And the journey continues…

Biasanya saya menuliskan refleksi tahunan saya ketika malam pergantian tahun, sekarang saya melakukannya di hari pertama awal tahun. Bukan karena apa-apa, kemarin memang sedang tidak mood menulis. Jika sekarang pun saya menulis di sini, ini semata karena saya sedang mencoba lagi membangkitkan lagi kebiasaan menulis untuk sekedar menulis, bukan menulis yang harus dibatasi hipotesis, teori, analisis ini itu, dll. Terus terang, saya mengalami kebosanan menulis hal-hal dalam kerangka ilmiah, walaupun mau tidak mau, suka tidak suka, saya memang hidup dari situ. Bahkan –ini harus saya akui- kebiasaan melakukan hipotesis dan analisis, serta melihat dari beragam perspektif sebelum menyimpulkan sesuatu sudah inheren merasuk ke dalam jiwa dan kepala saya. Ya sudah, tak apalah, toh banyak bagusnya juga dan tidak merugikan siapapun, bahkan membawa saya ke banyak peristiwa yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Walaupun sebenarnya sesuatu yang “serius” itu semua berawal dari keisengan saya belaka. Ya, keisengan yang serius, atau keseriusan yang iseng. Saya tidak bisa membedakan lagi. Yang jelas, di tahun 2015 lalu –ah, belum sehari pun dia lewat- saya mulai belajar melepaskan hal-hal yang tidak perlu, yang saya rasa hanya akan membebani diri dan hidup saya saja. Beberapa berhasil, masih banyak yang tidak. Namun, tidak ada salahnya juga mencoba.

Merefleksikan apa-apa saja yang saya lakukan, saya alami, dan saya rasakan di tahun 2015, saya ternyata menemukan diri saya yang lain. Diri saya yang ternyata suka iseng. Namun, entah bagaimana keisengannya diseriusi, menjadi serius, dan sering membuat saya sendiri kelabakan. Walaupun begitu hasilnya tetap menyenangkan saya dan membuat saya semakin hidup.

Saya iseng mengiyakan tawaran menjadi narasumber tentang sanitasi di RRI Lampung tepat pada tanggal 1 Januari 2015 bersama seorang teman. Iseng menonton konser Michael learns to Rock tanggal 2 nya, padahal saya hanya kenal dua atau tiga lagunya saja. Bulan Februari menonton konser NOAH di Sabuga. Yang ini bukan iseng, tapi memang berniat betul, karena saya sudah membuat pengakuan sebagai salah seorang fans NOAH maka saya mengharuskan diri saya menonton konsernya. Dan saya senang. Keisengan lainnya adalah menonton konser Bon Jovi di Senayan, Jakarta. Kalau ini memang benar-benar iseng tapi serius, karena kami serius sengaja datang jauh.jauh dari Bandung, sampai menginap di sebuah hotel di Jakarta, demi merasakan kemeriahan konser Bon Jovi dengan crowd Indonesia, yang ternyata malah membuat saya mengantuk. Saya iseng berkomentar di akun instagramnya salah seorang pemainnya, mengajaknya promosi film “3” di Unpad, dan ternyata dengan persiapan amat sangat mendadak bisa mendatangkan sekitar 600 orang dan bisa bertemu dengan orang-orang hebat dan kreatif pendukung film itu sekaligus semakin memahami bagaimana cara kerja dan “permainan” industri kreatif di Indonesia yang mau tidak mau masih berorientasi uang. Saya iseng memasukkan abstrak untuk konferensi di Shanghai dan ternyata diterima walaupun akhirnya saya tidak jadi pergi karena mengukur kekuatan tubuh saya setelah menjalani keisengan saya yang lain selama 3 minggu berada di Eropa untuk konferensi dan menjadi turis. Ya, saya menjadi turis di Eropa: akhirnya. Saya juga iseng mengirim lamaran untuk menjadi pengajar bahasa Indonesia di Eropa, kemudian dipanggil interview dan akhirnya diterima, tetapi juga pada akhirnya tidak saya ambil juga karena pada saat yang bersamaan saya tidak mungkin berada di dua tempat yang berbeda.

Selain keisengan-keisengan yang biasanya berbuntut pada hal-hal yang membuat adrenalin saya meningkat (ya, saya butuh itu, kadang-kadang), saya merasa langkah saya melambat. Lebih tepatnya saya melambatkan langkah saya. Saya tidak lagi ingin berlari, tetapi saya hanya ingin berjalan. Saya ingin menikmati apa yang saya lihat, lalui, dan alami dalam perjalanan saya, membuang apa yang tidak perlu, dan mengambil apa yang perlu saya ambil. Ternyata, ketika saya membuang beberapa hal yang memberatkan, saya justru mendapatkan lebih banyak dari apa yang saya buang. Saya tahu saya masih melekatkan diri pada banyak hal yang tidak perlu, saya masih harus banyak belajar untuk melepaskannya satu-satu. Belajar yoga adalah salah satu cara saya untuk melambatkan dan menikmati setiap gerak, selain tentu agar saya bugar.

Di lain sisi, ternyata saya juga bisa menjadi die hard fans, yang saya sendiri pun tidak mengerti, bahwa ternyata saya memiliki sisi itu. Mungkin selama ini itu saya tutupi atau saya kualat pernah memandang aneh teman saya yang “berubah” menjadi seorang fan girl. Dua-duanya mungkin benar, hehe. Namun, saya menikmatinya, dan malah ternyata hal ini malah justru melatih dan membuka banyak sisi saya yang lain. Berkenalan dan bertemu dengan orang-orang baru sesama fans, berbincang untuk hal-hal sepele yang dulu tidak pernah sekalipun mampir dalam pikiran saya bahwa saya akan membicarakan dan membahasnya, bahkan kemudian beberapa keisengan yang berbuah serius lahir dari obrolan-obrolan ini. Hal ini ternyata menyenangkan. Hal ini sama menyenangkannya dengan kesempatan yang saya ambil untuk berdamai dengan masa lalu, dengan kejawaan saya, dengan beberapa hal yang dulu saya hindari dan saya tutupi. Ternyata tidak sesulit dan seberat yang saya rasakan, bahkan keputusan itu justru meringankan saya. Untuk itu saya bersyukur. Termasuk bersyukur bahwa saya masih mengalami hal-hal yang juga membuat saya menangis, saya kesal, bosan, dan kadang juga putus asa. Itu membuat saya hidup.

Mengutip tulisan Agustinus Wibowo, seorang penulis favorit saya yang juga akhirnya bisa saya temui langsung, perjalanan itu adalah rangkaian dari perpindahan dan perhentian. Mereka yang tidak pernah berpindah tidak akan mengerti indahnya kebebasan, dan mereka yang tidak pernah berhenti tidak akan pernah memahami pentingnya kestabilan. Dan itu hidup. Maka angin akan tetap bertiup, kadang keras kadang hanya berdesir, langit mungkin akan kelabu, matahari akan terbenam, tetapi esok matahari tetap menepati janjinya untuk terbit kembali, maka perjalanan saya pun berlanjut. Dan sekali lagi, saya bersyukur.

Bandung, 010116IMG_20160101_105555[1]

„Saya Terima Nikahnya“: ‚Menerima‘ Realita (1)

sayaterimanikahnya

Seperti biasa saya selalu terlambat jika menyukai sesuatu, tetapi kemudian biasanya saya akan menyukainya dengan sepenuh hati. Contohnya saat saya menyukai “Saya Terima Nikahnya” (STN) salah satu judul komedi situasi yang ditayangkan oleh NET TV sejak tanggal 26 Januari sampai 6 September 2015. Saya memang tahu bahwa ada acara situasi komedi ini, iklannya pun beberapa kali saya lihat, tampaknya menarik, tetapi saya tetap tidak menontonnya karena satu dan lain hal. Baru pada suatu hari di bulan Maret, saya tumben-tumbenan dapat menonton tayangan talkshow “Just Alvin” di Metro TV dengan bintang tamu salah satunya Tika Bravani dan Dimas Aditya, dua pemain di komedi situasi STN. Melihat mereka berdua saat diwawancara Alvin Adam membuat saya tersenyum-senyum sendiri dan entah mengapa juga “kupu-kupu di perut” saya ikut “menari”. Sejak itu saya penasaran pada STN sampai akhirnya saya membuka youtube. Untungnya NET TV memang mengunggah semua tayangan di saluran youtube, sehingga memudahkan saya untuk melihat semua rekaman tayangan STN dari episode awal. Episode “Preman KW” lah yang akhirnya saya saksikan langsung di TV. Untuk pertama kalinya, setelah 2 bulan STN tayang, saya menontonnya dan ternyata saya suka.

STN berkisah tentang sebuah keluarga menengah ke atas bernama Keluarga Arifin dengan tokoh utama Papi (Ray Sahetapy) yang berprofesi sebagai dokter spesialis jantung, tetapi harus pensiun dini karena menderita sakit jantung, Mami (Nungki Kusumastuti) seorang ibu rumah tangga yang sangat peduli pada kesehatan Papi dan keluarganya, tetapi dia juga sangat memperhatikan penampilan dan kecantikan dirinya, Kirana (Tika Bravani) anak tunggal Papi dan Mami berpendidikan S2, tetapi tidak berkarir di luar rumah karena menikah dengan Prasta (Dimas Aditya), seorang creative director yang memiliki karir bagus di sebuah perusahaan periklanan besar, tetapi di rumah tidak pernah ‘dianggap’ oleh Papi.

Dengan judul yang diambil dari kalimat sakral saat proses akad nikah, yang mengandung tanggung jawab dan “konsekuensi” besar untuk menerima apapun yang terjadi setelah kalimat tersebut diucapkan, maka STN mengangkat tema keseharian keluarga yang cukup “heboh” tersebut dan “konflik” yang tercipta antara Prasta dan Papi setelah Prasta masuk ke dalam kehidupan keluarga itu, yang pada akhirnya juga melibatkan Mami dan Kirana. Penggambaran keseharian, masalah-masalah yang muncul dalam kehidupan keluarga, dan konflik-konflik yang melibatkan anggotanya ini sering menimbulkan situasi yang lucu, menggemaskan, dan juga manis.

Diawali dengan tayangan perdana saat Prasta akan melakukan proses akad nikah, kegugupannya, dan klimaksnya adalah gangguan panggilan dari telefon genggam milik Abi, sahabatnya. Scene ini yang kemudian menjadi awal bagi “konflik-konflik” dan masalah-masalah lain yang terjadi antara dirinya dan Papi, yang pada akhirnya mau tidak mau juga melibatkan anggota keluarga lainnya. “Konflik” dan masalah yang dimaksud di sini bukanlah konflik dan masalah dalam arti per sè sehingga memunculkan dikotomi protagonis vs antagonis, seperti yang sering digambarkan dalam kisah sinetron-sinetron Indonesia pada umumnya, melainkan “konflik” dan masalah amat sangat ringan yang justru sering muncul dan dialami dalam kehidupan siapapun. Dengan demikian, siapapun yang menontonnya akan dapat tertawa atau minimal tersenyum simpul, karena penonton seolah dapat bercermin pada kisah yang diangkat. Misalnya tentang kekesalan Papi kepada Prasta karena burung kenari dan ayam kate peliharaannya tidak sengaja mati dan lepas oleh Prasta di epidose “Macan” dan “Cobra dan Singa”. Atau usaha-usaha keras Prasta untuk mengambil hati Papi, tetapi sayangnya selalu gagal, seperti dalam episode “Keran Air”, “Ramalan Zodiac”, “Mesin Cuci”, “Belajar Golf”, dll. Konflik batin Kirana sebagai istri, yang lulusan S2 tetapi tidak berkarir dalam episode “Melamar Kerja”, “Miss Kirana” atau “Fashion Blogger”, namun dia tetap berusaha belajar dan selalu ingin menyenangkan Prasta, walaupun juga sering gagal seperti dalam episode “Masakan Kirana”, “Satu Rumah Dua Koki”, dll. Konflik batin Papi yang biasanya sibuk, tetapi terpaksa harus pensiun dini karena penyakitnya dalam episode “Gelang Kolesterol”, dan juga konflik batin Mami sebagai seorang ibu yang takut kehilangan anak tunggal yang sangat dicintainya dalam episode “Brosur Rumah”. Tak ketinggalan tentu konflik batin Prasta yang selalu salah di mata Papi, seperti dalam episode „Preman KW“, „Menantu Pemberani“, „Prasta Minder“atau „Mobil Antik“.

Selain itu, tentu saja kisah cinta Prasta dan Kirana menarik untuk dimunculkan, misalnya dalam episode “Flash Back”. Lalu masalah-masalah yang muncul dalam kehidupan mereka sebagai pasangan muda yang baru menikah juga menjadi sumber cerita yang menarik. Tema cemburu misalnya muncul dalam episode “Salah Paham”, “Masuk 86”, “Pria Idaman”, “Garage Sale”, “Personal Trainer”, “Kiriman Masa Lalu”, “Rahasia Baju Kenangan”, dll, sampai pada “konflik batin” pasangan muda yang belum juga memiliki anak seperti dalam „Ayo ke Posyandu“ dan “Cara Cepat Pengen Hamil”. Hal-hal kecil yang dalam kehidupan rumah tangga sering menjadi masalah disajikan dalam “Honeymoon Tertunda”, “Gara-gara Handphone”, “Liburan ke Bali”, “Mau Kerja Kok Repot”, “Gagal Nonton Bola”, dll. Selain itu, tema-tema yang sangat akrab dengan kehidupan perempuan seperti dalam “Diet”, “Penuaan Dini” atau “DVD Mami” atau kebalikannya hal-hal yang biasanya sangat disukai laki-laki, seperti “Bimasakti”, “Gamebox Idaman”, “Nobar”, dll. Tema-tema umum, terutama yang berkaitan dengan kesehatan, dimunculkan dengan segar dalam “Hidup Sehat”, “Cacar”, “Salah Obat”, “Demam Berdarah” atau “Sakit Gigi”.

Dari sisi tema, STN mengusung tema besar yang sangat tidak biasa sebagai benang merahnya, yaitu mengangkat konflik menantu laki-laki dan mertua laki-lakinya. Selain itu, jam tayang awal dari Senin sampai Jumat memungkinkan penulis cerita untuk menggali beragam tema sehari-hari yang tetap mengacu kepada benang merah kisah ini. Menariknya, STN dapat mengintegrasikan program acara lain di NET TV ke dalam ceritanya, seperti dalam “Berpacu dalam Melodi”, “Masuk 86” dan pada episode terakhir STN sore tadi “Mami Belajar Nyanyi”.

Dari sisi pemain, STN didukung oleh pemain-pemain kawakan yang sudah dikenal dan tidak diragukan lagi kemampuannya dalam dunia perfilman dan pertelevisian Indonesia. Ray Sahetapy sangat berhasil menghidupkan sosok Papi yang tegas, galak, posesif, percaya diri, tetapi juga jahil, suka iseng, manja, dan romantis. Nungki Kusumastuti adalah Mami yang lembut, sangat perhatian, penuh cinta, teliti, pandai memasak, tetapi sebenarnya sangat tegas dan galak. Pada akhirnya, rumah besar itu  sebenarnya dimotori oleh Mami, walaupun Papi adalah “Kepala Negara” nya. Tika Bravani juga berhasil menghidupkan sosok Kirana, anak tunggal kesayangan Mami –Papi, yang manja, kadang terlihat lugu dan polos, tetapi pintar dan sangat menyayangi serta setia pada Prasta, suaminya. Apapun akan dilakukannya untuk kebahagiaan Prasta, walaupun dia harus berbohong pada Papi. Dimas Aditya adalah sosok sentral dalam STN ini. Dia menjelma menjadi Prasta yang sering gugup, minder, tidak percaya diri, dan penakut –terutama bila berhadapan dengan Papi, tetapi tulus, penyayang, sekaligus jahil dan suka iseng. Wajah ganteng Dimas Aditya dan aktingnya sebagai Prasta yang penurut, tulus, dan penuh cinta, membuatnya langsung menjadi suami idaman para istri dan menantu idaman para mertua. Namun, tentu tidak di mata Papi.

Keempat pemain STN ini bermain sangat natural. Kedekatan dan keakraban mereka in frame tidak terasa dibuat-buat, mengalir alami begitu saja. Bahkan emosi marah, cemburu, atau pertengkaran pun muncul seolah-olah memang begitu adanya. Apalagi ekspresi cinta dan kasih sayang. Dengan demikian penonton dapat merasa, bahwa mereka sepertinya tidak sedang berakting, melainkan sedang memperlihatkan kisah kehidupan mereka sendiri di layar kaca. Celetukan-celetukan spontan dan lucu juga sering muncul dari Dimas Aditya dan Ray Sahetapy. Celetukan-celetukan itu menjadi lucu, karena mereka melakukannya dengan biasa saja, tidak dibuat-buat.

Para pemain STN bermain dengan hati sehingga menubuh kuat pada karakter-karakter yang mereka mainkan. Sehingga pada akhirnya penonton pun sulit untuk memisahkan Ray Sahetapy dari sosok Papi, Nungki Kusumastuti dari Mami, Tika Bravani dari Kirana, dan Dimas Aditya dari Prasta. Energi yang mereka mainkan in frame bisa sampai pada penonton. Sampai-sampai banyak komentar muncul dari penggemar STN di media sosial yang mengungkapkan bahwa mereka kasihan pada Prasta karena terus menerus dibully oleh Papi atau ikut terhanyut pada romantisme Kirana dan Prasta, dan sebagainya. Pertanyaan-pertanyaan yang sifatnya peduli seperti kapan Kirana dan Prasta punya anak, atau mengapa orang tuanya Prasta tidak dimunculkan, menunjukkan bahwa STN cukup berhasil menarik perhatian penontonnya. Penonton tidak sedang melihat suatu tayangan komedi situasi di televisi, tetapi mereka sedang “diputarkan” dan melihat kisah kehidupan mereka sendiri, hal-hal yang mereka rasakan, mereka alami atau yang mereka inginkan. Pengalaman, rasa, dan impian para penonton direfleksikan lewat tokoh-tokoh dan setiap episode STN. STN menyuguhkan realita rasa dan kehidupan.

Hal ini pula lah yang mungkin membuat saya juga akhirnya menjadi betah dan sangat intens mengikuti STN sampai episode terakhirnya sore tadi. Saya yang biasanya tidak pernah menonton TV, kalau menonton pun hanya sekilas-sekilas untuk update saja dan untuk kepentingan mengajar, ternyata merasa harus mengosongkan waktu untuk menonton STN di hari dan jam tayangnya. Saya bahkan dapat mengulang-ulang scene-scene yang menarik perhatian saya. Saya sampai hafal dialog apa muncul dalam episode apa dan detil serta alur ceritanya. Beberapa kali pula dialog dan tema-tema di STN saya angkat dan diskusikan dalam perkuliahan saya.

Namun, sebagai penonton yang selalu melihat tayangan dengan detil –kalau ini memang kebiasaan saya-, saya merasa bahwa secara kualitas teknis STN Season 1 lebih baik daripada Season 2. Di kedua Season memang tetap ditampilkan gambar-gambar yang sangat “DSLR”, dengan samaran dan fokus yang pas. Sudut-sudut pengambilan gambarnya juga cukup bagus. Season 1 lebih berkisar mengambil gambar di sudut ruang yang sempit, tetapi sangat fokus, sedangkan Season 2 lebih berani mengambil sudut yang lebar dan luas. Mengenai detil setting dan properti, STN Season 1 juga lebih baik dari Season 2. Bahkan jarum jam pun diperhatikan betul kesesuaiannya dengan konteks cerita yang muncul dalam scene. Demikian juga dengan tattoo yang dimiliki Dimas Aditya  diperhatikan betul agar tidak tampak, walaupun sesekali sempat sedikit terlihat pula. Season 2 agak lemah dalam hal ini. Misalnya beberapa kali Kirana dan Prasta terlihat tidak menggunakan cincin kawin mereka, yang dalam Season 1 selalu tidak pernah lepas dari jari manis tangan kanan mereka. Jarum jam pun demikian, sering tidak sesuai konteks cerita, misalnya Prasta yang akan berangkat kerja pagi-pagi, tapi jarum jam dinding menunjuk ke angka 4 dan di luar terang benderang. Belum lagi setting ruang kerja Prasta yang tiba-tiba berubah menjadi sangat “tidak jelas”. Setting kamar Papi dan Mami pun baru dimunculkan di episode terakhir. Behind the scenes, yang biasanya sangat menarik perhatian penonton, juga dihilangkan diganti dengan foto-foto pemain, yang pemilihan warnanya menurut saya agak sendu. Script STN Season 2 pun tampak lemah. Beberapa cerita bahkan mengalir hambar tanpa alur yang jelas. Sayang sekali.

Merefleksikan Mungkin

Kemarin malam tiba-tiba saya jadi memikirkan kata „mungkin“. Tiba-tiba? Tidak juga sih, dalam rangka kerja sebenarnya, tidak datang begitu saja. Iseng banget kalau pikiran itu muncul tiba-tiba, walaupun kadang terjadi juga, hehe.

Si „mungkin“ ini membuat saya penasaran karena sering sekali muncul, bahkan di beberapa bagian digunakan bersamaan dengan berbagai kata bermakna setara menjadi seperti ini: „mungkin nanti kalau coba“. Redundan, tetapi itu yang muncul di hadapan saya. Terjadi, nyata, ada rekamannya, hehe. Lalu saya langsung memaknai ujaran itu menjadi „tidak“. Saya juga „gregetan“ ketika kata „mungkin“ dipakai untuk menyatakan sesuatu yang sebenarnya sudah pasti. Duh, kenapa ngga pakai kata yang pasti-pasti saja sih?! Kenapa ujaran atau situasi yang sudah pasti direlatifkan lagi dengan kata „mungkin“, kan bikin bingung.

Namun, ternyata tampaknya hanya saya yang bingung, orang yang diajak bicara tampaknya tidak tuh. Percakapan berjalan mulus-mulus saja, secara verbal dan nonverbal terlihat sangat kooperatif, tidak ada „pertentangan“, aman-aman saja. Jadi, si „mungkin“ tidak berpengaruh apapun, kan? Bisa jadi, bisa juga tidak. Lihat, saya pun mulai merelatifkan kalimat saya sendiri, dengan mempertentangkan „ternyata“ dengan „tampaknya“ dan menggunakan „bisa jadi.“ Maunya saya apa sih?

Ini yang membuat saya semalaman sok berpikir jauh. Manusia toh bermain dengan kata, kalimat, bahasa, sengaja atau tidak sengaja. Dengan atau tanpa maksud, baik maksud yang disadari atau tidak disadari. Kata dipilih, kalimat dibuat. Indikatif disandingkan dengan konjunktif. Pernyataan dengan pertanyaan. Kepastian dengan ketidakpastian (jika tidak mau menyebutnya keraguan). Jangan salah, kata, kalimat dan bahasa yang dipilih juga bisa sangat politis. Politis dalam makna luas. Berhubungan dengan kuasa. Kuasa dalam makna luas pula. Siapa bisa, berhak dan memilih bicara, siapa yang lebih memilih atau terpaksa diam.

„Dan berbahagialah orang Indonesia karena kalian memiliki kata ‚mungkin‘“, demikian kata teman diskusi saya tadi siang. „Mungkin“ dalam konteks Indonesia adalah kata yang tidak mengandung penilaian baik atau buruk, benar atau salah. „Mungkin“ dapat membuka peluang besar dan luas untuk masuknya unsur-unsur lain di luar sesuatu yang dianggap pasti. “Mungkin” dapat menjadi penanda masa depan yang kita tidak pernah tahu akan seperti apa. “Mungkin” dapat mengandung makna penyerahan pada sesuatu atau seseorang yang dianggap lebih “berkuasa”. “Mungkin” dapat menjadi penanda kewaspadaan: melihat dulu situasi, melihat dulu waktu yang tepat, melihat dengan siapa saya berhadapan. Perlu bicara atau diam. Perlu dilanjutkan atau tidak.

Lihat, saya kembali merelatifkan kalimat-kalimat saya dengan menyandingkan kata „mungkin“ dengan kata-kata setara lainnya: kata-kata yang setara tidak pastinya, yang abstrak. Itu sengaja saya lakukan, karena saya ingin menegaskan (pun untuk diri saya sendiri) bahwa tidak ada yang pasti dalam hidup ini, selain kematian. Itupun waktunya entah. Namun, itu juga berarti bahwa dalam hidup ada banyak peluang, celah, pilihan, kemungkinan atau apapun lah namanya. “Kalau bukan yang ini, mungkin yang itu.”

Itu kalau mau diambil sisi positifnya ya. Terus terang, semakin ke sini saya tidak bisa lagi membedakan dengan jelas antara „penyangkalan“ dengan „mencoba berpikir positif“. Namun, kali ini saya ingin menyugesti diri saya dengan „mencoba berpikir positif“ tanpa mengenyampingkan „kemungkinan“ lain yang „mungkin“ muncul dari kata „mungkin“ ini. Apakah saya sudah terdengar sedikit positif? Tidak juga tampaknya, malah terdengar „skeptis“, haha. Jadi, bisa dilihat kan, jika sesuatu dilakukan dengan berlebihan, jika kata dipakai berlebihan, maka jadinya tidak sesuai dengan yang diinginkan, hehe.

Daripada semakin melantur, saya kembali ke sisi lain yang mungkin muncul dari kata „mungkin“. Dalam beberapa konteks, kata „mungkin“ dan kata-kata modalitas lainnya, justru sering digunakan untuk „meneguhkan“ dan atau „melanggengkan kuasa“ (ini istilah seorang sahabat saya), bahkan menurutnya „pasti itu terikat dengan budaya orang Indonesia yang tidak mau memberi kepastian, karena tidak ada kemampuan atau tidak mau bertanggung jawab atas statementnya.“ Hipotesis yang cukup menarik, jika dikaitkan dengan konteks dan situasi sosial politik di Indonesia bertahun-tahun belakangan ini. Tampaknya sahabat saya cukup skeptis melihat kondisi ini. Berbeda dengan teman diskusi saya tadi siang yang berusaha melihat bahwa kondisi „yang terlihat“ buruk di Indonesia juga sebenarnya terjadi di manapun, jika saja orang mau melihatnya dengan kritis dan tidak menganggap rumput tetangga terlihat lebih hijau dari rumput di rumah sendiri. Tidak menganggap yang satu lebih baik dari yang lainnya. Sama saja.

Lalu, di posisi mana saya berdiri? Saya tidak akan dan tidak dapat menjawab dengan jelas di mana posisi saya. Saya orang dalam yang saat ini berada di luar, yang bahkan ketika di dalam pun saya sering merasa „tidak ada di dalam“. Saya mengalami, tetapi saya juga mengamati. Saya dekat, tetapi saya juga berjarak. Namun, satu hal yang semakin ke sini semakin saya tahu pasti, saya mensyukuri kondisi ini, yang memungkinkan saya dapat membuat banyak pilihan, melihat dari banyak sisi untuk kemudian memutuskan di mana saya akan berdiri. Berada di tengah juga pilihan, bukan? Seperti tidak berpendapat juga adalah sebuah pilihan. Mungkin, saat ini itu yang saya lakukan. Tidak tahu nanti. Apapun mungkin. Semua mungkin. Bisa jadi, semua bisa jadi mungkin :)

Bayreuth, 170812

„Hallo!“ „Danke!“ dan teman-temannya

Dua bulan lalu seorang teman yang berkunjung ke Bayreuth memberi komentar, katanya saking kecilnya kota Bayreuth sampai saya kenal dengan semua orang, begitu juga sebaliknya saya mengenal mereka: sopir taxi, sopir bis, resepsionis hotel, kasir di supermarket, orang yang bertemu di jalan, dll. Indikasinya adalah karena saking seringnya saya bilang „Hallo!“ kemudian berbincang dengan mereka. Sampai-sampai teman saya itu menjuluki saya sebagai „walikota“nya Bayreuth, karena katanya saya mengenal hampir semua orang.

Komentar teman saya itu tidak sepenuhnya salah dan tidak sepenuhnya benar juga. Memang sih, setiap saya pergi terutama ke kota, pasti saja bertemu dengan orang yang sama atau sering bertemu dengan orang-orang yang saya kenal. Maklum, kota ini memang kecil, hanya berpenduduk sekitar 80 ribu orang. Wajar lah ya kalau jadinya saya juga sering ber“hallo, hallo“ dan ngobrol sebentar dengan beberapa orang yang saya temu di jalan.

Namun, kata sapaan „hallo“ ini sebenarnya satu bentuk ritual sapaan yang wajar dilakukan di Jerman ini, selain kata sapaan lain seperti „Guten Tag“, „Tag“, „Gruß dich“, „Moin!“ atau „Gruß Gott“. Orang menyalami siapapun yang mereka temui di jalan, saat memasuki sebuah tempat, walaupun kita tidak mengenal orang-orang tersebut. Jadi jangan heran, saat masuk ke ruang tunggu praktek dokter orang menyapa „Hallo!“ atau „Tag!“ kepada orang-orang yang sedang menunggu, atau menyapa sopir bis dan kasir di supermarket dengan „Hallo“ atau „Gruß Gott!“, termasuk menyapa orang yang berpapasan di tangga atau di lift. Tak perlu kita mengenal orang tersebut, sapaan ini diucapkan sebagai sebagian kecil dari bentuk interaksi yang dalam konteks Luhmann berarti „merasakan“ keberadaan orang lain dan „menunjukkan“ keberadaan kita.

Kata sapaan ini sebenarnya hanya sebentuk ujaran verbal yang kecil saja, selebihnya kita lebih banyak menyadari keberadaan orang lain dan menunjukkan keberadaan kita dengan cara lain yang sifatnya nonverbal. Kadang –sering bahkan- kata sapaan ini diucapkan begitu saja, tanpa diiringi dengan prosodi dan intonasi yang „diharapkan“ mendukung „makna“ kata sapaan ini jika diujarkan, pun kadang tanpa ditunjang oleh mimik dan gestik yang „kebayangnya“ mengikuti kata sapaan ini. Jadi, jangan heran pula kalau kata sapaan „Hallo“ atau „Tag“ dan lain-lain tadi hanya diujarkan lurus saja tanpa ekspresi, bahkan kadang tanpa adanya kontak mata atau senyum. Jangan heran, ini „ritual“ yang kadang hanya dilakukan sekedar menjalani fungsinya sebagai „saling menyapa“, tetapi tanpa makna yang lebih dari itu. Idealnya tentu melaksanakan „ritual“ dengan menjalankan maknanya juga. Namun, manusia terlalu sibuk dan terburu-buru untuk itu, hehe.

Selain kata sapaan „Hallo!“ dan lain-lain di atas, kata terima kasih „Danke“ juga sering diucapkan kepada siapapun. Pola berpasangan „Hallo!“ – „Danke“ – „Auf Wiedersehen/Tschüß/Ciao“ sangat lazim ditemukan misalnya dalam situasi membayar di kasir supermarket atau „Hallo!“ – „Tschüß“ saat berada dalam satu lift dengan orang lain. Jadi, pertemuan dibuka dan ditutup dengan ujaran verbal. Jangan disinggung soal elemen-elemen nonverbal yang diharapkan menyertainya, ya. Jangan berharap lebih pula. Namun, pola berpasangan dalam ritual sapa-menyapa, berterima kasih dan berpisah ini saya rasa cukup menarik untuk disimak. Ini sifatnya kultural dan secara sosiologis akhirnya berakar kuat dalam pola interaksi masyarakatnya. Maka untuk orang yang datang dari latar belakang budaya dan sosiologi yang berbeda, yang memiliki ritual interaksi yang berbeda pula, hal-hal kecil semacam ini mungkin awalnya akan terasa asing. Begitu juga dengan mereka yang datang dari latar belakang budaya yang saling menyapa dengan verbal –tanpa dukungan unsur nonverbal- akan merasa asing saat berada dalam situasi interaksi dalam masyarakat yang berkonteks budaya tinggi, di mana unsur nonverbal mendapat tempat yang lebih dibandingkan unsur verbal. Misalnya menyapa „hanya“ dengan tersenyum atau menganggukkan kepala atau mengangkat tangan saja. Itu bentuk interaksi dan komunikasi juga, seperti kata Watzlawick: manusia tidak bisa tidak berkomunikasi.

Berada cukup lama dalam lingkup budaya yang lekat dengan situasi interaksi verbal seperti di Jerman ini, kadang membuat saya juga jadi ikut melakukannya di saat saya berada di dalam satu situasi budaya lain yang berbeda. Misalnya di Indonesia saya juga sering mengucapkan „Hallo“ kepada kasir di supermarket. Kalau ke sopir angkot atau sopir bis agak sulit, karena mereka kadang tetap menjalankan kendaraannya saat saya naik. Reaksi yang saya dapat adalah pandangan heran, saat saya misalnya menyapa kasir super market atau pelayan restoran dengan salam “hallo”. “Terima kasih” juga sering saya ucapkan, sampai beberapa orang teman saya di Indonesia heran karena saya katanya sering sekali berterima kasih. Kebiasaan juga sih. Walaupun saya rasa ini kebiasaan yang bagus, karena bagi saya menyap dan berterima kasih ini mengandung makna yang sangat dalam: penghargaan.

Tanpa bermaksud membandingkan ritual interaksi di dalam satu budaya dengan budaya lainnya, saya hanya menyadari bahwa elemen-elemen verbal yang kecil ini pada saat berjumpa, berpisah, berterima kasih –yang kadang keluar begitu saja tanpa dipikirkan dan tanpa maksud khusus- jika ditunjang dengan elemen-elemen lainnya, apalagi jika dipahami benar maknanya, maka akan dapat membawa efek sosial dan psikologis yang besar. Terdengar seperti sedang berbicara tentang ritual keagamaan ya?! Hehe. Saya rasa tak ada bedanya. Kadang orang perlu mengujarkan sesuatu dulu kemudian melakukannya untuk akhirnya memahami nya atau memahami, melakukan dan mengujarkannya. Bebas saja lah, hehe.

Karena perbedaan dalam ritual interaksi tadi, maka tak heran akan ada pula “ruang kosong” dalam satu budaya, bahkan tidak ditemukan ujaran verbalnya, tetapi „ruang kosong“ ini „terisi“ di dalam budaya lainnya –lengkap dengan ujaran verbalnya-. Misalnya di Jerman ini saya “merindukan” kata “punten” dalam Bahasa Sunda yang artinya “permisi” saat saya melewati sekelompok manula yang sedang berjemur sore-sore di tepi danau. Padahal di Bandung, saya selalu berusaha menghindari kata ini, saking banyaknya orang yang bergerombol nongkrong di jalan yang saya lewati dan harus saya “punten”i yang ujung-ujungnya malah sering membuat saya marah karena komentar-komentar yang tidak saya harapkan menjadi jawaban dari kata “punten” tersebut. Namun, dalam satu proses interaksi, apa yang dujarkan bisa dipahami dan direaksikan berbeda, bukan?

Perubahan yang saya rasakan juga terjadi pada proses berujar saya adalah berkurangnya intensitas penggunaan kata “maaf” untuk “permohonan maaf” yang sebenar-benarnya permohonan maaf, bukan yang bermakna „permisi“. Entah, saya jadi irit betul menggunakan kata ini, bahkan cenderung “takut” kalau kata ini sampai akhirnya harus keluar dari mulut saya. Mengapa? Karena jika kata ini terucap biasanya itu diiringi dengan perasaan yang amat sangat tidak enak dan menyesal berkepanjangan dari diri saya pada orang yang saya mintai maaf. Oleh karena itu, sebisa mungkin saya berusaha untuk tidak melakukan apapun atau berkata apapun yang mengakibatkan kata ini harus keluar dari mulut saya. Saya merasa lebih nyaman jika saya ber”terima kasih” lebih banyak daripada sedikit-sedikit minta “maaf”, tapi sedetik kemudian lupa dan melakukan kesalahan yang sama (bahkan lebih parah) sehingga kata „maaf“ hanya jadi sekedar “pemutihan” saja, habis perkara, nanti beda lagi urusannya. Malah mungkin kalau bisa saya lebih suka menggunakan ujaran untuk pemberian maaf. Namun, sampai sekarang, di dalam bahasa-bahasa yang saya pelajari, belum saya temukan satu ujaran khusus –satu kata saja- yang mewakili tindak „pemberian maaf“ ini. Apakah mungkin karena memberi maaf lebih sulit dibandingkan meminta maaf ya?! Atau mungkin ada yang tahu kata yang mewakili tindakan ini?

Sebuah Pengakuan Terlambat dari Seorang Penggemar Peterpan

Bild

Ya, tampaknya saya memang sedang ikut „termakan“ oleh eforia bebasnya sang vokalis. Tak apalah, toh sekarang saya memang akhirnya ingin mengaku bahwa saya adalah salah seorang penggemar sosok yang begitu dihebohkan dan terutama saya adalah penggemar musik Peterpan, yang kebetulan kebanyakan dibuat oleh sosok yang katanya fenomenal ini. Saya penggemar baru, baru sekitar setahunan ini dan saya berani bertaruh bahwa banyak yang menyukai Peterpan dengan sembunyi-sembunyi, seperti saya dulu.

Mengapa saya kok bisa terlambat begini? Karena saat Peterpan muncul sekitar 2004, saya sedang di Jerman. Saat itu youtube belum terlalu booming, begitu juga media sosial yang membuat saya bisa selalu terupdate dengan berita-berita baru. Akhir tahun 2004 saya mudik sebentar, di Indonesia sedang terkenal lagu „Mimpi yang Sempurna“ milik Peterpan. Siapa sih? Lagu apa sih kok gitu? Lagunya Peterpan, kata adik saya. Lagunya enak lho, katanya. Ih, lagu begitu saja enak, cibir saya saat itu. Penyanyinya ganteng, kata adik saya lagi. Yang begitu ganteng? cibir saya lagi melihat sosok di video klip dengan rambut lurus agak gondrong dengan potongan ngga jelas. Eh, keyboardisnya temen saya, kata adik saya lagi. Adik kelas saya waktu SD memang, saya tahu. So? Pokoknya saya tidak suka. Saat itu saya lebih senang mendengarkan lagu-lagunya Kla Project, Padi, Dewa, Java Jive dan tentu saja masih setia mendengarkan lagu-lagunya Chrisye dan Iwan Fals (ketahuan kan saya angkatan berapa, hehe).

Saya tidak mendengarkan Peterpan lebih jauh, keburu balik lagi ke Jerman. Saat balik lagi itu saya dibelikan CD berisi MP3 lagu-lagu Indonesia dan lagu barat (bajakan tentu saja, maaf) oleh adik saya, dan salah satunya ada album bajakannya Peterpan „Taman Langit“ (maaf yaaaa…). Itu pun tidak pernah saya dengarkan. Sampai pada tahun 2005, salah seorang mahasiswa saya yang baru pulang dari kuliah praktek di Indonesia selama 6 bulan bercerita bahwa dia suka lagu-lagu Peterpan. Aduh, Peterpan lagi. Siapa sih mereka? Murid saya itu sampai membeli CD album Peterpan „Bintang di Surga“ dan dia meng-copy-nya untuk saya (maaf lagi). Dia mempromosikan benar album itu, terutama lagu „Ada apa denganmu“. Saya kemudian dengarkan albumnya. Hmm, dari sekitar 10 lagu kok saya cuma suka 2, haha. „Ada apa denganmu“ begitu saja, tidak terlalu menarik. Lagu dan lirik yang aneh. Namun, saya langsung suka „Bintang di Surga“, mungkin karena ada unsur orkestranya jadi terdengar megah. Saya memang sedang suka musik klasik saat itu. Suara Ariel mulai menarik perhatian saya. Enak juga. Kemudian lagu „Mungkin nanti“ yang kata salah seorang teman saya saat itu liriknya membuat dia „kasuat-suat“. Buat saya sih biasa saja. Namun, oke lah. Ya, tiga lagu itu saja yang saya dengarkan.  Ternyata, ada salah seorang lagi murid saya yang baru datang dari Indonesia pulang ke Jerman dengan membawa 1 CD Peterpan “Bintang di Surga” dengan cerita yang sama: “Ada apa denganmu“ harus saya dengarkan. Ah, ada apa sih denganmu, Peterpan. Sampai-sampai murid saya itu minta tolong kepada saya untuk menerjemahkan lirik „Ada apa denganmu“ ke Bahasa Jerman saking sukanya dia pada lagu itu. Hoalah, macam-macam saja. Jadilah saya terjemahkan lirik yang tampaknya mudah, ternyata sulit juga saat diterjemahkan. „Tuduhan“ saya saat itu: si Ariel sok puitis, padahal liriknya hanya berisi soal pacar yang marah. Bahasa Indonesianya juga aneh. Diterjemahkan ke dalam Bahasa Jerman jadi lebih aneh.

Waktu berlalu, cuma „Bintang di Surga“ yang sering saya dengarkan dengan volume kencang. Liriknya cinta-cintaan sih, biasa, ditinggal pacar, kontekstual sekali, hehe. Tapi Ariel membuatnya dengan „sok puitis“ sehingga tidak terdengar cengeng. Lumayan, walaupun saya tetap tidak mengakui bahwa dia oke, hehe. Namun, saya mulai suka dengan gaya menyanyi dan teriakan dia di bagian refrain.

Peterpan kemudian berlalu begitu saja, sampai saat saya pulang ke Indonesia tahun 2006. Saya mendengarkan saja cerita kolega saya yang heboh soal Ariel yang ganteng, sexy, dll. Duh, yang begitu ganteng dan sexy? Saat itu setahun setelah munculnya album „Menunggu Pagi“ yang menjadi OST film „Alexandria“. Ah, film apa pula itu. Terus terang film itu juga baru saya lihat beberapa bulan lalu di Jerman, itupun lewat youtube, hehe. Saya tetap tidak (mau) mengenal Peterpan. Lagipula saya tidak suka menonton TV jadi tidak tahu pula gossip-gossip heboh terutama tentang sang vokalis, saya hanya mendengar sekilas saya dari kolega-kolega saya yang heboh bercerita. Saya tidak peduli.

Kemudian tahun 2007 saya ingat pertama kalinya saya mendengar lagu baru Peterpan „Menghapus Jejakmu“ dari album „Hari yang Cerah“ di sebuah gerai pizza di Bandung, sambil makan dengan kolega-kolega saya. Salah seorang kolega sekaligus sahabat saya yang selalu heboh „menggunjingkan“ Ariel komentar, „Ah, lagu ini lagi, Peterpan lagi, bosan.“ Saya baru tahu lagu itu, dia malah sudah bosan dan kesal sekali lagu Peterpan terus yang diputar. Saat itu Peterpan sedang heboh lagi, maaf, Ariel maksud saya, yang bikin heboh lagi dunia perselebritisan Indonesia dengan kasusnya. Kemana saja ya saya? Ada, hehe.

Lagu “Menghapus jejakmu” lumayan ear catching, saya cukup suka. “Terus melangkah melupakanmu, lelah hati perhatikan sikapmu…” Lagu patah hati (lagi), tapi musiknya ceria. Lumayan ringan dan enak didengar. Suatu saat saya lihat video clipnya, cukup unik konsepnya. Akhir 2007, di Malaysia, entah bagaimana tiba-tiba obrolan saya dan ex teman dekat saya jadi membahas lagu dan lirik Peterpan. Ternyata si ex suka dengan lirik dan lagu-lagu Peterpan. Saya yang memang tidak tahu Peterpan cuma mengejek “dari Padi pindah ke Peterpan?” karena dia pernah mengklaim sebagai penggemar Padi. “Kalau ‘Sally sendiri’ bolehlah, musiknya oke”, kata saya.  Sebelumnya saya pernah mendengarkan lagu “Sally sendiri” juga dari album “Hari yang Cerah” dan saya suka. Dua lagu itu menurut saya agak berbeda dari lagu-lagu Peterpan yang sebelumnya saya dengar. Musiknya lebih tenang dan lebih dominan gitar dan drumnya, bukan musik-musik “remaja”, lagipula suara Ariel tidak “cempreng” lagi. Si ex membela diri dengan argumen-argumen psikologinya sok membahas lirik lagu-lagu Ariel. Saya tidak peduli, pokoknya saya tidak suka Peterpan, hehe. Apalagi salah satu lagunya “Aku dan Bintang” dijadikan soundtrack sebuah sinetron stripping di TV dan saya benci sinetron. Makinlah saya tidak suka.

Suatu saat seorang sahabat saya misuh-misuh “Memangnya kenapa sih kalau saya suka Peterpan?” karena dia diolok-olok oleh koleganya tentang kesukaannya pada lagu-lagu Peterpan. Saya yang juga tidak suka pada musik mainstream kegemarannya para ABG itu hanya senyum-senyum saja, takut sahabat saya makin ngambek kalau saya bilang saya juga tidak suka Peterpan, hehe. Begitulah. Sampai kemudian suatu saat sedang karaoke, salah seorang sahabat memilih lagu “Kupu-kupu malam” versi Peterpan. Enak juga. Eh, tapi itu kan memang lagu lama dan enak, jadi ya wajar saja kan kalau enak.
Judulnya saya tetap tidak mau mengakui keberadaan Peterpan, hehe. Padahal saat itu saya mulai sering mengikuti infotainment dan beberapa kali menonton penampilan mereka di TV, baik itu konsernya atau acara yang khusus dibuat untuk mereka. Mulai mengikuti. Mulai tahu siapa saja nama personilnya dan berita-berita heboh terutama seputar Ariel. Namun, saya tetap biasa-biasa saja, walaupun saya suka lagu „Menunggumu“ yang dinyanyikan duet oleh Ariel dengan Chrisye. Itu karena ada Chrisye ya, bukan karena Ariel, sosok yang membuat seorang sahabat saya histeris saat melihatnya di sebuah restoran di Bandung datang bersama Luna Maya saat kami selesai buka puasa. Sahabat saya yang saat itu sedang curhat sambil berurai air mata mendadak cerah ceria dan panik karena kedatangan mereka berdua „Ariel! Ariel! Ariel!“ katanya panik. Halaaah, langsung deh curhatnya buyar terpesona oleh sosok yang saat itu menggunakan jeans, t-shirt, topi dan sneakers andalannya. Saya masih biasa-biasa saja.

Itu tahun 2009. Tahun sebelumnya album „Sebuah Nama Sebuah Cerita“ diluncurkan. Album the best Peterpan sebenarnya, ditambah lagu baru: „Walau Habis Terang“, „Tak Ada yang Abadi“, „Dilema Besar“ dan covering lagu Chrisye „Kisah Cintaku“. Saya menyukai keempatnya. „Walau Habis Terang“ juga lagu patah hati, tapi beatnya ceria. Kelak lagu ini menjadi salah satu lagu favorit saya saat jalan-jalan atau jogging di hutan. Lagu ini juga disenangi oleh salah seorang murid saya di Jerman ini, dan lagi-lagi saya diminta menerjemahkannya ke dalam Bahasa Jerman. Kemudian „Tak Ada yang Abadi“ lagunya cukup gelap, efeknya agak misterius, apalagi dengan dominasi piano dan lirik yang lebih dewasa. Masih puitis, tapi bukan puitis yang aneh lagi. Ada cerita, ada pesan. Saya mulai agak sering menyimak Peterpan. Lumayan juga.

Tahun 2010 adalah tahun yang paling heboh untuk Ariel terutama. Saya kebetulan sedang mudik juga ke Indonesia saat kasus itu terjadi, tapi saya tidak peduli. Saya sibuk dengan urusan saya sendiri, mana sempat nonton infotainment. Kembali lagi ke Jerman, kasus itu ternyata semakin heboh. Akses internet yang tidak terbatas memungkinkan saya untuk jadi mengikuti beritanya juga walaupun jauh di Indonesia, toh berita itu ada juga di media Jerman saking hebohnya. Ah Ariel, Ariel. Dari situlah saya mulai iseng browsing video lagu-lagu Peterpan. Tahun 2011 sih tepatnya. Eh, kok „Cobalah Mengerti“ enak ya, ngerock begitu dan sekali lagi teriakan Ariel itu lama-lama terdengar „gahar“, hehe. „Yang Terdalam“ asik juga ya, „Semua Tentang Kita“ kok mewakili perasaan saya saat rindu teman-teman, „Topeng“ seru juga nih, „Tak bisakah“ bisa membuat kepala goyang-goyang (pantas saja sampai dijiplak oleh penyanyi India dan jadi lagu India), „2DSD“ seru nih apalagi pas lihat mereka memainkannya dengan Kang Capunk (kecengan saya dari SMA, haha) dan Kang Noey Java Jive, dan ternyata „Mimpi yang Sempurna“ yang dulu saya ejek-ejek enak didengar dan liriknya oke. Belum lagi „Kukatakan dengan Indah“, „Melawan Dunia“, „Di Balik Awan“, dll. Sejak itulah saya diam-diam menyukai lagu-lagu Peterpan. Bukan Arielnya. Sosok Ariel baru saya perhatikan setelah dia divonis dan saya tulis di sini. Lama-lama diperhatikan dan mengikuti berita-beritanya, memang menarik juga orang ini, hehehe. Sejak itu diam-diam saya juga menjadi penggemar-nya Ariel. Dia sosok yang punya pengaruh kuat, sampai teman-temannya saja begitu mendengarkan dia. „Juragan“ kalau kata si Kang Capunk sih.

Lagu-lagu Peterpan kemudian menjadi teman setia saya saat menulis disertasi, selain lagu-lagu Pearl Jam, Sting, Alanis dan tentu saja Chrisye serta lagu-lagu dan musik-musik lain yang sesukanya saya putar, tergantung mood. Dari mulai klasik sampai dangdut, dari mulai lagu berbahasa Inggris sampai lagu India, dari lagu Batak sampai Papua, dari mulai lagu solo, duet, choir sampai instrumental. Lagu-lagu dan musik dari Peterpan selalu ada setiap hari. Berita tentang mereka dan tentang Ariel, terutama belakangan ini, jadi semakin diikuti bahkan dibahas sambil ketawa-ketawa dengan sahabat-sahabat saya dan akhirnya membuahkan ide gila memasang foto Ariel sebagai avatar account twitter kami. Ceritanya mau jadi groupies, tapi tengsin juga, haha. Coba, sejak kapan saya bisa tergila-gila pada seorang penyanyi atau kelompok band sampai segitunya. Sebagai penggemar berat Pearl Jam dan Eddie Vedder saja tidak saya pasang fotonya. Pearl Jam dan Peterpan memang tak bisa dibandingkan, selain bahwa saya menyukai keduanya dengan alasan lagu, lirik dan suara serta penampilan vokalisnya. Yang terakhir ini tak terelakkan lah, hehe. Saya jadi mengerti mengapa para perempuan itu begitu histeris begitu melihat Ariel, yang juga menarik perhatian para lelaki, “Suami gue aja suka”, kata seorang sahabat.

Kesukaan saya pada Peterpan semakin bertambah dengan keluarnya lagu “Dara” yang diciptakan Ariel di penjara. Sebuah lagu sederhana dengan lirik yang dalam. Saya pernah merasa sangat terhibur mendengar lagu ini saat sedang down. Kemudian album instrumental „Suara Lainnya“ menambah kekaguman saya pada mereka. Ini bukan Peterpan, dan cocok karena mereka memang akan ganti nama. Aransemen ulang dari lagu-lagu mereka benar-benar top. Orkestrasi yang megah di lagu „Di Atas Normal“, „Bintang di Surga“, „Melawan Dunia“,  instrumen karinding dan suling Sunda memberi efek misterius dan magis di lagu „Sahabat“, saluang yang menyayat hati di „Di belakangku“, biola yang semakin menyayat hati ditingkahi permainan pianonya David di „Taman Langit“ dan „Kota Mati“, serta bossanova yang benar-benar soothing dan relaxing di „Walau Habis Terang“ dan „Langit Tak Mendengar“. „Cobalah Mengerti“ dibuat slow dan dinyanyikan oleh Momo Geisha. Bagus sih, tapi untuk saya terlalu menghiba. Saya tetap lebih suka versi Ariel yang „gahar“ dan „cowok sekali“. „Dara“ pun dimasukkan ke dalam album ini. Memberi efek menenangkan dan menghibur hati.

Dan eforia kebebasan Ariel ternyata sampai juga ke Jerman, diiringi rasa kagum pada perjalanan, jatuh bangun dan kekompakan band ini, pada musikalitas mereka yang semakin matang, lirik yang masih puitis tapi tidak “sok rumit” lagi, seperti pada “Separuh Aku” lagu baru mereka dari album yang belum keluar tapi sudah bocor di youtube, pada semua personelnya yang sederhana dan „manusiawi“, tentu saja pada Ariel yang tetap jadi magnet utama –lepas dari berita apapun tentang dia, saya kemarin melihat mata yang lelah dan kosong di sana, sangat „manusiawi“. Ah ya, selain Ariel, saya punya „kecengan“ baru di Peterpan: David, sang keyboardist dan pianist, hehe. Masuknya David yang punya latar belakang piano klasik membawa warna baru untuk musik Peterpan sehingga tidak terlalu nge-pop lagi. Album „Suara Lainnya“ boleh dibilang albumnya David. Kuat sekali dia di sana. Selain memang dia jago main keyboard dan piano (dan juga gitar), gaya mainnya itu lucu menurut saya: sampai merem-merem. Menghayati sekali. Tampangnya yang lucu jadi terlihat makin lucu saat main, hehe.

Jadi lengkap sudah alasan mengapa saya kemudian berani mengakui bahwa saya adalah penggemar Peterpan. Walaupun terlambat tahu, tapi boleh diuji  soal cerita, lagu-lagu mereka dari album pertama sampai terbaru, termasuk gossip-gossip mereka, hehehe. Tidak kalah juga pengetahuannya dengan para remaja yang histeris setiap melihat mereka manggung, terutama melihat Ariel. Hanya saja saya belum jadi penggemar yang baik karena saya belum memiliki satupun CD album-album mereka, hehehe, aneh ya. Soalnya selama ini saya hanya mendengar dari youtube saja dan sekarang dari website resmi mereka yang untungnya bermurah hati memasang lagu-lagu mereka dari awal sampai yang terbaru. Nanti deh kalau pulang ke Indonesia saya beli semua CDnya. Lalu impian saya sebagai penggemar mereka (kalau groupies sih tidak lah ya) tentu saja melihat mereka konser secara langsung. Masa nonton konser Sting dan Coldplay sudah, konser Peterpan belum sih, hehe. Namun, saya tidak menyesali keterlambatan saya menjadi penggemar mereka, karena saat ini saya justru bisa melihat banyak sisi lain dari band yang bagus ini: kekompakan, setia kawan, kesederhanaan, konsistensi dan mau terus belajar.

Sehari di Kota Wagner – Sebuah Catatan untuk Sebuah Mimpi

Tujuh tahun lalu, juga di bulan Juni, saya pernah iseng menulis di buku tamu sebuah blog menarik dan inspiratif dengan diakhiri kalimat “Salam dari Bayreuth”. Tidak disangka, sang pemilik blog membalas keisengan saya dengan sebuah email balasan berisi permintaan agar saya menulis tentang sehari di kota Wagner, Bayreuth. Permintaan itu diiringi dengan kata “pliizz….”. Permintaan yang kemudian tidak bisa saya tolak dan akhirnya saya tuliskan cerita saya dengan panjang lebar. Ternyata tulisan saya dipasang di blognya yang inspiratif tersebut, digabungkan dengan tulisan-tulisan lain yang jauh lebih berbobot di kolom Wagner. Merasa terhormat juga tulisan saya dimasukkan ke blog seorang blogger senior dan banyak penggemarnya itu :)

Dan tujuh tahun kemudian, juga di bulan Juni, si pemilik blog, yang pernah bertanya bagaimana rasanya tinggal di kota Wagner dan pernah meminta saya menulis tentang sehari di Bayreuth, akhirnya berkunjung juga ke Bayreuth dan berkesempatan mengalami sendiri bagaimana rasanya sehari berada di kota Wagner. Bagaimana rasanya? Harus ditanyakan sendiri kepada yang mengalaminya. Yang jelas hari itu sang pencinta Wagner tidak dapat masuk ke Haus Wahnfried dan Festspielhaus untuk merasakan aura ke-Wagner-an di kedua tempat itu, karena sayangnya kedua tempat itu ditutup untuk sementara waktu. Namun, mudah-mudahan aura ke-Wagner-an di Bayreuth cukup terwakili dengan dingin, mendung dan hujan yang menyambutnya di Bayreuth, dengan Fachwerkhaus tempatnya menginap, dengan halaman dan kebun Haus Wahnfried yang sudah lama tak terawat karena sedang dalam proses renovasi, dengan rumah yang untuk saya juga terasa agak menyeramkan di malam hari, dengan makam yang hanya berbatu granit hitam tanpa tulisan apapun, dengan Hofgarten, dengan Opernhaus yang menjadi alasan mengapa Wagner kemudian memutuskan untuk menemukan damai bagi “kegilaan”nya di kota kecil ini, dengan istana rokoko milik Wilhelmine, dengan jalan-jalan berbatu di Bayreuth, dengan gedung Festspielhaus berbatu bata merah di atas bukit kota Bayreuth, dengan patung kepala Wagner yang sedang mengerutkan kening dan menatap serius taman di depannya, dan dengan tupai mungil warna coklat kemerahan yang akhirnya berhasil ditemukan juga dan dengan senyum kebanyakan orang yang ditemui.

Lalu, seperti yang pernah saya tulis di tulisan saya untuknya dulu, bahwa satu hari di Bayreuth untuk saya berisi ingatan saya tentang masa lalu, hidup saya saat ini dan harapan saya tentang nanti, maka itu juga yang saya rasakan kemarin. Satu hari di Bayreuth mengingatkan saya pada pertanyaan retoris tujuh tahun lalu: “Gimana ya rasanya tinggal di kota Wagner?” dan “Kapan ya bisa ke sana?”, kemudian membawa pada saat ini, saat di mana pertanyaan itu terjawab dengan kenyataan bahwa saya bisa menunjukkan kepada orang yang bertanya itu: inilah rasanya dan ikutlah merasakan, karena rasa tidak bisa diwakili dan diceritakan. Rasa haruslah dirasakan sendiri. Termasuk juga merasakan mencuci dengan menggunakan koin di asrama mahasiswa :) Dan satu hari itu juga membawa harapan tentang nanti, terutama membawa kesadaran bahwa hidup memang harus tetap mempunyai harapan dan mimpi. Menekuninya akan membawa harap dan mimpi itu kembali kepada kita. Toh hidup juga berputar di situ-situ saja. Tak pernah jauh. Kemarin adalah ingatan dari hari ini dan esok adalahnya mimpinya. Dan semua itu adalah sesuatu yang niscaya, walaupun kadang masih selalu terasa ajaib untuk saya :)

 

Praha

Kali kedua ke Praha, tak menemui Kafka, tapi Smetana, di tepi Vltava. 8 tahun lalu ruang dibuka oleh Kafka yang merindu rumah. 8 tahun kemudian iringan Smetana memenuhi jiwa. Dan Praha tetap menjadi ensemble klasik, paduan harmonis budaya dan manusianya. Kafka dan Smetana di tepian Vltava, yang membelah Praha. (Bayreuth, November 2003 – Bayreuth, November 2011)

(Belajar) Puasa

Bulan Ramadhan di Jerman biasanya bulan saya mendadak „beken“. Bukan karena apa-apa, tetapi karena banyak orang yang bertanya tentang puasa, dari mulai pertanyaan yang murni karena tidak tahu dan ingin tahu seperti mengapa puasa, bagaimana menjalankannya, bagaimana kalau tidak kuat, dll sampai ke pertanyaan yang jawabannya kadang mereka sudah punya sendiri, misalnya puasa itu tidak bagus untuk kesehatan karena tubuh tidak mendapatkan nutrisi dan cairan sepanjang puasa, sampai ke masalah penyiksaan badan. Saya bukan pakar di bidang agama, belum cukup sholeh dan pintar dalam mengutip ayat-ayat dan hadist lengkap dengan istilah dalam bahasa Arab, jadi saya jawab pertanyaan-pertanyaan itu semampu logika dan pemahaman saya.  Kalau mood sedang bagus, biasanya saya jawab dengan „bagus“ juga, tapi kalau mood sedang jelek ya tidak saya jawab juga, atau saya jawab pendek agak jutek. Ya, ya, ini penyakit saya. Namun, saya jarang kok menjawab seperti itu, kan sedang puasa, masa jutek sama orang lain sih. Paling saya buat jadi candaan saja. Atau saya sudah „mengancam“ duluan dengan bilang: bosan pertanyaannya begitu  terus, sepertinya saya harus merekam jawaban saya karena dari tahun ke tahun pertanyaannya tidak kreatif, itu terus, jawaban saya juga jadinya tidak kreatif. :)

Jadi, tahun ini kalau dihitung sudah 7 kali saya puasa di Jerman, walau tak berurutan. Pertama kalinya di tahun 1997. Saat itu tak terasa kalau mau dilihat puasa sebagai saat menahan lapar dan haus, karena musim dingin, siang jauh lebih pendek. Matahari baru terbit jam 7.30an dan terbenam jam 16.30an. Lagipula saat itu saya kerja sampai jam 15. Selesai kerja, siap-siap bentar, maghrib deh. Begitu juga tahun-tahun berikutnya, saya masih kebagian puasa di musim dingin. Tahun lalu baru saya „kena“ puasa di musim panas, dan tahun ini juga. Puasa yang „menakutkan“ karena siang yang panjang. Imsak jam 2.30an dan buka jam 21 bahkan 21.30an. Terus terang, awalnya juga saya „takut“ membayangkan apakah saya kuat menahan lapar dan haus selama itu. Selama di Jerman, saat „membayar“ puasa pun biasanya saya lakukan segera saat musim dingin, takut siang keburu panjang. :)

Namun, bicara ketakutan, rasanya saya memang penakut. Dulu pun sempat takut saat pertama kali akan menjalani puasa di Jerman, saat musim dingin. Takut tidak kuat lah karena harus berpuasa pada suhu di bawah nol, takut ngiler lihat makanan ini itu, takut semua.  Perlukah? Ternyata tidak, karena setelah dijalani ternyata puasa ya biasa-biasa saja. Lapar memang, haus memang, tapi rasanya saya malah sering merasa kelaparan dan kehausan berat saat tidak berpuasa. Ah, sugesti saja. Mungkin. Karena otak „memanipulasi“ perut untuk tidak terlalu merasa lapar dan haus. Tergantung niat, kata orang-orang yang mengerti agama. Dan puasa di musim panas, yang tadinya saya bayangkan akan terasa sangat panjang,lama, pokoknya menakutkan, ternyata tidak semenakutkan itu. Entah kenapa juga, dua kali puasa saat musim panas, suhu dan cuacanya juga cukup mendukung untuk tidak merasa terlalu kehausan dan kelaparan.

Itu kalau masalah lapar dan haus. Bagaimana dengan godaan lainnya? Melihat orang bebas makan dan minum di mana-mana? Ternyata tidak berpengaruh juga. Puasa jalan terus. Ngiler? Yah, sedikit, tapi bisa tahan lah. Godaan lainnya? Lihat yang telanjang di sana sini termasuk melakukan „adegan panas“? Lama-lama biasa juga, lagipula tidak harus ikutan bernafsu :). Untuk saya yang paling sulit ditahan itu jutsru nafsu belanja dan urusan mengantuk yang tiada tara. Selain tentu saja nafsu mau marah kalau ada hal-hal yang tidak berkenan di hati. Atau nafsu bergossip. Hmm, banyak juga ya? Hehe.

Khusus untuk puasa di musim panas ini, saya baru sadar bahwa mengantuk adalah godaan terbesar saya. Saya yang makhluk nocturnal biasanya tahan begadang sampai subuh dan tidur setelah subuh. Namun, di bulan puasa ini, segera setelah saya berbuka, mata pun langsung terasa dikenai beban seberat beberapa ton. Lebay. Tapi memang sulit sekali untuk bisa tetap membuka mata saat berbuka puasa dan menahan diri untuk tetap terjaga dan sadar bahkan di saat shalat maghrib. Biasanya saya sulit untuk beranjak ke tempat tidur (kalau sudah kena bantal sih saya memang selalu mudah tidur, tapi beranjak menuju tempat bantal itu berada yang sulit), kali ini di mana pun saya bisa jatuh tertidur.

Tadi sore saya diwawancara seorang sahabat untuk sebuah acara di sebuah radio di Jerman (ini wawancara serius walaupun sebelum dan sesudah wawancara acara ngobrol sana sininya lebih banyak), dia bertanya bagaimana cara saya mengatur waktu shalat saat puasa di musim panas ini. Saya terdiam sejenak, iya ya, ini yang sulit untuk saya. Subuh jam 3an, dhuhur jam 13an, ashar jam 17an, maghrib jam 20an dan isha jam 23an. Tarawihnya kapan? Ya pasti setelah isha dong. Bisa sampai jam 24 itu, kalau kebetulan sedang ikut tarawih di mesjid Arab (istilah untuk mesjid yang pengunjungnya kebanyakan dan dikelola orang Arab, bukan orang Turki, tapi orang Indonesia sih enak, bisa ke mesjid mana saja, dan diakui di mesjid mana saja. Tinggal pilih ingin yang cepat atau yang pendek, hehe. Eh, mesjid juga politis lho, walaupun seharusnya tidak  ;) ) yang imamnya sering membacakan surat-surat panjang dan tarawihnya sampai 21 bahkan 23 rakaat. Pulang ke rumah istirahat sebentar sudah siap-siap lagi untuk sahur. Nah lho, tidurnya kapan?

Ternyata untuk saya pertanyaannya jadi terbalik,  bukan lagi bagaimana saya mengatur waktu shalat jadinya, karena shalat ya jadwalnya sudah ditetapkan, dan ingin saya jalankan sesuai waktu. Namun, bagaimana saya mengatur waktu tidur saya. Karena di bulan puasa ini, biasanya saya juga suka mendadak jadi ingin lebih rajin melakukan ritual spiritual saya. Atau jangankan itu lah, untuk „urusan duniawi“ saja, di bulan puasa juga saya tetap harus bekerja dan menyelesaikan urusan ini itu yang seringkali harus dilakukan pagi-pagi jam 8 atau jam 9. Sehabis makan sahur dan buka saya tidak bisa langsung tidur juga, berbahaya untuk kesehatan (ini tentu berlaku untuk setelah jam-jam makan lainnya juga).  Jadi kapan saya tidur, jika saya baru bisa tidur sekitar jam 5 atau jam 6 pagi kemudian jam 8 atau jam 9 sudah berkegiatan sepanjang hari sampai sore, sementara waktu malam yang pendek juga tidak memungkinkan untuk tidur langsung sampai subuh, kecuali kalau mau tidak sahur. Namun, saya bukan tipe orang yang bisa puasa tanpa makan sahur atau dengan cukup minum air putih saja. Tepatnya lagi saya tidak mau, sadar diri saja, perut saya sudah cukup bermasalah, jadi tidak mau mengambil resiko sok kuat tidak pakai sahur, walaupun biasanya saat sahur pun saya masih cukup kenyang, karena jarak dari waktu berbuka ke sahur itu cukup pendek. Akhirnya, saya mencuri-curi waktu untuk tidur di antara waktu dhuhur dan ashar, atau di antara ashar dan maghrib atau di antara maghrib dan isha. Sejam dua jam saja. Tidak cukup kalau mau mengikuti keinginan, tapi daripada tidak tidur sama sekali, waktu ini sudah sangat berharga.

Jadi, masalah utama saya ternyata bukan di saat berpuasa siang hari, tapi justru di saat malam ketika sedang tidak berpuasa lagi. Itu kesulitan utama untuk saya, jika saya ditanya apa kesulitan puasa saat musim panas:  menyesuaikan waktu tidur. Dan makhluk nocturnal seperti saya pun ternyata menyerah juga pada godaan kantuk ini. Ujian terberat untuk saya ternyata bukan pada saat menahan lapar dan haus, menahan nafsu makan dan minum di siang hari, namun menahan kantuk, ya itu tadi, agar saya bisa tetap dalam keadaan sadar saat makan dan minum di waktu berbuka dan di saat shalat, agar saya tidak jatuh tertidur menelungkup di atas piring atau langsung nyenyak saat sujud di waktu shalat.

Ya, tentu saja, puasa bermakna lebih dari sekedar menahan lapar dan haus, begitu pelajaran yang saya ketahui dari orang-orang yang lebih mengerti agama. Puasa katanya juga bermakna pengendalian diri. Dan saya bersetuju dengan itu, sudah disebutkan di atas. Namun, puasa untuk saya juga adalah proses penyeimbangan, lahir dan batin, dengan menahan beberapa hal untuk melakukan beberapa hal lainnya. Dan proses ini, saya tahu, seharusnya tidak hanya terjadi di bulan puasa saja, tetapi –idealnya- di bulan-bulan yang lainnya juga. Tidak mudah, saya sering –dan hampir selalu- gagal.  Lebih dari itu semua, puasa untuk saya juga bermakna syukur. Tidak hanya pada kenikmatan mencecap teh hangat pertama setelah belasan jam tak minum, tapi juga pada kenikmatan bisa memejamkan mata di sela-sela proses penyeimbangan lahir dan batin tadi. Untuk ini, saya harus selalu diingatkan dan mengingatkan diri sendiri, karena saya masih sering juga lupa pada nikmatNya yang bertebaran dalam hidup saya. Termasuk nikmat jadi orang yang mendadak „beken“ di bulan puasa, karena saya pun jadi bisa bertanya lebih banyak pada diri sendiri dan lebih banyak belajar untuk mencari jawabannya. Semoga :)

Belajar Lagi dari Jepang

Dan saya belajar lagi dari sepak bola, bahwa perjuangan detik ke detik, menit ke menit itu bisa membuahkan hasil yang manis. Tidak menyerah, yang penting melakukan yang terbaik setiap saatnya. Mungkin hasilnya bisa seperti yang diinginkan, bisa juga tidak. Namun, itu masalah lain, yang penting adalah terus berusaha. Dan saya belajar dari perempuan yang bermain bola. Kecepatan lari mereka sama seperti laki-laki berlari. Tendangan mereka sama kuatnya. Tangkapan mereka sama akuratnya. Namun, kerapian dan ketenangan mereka layak diacungi jempol. Rapi, tenang, tak banyak tingkah, itu mereka. Dan saya belajar dari orang Jepang yang bermain bola. Mental Jepang yang sudah terkenal tak kenal menyerah selalu membuat kagum. Dan saya terutama belajar dari perempuan Jepang yang bermain bola. Postur boleh kalah tinggi dan besar dari pemain-pemarin Eropa, Amerika dan Afrika, lari boleh kalah cepat, tapi tendangan mereka tetap kuat dan tangkapan mereka tetap akurat, terutama lagi: semangat mereka bisa saya bilang: gila! Mental mereka kuat, tak lelah saat gawang mereka diserang bertubi-tubi, tak habis saat pemain lawan sudah di atas angin. Keadaan pun berbalik. Usaha keras membuahkan hasil. Ketenangan membawa bukti. Mainkan saja. Konsentrasi saja. Keberuntungan pun berpihak pada mereka yang berusaha kuat dan bertahan dari serangan. Pada mereka yang tekun dan sabar.

Saya belajar lagi dari sepakbola, dari perempuan yang bermain bola, dari orang Jepang, dan dari perempuan Jepang yang bermain bola. Mereka yang masih bisa bersikap tenang tanpa eforia berlebihan saat kemenangan besar mereka genggam. Tak mengecilkan yang kalah. Kalah atau menang, pada akhirnya itu „cuma“ hasil akhir, yang „hanya“ terlihat dari warna medali dan digenggamnya piala. Sejatinya, kalah dan menang ada pada diri dan kebesaran hati.

*Salut pada dua tim hebat: Jepang dan Amerika yang sudah memberikan permainan yang luar biasa. Dua-duanya tim yang hebat. Aber am Ende, man braucht auch Glück, statt nur klug zu sein. Gratuliere Japan, die erste Weltmeisterin aus Asien!

Surprising Turkey #9

Kejutan 9: „Your child?!“ – Goodbye Aegean Turkey!
Yup, hari ini kembali ke Jerman. Malas tidak malas, harus kembali, hehe. Setelah memastikan urusan penjemputan dari hotel ke bandara Dalaman, sarapan pagi dengan santai, masih sempat makan siang juga, kami akhirnya “menggelandang” di Turunc, karena sudah harus check out dari hotel, sementara kami baru akan dijemput jam 17. Untung barang masih bisa dititipkan di hotel. Jalan-jalan di seputaran Turunc, saya masih sempat membeli taplak meja khas Turki untuk ibu saya. Kemudian kami duduk-duduk saja di tea garden tepi pantai, menikmati cay dan semilir angin pantai. Setelah itu jalan-jalan lagi, eh….ternyata ada penjual dondurma dekat situ. Lha kok baru ketahuan, hehe. Cuma karena kami malas menukar uang lagi dan harganya juga mahal, 12 TL (bandingkan dengan dondurma seharaga 5 TL sebelumnya). Jadi kami ngga beli deh, hehe (rada pelit, hehehe).

Jam 17 kami dijemput shuttle bus dari 1&2 fly tour. Hujan deras sekali di luar selama perjalanan dari Turunc  ke Dalaman melewati Marmaris lagi. Harus kembali ke Jerman, hehe.

Sampai bandara Dalaman, antrian di check in counter ke Düsseldorf sudah cukup panjang, tapi semua berjalan lancar. Ada kejadian lucu saat akan diperiksa imigrasi, saya mengantri di depan Lola. Saat giliran saya tiba, petugas imigrasi menyuruh saya memanggil Lola supaya ikut saja sekalian diperiksa, dia bilang, “Your child” sambil member isyarat dengan tangan menyuruh saya meminta Lola maju. Heh? You child? Lola is my child? Hahaha, hadeuuh…tampang kami ngga ada mirip-miripnya dan apa tampang saya sudah segitu tuanya sampai disangka ibunya Lola? Atau tampang Lola yang amat sangat kemudaan? Halah! Hehehe

Tak lama kami sudah berada di pesawat ke Düsseldorf. Libur telah usai. Kami kembali ke Jerman dengan perasaan puas tidak puas. Puas dengan liburannya yang menyenangkan dan banyak kejutan yang indah. Murah pula, hehe. Tidak puas, karena masih banyak yang ingin dilihat di Turki. Istanbul belum lho. Namun, itu disimpan untuk rencana jalan-jalan berikutnya deh. Masih banyak yang harus dikerjakan di depan kami.

Güle güle!