Malaysia #4

Hujan benar-benar tak berhenti. Saat kami beranjak pergi meninggalkan appartement pun hujan masih turun. Rencana kami hari itu adalah Kuala Lumpur. Beli sedikit oleh-oleh. Tujuan utama saya sih hanya dua: Kinokuniya dan Starbucks. Yang lain, kalau sempat.

Rombongan berpisah di KL Sentral. Sebagian langsung menuju Sungei Wang, sebagian lagi ke KLCC menuju Kinokuniya. Ani, Iqbal, dan saya masuk ke rombongan kedua. Sempat berputar mencari dulu ketika sampai di KLCC, kemudian menemukan Kinokuniya yang besar itu. Duh, langsung kalap deh. Tidak bisa menahan diri berada di toko buku sedemikian besar. Ani langsung menuju ke bagian buku-buku pelajaran dan pengajaran bahasa. Dia mencari buku-buku pelajaran dan pengajaran Bahasa Rusia. Iqbal dan saya menuju ke bagian Linguistik, Psikologi dan Filsafat. Duh, duh, untuk urusan buku kami memang agak di luar nalar. Sebelum ke Kinokuniya kami sempat mampir ke Hush Puppies, lihat-lihat sepatu, dan masih berpikir ulang ketika melihat harganya, kemudian memutuskan tidak jadi membelinya padahal masih dapat discount. Namun, buku-buku yang kami beli ada yang berharga lebih dari harga sepatu itu. Dan saat menyangkut buku, kami bisa jadi dua mephistopheles. Saling membujuk dan tak tahan dibujuk: untuk membeli. Hiks, karena dana terbatas, akhirnya dikompromikan: saya beli buku yang dia juga ingin baca, begitu juga sebaliknya. Tidak terlalu sulit memang, karena selera dan area minat kami sama. Hanya saja untuk urusan buku tiba-tiba suka mendadak jadi pelit dan posesif. Kalau tidak punya sendiri itu rasanya kurang afdol, hehe. Setelah hitung sana sini, pertimbangan ini itu, sambil terduduk-duduk di lantai dan memiring-miringkan badan pula (duh, saya kok jadi ingat adegan Forrest Gump sedang menonton TV dengan anaknya: posisi badannya sama, miring ke sebelah kanan), jadilah 6 buku yang kami beli. Temanya berkisar pada discourse analysis, nonverbal communication, billingualism, art therapy, cognition dan phenomenology existentialism. Itu hasil negosiasi kami, supaya bisa saling tukar.

Sekitar dua jam kami ada di Kinokuniya. Tak terasa, padahal niatnya cuma sebentar, karena kami mengejar waktu. Eits, tapi mana mungkin sebentar: di toko buku gitu lho. Itu pun bagian yang lain tidak kami jelajahi. Terlalu berbahaya. Setelah membayar, kami segera berlalu cepat-cepat. Baru terasa lapar deh. Ke foodcourt di lantai empat, kami langsung pesan nasi biryani. Hmm, enak. Selesai, tujuan berikutnya adalah Starbucks. Tak lama pula di sana, Perjalanan langsung dilanjut ke Sungei Wang. Ternyata masih sempat untuk membeli oleh-oleh yang lain. Tak banyak pula yang dibeli. Alasannya karena: uang yang tadinya dianggarkan untuk beli oleh-oleh, terserap lebih dari setengahnya untuk buku-buku. Hehe, maaf ya.

Hujan yang turun cukup deras itu membuat kami sedikit kesulitan untuk melindungi buku-buku itu. Maklum, kantungnya dari kertas. Biarlah kami kehujanan, asal buku-buku itu selamat diberi payung. Aneh kan? Apapun, setelah selesai membeli oleh-oleh lain (dipaksa selesai –red.), kami segera pulang ke appartement, karena Pak Azhali akan menjemput kami pukul 18.30. Rombongan lain malah sudah tiba lebih dulu, dan sudah beres-beres barang mereka. Sementara Iqbal dan saya malah sibuk melihat-lihat buku-buku yang baru kami beli. Beres-beres urusan nanti, hehe. Tingkahnya seperti orang yang baru lihat buku saja. Padahal sampai di rumah pasti nanti akan pusing menempatkan buku-buku itu. Tapi, ah, itu urusan nanti.

Sejak dua hari sebelumnya sudah ada pemberitahuan bahwa pesawat kami akan delayed, jadi kami agak sedikit santai. Pak Azhali menjemput kami jam 19.30 untuk diantar ke KLIA. Sangat longgar waktu kami, karena pesawat dijadwalkan berangkat pukul 23.15. Beres check in, makan malam, barulah terasa bahwa tubuh saya sudah sangat lelah dan mengantuk. Bahkan untuk makan malam pun tak ada daya saking capek dan mengantuknya.

Ternyata pesawat mengalami keterlambatan lagi. Pesawat kami baru take off jam 00.30. Hujan tak juga berhenti. Cuaca cukup buruk dan pesawat mengalami beberapa kali turbulence. Alhamdulillah, bisa sampai di Cengkareng dengan selamat jam 01.30 waktu Indonesia dan perjalanan langsung dilanjutkan menuju Bandung. Ah, senangnya tiba lagi di tanah air. Selalu ada kelegaan menjejakkan kaki kembali di tanah hidup saya. Hidup yang senyata-nyatanya hidup.  Tentu dengan segala carut marut dan kebahagiaannya. Namun, saya suka  menjalaninya di sini. Hey, tiba-tiba saya kangen sekali pada mahasiswa-mahasiswa saya :)

 

 

Malaysia #3

Hari ketiga, kami agak sedikit santai. Saking santainya, Pak Azhali yang menjemput kami harus menunggu dulu sampai kami siap. Kami kemudian langsung diantar ke Marriot. Perhatian, hari ini tidak bisa bolos, karena jadwal presentasi Iqbal adalah hari ini sesi terakhir sebelum penutupan.

Kepagian kami tiba di Marriot, panitia penyelenggara pun belum datang.  ”Terpesona” pada arsitektur Marriot yang gigantisch, kami kemudian berkeliling dulu ke kebun belakang hotel. Ada kolam penuh teratai di sana. Arsitektur taman yang indah dan gemericik air sungai yang mengalir. Damai. Suasana pun sejuk. Tak mau membiarkan pemandangan indah nganggur begitu saja, kami pun berfoto-foto ria. Dasar makhluk-makhluk centil. Dan…ada tupai! Berloncatan dengan bebas dari satu pohon ke pohon lainnya di kebun belakang hotel atau menyelusup di antara semak-semak. Saya langsung heboh berteriak-teriak ”Ada tupai!”. Oh ya, kesan saya selama berada beberapa hari di Malaysia adalah biasa-biasa saja, kecuali tupainya. Tupainya luar biasa. Ada di mana-mana, berkeliaran bebas. Di jendela kamar appartement Block 2, di pohon besar depan appartement kami, kemudian di semak-semak dekat appartement kami dan di halaman Hotel Marriot Putrajaya. Hanya tupai abu-abu itu yang bebas melompat berkeliaran. Ehm.

Sesi pertama dimulai. Pak Soenjono,pakar Psikolinguistik dari Atmajaya yang sekarang sedang jadi dosen tamu di Universiti Malaya. Kemarin kami sudah berbincang banyak dan bercanda dengan Bapak dan Ibu Soenjono. Keduanya amat sangat ramah dan bersahaja. Tentu saja sesi pertama ini tidak kami lewatkan. Sebagai sesama orang Indonesia, gitu lho. Dan memang tema yang dibawakan profesor satu ini menarik, cara menyajikannya pun menarik. Memang beda jika yang membawakan suatu tema itu profesor. Tema itu sudah jadi hidupnya, jadi membawakannya pun ringan saja, tanpa perlu mengeluarkan istilah aneh-aneh. Alhasil, Universalgrammatik-nya Chomsky dalam proses pemerolehan bahasa anak Indonesia (subjek penelitiannya adalah Echa, cucu Pak Soenjono sendiri) bisa dipahami dengan lebih mudah dan komprehensif, karena Pak Soenjono pun mengajukan beberapa kritik terhadap teori Chomsky tersebut. Bersetuju dengan dengan Pak Soenjono, teorinya Chomsky memang tidak se-universal namanya, karena Chomsky hanya meneliti gramatika bahasa-bahasa Eropa. Oleh karena itu, pada fase-fase tertentu anak-anak Indonesia bisa lebih lambat memeroleh bahasa, tapi di fase lain anak Indonesia justru lebih cepat dan cerdas dalam memproduksi kata-kata yang terdiri atas beberapa suku kata.

Rehat kopi dilaksanakan kemudian. Tambah lagi deh kesan tentang Malaysia: snack di Hotel Marriot enak semua, hehe. Setelah itu dilanjutkan dengan pembentangan makalah kunci kedua tentang khi kuasa dua. Gubrak. Apaan itu? Awak tak mengerti. Terlebih lagi tak mengerti kenapa hal semacam itu bisa masuk ke area penelitian Psikolinguistik. Wah, ingin kabur deh. Pembentang selanjutnya lumayan menarik. Ekspresif tepatnya. Pembentang itu berasal dari kaum minoritas yang menggugat masalah pengajaran sastra di sekolah-sekolah di Malaysia.

Setelah itu makan siang. Kali ini tak seperti makan siang yang berlimpah ruah layaknya kemarin. Tapi tom yam gung-nya enak lah. Ada berita mengejutkan saat kami makan siang: ayah Merry meninggal, dan Merry harus segera terbang ke Indonesia hari itu. Duh, pantas saja sepanjang hari kemarin Merry terlihat begitu rindu pada Indonesia. Begitu senang bertemu kami dan sepanjang hari menyanyi-nyanyi lagu-lagu Indonesia, sampai lagu Indonesia Raya dan lagu-lagu wajib pun dinyanyikannya. Saya langsung sms Merry untuk menyampaikan ucapan bela sungkawa.

Selesai makan siang, shalat. Dilanjutkan dengan sesi-sesi pembentangan makalah lain. Hmm, maaf, saya kok merasa seperti sedang mendengarkan khotbah Jumat yang isinya ”begitu-begitu” saja. Kemudian saya sedikit sewot karena analisis percakapan dalam Bahasa Melayu menjadi Analisis Perbualan. Dih, kesannya seperti sedang membual. Sementara saya begitu serius mendalami analisis ini, jadi saya hanya berbual?! Hehe, ini saya bereaksi berlebihan. Di Malaysia sana berbual kan berkonotasi positif. Maknanya bercakap lah. Duh, tapi tetap saja untuk saya maknanya tidak pas dengan konotasi berbual atau membual dalam Bahasa Indonesia. Dasar orang bahasa, yang seperti itu saja jadi masalah ya. Padahal sudah paham betul bahwa bahasa itu arbitrer, jadi suka-suka dong. Beda bahasa beda makna. Beda bahasa juga beda budaya. Juga kebalikannya.

Berlanjut. Giliran Iqbal menutup seluruh sesi pembentangan makalah dan seminar dua hari itu. Iqbal yang mau presentasi kok saya yang sakit perut ya, hehe. Dianya sendiri cukup bisa menutupi kegugupannya, walau masih tampak. Hanya punya waktu 15 menit, tapi baru 10 menit presentasi, Pak Arbaak yang jadi moderator sudah menutup presentasi Iqbal dengan alasan tempat mau dipakai untuk acara penutupan. Kami hanya terperangah. Begitu saja? Tak ada sesi diskusi sama sekali. Jangankan diskusi, presentasi pun belum diselesaikan, padahal waktu masih ada. Saya langsung curiga, jangan-jangan ini karena ucapan Iqbal beberapa saat sebelum Pak Arbaak menutup presentasi dengan ”paksa”. Iqbal bilang ”beberapa hari saya ada di sini, di Malaysia, saya tidak bisa menangkap emosi apa yang muncul pada orang-orangnya. Ini mengerikan untuk saya, karena semua jadi begitu sublim dan tersembunyi.” Saya kaget ketika mendengar Iqbal mengucapkan kalimat tersebut. Dari awal dia memang sudah kesal dengan orang-orang di sana yang begitu patuh pada represi entah apa. Kalimatnya tersebut mengakibatkan beberapa orang jadi gelisah dan mengubah posisi duduknya. Terutama orang-orang yang duduk di sebelah dan di depan saya, yang nota bene para petinggi universitas. Dan tak lama kemudian, presentasi Iqbal dihentikan. Duh, orang Indon satu ini bikin susah saja. Sudahlah dapat privilege menyelesaikan makalah melebihi batas waktu yang ditentukan, diberi tempat pula, eh…ketika presentasi malah ”ngelunjak”, mungkin begitu pikiran orang-orang. Hehe, ya begitulah.

Iqbal kesal juga tampaknya. Hasil begadang semalaman dan penelitiannya selama ini hanya ”dihargai” sedemikian. Ngomel-ngomel terus dia. Alhasil pelampiasannya kami jadi bertingkah gila-gilaan deh alias makin centil foto-foto dan becanda-becanda setelah acara selesai sambil menunggu Pak Azhali mengantarkan kami pulang. Ah, untung ada Bu Normaliza yang paling normal diantara semua. Maksud normal di sini adalah ibu itu sama ”gilanya” dengan kami. Seadanya saja, tidak jaim. Makanya mungkin kami langsung cocok dengan Bu Normaliza karena dia menyimpan sifat yang sama dengan kami. Jangan-jangan si ibu selama ini tertekan pula tidak bisa melampiaskan sifat dasarnya yang jahil dan suka bercanda serta suka tertawa keras-keras, makanya ketika bertemu kami langsung cocok. Iqbal sampai mau diambil jadi menantu. Langsung deh dia kabur, hehe.

Hujan lebat. Ah, saya selalu suka hujan. Apalagi hujan yang sebenar-benarnya hujan. Hujan itu rumah. Anginnya, derasnya, basahnya, tempiasnya, derunya, wanginya. Menderu-deru dan menempias diselingi guruh dan kilatan petir. Sekali lagi: untuk saya itu rumah. Rasanya ingin segera merangsek keluar dan berdiri di bawah deras dan tempiasnya atau hanya diam di balik kaca jendela menatap airnya yang mengalir pelahan membentuk aliran.

Kami diantar oleh Pak Azhali sampai ke appartement setelah acara perpisahan yang cukup mengharukan dengan Bu Normaliza. Ibu yang baik dan ramah itu. Dan hujan tidak berhenti, pun sampai keesokan harinya kami terbang pulang ke nusantara. Di tengah hujan pula, aliran listrik mati. Ternyata ada mati lampu juga di Malaysia :)

bersambung

Malaysia #2

Jam 8 kurang, Pak Azhali dari pihak Fakulti sudah menjemput kami, lalu kami dibawa dulu ke Fakulti, karena Iqbal masih harus mencetak dan memperbanyak makalahnya. Merry sudah ada di sana dan menemani kami. Ada tema yang serius yang dia bicarakan dengan saya, yaitu tawaran menjadi pengajar tetap di Jabatan Bahasa Jerman Fakulti Bahasa Moden UPM. Merry ternyata sudah membicarakan tentang hal ini kemarin dalam rapat jurusannya. Saya sendiri tidak tahu menahu, karena di awal kami hanya membicarakan kemungkinan kerja sama Unpad dan UPM dalam bentuk dosen tamu saja, bukan dosen tetap. ”Jangan-jangan kamu hanya ingin teman saja, Mer”, canda saya. Namun, rupanya dia serius mengajak saya. Saya langsung dipertemukan dengan Dekan dan Ketua Jabatannya. Mereka pun serius menawari saya. Wah, ditodong begitu tentu saja saya tidak siap. Saya datang ke UPM untuk ikut seminar, bukan untuk melamar kerja. Tawarannya cukup menarik. Kemungkinan berkarir dan studi lanjut cukup besar. Jangan tanya urusan finansial: lebih dari cukup. Berlebihan malah. Duh, pagi-pagi sudah ditodong begitu. Saya minta waktu untuk berpikir sampai hari terakhir saya di Malaysia. Tetapi tampaknya ada yang kurang suka jika saya mengambil tawaran itu dan menetap di sana, hehe ;)

Jam 9 kami diantar Pak Azhali ke Hotel Marriot Putrajaya. Acara seminar dimulai dibuka dengan sidang pleno yang menampilkan makalah kunci satu dari Dekan tentang pengantar psikolinguistik. Lumayan lah. Bahasa tidak terlalu menjadi halangan, walaupun banyak kata-kata yang baru kami dengar dan cukup membuat kami terkaget-kaget. Kemudian dilanjutkan dengan rehat kopi. Ehm, snack-nya enak terutama Samosa-nya. Dan saya tiba-tiba jadi ingat Samosa buatan Fakheera dan Jumhur yang enak itu.

Sidang pleno dilanjutkan dengan pembentangan tema polygraphic. Ada beberapa info baru dari sajiannya, tetapi ujungnya sudah bisa ditebak. Apalagi kalau bukan UUD alias ujung-ujungnya duit. Pembentangan makalah kunci sesudahnya tidak terlalu menarik, saya sudah mulai terkantuk-kantuk. Untungnya Merry kemudian mengajak saya keluar dan kami berbincang cukup lama di luar membicarakan tawaran kerja itu. Karena saya bukan TKI, maka kontrak kerja, job description juga masalah gaji harus jelas sebelum saya memutuskan menerima tawaran itu atau tidak. ”Sombong kali kau, Dian”, kata Merry kesal ketika saya bertanya bagaimana kurikulum Jabatan Bahasa Jerman di UPM. Hehe, maaf, Mer, kebiasaan. Semua harus jelas dulu sebelum diputuskan. Lagipula saya hanya akan bekerja di bidang yang saya sukai. Kalau sudah begitu, uang biasanya akan menjadi urusan ke sekian. Tetapi kalau saya tidak suka, uang sebesar apapun bisa saya tolak. Perbincangan itu dilanjutkan dengan pertemuan dengan Ketua Jabatannya. Ehm, pertemuan itu kemudian menjadi salah satu pertimbangan saya untuk memutuskan.

Makan siang diadakan kemudian. Hmm, lagi-lagi makanannya enak. Saya bisa menikmati salad kesukaan saya sepuas-puasnya. Empat orang Indonesia yang memilih duduk di pojok ini sepertinya paling ribut sendiri. Peserta lain makan dengan tenang dan penuh sopan santun, sambil makan kami malah sibuk juga foto-foto dan tertawa-tawa. Setelah itu shalat dan acara kemudian dilanjutkan lagi. Apa acara selanjutnya? Pembukaan, hehe.

Untuk saya ini hal yang baru karena acara resmi pembukaan baru diadakan setelah sidang pleno. Entah karena alasan apa acara pembukaan disimpan setelah makan siang. Lazimnya begitu atau karena yang akan membuka baru bisa datang siang hari. Apapun, tapi cukup membuat saya terkaget-kaget karena tak biasa. Diawali dengan lagu kebangsaan Malaysia yang liriknya membuat saya semakin mengerti kenapa saya ”menangkap” dan ”merasakan” suasana penuh represi di sana. Di dalam ruangan, di lingkungan UPM, di Serdang, di KL, di kereta, di bis. Di sana. Saya merinding ketakutan. Tiba-tiba saya rindu Indonesia.

Dilanjutkan dengan lagu mars UPM. Hadirin masih berdiri. Setelah itu acara dibuka dengan acara pembukaan seperti biasa. Namun, entah kenapa, kengerian tiba-tiba semakin melingkupi saya. Saya kok takut ada di ruangan itu. Sesak rasanya melihat dan mendengar satu per satu orang bicara. Ada yang ”berkuasa” di sana. Entah apa. Dan semua orang tunduk. Patuh. Ada yang berkelibatan di benak saya. Bayangan protes minoritas India beberapa waktu sebelumnya, orang-orang Cina yang tidak inklusif tapi juga tidak eksklusif, orang-orang Melayu yang juga tak setara, kemudian wajah-wajah pekerja perempuan dari Indonesia yang menunduk dan memilih memalingkan wajah seolah tak mau dekat. Saya ngeri karena ini universitas. Saya melihat menara gading yang memang begitu tinggi dan agung. Apakah ini hanya di UPM? Saya memang tidak bisa menggeneralisasikan. Anyway, mungkin cuma Iqbal dan saya yang merasakan ”represi” itu. Mungkin juga kami berlebihan alias sukanya memang protes. Maaf, maaf, kepada pembicara dan pembentang di depan yang terganggu melihat ekspresi wajah kami yang sering berubah cepat.

Sesi setelah pembukaan tidak kami ikuti, kami memilih pulang cepat karena capek dan mengantuk. Diantar sampai ke Fakulti oleh Pak Arbaak dan Merry, perjalanan dilanjutkan dengan bis. Hmm, tapi mungkin memang kami tidak boleh bolos dari acara, niatan pulang cepat tetap tidak tercapai karena: nyasar. Biasa, salah arah. Akhirnya kami memutar dulu ke Serdang dan kembali dengan bis yang sama. Capek, tapi lumayan, 1 RM bisa keliling naik bis seharian.

Sampai appartement terkaparlah kami di kamar masing-masing.

Malaysia #1

Perjalanan minggu ini mengunjungi negeri jiran. Dalam rangka ikut seminar psikolinguistik internasional yang diselenggarakan Universiti Putera Malaysia. Rombongan dari Bandung 6 orang. Yang ikut seminar hanya 3, sisanya jalan-jalan. Berangkat dini hari pukul 00.30 memakai Primajasa dan diisi dengan obrolan tentang diferensiasi emosi marah, kesal, sedih, dsb. Dih, subuh subuh gitu lho. Hehe. Tak apa lah, saya sudah biasa dengan pikiran ajaib  bapak satu ini kok. Sampai Jakarta pukul 3, pesawat akan take off pukul 6.25. Setelah anggota rombongan lengkap, check in, urusan prosedural dll, berangkat lah kami berenam ke Kuala Lumpur. Mengantuk, tapi tak bisa tidur nyenyak.

Perjalanan pendek ke Kuala Lumpur dihabiskan dengan melanjutkan obrolan. Iqbal rupanya cemas karena makalahnya belum beres. Tapi itu sih salah sendiri, hehe. Landing di KLIA, kepala dan telinga saya sakit. Tumben nih, perjalanan pendek kok malah sakit. Dijemput oleh Ibu Normaliza dari UPM yang menyambut kami dengan amat sangat ramah dan ramai. Literary, benar-benar ramai. Iqbal sudah langsung ”diancam” untuk menyelesaikan makalah hari itu juga. Tak bisa tidak. Perjalanan ke UPM diisi dengan obrolan ringan dan tawa canda serta tanya ini itu. Selama di Malysia kami akan menginap di Rumah Tetamu Universiti. Kampus UPM luasnya hampir 1200 hektar, Rumah Tetamu ada di belakang kompleks kampus. Ibu Normaliza sendiri tak tahu letak Rumah Tetamu itu karena Fakulti Bahasa Moden dan Komunikasi ada di kampus bagian depan. Sampai di sana ternyata kami kepagian, karena kami baru bisa check in pukul 15, sedangkan saat itu baru pukul 10 pagi. Akhirnya Ibu Normaliza membawa kami ke Fakulti dan menyediakan kami tempat untuk beristirahat sebentar dan menyimpan barang. Iqbal sendiri diberi ruangan khusus untuk bekerja lengkap dengan komputer, internet dan printer. Dia sebenarnya sudah membawa perbekalan lengkap: laptop dan buku serta diary bahan penelitiannya. Ruang kerjanya di Bilik Nomor 13.

Sambutan yang luar biasa, pihak Fakulti mengundang kami makan siang dan kami diajak berkeliling serta berkenalan dengan staf mereka, termasuk bertemu Dekan. Menyenangkan. Karena Iqbal sudah ”ditahan” oleh Ibu Normaliza, dan dia memang berniat tinggal di sana menyelesaikan makalah, maka kami berlima menunggu waktu check in dengan pergi ke Kuala Lumpur. Oh ya, kampus UPM ini letaknya di Serdang, sekitar 1 jam dari Kuala Lumpur, diantar oleh Merry, salah seorang anggota staf pengajar di Jurusan Bahasa Jerman di Fakulti tersebut. Merry ini satu satunya orang Indonesia di sana, jadi dia antusias sekali bertemu kami. Kami tentu senangjuga, karena mau tak mau Bahasa Melayu masih harus coba kami ”terjemahkan”. Kurang mengerti lah. Adanya Merry cukup membantu kami. Dia lama pula tinggal di Siegen, jadi bertemu saya seperti bertemu teman lama.

Cuaca panas sekali hari Senin itu. Kepala saya semakin berdenyut saat masuk ke Komuter yang akan membawa kami dari stasiun Serdang ke KL Sentral. Kesan pertama saya saat itu adalah: hening sekali di kereta. Orang bercakap pelan saja. Rasanya kami berenam saja yang ribut dan tertawa-tawa. Jadi tak enak hati sendiri. Tiba di KL Sentral, kami berpindah kereta menuju KLCC. Turun di stasiun KLCC yang tepat berada di bawah mall besar Suria KLCC di depan Menara Petronas. Mall-nya sendiri biasa saja. Sama seperti mall-mall besar di Jakarta dan Bandung. Ke atas. Yang menarik perhatian saya langsung Starbucks dan Kinokuniya. Kedua tempat itu langsung jadi jadwal kunjungan di hari terakhir, karena hari Selasa dan Rabu saya ikut seminar.

Merry harus langsung kembali ke Fakulti, sementara kami berfoto-foto sejenak di depan Suria KLCC dengan latar Menara Petronas. Kembali ke dalam, shalat dhuhur dan masuk ke Vincci. Saya memang berniat membelikan adik saya sepatu. Saat itu sedang ada sale akhir tahun, jadi harga-harga dipotong cukup besar. Lumayan juga. Panas terik di luar menahan kami di dalam KLCC. Menunggu matahari condong, kami minum juice di foodcourt lantai 3. Tak terlalu berniat ke Menara Petronas karena antrian yang panjang. Kami kemudian memilih melanjutkan acara jalan-jalan ke Sungei Wang di daerah Bukit Bintang. Berjalan cukup memutar karena setiap orang yang ditanyai selalu menjawab tak tahu. Heran juga. Peta di tangan memang cukup membantu. Membantu berputar.

Di Sungei Wang, kami berlima berpisah. Saya berdua dengan Ani lebih suka bertanya-tanya harga souvenir di depan. Sementara yang lain memilih segera ke dalam. Sungei Wang juga tak terlalu istimewa. Saya kok merasanya seperti di King’s Dalem Kaum. Dan karena sakit kepala saya sudah tak bisa diajak kompromi lagi, Ani pun sudah capek pula, kami memutuskan untuk pulang ke Rumah Tetamu lebih dulu. Saya heran, tiga lainnya kok lebih kuat ya daripada kami, padahal dari segi usia jauh lebih tua dari kami. Oh ya, tujuan mereka kan memang jalan-jalan.

Sampai Serdang perjalanan kami lancar, sempat pula membeli nasi lemak untuk makan malam. Dari Serdang ke Rumah Tetamu cukup bermasalah. Sesuai petunjuk Merry, kami naik bis 416 ke arah UPM. Namun, yang jadi masalah adalah kami tak tahu harus berhenti di mana. Bertanya lagi, tak ada yang tahu pula. Saya pun kembali heran, karena yang saya tanya mahasiswa UPM. Alhasil kami turun di halte seperti yang ditunjukkan oleh mahasiswi tersebut dan kami tak tahu itu ada di mana. Pilihan terakhir adalah taksi, karena berjalan kaki tampaknya tak mungkin dan tak mau.

Tiba di rumah tetamu, kami kaget karena front office tutup, tak ada orang satu pun dan saya baru sadar bahwa saya sama sekali tak tahu nomor appartement kami. Menghubungi Iqbal tak bisa. Parahnya lagi, telefon genggam saya sudah low bat. Saya harus benar-benar irit. Akhirnya kami nekat mengetuk seluruh pintu apppartement di gedung itu. Sambil curiga jangan-jangan appartement kami ada di block 1 bukan di block 2 tempat kami menunggu saat itu. Block 1 tak kami temukan letaknya di mana. Jadilah kami nongkrong duduk di depan sambil berharap bahwa Iqbal suatu saat keluar mencari kami. Herannya, tak ada satu pun orang yang lewat. Jadilah kami menunggu dari pukul 19 sampai sekira pukul 21. Barulah ada Petugas Keselamatan alias Satpam Kampus yang berkeliling patroli. Saya pinjam telefon genggamnya untuk menghubungi Merry dan Ibu Normaliza. Mereka pun panik, karena Iqbal tadi sudah didrop di sana dan yang lebih membingungkan adalah dia tak bisa dihubungi. Saya curiga dia tidur atau dia sedang konsentrasi menyelesaikan makalah sehingga melupakan kami teman-temannya dengan pikiran bahwa kami sedang bersenang-senang di luar.

Dugaan saya yang kedua ternyata benar. Setelah cemas dan juga karena semua telefon genggam kami low bat –itu mengherankan juga-, setelah mengetuk pintu salah satu rumah meminta bantuan yang ditanggapi dengan jawaban ”Saya memang tinggal di depan Rumah Tetamu tapi saya tak tahu apapun”, kok tiba-tiba saya menemukan secarik kertas tulisan tangan Iqbal menyebutkan nomor appartement kami. Dan benar saja, appartement kami ada di Block 1. Mencari-cari lagi, ketemulah. Ugh, leganya. Iqbal langsung diberondong dengan ungkapan kekesalan. Terkaget-kaget dia karena tepat seperti dugaan saya, dia terlalu berkonsentrasi pada pekerjaannya sambil menggerutu bahwa kami bersenang-senang terlalu lama di luar dan membiarkan dia kelaparan di appartement. Dari 2 appartement yang luas sekali dengan dua kamar, 2 kamar mandi, dapur, ruang tamu dan ruang makan, akhirnya kami hanya memakai 1 appartement saja untuk berenam, karena ternyata lebih dari cukup. Lagipula agak menyeramkan juga, karena di bangunan itu cuma kami sendiri yang tinggal, sedangkan appartementnya begitu luas. Satu kamar tidur dipakai untuk perempuan, 1 lagi untuk 2 orang lelaki dalam rombongan.

Begitulah. Malam pertama di Malaysia dilalui dengan kejadian-kejadian aneh bin ajaib dan lucu seperti itu. Namun, untuk saya saat itu sama sekali tidak lucu, karena kepala saya semakin sakit. Sakitnya agak mereda setelah saya memuntahkan seluruh isi perut saya dan berbaring sebentar di kamar yang gelap gulita tanpa suara apapun. Setelah mandi, saya menemani Iqbal sebentar menyelesaikan makalahnya yang sudah hampir jadi. Esok harinya kami akan dijemput pukul 8 untuk pergi ke tempat seminar di Marriot Putera Jaya.

Bersambung