Kedutaan

Proses keluar masuk teritorial asing ini memang selalu menjadi pengalaman yang menarik. Urusan di dalamnya, berhadapan dengan orang-orangnya, plus memerhatikan orang-orang yang berurusan dengannya membuat proses menunggu –yang kadang berakhir tak sesuai rencana dan keinginan- jadi lumayan tidak membosankan.

Jadi, setelah penasaran (campur heran) karena saya merasa tidak mendapatkan informasi yang saya inginkan dari website kedutaan ini, kemudian dilanjut dengan percakapan lewat telefon, yang justru membuat saya semakin heran, akhirnya kemarin saya datang sendiri ke kantor kedutaan tersebut. Menunggu sebentar dan dipersilakan masuk dengan ramah oleh petugas keamanannya, saya menunggu di visitor’s room. Seorang petugas kedutaan menyilakan saya dengan ramah juga. Petugas keamanan yang ramah tadi datang untuk menyimpan surat, kemudian mengajak saya berbincang sebentar. Katanya, semua sedang meeting, silakan ditunggu saja. Perbincangan berlanjut dengan menanyakan saya berasal dari mana, dan ternyata istri si petugas keamanan lulusan Sastra Jepang Unpad. Perbincangan jadi semakin akrab. Senang. Saya menunggu lagi. Resepsionis datang, saya kemukakan maksud kedatangan saya dan tentu keheranan saya, juga informasi yang saya terima lewat telefon. Jawaban yang diterima adalah: tidak tahu. Saya akan dihubungkan dengan bagian pendidikan. Silakan tunggu saja, karena mereka sedang meeting. Oke.

Waktu merambat, saya agak cemas, karena agenda saya kemarin adalah juga pergi ke kedutaan lain lagi. Tujuannya sama: melegalisir ijazah. Dan tentu saja, jam buka kedutaan yang terbatas membatasi waktu menunggu saya. Sambil menunggu dengan cemas, karena meeting yang tampaknya tak jelas akan berakhir kapan itu, saya berbincang dengan seorang tamu dari East Timor. Bapak yang ramah. Kami berbincang tentang kondisi East Timor (dia menyebut East Timor, sementara saya keukeuh menyebut Timor Timur, padahal kan bisa pakai Timor Leste :)) sekarang, terutama tentang kondisi bahasanya. Bahasa Indonesia sudah tidak digunakan lagi, katanya. Bahasa Porto menjadi bahasa resmi di pemerintahan, disamping Bahasa Tetum. Namun, penggunaan Bahasa Tetum ini belum bisa diterapkan di semua bidang, karena dulu Tetum ”hanya” jadi lingua franca. Proyek besar pemerintah East Timor saat ini adalah menerjemahkan semua berkas resmi, undang-undang, dokumen negara, dan lain-lain ke dalam Bahasa Tetum.

Percakapan menarik ini terhenti, karena si bapak keburu dipanggil masuk. Tinggal saya yang masih menunggu. Jam sepuluh akhirnya saya memutuskan untuk pergi, setelah si ibu resepsionis menyesalkan kenapa saya tidak membuat janji dulu. Mana saya tahu. Pengalaman yang dulu-dulu di kedutaan yang lain, tidak perlu membuat janji untuk melegalisir ijazah. Cukup datang ke bagian konsuler, ambil nomor, antri, bayar, selesai. Oh ya, tapi negara ini memang beda. Ketika saya tanya, apakah mereka punya penerjemah tersumpah sendiri dan apakah ijazah saya harus dilegalisir oleh mereka, petugas yang menerima telefon saya menjawab tidak perlu. Ini saya yang terlalu ingin semuanya legal atau memang mereka tidak menerapkan sistem demikian? Kalau begitu, kenapa pihak universitas, meminta kelengkapan berkas yang sudah dilegalisir oleh pihak kedutaan?

Masih dengan keheranan dan pertanyaan berkecamuk, saya meluncur ke kedutaan di daerah Thamrin. Tumben juga petugas keamanannya tidak seangker sebelum-sebelumnya. Si mbak-nya masih yang dulu. Saya ingat betul, dulu lumayan angker dia, tapi kemarin cukup ramah. Kaget saya karena ramai juga di bagian konsuler, biasanya jarang orang datang ke bagian itu. Dapat nomor antrian 64, sambil menunggu saya memperhatikan orang-orang yang ada di sana. Maklum, saya observer :). Beberapa orang datang untuk melegalisasi ijazah dan berkas untuk studi lanjut. Beberapa orang lagi, salah satunya ex-Praktikantin di Jurusan, mengurus passport. Pelayanan agak lambat, karena yang bekerja hanya seorang. Sementara urusan bermacam-macam, dan tentu saja dengan masalah ini itu. Surat tidak lengkap lah, fotocopy tidak sesuai dengan aslinya lah, dll. Seorang perempuan yang lugu terkena ”masalah” karena tidak menyertakan salinan surat cerai dan terjemahannya. Tanpa surat itu dia tidak bisa menikah di Jerman. Untuk itu dia harus kembali lagi mengurus dari awal, kemudian ke Mahkamah Agung. Dia bertanya dengan nada putus asa, ”Berarti saya harus kembali lagi ke Batam?”. Dijawab dengan anggukan tanpa senyum. Ingatan langsung terkumpul dan menumpuk di kepala saya. Terefleksikan dengan jelas. Pengalaman saya beberapa tahun berurusan dengan orang-orang semacam itu.

Giliran saya. Tentu saja bukan tanpa masalah. Fotocopy yang saya bawa ”sayangnya” hanya fotocopy ijazah yang sudah dilegalisir oleh Dikti. Fotocopy ijazah itu sudah diakui oleh pemerintah Indonesia. Fotocopy ”bersih” tanpa stempel apapun tidak saya bawa. Tentu saja tidak diakui, karena fotocopy tersebut tidak sesuai dengan aslinya yang bersih tanpa stempel dari Departemen Pendidikan Indonesia. ”Bagaimana mungkin Anda meminta pemerintah kami melegalisir berkas Anda, sementara ada stempel yang tidak dikenal tertera di atas fotocopynya. Ini tidak sesuai dengan aslinya” Malas berdebat, saya tidak sedang ada dalam energi untuk itu. Selain lapar, sudah jam 12.30 dan saya sudah menunggu dari jam 10.30, saya teringat uang yang saya bawa ternyata tidak cukup untuk legalisir 3 berkas @ 20 €, pun saya rasa penjelasan si petugas cukup masuk akal. Di ijazah asli memang hanya tertera nama universitas saya dulu, serta keterangan-keterangan di dalamnya, tidak ada Dikti-nya . Bukannya dalam stempel legalisir biasanya tercetak: fotocopy sesuai dengan aslinya. Artinya tanpa stempel Dikti :).

Sambil keluar saya tersenyum dan berpikir, seperti tidak tahu mereka saja. Beberapa tahun saya hidup di dalam sistem demikian. Lama-lama terbiasa dan membuat saya justru heran lalu bertanya-tanya jika ada hal yang ”keluar” dari sistem tersebut. Pengalaman di kedutaan sebelumnya menunjukkan betapa saya terbiasa dengan sistem tersebut. Namun, lucunya, ketika saya masuk ke dalam sistem yang saya pikir sudah meresap sedikit ke dalam sistem berpikir saya, saya yang ”keluar”. Ini menjelaskan ambiguitas saya. Namun, apa peduli saya, saya ada di negara saya, saya punya sistem sendiri juga. Kompromi yang saya lakukan dengan sistem-sistem yang diterapkan oleh negara-negara itu cukup sampai di dalam teritorial itu saja, itupun sepanjang mereka tidak mengganggu sistem pribadi saya.

Alhasil, kemarin saya hanya „bertamu“ ke teritorial negara-negara tersebut. Mencatat kembali partikularitas ruang dan waktu yang sempat saya nikmati selama beberapa tahun, juga yang mungkin akan saya alami beberapa waktu lagi. Dan memasuki kedutaan-kedutaan berpagar tinggi-tinggi memang selalu menjadi pengalaman yang menarik. Di perjalanan pulang saya teringat kunjungan saya beberapa tahun lalu ke konsulat Rep. Ceska di München, kemudian gedung-gedung konsulat dan kedutaan yang ada di Bonn dan Berlin. Gedung-gedung itu tidak berpagar tinggi dan tidak punya petugas keamanan di gerbang. Tapi, ini Indonesia, bukan Jerman. Saya tersenyum dan menikmati perjalanan senja menuju Bandung sambil membaca Bilangan Fu-nya Ayu Utami. Pemandangan dan tebing-tebing yang saya lihat di perjalanan menjadi ilustrasi nyata dari bacaan saya. Saya selalu suka perjalanan pulang :).

Dua Akhir Pekan

Inginnya menuliskan lengkap kegiatan pada dua akhir pekan di bulan Juli ini. Namun, apa daya, kesibukan yang masih cukup banyak (plus kesibukan yang muncul tiba-tiba tak diduga sebelumya), belum memungkinkan saya untuk menulis banyak. Alasan lainnya adalah penyakit lama yang selalu kambuh: menulis detail. Yang terjadi malah tidak menulis sama sekali, seperti kemarin-kemarin ini.

Jadi, akhir pekan pertama saya isi dengan melihat kegiatan melihat murid-murid saya di SMP Terbuka yang „berlaga“ dalam ajang Lomba Kreativitas Belajar Mandiri. Membanggakan. Masuk sampai ke tingkat nasional. Tentang ini bisa dilihat di sini. Yang jelas, saya mendapat banyak pelajaran dengan melihat kegiatan ini. Salah satunya tentu untuk mengingatkan saya agar selalu bersyukur dengan apa yang saya punya.

Dan kemarin saya ke Serpong, atas undangan yang sedikit „memaksa“ (peace, In :) ), tapi dengan senang hati saya penuhi. Ada apa? Bisa dilihat di sini. Menyenangkan bertemu dan berbagi dengan teman-teman di sana. Membawa saya pada kesadaran, bahwa hidup tidak akan pernah berhenti untuk belajar.

Akhir pekan depan belum ada rencana. Hanya tiga mingguan ini banyak kejutan yang terjadi dalam hidup saya. Yang menyedihkan, yang menyenangkan, yang membingungkan, yang menegangkan, yang mencemaskan, yang menakutkan, yang membahagiakan, yang membuat hidup saya semakin berwarna dan semakin membuat saya hidup. Untuk itu memang tak akan pernah habis syukur saya.