Batas Nyawa

Dan jika memang sudah terlalu sakit tubuh mengungkung nyawa/ Mungkin memang hanya waktu yang pasti menjawab/Ada batas antara tubuh fana dan jiwa/Lalu mungkin benar kata sajak:

Karena kematian tak lain hanya tarikan nafas terakhir
yang membebaskan helaan naik turun tak tenang.
Agar dia bisa naik tanpa rintang menuju Tuhan.“ (Kahlil Gibran, „Tentang Kematian“)

Bandung, 300308

02.55

Bayarlalaa

Wajar saja rupanya jika ada yang bilang pada saya, bahwa saya ini naif, kuper, dan ekstremnya „bodoh“. Gelar akademik saja cukup tinggi, tapi untuk beberapa urusan saya memang naif, kuper, dan bodoh, hehe. Beberapa waktu lalu saya mengalami lagi situasi yang menunjukkan kekuperan saya, yaitu saat saya melakukan proses pendaftaran online untuk studi lanjut di Universitas Zürich, Swiss. Percobaan pertama dan kedua gagal. Saya kemudian menulis surat elektronik pada administratornya juga pada sekretariat urusan mahasiswa asing untuk mengadukan kesulitan melakukan pendaftaran online. Saya juga bertanya apakah mungkin saya mendapatkan informasi tentang studi di sana beserta formulir pendaftarannya dan dikirimkan per pos. Email langsung dibalas, isinya pendek saja, hanya berupa link kepada informasi tentang studi di sana serta link ke pendaftaran online (itu sih saya sudah tahu dan sudah saya lakukan), serta pemberitahuan bahwa server mereka sedang rusak, maka pendaftaran online tidak bisa dilakukan sampai beberapa hari ke depannya. Rupanya email saya diforward oleh sekretariat urusan mahasiswa asing kepada administrator pendaftaran online disertai catatan ”Diese Frau hat Probleme mit Online-Registrierung”.

Pada hari yang disebutkan server akan berfungsi kembali, saya coba lagi mendaftar. Kali ini berhasil. Cepat dan mudah. Saya puas. Ketika semua proses sudah beres, saya menerima email konformasi bahwa saya harus membayar 50 Franc untuk membeli formulir dan proses pendaftaran tadi. Kaget saya, karena selama saya studi di Jerman, dan sering berkorespondensi dengan beberapa universitas dan institusi lainnya di sana, tidak pernah sedikit pun saya dikenai biaya. Apalagi untuk pendaftaran. Biasanya saya tinggal minta informasi dikirim per pos, maka akan datanglah beberapa waktu kemudian. Gratis. Terakhir saya minta ijazah saya dikirim per pos, karena saya keburu pulang sebelum ijazah jadi. Yang saya dapatkan bukan hanya ijazah dan transkrip nilai, melainkan sudah disertai beberapa lembar foto copy-nya yang telah dilegalisir. Itu semua gratis. Sebelumnya bahkan disertai tawaran apakah saya mau dikirimi legalisirnya dulu tanpa tanda tangan asli dekan dan rektor, jika saya perlu ijazah dan transkrip nilai itu segera. Saat dulu mendaftar kuliah, mengajukan permohonan kamar di asrama, semua berkas informasi, brosur, formulir, dll dikirim dari sana cuma-cuma.

Tidak hanya dengan universitas, itu terjadi juga dalam pengurusan visa , ijin tinggal, legalisir passport, surat wajib pajak, dll, berkas selalu gratis. Biaya hanya dikenakan untuk membuat visa (tetapi karena saya tinggal di Jerman dengan beasiswa, maka visa dan ijin tinggal pun gratis). Pendek kata, untuk semua yang berbau informasi, saya bisa dapatkan gratis.

Kupernya saya, saya menyamaratakan itu dengan Swiss. Di sana ternyata semua harus membayar. Bahkan untuk kuliah pun, biaya yang harus dibayarkan cukup banyak. Memang tidak ada tuition fee, hanya biaya lain-lainnya itu lho. Ada Kollegialpauschal khusus untuk program doktor, bantuan untuk mahasiswa asing, biaya untuk kas kelompok olah raga, dll. Bagus juga saya pikir, karena jadi terperinci saja uang larinya ke mana dan digunakan untuk apa. Di Jerman pun ada biaya demikian berupa sumbangan wajib (Studentenbeitrag) yang besarannya berbeda di setiap universitas, kisarannya antara 50 – 200 €. Biaya itu sudah termasuk tiket bis dan kereta api untuk satu semester. Dengan menunjukkan kartu tanda mahasiswa (Studentenausweis), kita bisa naik bis dan kereta apir gratis di zona yang ditentukan. Ini lumayan betul. Dan lagi-lagi, karena saya mendapatkan beasiswa, saya juga tidak membayar penuh Studentenbeitrag ini, hanya setengahnya (dulu membayar 50 €/semester). Sejak tahun 2007, di Jerman sudah diberlakukan tuition fee (Studiengebühren) sebesar 500 €/semester. Ini masih terhitung murah jika dibandingkan dengan negara-negara lain seperti Inggris dan Perancis.

Tempat tinggal dan biaya hidup di Swiss pun termasuk mahal. Demikian pula dengan asuransi. Dihitung-hitung, memang benar, Swiss adalah negara mahal. Kalau boleh memilih saya lebih suka sekolah di Jerman. Namun, apa mau dikata, pembimbing saya pindah dari Bayreuth ke Zürich, suka tidak suka saya juga jadi ikut dia. Dan saya jadi seperti orang desa yang pindah ke kota (Bayreuth memang desa, hehe). Biasa hidup di Bayreuth dengan 200 € per bulan (sudah rumah dan asuransi lho), melihat biaya hidup di Zürich –yang mungkin standar- kagetlah saya (iyalah, bandingannya Bayreuth).

Kemudian saya bercerita dan mengeluh pada salah seorang sahabat dan dia malah menertawakan saya, „Dian, kemana ajaaa….di mana-mana juga kalau mau daftar mah bayar. Di Singapur harus bayar 50 dollar. Di Amrik juga sama. Di Inggris sama. Di Australi bayar. Kemana aja, neng?“ sambil terbahak menertawakan saya yang dengan polosnya menjawab. „Di Jerman ngga…“. „Ya itu di Jerman. Makanya gaul dong, jangan kuper gitu. Lagian Swiss kan memang mahal. Salah sendiri mau ke sana.“

Hehehe, ya begitu deh. Semua serba mahal.Di Jerman juga memang tidak murah sebenarnya. Pajak semakin tinggi, harga-harga ikut naik. Di Indonesia sudah jelas lah. Uang sudah tidak ada harganya lagi. Semua harus bayarlalaa…:) Eits, bayarlalaa itu dalam bahasa Mongol artinya „terima kasih“. Terima kasih untuk informasi, terima kasih untuk pajaknya, terima kasih untuk biaya ini itu. Terima kasihnya pakai uang, hiks :( Lagian, hari gini masih mau gratisan :p


(Per)minta(an)

Saya termasuk orang yang sulit untuk meminta. Kalaupun saya „terpaksa harus“ meminta, permintaan saya biasanya dikemas dengan menggunakan tindak tutur dan strategi permintaan yang rumit dan berbelit-belit. Tidak pernah bisa langsung ke tujuan utama. Kalaupun akhirnya saya „berhasil“, biasanya itu sudah melewati proses berpikir dan menimbang-nimbang berulang kali.

Kenapa? Satu hal, saya tidak terbiasa meminta (terutama meminta tolong) jika saya rasa saya masih bisa melakukannya sendiri. Alasan lain, saya tidak mau merepotkan orang yang saya mintai tolong. Alasan terbesar di balik semua itu mungkin saja karena sebenarnya saya adalah seorang „penakut“ yang takut permintaannya ditolak dan akibatnya saya akan kecewa. Dengan meminta, maka saya berharap, dan jika harapan tersebut tidak terpenuhi, maka kemungkinan untuk kecewa akan lebih besar. Saya takut kecewa. Padahal dalam hidup kekecewaan tidak bisa dihindari. Hal tersembunyi lainnya dari keengganan saya untuk meminta adalah kesombongan saya untuk menempatkan diri saya „di bawah“ orang yang saya mintai tolong. Dengan meminta, maka saya memosisikan diri „di bawah“, posisi yang „diberi“. Saya tampaknya lebih suka ada di posisi yang ”memberi”. Padahal –sekali lagi- saya bukan manusia super yang bisa terus menerus ada dalam posisi itu. Akibatnya –lagi- untuk beberapa kasus, energi saya bisa terserap habis karena ”kesombongan” saya ini.

Jika saya ”berhasil” meminta, bagaimana saya mengemas tindak tutur saya? Biasanya saya menggunakan tuturan dengan modalitas ”bisa(kah)” atau ”boleh(kah)”, misalnya ”Boleh saya pinjam bukunya?”. Tuturan imperatif yang digunakan pun bukan tuturan imperatif langsung, melainkan berbentuk tindak tutur bertanya dengan tindak ilokusi meminta tolong atau menyuruh, misalnya ”bisa tolong bawakan laptop?”. Jika ”terpaksa” menggunakan tuturan imperatif langsung, partikel ”ya” atau ”dong” serta kata ”tolong” tidak pernah saya lupakan. Misalnya, ”Tolong bawakan buku ini ke Jurusan, ya” atau ”tolong bantu saya dong”. Dengan penggunaan partikel ini, ”nuansa” perintah dalam tuturan saya menjadi lebih halus, apalagi jika ditambah dengan intonasi tuturan yang menurun.

Paraphrase adalah salah satu strategi yang digunakan saat saya meminta dan mengutarakan maksud. Saya akan memberikan dulu berbagai macam keterangan dan alasan, mendeskripsikan situasi atau masalahnya serta memberikan argumentasi yang menurut saya cukup logis dan beralasan, sehingga rekan bicara saya ”sulit” untuk menolak. Antisipatif atau malah justru manipulatif? Saya lebih suka melihatnya sebagai langkah preventif saya terhadap kekecewaan karena permintaan atau maksud saya tak terpenuhi seperti harapan saya. Ketakutan terhadap penolakan? Sungguh ironis karena saya adalah orang yang bisa dengan tegas berkata ”tidak”. Saya akrab dengan berbagai macam ragam tuturan ”penolakan”, baik langsung atau tidak langsung. Terlihat juga dengan jelas, bahwa secara psikologis saya lebih suka menghindar dengan cara menolak.

Kembali kepada ragam tuturan permintaan, apakah tindak tutur permintaan –lebih spesifik lagi pada tindak berbahasa verbal dan nonverbal – ini bersifat individual atau kultural? Bagaimana jika percakapan dengan konteks meminta dan mengutarakan maksud ini dilakukan oleh pelaku percakapan dari budaya yang berbeda? Apakah terjadi persinggungan yang mungkin menimbulkan salah paham? Jika ya, apakah persinggungan ini disebabkan oleh faktor kebahasaan verbal yang bersifat segmental atau dipengaruhi juga oleh faktor suprasegmental seperti prosodi, mimik, gestik, kontak mata, gerak tubuh, dll? Bagaimana faktor psikososial pelaku percakapan berpengaruh terhadap tindak tutur permintaan dan pengutaraan maksud tadi?

Berdasarkan hasil penelitian yang saya lakukan sebelumnya dengan menggunakan teknik analisis percakapan terhadap tindak tutur permintaan pada pelaku percakapan dari latar belakang budaya dan bahasa yang berbeda, ditemukan bahwa ”persinggungan” yang membawa kepada kesalahpahaman hanya sekitar 20 % disebabkan oleh faktor kebahasaan verbal. Pengaruh terbesar disebabkan oleh faktor-faktor nonverbal, latar belakang budaya dan normalitas kultural serta situasi psikologis pelaku percakapan (ruang, waktu, ”jarak” sosial adalah beberapa faktor penyebab).

Bagaimana dengan kasus saya yang tetap sulit ”meminta” kepada orang yang berbahasa sama dengan saya, berlatar belakang sosial dan budaya yang juga sama, bahkan dengan status sosial dan jarak sosial yang relatif sama? Adakah ”masalah” saya ini juga terjadi pada orang Indonesia lainnya? Jika dipersempit lagi ke dalam konteks percakapan antara dosen dan mahasiswa, faktor-faktor apakah yang menyebabkan terjadinya berbagai ragam tuturan permintaan? Tidak bisa dilupakan, bagaimana pengaruh unsur-unsur nonverbal terhadap ragam tuturan permintaan dan pengutaraan maksud tadi? Apakah ragam tuturan permintaan ini berkaitan dengan unsur-unsur psikososiopragmatik para pelaku percakapan dalam konteks percakapan dosen – mahasiswa? Jika ya, bagaimana keterkaitannya? Apa pandangan filosofis yang melatarbelakangi munculnya ragam tuturan permintaan dalam konteks percakapan di atas?

 — Dan pertanyaan-pertanyaan lain yang mengganggu saya, yang akan coba saya jawab dalam penelitian berikutnya. Sudah cukup rumit untuk satu disertasi belum? Hehe. Mudah-mudahan saya tidak malas menguliknya atau keburu tertarik meneliti hal lain :)