Membaca Walidah: Sebuah Catatan (Sangat) Personal

siti-walidah-dahlan-_140225162759-755

Sumber gambar: Republika

Walidah menghampiri saya, melalui Tika saat di akhir Februari kami bertemu dan dia bercerita bahwa dia akan berperan sebagai Nyai Ahmad Dahlan. Saya senang mendengarnya, tetapi Tika ragu apakah dia mampu memerankan Nyai Ahmad Dahlan dari usia remaja sampai tua. Resikonya terlalu besar. Banyak nama dipertaruhkan, termasuk namanya. Saya tahu peran ini akan berat, tetapi di satu sisi saya merasa jika bukan dia maka siapa? Walaupun demikian, saat itu Tika cukup bersemangat, bertanya apakah judul film ini sebaiknya Nyai Ahmad Dahlan atau Walidah saja. Dia sendiri ingin film ini berjudul Walidah, karena nama itu mencerminkan individunya, bukan sekedar perempuan pendamping Kyai Ahmad Dahlan. Dia ingin orang mengenal Walidah sebagai Walidah. Saya setuju. Tidak banyak orang yang tahu bagaimana perjuangan Walidah. Dia hanya dikenal sebagai pendiri Aisyiyah. Saya pun hanya tahu sekilas sampai saat berbincang dengan Tika. Oleh karena itu, saya senang tahu bahwa kisah ini akan divisualisasikan, karena sudah layak ada tokoh-tokoh perempuan Indonesia lain yang diangkat ke permukaan.

Walidah menghampiri saya. Pulang bertemu Tika saya mendapat pemberitahuan bahwa abstrak makalah saya diterima untuk dipresentasikan di dalam sebuah seminar di Universitas Muhammadiyah Surakarta dan mengambil tempat di gedung Siti Walidah. Bukannya segera membuat makalah untuk acara itu, saya malah mencari tahu lebih banyak lagi tentang Siti Walidah dan mendiskusikannya bersama Tanti, sahabat saya seorang sejarawan dan juga pemerhati film.

Walidah menghampiri saya. Berselang satu hari setelah bertemu Tika di Bandung, malam-malam dia mengirim pesan, bertanya dan meminta bantuan untuk dicarikan referensi tentang situasi sosial budaya masyarakat Jawa terutama perempuannya di abad 19, khususnya lagi perempuan muslim. Kondisi serta situasi Tika saat itu memang cukup darurat, sehingga dia merasa perlu meminta bantuan. Namun, karena pada dasarnya saya adalah penyuka sejarah dan saya pun sudah membaca sedikit tentang Walidah, maka permintaan Tika ini cukup menggelitik rasa ingin tahu saya. Riset dilakukan. Gampang gampang susah, karena referensi khususnya tentang perempuan muslim di Jawa tidak terlalu banyak. Perbincangan, lebih tepatnya diskusi, dengan Tika berlanjut malam itu. Saya memelajari Walidah lewat pertanyaan-pertanyaan Tika yang cukup kritis: kerudung seperti apa yang digunakan di masa itu? Islam seperti apa yang mereka hayati? Bagaimana penerapannya? Apa yang digunakan orang untuk menulis? Bagaimana rupa kertasnya? Diskusi berlanjut selama beberapa hari karena Tika akan segera shooting. Pertanyaan Tika semakin kritis: jika satu jaman, mengapa Kartini lebih dikenal daripada Walidah? Bagaimana pesan dan nafas perjuangan hak perempuan itu bisa sampai dan sama di mana-mana padahal secara geografis terpisah jauh? Apakah para pejuang itu kenal satu sama lain? Kendaraan apa yang digunakan? – Pertanyaan-pertanyaan yang terdengar bercanda, tetapi saya melihat ini serius. Saya jadi ikut belajar banyak. Tika pun sempat mengunjungi Kauman, makam Walidah, bertemu dengan keluarganya, dan shalat berjamaah di langgarnya Aisyiyah yang membuatnya terharu. Tika berharap dan tentu ingin memberikan segenap kemampuannya untuk bermain baik menubuhkan kembali Walidah. Saya pun dikiriminya script film ini, yang kemudian saya bahas detil bersama Tanti. Script yang terus terang sangat lemah dan normatif, sehingga tidak memunculkan sama sekali semangat dan inti perjuangan Walidah. Jika boleh saya bilang: tidak layak untuk sebuah film tentang sosok kharismatik bernama Walidah. Saya tahu film ini dibuat dengan misi khusus. Namun, alangkah sayangnya jika kedalaman kisah tokoh ini tidak tergali hanya karena misi tersebut. Tanti dan saya akhirnya merasa „bertanggung jawab“ untuk ikut „membantu“ dan merekonstruksi sejarah Walidah. Mungkin karena kami akademisi, ditambah lagi karena film sejarah tentu perlu riset yang lebih dalam dan dapat dipertanggungjawabkan, tidak hanya sekedar sarana penyampaian misi tadi. Apalagi kami melihat keseriusan Tika dalam mempersiapkan dirinya dan kami pun menumpukan harapan pada Tika minimal untuk menutupi kelemahan naskah film ini. Kami membaca lebih banyak lagi tentang Walidah dari referensi-referensi sejaman. Dari situ kami mendapat kesan: dia perempuan keras hati dan hebat. Keseriusan Tika –dan mungkin ditambah kepanikan- dilanjut lagi dengan diskusi di rumahnya. Membahas kembali detil yang ada dari mulai bunga dandelion, kata-kata yang digunakan masa itu, sampai sapaan yang digunakan Ahmad Dahlan dan Walidah.

***

Saya membaca Siti Walidah, yang lahir pada tahun 1872 dan meninggal pada tahun 1946, sebagai sosok perempuan yang penuh rasa ingin tahu, cerdas, keras hati, bersemangat tinggi, terstruktur, dominan, tetapi sangat peka dan peduli. Katupan bibirnya yang kuat serta sorot mata yang tajam menandakan ini. Hidup menempanya dengan keras. Terlahir dari keluarga ulama, Kyai Fadhil adalah kyai yang disegani dan dekat dengan keluarga kraton. Menikah dengan Darwis, kemudian dikenal sebagai Ahmad Dahlan, seorang tokoh penggerak dan pembaharu yang cukup ekstrem pada masa itu: mengganti arah kiblat Masjid Gede yang selama itu salah, mendirikan sekolah dan rumah sakit yang kemudian menjadi tujuan dan sarana dakwah utama organisasi Muhammadiyah ini, menjalankan Islam yang murni. Walidah yang mematahkan biola yang dimainkan anaknya, yang berkata bahwa dia rela jika kehilangan anak yang melupakan waktu shalat walaupun itu anaknya sendiri, dia yang rela memberikan perhiasan-perhiasan miliknya untuk dijadikan modal perjuangan Muhammadiyah, mendirikan Bustanul Athfal cikal bakal pendidikan anak usia dini di Indonesia, mengungkapkan dan memperjuangkan ide bahwa perempuan itu harus pintar dan perjuangan perempuan itu dimulai dari rumah, mendirikan mushola pertama untuk perempuan dan membangun asrama untuk perempuan-perempuan yang ingin belajar mengaji, baca tulis, dan ilmu agama, perempuan yang tetap memasak dan mengurus rumah tetapi juga berorganisasi dengan mendirikan Aisyiyah dan berniaga dengan batiknya. Walidah: perempuan yang mau banyak dan bisa banyak. Dia yang membuat Ahmad Dahlan akhirnya berpoligami karena merasa tidak mampu lagi mengimbangi dan membendung kecerdasan Walidah. Kecerdasan dan semangat yang justru semakin membuncah seiring dengan kekecewaannya melihat suaminya berpoligami, walaupun dia tahu benar bahwa dalam ajaran Islam yang dia pahami, berpoligami itu diperbolehkan. Namun, Walidah tetaplah perempuan berhati luas yang pastinya juga terluka karena itu. Luka yang membuatnya semakin kuat. Perempuan hebat yang tahu kapan harus maju dan kapan harus mundur, serta tahu kapasitas dirinya yang lebih baik menjadi penasihat dibandingkan menjadi pemimpin di muka dengan meminta Siti Munjiyah untuk menjadi Ketua Aisyiyah pertama, karena Munjiyah bisa menulis dan membaca huruf latin, sedangkan dia tidak. Perempuan yang menganggap bahwa kemerdekaan itu adalah awal dari perjuangan panjang, bukan akhir dari perjuangan yang harus dirayakan dengan gegap gempita. Perempuan berkemauan keras, berusaha keras, tetapi berjiwa besar dan lapang, yang membuatnya layak mendapat gelar pahlawan.

***

Walidah menghampiri saya. Satu hari setelah Tika menyelesaikan shooting film ini di Jogja, saya bersama teman-teman ke Kauman. Keinginan spontan untuk mengunjungi sisi Jogja yang lain, sebelum mengikuti seminar di Solo, di Gedung Siti Walidah. Kami mengunjungi langgar, tempat mengaji, tempat berkumpul, rumah Ahmad Dahlan saat itu, dan makam Walidah, untuk merasakan kembali aura kehidupan di Kauman masa itu dan masih dijaga sampai sekarang. Kampung yang resik. Kami beristirahat dan shalat di Masjid Gedhe Kauman yang indah, merasakan betapa kecilnya sebenarnya manusia. Dari kunjungan itu lah saya paham, bagaimana peran Walidah dan Ahmad Dahlan dalam membentuk masyarakat yang di kemudian hari menjadi basis kuat bagi berkembangnya organisasi Muhammadiyah: pendidikan itu dimulai dari dan untuk keluarga serta dari dan untuk lingkungan sekitar terdekat. Kuat di situ, maka akan mudah memperkuat diri dan organisasi di luar.

Walidah menghampiri saya. Film tentang Walidah tayang dan memang sudah seperti saya duga akan demikian lemah jadinya. Namun, bukankah jika tidak ingin kecewa terlalu besar, maka jangan juga menaruh harapan terlalu besar? Film adalah film. Walidah harus dibaca lebih daripada sekadar karya sinematografi yang acak-acakan, script yang lemah, dengan atau tanpa pesan dan intervensi sponsor. Walidah terlalu berharga untuk sekedar dilihat dari ribuan tiket yang terjual. Maka orang seharusnya dapat membuka mata dan hatinya untuk membaca Walidah. Membaca hati dan alam pikirannya, membaca keinginan dan harapannya, karena saya merasa miris ketika ada sekelompok orang yang „terlalu“ kagum pada figur Kyai Ahmad Dahlan dan Walidah sehingga menuntut orang yang “menjadi” mereka harus seperti figur yang dikaguminya. Kekaguman yang membutakan. Militansi tanpa arah. Bukankah berkaca pada diri sendiri rasanya lebih elok daripada menghujat? Bukankah merefleksikan dan merealisasikan pemikiran-pemikiran Ahmad Dahlan dan Walidah rasanya lebih masuk akal daripada sibuk mencari kesalahan orang? Bukankah membaca adalah kunci untuk membuka mata hati dan pikiran? Dan bukankah memang itu yang diperjuangkan Ahmad Dahlan dan Walidah sejak awal: menjadikan umat Islam umat yang cerdas dan pintar? Umat yang mampu menjadi dirinya sendiri, tetapi peka dan berempati pada yang lain?

Walidah menghampiri saya. Saya bersyukur dan berterima kasih karena Tika sudah mengerahkan segenap kemampuannya di tengah segala keterbatasan dan kendala yang ada untuk menubuhkan kembali Walidah. Dia menepati janjinya: jika bukan dia yang melakukannya, maka siapa lagi. Jika hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkan, itu sudah di luar kuasanya, di luar kuasa kami, ketika beberapa saran kami tak terperhatikan.

Walidah menghampiri saya untuk dibaca. Maka saya pun membaca Walidah, karena yang saya lihat darinya adalah dunia. Dunia yang masih luas membentang untuk dikaji dan dibaca. Walidah hanya ingin menjadi cerdas dan pintar, agar dia dapat membuat rumah dan dunianya juga menjadi cerdas dan pintar. Maka alangkah sayangnya, jika Walidah hanya jadi sekadar nama  yang dipuja membabi buta, tetapi menafikkan jiwa, hati, dan semangatnya.

Bandung, 240817

Advertisements

„Soekarno: Indonesia Merdeka“ – (Bukan) Romantisme Masa Lalu?

soekarno filmDalam satu bulan ini saya menonton tiga film Indonesia: NOAH Awal Semula, Sokola Rimba dan Soekarno. Jika NOAH Awal Semula cukup sukses membuat saya mengantuk, Sokola Rimba dan Soekarno cukup sukses membuat saya terharu dan mengeluarkan air mata. Tiga film yang bergenre sama yaitu biografi, dengan teknik penceritaan yang berbeda, tetapi memiliki tema yang sama: perjuangan, mewujudkan mimpi. Yang satu berjuang bangkit dari keterpurukan, mewujudkan kembali mimpi yang hilang, yang kedua berjuang mewujudkan mimpi meratakan pendidikan tanpa kecuali, ketiga tentu berjuang melepaskan diri dari belenggu penjajahan, memerdekakan diri dan bangsa. Dan film Soekarno seolah menjadi simpulan dari dua film sebelumnya, bahwa tidak akan ada NOAH dan Sokola Rimba, jika tidak ada Soekarno dan para pendiri negeri ini.

Kisah tentang Soekarno ini siapalah yang tidak tahu, tetapi tetap menarik juga untuk mengikuti perspekstif Hanung dalam menceritakan ulang kisah tokoh besar ini. Dimulai dengan “kehebohan” di rumah Soejoedi yang diperankan oleh Budiman Sudjatmiko saat ada penangkapan para pemuda pergerakan, kemudian cerita beralih ke masa Soekarno kecil yang sering ikut bersama Tjokroaminoto serta berteman dengan Kartosoewirjo, di mana dia kemudian belajar politik. Kisah kemudian mundur lagi saat dia masih bernama Kusno dan sakit-sakitan sehingga namanya pun diganti menjadi Soekarno, dengan harapan agar dia kuat seperti Adipati Karna. Lalu kembali ke masa remaja saat dia tertarik pada seorang noni Belanda bernama Mien (entah benar atau tidak kisah ini), kemudian dia diusir oleh bapak si noni. Hinaan si meneer Belanda inilah yang dalam film dikisahkan menjadi pemicu dia untuk melawan Belanda, membangkitkan semangat dan harga diri kaum pribumi, selain tentu sajakarena melihat kondisi pribumi sebagai bangsa terjajah. Cerita beralih maju mundur ke masa penjara di Banceuy dan Sukamiskin, pembacaan pledoii Indonesia Menggugat yang berakhir dengan pembuangan ke Ende dan kemudian ke Bengkulu. Kemudian cerita bertutur maju sampai ke masa Belanda kalah, Jepang masuk, persiapan kemerdekaan, sampai pada akhirnya pembacaan proklamasi.

Kisah panjang yang dipadatkan. Amat padat untuk durasi sekitar 2,5 jam.  Namun, Hanung ternyata cukup berhasil membuat penonton diam di tempat duduknya bahkan sampai credit title selesai. Padahal penonton film Soekarno tadi bervariasi, dari mulai anak sekolah SD, SMP, SMA, sampai orang-orang tua yang mungkin ingin bernostalgia. Bahkan semua penonton berdiri dan dengan khidmat menyanyikan lagu Indonesia Raya serta diam hening mendengarkan dengan seksama proklamasi dibacakan dengan suara asli Soekarno. Saya merinding.

Dan lepas dari kontroversi tentang film Soekarno ini, saya rasa film ini secara teknis cukup bagus. Hanung tidak lagi terlalu irit dengan pencahayaan, seperti yang saya lihat dalam Sang Pencerah. Editing dari Cesa David lebih bagus di film ini daripada hasil editingnya untuk NOAH Awal Semula. Scoring music dari Tya Subyakto juga cukup mendukung film ini menjadi film tentang perjuangan yang lirih, bukan yang memberikan semangat berapi-api dan hingar bingar tembakan senjata, seperti yang biasa terjadi dalam film yang ada adegan perangnya. Saya cukup tersentuh dengan scoring musiknya, karena menampilkan tiga lagu yang selalu sukses membuat saya menangis jika mendengarnya: Indonesia Raya, Indonesia Pusaka dan Syukur. Pilihan yang bagus menempatkan lagu Syukur setelah pembacaan teks proklamasi.

Akting para pemainnya juga cukup bagus. Ario Bayu saya rasa pas memerankan tokoh Soekarno, walaupun alas bedaknya terlihat terlalu tebal. Namun, dia bisa menghidupkan sisi humanis tokoh besar yang selama ini dikenal dan „diharapkan“ menjadi sempurna: Soekarno manja dan senang „didominasi“ oleh Inggit, dia juga bisa galau saat jatuh cinta pada Fatmawati, dia pun bisa sakit dan kena malaria, juga takut pada darah. Maudy Koesnaedi sebagai Inggit juga dapat “membalikkan” stereotype perempuan Sunda yang sering digambarkan senang bersolek dan pekerjaannya “menghibur” orang (digambarkan Soekarno mendatangkan perempuan dari Jawa Barat untuk “menghibur” tentara Jepang). Sedangkan Inggit adalah perempuan kuat, dominan, tegas, mandiri, dan cantik. Dia punya pendirian dan berani bersikap. Tika Bravani menampilkan sisi ceria Fatmawati usia 15 tahun yang berhasil memikat seorang lelaki bernama Soekarno.  Pemain lainnya pun berkarakter cukup kuat, seperti Hatta yang diperankan Lukman Sardi dan Sjahrir yang diperankan Tanta Ginting. Soejiwo Tedjo dan Agus Kuncoro selalu bermain bagus walaupun hanya tampil sebentar. Beberapa pemain figuran membuat film ini lebih humanis lagi.

Saking padatnya film ini, sulit untuk saya menentukan scene mana yang paling saya suka atau tidak saya suka. Namun, saya cukup tergetar saat Soekarno menyampaikan ide-idenya tentang landasan negara yang kemudian dikenal dengan Pancasila. Pancasila memang tak hanya sekedar pemikiran sambil lalu, dia dasar yang berdasar pada keragaman suku bangsa, budaya dan agama di Nusantara. Ini pemikiran cerdas yang pengejawantahannya sekarang bisa dilihat sendiri betapa menyedihkannya.

Pada akhirnya film ini bukan sekedar rekonstruksi sejarah atau cerita tentang romantisme masa lalu seorang tokoh besar nan sempurna, tetapi kontroversial. Jika ingin murni jadi film sejarah memang masih banyak detil yang harus diperhatikan. Namun, dalam film ini ada jalinan yang cukup kuat antara masa lalu, kini dan masa depan yang dijalin lewat dialog antartokohnya. Soekarno, Hatta, Sjahrir, dll berusia sekitar 24 tahunan ketika mereka berpikir jauh ke depan tentang negara dan bangsa ini. Saya kemudian bertanya pada diri sendiri, apa yang saya lakukan ya di saat saya berusia segitu, ya? Apa yang ada di pikiran anak-anak sekarang di usia segitu, ya? Dan seperti yang dikatakan Soekarno saat berdialog panjang dengan Hatta tentang keraguan dan harapan akan bangsa ini, apakah mereka berdua akan mampu memimpin bangsa yang benar-benar kompleks isinya, jawabnya adalah “Kemerdekaan bukanlah tujuan, kemerdekaan adalah awal. Dan biarlah sejarah yang membersihkan nama kita, jika kita melakukan hal yang buruk untuk satu tujuan yang baik.Kita sudah memulai, kita percayakan pada anak cucu kita untuk melanjutkannya.” Duh, yang ini rasanya jleb sekali, apalagi ditingkahi lagu Indonesia Pusaka yang selalu dan selalu mampu membuat dada saya sesak dan menangis. Dipercayakan. Diberi kepercayaan. Bisakah kepercayaan itu dijaga dan dilaksanakan?

Di luar hujan. Orang-orang berteduh menunggu angkot. Anak-anak yang bertelanjang kaki menyewakan payung berseliweran menawarkan jasanya. Oh, itu suasana di Jalan Merdeka Bandung. Tak jauh dari situ ada Jl. Perintis Kemerdekaan, di mana Gedung Landraad berada. 83 tahun yang lalu di gedung itu Soekarno menyampaikan gugatannya kepada pengadilan Belanda atas ide kemerdekaan Indonesia. Apakah dulu dia membayangkan kemerdekaan seperti ini yang terjadi tak jauh dari gedung itu? Air mata saya menetes lagi. Ah, mungkin saya terlalu terbawa pada ide-ide „romantis“ masa lalu atau jangan-jangan kemerdekaan pun „hanya“ sekedar idealisme yang hanya ada di dunia ide atau hanya ada di gedung bioskop? :)

Tautan: http://www.filmsukarno.com/home

Rumah di Seribu Ombak: Berombak dengan Damai

Bild

Baru membaca halaman-halaman awal novel karya Erwin Arnada ini, bayangan saya langsung ikut terbang jauh ke Pantai Lovina, tepatnya di daerah Kalibukbuk, Singaraja Bali. Saya bisa merasakan kembali dengan jelas suasana pantai subuh hari yang sepi, anginnya yang sejuk menyentuh kulit, langit masih cukup gelap yang lambat-lambat disaput sinar memerah, ombak berdebur pelan mendamaikan hati yang juga sejuk diiringi mekidung yang dikumandangkan dari pura agung di belakang saya dan gema adzan subuh dari mesjid tak jauh dari pura.

Saya membaca lagi halaman-halaman berikutnya, masuk dengan tertib ke dalam narasi si aku pencerita: anak laki-laki kelas 5 SD bernama Samihi Ismail. Dia anak seorang perantau dari Sumatera Barat yang sudah berdiam di Singaraja lebih dari 20 tahun. Samihi yang saya imajinasikan dari narasi yang saya baca adalah anak kecil yang kurus dan penyakitan (dia menderita asma dan tak pernah lepas dari inhalernya), penakut (dari takut air sampai takut berbuat salah, takut berbohong sampai takut menjadi anak durhaka), tapi rajin dan pintar. Tipikal. Samihi, yang biasa dipanggil Samii, bersahabat tanpa sengaja dengan Wayan Manik, yang biasa dipanggil Yanik, anak asli Singaraja yang putus sekolah karena tak punya uang untuk melanjutkan sekolah, anak yang ulet, pekerja keras, pemberani dan setia kawan.

Persahabatan yang terjadi antara Samihi dan Yanik terjalin dengan manis di tengah perbedaan yang melatarbelakangi mereka berdua. Samihi adalah dan berasal dari keluarga muslim yang taat, sedangkan Yanik adalah seorang penganut Hindu yang taat. Mereka saling mendukung, menginginkan yang terbaik satu sama lain. Yanik adalah orang yang sangat menginginkan Samihi menjadi juara qiraah, maka dia pun mengenalkan Samihi kepada ahli-ahli mekidung untuk melatih suaranya. Samihi sangat menginginkan Yanik kembali bersekolah, maka dia pun melawan rasa takut dosanya karena mendukung Yanik ikut metajen –sabung ayam, yang dianggapnya judi-, satu-satunya cara yang cepat untuk menghasilkan uang agar Yanik bisa kembali bersekolah.

Persahabatan mereka tidak mulus-mulus saja. Ada banyak trauma dan ketakutan. Ada niat baik yang tentu saja tak selalu bisa diterima dengan baik pula, sehingga berujung pada konflik. Ada curiga, ada percaya. Namun, saya masih bisa menangkap bahwa sahabat adalah tetap sahabat, apapun yang terjadi. Klisenya mungkin: dalam suka dan duka selalu mengharapkan dan berbuat yang terbaik.

Narasi kilas balik dari si aku pencerita dituturkan dengan tenang, tidak menggebu-gebu. Seperti debur ombak di Lovina, tidak besar, tetapi tetap saja orang harus waspada. Namun, saat setting berpindah ke pantai Kuta, narasinya pun terasa lebih menggebu. Saya hanyut, terus terang. Sudut pandang Samihi, seorang murid SD yang sederhana dan neko-neko pun terlihat dari “caranya” yang “begitu saja” saat menceritakan peristiwa pelecehan seksual terhadap Yanik.

Beragam perbedaan “dibenturkan” dengan halus oleh Erwin. Tampaknya dia memang sedang berusaha mencari „harmoni“ dari perbedaan-perbedaan, yang tak bisa dielakkan karena memang sudah ada, dengan cara „membalikkan“ stereotipe yang telah dimunculkan (dengan salah): perantau yang menyatu dengan penduduk desa, orang bule yang justru membawa petaka, bukan hanya „devisa“ atau orang Bali yang berhasil.

Novel ini juga berkisah tentang usaha tokoh-tokohnya berperang sekaligus berdamai dengan diri, tubuh dan pikirannya, melawan sekaligus keluar dari ketakutan, trauma, kemarahan yang sublim, kecurigaan dan prasangka yang muncul karena rasa percaya yang dicerabut tanpa sebab yang jelas. Ketakutan dan trauma akan air yang dialami Samihi menjadi benang merah bagi ketakutan yang lebih besar karena ketidakpercayaan kepada diri, kepada sekitar, kepada orang lain, kepada sistem, kepada hidup yang tidak selamanya indah dan kepada Yang Memberikan Hidup. „Perjuangan“ Samihi dan Yanik untuk itu semua dinarasikan dengan cukup menyentuh dan tentu saja tidak selamanya berujung baik. Berdamai dengan hidup, meminta dan memberi maaf serta menerima bahwa diri dan hidup memiliki batas tentu bukan hal yang mudah. Ketika pada akhirnya Samihi yang pendiam dan penakut berhasil „menaklukan ombak“, Yanik yang pemberani dan menggebu-gebu lebih memilih „berdamai dengan ombak“ . Toh keduanya sama-sama memilih akhir yang „hening“ di antara „seribu ombak“, sebergejolak atau setenang apapun ombak itu. Itu hidup, yang akan „selalu dihadapkan pada hal-hal yang indah dan memilukan.“

Cukup banyaknya kesalahan tipografi dan peletakan tanda baca yang tidak tepat, ternyata tidak cukup mampu menahan air mata saya agar tidak keluar saat membaca kerinduan Samihi kepada Yanik yang sudah menemukan „rumah abadinya“ di „seribu ombak“ Laut Lovina dan seribu pertanyaan yang kadang memang tak perlu dijawab. Seperti laut dan ombak yang juga tetap penuh rahasia.

 „Kita memang berbeda. Aku tahu. Sama tahunya seperti dirimu. Warna yang mengalir di nadimu tak sewarna dengan yang mengalir di nadiku. Namun, bukankah kita tak pernah bisa memilih dengan warna apa kita lahir? Kita lahir, lalu menemukan tawa bersama. Menyatukan cerita bersama. Menjumputi mimpi bersama. Mengapa kini kau lari menjauh? Lalu, apa kabarmu? Mengangakah masih lukamu yang dulu? Atau, kini sudah terpilihkan bagimu akhir yang bahagia? Maafkan aku. Maafkan karena tak bisa selalu menjadi laut yang tetap menyimpan rahasiamu“.


Dan kenangan-kenangan saya akan Pantai Lovina dan Kalibukbuk, suasana desanya, penduduknya, dan „rasa“ yang muncul saat saya menghabiskan beberapa hari di sana, kembali menari-nari dengan jelas  saat saya membaca novel ini. Ini Bali yang saya ingin cari saat itu dan saya temukan di sana serta segera memikat saya: “Tahukah kau mengapa Tuhan menciptakan langit dan laut? Semata agar kita tahu, dalam perbedaan ada batas yang membuat mereka tampak indah dipandang.“

Bayreuth, 290312

Quo vadis, pendidikan tinggi Indonesia? – Catatan Iseng dari Sebuah Pembacaan (Bagian 1)

Jadi minggu lalu saya diminta untuk menambah satu bab lagi untuk penelitian saya, yaitu bab yang membahas tentang institusi pendidikan tinggi di Indonesia dan di Jerman, serta satu subbab tentang dinamika norma-norma interaksi dalam konteks interdiskursus institusional dari jaman Orde Baru sampai pasca-reformasi. Ah, ini sebenarnya lebih dari sekedar subbab, semestinya jadi bab baru juga. Mengenai kata „dinamika“ ini juga kami berdebat cukup panjang. Tadinya saya memilih kata perkembangan. Namun, setelah dilihat apanya yang berkembang ya? Norma-norma kok berkembang. Lagi pula perkembangan biasanya konotasinya maju, linear saja, menjadi lebih baik, tetapi ini kan belum tentu. Akhirnya kami bersepakat memilih kata „dinamika“ yang mengacu kepada kata sifat „dinamis“ yang terlihat tidak hanya dari data saya saja, tetapi juga dari perjalanan sejarah institusi (terutama institusi pendidikan tinggi) di Indonesia, interaksi antarmanusianya dan keterkaitannya dengan konteks serta diskursus yang melingkupinya, baik itu sistem dan atau kondisi sosiokultural masyarakatnya. Dalam kata dinamika terkandung unsur gerak yang cepat, ada unsur yang hidup, tidak statis, saling memengaruhi, bisa mundur, kemudian maju lagi, bisa memutar, bisa juga naik atau turun.

Banyak?  Ya, banyak sekali. Terutama karena saya harus mencari literatur dan tulisan-tulisan sebelumnya yang mungkin ada menulis tentang itu yang dapat mendukung pengamatan, pemikiran dan pendapat saya yang secara langsung atau tidak langsung juga menjadi bagian dari institusi pendidikan tinggi di Indonesia dan di Jerman . Jangan sampai pendapat saya sifatnya subyektif saja, walaupun secara heuristik, etnografis dan dari metode observasi partisipatoris yang saya pilih untuk kajian saya ini, saya „berhak“ (bahkan „harus“) memasukkan deskripsi dan pendapat pribadi saya, tetapi adanya dukungan dari kajian-kajian sebelumnya tentu dapat lebih melegitimasi pendapat saya. Supaya dibilang ilmiah, hehe.

Literatur  tentang Jerman, tidak sulit saya temukan. Sudah banyak penelitian yang membahas tentang institusi pendidikan tinggi di sini, mulai dari sejarahnya sampai ke hal-hal “kecil” seperti cara berpikir dan menulis ilmiah. Tentang Indonesia, agak sulit saya temukan. Tak banyak yang mengkaji tema ini (atau saya yang tidak tahu? Kalau ada yang tahu, boleh dong saya dikasih tahu). Kalaupun ada bentuknya kebanyakan berupa peraturan-peraturan. Bahkan Direktorat Pendidikan Tinggi Kemendiknas Indonesia sampai memiliki laman khusus mengenai peraturan-peraturan ini. Namun, ini lumayan lah, setidaknya saya punya acuan untuk melihat seperti apa sih “kerangka” pendidikan tinggi di Indonesia dilihat dari aturan-aturannya yang berjibun itu, karena kok rasanya pendidikan tinggi di Indonesia (seperti sudah sering saya „omelkan“ dalam tulisan-tulisan saya di blog ini) itu “kacau balau” ya. Ini asumsi saya saja,  bisa saja salah, makanya saya ingin kembali ke “kerangka” awal dengan melihat sejarah dan aturan yang menjadi kerangkanya.

Kemudian saya menemukan satu buku berjudul “Kooperation mit Hochschulen in Indonesien” (2003) dari Solvay Gerke dan Hans-Dieters Evers. Buku ini sebenarnya lebih berisi hasil pengamatan dan pengalaman kedua penulis selama menjalankan tugas mereka sebagai lektor Dinas Pertukaran Akademik Jerman di Indonesia, tetapi tetap saja perlu dibaca dengan kritis. Cukup politis memang isinya. Namun, setidaknya saya jadi tahu apa yang „diharapkan“ pihak Jerman terhadap negara-negara partnernya –dalam hal ini Indonesia. „Harapan“ ini menurut saya sebenarnya bisa disikapi sebagai „ancangan“ positif bagi pihak Indonesia, supaya terjalin kerjasama yang sifatnya simbiosis mutualisma, bukannya menjadikan satu pihak menjadi lebih superior dibandingkan pihak lainnya dan pihak lainnya menjadi inferior. Kalau relasinya taksetara begitu, maka tampaknya „kerjasama“ ini dapat menjadi „penjajahan“ bentuk baru yang menurut saya lebih mengerikan dari penjajahan „tradisional“, yaitu dengan „menjajah“ isi kepala dan identitas.

Lepas dari itu semua, yang hanya beberapa halaman disinggung dalam buku ini, saya justru jadi banyak „bercermin“ dan mempertanyakan kembali kondisi pendidikan tinggi di Indonesia, terlepas dari kondisi yang sudah berubah dalam kurun waktu 12 tahun dari saat data untuk buku ini diambil. Sampai tahun 2000, ada tiga kategori yang membedakan 76 PTN serta sekitar 1500 PTS di Indonesia. Kategori I yaitu PTN yang menjadi „center of excellence“ (menurut ukuran Indonesia, bukan menurut ukuran internasional, demikian kata si penulis, hehe) yaitu UI, IPB, ITB dan UGM.  Selain alasan sejarah, keempat PTN ini juga dari sisi sarana, prasarana sampai sistem pendidikan dan penelitiannya sudah „lebih“ dibandingkan dengan PTN lain yang masuk kategori II dan III. Ke dalam kategori II ini masuk UNAIR, USU, UNAND, UNDIP, UNIBRAW, UNHAS, UNUD, dan banyak lagi lainnya (saya mengutip saja apa yang ditulis dalam buku ini). Eh, institusi saya masuk ke mana ya? Kok tidak saya temukan. Mungkin termasuk ke dalam “dan banyak lagi yang lainnya” itu, karena dalam kategori III juga institusi saya tidak ditemukan. Kategori ke III ini adalah PTN yang ada di provinsi-provinsi lainnya di Indonesia (tidak disebutkan di provinsi mana), yang secara kualitas masih sangat jauh tertinggal dari hmm…Malaysia dan Singapura (kenapa bandingannya ini ya? Jauh sekali).

Saya mengerutkan kening, sontak muncul pertanyaan-pertanyaan: apa ukuran pembuatan kategori ini? Sarana dan prasarana nya kah? Kuantitas tenaga pengajar, mahasiswa atau jumlah penelitian yang dihasilkan dan lain sebagainya? Atau dari kualitasnya? Bagaimana mengukur kualitas? Dan seperti biasa, saya juga suka agak defensif jika “terpaksa” membandingkan Indonesia dengan kedua negara tetangga itu. Oke, mari kita lanjutkan dengan kepala dingin, sebagai peneliti yang „baik“, saya “harus” bisa berjarak dan bersikap objektif.

Selanjutnya buku ini membahas tentang organisasi pendidikan tinggi, yang secara sistem sangat mengacu kepada sistem organisasi pendidikan tinggi Amerika. Ini lebih ke masalah organisasi dan gremium yang ada di perguruan tinggi, seperti senat, rektor, pembantu rektor, dekan, pembantu dekan, kemudian fakultas, jurusan, dan unit-unit pelaksana teknis lainnya. Kemudian dibahas juga tentang badan-badan apa saja yang “membantu” institusi pendidikan tinggi di Indonesia, salah satunya Bank Dunia yang sejak tahun 1985 membentuk Inter-University-Centers atau Pusat Antar Universitas (PAU) yang membantu pendirian gedung, laboratorium, perpustakaan dan sarana prasarana penelitian, memberikan beasiswa dan mendatangkan dosen tamu. Tujuan utama dibentuknya PAU ini adalah untuk membina dan memberikan kesempatan untuk studi lanjut bagi dosen-dosen serta lulusan dari universitas-universitas dalam kategori III di atas, menyediakan laboratorium dan alat-alatnya serta membantu membuat jejaring dengan peneliti-peneliti internasional.  Sejauh mana ini berjalan, saya perlu mencari tahu lebih banyak lagi.

Masalah akreditasi, program studi dan lulusannya juga dibahas dalam buku ini. Sekedar informasi, lulusan S1 dari Indonesia, hanya disetarakan dengan tingkat Bachelor di Jerman, walaupun untuk masa studinya sebenarnya bisa lebih dari studi bachelor di Jerman yang memakan waktu 6 semester, sedangkan masa studi S1 di Indonesia secara regular 8 semester (bahkan ada yang sampai 14 semester, saya salah satunya, hehe). Maka seorang sarjana S1 lulusan Indonesia, jika dia berniat meneruskan studi master di Jerman, untuk bidang yang sama dengan studinya di Indonesia, ijazahnya dapat disetarakan dengan ijazah Bachelor. Itu pun biasanya hanya sedikit mata kuliah tertempuh yang diakui. Kalau dia ingin studi lanjut untuk jurusan yang berbeda, maka ijazah S1 nya tidak diakui, dan dia harus mengulang kembali dari studi Bachelor. Oh ya, sebagai tambahan lagi, sistem Bachelor dan Master sendiri di Jerman baru dilaksanakan sekitar tahun 2005/2006, sebelumnya Jerman hanya menganut sistem studi Magister (untuk ilmu-ilmu humaniora dan sosial) serta Diplom (untuk ilmu eksakta dan teknik). Tentang ini sudah pernah saya bahas di beberapa tulisan saya sebelumnya dalam blog ini juga.

Hal yang paling menarik perhatian saya, selain bagian kurikulum, tentunya bagian yang membahas tenaga pendidik di perguruan tinggi, karena saya ada di dalamnya, selain itu fokus kajian saya juga terletak pada interaksi dosen dan mahasiswa. Kalimat dalam paragraf pertama bagian ini langsung menohok saya. Disebutkan bahwa dalam banyak hal, kualitas tenaga pendidik di perguruan tinggi di Indonesia tidak memenuhi standar internasional. Sekali lagi lagi saya bertanya standar yang mana? Dibuat oleh siapa? Rasanya saya cukup banyak mengenal orang-orang yang secara kualitas bahkan lebih „baik“ dari tenaga-tenaga pengajar di Jerman (saya sempitkan dengan Jerman, karena di negara lain saya tidak tahu dan ukuran baik atau tidak baik juga relatif). Pertanyaan saya dijawab dalam kalimat berikutnya di bagian ini yaitu sebenarnya ada cukup banyak tenaga-tenaga pendidik yang bagus dan potensial serta memiliki kualifikasi yang tinggi, tetapi mereka seringnya dan biasanya “terjebak” atau –ini istilah saya- “dijebakkan”  dan di(ter)bebani oleh tugas-tugas struktural dan administratif, sehingga ini membatasi ruang gerak mereka untuk mengajar dan melakukan penelitian. Selain itu disebutkan pula bahwa kebanyakan dosen dari PTN juga mengajar di PTS, padahal sebenarnya banyak PTS yang justru memiliki tenaga pengajar sendiri yang kualitasnya juga lebih bagus. Ups!

Sampai di sini saya tidak bisa berkata-kata lagi. Ini bukan hal yang aneh dan baru sebenarnya, saya sudah tahu itu, karena ini juga terjadi di institusi saya sendiri. Tolong betulkan jika saya salah, karena jauh di lubuk hati saya (duh!) agaknya saya tidak mengharapkan hal semacam ini ditulis dalam buku ini. Saya berusaha mengabaikan dan menolak kenyataan bahwa hal ini hanya menjadi diskusi atau tepatnya misuh-misuh saya dan teman-teman dekat saya saja. Namun, sebagai orang yang sedang berusaha menjadi peneliti yang baik, saya tentunya „harus“ bisa menerima, bahwa kondisi ini juga diamati dan ditulis oleh orang lain, bukan? Saya berusaha objektif. Oke, ini memang kenyataan yang terjadi, ketika banyak tenaga potensial „dikebiri“ dengan dijadikan „tenaga administratif“, yang sebetulnya bagian ini juga bisa dilakukan oleh tenaga-tenaga profesional dan potensial lain di bidang ini. The right man in the right place. Ini yang di(ter)abaikan oleh sistem, diakui atau tidak diakui. Padahal jika mengacu kepada undang-undang tentang sistem pendidikan nasional tahun 2003, tugas tenaga pendidik adalah merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, bukan melakukan kegiatan administrasi yang sudah menjadi tugas tenaga kependidikan. Jangan-jangan jadinya malah mengambil jatah dan tugas orang nih, hehe.

Tenaga pendidik perguruan tinggi juga terikat pada apa yang disebut tri dharma perguruan tinggi, yang dalam beberapa diskusi sudah diperdebatkan apakah harus dilaksanakan oleh setiap orang atau justru sebaiknya dilakukan oleh universitas secara umum. Pengejawantahannya mungkin bisa dengan cara membagi mana tenaga pendidik yang khusus melakukan penelitian, mana yang mengajar, mana yang memiliki kompetensi administratif dan struktural yang dapat menjembatani pengabdian pendidikan tinggi kepada masyarakat . Saling mendukung dan sinergis antara penelitian dan pengajaran, karena menurut saya tujuan akhir dari semua itu toh untuk diabdikan kepada masyarakat dan untuk kemaslahatan umat (duh, bahasanya nih, hehe). Sayangnya, ini pengamatan subjektif saya saja, ketiga dharma ini diharapkan dilakukan oleh masing-masing tenaga pengajar, tetapi deskripsi „tugas“nya dipisah-pisahkan dengan jelas: meneliti adalah meneliti, mengajar adalah mengajar, pengabdian kepada masyarakat adalah misalnya terjun ke desa-desa. Sempit. Saya suka iseng bertanya: memangnya kalau saya mengajar dengan baik itu artinya saya tidak mengabdikan diri saya untuk masyarakat? Atau saya juga pernah ngedumel, pantas saja ada beberapa penelitian yang mengawang-awang tidak menyentuh bumi, karena tidak dihitung sebagai pengabdian kepada masyarakat sih, hehe. Tolong betulkan ini juga jika pengamatan dan „omelan“ saya salah, karena saya sampai saat ini hanya bisa mengamati institusi saya sendiri, siapa tahu di tempat lain berbeda.

Oke, berhenti di sini dulu deh. Banyak juga. Besok saya lanjutkan lagi dengan tujuan dan tugas pendidikan tinggi yang kemudian diimplementasikan pada kurikulum. Oh ya, curcol juga sebentar,  tampaknya saya masih belum bisa menjadi peneliti yang baik, karena saya masih sering tidak bisa „berjarak“ dan „objektif“ dengan kajian saya, masih sering terbawa emosi, karena ternyata mengkaji „rumah“ sendiri itu seperti mengorek-ngorek luka sendiri: painfull. Salah sendiri ya, milihnya tema beginian, hehehe.

Saling Silang: Sebuah Catatan dari Survey tentang Guru dan Mahasiswa

Sedang bosan dengan transkripsi dan menganalisis struktur percakapan, saya beralih dulu ke bagian lain penelitian saya, yaitu tentang konteks sosiokultural dari data yang saya miliki. Melihat unsur verbal dan nonverbal saat seorang dosen dan mahasiswa berinteraksi memang menarik, tapi melihat apa yang ada di balik suatu setting percakapan itu lebih menarik lagi. Bagaimana ternyata faktor budaya, kebiasaan, normalitas dalam suatu masyarakat, mungkin juga politik bisa memberikan kontribusi saat orang berinteraksi. Apalagi interaksi yang terjadi pada orang dari dua budaya yang sangat berbeda. Miskomunikasi cukup sering terjadi, dan itu bukan semata karena faktor bahasa yang berbeda, tapi lebih dari itu. Faktor psikologis tidak terlalu saya sentuh dalam penelitian saya, karena saya bukan pakar di bidang ini.

Semalam saya „iseng“ membuat survey sederhana tentang gambaran orang-orang tentang mahasiswa di Indonesia dan imagi apa yang muncul saat mereka mendengar kata „mahasiswa“. Tidak diduga, jawaban-jawaban yang muncul sangat bervariasi dan semuanya menarik. Dari mulai mahasiswa yang identik dengan indomie (gambaran umum tentang mie instant), anak kos, naksir anak ibu kos, sampai ke buku, kecengan, pesta, demo, idealis, pintar, malas, narsis, gaul, (sok) dewasa, egois, lalu muncul juga „menara gading“, tidak pintar, senang bersenang-senang, aktif di organisasi, kerja sampingan dll. Yang menarik lagi, gambaran itu (sementara) muncul dari mereka yang sudah bukan mahasiswa lagi. Kalaupun ada mahasiswa yang berkomentar itu adalah mahasiswa S2 dan S3 yang rata-rata sudah punya pengalaman kerja. Mereka rata-rata menjadi mahasiswa di sekitar tahun 90an sampai awal 2000an (perhatikan kosa kata yang muncul seperti kecengan, demo, narsis, dll.). „Keberjarakan“ mereka dengan masa saat mereka menjadi mahasiswa membuat mereka memandang mahasiswa dari sisi nostalgis yang „dibenturkan“ pada realita yang dihadapi sekarang. Sementara ini saya sedang mengelompokkan dulu imagi-imagi yang datang dari teman-teman yang berkomentar, sambil mengharapkan ada komentar dari mahasiswanya sendiri (dalam hal ini mereka yang masih menjadi mahasiswa S1). Saya penasaran bagaimana mereka memandang dan mendefinisikan „peran“ mereka sebagai mahasiswa.

Survey yang kurang lebih sama, tetapi dengan cara yang lebih serius, pernah saya, atau tepatnya kami, lakukan untuk guru-guru kimia SMA di Bandung, Balikpapan dan Samarinda. Saat itu saya terlibat dalam proyek kerjasama pendidikan kimia antara Universitas Bayreuth, UPI Bandung, SMA 3 Bandung dan Unmul Samarinda dan salah satu SMA di Balikpapan (saya lupa nama SMA-nya). Pertanyaan-pertanyaan dalam kuesioner lebih difokuskan pada hal motivasi mereka menjadi guru dan masalah metodik-didaktik. Menarik untuk melihat alasan para guru itu menjadi guru. Jawaban yang muncul kurang lebih begini, mereka menjadi guru karena: merasa memiliki tanggung jawab moral kepada generasi penerus, keinginan dan permintaan orang tua, tuntutan jiwa, kurangnya tenaga guru di daerahnya, keinginan diri sendiri, menjadi guru itu menyenangkan dan membuat mereka bisa dekat dengan murid serta bisa mengetahui karakter mereka, kebetulan, ingin mendidik generasi muda menjadi lebih baik dan ingin menransfer ilmu,

ingin lebih mendalami bidang ilmunya, sudah jadi cita-cita sejak dulu, ikut teman, latar belakang keluarganya yang juga guru, sesuai dengan jurusan dia saat kuliah, guru adalah pekerjaan yang menarik, menjadi guru adalah satu-satunya peluang untuk bisa cepat mendapat kerja sesuai dengan latar belakang pendidikan, untuk mengembangkan ilmu pengetahuan, ingin bekerja dan lowongan yang ada hanyalah lowongan menjadi guru, ingin beribadah dan bekerja,

guru adalah pekerjaan yang mulia, ingin mengabdi kepada nusa dan bangsa, terpaksa karena menjadi guru bukanlah tujuan utama, ingin mencerdaskan dan menanamkan nilai-nilai budi pekerti kepada anak bangsa, untuk memenuhi kebutuhan ekonomi, ingin mencapai kepuasan batin, dan untuk mengisi formasi guru.

Saya memang tidak bisa menggeneralisasikan jawaban-jawaban di atas, karena mereka hanya sedikit wakil dari banyak guru di Indonesia. Namun, terus terang, saat saya membaca jawaban-jawaban tersebut, saya merasa sedih dan teriris. Betapa tugas menjadi guru akan menjadi sedemikian berat jika mereka “dibebani“ tujuan-tujuan dan „tanggung jawab“ yang kebanyakan datangnya dari luar. Mengabdi kepada negara. Imbalan apa yang didapat dengan pengabdian mereka puluhan tahun? Mencerdaskan anak bangsa? Bisakah dengan buku-buku yang tak terjangkau harganya dan uang sekolah yang melonjak? Memiliki tanggung jawab moral kepada generasi penerus? Guru bukan Atlas yang menanggung dunia. Pun jika pada akhirnya generasi penerus itu hancur karena untuk pergi ke sekolah pun mereka tak punya uang. Karena di rumah pun mereka tidak mendapat kasih sayang dan pendidikan yang cukup dari orang tuanya. Kenapa “beban berat dunia” itu seakan dibebankan kepada guru semata? Apa yang didapat guru itu? Sangat sedikit. Padahal, guru juga perlu hidup. Guru pun bisa merasa lelah dan capek.

Tujuan mulia itu akhirnya lambat laun menghilang, digantikan dengan ikut teman, mengisi formasi, lowongan kerja yang ada hanya menjadi guru, agar bisa cepat dapat kerja, ikut keinginan orang tua. Apakah ada niat yang kuat dari itu? Tidak ada. Pekerjaan hanya sekedar pekerjaan. Tanpa jiwa. Tanpa cinta. Semua dilakukan karena orang lain. Bukan untuk dirinya. Bagaimana dengan kepuasan batin dan tuntutan jiwa atau keingintahuan yang lebih banyak terhadap manusia lain di hadapannya atau memperdalam ilmunya? Ada juga, tapi sangat sedikit dari sekian banyak guru yang mengisi kuesioner itu. Aktualisasi diri. Itu yang hilang.

Akibatnya apa? Akibatnya semua dilakukan sekedarnya. Bahan disampaikan. Selesai. Apakah anak mau mengerti atau tidak, itu urusan lain. Itu terlihat dari jawaban untuk pertanyaan tentang persiapan apa yang mereka lakukan saat akan mengajar, bagaimana metode yang mereka pakai dan apakah mereka terpaku pada kurikulum baku atau mencoba berekspresi sendiri sesuai dengan kebutuhan kelas dan muridnya. Hampir semua melakukan persiapan hanya 50 %, mereka tidak tahu pasti apa yang mereka harus “tampilkan”, berpatokan baku pada kurikulum, yang penting adalah bahan tersampaikan. Tidak bisa disalahkan kenapa begitu. Ada banyak alasan, yang membuat mereka tidak sepenuhnya ada dalam pekerjaan mereka. Mereka hanya punya pekerjaan itu, tapi mereka tidak ada di dalamnya. Dari sisi tujuan saja sudah tampak jelas, belum lagi factor-faktor lain. Terutama faktor ekonomi. Tak bisa ditawar. Hidup sudah cukup keras. Memikirkan orang lain? Murid? Orang tua yang mampu bisa membayar untuk les tambahan. Kalau orang tuanya tidak mampu? Tidak usah pergi sekolah. Mahal.

Yang kemudian terjadi adalah saling silang yang rumit. Masalah tidak terselesaikan. Kurikulum yang sudah cukup bagus tidak bisa tersampaikan dengan baik karena gurunya tidak memiliki tujuan dan kompetensi yang memadai. Kenapa? Kuliah saja susah, prakteknya saja kurang. Buku-buku penunjang saja sulit. Padahal, di era teknologi sekarang ini, jika guru tidak terus menerus menambah ilmunya dan tidak terus mengaktualisasikan diri, murid-murid yang punya kesempatan dan sarana seperti komputer dan internet bisa menjadi lebih pintar dari gurunya. Apakah kemudian guru tetap menjadi “pelita dalam kegelapan” atau “embun penyejuk dalam kehausan”. Mungkin kata guru bisa disubstitusi dengan internet. Bukankah menyedihkan? Tapi bagaimana bisa mengembangkan diri kalau uang gaji pun hanya cukup untuk ongkos pulang pergi ke sekolah atau kampus dalam seminggu? Bukankah masih ada tiga minggu yang lain yang harus dijalani untuk pulang dan pergi? Bukankah guru juga harus makan dan tetap sehat?

Jika kita lihat kembali pandangan orang tentang mahasiswa (sekali lagi saya masih mengharapkan ada komentar dari mahasiswa), tampaknya ada kesenjangan yang besar pada relasi (saat ini masih pada) mahasiswa dan guru (dalam hal ini dosen). Sementara kita tahu, dalam konteks institusi pendidikan keterkaitan antara pemerintah sebagai pelaksana politik pendidikan, kurikulum, guru (juga dosen), mahasiswa dan masyarakat itu sangat erat. Tentu saja seharusnya (tidak lagi hanya bisa diharapkan) ada relasi yang baik dan salng mendukung untuk mencapai sistem pendidikan yang „ideal“. Kalau yang terjadi masih silang sengkarut, tampaknya perbaikan sudah mendesak untuk dilakukan.

Bayreuth, 180111

Ruang

Menurut kamus besar bahasa Indonesia ruang kurang lebih bermakna sela-sela antara dua (deret) tiang atau sela-sela antara empat tiang (di bawah kolong rumah)atau rongga yang berbatas atau rongga yang tidak berbatas, tempat segala yang ada. Agak tidak jelas memang pengertiaannya. Terasa semakin mengabstrakkan makna ruang yang memang sudah abstrak. Yang jelas, dari pengertian di atas, bisa disimpulkan bahwa ruang berhubungan dengan sesuatu atau tempat yang kosong, yang berada di antara sesuatu.

Pada akhirnya makna ruang meluas dan istilahnya pun semakin bertambah. Dalam perkembangannya dikenal pula istilah ruang pribadi dan ruang publik yang muncul secara metaforis untuk menunjukkan dan memberi batas antara diri pribadi dan publik. Jika pengertian ruang dalam kamus besar bahasa Indonesia  cukup jelas dan nyata batasannya (sela di antara dua deret tiang atau di antara empat tiang), maka dalam istilah ruang pribadi dan ruang publik sangat kabur batasannya. Pribadi itu apa dan siapa? Publik itu apa dan siapa? Apa yang dibatasi dan sampai sejauh mana batasannya? Batasannya pun berupa apa? Pada kenyataannya semua menjadi sangat bias dan relatif. Irisannya pun tidak jelas.

Saya bisa berkata bahwa di tempat tinggal saya ada „ruang“ publik dalam makna banyak orang bisa masuk (tapi tidak semua orang), misalnya di ruang tamu, tetapi saya juga punya „ruang“ pribadi yang tidak bisa dimasukin oleh semua orang, misalnya „ruang“ tidur saya. Itu ruang yang berhubungan dengan makna tempat dengan batas dinding atau tiang tadi. Mengapa saya tidak mengijinkan semua orang masuk ke ruang tidur saya, misalnya? Karena ada hal-hal yang sifatnya intim dan personal yang berhubungan dengan “ruang” tubuh, hati, dan pikiran saya yang “dibatasi” oleh misalnya kerangka badan saya, pakaian saya, tempat tidur, sampai ke cara saya berpikir dan merasa. Bahkan ruang pribadi seperti ruang tidur itu pun masih “dibatasi” dan dibagi” menjadi ruang-ruang lainnya. Saat ini saya tinggal di satu apartment berbentuk studio dengan pembagian ruang yang tidak terlalu kentara. Namun, saya membatasinya secara sadar tidak sadar dengan menempatkan buku-buku yang berhubungan dengan pekerjaan saya jauh dari tempat tidur, meja yang di atasnya disimpan makanan dan alat-alat makan dekat dengan arah dapur dan kamar mandi yang lebih privat. Pembagian itu membuat saya merasakan hal yang berbeda setiap saya berada di “ruang-ruang” yang tidak seberapa besar tadi dan tidak jelas batasnya. Jika saya duduk di kursi dengan meja cukup besar, di atas meja ada lampu baca, laptop, di sebelah meja ada rak buku, saya selalu merasa “harus” bekerja. Di tempat tidur tentu lain lagi rasanya. Mengingat ruangan berbentuk studio yang tidak begitu besar tadi, saya misalnya tidak bisa meracik bahan masakan dengan nyaman di atas meja kerja, sehingga saya lebih suka melakukannya di dapur (yang juga tidak besar) atau di atas meja “makan”. Sadar tidak sadar saya lakukan. Ruangan yang tidak besar itu juga memungkinkan “ruang pribadi” saya yang abstrak dimasuki oleh orang lain, tentunya dengan ijin saya. Jika saya tidak ijinkan, maka saya bisa dengan mudah tidak membukakan pintu masuk ruang saya.

Saya merasa perlu memberikan batas-batas pada ruang pribadi dan ruang publik. Bahkan kalau misalnya di kereta pun, sadar atau tidak sadar saya meletakkan misalnya tas atau jaket di samping saya sebagai batas. Ah, tidak usah terlalu rumit, pakaian pun bisa jadi pembatas “ruang”, saya rasa. Saya juga akan merasa teriritasi jika ruang-ruang pribadi saya dimasuki orang lain tanpa ijin. Masuk lewat cara apapun, bahkan lewat kata atau kalimat, karena ternyata kata dan kalimat bisa pula menjadi pembatas “ruang”. Misalnya dengan kalimat yang berisi pertanyaan atau pernyataan yang berhubungan dengan hal-hal yang bersifat pribadi seperti uang, perasaan, kepercayaan, dll.  Itu saya. Dan dalam banyak hal saya merasa beruntung karena saya masih bisa membatasi dan membagi ruang-ruang saya seperti yang saya mau. Beberapa orang tidak punya keberuntungan itu.

Belakangan ini saya merasa sangat terganggu dengan pemberitaan di hampir semua media massa di Indonesia yang merasa berhak masuk pada ruang pribadi mereka yang disebut „publik figur“, seolah „ruang pribadi“ milik si „figur“ itu adalah ruang pribadi „publik“ juga. Ruang yang berhak diacak-acak dan diobrak-abrik tanpa ijin dengan alasan agama, moral, etika, sopan santun, adat istiadat, penyelamatan generasi muda penerus bangsa, dll.  Serbuan yang tiba-tiba atas ruang pribadi si figur oleh publik membuat si figur tampak tak mungkin lagi mengelak dan menutup pintu ruangnya untuk menahan serangan bertubi yang muncul tidak hanya dari publik yang tidak tahu apa-apa sampai dari publik yang sok tahu apa-apa. Ditambah lagi „media massa“ yang seolah merasa jadi tuhan yang punya kuasa lebih untuk menentukan siapa yang salah dan siapa yang benar, siapa yang berhak mati dan siapa yang berhak hidup. Pintu si figur dibuka paksa, si figur dilempari dan dirajam habis, mungkin juga dibakar dan dibunuh. Sadar atau tidak sadar. Si figur sudah bersalah, sudah berbuat nista, sudah menghancurkan generasi bangsa, sudah mencoreng nama baik kota yang agamis, sudah melanggar susila. Siapa yang berhak menentukan itu? Siapa yang berhak menilai itu? Atas dasar apa penilaian salah tidak salah, agamis tidak agamis, susila asusila itu? Batasannya apa? Siapa merugikan siapa? Apa merugikan apa?

Saya sadar bahwa ruang pribadi pun beririsan erat dengan ruang publik, karena manusia memang hidup secara sosial, tidak sendirian. Namun, rasanya setiap pribadi berhak pula untuk menjaga ruang pribadinya sepanjang tidak merugikan pribadi-pribadi yang lain secara langsung atau tidak langsung. Dan ini juga sifatnya relatif. Dalam kasus si figur yang katanya melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan agama dan moral, adat istiadat bangsa, yang merusak akhlak generasi muda, siapa sebenarnya yang terganggu dan dirugikan? Ini menjadi kasus yang massal karena „dipublikasikan“, dimassalkan. Ruang pribadi sudah jadi ruang publik. Siapa yang melakukan dengan maksud apa, saya tidak peduli. Yang saya peduli adalah reaksi dan tindakan „publik“ dalam menyikapi ruang pribadi yang dibuka(kan) itu, terutama tindakan dari pribadi-pribadi yang merasa dirinya jadi wakil dari „publik“, yang merasa dirinya lebih „bijak“ dan punya kuasa untuk menilai dan memutuskan orang lain salah dan benar.  Apakah sebaiknya mereka tidak mengurusi saja ruang „publik“ yang sudah nyata-nyata untuk dan milik publik? Apakah sebaiknya ruang pribadi tetap menjadi milik pribadi saja, tidak perlu dan tidak berhak dicampuri oleh pribadi-pribadi lain, apalagi oleh publik? Saya terganggu, saya muak, saya marah, dan saya merasa miris -sebagai pribadi yang juga punya ruang yang ingin saya jaga- saat melihat ruang pribadi diobrak-abrik dengan mudah dan semena-mena oleh pihak-pihak yang mengatasnamakan „publik“. Melihat ini saya jadi berpikir dan merasa, jangan-jangan Tuhan mungkin tidak akan marah seperti saya (karena Tuhan Maha Penyayang, bukan seperti saya yang manusia, karena saya masih pemarah), tapi Dia hanya akan tertawa melihat manusia-manusia yang diciptakanNya sibuk berlagak jadi tuhan yang sok bisa menghakimi manusia-manusia lainnya, yang sibuk menjagaNya, padahal Dia yang sebenarnya Maha Menghakimi dan Menjaga.

Ruang: sela di antara batas. Sayangnya dalam kamus besar Bahasa Indonesia juga bermakna: rongga tak berbatas. Semua merasa berhak berdesakan di dalamnya. Saya harus pergi, mencari ruang untuk bernafas. Sudah terlalu sempit di dalam. Pengap.

Bayreuth, 170610

13:33

Tentang Bimbingan dan Konsultasi

Sudah lewat beberapa lama, tetapi catatan tentang proyek pengambilan data untuk kepentingan penelitian saya baru saya buat sekarang. Itupun karena deadline harus dipresentasikan besok dan saya selalu merasa lebih mudah mengungkapkan pikiran saya dalam bahasa Jerman, jika sebelumnya sudah saya keluarkan dulu dalam bahasa Indonesia dalam bentuk tulisan tak ilmiah ini. Hal ini saya lakukan juga saat saya menulis tesis dan menjelang ujian sidang.

Jadi, saya berencana meneliti interaksi antara dosen Jerman dan mahasiswa  Indonesia saat jam konsultasi atau bimbingan di jurusan-jurusan Jerman di Indonesia. Tujuan saya melakukan penelitian ini adalah untuk melihat kekhasan pola interaksi yang terjadi dalam proses konsultasi dan bimbingan tersebut serta problematika yang muncul saat proses interaksi terjadi pada percakapan. Kekhasan dan problematika ini akan dikaji secara etnografis (melokalisasi konteks interaksi), analisis percakapan (korpus penelitian adalah percakapan yang direkam secara audio-visual), dan Theorie der kommunikativen Gattung (terjemahan yang “tidak tepatnya” adalah theory of communicative genre) dari Knoblauch, Günthner (1997).  Mengingat partisipan percakapan mewakili latar belakang budaya yang berbeda, maka kajian akan difokuskan pula pada kajian komunikasi lintas budaya. Kaitan kepada kajian ini juga sebenarnya lebih karena saya masuk ke jurusan Interkulturelle Germanistik, di mana komunikasi dalam bahasa Jerman dengan partisipan orang Jerman menjadi titik berat.  Kalau boleh jujur saya sebenarnya lebih senang berada di area netral ilmu murninya, yang tampaknya tidak terlalu berpihak, tetapi tampaknya juga tidak bisa, karena saya tetap harus menentukan sikap akan berada di mana, tentu pilihan ini –sayangnya- harus disertai argumen-argumen yang logis dan “ilmiah”.

Mengapa saya sampai ke tema itu? Pertama karena saya berkecimpung dalam bidang pendidikan dan saya melakukan kegiatan yang saya teliti: sebagai pembimbing dan sebagai yang dibimbing, sebagai konsultan dan sebagai yang mencari dan butuh saran, saya dosen dan juga mahasiswa, saya bicara bahasa Indonesia dan juga bahasa Jerman, saya bekerja di Indonesia dan kuliah di Jerman. Pengalaman-pengalaman ini membuat saya selalu berada di dua area yang berbeda, ke sana ke mari. Saya melakukan, saya mengalami, saya tahu, saya mengerti, saya paham bahwa ada yang sama dan ada yang berbeda dari kedua proses: membimbing dan dibimbing, baik di Indonesia maupun di Jerman. Ada pola interaksi yang khas dengan penggunaan unsur-unsur linguistik dan paralinguistik yang juga khas, ritual-ritual yang sadar tak sadar sudah diinstitusionalkan, tetapi juga ada unsur pendukung psikososiopragmatik bahkan budaya, yang tak bisa dilepaskan dari konteks interaksi.  Kedua, karena saya melihat belum ada kajian empiris tentang hal ini dalam konteks interaksi Indonesia-Jerman di lingkup universitas. Ketiga, dari temuan empiris tadi diharapkan menjadi awal untuk pengembangan hal-hal yang bersifat praktis di kemudian hari untuk bidang pengajaran, pendidikan dan konsultasi.

Knoblauch-Günther mengungkapkan tiga tataran analisis untuk melihat genre satu proses komunikasi atau interaksi, yaitu: tataran mikro (register, tata bahasa, gaya bahasa, mimik, gestik dan faktor nonverbal lainnya), tataran interaksi (proses alih tutur, reparasi, jeda, tawa, dll), dan tataran makro (latar belakang sosial, budaya, agama, pendidikan, dll). Dalam kenyataannya, saya rasa ketiga tataran ini memang menjadi fokus kajian wacana mutakhir, bahkan disertai dengan ulasan kritis terhadap suatu wacana yang diusung oleh teks atau percakapan. Analisis wacana kritis dijadikan pisau bedah untuk mengungkap lebih dalam hal-hal yang tersembunyi di balik satu wacana dalam bentuk teks atau percakapan. Saya belum sampai ke sana, walaupun dari pengalaman saya dan data empiris yang saya dapat, hal-hal tersembunyi tersebut sudah mulai menampakkan diri. Namun, saya harus membatasi diri dulu. Mengupas ketiga tataran itu saja sudah banyak.

Lalu, mengapa percakapan Indonesia-Jerman dan Jerman-Indonesia? Alasan utama tentu saja karena saya adalah orang Indonesia berbahasa ibu bahasa Sunda dan bahasa Indonesia,  yang menghidupi diri dan berkecimpung dalam bidang pendidikan bermedium bahasa Jerman, saya melakukan studi lanjut di Jerman, berinteraksi dengan orang dan budaya Jerman dengan bahasa Jerman, namun tetap tak bisa lepas dari identitas saya (identitas dalam makna sempit) sebagai orang Indonesia. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah: Indonesia yang mana? Bicara tentang Jerman lebih mudah untuk saya. Dari segi geografis, Jerman hanya punya satu daerah. Bahasanya pun sama: bahasa Jerman, dengan beragam variasi dialek, namun tetap itu bahasa Jerman. Dengan demikian, budaya Jerman pun cenderung homogen. Budaya dalam konteks ini adalah budaya yang luas, mulai dari cara berpikir,  bertindak serta berlaku. Sedangkan jika saya bicara tentang Indonesia maka saya tidak bisa mengkategorikan Indonesia sebagai gabungan dari Sumatera, Jawa, Bali, Kalimantan, Sulawesi, Papua, Nusa Tenggara. Indonesia itu khas. Khas oleh bahasanya, budayanya, cara berpikir, cara hidup serta bertindak. Jika saya memilih sampel subyek penelitian di Jawa, maka itu rasanya belum mewakili Indonesia. Jawa pun Jawa yang mana? Jawa Barat, Jawa Tengah atau Jawa Timur? Sulit untuk mendefinisikan Indonesia.

Akhirnya dengan beragam pertimbangan, saya memutuskan mengambil data penelitian di Jawa. Pertimbangannya –sayangnya masih atas pertimbangan faktor “Jerman”- native speaker Jerman untuk jurusan Jerman di Indonesia saat ini hanya ada di universitas-universitas di Jawa, yaitu di Jakarta (UI dan UNJ), Bandung (Unpad) dan Malang (UM). Masalah penempatan native speaker ini juga menarik untuk diamati, mengapa mereka hanya ditempatkan di Jawa, bukan di luar Jawa? Pertimbangan lainnya adalah masalah waktu dan dana. Alangkah menyenangkan dan membuat data semakin akurat sebenarnya jika saya bicara tentang Indonesia dan saya mengambil sampel data di seluruh pulau di Indonesia. Namun, ini akan menjadi kerja gila-gilaan yang tidak mungkin saya lakukan sendiri. Keterbatasan waktu dan dana untuk mengambil data, membuat saya hanya bisa berkeliling Jawa.  Demikianlah saya sampai pada proses pemilihan data.

Pertengahan Januari sampai pertengahan Maret 2010 saya berada di Indonesia untuk memulai proses pengambilan data ini. Awalnya saya berpikir akan mudah, mengingat saya masuk ke area teman-teman dan kolega saya sendiri. Namun, ternyata tidak semudah itu. Saya berusaha berkorespondensi untuk meminta ijin merekam dan mengatur jadwal pengambilan data dari Jerman, dengan pertimbangan waktu dan dana yang tidak banyak tadi, sehingga saya harus mengatur waktu dan keuangan seefektif mungkin. Namun, hal ini tidak berhasil dilakukan. Saya yang berada di “dua dunia” mengerti benar masalah seperti ini. Pengalaman saya dan „harapan“ saya bahwa perencanaan awal dengan orang-orang Jerman akan berlangsung lebih mudah dan cepat seperti biasa terjadi di Jerman, ternyata tidak berfungsi. Dengan pihak Indonesia saya juga tidak berharap banyak. Beruntung sebelum mulai proses pengambilan data saya mengikuti seminar  yang diikuti oleh dosen-dosen jurusan Jerman se Indonesia, termasuk native speaker Jermannya sendiri. Dalam seminar itu saya mendapat kesempatan untuk melakukan lobby secara  personal pada mereka, menerangkan apa yang saya lakukan, dan meminta ijin pada mereka untuk mengambil data di tempat mereka bekerja. Native speaker langsung mengiyakan, dengan catatan saya harus minta ijin dulu ke ketua jurusan tempat mereka bekerja. Ketua jurusan-ketua jurusan yang kebetulan sudah saya kenal juga secara pribadi juga –pada prinsipnya- mengijinkan, hanya saya diminta membuat surat resmi yang ditujukan kepada dekan untuk meminta ijin  pengambilan data. Ini yang saya lupa, surat menyurat di atas kertas masih memegang peranan penting di Indonesia. Namun, hal ini saya pikir penting juga, karena keberadaan saya di institusi-institusi yang akan saya rekam datanya menjadi resmi. Ada bukti hitam di atas putih.

Kendala mulai terlihat, saat native speaker itu tidak memiliki jadwal jam bicara dan konsultasi yang pasti, seperti yang ada dalam “budaya universitas” di Jerman, di mana dosen seminggu sekali menyediakan waktu antara 1 sampai 1,5 jam di ruangannya untuk melayani mahasiswa yang datang untuk berkonsultasi. Tema konsultasinya beragam, dari mulai membahas tugas perkuliahan dan tugas akhir, menanyakan hal-hal yang tidak dimengerti dalam perkuliahan, sampai ke masalah yang bersifat administratif akademis. Konsultasi dan jam bicara dalam konteks Jerman sudah diinstitusionalisasi menjadi genre komunikasi yang baku. Karena ini adalah percakapan institusional, maka area pribadi (baik itu secara ruang, waktu dan tema percakapan)menjadi hal yang lepas sama sekali. Berbeda dengan di Indonesia. Konsultasi, bimbingan bisa terjadi di manapun, tidak hanya di kampus ( di kelas atau di ruang jurusan), tapi bisa di rumah, cafe, kantin, halte bus, bisa di bawah pohon, bisa sambil jalan dari ruang kelas menuju ruang jurusan, dll. Menarik untuk diamati, bahwa di Indonesia tidak ada pembagian yang jelas antara institusi dan ruang pribadi. Semua mengalir melintas batasan itu, namun justru di sinilah proses bimbingan dan konsultasi berjalan „seperti yang diharapkan“ kedua belah pihak. Jangan-jangan jika dosen-dosen itu (baik Indonesia dan Jerman) memiliki jam dan ruang konsultasi khusus, tidak akan pernah ada mahasiswa yang datang untuk berkonsultasi. Saya pernah bereksperimen dengan hal ini dan memang terbukti bahwa tidak ada satupun mahasiswa yang datang di jam dan tempat konsultasi yang saya tentukan. Mereka lebih senang bertanya kepada saya di ruang kuliah setelah perkuliahan usai. Native speaker di Malang memiliki ruang kerja khusus dan jam konsultasi khusus, tapi tidak pernah ada mahasiswa yang datang di jam-jam tersebut. Native speaker di Unpad pun lebih banyak menganggurnya di jam dan tempat konsultasi khusus yang dia pasang.

Relasi antara dosen dan mahasiswa memang tidak setara. Ketidaksetaraan relasi ini bisa terlihat dari elemen-elemen verbal dan nonverbal yang dipakai, dan akan semakin kentara jika faktor ruang dan waktu diperhatikan. Ruang jurusan atau ruang kerja dosen adalah ruang „milik“ si dosen. Dia punya kendali atas ruang itu, siapa yang boleh memasukinya dan siapa yang harus keluar darinya. Penempatan barang, meubel di ruang kerja juga biasanya bersifat formal dan fungsional. Di luar ruang itu, sekat ini sedikit lebih cair, karena sifatnya yang lebih netral: halte bis adalah milik umum, demikian juga cafe dan kantin, sedangkan ruang kelas adalah „ruang bersama“. Rumah, walaupun milik si dosen, sifatnya lebih pribadi dan intim, sehingga biasanya dosen pun akan bersikap agak berbeda saat dia di rumah dan di tempat kerja. Waktu di tempat kerja terbatas, sedangkan di luar orang bisa lebih leluasa mengatur waktunya. Cairnya batas-batas ruang dan waktu di Indonesia ini justru menjadi salah satu faktor lancarnya proses bimbingan dan konsultasi. Namun, pada tataran verbal tetap bisa terlihat jelas ketidaksetaraan relasi ini, mengingat fungsi dosen dalam hal ini sebagai pemberi informasi dan konsultan, dan mahasiswa sebagai pencari informasi dan yang butuh konsultasi. Transfer ilmu, pengalaman, dan pengetahuan biasanya terjadi satu arah.

Di Jerman, ada pemisahan yang sangat jelas antara ruang kerja dan ruang pribadi. Hambatan-hambatan psikologis karena faktor ruang ini menghambat kebanyakan mahasiswa (terutama mahasiswa asing yang tidak berpengalaman dengan „genre“ ini dan tentu saja punya hambatan bahasa) untuk bisa dengan nyaman datang ke ruang bicara dosennya. Namun, biasanya untuk para penutur asli, sekat ruang ini bisa dicairkan lewat ujaran-ujaran verbal yang –dalam konteks budaya dan cara tutur mereka- cenderung lebih bebas dan terbuka. Berhasilkah proses interaksi ini? Belum tentu. Ketaksetaraan relasi ternyata berlaku di manapun, hanya kadarnya mungkin berbeda. Ini bisa terlihat dari pola-pola ujaran yang dipakai serta pola interaksi di tataran mikro. Misalnya dengan melihat alih tutur, penyelaan, intonasi, yang untuk konteks mikro bisa dikaitkan dengan relasi kuasa.

Bersambung

Berhenti dulu ah, waktunya tidur, sudah lewat tengah malam. Sedang semangat memang, tapi saya tidak mau „dikendalikan“ oleh semangat itu, yang bisa menyebabkan tubuh saya protes. Kali ini saya ingin tubuh saya yang akan „mengendalikan“ semangat saya. Dan saya sudah berjanji untuk berhenti menjadi masokis yang memakai kedok intelektualitas. Hehehe. Dilanjut besok, dengan catatan kalau tidak malas.