satu lebih baik dari yang lainnya. Sama saja.

Lalu, di posisi mana saya berdiri? Saya tidak akan dan tidak dapat menjawab dengan jelas di mana posisi saya. Saya orang dalam yang saat ini berada di luar, yang bahkan ketika di dalam pun saya sering merasa „tidak ada di dalam“. Saya mengalami, tetapi saya juga mengamati. Saya dekat, tetapi saya juga berjarak. Namun, satu hal yang semakin ke sini semakin saya tahu pasti, saya mensyukuri kondisi ini, yang memungkinkan saya dapat membuat banyak pilihan, melihat dari banyak sisi untuk kemudian memutuskan di mana saya akan berdiri. Berada di tengah juga pilihan, bukan? Seperti tidak berpendapat juga adalah sebuah pilihan. Mungkin, saat ini itu yang saya lakukan. Tidak tahu nanti. Apapun mungkin. Semua mungkin. Bisa jadi, semua bisa jadi mungkin :)

Bayreuth, 170812