Birthday Trip #4: Mission accomplished – Blackforest!

Bangun siang, masih bermalas-malasan pula di bawah selimut, berlama-lama mandi, sarapan croissant hangat (yang walaupun kosong tetap enak juga), makan joghurt dan strawberry, minum teh panas, sambil mendengarkan lagu-lagu dari radio (yang semakin lama kok semakin jadul lagu-lagunyanya, hehehe), berbincang hangat dengan sahabat, matahari pun bersinar, cuaca cerah. Nikmat apa lagi yang bisa diingkarkan ? ;)

Beres-beres dan bersiap-siap meninggalkan Hinterzarten. Masih ingin tinggal lebih lama sebenarnya, tapi apa daya, pekerjaan sudah menunggu, hiks. Sempat foto-foto dulu di dalam dan di balkon Wohnung yang nyaman itu, membereskan urusan keuangan dengan Elke, mengembalikan kunci, lalu pergi. « Wir möchten bisschen Spaziergang machen », kata saya pada Elke, mau sedikit jalan-jalan. Ya, dan ini ternyata benar-benar jalan. Saya sebelumnya memang tidak melihat jadwal bis, karena tidak tahu kami akan pulang jam berapa. Jadwal kereta api Lola jam 15, sedangkan saya jam 16, sebelumnya kami ingin makan siang dulu. Jadi akhirnya kami memutuskan untuk berjalan kaki ke Bahnhof Hinterzarten, karena rasanya cukup dekat juga, paling 20 menit jalan kaki. Namun, tentu saja itu tidak pakai acara nyasar ya, sedangkan kami pakai nyasar dong, hehe. Harusnya kami belok kanan melewati Unterführung, ini malah lurus sampai tembus ke jalan raya yang tidak ada trotoar sama sekali untuk berjalan kaki. Ups ! berarti salah jalan ini. Mengandalkan logika (baca : mengira-ngira) jalan mana yang « mestinya » menuju ke arah Bahnhof, kami jalan lagi. Dan jalan menanjak, saudara-saudara. Ke arah bukit. Lama-lama ragu, kok sepi dan tidak ada tanda-tanda jalan raya, padahal rasanya dekat, dan tidak ditemukan Edeka juga, sebuah supermarket yang pernah kami lihat memang sudah dekat dengan Hirschenberg. Hmm, memang nyasar, jalan buntu ternyata. Di depan kami terhampar bukit dan padang rumput nan luas, di sebelahnya hutan pinus dan cemara yang lebat. Okay. Mendingan bertanya daripada semakin tersesat. Lumayan juga sudah nanjak-nanjak sambil geret-geret koper dan Lola lebih parah lagi, dia harus « memanggul » backpack-nya yang 30 l itu, diisi Wein pula, hehe. Maaph ya, La, dibawa nyasar. Hihi.

Setelah bertanya di Kurhotel dekat situ (yang saya bel begitu saja, karena tidak ada orang sama sekali di luar yang bisa ditanyai), ternyata kami memang seharusnya melewati Unterführung itu, akhirnya kami balik lagi, dan ternyata memang ini jalan yang benar menuju Bahnhof. Edeka-nya ketemu, hehe. Dari situ semestinya tidak jauh lagi. Sempat mengambil uang dulu di atm, kami lanjut jalan lagi dan ketemulah Bahnhofnya. Lola ternyata masih sempat melihat gambar Schwarzwälder Kirschtorte di Hotel Schwarzwaldhof di depan Bahnhof Hinterzarten. Ah ha, ini perlu dicoba. Siapa tahu memang ada. Masa sih sudah di tempat asal Blackforest Cake kami tidak berhasil mendapatkan Blackforest Cake yang asli.

Setelah melihat jadwal kereta dulu, kami akhirnya masuk ke hotel itu dan duduk di sayap hotel yang terang dan nyaman. Penuh juga, kebanyakan kakek-kakek dan nenek-nenek, hihi. Cuma kami berdua yang muda-nya dan itu pun dengan bawaan yang seabrek, hehe. Karena saya masih cukup kenyang setelah menghabiskan dua potong croissant yang besar-besar itu saat sarapan dan masih ditambah joghurt dan strawberry, akhirnya saya hanya memesan Blackforest Cake dan segelas teh hitam. Minuman wajib, hehe. Sedangkan Lola yang hanya sarapan 1 croissant dan joghurt saja, selain memesan Blackforest, masih ditambah lagi dengan vegetarische Maultaschen (pasta berisi sayuran dengan cream sauce) dan memesan segelas pilsener.

Lola und die Maultaschen

Dan akhirnya kami bisa makan juga cake coklat tiga tumpuk berlapis krim dengan taburan cherry hitam di setiap lapisan krimnya. Cake yang masih disiram Kirschwasser (walaupun tidak terlalu disiram banyak tampaknya, karena tidak terlalu kuat rasa Kirschwassernya), ditaburi coklat dan diberi hiasan cherry merah segar. Hmm…lecker ! Ini potongan Blackforest cake terbesar dan terenak yang pernah kami makan. Tidak terlalu manis kuenya, sehingga tidak cepat bikin eneg. Dan terutama karena ini Blackforest yang dimakan di daerah asal Blackforest ini, jadi juga semakin istimewa (sama seperti saat makan Sachertorte di Hotel Sacher di Wina, hmm….lecker, lecker). « Perayaan » ulang tahun kami ditutup dengan Blackforest Cake yang nikmat. Mission accomplished!

Naik kereta ke Freiburg, masih sempat mampir ke toilet dulu sebelum kereta Lola tiba. Saya sendiri masih menunggu satu jam lagi dan masih bisa bertemu sebentar dengan sahabat saya yang kebetulan sedang berlibur di Freiburg juga. Diajak ke rumah temannya, dan ternyata mereka sedang makan Blackforest juga, hehe. Namun, saya masih terlalu kenyang untuk bisa mengunyah lagi sepotong Blackforest. Dan, kereta saya pun tibalah. Terlambat sekitar 10 menit dari jadwal. Sudah deg-deg-an karena artinya waktu yang saya punyai untuk pindah kereta di Karlsruhe ke arah Nürnberg menjadi lebih sedikit. Artinya lagi saya harus berlari-lari dari plattform satu ke plattform lainnya, yang jaraknya cukup jauh. Dan benar, hari itu judulnya saya benar-benar berolah raga, jalan dan lari ke sana ke mari sambil geret-geret atau angkat-angkat koper.

Di kereta saya masih bisa bekerja. Oh ya, saya memang membawa laptop dan pekerjaan saya. Namun, saya tidak bekerja selama liburan, melainkan di jalan. Lumayan untuk membunuh bosan saat menempuh perjalanan selama 6 jam lebih. Dan memang hasilnya juga cukup lumayan, selain saya juga tidak merasa bersalah karena sudah meninggalkan pekerjaan yang harus segera disubmit.

Ya, jadi itulah yang dilakukan oleh dua orang mahasiswa S3 yang sering berbincang malam-malam, di antara deadline, transkripsi dan analisis yang tidak juga mau menunggu. Masih mengamati wacana seputar mode dan per-facebook-an, masih saling kirim video dari youtube, masih membahas hal-hal penting seperti astrologi dan per-shio-an, masih juga membicarakan makanan dan yang terakhir tentu saja: jalan-jalan. Baiklah, sampai bertemu lagi di perjalanan berikutnya (yang sudah direncanakan dengan baik dan tentu saja dilakukan di antara dealine dan pekerjaan yang menumpuk, hehe).

Cat.: Beberapa foto diambil dari Lola’s Album. Danke!

Advertisements

Birthday Trip #3: Bienvenue à Colmar!

Bangun lebih pagi. Kami berencana berangkat ke Colmar dengan menggunakan bis jam 7.25. Kepagian sih, tapi ya karena ingin berlama-lama di Colmar, maka tidak apa berangkat pagi. Walaupun pada kenyataannya, kami ternyata baru berangkat jam 8.06. Bukan karena kami bangun kesiangan, tapi karena « ritual » sarapan kami. Sarapan sih boleh seadanya (maksudnya yang ada « cuma » mie instan, sup instan dan chicken wings), tapi sarapan kami harus « benar », hehe, belum lagi ditambah acara ngobrolnya, jadi memang lama. Anyway, tidak apa-apa tapinya berangkat terlambat, kami memang mau santai saja. Dandan cantik, badan tidak terlalu pegal dan sakit sehabis ski hari kemarinnya, kami siap berangkat. Perbekalan hari ini adalah kamera.

Berangkat lagi naik bis ke stasiun kemudian naik kereta sampai Freiburg. Menunggu tidak terlalu lama, tapi cukup untuk dipakai ke toilet dulu, dll. Selanjutnya naik Breisgrau S-Bahn ke Breisach, kota kecil perbatasan dengan Perancis. Di sana menunggu lagi bis menuju Colmar. Dan ternyata harga tiket bis ke Colmar cukup murah, hanya 7,70 € pp/orang. Ke luar negeri lho, hehe. Perjalanan dari Breisach ke Colmar memakan waktu sekitar 30 menit. Melewati desa-desa kecil dan padang-padang rumput. Terasa bedanya, saat ke luar perbatasan Jerman, terlihat dari rumah-rumahnya yang lebih berwarna-warni dibandingkan di Jerman, juga dari rambu lalu lintas yang dipasang. Rambu-rambunya tidak sebanyak di Jerman, hehe.

Sampai di Colmar, banyak orang turun di Theater, sepertinya memang pusat kotanya. Kami memutuskan untuk lanjut sampai ke Bus stationnya di Colmar Gare, karena niatannya mau mencari info dulu ke Tourist Information. Ternyata jarak dari pusat kota ke Gare itu cukup jauh. Hehe, maklum, kami menyangka seperti di Jerman saja, begitu keluar Bahnhof langsung kota. Ini Perancis, bukan Jerman. Tapi tak apalah, di sana kami sempat mengambil peta kota Colmar, dan salah ambil dong, informasi pada petanya berbahasa Belanda. Ya, ya, jalan-jalan di Perancis dengan peta berbahasa Belanda, hehe.

Setelah mampir ke toilet dulu, kami kemudian mencoba mencari apakah kami bisa membeli tiket kendaraan umum untuk berkeliling kota Colmar, yang diakhiri dengan rasa putus asa karena semua informasinya dalam bahasa Perancis. Akhirnya kami memutuskan berjalan kaki ke kota berbekal peta yang kami pegang. Cuaca mendung saat itu dan cukup dingin. Yang selalu menarik perhatian saya dari kota-kota di Perancis yang pernah saya kunjungi adalah lampu lalu lintasnya yang dipasang tidak terlalu tinggi. Bahkan kali ini saya melihat dalam satu tiang lampu lalu lintas ada lagi lampu lintas yang kecil.

Kami kemudian masuk ke taman Place du Champs de Mars yang indah. Taman khas Perancis, di tengah taman ada Bruat Fontaine dengan patung Armand Joseph Bruat seorang Admiral Perancis yang berasal dari Colmar. Colmar juga tempat asal Frédéric-Auguste Bartholdi, pembuat patung Liberty di New York. Tak heran, miniatur patung Liberty juga ada di kota ini.

Mengambil, maksud saya mencoba mengambil beberapa foto di sini, kami melanjutkan jalan kaki kami ke kota. Niatnya mencari Tourist Information. Begitu memasuki pusat kota tuanya, wow! Kami langsung terkagum-kagum pada jalanan kecil dari batu dan bangunan-bangunan tuanya (Fachwerke) yang berwarna-warni lengkap dengan kayu-kayu penyangganya. Sangat « klasik » dan indah. Terasa sangat « Eropa » hehehe.

Mengambil foto dulu di Rue Unterlinden di seputaran Musee Unterlinden dan tempat Tourist Infromation itu berada. Tapi kami tidak jadi masuk, karena rasanya dengan berbekal peta ini juga bisa. Tujuan utama adalah La petite Venise, karena Colmar selain jadi «ibukota»nya Elsässer Wein, juga terkenal dengan La petite Venise-nya. Penasaran ingin melihat seperti apa Venesia « kecil » di Colmar. Namun, tentu saja dalam perjalanan mencari La petite Venise tadi kami berhenti di sana-sini, melihat-lihat, ambil gambar, tidak habis-habis lah.

Indah betul kota ini. St. Martin Cathedral yang atapnya khas (motif atapnya mengingatkan saya pada Stephansdom di Wina),  lalu Koïfhus Oude Douane, kemudian ke Rue des Marchands, tahu-tahu sampai di Place de L’Ècole yang menurut peta di sekitar situ ada rumah yang pernah ditinggali Voltaire. Hmm, cari, cari, kok tidak ada tanda-tanda apapun yang menunjukkan bahwa Voltaire pernah tinggal di salah satu rumah-rumah yang ada di situ. Rasanya –menurut peta- kami sudah ada di tempat yang tepat. Ya sudahlah, akhirnya kami menunjuk saja salah satu rumah yang ada sebagai rumah yang pernah ditinggali Voltaire.

Sebelum lanjut mencari La petite Venise, kami memutuskan untuk makan siang dulu, karena memang sudah jamnya makan siang. Sambil mencari restoran yang khas, tentu saja kami masih mengambil gambar dan melihat-lihat toko-toko makanan dan baju. Walaupun untuk yang terakhir ini lebih sering pura-pura tidak dilihat. Sebelumnya Lola juga sempat menandai satu toko Wein, karena dia akan membeli Elsässer Wein (ya dong, harus itu) dan Kirschwasser yang ternyata cukup murah juga harganya. Kami sudah menemukan restoran yang akan kami masuki dan satu cafè yang unik di Rue des Marchands. Restoran yang kami pilih adalah Chez Hansi juga di Rue des Marchands yang menyediakan makanan khas daerah itu. Restoran ini direkomendasikan oleh Michellin tahun 2010. Nyaman restorannya. Kami juga disambut ramah oleh pemiliknya. Saya memesan Seelachsfillet mit Rieslingsoße dan Bandnudeln, Lola memesan Hähnchen mit Rieslingsoße dan homemade Spätzle, tak lupa Wein-nya. Duh, ini makanan memang benar-benar enak. Saus-nya benar-benar pas rasanya, bumbunya semua terasa. Selain itu, ikannya pun tidak hambar –seperti kebanyakan makanan Eropa, mmm… Jerman maksudnya-, rasanya ikannya sudah diasap dulu. Dan saladnya, ini salah satu salah paling enak yang pernah saya makan, dressingnya itu…hmm…ada bumbu yang khas selain dill salah satunya yang cukup terasa, rosemary ? ya ada juga. Dia juga memakai Crème fraîche ditambah bumbu-bumbu lain dan sedikit rasa bawang putih. Pokoknya : enak ! (kenapa saat menulis ini saya tiba-tiba lapar ya ?! hehe).  Benar-benar French quality with German quantity, karena selain enak juga mengenyangkan, harganya pun masih terjangkau, tidak terlalu mahal. Makan santai saja, sambil ngobrol, dan ya…ujung-ujungnya jadi membahas pekerjaan pula, hehe.

Cukup lama juga kami duduk di sana, kemudian memutuskan melanjutkan perjalanan lagi. Iyalah, masa harus diam di restoran terus. Saya juga sekalian mencari supermarket untuk membeli pembalut, karena tiba-tiba saya mendapatkan tamu bulanan di luar jadwal. Namun, anehnya, di sepanjang jalan yang kami lewati tidak ada supermarket, malah toko makanan, cafè, restoran dan toko baju saja yang kami temui. Di mana supermarketnya ya ?!

Dalam pencarian menuju La petite Venise kami melewati banyak bangunan menarik (semua menarik sebenarnya) seperti Maison Pfister, Maison des têtes dan tentu saja Koïfhus Oude Douane tadi. Membaca peta sampai dibalik-balik, akhirnya kami sampai juga di daerah tempat La petite Venise berada. Tidak terlalu mirip Venesia, hanya memang ada kanal kecil di sana, dengan « Gondola » (Gondola-gondola-an). Cukup indah, walaupun saya lebih suka gang-gang kecil dan rumah berwarna-warni di Rue de la Poissonnerie menuju Quai de la Poissonnerie. Indah betul !

Di depan Rue de la Poissonnerie ada Markthalle yang bangunannya cukup khas. Berbata merah. Di dalamnya : jualan makanan semua!

Dan saya masih perlu ke supermarket, tapi kok ya tidak ada. Akhirnya kami memutuskan pergi ke apotek saja, pasti di sana dijual pembalut. Terjadilah peristiwa « aneh » di sini. Bahasa Perancis janganlah tanya, ya, kami cuma mengerti amat sangat sedikit saja. Jadi, saya bertanya pada petugas apotik dengan menggunakan bahasa Inggris (yang tentu saja bahasa Inggris saya sudah belepotan). Dia sendiri sudah menyapa kami terlebih dulu dalam bahasa Perancis. « I’m looking for … ((jeda sebentar, menoleh pada Lola yang berprofesi sebagai dosen bahasa Inggris di sebuah perguruan tinggi negeri di Indonesia)) pembalut bahasa Inggrisnya apa, La ? » Lola (diam sebentar kemudian menjawab) : « Damenbinden ». « Hah ?! » saya diam sebentar mencoba mencerna apa saya tidak salah dengar. Damenbinden? Sebentar, itu sepertinya bahasa Jerman  deh, hihi. Lola sendiri tampaknya sadar bahwa apa yang diucapkannya itu salah, dan dia berusaha mencari kata yang tepat, tapi si mbak petugas apotek keburu terheran-heran dan saya juga sibuk menjelaskan dengan bahasa tangan dan wajah, hehehe. Ini cukup berhasil, si mbak membawa saya ke dekat kasir dan memperlihatkan beberapa pilihan. Dan Lola akhirnya bisa menemukan padanan kata Damenbinden dalam bahasa Inggris. Hihi, aduuhh…kami ketawa-ketawa menertawakan campur aduknya bahasa kami. Si Mbak sampai bingung melihat kami yang ketawa-ketawa. Maaf, Mbak, kami memang agak-agak aneh, hehe.

Setelah si Damenbinden itu ada di tangan, kami kemudian lanjut pergi ke cafè unik yang di depannya dipajang barang-barang tua seperti teko, piring-piring dan cangkir-cangkir antik. Sempat melongok ke dalamnya juga kok tampaknya menyenangkan ya. Sayang, kami tidak sempat melihat nama cafè itu. Masuklah kami ke dalam, dan memang benar-benar menyenangkan. Penuh juga cafè yang didominasi warna orange itu. Tidak terlalu besar, dan ada lorong yang masuk ke dalam. Kami memilih tempat di dalam. Dan, yang melayani dong, satu orang nenek yang sudah bungkuk, dan satu lagi nenek ada di kasir. Tentu saja mereka hanya berbahasa Perancis. Hihihi, duh bahasa, bahasa. Akhirnya bahasa tangan dan wajah bermain lagi. Tapi si nenek ini hebat lho, bisa mengerti kami yang ngomong ngga jelas juga sambil nunjuk-nunjuk menu, dia lanjut juga ngomong terus pakai bahasa Perancis. Duh, nek, ngga ngerti nih. Saya yang tadinya mau pesan hot chocolate yang saya maknai tidak ada karena dia menunjuk-nunjuk mesin pembuat minuman yang sedang diperbaiki, jadinya memesan thé japonais alias teh jepang. Lola pesan kopi, yang gampang, hehe. Lalu kami pesan macaroon juga. Ngga milih, sudah langsung dipilihkan oleh si nenek : chocolate dan pistachio. Hmm, ini macaroon enak bener ! Apalagi yang pistachio untuk Lola. Tidak terlalu manis. Yang coklat juga enak sih, tapi saya tidak terlalu suka coklat yang manis. Ini gara-gara supaya acara pesan memesan cepat selesai saja, jadi terima apa kata si nenek deh, hehe.

Cukup lama juga kami duduk di cafè yang nyaman itu, tapi harus beranjak dong. Sudah sore, kami masih mau membeli Wein. Mampir ke toko yang sudah sempat dilihat sebelumnya. Lola bahkan sempat Wine testing. Dia membeli 1 botol Wein (apa jenisnya, La, lupa, hehe) dan 1 botol Kirschwasser. Setelah dari situ baru kami mencari kartu pos dan magnet kulkas, cari souvenir yang murah saja, hehe. Kebetulan kami juga memang pengoleksi magnet kulkas. Kalau kartu pos ya memang untuk dikirimkan ke teman-teman.

Bis yang akan membawa kami ke Breisach ternyata masih cukup lama datangnya. Jadi daripada kedinginan menunggu di halte,  akhirnya kami jalan muter-muter lagi di Unterlinden. Lola masih sempat ambil gambar juga. Colmar di malam hari, hehe. Akhirnya bis datang juga, kami pulang ke Jerman. Pfui, terasa juga capeknya nih. Mana suhu udara saat itu juga cukup rendah, dinginnya terasa. Oh ya, memang masih Winter juga kan, hehe.

Sampai Freiburg, lanjut ke Hinterzarten lalu pulang ke Hirschenberg dengan menggunakan Anrufsammel Taxi. Dan tampaknya malam itu kami tidak bisa bertahan melek cukup lama, karena mengantuk tiada tara. Capek sekali. Setelah makan malam (makan lagi ? iya dong, hehe) yang lagi-lagi mie instan, tak lama kemudian kami sudah terlelap di bawah selimut masing-masing yang hangat. Besoknya kami harus pulang kembali ke kota kami masing-masing. Duh, rasanya masih betah, masih ingin libur, badan mulai terasa sakit-sakit dan kaki lumayan pegal juga, masih ingin istirahat. Hehe, alasan, liburan harus segera diakhiri sayangnya. Tidur nyenyak, dengan harapan besok paginya akan sarapan croissant yang lezat, yang sudah kami pesan pada Elke. Hmm…

Birthday Trip #2: Ski! Todtnauberg, Muggenbrunn

Malam itu saya sudah mimpi belajar ski saja, jadi bangun tidur dengan cukup semangat pula. Tak sabar untuk memulai hari. Sarapan dulu mie instan, supaya tidak masuk angin, dan ya yang ada memang hanya itu. Tidak sempat pesan Brötchen atau Croissant pada Elke, karena kami datang kemalaman.

Kami keluar rumah sekitar pukul 10an. Agak santai memang, karena berniat mengambil kursus lepas siang, sehingga akan sempat makan siang dulu di Todtbauberg. Tetep dong, makan itu harus. Naik bis sampai ke Bahnhof Hinterzarten dari Hirschenberg, halte dekat Ferienwohnung kami. Cuaca cerah sekali, matahari bersinar terang. Dingin memang, tapi tidak terlalu. Masih tahan lah. Lagipula baju pun berlapis-lapis. Baru terlihat daerah Hirschenberg dan Hinterzarten itu indah sekali! Berbukit-bukit dan berhutan-hutan. Bergunung-gunung? Mmm….sebagai orang Indonesia yang hidup di Bandung yang dilingkung gunung, saya tidak bisa menyebutnya gunung. Bukit rasanya lebih tepat, hehe. Tapi indah! Salju masih tampak di kejauhan. Cemara dan pinus tampak kehitaman di kejauhan. Tak heran disebut Schwarzwald memang. Blackforest.

Dari Bahnhof Hinterzarten kami naik kereta ke arah Freiburg dan berhenti di Kirchzarten lalu naik bis lagi menuju Todtnauberg. Dan pemandangan dari Hinterzarten ke Kirchzarten itu…indah!! Terutama di daerah sekitar Himmelreich. Wow! Kereta api keluar masuk terowongan yang menembus gunung. Melewati jalan dengan tebing-tebing batu di sekelilingnya. Es ist himmlisch! Saya langsung membayangkan daerah ini saat musim gugur. Pasti misterius, magis dan romantis.

Sampai di Kirchzarten, yang besarnya kurang lebih sama dengan Hinterzarten, menunggu bis agak lama. Bisnya sih sebenarnya sudah ada, hanya memang belum waktunya berangkat saja. Jalan-jalan sebentar bolak balik, dan di jam yang ditentukan, bis yang cukup besar itu membawa kami ke Todtnauberg. Perjalanan ke atas memakan waktu sekitar 30 menit. Duh, sekali lagi pemandangan sepanjang jalan ke atas itu indah betul. Berkelok-kelok, naik turun, salju masih ada sana sini, rumah-rumah petani khas daerah selatan, indah! Sampai di Todtnauberg, kami berhenti di Rathaus-nya.

Todtnauberg adalah dusun kecil berkontur naik turun. Indah! Memang dusun kecil. Tak banyak rumah ada di sana. Saya kemudian menelfon pemilik Skikurs untuk memastikan bahwa kami sudah datang dan bertanya bagaimana kami bisa menemui mereka. Sedianya kami mau dijemput, tapi daripada menunggu, akhirnya kami bertanya di Tourist Information dekat situ. Tak sulit menemukan tempatnya, karena tampaknya memang jalannya cuma segitu-gitunya, hehe.

Tak lama menunggu, ternyata ada salah pengertian. Sandra, istri pemilik Skikurs heran mengapa kami tidak membawa perlengkapan ski. Sedangkan kami menyangka, kami lapor dulu ke mereka kemudian mengambil peralatan ski di tempat penyewaan yang seharusnya tak jauh dari situ, karena pasti ribet membawa alat-alat. Sepanjang jalan lihat orang-orang membawa tas besar-besar saja sudah ribet. Yang menjadi masalah juga ternyata tidak ada orang di tempat penyewaan peralatan ski yang jauh-jauh hari sebelumnya sudah kami hubungi itu. Tampaknya mereka sedang istirahat makan siang. Dan Sandra memberitahu, karena cuaca dan suhu belakangan ini cukup hangat, jadi salju sudah tinggal sedikit, sehingga mereka biasanya tutup lebih awal. Tidak terlalu banyak yang datang untuk menyewa peralatan ski. Yah, jadi kita lihat saja.

Akhirnya kami memutuskan makan siang dulu, mencari restoran yang ada di dekat-dekat situ. Kami masuk ke salah satu restoran khas Jerman (ah, define khas Jerman, please, paling cuma Schweinefleisch mit Spätzle und Sauerkraut atau Bratwurst mit Kartoffeln dan lagi-lagi Sauerkraut, atau Braten dan sebangsanya, hehehe). Interior restorannya cukup khas, kayu-kayu, ditambah errr….binatang-binatang yang tampaknya hasil buruan si empunya restoran yang sudah diairkeras lalu dipajang di situ. Yang melayani kami cukup ramah. Dia memakai Dirndl, pakaian khas perempuan petani di Jerman daerah selatan (jaman dulu ya, sekarang sih mana ada yang pakai Dirndl, selain di acara karnaval dan Oktoberfest).

Baca, baca, baca, pilih, pilih, pilih, saya terus terang agak kesulitan menentukan pilihan, karena kebanyakan hidangan dari Schweinefleisch dan terutama karena porsinya juga pasti besar. Menghabiskannya itu juga satu masalah lain. Akhirnya saya memutuskan pesan Bratkartoffeln mit Spiegeleier und Salat ohne Speck, sedangkan Lola memesan Strammer Max. Apakah Strammer Max ini? Silakan diklik hyperlinknya, maka akan terlihat apa dan seperti apa. Yang jelas, Lola makan itu, hahaha. Duh, saya ngga tega nulisnya di sini, hihi. Eh, tapi saat itu kami tidak tahu apa itu kok, dan Lola begitu „terpesona“ pada setumpuk Schinken (ini setumpuk yang benar-benar banyak, Schinken terbanyak yang pernah dimakan Lola dalam beberapa jam saja) di atas roti khas Jerman (Mischbrot), ada telur mata sapi juga dan saladnya. Sedangkan di piring saya ada kentang goreng (yang menurut saya kebanyakan minyak), tiga butir telur mata sapi setengah matang (saya lupa bilang, bahwa saya tidak suka telur setengah matang yang masih cenderung mentah itu) dan salad. Porsinya memang banyak. Tapi kami juga butuh tenaga untuk ski, jadi kami habiskan pula menu pesanan kami.

Selesai makan, kami mendatangi lagi rumah tempat penyewaan peralatan ski itu. Tadinya kami sudah pasrah saja, kalau sampai ternyata tidak ada orang, dan kami tidak bisa menyewa peralatan ski dan itu artinya tidak jadi ski, ya sudah. Mau bagaimana lagi. Kami akan mencari alternatif lainnya, walaupun Ski adalah tujuan kami berlibur ini. Sudah beli-beli baju dan celana ski-nya juga lho (walaupun yang dibeli juga baju dan celana yang tetap bisa dipakai selain untuk ski). Syukurlah, ternyata ada yang keluar juga membukakan pintu saat kami bel rumahnya. Frau Mühl kemudian membawa kami dengan mobilnya ke tempat penyewaan peralatan ski yang terletak agak ke atas dari desa tersebut. Ditanyakan nomor sepatu kami dan kami diberikan sepatu ski 1 nomor di atas nomor sepatu yang biasa kami pakai. Dan…sepatu ini berat! Wah, untuk memakai dan membiasakan diri dengan sepatu ini saja sudah jadi seni sendiri. Berat banget! Hihihi. Kaki rasanya langsung diberi beban berkilo-kilo. Agak tidak nyaman dengan sepatunya, kaki saya tidak bisa bergerak sama sekali, akhirnya saya memutuskan melepas kaos kaki saya supaya bisa muat, karena jika diberi yang 2 nomor lebih besar dari ukuran sepatu normal, maka akan terlalu besar. Duh, mana ada yang mau ski telanjang kaki begitu. Tapi biarin saja, daripada ngga muat. Toh di dalam sepatu juga hangat.

Kami ganti kostum di situ, karena Alex sang instruktur ski, akan menjemput kami dan membawa kami ke tempat kursus. Duh, memang benar, pelajaran sudah dimulai dari memakai sepatu sampai berjalan dengan sepatu yang beratnya sepertinya seperempat berat badan kami *lebay hihi*. Ngangkat kaki saja susah. Papan ski-nya pun berat, hahah. Untung kami tidak usah nenteng-nenteng papan itu karena Alex yang membawanya ke mobil. Untuk penyewaan peralatan ini kami membayar 10 €/per orang. Ini jauh lebih murah dari yang kami duga, karena di website mereka, harga 1 set peralatan ski itu 19 €. Belakangan, setelah di cek lagi, harga 10 € untuk 1 set peralatan ski untuk anak-anak. Hahaha, ternyata ukuran kami itu termasuk ukuran anak-anak. Hihi, enak juga kan punya badan kecil, jadi bisa menghemat 9 €.

Lokasi tempat kami akan belajar Ski adalah Muggenbrunn, lebih tinggi sedikit dari Todtnauberg, masuk ke Landkreis Lörrach. Alex, instruktur kami, adalah laki-laki tua yang ramah. Sepanjang jalan kami berbincang dan tertawa-tawa. Oh ya, dia harus kami beritahu dulu bahwa kami adalah pemula yang benar-benar pemula dan datang ingin belajar dengan modal nekad saja, jadi kami harap dia cukup sabar menghadapi kami, hehehe. Dan ini terbukti kemudian, bagaimana kesabaran Alex benar-benar diuji oleh kami (jangan-jangan kami adalah murid paling „kacau“ yang pernah dia ajar, hahaha).

Ya, seperti sudah saya bilang, pelajaran sudah dimulai dari saat memasang sepatu sampai berjalan dengan sepatu itu. Eh, tapi enak juga lho, berjalan di atas salju dengan sepatu itu, ngga licin. Mantap betul. Iyalah, berat soalnya, hihi. Kami kemudian diajarkan memasang sepatu ke papan ski. Ini juga tricky, harus pas dan klop betul. Setelah itu pelajaran dimulai. Untuk bisa mengangkat kaki dengan sepatu itu saja sudah berat, apalagi ditambah dengan papan yang terpasang erat di sepatu. Hihi, dan acara kursus yang penuh ketawa-ketawa ini dimulailah.

Pelajaran dimulai dengan berdiri dengan benar, saudara-saudara. Eits, ini juga sulit, karena licin kan, untuk bisa mempertahankan keseimbangan badan supaya ngga melorot-lorot terus, tongkat ski memang membantu menopang supaya bisa tetap berdiri. Lalu jalan. Cara jalan yang pertama kali diajarkan adalah cara jalan berbentuk V, gaya pinguin. Duh, hihi, mengangkat kakinya sulit betul, belum lagi eits…sudah kepeleset peleset saja karena licin. Aduh, hehehe, perlu kaki dan tangan yang kuat juga memang. Namun, saat meluncur itu enak, seerr….gitu. Kalau ngga ter-rem gawat juga sih, bisa meluncur terus sampai mentok dan nabrak. Lola sudah beberapa kali jadi korban ditabrak oleh saya yang tidak bisa mengerem diri saat meluncur, hihihi. Pelajaran berikutnya adalah naik ke bukit. Haduh, hahaha, ini gila-gilaan. Sampai keringetan, susaaahh…Salju sudah memenuhi papan ski sementara kami masih belum bisa naik juga dan Alex sudah santai dong ada di atas. Duh. Untuk naik ini, selain jalan dengan bentuk V tadi juga ada jalan menyamping seperti naik tangga. Untuk saya ini lebih mudah. Sesampainya di atas, kami kemudian meluncur lagi. Ini saat menyenangkan sekaligus juga menggelikan. Saya jatuh berkali-kali, kebanyakan karena saya tidak bisa mengerem laju luncuran saya, hahaha. Lebih baik menjatuhkan diri deh, hihi. Untung enak jatuh di salju sih. Lola sempat tertabrak-tabrak juga (heran, saya terus yang nabrak dia, dia ngga pernah nabrak saya, hihi). Eh, tapi jangan sangka begitu jatuh di salju kita bisa serta merta bangun dengan sendirinya. Susah! Kaki rasanya seperti tertanam langsung di salju, sulit untuk diangkat lagi, boro-boro mengangkat badan. Jadinya seringnya setelah jatuh, langsung dihampiri oleh Alex dan ditarik oleh dia. Eh, tapi lama-lama saya juga akhirnya bisa bangun sendiri setelah jatuh itu. Lola juga. Kalau putus asa banget, ngga bisa bangun, ya lepas sepatu dari papan, lalu berdiri, terus pasang lagi, hihi. Dan yang ada, kami cuma tertawa-tawa, haduuh…ini sih lebih banyak tertawanya daripada belajar seriusnya.

Pelajaran berikutnya adalah meluncur dan mengerem dengan „gaya“ Pizza-Stück. Melihat Alex, sekali lagi tampaknya ringan betul, tapi saya tetap tidak bisa-bisa. Tampaknya ada ketidaksinkronan antara kaki, betis, lutut dan tangan saya, haha. Disuruh Pizza Stück malah jadinya lurus saja. Eh, bukannya direm dengan tongkat, saya malah meluncur dengan sukses ke bawah. Itupun bukannya lurus, tapi tahu-tahu berbelok ke arah mesin pembuat salju atau ke arah jalan, hihi. Daripada daripada, mendingan saya menjatuhkan diri deh, itupun ngga bisa langsung plek jatuh, kadang masih terseret juga, hahaha. Eh, tapi Lola bisa lho meluncur dengan Pizza Stück ini, hebat dia, walaupun ujung-ujungnya jatuh ngga bisa menahan diri juga, tapi itu sudah prestasi besar, hahaha. „Bravo, Lola!“ hihi.

Duh, ini benar-benar pelajaran ski paling aneh mungkin yang pernah dilakukan Alex. Kami ketawa-tawa terus dan susah bisanya, hihi. Tapi menyenangkan, sangat. Dan karena kami „gadis-gadis baik dan menyenangkan,“ begitu kata Alex, dia jadi menambah jam kursus kami tanpa kami harus membayar lebih, hehehe. Selain itu kami juga masih bisa main-main sendiri. Asyik sih, cuma ternyata badan sudah tidak cukup kuat. Tangan dan kaki sudah mulai sakit, hahaha. Benar-benar perlu latihan fisik tambahan dulu sebelumnya, biar kuat. Untung juga sebelumnya kami sudah makan dengan benar, lumayan jadi ada tenaga. Yah, dan siap-siap saja dengan resiko sakit badan, memar atau parahnya lagi patah tulang. Tapi sejauh ini kami hanya menderita sakit badan dan memar-memar saja, untungnya.

Dan saking “serius”nya kami belajar, kami sampai lupa mengabadikan kegiatan kami itu. Satu-satunya dokumentasi adalah rekaman „video“ dari iPodnya Lola. Video maksa, tapi lumayan jadi kenang-kenangan dan „bukti“ bahwa kami pernah terjatuh-jatuh, jatuh bangun tepatnya saat belajar ski, hihi. Kalau mengutip apa kata Lola, ya kita tidak akan pernah tahu sampai kita mencobanya sendiri. Ya, sekarang kami sudah tahu rasanya, kalau saya sendiri masih ingin mencoba lagi, walaupun mengutip seorang teman „olah raga macam apa“ yang semua perlengkapannya serba mahal itu, hehehe. Kalau ngga nyewa, ngga akan mampu deh belinya.

Dan untuk kursus privat yang seperti saya bilang penuh dengan ketawa-tawa itu, kami membayar 36 € untuk kami berdua. Ini lebih murah dibandingkan perjanjian awal yang 39 €. Itu pun jam kursusnya sudah ditambah, ditambah lagi kami juga masih bisa bebas bermain-main sendiri. Wah, senangnya! Dan terutama kami juga beruntung mendapat instruktur seperti Alex yang ramah, baik hati, tidak sombong dan terutama sabar menghadapi kami yang susah sekali bisanya, dibandingkan anak-anak kecil yang sekali belajar tampaknya langsung mahir, hihi.

Alex kemudian mengantar kami ke halte bis, dan karena kami masih punya banyak waktu sampai bis datang, kami akhirnya memutuskan menunggu di satu cafè di Campingplatz depan halte bis. Hmm, kalori yang dikeluarkan cukup banyak juga, jadi perut sudah terasa lapar lagi (alasan, hehe). Dan tampaknya secangkir kopi atau teh panas ditambah sepotong kue menjadi pilihan yang menyenangkan.

Sayang sekali, begitu sampai sana, kue yang diinginkan ternyata cuma tinggal satu macam dan satu potong saja. Si ibu pemilik cafè menawarkan kepada kami –mungkin untuk mengobati kekecewaan kami, untuk membagi dua kue itu tapi di masing-masing potongan kami mendapat ekstra Sahne dan es krim, hehehe. Oke, langsung disetujui. Jadi, Lola minum kopi, saya teh, dan kami masing-masing mendapat sepotong Apfelkuchen dengan Sahne dan es krim, hehe. Ngobrol naglor ngidul lagi. Cafè tidak terlalu penuh, hanya ada sekelompok bapak-bapak dan ibu-ibu di pojokan yang tampaknya berasal dari Belanda dan ada seorang bapak duduk sendirian.

Jalanan sudah berkabut saat kami keluar cafè sekitar jam 17 kurang. Tebal sekali, jarak pandang mungkin hanya sekitar 50 m saja. Ya, kami memang ada di puncak gunung. Bis datang untuk membawa kami kembali ke Kirchzarten. Belum terlalu malam, kami masih bisa mencari makan malam (duh, ini kok kayaknya makan melulu yang dipikirkan, hehe) dan Blackforest Cake.

Namun, Kirchzarten memang sebuah Ort, bukan kota, hehehe, susahnya mencari cafè atau restoran yang kira-kira menyediakan Blackforest Cake. Kami sempat melihat gambarnya di tourist information di Todtnauberg, tapi di Kirchzarten tidak ada. Akhirnya setelah berkeliling Ortsmitte (bukan Stadtmitte ya), kami mampir ke sebuah supermarket. Ya, kami memutuskan untuk makan malam di rumah saja. Toh ada dapur juga, kami bisa memasak sesuatu yang mudah, yang tinggal masuk oven misalnya. Akhirnya kami belanja chicken wings, sup instan, salad, joghurt dan strawberry. Oh ya, kami tetap harus makan sehat, hehe. Dan karena saya tidak tahan ingin mencoba Blackforest di daerah Schwarzwald, jadilah kami membeli sepotong Blackforest di bakery supemarket itu. Daripada ngga ada, hehe. Ceritanya ini jadi kue ulang tahun kami, walaupun ternyata rasanya tidak terlalu enak. Ya, bukan yang asli sih, hehe. Lola masih membeli bir khas daerah situ, walaupun bir itu juga pada kenyataannya baru diminum setelah dia kembali ke Dortmund.

Menunggu kereta agak lama di Bahnhof Kirchzarten, masih sempat-sempatnya juga membuat foto narsis dengan Lola sebagai pemeran utamanya. Iseng banget memang. Eh, tapi keisengan ini berbuah satu buku kok, hehe. Sampai di Hinterzarten tentu saja sudah tidak ada bis, karena bis di sana hanya sampai jam 19. Saat kami sedang melihat-lihat jadwal bis, seorang nenek menghampiri kami dan bertanya apakah dia bisa membantu kami. Kami kemudian disarankan untuk memanggil Anrufsammeltaxi. Cara memanggilnya juga lucu, saya hanya perlu bicara di satu speaker yang dikotaki, setelah sebelumnya memencet satu tombol hitam. Tidak ada nomor apapun, dan itu langsung terhubung ke Taxi Hermann, satu-satunya perusahaan taxi di sana, hehe.

Tak lama, taxi datang. Sopirnya ramah, selama perjalanan juga ngobrol ngalor ngidul ke sana ke mari. Tampaknya memang orang di desa itu saling mengenal satu sama lain. Ah, akhirnya, sampai juga kami di rumah (saya sudah merasa bahwa Ferienwohnung itu adalah rumah saya. Maunya, hihi). Hari yang menyenangkan. Capek memang, tapi badan rasanya segar karena sudah bergerak banyak. Masak dulu sedikit, lalu makan. Masih sambil ngobrol dan cerita ngalor ngidul lagi. Ngga habis-habis rasanya bahan cerita. Namun, kami tidak bisa begadang terlalu lama, selain karena juga sudah capek, keesokan harinya kami ingin berangkat pagi-pagi ke… Colmar. Jadi, mari tidur, setelah tubuh dibalur macam-macam, haha, dasar “nenek-nenek”.

Birthday Trip #1: Hinterzarten

Apa yang terjadi jika dua orang mahasiswa S3 berbincang malam-malam, di antara deadline, transkripsi dan analisis yang tidak mau menunggu? Selain mengamati wacana seputar mode dan per-facebook-an, saling kirim video dari youtube, membahas hal-hal penting seperti astrologi dan per-shio-an, juga membicarakan makanan dan yang terakhir tentu saja: jalan-jalan. Ya, akhirnya kami, dua orang mahasiswa S3 yang lahir di Bandung pada bulan Februari di tanggal yang hanya berbeda 3 hari, tapi berbeda tahun lahir 1 windu, memutuskan untuk merayakan ulang tahun kali ini bersama-sama dengan mencoba sesuatu yang baru: ski. Dan seperti biasa, merencanakan jalan-jalan lebih menyenangkan dibandingkan mengerjakan transkripsi dan analisis, bahkan bisa lebih matang dan detil dibandingkan pekerjaan kami (sesungguhnya). Jadi, kami langsung browsing tempat mana yang kira-kira menarik untuk dikunjungi karena selain ingin mencoba olah raga tadi, kami juga ingin memanjakan diri dengan makanan enak dan menyegarkan otak dengan liburan yang tenang.

Setelah browsing sana sini akhirnya kami memutuskan untuk belajar ski di daerah Schwarzwald, dengan pertimbangan di sana kami juga bisa makan Schwarzwälder Torte alias Blackforest Cake yang asli di tempat asalnya, selain karena di Zugspitze atau Garmisch Partenkirchen yang lebih terkenal sebagai tempat ski biayanya lebih mahal. Selain itu, kami juga berencana pergi ke perbatasan, dan kami memutuskan pergi ke Colmar, di Perancis, setelah sebelumnya mencoret Basel di Swiss dan Strasbourg juga di di Perancis. Salah satu pertimbangannya karena Colmar adalah kota tua yang menjadi pusat Elsässer Wein. Lola –si penggemar Wein- tentu tidak mau melewatkan begitu saja kesempatan yang sudah dekat itu. Promosi dari website kota Colmar tentang makanannya yang ber- “French quality with German quantity” semakin membuat kami tertarik datang ke sana. Ini memang dasarnya kami tukang makan enak, maka wisata kulinernya perlu juga dilakukan.

Jadi, bulan Januari sekembalinya Lola dari Indonesia, kami matangkan rencana sekaligus membeli tiket kereta dan memesan kamar. Tanggal pun dipastikan. Kami memilih tanggal 16 – 19 Februari, tanggal di luar hari ulang tahun kami berdua, karena di hari ulang tahun Lola, dia mendapat jatah menyekop salju (yang untungnya saat itu tidak bersalju di Dortmund, tempat tinggalnya) dan di hari ulang tahun saya, saya ada jadwal cek up ke dokter (ini ketiga kalinya saya “harus” berurusan dengan dokter saat berulang tahun, dan hasilnya biasanya jelek, hehe). Karena tiket dipesan jauh-jauh hari sebelumnya, kami masih bisa mendapatkan tiket murah Sparpreis dari Deutsche Bahn. Lola berangkat dari Dortmund, sedangkan saya dari Bayreuth. Kami akan bertemu di Freiburg, kemudian melanjutkan perjalanan ke Hinterzarten, tempat kami menyewa sebuah Ferienwohnung yang cukup murah seharga 49 €/malam untuk satu rumah, ditambah 2 € untuk Kurtaxe per orang/malam. Dengan harga itu kami akan mendapatkan Schwarzwald Card, yang bisa kami gunakan untuk masuk ke daerah-daerah wisata secara cuma-cuma. Kami pun langsung tertarik pada Ferienwohnung Völkle yang tampak nyaman. Pemiliknya pun ramah, saat saya berbincang di telefon untuk menanyakan kepastian harga. Kami juga memutuskan untuk mengambil kursus ski privat di daerah Todtnauberg, Hochschwarzwald dengan pertimbangan agar kami bisa tertawa-tawa dengan bebas. Maklum, dua orang pemula ini agak-agak iseng. Kursus ski privat seharga 39 €/jam untuk dua orang. Kami pun masih menyewa papan, sepatu dan tongkat ski di sebuah tempat penyewaan peralatan ski. Jaket dan celana ski harus kami sediakan sendiri. Namun, kami tentu saja mencari barang yang murah meriah, karena sepertinya jaket dan celana itu hanya akan dipakai sekali saja. Dan „perburuan“ barang yang murah meriah ini juga cukup seru. Pokoknya tidak boleh melebihi budget yang kami anggarkan.

Dan tibalah hari yang sudah ditunggu-tunggu itu. Kami bertemu di Freiburg. Lola datang satu jam lebih awal dari saya. Kami masih memasukkan kamera Lola ke sebuah toko foto untuk diservice. Sambil menunggu, kami jalan-jalan dulu di Innenstadt kota Freiburg. Ini kali kedua saya ke kota itu. Sebelumnya tahun 2003, saat menghabiskan liburan natal di tempat sahabat saya. Setelah urusan kamera beres, kami melanjutkan perjalanan ke Hinterzarten dengan kereta api regional selama 30 menit perjalanan. Dari stasiunnya, kami masih harus naik bis sampai ke tempat penginapan kami sekitar 10 menit perjalanan.

Begitu turun dari gunung, kami seperti dua orang yang tersesat in the middle of nowhere. Sepi nian. Benar-benar di gunung! Walaupun gelap, tapi tidak terlalu sulit menemukan Ferienwohnung Völkle. Cuma ya memang sepi saja yang membuat kami agak ragu. Disambut ramah oleh Elke, sang empunya rumah, kami diantar ke lantai satu. Wow! Nyaman sekali tempatnya. Wohnung yang cukup besar, lebih besar dari Wohnung kami berdua yang jelas. Ada ruang duduk lengkap dengan sofa yang nyaman, dengan bantal dan selimut yang tampaknya menarik untuk segera ditarik menutupi tubuh. Ada TV besar, ada radio. Ada ruang makan. Dan dapurnya yang lengkap selengkap-lengkapnya (bahkan dengan teh, kopi, gula, garam, merica) dan kamar mandinya dan kamar tidurnya! Wah, ini sih benar-benar nyaman. Kami bisa pindah rumah ke situ, hehe. Selain itu, rumah ini juga bersih. Membuat kami langsung merasa betah.

Setelah mengisi formalitas untuk membuat Schwarzwald Card dengan formulir isian yang membuat kami tercenung cukup lama, kemudian tertawa-tawa dan dengan sangat „tidak tega“ mengisinya, saya mengantarkannya pada keluarga Völkle yang tinggal di lantai dasar.  Keluarga yang ramah, kali ini suaminya yang menerima saya. Dan ternyata dengan Schwarzwald Card itu kami juga bisa bebas naik kereta dan bis di Schwarzwaldgebiet bahkan sampai ke Freiburg dan Breisach, kota di perbatasan dengan Perancis untuk menuju Colmar.

Urusan formal beres, Schwarwald Card jadi tidak lama kemudian, selanjutnya adalah acara tukar kado. Masih musim ya, tukar menukar kado,  hehe. Sebetulnya tidak dimaksudkan begitu juga, cuma ternyata kami berdua tanpa janjian membawa coklat untuk diberikan, ditambah kartu ulang tahun yang juga tanpa janjian ternyata sama-sama bergambar Wein. Lola masih membawa kado buku untuk saya, ditambah pesanan saya saat dia mudik ke Indonesia yang tak lain dan tak bukan adalah obat maag (hehe), buku Anak-anak Toto Chan, dompet manik-manik khas Dayak, dan…amplang, lempok durian juga bumbu Soto Banjar homemade yang sudah melanglangbuana melewati beberapa kota, dua pulau, beberapa negara, gurun, laut dan samudera. Waduh! Ini benar-benar harta berharga, hehe. Lola pun masih mendapatkan “hadiah sembako” dari saya berupa mie telor dan mie instan yang menjadi penyelamat dua turis yang kelaparan dan terdampar di satu rumah nyaman di sebuah desa terpencil di atas gunung tanpa perbekalan sama sekali. Akhirnya jadilah mie instan yang sedianya pesanan Lola itu dimasak dan dimakan dengan lahap. Dari pada lapar. Amplang pun langsung dibuka.

Malam itu pun dihabiskan dengan mencoba-coba kamera baru saya dan kursus fotografi dari Lola untuk saya. Puas dengan potret memotret, perut sudah kenyang pula, acara selanjutnya tentu curhat mencurhat ditemani lagu-lagu dari radio yang semakin malam kok rasanya semakin hmm…aneh, hehehehe. Lucu juga, kami ini berbincang lewat dunia maya setiap hari dan setiap malam, tapi acara curhat langsung sambil selimutan di sofa yang nyaman memang bisa membuat lupa waktu, tahu-tahu sudah jam 2 dini hari saja. Dasar memang dua-duanya cerewet dan tukang ngobrol, hehe, kalau tidak dihentikan pasti lanjut sampai pagi. Padahal pagi itu kami akan pergi ke Todtnauberg untuk melakukan sesuatu yang membuat kami datang ke situ di sela-sela deadline dan pekerjaan yang menumpuk: Ski!  Jadi, masuk ke bawah selimut yang hangat untuk istirahat setelah perjalanan panjang dari Bayreuth dan Dortmund memang satu hal yang wajib :)

Bersambung