Merefleksikan Mungkin

Kemarin malam tiba-tiba saya jadi memikirkan kata „mungkin“. Tiba-tiba? Tidak juga sih, dalam rangka kerja sebenarnya, tidak datang begitu saja. Iseng banget kalau pikiran itu muncul tiba-tiba, walaupun kadang terjadi juga, hehe.

Si „mungkin“ ini membuat saya penasaran karena sering sekali muncul, bahkan di beberapa bagian digunakan bersamaan dengan berbagai kata bermakna setara menjadi seperti ini: „mungkin nanti kalau coba“. Redundan, tetapi itu yang muncul di hadapan saya. Terjadi, nyata, ada rekamannya, hehe. Lalu saya langsung memaknai ujaran itu menjadi „tidak“. Saya juga „gregetan“ ketika kata „mungkin“ dipakai untuk menyatakan sesuatu yang sebenarnya sudah pasti. Duh, kenapa ngga pakai kata yang pasti-pasti saja sih?! Kenapa ujaran atau situasi yang sudah pasti direlatifkan lagi dengan kata „mungkin“, kan bikin bingung.

Namun, ternyata tampaknya hanya saya yang bingung, orang yang diajak bicara tampaknya tidak tuh. Percakapan berjalan mulus-mulus saja, secara verbal dan nonverbal terlihat sangat kooperatif, tidak ada „pertentangan“, aman-aman saja. Jadi, si „mungkin“ tidak berpengaruh apapun, kan? Bisa jadi, bisa juga tidak. Lihat, saya pun mulai merelatifkan kalimat saya sendiri, dengan mempertentangkan „ternyata“ dengan „tampaknya“ dan menggunakan „bisa jadi.“ Maunya saya apa sih?

Ini yang membuat saya semalaman sok berpikir jauh. Manusia toh bermain dengan kata, kalimat, bahasa, sengaja atau tidak sengaja. Dengan atau tanpa maksud, baik maksud yang disadari atau tidak disadari. Kata dipilih, kalimat dibuat. Indikatif disandingkan dengan konjunktif. Pernyataan dengan pertanyaan. Kepastian dengan ketidakpastian (jika tidak mau menyebutnya keraguan). Jangan salah, kata, kalimat dan bahasa yang dipilih juga bisa sangat politis. Politis dalam makna luas. Berhubungan dengan kuasa. Kuasa dalam makna luas pula. Siapa bisa, berhak dan memilih bicara, siapa yang lebih memilih atau terpaksa diam.

„Dan berbahagialah orang Indonesia karena kalian memiliki kata ‚mungkin‘“, demikian kata teman diskusi saya tadi siang. „Mungkin“ dalam konteks Indonesia adalah kata yang tidak mengandung penilaian baik atau buruk, benar atau salah. „Mungkin“ dapat membuka peluang besar dan luas untuk masuknya unsur-unsur lain di luar sesuatu yang dianggap pasti. “Mungkin” dapat menjadi penanda masa depan yang kita tidak pernah tahu akan seperti apa. “Mungkin” dapat mengandung makna penyerahan pada sesuatu atau seseorang yang dianggap lebih “berkuasa”. “Mungkin” dapat menjadi penanda kewaspadaan: melihat dulu situasi, melihat dulu waktu yang tepat, melihat dengan siapa saya berhadapan. Perlu bicara atau diam. Perlu dilanjutkan atau tidak.

Lihat, saya kembali merelatifkan kalimat-kalimat saya dengan menyandingkan kata „mungkin“ dengan kata-kata setara lainnya: kata-kata yang setara tidak pastinya, yang abstrak. Itu sengaja saya lakukan, karena saya ingin menegaskan (pun untuk diri saya sendiri) bahwa tidak ada yang pasti dalam hidup ini, selain kematian. Itupun waktunya entah. Namun, itu juga berarti bahwa dalam hidup ada banyak peluang, celah, pilihan, kemungkinan atau apapun lah namanya. “Kalau bukan yang ini, mungkin yang itu.”

Itu kalau mau diambil sisi positifnya ya. Terus terang, semakin ke sini saya tidak bisa lagi membedakan dengan jelas antara „penyangkalan“ dengan „mencoba berpikir positif“. Namun, kali ini saya ingin menyugesti diri saya dengan „mencoba berpikir positif“ tanpa mengenyampingkan „kemungkinan“ lain yang „mungkin“ muncul dari kata „mungkin“ ini. Apakah saya sudah terdengar sedikit positif? Tidak juga tampaknya, malah terdengar „skeptis“, haha. Jadi, bisa dilihat kan, jika sesuatu dilakukan dengan berlebihan, jika kata dipakai berlebihan, maka jadinya tidak sesuai dengan yang diinginkan, hehe.

Daripada semakin melantur, saya kembali ke sisi lain yang mungkin muncul dari kata „mungkin“. Dalam beberapa konteks, kata „mungkin“ dan kata-kata modalitas lainnya, justru sering digunakan untuk „meneguhkan“ dan atau „melanggengkan kuasa“ (ini istilah seorang sahabat saya), bahkan menurutnya „pasti itu terikat dengan budaya orang Indonesia yang tidak mau memberi kepastian, karena tidak ada kemampuan atau tidak mau bertanggung jawab atas statementnya.“ Hipotesis yang cukup menarik, jika dikaitkan dengan konteks dan situasi sosial politik di Indonesia bertahun-tahun belakangan ini. Tampaknya sahabat saya cukup skeptis melihat kondisi ini. Berbeda dengan teman diskusi saya tadi siang yang berusaha melihat bahwa kondisi „yang terlihat“ buruk di Indonesia juga sebenarnya terjadi di manapun, jika saja orang mau melihatnya dengan kritis dan tidak menganggap rumput tetangga terlihat lebih hijau dari rumput di rumah sendiri. Tidak menganggap yang satu lebih baik dari yang lainnya. Sama saja.

Lalu, di posisi mana saya berdiri? Saya tidak akan dan tidak dapat menjawab dengan jelas di mana posisi saya. Saya orang dalam yang saat ini berada di luar, yang bahkan ketika di dalam pun saya sering merasa „tidak ada di dalam“. Saya mengalami, tetapi saya juga mengamati. Saya dekat, tetapi saya juga berjarak. Namun, satu hal yang semakin ke sini semakin saya tahu pasti, saya mensyukuri kondisi ini, yang memungkinkan saya dapat membuat banyak pilihan, melihat dari banyak sisi untuk kemudian memutuskan di mana saya akan berdiri. Berada di tengah juga pilihan, bukan? Seperti tidak berpendapat juga adalah sebuah pilihan. Mungkin, saat ini itu yang saya lakukan. Tidak tahu nanti. Apapun mungkin. Semua mungkin. Bisa jadi, semua bisa jadi mungkin :)

Bayreuth, 170812

Advertisements

Menuliskan Kenangan

Entah mengapa, hari ini tumben saya malas sekali menyalakan laptop dan membuka internet. Pagi-pagi sudah ke kampus, dilanjut belanja sedikit, kemudian mencoba tidur sebentar dilanjut dengan santai shalat dan dan melanjutkan membaca quran. Baru sampai Al Anbiya. Ayat 35 terbaca: setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kemarin seorang teman bertanya tentang kabar seorang ibu baik hati dan titip salam untuknya. Saya bilang, ibu baik hati itu sudah meninggal 4 tahun lalu. Kagetlah teman saya, karena katanya tak ada yang memberitahunya. Saya kemudian jadi membuka kembali catatan lama saya tentang ibu baik hati itu. Rasa rindu padanya menyelinap. Kemarin pula, di saat shalat pikiran dan perasaan saya melayang ke Bandung. Memikirkan seorang sosok ibu baik hati lainnya yang sedang terbaring sakit. Entah mengapa juga, saat itu saya merasa bahwa dia sebentar lagi akan berbahagia sama seperti ibu baik hati yang meninggal 4 tahun lalu. Lalu tadi, selesai shalat dhuhur, akhirnya saya membuka laptop dan internet dan mendapat 2 offline messages dari dua orang sahabat saya. Yang satu memberitahukan bahwa ibu baik hati itu meninggal tadi sore, yang satu lagi hanya memanggil nama saya, tapi saya tahu maksudnya. Ya, ibu baik hati yang saya pikirkan kemarin (dan hari-hari sebelumnya).

Heran juga, saya tidak kaget dan tidak menangis, sewajarnya reaksi orang yang menerima kabar semacam ini. Ada rasa lega menyelinap malah. Mungkin saya masih merasa „kebas“ atau mungkin saya sudah puas menangis justru saat saya pertama kali menerima kabar bahwa Ibu baik hati itu masuk rumah sakit sebulan lalu karena sakit parah yang sebenarnya sudah dideritanya sejak 2010. Saat itu badan saya gemetar hebat dan saya menangis terus menerus sepanjang hari, bahkan sampai keesokan harinya dan setiap ada pembicaraan tentangnya. Saat itu perasaan saya juga didominasi oleh rasa marah pada diri saya sendiri yang sampai tidak tahu bahwa sosok ibu baik hati itu sebenarnya sudah menderita sakit sedemikian lama. Ya, tidak ada yang tahu. Ibu baik hati itu tidak mau ada orang yang tahu tentang kondisinya. Bahkan di tengah sakitnya, dia juga yang masih berharap bahwa saya harus sehat selama di Jerman ini. Kami sempat berkirim sms sehari sebelum dia masuk rumah sakit. „Saya baik, Dian sayang. Dian sehat-sehat terus ya di sana. Miss you too. Muach muach,“ demikian tulisnya.

Setelah puas menangis dan „memarahi“ diri saya sendiri karena bisa „lalai“ dan tidak peka terhadap kondisinya, malah seringnya merepotkan dia, saya kemudian hanya bisa berharap dan berdoa agar ibu baik hati itu diberi yang terbaik, tidak kesakitan terlalu lama. Apapun. Dia orang yang sangat baik, rasanya kok tidak rela melihatnya kesakitan. Karena itu pula, saya sangat marah saat ada yang memasang foto di media sosial saat mereka menjenguk ibu baik hati yang sedang terbaring lemah, sementara mereka bergaya sambil senyum-senyum di sebelah tempat tidurnya. Bukan hanya sekedar masalah privacy, tapi untuk saya lebih dari itu. Mungkin ada semacam penolakan dari dalam diri saya saat melihat ibu baik hati itu dalam kondisi sakit. Diam-diam saya hanya ingin menyimpan kenangan yang manis-manis saja atasnya. Pada senyum lembut dan manisnya serta tatapan matanya yang teduh. Saya hanya ingin mengingatnya dalam kondisi itu.

Membaca berita dari sahabat saya kemudian membuka email yang dikirim sehari sebelumnya –yang juga entah kenapa baru saya baca tadi-, kemudian rentetan ucapan duka cita mendalam dari para mantan mahasiswanya, ingatan saya melayang jauh ke 20 tahun yang lalu, saat saya pertama kali mengenal sosok lembut ini yang ternyata menyembunyikan kekuatan sangat besar di baliknya. Dia dosen saya. Saya hanya mengenalnya di perkuliahan: Sprachübung dan Landeskunde. Aksen Jawanya cukup medok. Cantik, lembut, ayu. Yang saya tahu, dia tinggal di Jakarta, hanya ke Bandung saat mengajar. Seminggu dua hari dia di Bandung. Saya cukup sering bertemu dengannya di bis DAMRI Kebon Kalapa – Tanjungsari. Biasanya dia naik kereta dari Jakarta, kemudian dilanjut naik bis DAMRI atau naik angkot St. Hall – Gedebage dilanjutkan dengan naik angkot Gedebage – Rancaekek, lanjut lagi naik angkot Cileunyi – Sumedang. Kadang dia juga naik travel 4848 saat itu kalau mau pulang ke Jakarta. Mobil BMWnya hanya dipakai kalau ada jurusan ada acaranya. Jarang dipakai, padahal kabarnya dia punya beberapa mobil BMW. Biasa, mahasiswa suka bergossip soal dosennya J Belakangan saya tahu kenapa dia lebih senang naik kendaraan umum, karena katanya supaya dia bisa tidur di jalan, tidak perlu capek-capek nyetir Jakarta – Bandung. Setelah dibuka jalur tol Jakarta – Bandung, dia berganti trayek, jadi naik bis Primajasa ke arah Garut atau Tasikmalaya.

Ya, itu dia. Sosok yang senang menggambar dan menyanyi. Dia pernah memperlihatkan gambar yang dia buat saat dia di Jerman: suasana di depan kamarnya. Suaranya juga bagus. Dia sering didaulat untuk menyanyi kalau Fakultas ada acara. Sosok yang pernah bercerita pada saya, bahwa dia sempat datang ke Berlin tahun 1989, ikut dengan para mahasiswa membongkar tembok Berlin. Kebanggaannya menjadi saksi sejarah: “Pecahan temboknya saya bawa pulang”, demikian kisahnya. Saya tak terlalu dekat dengannya saat saya menjadi mahasiswa. Hanya relasi biasa: dosen dan mahasiswa. Saat itu, mana ada mahasiswa yang berani berdekat-dekat dengan dosen. Menelfon dia pun hanya sekali-kalinya, untuk menanyakan apakah skripsi saya perlu dikirim ke Jakarta atau disimpan di Jurusan saja. Ya, dia co-pembimbing skripsi saya dan saya tidak pernah bimbingan dengannya. Belakangan saya tahu bahwa skripsi saya baru dibacanya saat hari saya sidang. Dia berkata, “Saya percaya sama Dian.”

Dia yang mempercayai saya. Dari dulu sampai saat meninggalnya. Dia yang mempercayai saya seperti saya juga mempercayainya. Saya semakin mengenalnya saat dia menjadi lebih banyak ada di Bandung setelah suaminya meninggal. Saya dan beberapa kolega juga sempat menginap di rumahnya, saat kami ada acara di Jakarta. Saya pernah juga menginap di rumah keluarganya yang nyaman di Malang saat kami berdua mewakili Jurusan melakukan studi banding ke Malang. Tidur bersamanya. Menjadi tahu ritualnya sebelum tidur, menjadi tahu bahwa dia sangat takut naik pesawat, menjadi tahu tentang keinginannya yang kuat untuk melanjutkan sekolah lagi, menjadi tahu tentang kekhawatirannya, menjadi tahu tentang harapannya, menjadi tahu sedikit tentang keluarganya. Dia juga yang membuat saya jatuh cinta pada Malang. Saya pun diajak jalan-jalan dan berwisata kuliner di sana. Adiknya yang saat itu menjadi staf PR 1 Unibraw menemani kami. Adiknya yang baik, yang meninggal setahun setelah kunjungan kami ke Malang. Keluarga yang baik, yang saya tahu kemudian bahwa semua anak perempuan di keluarga itu diberi nama awal: Hesti.

Saya semakin mengenalnya lagi saat dia jadi ketua jurusan. Pada saat itu saya tahu, bahwa sosok ini berhati amat besar dan lapang di tengah segala macam intrik. Dia tetap dan meneguhkan diri sebagai sosok yang tidak pernah bergossip, tidak pernah mau mencari masalah, tidak banyak bicara tapi banyak bekerja, sosok yang tetap tenang dan lapang dada walaupun banyak hal mengecewakannya dan membuatnya sakit hati, sosok yang selalu mau belajar dan bertanya, sosok yang jujur dan rendah hati, selalu tersenyum dan berkata “Ya sudah, ngga apa-apa, biarin saja,” padahal saya misalnya dengan cerewet protes ini itu. Dia sosok ketua jurusan yang tidak pernah mau duduk di kursi “kebesaran” ketua jurusan. Tempat duduk favoritnya adalah di kursi depan lemari buku. Bersama dengan kami. “Lebih enak di sini,” begitu katanya selalu. Sosok yang selalu datang paling pagi, pulang paling sore, tapi tetap membebaskan stafnya untuk pulang duluan. Sosok yang masih setia naik bis DAMRI, kali ini bis DAMRI khusus dosen. Sosok yang selalu „keukeuh“ membayari kami makan siang atau membayari ongkos angkot. Bisa rebutan dengannya dahulu mendahului membayar ongkos angkot. Biasanya dia cemberut kalau kami „berhasil“ membayarinya. Sosok yang takut naik ojek, lebih suka jalan kaki, lalu kami bertemu di bawah dan naik angkot sama-sama. Dipikir-pikir kami suka keterlaluan juga memintanya pulang lebih dulu dan membiarkannya jalan kaki sendirian sementara kami enak-enak naik ojek. Sosok yang belakangan sangat bahagia jika bergabung bersama kami, dosen-dosen muda yang rusuh, yang senang karaoke dan kemudian makan-makan. Dia menjadi „guru besar Fakultas Sebelah“, partner menyanyinya „Pak Dekan Faksebel“. Mungkin dia terhibur oleh tingkah kami yang gila-gilaan. Pertemuan terakhir saya dengannya pun tahun lalu saat dia untuk kesekian kalinya berhasil kami „culik“ untuk ikut karaoke dengan kami di Ciwalk, setelah itu dilanjut makan seperti biasa. Dia selalu senang kami culik.  Seandainya saya tahu, bahwa saat itu dia sudah sakit. Namun, melihatnya tertawa dan berbahagia, rasanya saya tidak menyesali kelakuan kami yang suka semena-mena „menculik“nya berkaraoke dan makan bersama. Dia berbahagia. Menyanyi memang nafas hidupnya, seperti yang pernah dia ceritakan pada saya.

Dia juga adalah sosok yang selalu dengan berhati-hati bertanya pada saya, apakah saya sedang sibuk karena dia ingin bertanya sesuatu pada saya tentang materi kuliahnya saat dia studi lanjut dan tentang bahan tesisnya. Padahal saya amat sangat rela diganggu olehnya. Bayangkan, dia dulu dosen saya dan dia mau bertanya pada saya. Namun, bertanya tidak berarti kemudian dia tidak melakukan apapun. Dia belajar, dia mau belajar. Tidak ada yang direpotkannya, semua dikerjakan sendiri. Kami berdiskusi banyak hal. Dia mau mendengarkan saya yang suka sok tahu ini. Dia juga yang menemani saya dan beberapa teman menghadap dekan saat ada masalah dalam status kepegawaian kami. Dia orang pertama yang memberikan tanda tangan dukungan saat kami mengajukan protes ke universitas. Dia orang yang tetap mempercayai saya sampai kapanpun, pun saat saya menggamit lengannya dan sambil berjalan menuju tempat karaoke saya bercerita panjang lebar tentang masalah yang saya hadapi dengan studi saya. Komentarnya saat itu, „Pokoknya saya mendukung apapun yang terbaik untuk Dian.“ Dia juga sosok yang selalu saya repotkan soal urusan tanda tangan dan surat menyurat yang suka dadakan. Dia sosok yang dengan sangat sabar mendengarkan semua protes saya tentang ini itu. Dia juga sosok yang dengan selewat berkomentar saat kami sibuk menghitung penetapan uang kursus yang mau ditetapkan, „Jangan kemaruk,“ katanya dan kami langsung terdiam.

Saya mencoba mencari kenangan yang tak mengenakkan tentangnya. Tak ada. Dia tetap sosok yang selalu ingin dan harus saya temui saat saya mudik ke Bandung. Sayangnya, saat awal tahun ini saya mudik, saya tidak bisa menemuinya, karena dia sakit. Saat itu dia bilang, „Ah, cuma kecapean saja.“ Saya tidak curiga, karena saya kemudian masih melihat foto-fotonya ada ikut serta dalam kegiatan Jurusan. Bahkan tiga hari sebelum dia masuk rumah sakit pun, tampaknya dia masih memimpin rapat.

Dari banyaknya ucapan duka cita dan doa-doa untuknya, tangis dan keterkejutan yang sangat dari teman, kolega dan mahasiswa serta mantan mahasiswanya, saya semakin yakin bahwa dia memang sosok amat sangat baik yang pernah ada. Itu membuat saya lega. Tadinya saya berpikir bahwa saya akan menangis saat menuliskan ini semua, ternyata tidak. Mungkin saya masih „kebas“ atau mungkin saya sudah puas menangis sebelumnya. Namun, ada kelegaan menyelinap menyadari bahwa dia sudah tak sakit lagi (karena ini yang menyakitkan: mengetahui dia sakit), bahwa dia bisa istirahat dengan tenang, bahwa dia sudah lepas dari gonjang ganjing masalah hidup, bahwa dia bisa bertemu lagi dengan orang tuanya, dengan suaminya, dengan kakak dan adiknya, dengan Yang Maha Mencintai nya.

Saya menuliskan kenangan-kenangan manis tentangnya di sini, karena hanya itu yang bisa saya lakukan, untuk „menyimpannya“ agar tetap indah, selain memanjatkan doa untuk keindahan dan kelapangan jalannya menemui Sang Maha Indah di bulan penuh ampunan ini. Saya tidak menangisi kepergiannya, karena dia sangat berhak mendapatkan yang terbaik. Kalaupun tadi sempat air mata saya menitik sedikit mungkin karena saya membayangkan bahwa saat saya kembali ke Bandung nanti saya tidak akan pernah lagi menemukan sosok lembut itu duduk di kursi di depan lemari buku. Saya tidak akan pernah lagi mendengar suara merdunya saat bernyanyi. Saya tidak akan lagi melihat senyumnya sambil berkata „Biarin aja.“ Saya memang tidak sekuat dan setabah dirinya. Saya belum punya hati selapang dan seluas hatinya untuk bisa tersenyum dan berkata, „Biarin aja.“ Untuk saya dia sosok yang mendekati „sempurna“, seperti lagu „Sempurna“nya Andra and The Backbones yang sering dinyanyikannya.

Selamat jalan, Ibu yang baik. Berbahagialah di sana dan tolong sampaikan salam dan terima kasih saya pada Sang Maha Kasih yang sudah mempertemukan saya denganmu dan membuatmu ada dalam hidup saya.

Dan ternyata sekarang (akhirnya) saya benar-benar menangis.

Bayreuth, 080812

„Hallo!“ „Danke!“ dan teman-temannya

Dua bulan lalu seorang teman yang berkunjung ke Bayreuth memberi komentar, katanya saking kecilnya kota Bayreuth sampai saya kenal dengan semua orang, begitu juga sebaliknya saya mengenal mereka: sopir taxi, sopir bis, resepsionis hotel, kasir di supermarket, orang yang bertemu di jalan, dll. Indikasinya adalah karena saking seringnya saya bilang „Hallo!“ kemudian berbincang dengan mereka. Sampai-sampai teman saya itu menjuluki saya sebagai „walikota“nya Bayreuth, karena katanya saya mengenal hampir semua orang.

Komentar teman saya itu tidak sepenuhnya salah dan tidak sepenuhnya benar juga. Memang sih, setiap saya pergi terutama ke kota, pasti saja bertemu dengan orang yang sama atau sering bertemu dengan orang-orang yang saya kenal. Maklum, kota ini memang kecil, hanya berpenduduk sekitar 80 ribu orang. Wajar lah ya kalau jadinya saya juga sering ber“hallo, hallo“ dan ngobrol sebentar dengan beberapa orang yang saya temu di jalan.

Namun, kata sapaan „hallo“ ini sebenarnya satu bentuk ritual sapaan yang wajar dilakukan di Jerman ini, selain kata sapaan lain seperti „Guten Tag“, „Tag“, „Gruß dich“, „Moin!“ atau „Gruß Gott“. Orang menyalami siapapun yang mereka temui di jalan, saat memasuki sebuah tempat, walaupun kita tidak mengenal orang-orang tersebut. Jadi jangan heran, saat masuk ke ruang tunggu praktek dokter orang menyapa „Hallo!“ atau „Tag!“ kepada orang-orang yang sedang menunggu, atau menyapa sopir bis dan kasir di supermarket dengan „Hallo“ atau „Gruß Gott!“, termasuk menyapa orang yang berpapasan di tangga atau di lift. Tak perlu kita mengenal orang tersebut, sapaan ini diucapkan sebagai sebagian kecil dari bentuk interaksi yang dalam konteks Luhmann berarti „merasakan“ keberadaan orang lain dan „menunjukkan“ keberadaan kita.

Kata sapaan ini sebenarnya hanya sebentuk ujaran verbal yang kecil saja, selebihnya kita lebih banyak menyadari keberadaan orang lain dan menunjukkan keberadaan kita dengan cara lain yang sifatnya nonverbal. Kadang –sering bahkan- kata sapaan ini diucapkan begitu saja, tanpa diiringi dengan prosodi dan intonasi yang „diharapkan“ mendukung „makna“ kata sapaan ini jika diujarkan, pun kadang tanpa ditunjang oleh mimik dan gestik yang „kebayangnya“ mengikuti kata sapaan ini. Jadi, jangan heran pula kalau kata sapaan „Hallo“ atau „Tag“ dan lain-lain tadi hanya diujarkan lurus saja tanpa ekspresi, bahkan kadang tanpa adanya kontak mata atau senyum. Jangan heran, ini „ritual“ yang kadang hanya dilakukan sekedar menjalani fungsinya sebagai „saling menyapa“, tetapi tanpa makna yang lebih dari itu. Idealnya tentu melaksanakan „ritual“ dengan menjalankan maknanya juga. Namun, manusia terlalu sibuk dan terburu-buru untuk itu, hehe.

Selain kata sapaan „Hallo!“ dan lain-lain di atas, kata terima kasih „Danke“ juga sering diucapkan kepada siapapun. Pola berpasangan „Hallo!“ – „Danke“ – „Auf Wiedersehen/Tschüß/Ciao“ sangat lazim ditemukan misalnya dalam situasi membayar di kasir supermarket atau „Hallo!“ – „Tschüß“ saat berada dalam satu lift dengan orang lain. Jadi, pertemuan dibuka dan ditutup dengan ujaran verbal. Jangan disinggung soal elemen-elemen nonverbal yang diharapkan menyertainya, ya. Jangan berharap lebih pula. Namun, pola berpasangan dalam ritual sapa-menyapa, berterima kasih dan berpisah ini saya rasa cukup menarik untuk disimak. Ini sifatnya kultural dan secara sosiologis akhirnya berakar kuat dalam pola interaksi masyarakatnya. Maka untuk orang yang datang dari latar belakang budaya dan sosiologi yang berbeda, yang memiliki ritual interaksi yang berbeda pula, hal-hal kecil semacam ini mungkin awalnya akan terasa asing. Begitu juga dengan mereka yang datang dari latar belakang budaya yang saling menyapa dengan verbal –tanpa dukungan unsur nonverbal- akan merasa asing saat berada dalam situasi interaksi dalam masyarakat yang berkonteks budaya tinggi, di mana unsur nonverbal mendapat tempat yang lebih dibandingkan unsur verbal. Misalnya menyapa „hanya“ dengan tersenyum atau menganggukkan kepala atau mengangkat tangan saja. Itu bentuk interaksi dan komunikasi juga, seperti kata Watzlawick: manusia tidak bisa tidak berkomunikasi.

Berada cukup lama dalam lingkup budaya yang lekat dengan situasi interaksi verbal seperti di Jerman ini, kadang membuat saya juga jadi ikut melakukannya di saat saya berada di dalam satu situasi budaya lain yang berbeda. Misalnya di Indonesia saya juga sering mengucapkan „Hallo“ kepada kasir di supermarket. Kalau ke sopir angkot atau sopir bis agak sulit, karena mereka kadang tetap menjalankan kendaraannya saat saya naik. Reaksi yang saya dapat adalah pandangan heran, saat saya misalnya menyapa kasir super market atau pelayan restoran dengan salam “hallo”. “Terima kasih” juga sering saya ucapkan, sampai beberapa orang teman saya di Indonesia heran karena saya katanya sering sekali berterima kasih. Kebiasaan juga sih. Walaupun saya rasa ini kebiasaan yang bagus, karena bagi saya menyap dan berterima kasih ini mengandung makna yang sangat dalam: penghargaan.

Tanpa bermaksud membandingkan ritual interaksi di dalam satu budaya dengan budaya lainnya, saya hanya menyadari bahwa elemen-elemen verbal yang kecil ini pada saat berjumpa, berpisah, berterima kasih –yang kadang keluar begitu saja tanpa dipikirkan dan tanpa maksud khusus- jika ditunjang dengan elemen-elemen lainnya, apalagi jika dipahami benar maknanya, maka akan dapat membawa efek sosial dan psikologis yang besar. Terdengar seperti sedang berbicara tentang ritual keagamaan ya?! Hehe. Saya rasa tak ada bedanya. Kadang orang perlu mengujarkan sesuatu dulu kemudian melakukannya untuk akhirnya memahami nya atau memahami, melakukan dan mengujarkannya. Bebas saja lah, hehe.

Karena perbedaan dalam ritual interaksi tadi, maka tak heran akan ada pula “ruang kosong” dalam satu budaya, bahkan tidak ditemukan ujaran verbalnya, tetapi „ruang kosong“ ini „terisi“ di dalam budaya lainnya –lengkap dengan ujaran verbalnya-. Misalnya di Jerman ini saya “merindukan” kata “punten” dalam Bahasa Sunda yang artinya “permisi” saat saya melewati sekelompok manula yang sedang berjemur sore-sore di tepi danau. Padahal di Bandung, saya selalu berusaha menghindari kata ini, saking banyaknya orang yang bergerombol nongkrong di jalan yang saya lewati dan harus saya “punten”i yang ujung-ujungnya malah sering membuat saya marah karena komentar-komentar yang tidak saya harapkan menjadi jawaban dari kata “punten” tersebut. Namun, dalam satu proses interaksi, apa yang dujarkan bisa dipahami dan direaksikan berbeda, bukan?

Perubahan yang saya rasakan juga terjadi pada proses berujar saya adalah berkurangnya intensitas penggunaan kata “maaf” untuk “permohonan maaf” yang sebenar-benarnya permohonan maaf, bukan yang bermakna „permisi“. Entah, saya jadi irit betul menggunakan kata ini, bahkan cenderung “takut” kalau kata ini sampai akhirnya harus keluar dari mulut saya. Mengapa? Karena jika kata ini terucap biasanya itu diiringi dengan perasaan yang amat sangat tidak enak dan menyesal berkepanjangan dari diri saya pada orang yang saya mintai maaf. Oleh karena itu, sebisa mungkin saya berusaha untuk tidak melakukan apapun atau berkata apapun yang mengakibatkan kata ini harus keluar dari mulut saya. Saya merasa lebih nyaman jika saya ber”terima kasih” lebih banyak daripada sedikit-sedikit minta “maaf”, tapi sedetik kemudian lupa dan melakukan kesalahan yang sama (bahkan lebih parah) sehingga kata „maaf“ hanya jadi sekedar “pemutihan” saja, habis perkara, nanti beda lagi urusannya. Malah mungkin kalau bisa saya lebih suka menggunakan ujaran untuk pemberian maaf. Namun, sampai sekarang, di dalam bahasa-bahasa yang saya pelajari, belum saya temukan satu ujaran khusus –satu kata saja- yang mewakili tindak „pemberian maaf“ ini. Apakah mungkin karena memberi maaf lebih sulit dibandingkan meminta maaf ya?! Atau mungkin ada yang tahu kata yang mewakili tindakan ini?