„Ziarah“ Berkisah

ziarah

(Sumber gambar: youtube)

Mbah Sri menyapu nisan sebuah makam pahlawan tak dikenal yang gugur saat perang kemerdekaan. Setelah puluhan kala, Mbah Sri baru diberi kabar bahwa itu ternyata bukan makam suaminya. Sejak saat itulah Mbah Sri mencari makam sang suami tercinta dengan niat ingin dimakamkan di sampingnya. Niat sederhana yang membawa tubuh rentanya tertatih menelusuri jalan sendirian, naik turun bukit melewati sawah dan menyeberang dengan sampan, bertemu dengan orang-orang yang membawa kisahnya masing-masing. Pun tentang kisah Mbah Sri yang rumahnya diberondong peluru saat suaminya pergi berjuang dan lalu berpesan, jika dia tak kembali, Mbah Sri harus merelakannya. Mbah Sri setia pada suaminya, tetap sendiri sampai tua, tetapi ikhlas melepas suaminya mungkin belum terlalu luas hatinya, karena tak datang kabar membuat harapnya tetap ada. Maka dia berjalan mencari makam, untuk menuntaskan janji setianya. Keris kecil miliknya harus menemukan kembali pasangannya. Perjalanan berulang, bahkan disesatkan, karena ternyata kisah tak seperti yang dibayangkannya. Jikalau suaminya ternyata bukan pahlawan yang mati tertembak, toh dia tetap lelaki terpenting dalam hidupnya. Pun jika ternyata sudah ada makam lain di samping makam suaminya. Mbah Sri menyapu dan membersihkan makam dengan pelahan dalam diam. Menabur mawar. Dan dua lahan makam bersebelahan sedang disiapkan.  

***

Film yang ditulis dan disutradarai oleh BW Purba Negara ini bertema sederhana, tanpa konflik yang berlipat-lipat, tetapi tujuannya jelas: kisah seorang perempuan renta bernama Mbah Sri (Ponco Sutiyem) yang berjalan mencari makam suaminya. Tanpa bintang-bintang muda yang cantik, ganteng, dan terkenal, bahkan tokoh utamanya diperankan oleh seorang perempuan tua berusia 95 tahun, film „Ziarah“ ini mampu membuat saya duduk terpaku dan keluar dari bioskop dengan tangan gemetar dan air mata yang sedikit menetes. Bukan sedih, bukan pula bahagia, tetapi lebih kepada perasaan lega setelah mengikuti perjalanan seorang nenek renta mewujudkan niat sederhananya. Jika pada akhirnya kenyataan yang ditemui tak sesuai dengan harapannya, tetapi itulah hidup yang sering tak terduga kisahnya. Siap tak siap, harus diterima.

„Ziarah“ tidak berkisah tentang kematian an sich, walaupun film ini diawali dengan lemparan tanah ke liang lahat dan Leitmotiv kematian serta pemakaman beragam orang karena sebab kematian yang berbeda, lalu berujung di pemakaman juga. „Ziarah“ berkisah sesuai makna katanya yaitu pergi menuju suatu tempat untuk menengok seseorang, termasuk juga kisahnya. „Ziarah“ bicara tentang hidup Mbah Sri yang sederhana yang kemudian beririsan dengan banyak hal dan peristiwa: agresi militer Belanda ke II, peristiwa 65, penenggelaman desa karena pembangunan Waduk Kedung Ombo, sampai dengan peristiwa perselingkuhan yang membuat seorang istri mengakhiri hidupnya. „Ziarah“ adalah perjalanan paralel Mbah Sri, Prapto –cucunya- (Rukman Rosadi), dan orang-orang lain yang mereka temui selama perjalanan mencari makam Prawiro –suami Mbah Sri-.

„Ziarah“ memang film yang sederhana. Tanpa setting yang spektakuler, bahkan kamera cukup sering menyorot gersangnya tanah di seputaran Gunung Kidul, tetapi tetap mampu menangkap keindahan sawah, bukit, gunung serta awan di daerah Wonogiri dengan pas. Tone warna pun pas dengan warna-warna didominasi warna tanah dan alam yang natural. Acting pemainnya semua benar-benar mengalir alami begitu saja, seolah mereka tak menghafal dialog, tetapi itu adalah percakapan keseharian mereka, padahal tidak ada pemain profesional yang terkenal di film ini. Scriptnya kuat dengan alurnya yang maju pelahan, tetapi jelas, tidak multikonflik, biasa saja. Bahkan penonton kadang dibiarkan hening sesaat untuk menikmati kisah yang dialognya 99% dilakukan dalam Bahasa Jawa, tetapi itu tidak mengganggu karena memang demikianlah adanya, bahkan dialognya terasa sangat filosofis. Penonton seperti sedang menyaksikan film semidokumenter karena kealamian dan kesederhanaan film ini, padahal ini adalah kisah fiksi. „Ziarah“ mampu mengemas dan menuntun penonton untuk mengikuti perjalanan kisah sederhana ini dengan kesederhanaan yang indah, metaforis, dengan akhir yang sama sekali tak terduga. Namun, itu semua sama sekali tidak mengganggu, bahkan –seperti yang saya sebutkan sebelumnya di atas- membawa kelegaan karena sebuah perjalanan akhirnya menemukan „akhirnya“, sepahit apa pun akhir perjalanan itu.

„Ziarah“ berkisah tentang hidup.  Seperti kisah nenek buyut saya yang merelakan suaminya menikahi perempuan lain, seperti kisah Emak saya yang matanya buta sebelah karena terserempet peluru saat mengungsi ke Bandung Selatan, seperti juga kisah Mbah Kakung saya yang pergi menyusul istrinya di hari ke 40 setelah istrinya meninggal, pun seperti kisah anak-anak seusia SMP yang beramai-ramai urunan uang recehan untuk membeli tiket film „Ziarah“ dan mereka menonton filmnya dengan serius. Berusaha, memaafkan, menerima, dan berdamai adalah  „kemenangan“ terbesar dari perjuangan yang ditemui dalam perjalanan hidup. Itu pun jika hidup kadang dimaknai sebagai „menang“ atau „kalah“ yang didapat dengan melepaskan hal-hal yang membebaninya. Demikianlah „Ziarah“ berkisah.

Bandung, 220517