Disputation

Kata „disputation“ berasal dari bahasa latin „disputatio“ dan „quaestio disputata“ yang maknanya kurang lebih „perdebatan ilmiah“. Disputasi ini adalah bentuk ujian lisan untuk mencapai gelar doktor  dan profesor dengan cara mempertahankan disertasi. Di Jerman, disputasi sudah dikenal sejak abad pertengahan. Disputasi Martin Luther adalah salah satu disputasi yang paling terkenal. Dalam perdebatan ilmiah ini, seorang proponent atau respondent atau defendant mengemukakan tesisnya, yang kemudian akan didebat oleh para opponent yang mengemukakan antitesisnya. Disputasi bersifat terbuka. Dalam sejarahnya, disputasi dihadiri oleh pendengar, disebut „corona“,  yang berdiri di belakang dinding pembatas „carceres“. Selain disputasi, untuk pencapaian gelar doktor dikenal juga jenis ujian lisan lainnya yang disebut „rigorosum“  (examen rigorosum; rigor = streng, keras).  Berbeda dengan disputasi, rigorosum bersifat tertutup, tidak bisa dilihat dan didengarkan oleh umum. Dalam rigorosum tidak hanya disertasi doktorand yang dipertahankan, tapi juga diujikan pertanyaan-pertanyaan untuk bidang yang lain. Rigorosum masih digunakan di Swiss dan Austria, sedangkan di Jerman doktorand boleh memilih, apakah dia akan mengikuti disputasi atau rigorosum. Namun, kebanyakan universitas menerapkan disputasi untuk pencapaian gelar doktor.

Dan hari ini saya menghadiri disputasi teman saya, Martin. Selain penguji yang terdiri atas pembimbing, co pembimbing dan pembaca, ada juga dekan yang menjadi notulis, serta kami, teman-teman Martin yang datang selain untuk memberi dukungan moral padanya, juga yang ingin tahu bagaimana proses „pembantaian“ berlangsung. Ternyata bayangan akan adanya „pembantaian“ atau minimal debat ilmiah yang terdengar begitu menegangkan dan mendebarkan seperti dalam sejarah tidak terjadi. Kecuali Martin dan dekan yang berjas, profesor lain masuk ke ruangan dengan pakaian sangat santai. Mereka hanya mengenakan kemeja casual lengan pendek, bercelana panjang jeans, seorang profesor malah hanya menggunakan t-shirt dan bercelana panjang jeans. Posisi duduk dibuat melingkar, kami juga sebenarnya bisa masuk ke dalam lingkaran, namun karena tidak cukup luas, kami membuat lapis lingkaran sendiri di belakang. Martin sudah siap dengan disertasinya dan handout yang dibagikan pada hadirin. Dekan membuka dengan menanyakan apakah berkas formal sudah lengkap, setelah itu disputasi dimulai dengan presentasi Martin selama 20 menit. Setelah itu dilanjutkan dengan diskusi. Sekali lagi diskusi. Pertanyaan digunakan bukan untuk menyerang Martin, tetapi hanya untuk memperjelas apa yang sudah dilakukan dan ditulis oleh Martin. Suasana benar-benar terasa nyaman. Martin sendiri terlihat cukup nyaman walaupun masih terasa tegang, beberapa kali dia memotong pertanyaan si profesor, dia juga akhirnya melepas jas-nya dan menggulung lengan kemejanya. Suhu memang cukup panas, sehingga bertanya atau menjawab pertanyaan sambil minum juga menjadi hal yang lumrah. Pertanyaan para profesor itu berkisar pada metodologi yang digunakan, data dan hasilnya. Teori yang aneh-aneh tidak terlalu banyak dibahas, bahkan tidak dibahas sama sekali. Tidak muncul istilah dan nama-nama asing, yang ada adalah apa yang Martin lakukan, bagaimana melakukannya, apa pendapat dan penilaiannya. Disertasi tidak dibuka sama sekali. Semua sudah ada di dalam kepala. Tiga tahun berkutat dengan disertasi tersebut, rasanya cukup untuk mengenalnya sangat dekat. Para profesor pun demikian. Semua mengalir dengan lancar. Pertanyaan tidak melenceng dan melebar ke mana-mana. Fokus pada tema dan bahasan disertasi. 90 menit disputasi berlangsung. Kami menunggu di luar selama beberapa menit, kemudian Martin dipanggil masuk untuk menerima hasil ujian. Selesai. Semua senang. Memberi selamat. Lalu kami pergi ke sebuah restoran, Martin menraktir kami teman-temannya dan profesor pembimbing dan co pembimbingnya untuk  minum (makan tentu saja bayar masing-masing). Suasananya sangat santai, kami berbincang-bincang dengan nyaman. Seorang doktor baru sudah dihasilkan. Biasa saja, tidak ada acara dan upacara aneh-aneh. Martin tampak sangat lega. Oh ya, gelar doktor tidak boleh dipakai, jika disertasi tidak diterbitkan.

Begitu saja. Tidak seseram yang saya baca, tidak „seseram“ pengalaman saya saat diminta menjadi penguji ujian proposal teman-teman di S2 Unpad (saya yang menjadi penguji, tapi saya yang tegang saat itu), atau tidak seperti pengalaman saya saat menguji skripsi mahasiswa S1 atau ketika saya menjalani ujian sidang S1 dulu. Ujian magister saya lakukan di Bayreuth juga, dan suasananya sama seperti disputasi Martin tadi siang, bedanya hanya dua orang profesor yang menguji saya. Saya juga sama sekali tidak merasa „diserang“ dan „dipojokkan“ kemudian merasa jadi orang yang paling bodoh sedunia, malah saat itu saya dibantu dan diarahkan untuk menjawab ke arah jawaban yang diinginkan penguji saya. Jika tidak, ya tidak apa-apa, paling nilai berkurang sedikit, hehe. Yang jelas, tidak ada “terror” mental di sana. Itu yang saya rasakan berbeda dari ujian lisan di Indonesia dan di Jerman. Khususnya di Bayreuth (saya tidak tahu di universitas-universitas lain di Jerman), tidak pernah ada perayaan khusus dan besar-besar setelah ujian akhir. Saya ingat saat selesai ujian lisan magister, nilai dimumkan, kami diberi selamat dan langsung „tschüß“ pulang ke rumah masing-masing. Kalau pun mau merayakan, dirayakan pribadi saja dengan keluarga dan teman-teman. Saya sendiri saat itu langsung berangkat ke NRW untuk pamitan pada teman-teman saya di sana dan seminggu kemudian pulang ke Indonesia. Ijazah saya minat dikirimkan per pos ke Indonesia dan jasa pengiriman ditanggung oleh pihak universitas. Tidak ada seremoni seperti wisuda dengan toga dll. Teman-teman dari jurusan IPA biasanya mengarak teman-temannya keliling kampus diiringi tetabuhan sekadarnya dan “toga” yang dibuat dari kertas ditempeli foto-foto dan tanda tangan teman-teman si doktor baru.

Ngomong-ngomong tentang “pembantaian”, Martin dari jurusan media, saya dengar pada disputasi sebelumnya dari jurusan sastra, situasinya lebih “menegangkan”. Jadi semua memang tergantung pada profesor-profesor pengujinya. Saya sendiri pernah mengalami perasaan “habis” saat selesai kolloquium. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan memang menuntut argumentasi yang runut dan logis. Namun, pada dasarnya semua pertanyaan itu memang memperjelas bagian yang masih kabur atau bias. Saya belajar banyak dari disputasi yang saya hadiri tadi. Belajar untuk tidak bersikap jumawa sebagai penanya, karena ilmu bisa didapat dari siapa saja, terbuka pada hal-hal yang baru (para profesor tadi misalnya tidak segan bertanya tentang program yang Martin untuk mengolah data dan meminta Martin mengajari mereka), belajar untuk mengungkapkan pendapat tanpa takut dianggap bodoh dan belajar tentang kesederhanaan. Pengetahuan itu sederhana dan semakin tinggi seseorang mencapai tingkat pengetahuan tertentu, justru dia semakin sederhana. Saat saya Tanya Martin, apa yang akan dilakukannya setelah ini, dia menjawab “saya mau pulang ke rumah. Istirahat. Besok bekerja seperti biasa”. Ah. Oh ya, satu lagi yang patut diingat dan dipelajari, ujian lah di musim panas, saat matahari sedang terik. Orang-orang jadi enggan bertanya, karena sudah ingin cepat cepat ke luar ruangan: minum atau makan es krim. Selain terbukti pada Martin, saya juga sudah membuktikannya dulu, dan berhasil.  Hehehe. Namun, untuk sampai ke ruangan tempat Martin tadi berdiskusi (tempat saya juga dulu berdiskusi), saya masih harus melewati banyak fase yang saya tahu tidak akan mudah. Itu semua termasuk di dalam babak kehidupan yang sedang saya jalani sekarang. Saya berjalan pelan, tapi berusaha tidak berhenti :-)

Bayreuth, 140710

Advertisements