Maka Menarilah

Lelaki itu naik ke atas meja. Membaringkan tubuhnya di meja yang hanya seluas meja tulis biasa. Menggeliatkan badannya. Menguap. Merentangkan tangan. Menarik tubuhnya. Membungkuk. Menggeliat lagi. Menguap lagi. Menggaruk-garuk kepalanya. Memeluk lututnya. Dan semua gerakan menjadi sangat terlihat indah. Kegiatan sewajar-wajarnya kegiatan yang juga dilakukan oleh kita semua. Mungkin pada setiap harinya. Dan kita tidak menyadari, bahwa setiap gerakan tubuh adalah tarian. Indah.

Tubuh kita kaya dengan pengalaman ekspresi yang melimpah ruah. Tumpah dalam setiap detil gerakan dari ujung kepala sampai ujung kaki. Tubuh mengalami pengalaman tentang kecepatan dan menikmati kecepatan itu. Bergerak kadang cepat atau lambat. Tubuh menerima pengalaman itu. Dan menumpahkannya kembali. Pun dalam gerak yang sangat alami, sehingga sering tak disadari, bahwa semua adalah tarian. Indah.

Lain saat, lelaki itu berdiri tegak di atas meja. Kakinya diangkat satu per satu. Berjalan di atas meja yang hanya seluas meja tulis biasa. Tubuhnya kadang bungkuk sedikit. Tangannya berayun, seolah menyibak semak. Semakin lama semakin berirama gerak tangan dan kaki di atas meja. Dan begitulah orang Dayak berjalan. Mereka menari dalam jalannya. Mereka berjalan dengan menari. Ular di depan beranjak karena derap langkah kaki yang tiba-tiba menghentak. Bersiasat. Orang bersiasat dengan menari. Orang menari untuk bersiasat. Tetap tampak indah.

Saat lain, lelaki itu kembali berdiri tegak di atas meja yang menjadi panggung istimewanya. Dadanya dibusungkan. Ditarik ke belakang. Dibusungkan lagi. Kedua lengannya diangkat ke atas. Dan berteriaklah dia. Menggelar. Suara yang keluar dengan segenap nafas. Kuat. Memang begitulah masyarakat suku Dani nun jauh di Papua sana menari. Mereka meneriakkan dan menarikan hidup. Kondisi alam yang mewadahi mereka untuk bisa berteriak begitu kuat. Menciptakan harmoni suara terkuat dan terindah.

Setiap orang punya pengalaman tubuh yang sama. Pada kaki-kaki dan tangan-tangan mungil yang bergerak bebas sesuka cita seriang rasa. Jatuh dan bangkit lagi. Jatuh dan bangkit lagi. Berputar menggasing atau hanya diam dalam posisi sesukanya. Adakah aturan? Aturan hanya membuat pegal badan. Bahkan nafas pun harus ditahan. Maka menari adalah usaha untuk memahami kembali persepsi awal tubuh.

Dan kuliah malam kemarin menjadi benar-benar menggetarkan. Sardono W. Kusumo memang sang mpu-nya gerak malam itu. Dia yang menjiwai gerak menjadi nafas dan hidupnya, membuatnya tak perlu banyak berkata untuk membuat kami merasai alam pengalamannya yang dibaginya dengan ruah. Kesederhanaan memang indah. Sayangnya sering terabaikan.

Ngomong-ngomong, saya jadi kangen menari lagi. Benar-benar menari. Jelek-jelek begini saya pernah jadi penari Jawa klasik :) Tarian yang gerakannya membuat dunia melambatkan lajunya.

Advertisements

Homo Necans

Kebuasan dan kepuasan metafisis manusia. Ada kepuasan dalam kebuasan. Ada kebutuhan untuk menyakiti dan disakiti. Sado masokis? Begitukah manusia? Disadari atau tidak, rasanya ada benarnya juga. Termasuk pandangan bahwa diri menjadi ada dan berarti saat menyakiti (atau disakiti). Dalam bentuk apapun. Tersurat atau tersirat. Manusia adalah makhluk pembunuh, pemangsa, dan penyerang. Instingtif. Bahkan bisa lebih buas dari binatang. Menjadi ritus. Manusia tetap butuh simbol. Simbolisasi „kebuasan“ dibungkus dengan ritus keagamaan. Kurban. „Memakan“ tubuh tuhan untuk mendekati tuhan. Memaknainya sebagai pagelaran ulang ritus purba masyarakat pemburu? Kok hampir sama seperti adegan-adegan horor dengan mutilasi dan darah segar serta rasa menaklukan yang memuaskan jiwa, mendebarkan, takut, kasihan, tapi tetap dilakukan.

Dalam konteks agama, saya melihat ada iman. Sampai mana? Kembali ke diri. Tak bisa jadi identitas bersama. Walaupun sayangnya sering disamarkan. Oleh siapa? Manusia juga. Katanya, membunuh sudah menjadi sikap dasar manusia. Semakin lama semakin canggih dan halus pula pembunuhan yang dilakukannya. Tanpa perlu berdarah-darah, tanpa perlu pedang atau senjata tajam lainnya, tapi akibatnya sama. Mati juga. Dan bukannya manusia merindukan kematian seperti merindukan kehidupan itu sendiri? Hidup ada jika ada mati. Jika ingin hidup harus ada yang mati. Tidak harus sesama manusianya yang mati, bisa binatang atau tumbuhan, atau tanah, atau gunung, atau sungai, atau alam tempat manusia itu hidup dan ingin hidup.

Dan jika saat kuliah Jumat malam lalu saya berharap kematian untuk nenek saya yang sedang terbaring koma, kemudian dikabulkan hari Sabtu paginya, karena saya tidak mau melihat dokter-dokter itu melakukan tindakan “pembunuhan” pelan-pelan –atas nama kehidupan- dengan menusukkan beragam jarum dengan jurai panjang selang-selang dan memasangi listrik di sekujur tubuh rentanya, menghisap darahnya, memasukkan obat-obatan kimia untuk “merusak” pelahan lambung, hati, dan ginjalnya, mungkin naluri membunuh saya sedang bekerja. Dan ketika saya lega saat tahu nenek saya meninggal, merasa bahagia tak menangis bahkan tersenyum, karena tahu nenek saya sudah lepas dari penderitaan hidup yang sudah dilihat, didengar, dirasa, dan dialaminya selama 90 tahun, mungkin saya sedang menjadi pembunuh berdarah dingin. Dan ketika saya bersyukur karena nenek saya “hanya” mengalami koma selama 3 hari, tanpa didahului sakit yang berat sebelum dia kembali pada Yang Selalu Dirindukannya, mungkin saya sedang menjadi seorang sadistis tanpa empati. Dan ketika saya bahagia, karena harapan nenek saya sudah terkabul: kematian adalah keinginan terbesarnya, kerinduan yang sangat pada Yang Maha Abadi, mungkin saat itu saya sedang menjadi seseorang tanpa perasaan.

Saya tidak peduli apa kata orang. Saya peduli pada kematian seperti saya peduli pada kehidupan. Dan rasanya indah nian jadi manusia. Semua lengkap ada dalam dirinya. Rasional, irrasional, logis, sensitif, rajin, kreatif, serakah, pembunuh pula. Yang saya tahu, masih banyak yang harus saya syukuri. Pada hidup. Pada kematian. Pun insting membunuh itu sendiri.