Meracik Rasa dan Cinta

Saya  tadinya berpikir orang akan mengomentari tulisan saya sebelumnya di bagian debat, diskusi, atau bagaimana cara orang mengatasi konflik . Tulisan saya minggu lalu saya rasa memang cukup beranak pinak dengan berbagai rhema yang bisa dikembangkan menjadi tema-tema lain. Namun, dugaan saya tidak sepenuhnya benar bahwa bahasan akan berlanjut pada budaya akademis, walaupun ada juga yang berkomentar tentang itu, tetapi selebihnya adalah komentar tentang makanan dan budaya. Mengenyampingkan kenyataan bahwa yang berkomentar tentang budaya ilmiah itu laki-laki dan komentar tentang budaya makanan, memasak, „melayani“ orang itu perempuan, saya kemudian jadi berpikir kembali tentang makanan, memasak, dan konsep melayani. Tak lama kemudian saya membaca tulisan salah seorang teman tentang memasak dan konsep identitas diri. Di kamar mandi –seperti biasa menjadi tempat paling nyaman untuk melamun dan berefleksi- saya juga teringat sebuah cerita pendek di KOMPAS tentang seseorang yang benci pada makanan rumah karena selalu teringat pada ibunya yang sangat benci memasak, karena ibunya selalu memasak dengan terpaksa. Banyak pertanyaan berkelabatan dan mendesak masuk ke kepala, termasuk ingatan pada ibu saya nun jauh di sana. Ah, dan tampaknya tema ini tampaknya bisa menjadi  pengalihan yang menarik dari kewajiban membuat ragangan penelitian. Pembenaran yang lain.

Jadi, sahabat saya menulis bahwa dalam budaya “orang bule” makanan menjadi urusan yang kesekian, dengan porsi yang juga tidak banyak. Berbeda dengan di Indonesia (atau saya tidak tahu, mungkin di sebagian besar budaya “Timur”), yang menempatkan makanan menjadi nomor utama dengan porsi banyak dan servis yang luar biasa. Seorang sahabat lain berkomentar bagaimana dia diundang ke suatu pesta oleh orang Jerman. Dia membawa makanan sebagai antaran, makanan yang juga sangat ingin dia makan sebenarnya, karena dalam pikirannya makanan itu “pasti” akan ikut dihidangkan seperti yang biasa terjadi dalam normalitas budaya di Indonesia. Namun, tidak. Makanan itu disimpan sendiri oleh si tuan rumah. Pelitkah si tuan rumah? Belum tentu, walaupun juga bisa jadi dia memang pelit. Dalam normalitas budaya Jerman, jika seseorang diberi maka pemberian itu menjadi haknya. Adalah satu penghormatan jika hadiah disimpan sendiri karena hadiah diberikan khusus untuknya, tidak untuk dibagikan lagi. Kesannya jadi tidak menghargai pemberian si pemberi hadiah.  Di Indonesia, tamu tampaknya lebih berhak dari tuan rumah, karena konsep menghormati orang yang datang sebagai pihak yang membawa rejeki dan rejeki harus dibagikan, tidak layak disimpan sendiri.

Konsep berbagi: membuat orang lain bahagia dan merasa bahagia karenanya ini indah menurut saya pribadi. Namun, sampai titik tertentu ternyata tidak bisa diabaikan bahwa konsep ini bisa menjadi paksaan yang menekan dan mengganggu. Seperti cerpen yang pernah saya baca, atau tulisan seorang teman tadi tentang memasak yang membuatnya berpikir bahwa memasak itu menjadi salah satu sarana budaya patriarki untuk menekan perempuan. Konsep memasak adalah urusan perempuan, perempuan yang tidak bisa memasak “bukan perempuan”, dan tuntutan-tuntutan lain yang dijadikan senjata untuk membuat perempuan tidak bisa menjadi dirinya sendiri.

Membaca tulisan teman saya itu saya jadi teringat ibu saya yang sangat suka memasak, memasak dengan penuh cinta , mengembangkan dirinya dengan memasak, dan mengaktualisasikan dirinya lewat masakan dan kursus masak. Namun, di saat tertentu –dan ini cukup sering saya lihat sepanjang hidup saya dengannya- dia akan dengan mudahnya bilang dia tidak ingin memasak, tidak ingin melayani keluarganya karena dia lelah atau dia sedang ingin melakukan hal yang lain, kemudian meminta kami membeli makanan jadi saja. Bapak saya bukan orang yang sulit, jadi itu memudahkan ibu saya untuk mengungkapkan apa yang dia mau dan dia ingin lakukan. Anak-anaknya –selain saya yang keras kepala minta telur dadar tidak mau makan telur ceplok- juga terbiasa dengan ini, walaupun terus terang saya sempat punya frame yang cukup lama menempel bahwa ibu saya belum cukup “ibu-ibu” karena dulu cukup sering membeli makanan jadi dibandingkan memasak sendiri. Frame itu lambat laun menghilang seiring dengan bertambahnya usia saya. Saya bisa melihat bahwa ibu saya punya passion dalam memasak dan menyediakan makanan. Pikiran dan pemahaman yang muncul ketika saya sendiri kemudian terjun ke dapur, dan saya menemukan passion yang mungkin kurang lebih sama dengan yang dirasakan ibu saya. Meracik bahan, mengolahnya, mencicipinya, menyajikannya, menyantapnya, melihat orang lain menyantapnya, mensyukurinya minimal dengan binar mata , dan dada (apalagi perut) menjadi  penuh. Juga perasaan kecewa yang muncul karena peristiwa itu tidak selalu terjadi.  Ya, saya memang akhirnya bisa masuk ke dalam passion itu.

Dapur untuk ibu saya (dan saya di kemudian hari) adalah ruang intimasi yang luas dan besar untuk berinteraksi dengan dirinya. Dia punya kuasa di sana, termasuk melarang anak-anaknya masuk ke sana, karena hanya akan mengganggu ruang kontemplasinya saja. Namun, tidak lingkungan sekitar kami. Bapak saya masih menyuruh kami –anak-anaknya yang perempuan- masuk ke dapur: membantu ibu. Nenek dan bibi-bibi kami juga berpendapat demikian, apalagi tetangga: anak perempuan harus belajar masak, anak laki-laki “haram” hukumnya masuk ke dapur.  Sebaliknya justru ibu saya melarang kami semua masuk. Dia tidak ingin ruangnya diganggu, areanya dimasuki.  Oleh karena itu, kami tidak pernah punya pembantu rumah tangga, karena ibu saya bersikukuh bahwa dapur dan rumah adalah tempat dia bereksistensi. Tidak boleh ada orang lain mengganggunya. Ibu saya memilih itu dan dia melakukannya –sepanjang yang saya lihat sampai sekarang – dengan nyaman. Jadi di saat-saat tertentu dia sedang tidak ingin berkutat di istananya itu, dia bisa bebas keluar, karena itu “milik” dan “hidup”nya, dia bebas melakukan apapun untuk itu. Di satu sisi, untuk kami anak perempuannya ini jadi hal yang menguntungkan, kami bebas dari kewajiban domestik, sehingga sampai sekarang anak-anak perempuan ibu saya jadi orang luaran. Sebaliknya, adik saya yang laki-laki juga menjadi laki-laki yang “manja” karena urusannya selalu disediakan ibu saya. Kadang tidak bagus juga.

Namun, sekali lagi saya melihat –dan ini yang masih selalu jadi salah satu bahan “pertengkaran” saya dan dia- ibu saya melakukannya dengan cinta. Termasuk jika dia selalu berlama-lama ada di dapur saat menjelang lebaran. Melupakan tidur dan hal lainnya, hanya karena ingin saat lebaran keluarga dan tamu bisa menikmati racikan masakan dan kue-kue buatannya. Dan ada kebahagiaan sendiri, selalu saya lihat, saat orang-orang mencecap masakannya dengan nikmat, kemudian memujinya. Saya rasa, semua lelah saat proses memasak itu terbayar sudah.  Kadang tidak masuk akal, tetapi itulah yang terjadi. Saya selalu heran bagaiman dia bisa menggerus satu kilo cabe sampai halus setiap hari untuk pesanan catering guru-guru TK dan SD. Pesanan yang harganya tidak sebanding dengan rasa dan variasi menu yang selalu istimewa dibuatnya. Apakah dia mengeluh? Tidak. Saya yang mengeluh karena saya menghitung berapa harga minyak, berapa biaya bahan-bahannya, belum lagi harga bensin untuk mengantar dan waktu yang terpakai. Dia hanya menjawab: kasihan, sudah capek mengajar. Mungkin dia berpikir juga tentang anak-anaknya yang bekerja. Konsep melayani, meng“hamba“ sekaligus menjadi „tuan“,  menurut saya, tampak sekaligus padanya. Dan ibu saya mungkin sudah sampai pada tahapan itu, karena saya bisa melihatnya dari caranya mengiris, memotong, menggulung, melipat, menggoreng, dan menyajikan masakannya. Dia melakukan itu tanpa banyak berkata dan terlihat begitu meresapinya.

Konsep „menghamba“ dan „melayani“ ini yang mungkin membuat memasak untuk beberapa orang menjadi paksaan, karena di saat yang sama mungkin diembel-embeli lagi dengan label memasak adalah urusan perempuan, perempuan yang sempurna adalah perempuan yang bisa memasak, dll. Saya rasa mungkin pendapat memasak jadi paksaan menjadi benar juga, karena label seperti itu hanya membuat orang merasa „disuruh“, tidak bisa menentukan pilihannya sendiri. Menurut saya, mungkin bukan konsepnya yang „menyebalkan“, tapi labelisasi itu yang menyulitkan.

Mengingat ibu saya, saya jadi melihat diri saya sendiri yang sejak tahun 1997 seolah menjadi cermin dari ibu saya. Dapur dan memasak menjadi saat-saat intim saya berinteraksi dengan diri saya. Dapur dan memasak juga menjadi tempat „melarikan diri“ dari „dunia luar“. Pernah suatu hari menjelang lebaran saya marah pada ibu saya karena dia begitu berpayah-payah –saya lihat- menyiapkan aneka rupa masakan. Saya capek melihatnya, karena dengan logika pikiran saya yang sok tahu ini hal itu hanya membuang-buang uang, waktu, dan tenaga saja. Dan ibu saya yang tahu benar bahwa anaknya sebenarnya seperti dirinya kemudian pergi, membiarkan saya sendiri di rumah. Pada akhirnya justru saya yang menyelesaikan semua masakan itu sampai selesai dan saya puas. Ya, dapur dan memasak untuk saat dan kondisi tertentu bisa menjadi tempat saya melepaskan stress. Saya memasak dengan rasa senang, tapi saya juga bisa berada di dapur dan memasak seharian jika saya tertekan. Saya bebas melakukan apapun di sana. Tempat escaping dan katarsis yang menyenangkan bahkan.

Namun, apakah rasa cinta saja cukup untuk membuat acara masak memasak menjadi menyenangkan? Telefon dari seorang sahabat di benua yang lain di belahan bumi selatan  tepat tengah malam dua hari lalu membuat diskusi tentang masak memasak ini menjadi berkembang, kemudian meluas ke budaya makan dan mengkonsumsi makanan lalu merebak jauh ke masalah sampah dan pengolahan sampah. Kembali ke rasa cinta dan memasak, tentulah akan sulit jadinya jika cinta tak berbalas. Manusiawi sekali. Mertua sahabat saya itu, -karena alasan tertentu- cukup memilih makanan apa yang bisa masuk ke tubuhnya, dan ini tentu menyulitkan orang yang akan memasak untuknya. Akhirnya jika mertuanya datang, sahabat saya jadi tidak ingin memasak untuknya, walaupun tentu saja dia mencintai mertuanya, karena dia juga bisa kecewa jika masakannya tidak dimakan atau malah akan membuat mertuanya sakit. Tidak tulus? Tidak juga, saya rasa, ini manusiawi. Dan bukankah akan lebih membuat sedih jika masakan yang kita buat demi cinta, justru malah membuat orang yang kita cintai menjadi celaka atau sakit? Dilematis, karena cinta juga beririsan dengan kecewa.

Ngomong-ngomong,  saya jadi penasaran, apakah sebenarnya yang ada di pikiran dan perasaan orang-orang saat meracik masakan, memasaknya lalu menghidangkannya. Mana yang dominan? Rasa cinta? Mungkin kalau perasaan ini yang dominan maka memasak akan menyenangkan dan membahagiakan seperti yang terlihat di setiap acara kuliner dan masak memasak yang disiarkan di tv. Masakan pun tampak lezat dan menggiurkan. Ataukah rasa marah dan benci yang dominan? Sehingga seperti yang ditampilkan terjadi di film-film horor dan suspens tentang orang-orang yang meracik bahan masakan ditingkahi dengan bayangan-bayangan orang  atau binatang berkelibatan  sebagai objeknya. Mengerikan. Jangan-jangan memang ada rasa-rasa seperti ini saat memasak. Dua rasa yang berlomba mendominasi satu di atas yang lain. Manusia hidup: meracik rasa dan cinta, mungkin juga benci. Semoga bukan rasa yang terakhir.

Budaya Komunikasi – Komunikasi Budaya?

Hari Jumat dan Sabtu kemarin mengikuti seminar dua hari bertemakan „Kommunikationskultur – Theorie und Forschung“ yang diadakan oleh Lehrstuhl Kultur und Religionssoziologie Universitas Bayreuth, setidaknya cukup bisa membuat saya beranjak dari suasana hati dan pikiran bahwa saya di Bayreuth sedang berlibur. Saya sedang kuliah, jadi harus segera bangkit dari kemalasan dan keinginan jalan-jalan terus. Btw, kuliahnya sih saya suka, asal jangan diminta membuat tugas.

Jadi, para sosiolog yang datang dari berbagai penjuru Jerman, ada juga yang datang dari Swiss, berkumpul di aula canggih Fakultas Angewandte Informatik. Beberapa nama sudah saya kenal, dan akhirnya bisa bertemu muka juga. Rupanya seminar dua hari itu dimaksudkan dalam rangka memperingati 50 tahun Hubert Knoblauch, yang judul bukunya dijadikan judul seminar ini. Tema yang diangkat dan ditampilkan berkisar pada tema Kommunikative Gattung dan Gattungsanalyse. Tidak semua tema yang disampaikan  oleh 11 pembicara yang semuanya profesor bisa saya mengerti, kebanyakan malah tidak. Namun, ada juga beberapa tema yang menarik dan cukup bisa saya ikuti.

Saya tidak akan membahas masing-masing tema yang memang sangat-sangat teoretis. Yang menarik perhatian saya justru bagaimana budaya seminar dan komunikasi antarpelaku dunia akademis terjadi di sini.  Ini memang bukan pertama kalinya saya ikut seminar semacam itu, tahun 2003 dulu saya pernah mengikuti konferensi yang lebih besar lagi di Wina, Austria. Namun, justru karena lingkupnya agak kecil, saya jadi bisa mengamati dengan lebih jelas.

Seminar dibuka tepat jam 9, setelah para peserta datang, mendaftarkan diri, dan saling menyapa. Tidak banyak peserta yang mengikuti seminar ini, entah karena publikasi yang kurang atau memang karena temanya terlalu spesifik. Tanpa basa-basi terlalu banyak, acara langsung dibuka dengan sambutan pendek dari Dekan Fakultas Kultur- und Religionswissenschaft dan sabmbutan dari ketua panitia. Semua dilakukan dengan suasana yang cukup santai, tidak ada formalitas apapun. Tidak menunggu lama, pembicara pertama memulai presentasinya. Di jadwal acara, setiap orang mendapat jatah waktu 45 menit untuk bicara dan diskusi. Namun, pada kenyataannya waktu 45 menit terlewati sampai 90 menit untuk bicara dan diskusi. Acara diskusi ini yang memakan waktu cukup lama. Diskusi atau mungkin lebih tepat disebut debat ilmiah berlangsung seru. Para profesor sosiologi itu saling mengungkapkan pendapat, kritik, pendapat, atau saran dengan sangat terbuka. Tidak tertutup kemungkinan bahwa masing-masing dari mereka tidak setuju, dan itu diungkapkan, namun jika setuju pun biasanya –dan ini khas Jerman- mereka selalu menambahkan „aber…“ atau „tetapi…“. Tentu saja tetapinya lebih banyak dari persetujuan mereka. Debat pada pembicara cukup seru, ketika seorang profesor muda –perempuan- mendebat dengan keras statement pembicara yang sudah senior (dari segi usia dan pengalaman)  -pria- . Keterbukaan suasana diskusi dan debat rupanya tidak berjalan mulus, karena ketika si profesor perempuan tadi bicara, giliran si bapak yang mendebat dengan keras, dan akhirnya terjadi adu mulut yang mengakibatkan si profesor muda tersinggung dan meninggalkan podium. Hmm, terjadi juga rupanya hal-hal semacam ini. Namun, di luar saat istirahat, mereka berdua berpelukan, dan saat diskusi selanjutnya, si bapak meminta maaf di depan forum pada si profesor muda. Rasanya hal seperti ini yang jarang –atau mungkin belum pernah- saya temukan di seminar-seminar yang saya ikuti di Indonesia, mungkin karena memang jarang juga sampai ada debat cukup sengit dan semua peserta dan pembicara saling menjaga perasaan. Mungkin bagus juga.

Saya berharap presentasi yang disampaikan semenarik debatnya, sayangnya tidak saya temukan. Hanya satu orang yang mempresentasikan materinya dengan bebas, tidak membaca teks, sisanya membaca teks yang bisa sampai berlembar-lembar, seperti sedang memberikan ceramah. Kalaupun ada power point biasanya hanya jadi latar belakang saja, tidak membantu banyak, karena slide-slide yang ditampilkan pun tidak terlalu menarik. Ini yang sering dikritik oleh teman-teman dari jurusan eksakta, bahwa orang-orang ilmu sosial itu hanya memindahkan word ke dalam power point. Tidak menarik, katanya. Tema-tema yang disampaikan pun sayangnya hanya berkutat di masalah teori. Hanya dari Spanyol dan Swiss yang memberikan penelitian empirisnya. Saya tidak tahu apakah ini kelemahan atau kelebihan, ketika seseorang mendalami bidangnya dengan begitu dalam, akhirnya jadi tidak tahu –atau mungkin tidak tertarik- pada hal-hal lain di luar bidangnya. Namun, ini akan membuat dia menjadi tahu sampai sedetil-detilnya. Dan hal ini terjadi dalam seminar kemarin. Mereka paham bidang mereka sampai detil, sampai pemilihan kata dan istilah pun diperdebatkan. Saya tertarik pada sosiologi, tapi karena memang tidak mendalami itu sedalam-dalamnya, akhirnya jadi bertanya-tanya –sambil kadang terkantuk-kantuk juga- untuk apa mereka mendebatkan itu. Walaupun mungkin memang begitu ketika orang sudah mendalami suatu hal, hal kecil saja akan menjadi perhatian. Saya juga ternyata bisa berdiskusi panjang lebar tentang kata ganti orang, misalnya. Hal yang untuk banyak orang juga tidak perlu diperdebatkan. Jadi, ya, memang begitu.

Hal lain yang menarik perhatian saya –juga dari pengalaman mengikuti konferensi di Wina dulu- adalah mereka tidak terlalu heboh mengurusi makanan. Enaknya mengikuti seminar atau konferensi di Indonesia adalah makanannya: berlimpah dan sering ada jeda waktu minum teh dan kopi. Dan itu disiapkannya dengan sungguh-sungguh. Menyenangkan, walaupun sering kita jadi kekenyangan karena kebanyakan makan dan terkantuk-kantuk saat mengikuti seminarnya. Di sini tidak, makanan disediakan seadanya. Yang jelas kopi dan teh harus ada. Minuman yang cukup banyak. Makan siang hari pertama cuma Gemüse Lasagna untuk yang minta makanan vegetarian (dan porsinya besar!) dan Fränkische Küche (3 iris tipis daging dan 1 Knödel besar) untuk nonvegetarian. Rehat kopi cuma kopi, teh, dan kue kering yang bisa dibeli murah di supermarket. Malah, teman saya tadi cerita, dia diundang ke acara pembukaan cabang suatu bank, untuk makanan dan minuman, dia harus membayar ekstra 1 €.

Acara makan memang boleh sederhana, tapi saya salut dan kagum dengan profesor-profesor itu, yang bisa tahan minum kopi bercangkir-cangkir sambil diskusi dan berdebat. Saya juga kagum pada daya konsentrasi mereka mendengarkan, sehingga diskusi tidak lari ke mana-mana, melainkan sambung menyambung dari pendapat satu ke pendapat lainnya. Dan mereka bisa mengutip dengan tepat kalimat-kalimat yang diucapkan sebelumnya.

Ngomong-ngomong, sebenarnya saya ini peserta seminar atau pengamat seminar? Dua-duanya. Seminar ini tentang kommunikative Gattung -bahasan saya juga-, dan untuk saya yang lebih tertarik pada masalah bahasa, interaksi pengguna bahasa, serta bagaimana bahasa verbal dan nonverbal diterapkan dalam konteks situasi komunikasi tertentu, menjadi pengamat justru lebih menarik perhatian saya. Biarlah mereka  memperdebatkan teori yang mereka buat dan kritisi sendiri, saya justru melihat aplikasinya. Dalam hal ini bagaimana budaya komunikasi di “ilmiah”kan dan bagaimana budaya “ilmiah” dikomunikasikan. Pelajaran yang belum tentu saya dapat di perkuliahan rutin dan buku teks.

Berada (lagi) di Surga Buku-buku

Ada acara yang tidak bisa tidak saya lewatkan di Jerman ini. Frankfurter Buchmesse. Pameran buku terbesar di Jerman ini selalu menarik-narik saya. Dan kali ini, kesempatan untuk pergi ke sana juga tidak saya sia-siakan.  Jadi, akhir pekan lalu saya ke Frankfurt. Kali ini ikut bis wisata dari Bayreuth ke Frankfurt. Lumayan lebih murah, tidak usah pindah-pindah kereta. Berangkat dari Bayreuth jam 7 pagi dengan penumpang yang kebanyakan orang-orang tua (sudah saya duga), bis yang nyaman dengan sopir yang ramah itu istirahat di Würzburg. Waktu istirahat hanya bisa dimanfaatkan untuk ke toilet, saking antrinya. Perjalanan kemudian dilanjut ke Frankfurt. Tiba di area Frankfurter Buchmesse sekitar jam 11 lebih. Cuaca agak mendung, tapi tidak sedingin di Bayreuth yang tiga hari berturut-turut bersalju dengan suhu di bawah nol.

Kami tiba di Halle 9. Jadi ada area 9 hall yang dipakai untuk pameran ditambah ruang terbuka untuk panggung dan acara penyerta lainnya. Tiket masuk seharga 14 €. Ehrengast atau negara yang menjadi  tamu kehormatan tahun ini adalah Cina. Jadi nuansa pameran kali ini merah.  Saat saya berjalan menuju tempat tiket, seorang lelaki tua menghampiri saya. Ternyata dia dari Bayreuth juga, kami pergi bersama tadi. Dasarnya saya juga tidak terlalu mempedulikan orang, jadi tidak sadar kalau dia berangkat dengan bis yang sama. Berjalan sambil berbincang-bincang. Cukup cerewet juga bapak satu itu. Bercerita macam-macam, dia pendeta protestan yang juga seorang  wasit sepak bola dengan bermacam penghargaan. Segala macam diceritakan. Dan memang Bayreuth kota kecil, semua orang saling mengenal. Jadi orang yang saya kenal juga dia kenal, begitu juga sebaliknya. Awalnya nyaman, lama-lama kok saya jadi merasa tidak nyaman, karena dia menempel saya terus. Tidak mau lepas. Kami hanya berpisah di Halle 3, karena dia ingin melihat bagian buku-buku agama, sedangkan saya ingin melihat buku-buku sastra. Yah, tidak apa-apalah sesekali menemani bapak tua yang butuh teman untuk bercerita atau tepatnya mendengarkan ceritanya.

Oh ya, saya mau bercerita tentang Frankfurter Buchmesse. Seperti biasa selalu menarik, walaupun dengan penjagaan dan pemeriksaan yang semakin ketat. 3 Halle dipakai untuk penerbit-penerbit internasional. Halle lain untuk penerbit-penerbit Jerman. Ada bagian khusus untuk buku anak dan remaja, sastra, buku teks ilmiah, sport, religi, turisme, dll. Ada juga Halle khusus untuk media, tempat diskusi dan acara live. Tidak hanya penerbit-penerbit besar yang mengisi stand pameran, tetapi juga penerbit-penerbit kecil, penerbit alternatif yang hanya menerbitkan buku-buku khusus dengan jumlah terbatas dan edisi special saja.

Walaupun tidak semeriah dan sepenuh saat tahun 2005 saya ke sana (saat itu negara tamunya adalah negara-negara Arab), pameran ini tetap layak untuk dikunjungi. Tidak akan pernah cukup waktu untuk melihat-lihat buku yang dipamerkan di sana. Sayangnya tahun ini Indonesia tidak membuka stand di sana. Entah kenapa. Namun, di stand penerbit pemerintah Belanda saya justru banyak menemukan buku-buku tentang Indonesia. Salah satunya buku tentang Si Doel dan fenomenanya (jadi ingat, sepertinya buku itu yang dibawa oleh Rano Karno saat mengisi acara di Fakultas Sastra Unpad tahun lalu). Menarik sebenarnya ada di Halle penerbit internasional ini. Bahasanya bermacam-macam, dan kita bisa mengetahui trend dan gaya penerbitan serta buku-buku yang diterbitkan di beragam negara.

Di Halle 3 tempat buku-buku sastra dipamerkan (dari penerbit-penerbit Jerman), saya cukup banyak mendapat buku gratisan, belumlah lagi kartu pos atau pembatas buku. Di Halle ini juga diadakan demo masak di stand buku masakan, acara mendongeng, diskusi dengan Peter Maffay yang dibuat biografinya. Beberapa diskusi diadakan di foyer penghubung antar Halle. Sayang diskusi dengan Hertha Müller dan Günther Grass diadakan di hari-hari pameran yang tidak dibuka untuk umum.

Sambil melepas lelah sejenak setelah berjalan dari stand ke stand dari Halle ke Halle, saya duduk sambil membaca buku di stand dtv, reclam, dan beberapa stand menarik lainnya, karena stand-stand tersebut dibuat senyaman mungkin, lengkap dengan tempat duduk dan sofa yang nyaman, sehingga pengunjung yang datang juga bisa ikut membaca dengan tenang. Tidak terburu-buru dan berdesak-desakan layaknya pameran buku di Bandung.

Hari itu saya tidak membawa oleh-oleh sebanyak waktu 2005 dulu saya ke sana, karena buku-buku dijual baru keesokan harinya. Namun, beruntung juga, kalau tidak, saya bisa kalap. Enam jam berlalu begitu cepat di sana. Saya masih belum puas sebenarnya, tetapi bis akan berangkat pulang ke Bayreuth jam 5. Saya harus ikut juga. Kami tiba di Bayreuth jam 21 kurang. Cukup menyenangkan, walaupun saya agak terganggu karena ditempeli si bapak tua yang doyan bercerita itu. Tak apalah, yang penting saya senang karena bisa berada (lagi) di surga buku-buku itu. Ngomong-ngomong, saya juga senang karena kiriman buku dari Indonesia sudah datang. Lucu, buku-buku itu dikirim dari Jerman ke Indonesia, kemudian dikirim lagi ke Jerman dari sana. Tak apalah, yang penting saya tenang di tengah-tengah mereka. Tidak semuanya kok, karena saya sudah membeli dan berniat membeli buku-buku lain tentu.

Catatan: foto diambil sembunyi-sembunyi, karena dilarang memotret di area pameran. Untung juga kamera bisa selamat dari pemeriksaan.

Memanusiakan Manusia

Sore tadi saya berangkat naik bis dengan senang, setelah mendapat telefon bahwa pesanan laptop saya sudah datang dan sudah bisa diambil. Suhu hari ini yang cukup ekstrem untuk pertengahan bulan Oktober (nol derajat dan sudah turun hujan salju walaupun tak banyak) tidak mengganggu suasana hati saya. Matahari pun tetap bersinar cerah. Di Haltestelle Uni Verwaltung naiklah beberapa orang mahasiswa. Ada dua orang yang menarik perhatian saya. Dua orang anak muda. Keduanya berambut rasta dengan dandanan a la punk. Yang seorang berjaket merah, berambut rasta panjang. Yang seorang lagi berjaket agak kehijauan, rambut kepangnya diikat, dengan kepala sebagian botak. Si jaket merah berwajah menarik dan duduk di kursi roda. Wajah keduanya cerah. Kursi roda agak sulit dinaikkan. Cukup berat memang. Walaupun pada akhirnya memang bisa juga. Sepanjang perjalanan menuju kota, mereka berdua terus bercanda ceria, tertawa-tawa. Ada rasa haru menyelinap di hati saya menyaksikan keakraban dua orang sahabat yang setia berbagi hari, berbagi tawa, dan cerita.

Namun, bukan keindahan persahabatan itu saja yang membuat saya akhirnya menuliskan ini. Saya membayangkan si teman yang mengangkat kursi roda ke atas bis tentu tidak bisa setiap hari membantu sahabatnya. Pasti ada saat-saat dia harus melakukan pekerjaannya sendiri. Dan apakah dunia jadi berhenti karenanya? Apakah dia jadi tidak bisa naik bis lagi, pergi ke kota, atau berangkat kuliah? Hidup berjalan terus. Dengan atau tiadanya sahabat yang membantu. Duduk di kursi roda bukan berakhirnya dunia, Dan mereka, nyatanya sungguh-sungguh selalu lebih kuat dari orang-orang yang -disebut- “normal”.

Di Jerman ini, dan saya juga berharap di seluruh belahan dunia, mereka difasilitasi dengan baik oleh pemerintahnya. Dari mulai hal yang paling sederhana seperti fasilitas jalan yang ramah untuk semua pejalan kaki dan sepeda, trotoar yang lebar dan tidak naik turun, tidak berlubang, dengan jalur khusus untuk sepeda, sampai ke masalah aktualisasi diri. Di Bayreuth ini ternyata banyak hal baru setelah saya perhatikan lebih detil, yang tidak akan terlihat jika kita hanya melihatnya sekilas. Salah satu di antaranya adalah dipasangnya informasi dalam huruf-huruf Braille di setiap fasilitas umum, di kampus, di kendaraan umum, juga di setiap kotak kemasan makanan, minuman, dan obat-obatan. Di bioskop ada ruangan khusus untuk penderita tuna rungu, sehingga mereka bisa juga ikut menikmati film yang diputar. Itu yang baru. Janganlah tanya soal bis yang didesain sedemikian rupa bisa turun naik rata dengan jalan, sehingga memudahkan orang yang menggunakan kursi roda, membawa kereta bayi, menggunakan kereta dorong, menggunakan tongkat, atau untuk anak kecil dan orang-orang tua yang akan naik. Desain di dalam bis, trem, atau kereta api juga ramah bagi mereka yang membutuhkan. Selalu ada kursi yang dilipat untuk memberi tempat pada kereta bayi, kursi roda, kereta dorong, dan lain sebagainya. Bahkan ada juga semacam papan panjang yang bisa digunakan untuk meletakkan keranjang bayi. Selain itu masih pula dipasang petunjuk kursi yang dikhususkan untuk orang tua atau mereka yang difabel. Tanda itu biasanya dipasang di dekat pintu atau di bagian depan kendaraan umum. Seolah sudah diatur, kursi-kursi bagian depan bis biasanya diisi oleh orang-orang tua, dan anak-anaknya mudanya biasanya langsung mengambil posisi di bagian belakang, jarang yang mengambil posisi di depan. Kalaupun mereka duduk di sana, kemudian ada orang tua yang masuk, mereka langsung pindah. Bagian belakang bis biasanya memiliki tempat duduk dengan posisi yang lebih tinggi. Ruang untuk berdiri pun cukup luas. Tidak hanya trotoar yang ramah pejalan kaki dan bagi para difabel, fasilitas umum selalu dilengkapi lift untuk mereka, atau di samping tangga selalu ada juga jalan khusus. Lantai dasar perumahan dan asrama biasanya dikhususkan untuk para difabel, sepanjang tidak ada permohonan khusus dari mereka. Toilet di fasilitas umum, kampus, perkantoran juga khusus. Di pusat perbelanjaan selalu ada ruang mencoba baju khusus bagi pengguna kursi roda.

Saya perhatikan semua orang juga mendapat kesempatan yang sama dalam proses pengaktualisasian diri. Semua mendapat kesempatan kerja yang sama selama mereka memang mampu. Di kampus saya, kepala bagian khusus mahasiswa asing berkursi roda. Beberapa orang yang bekerja di bagian kemahasiswaan juga difabel. Beberapa orang dosen dan professor juga sama. Dulu dosen bahasa Jerman saya juga menggunakan alat bantu berjalan. Seorang yang kuat, yang sering tidak mau dibantu untuk naik tangga. Belumlah lagi mahasiswa-mahasiswanya. Dari yang menggunakan kursi roda, sampai yang menggunakan alat bantu dengar juga ada. Tidak hanya di kampus, saya melihat orang-orang hebat itu juga bekerja di beberapa pusat perbelanjaan.

Ya, mereka semua memang manusia yang berhak untuk naik bis, berhak untuk membeli baju, berhak untuk jalan-jalan di taman, berhak untuk sekolah, kuliah, dan juga bekerja. Mereka manusia yang sama seperti manusia lainnya, yang juga sudah sepantasnya saling memanusiakan. Menyaksikan dua sahabat di bis tadi, pikiran saya melayang ke Bandung. Ke Indonesia. Sudahkah manusia-manusia di sana saling memanusiakan manusia lainnya? Sudah mulai. Syukurlah. Di Bandung, kampus ITB saya lihat sudah jadi kampus yang ramah pengguna. Beberapa departemen pemerintahan sudah pula dilengkapi fasilitas yang sama. Dan syukurlah bahwa Depdiknas, departemen yang memang sepantasnya sangat berkepentingan untuk memulai pendidikan yang memanusiakan, sudah mulai pula melakukannya. Saya ingat saat Prajab, beberapa orang peserta Prajab adalah rekan-rekan yang kuat tadi. Mereka adalah orang-orang hebat yang memang layak diberi kesempatan yang sama.

Masih dengan haru yang terus menyelusup di rongga dada, saya tersenyum melihat dua orang sahabat yang ceria itu turun di kota sambil terus bercerita riang. Senyum saya juga disertai harap, suatu saat negeri hangat nun jauh di seberang samudera pun akan lebih memanusiakan manusia-manusianya, sehingga persahabatan dan keceriaan seperti yang saya lihat tadi bisa juga semakin terlihat di sana. Semoga harapan saya ini tidak berlebihan, karena saya yakin hal ini sudah dimulai dan akan terus menjadi lebih baik.

Udara masih tetap dingin menusuk tulang. Salju turun sedikit-sedikit. Namun, matahari juga bersinar dan daun-daun masih ada yang hijau, belum sepenuhnya merah, kuning, coklat, lalu luruh. Tuhan memang Maha Kuasa.

H +7

Sudah seminggu saya berada di Bayreuth lagi. Kota yang saya tinggalkan 3 tahun lalu. Dan berada di sini lagi, pada H + 7 rasanya masih seperti mimpi. Tujuh hari yang lalu saya tiba. Saat itu mendarat di München, karena ada sahabat saya yang akan menjemput dan berbaik hati mengantar saya ke Bayreuth, dan tentu saja karena bisa pakai Bayern Ticket, sehingga lebih murah ongkosnya. Baru pertama kalinya saya ke bandara München. Tidak besar, jadi tidak terlalu bercapek-capek jalan kaki. Alhamdulillah pemeriksaan lancar. Tidak disambut oleh wajah-wajah kaku dingin petugas imigrasi Jerman dan melihat polisi berseliweran di mana-mana. Cuaca cukup ramah dan hangat untuk pagi di awal musim gugur ini. Dan bertemu sahabat saya tentu lebih menyenangkan lagi. Perjalanan panjang selama 17 jam masih akan dilanjut dengan perjalanan sekitar 4 jam lagi dengan kereta ke Bayreuth. Merasa aneh juga berada lagi di Jerman. Mengulang kembali ritus 3 tahunan. Namun, selebihnya adalah perasaan lega karena sudah sampai dengan selamat.

Di München kami masih menyempatkan diri minum kopi dan coklat panas. München Hbf. masih tetap sama. Masih tetap ramai. Dan bau Jerman yang khas sudah menyergap hidung. Bau Bratwurst dan Bretzel plus gurihnya mentega dan lemak dari Croissant dicampur dengan bau besi yang beradu juga uap dari kereta. Dan angin, udara yang berhembus.  Ada yang khas. Memang bau Jerman. Hampir di setiap kota baunya sama.  Sementara saya masih membawa bau Indonesia -begitu teman saya bilang- mungkin bau keringat campur bensin dan debu :) Teman saya sedang rindu Indonesia, sementara saya sedang senang berada lagi di Jerman. Perjalanan dengan naik kereta murah yang bagus (itu kereta EC yang biasa dipakai jalur ke Austria dan sekarang dipakai jalur antarkota di Bayern) kami lalui dengan tidak terasa. Bercerita banyak hal. Melepas rindu. Sampai di Nürnberg kami masih harus menunggu 1 jam. Seperti biasa. Bayreuth ada di balik gunung. Kereta ke sana jarang sekali. Menyempatkan diri makan di Nordsee (duh, saya kangen sekali makan ikan di restoran ini), 1 jam akhirnya berlalu dan naiklah kami ke kereta arah Bayreuth yang akan dipisah di Pegnitz. Seperti biasa :) Jam 13, kami tiba di stasiun kecil kota kecil ini. Bayreuth – Universitätsstadt. Masih sama seperti dulu :) Dua teman saya sudah menunggu. Duh, senangnya :) kemudian kami langsung diantar ke appartement saya. Frankengutstr. 3. Dulu saya tinggal di Frankengutstr.18. Rasanya meledak-ledak saat saya melewati rumah lama saya. Hei! Saya rindu sekali! Bahkan sampai sekarang, saya masih merindukan kamar saya di No. 18 itu.

Kamar saya yang baru ini juga nyaman. Hanya mungkin agak terasa dingin karena didominasi warna putih dan abu-abu. Namun, saya tetap suka interiornya. Kamar mandi dan dapurnya saya suka. Akhirnya dapur saya agak besar sedikit dan ada meja ekstra untuk saya nanti meracik makanan dan saya jadikan meja makan! Tidak lama saya dan 5 orang Jerman mahasiswa baru lainnya dikumpulkan oleh Hausmeister. 1 jam kami „diceramahi“ tentang aturan rumah, pemisahan sampah, mesin cuci, pembersih debu, blablablabla. Lama-lama saya mengantuk dan mendengarkannya sepotong-sepotong. Apalagi dia bicara dengan dialek Franken yang kental. Ups, saya sudah harus mulai membiasakan diri lagi dengan itu semua. Tak sempat beristirahat, kami sudah pergi ke kota. Teman saya ada janji, dan saya juga harus belanja makanan untuk makan malam. Kami berpisah di kota. Enaknya kembali ke kota lama adalah saya sudah tahu seluk beluknya, sehingga dengan cepat pula saya bisa belanja dan online. Tidak banyak yang berubah, selain stasiun bis yang pindah (dan saya sudah tahu, karena stasiun baru ini memang sudah hampir selesai saat saya meninggalkan Bayreuth 3 tahun lalu) dan semakin banyak cafe di Rotmain Center . Bahkan orang-orangnya pun masih tetap sama. Kasir di Norma masih sama. Pegawai di Telekom masih sama. Tidak banyak yang berubah. Oh, ada yang berubah. Tukang kebab sudah beda. Si mas ganteng penjaga toko buku juga sudah tidak ada. Hmm, saya jadi tidak terlalu bersemangat lagi ke sana, hehe. Tapi, ada toko buku baru di kota. Di bekas Sparkasse. Hugendubel. Besar. Wah, wah. Namun, ini masih saya hindari. Saya belum mau mampir ke sana di hari pertama saya berada lagi di Bayreuth.

Dan malam pertama di Bayreuth saya lewati dengan beres-beres, mandi, keramas dengan hasil saya menggigil hebat, karena kondisi saya sebenarnya masih belum pulih dari flu berat 3 hari sebelum hari H keberangkatan saya. Namun, setelah itu semua kembali baik-baik saja. Tidur nyenyak sampai pagi. Mungkin karena memang suasana hati saya yang sedang senang, jadinya sangat membantu. Keesokan paginya setelah sarapan dengan nikmat (Brötchen, Pfefferminztee), saya bertemu dulu Hausmeister untuk melaporkan kursi saya yang rusak. Hausmeister yang sebenarnya ramah dan memang suka bicara itu malah meminta saya membantu dia jadi tutor untuk mahasiswa-mahasiswa dari Thailand tentang pemisahan sampah (disangkanya saya bisa bahasa Thailand mungkin, hehe). Oke saja. Masalah sampah ini memang luar biasa deh. Apalagi orang Bayern, mereka memandang pemisahan sampah adalah hal terpenting dalam hidup setelah bir. Hehehe. Bagus juga. Cuma kalau sampai kompulsif begitu jadi aneh sih. Walaupun ya, saya harus akui juga, di kamar saya yang hanya 18 qm itu saya punya 4 tempat sampah: sampah dapur, sampah kertas, sampah kamar mandi, sampah plastik dan bungkusan lain. Oh ya, satu lagi wadah kecil untuk baterei bekas.

Urusan dengan Hausmeister selesai. Saya langsung meluncur ke Rathaus untuk mendaftarkan diri. Cepat juga. Data saya masih mereka simpan dan rekam jejak saya juga baik di kota ini. Jadi urusan lancar. Lalu ke bank, buka rekening, transfer uang, dll. Konsultan keuangan saya masih muda. Lumayan ganteng. Ramah dan baik hati. Banyak tertawa. Senang saya. Dia tanya macam-macam, ngobrol ini itu. Bagian dari marketing juga. Karena kondisi perbankan di Jerman saat ini juga cukup buruk. Kemudian ke Telekom lagi, daftar untuk pasang telefon di kamar. Lalu ke kampus. Siapa tahu sudah ada surat asuransi dari DAAD. Ternyata belum. Kemudian makan di Mensa. Wow, kartu saya masih berlaku dan masih ada uang sisa di dalamnya.

Malam kedua saya baru benar-benar merasa capek. 12 jam tidur. Untuk bangun esok harinya dengan segar. Hari Sabtu. Tanggal 3 hari libur. Penyatuan Jerman. Berbincang dengan teman saya per telefon, selanjutnya saya jalan-jalan. Niatnya mau ke Bahnhof. Toko yang buka hanya di sana, dan saya perlu air minum. Menyusuri Hofgarten lagi. Melewati Hauswahnfried lagi. Melewati Neues Schloss lagi. Dan saya girang segirang girangnya. Bahagia sebahagia bahagianya. Ada lagi di hutan kota yang rindang. Pepohonan masih belum sepenuhnya memerah, menguning dan coklat. Masih hijau. Dan kembali, saya suka bau hutan, pohon, dan tanah, dan daun, dan air, dan bunga, dan…matahari masih bersinar hangat. Masuk ke sela sela daun dan pepohonan .  Dari sana ke Sternplatz lalu lurus ke Bahnhof. Jalur yang sering saya lewati. Setelah beli minum, saya mampir ke toko di sana. Hmm, kok sekarang lebih banyak dijual majalah ya dibandingkan buku-buku? Tak berlama-lama, saya kembali lagi ke kota, lalu pulang.

Hari ketiga. Hari Minggu. Saya ingin berjalan kaki ke tempat teman saya. Menyusuri jalan lurus khusus untuk pejalan kaki dan pengendara sepeda dari belakang Wohnheim sampai ke Jakobshof lalu menyeberang ke Fantaisiestr. Hai, hai. Jalan ini juga sering saya lalui saat jalan-jalan hari Minggu dengan Aisha kalau cuaca cerah. Masih sama. Masih nyaman dan menyenangkan. Orang-orang lalu lalang, jogging, naik sepeda, atau hanya sekedar jalan kaki seperti saya. Lewat Röhrensee dan Tiergarten. Duh, kalau ini yang disebut kebahagiaan tak beralasan, saat itu saya mengalaminya. Hanya senang karena matahari, daun, pohon, awan, dan langit. Semua menyambut saya dengan ramah. Dan segar sekali rasanya saat itu.

Cuma sebentar di sana. Saya kemudian diantar ke kota. Langer Sonntag. Toko-toko buka hari Minggu.  Jalan-jalan di Rotmain Center tidak terlalu menarik. Duh, saya kehilangan Plus dan Handelshof, dua supermarket favorit saya. Sudah diganti dengan toko baju. Kemudian saya ke Restoran Istanbul. Ingin beli Falafel. Kangen saya dengan makanan Turki itu. Pemilik restoran itu teman saya. Dan kami bercerita panjang. Senangnya. Si ini masih ada, si itu di sana, si ini di situ, dan lain-lain. Mungkin rasanya seperti orang yang mudik ke kampung halaman. Karena itu pula, saya kemudian menghubungi nomor telefon teman-teman yang masih tersisa di HP saya. Banyak nomor hilang, karena HP saya yang lama hilang juga. Dan Nina! Tak lama kemudian Nina telfon. Duh, duh, duh! Senang sekali! Dia di Hamburg sekarang. tapi suatu saat kami harus bertemu.

Hari Senin. Pagi-pagi saya sudah ke Ausländerbehörde untuk mengganti visa dengan ijin tinggal. Hmm, tumben, pegawainya masih muda semua. Dan ramah-ramah :) Syarat saya belum lengkap, karena saya harus imatrikulasi dulu di kampus. Ke kampus. Bertemu Profesor saya tak sengaja. Senang sekali dia :) Saya belum bisa daftar, karena surat asuransi baru tiba siang. Siangnya kembali lagi. Untungnya data saya juga masih tersimpan, jadi lancarlah segala urusan. Saya tetap pakai nomor induk yang sama, ID komputer dan perpustakaan yang sama, serta password yang sama. Rasanya semua kembali ke 6 tahun lalu, saat saya pertama kali terdaftar di sini. Sorenya saya ada jadwal bertemu Profesor saya. Hmm, perbincangan yang aneh. Saya diminta ganti tema. Tapi lihat saja. Dia tahu benar bahwa saya tidak mau, jadi..kita lihat saja :)

Hari Selasa. Pagi-pagi saya sudah mendapat email tawaran menerjemahkan dari Goethe Institut. Tentang Junghuhn. Tentu saja saya mau. Sebelum itu saya masih ke Ausländerbehörde untuk menyerahkan berkas sisa. Tetap ada yang kurang, tapi selebihnya oke. Saya tetap diminta mengisi setumpuk formulir tentang teroris, tapi itu sudah jadi bagian dari urusan begituan :) Herr Wagner. Masih sangat muda. Cukup ramah. Tidak berlogat Franken untungnya. Namun, tiba-tiba saya merindukan petugas yang dulu. Siapa namanya? Richter? Schreiber? Kok saya lupa ya. Tawaran terjemahan saya terima. Dan, saya bertemu Qian! Wow! satu teman lagi. Oh ya. di hari kedua di Bayreuth saya bertemu dengan satu teman dari Rusia. Duh, namanya lupa. Senang betul. Kami bercerita banyak :) Kabar lain, Ahmad dan Tahani masih di Bayreuth. Wah, wah. My big brother.

Siang itu saya ada janji dengan Walter dan Andhika. Yang kedua ini dosen UGM yang sedang ambil S3 Biologi Bayreuth. Dengan Walter, duh duh. Senangnya bertemu dia lagi. Belum apa-apa dia sudah mau mengundang saya ke rumahnya yang nyaman di Mistelgau. Oke. Dan untuk pertama kalinya setelah 1 tahun lebih saya minum kopi lagi. Tak tahan godaan latte machiatto ditraktir Walter :) Setelah itu ketemu Andhika. Saat ngobrol, ada Sarah! Wow! Sarah murid kelas Bahasa Indonesia saya dulu. Lalu kami janjian untuk bertemu lagi beberapa hari ini, sebelum dia kembali ke Salzburg. Kuliah di sana dia sekarang. Selanjutnya penerjemahan dimulai. Tulisan yang menarik tentang Junghuhn. Saya akan tulis khusus tentang ini. Namun, sebelum menerjemahkan saya mampir dulu ke tempat Ahmad dan Tahani. Duh, Abudi sudah kelas 2 SD dan Zena…sie ist voll süß! Hadiah kerudung untuk Tahani malah dipakainya. Dan gadis kecil itu cantiik sekali! Waktu memang cepat sekali berlalu. Dia sudah berumur 5 tahun sekarang. Sudah jadi gadis kecil yang cantik :)

Rabu pagi saya sempatkan melanjutkan terjemahan sebelum jam 12-nya saya ada pertemuan dengan Co.Pembimbing saya. Hmm, dan saya memang ternyata -seperti sudah saya duga sebelumnya- lebih cocok dengannya dibandingkan dengan pembimbing saya sendiri. Berdiskusi lumayan banyak dan banyak mendapat masukan juga, dia akhirnya bersedia mengambil alih posisi pembimbing utama.  Yang paling penting, dia tertarik dan setuju dengan tema penelitian saya. Yang lebih penting lagi: saya bisa melakukan penelitian di Indonesia, dengan orang Indonesia, dan dalam bahasa Indonesia (walaupun nanti harus diterjemahkan ke Bahasa Jerman) :) Saya tahu tidak akan mudah, tetapi bukan berarti tidak bisa. Pelan-pelan dan satu-satu saja dilakukan. Mudah-mudahan semua lancar.

Hari ini. Terjemahan terjemahan terjemahan. Akhirnya selesai juga :) Tadi saya bertemu Peter. Hehehe, sepertinya memang berjodoh dengan dia. Berbincang lama dan banyak, tentang semua hal. Menyenangkan. Relasi dengan dia memang begitu. Kami sering tidak bisa saling mengerti, dan sering saling menjelekkan, tapi ada kedekatan dan kasih sayang. Dia membenci dan sekaligus mencintai Indonesia dengan caranya, tetapi selalu datang dan datang lagi ke Indonesia. Sama seperti saya membenci dan mencintai Jerman sekaligus dengan cara saya, juga selalu datang dan datang lagi. Dulu dia dosen dan pembimbing skripsi saya, sekarang jadi kolega.

Tidak terasa saya sudah tujuh hari di Bayreuth. Saya langsung hidup di sini. Seperti dulu. Penyesuaian yang cepat seperti waktu yang juga berlari cepat. Untungnya cuaca dan udara masih cukup nyaman menyambut saya yang datang dari negeri bermandi matahari di timur sana. Agar tidak kaget. Dan saya masih merasa berlibur di sini, sama seperti tiga tahun yang lalu. Masalah dengan DAAD seperti biasa saya alami di awal. Namun, rupanya saat ini saya sudah lebih bisa santai dan bersabar menghadapinya, sudah kenal dengan masalah dan resikonya. Jadi tidak ada acara marah-marah di telefon pada ibu yang baik hati dan bicara lemah lembut itu. Email pendek dan tajam cukuplah. Saya tidak mau melanjutkannya lagi, biar saja berjalan sebagaimana seharusnya. Besok saya akan bertemu Sarah dan Thorsten. Wah, saya kangen betul dengan mereka. Bertemu Herr Wagner lagi dan menukar pesawat telfon yang rusak padahal baru dibeli. Di kepala sudah berseliweran ide menghias dapur dan kamar mandi. Di meja tulis saya sudah ada buku kecil jadwal konser dan pementasan teater sampai tahun 2010. Sudah banyak yang saya tandai. Salah satunya pementasan Le Petit Prince dalam Bahasa Perancis bulan November nanti. Darauf kann ich nicht mehr warten :)