Kompromi

Kompromi alias compromissum alias compromittere -katanya- mengandung makna „menyetujui apa yang sudah diputuskan oleh seseorang“ atau bisa juga berarti „memberikan janji“ (Duh!). Pertanyaan (untuk saya): kapan kita harus bisa berkompromi? Bukan. Bukan begitu tepatnya. Sebanyak apa kita sebaiknya berkompromi? Kurang tepat juga. Bukan seperti itu pertanyaannya. Sampai kapan kita bisa berkompromi? Bukan. Bukan itu pula maksud saya sebenarnya. Jadi? Ketiganya mungkin. Kapan. Sampai mana. Sampai kapan. Mungkin ditambah juga dengan di mana, bagaimana, dengan siapa.

Anyway, hidup memang pilihan. (Sering) ada saat-saat kita harus memilih berkompromi dengan diri atau dengan „konstruksi sosial“ yang melingkupi kita.  Bukan masalah yang besar yang -harus- dikompromikan, seringnya bahkan masalah sepele, yang sayangnya malah -sering juga- membuat sakit kepala. Sayangnya juga, kompromi dengan diri adalah hal yang paling sulit. Seperti sekarang ini. Saya sedang berkompromi dengan „sakit kepala“ yang belum usai-usai juga. Sampai kapan? Entah. Dibiarkan saja mungkin. Toh hidup masih terlalu indah untuk dilewatkan dengan atau tanpa kompromi.

Advertisements

Bertiga

Judulnya reuni. Setelah tiga Idul Fitri di Bayreuth, kali ini di Bandung dimanfaatkan untuk reuni. Reuni bertiga, karena ternyata selalu jadi bertiga, walaupun dalam satu meja ada „bertiga-bertiga“ lainnya. Jadi ada Evi, Lusi, dan Dian. Kemudian Joe, Ahyat. dan Dian. Berikutnya Mia, Asep, dan Dian. Terakhir Evi, Tika, dan Dian. Yang pertama tentu mengulang pertemuan rutin setiap hari kedua Idul Fitri yang sudah tiga tahun „tertunda“. Yang kedua mengulang pertemuan Bonn. Yang ketiga reunian masa kuliah (jadul banget yak!). Yang keempat tentu saja karena tiga „Burung Camar“ (cieeee…) akhirnya kembali juga ke sarang, setelah melanglangbuana ke Bayreuth, Binghamton, dan Pittsburgh. Pertemuan di Bayreuth, Paris, dan Roma diulang lagi di Bandung. Senang!

Yang dibicarakan? Hal-hal tidak penting seperti beragam keasingan yang masih juga menyergap dan hal-hal penting semacam makan apa ya berikutnya (duh!).

Jadi memang judulnya reuni bertiga. Lalu? Sampai pertemuan berikutnya di Tangerang, Pemalang, Padang, dan Makassar -insha Allah dalam waktu dekat ini-. Bis dahin, selamat mengikuti arus balik!

It’s so Bandung

Lepas siang. Di dalam gedung bioskop. Gema tembakan. Penyelesaian masalah dengan cepat. It’s so life. Rerintik. Menderas.

Di luar gedung. Masih terasa gema tembakan. Still. It’s life. Hujan masih menderas.

Menunggu reda hujan.Hujan reda. Tanah basah. Wangi. Sejuk. Menyeruak dari dalam tanah. Ke udara.

It’s so Bandung. I mean, i really love the smell and the air of Bandung after the (first) rain*.

Ciwalk, 251006

*Hujan (besar) pertama setelah kemarau panjang in my life(hampir 5 bulan penuh, karena jadi sambungan dari musim panas di Bayreuth)

„Membaui“ Das Parfum – Patrick Süskind



Ketika salah seorang teman memberitahu bahwa terjemahan roman „Das Parfum – Die Geschichte eines Mörders“ dari Patrick Süskind sudah terbit di Indonesia, saya penasaran dan langsung mencarinya setibanya saya di tanah air. Penasaran, karena dari hasil korespondensi saya dengan Patrick Süskind dan wakil dari penerbit Diogenes (penerbit resmi roman ini dan karya-karya Patrick Süskind lainnya), mereka menetapkan syarat yang ketat –dengan alasan politis tertentu- untuk penerbitan terjemahan buku-buku terbitan Diogenes. Salah satu dari syarat-syarat itu adalah penerbit yang dipilih haruslah penerbit resmi yang sudah dikenal di Jerman, Swiss atau Austria. Jadi, saya sudah membayangkan, kalau pun buku-buku karya Patrick Süskind diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, maka akan diterbitkan oleh salah satu dari dua penerbit terkenal di Indonesia.

Akhirnya, saya membeli roman paling terkenal karya Süskind tersebut yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia (Bahasa Indonesia?!) dengan judul “Perfume – The story of a Murderer”. Pertama kali memegang buku terjemahan tersebut, saya sudah “mencium bau” yang lain. Bukan “bau” Süskind, bukan “bau” Diogenes. Bukan gambar sampul dengan aroma sederhana, berwarna broken white dengan ilustrasi lukisan klasik berukuran sedang saja, seperti aroma khas Diogenes dan buku-buku terbitan Jerman atau Swiss lainnya yang saya hirup, melainkan “bau” Amerika yang langsung menusuk mata dan hidung dari sampul depan warna putih berilustrasikan gambar beberapa mannequin warna hijau apel, semua berkepala botak, sehingga dari kejauhan memang benar tampak seperti buah apel dari jenis Granny Smith. Sampul depan dan belakang penuh dengan tulisan dan komentar dari berbagai media tentang kesuksesan buku ini.

Tentang penerbit, yang ternyata bukan salah satu dari dua penerbit terbesar di Indonesia, tidak terlalu saya permasalahkan. Saya tidak terlalu ngotot menjadi penganut copy right, walaupun sedapat mungkin saya usahakan untuk selalu membeli buku-buku asli dan resmi. Namun, kalau terpaksa harus membeli yang copy left karena satu dan lain hal, (kadang) tidak jadi masalah juga.

Mencium bau yang berbeda, menghirup aroma yang lain, tidak menyurutkan minat saya membaca versi terjemahan buku ini. Saya baca, saya hirup huruf demi huruf, kalimat demi kalimat, halaman demi halaman. Saya mencari aroma Patrick Süskind. Mencari aroma „Das Parfum“. Mencium-cium dan mencari aroma yang terbentuk dari uraian kata dan kalimat dalam bahasa saya sendiri yang bercerita tentang sesuatu yang asing yang ada di luar „dunia“ saya, yang bercerita tentang tempat asing di luar jangkauan saya, yang bercerita tentang orang yang asing di luar bayangan saya. Saya tahu persis, tidak mudah “membaui” Süskind. Tidak mudah menyusun aroma „Das Parfum“. Ada kekhasan Süskind yang tidak bisa dicium dalam bahasa lain. Namun, saya sadar betul, memang pasti akan ada yang “hilang” dari karya-karya terjemahan. Saya sadar sekali dan saya tidak bisa menuntut banyak pula. Sudah ada terjemahan untuk karya yang bagus ini pun, saya pikir sudah satu usaha yang patut diacungi jempol. Artinya, akan semakin banyak orang yang bisa membaca dan turut “membaui” roman yang dibuat dengan cerdas oleh Süskind ini.

Bukan, bukan itu yang saya „cium“ dari karya terjemahan “Das Parfum”. Bukan terjemahannya, bukan sampul muka dan belakang, bukan penerbitnya, bukan kecerdasan Süskind menciptakan tokoh dingin (yang memilih) kesepian dengan kemampuan penciuman yang luar biasa bernama Jean-Baptiste Grenouille, bukan kekhasan teknik bercerita Süskind dengan alur mundur maju serta deskripsi tokoh dan tempat yang sangat detil, bukan pula satu paragraf yang hanya terdiri atas satu kalimat beranak pinak dengan satu titik saja. Saya „mencium“ kata-kata yang tidak hanya saya temukan di dalam terjemahan roman ini, tetapi sebenarnya sudah saya „cium“ juga di banyak tempat, media, dan ternyata „aroma“nya cukup mengganggu saya. Bukan aroma yang kuat, samar saja, tapi ternyata lambat laun membuat kening saya berkerut dan hidung saya berkerenyit.

Bersambung

Purnama

Saya selalu merasakan keindahan yang berbeda dari setiap purnama. Keindahan dari bias sinar lembut sedikit pucat yang kadang juga tampak kuning benderang, tergantung di mana saya melihatnya. Keindahan yang muncul pada malam musim dingin di atas hamparan salju, saat kelembutan sinarnya menyeruak di sela-sela cemara. Atau keindahannya saat berhadap-hadapan dengan mentari menjelang malam di musim panas. Keindahan yang tak saling mengatasi, tapi saling melengkapi. Keindahan saat bentuknya begitu bulat sempurna sebesar lubang tempayan besar. Atau pun kadang saat bentuknya hanya terlihat sebesar kelapa. Bahkan kadang purnama pun bisa terlihat serupa kentang, seperti yang dikatakan seorang teman pada suatu tengah malam, lalu kami lihat bersama. Tetap indah. Selalu indah.

Purnama juga tetap indah saat ditatap lekat-lekat atau hanya diintip sejenak lewat jendela. Walaupun terkesan malu-malu, tapi sebenarnya cahayanya tetap memancar terang lewat sela-sela kaca. Purnama selalu indah saat ditatap sendirian dalam hening malam. Dia semakin terlihat indah saat ditatap berdua sambil berjalan-jalan dengan sosok tersayang bernama Bapak. Seperti kemarin malam. 

Purnama selalu indah. Keindahan yang tak pernah saya rasakan sama. Hanya satu yang sama: keindahan itu bersahaja. Dan purnama selalu bersetia dengan sinarnya yang bersahaja.

 

Bandung, 081006

23:15

El Olvido del Pasado

Dia terbangun dari tidur
Penuh mimpi tak beratur
Bergegas ikut dengan waktu
Yang tak menunggu


Dia harus bangun
Mau atau tak mau
Jangan harap bisa punya dulu
Karena dulu adalah tabu


Dia pun dipaksa melupakan waktu
Yang ikut membentuk ragu
Karena kenangan atas masa lalu harus

Diputus tanpa ampun

Bandung, 011006