„Saya Terima Nikahnya“: ‚Menerima‘ Realita (2)

STN Lovers 20150907_071855

Perubahan dalam STN, dimulai dari hal-hal kecil, memang sangat disayangkan terjadi pada komedi situasi yang mulai banyak diminati ini. Hal ini bermula dari break cukup panjang STN pada akhir April sampai akhirnya dibuatkan Season 2 yang tayang kembali pada tanggal 15 Juni dengan kualitas tayangan yang secara teknis dan penceritaan menurut saya lebih menurun dari sebelumnya. Entah apa alasan NETmediatama menghentikan STN sementara tanpa pemberitahuan, sehingga kemudian mengurangi hari tayang STN dari Senin – Jumat menjadi Senin – Rabu saja. Itu pun dengan jam tayang yang sering berubah-ubah. Bahkan setelah lebaran, hari tayang STN hanya menjadi Sabtu – Minggu. Selain hari tayang, durasi tayang pun rasanya menjadi lebih singkat. Puncaknya adalah hari ini, saat tayangan STN dihentikan oleh NET juga tanpa pemberitahuan. “Pemberitahuan” bahwa STN sudah selesai, justru dilakukan oleh Tika Bravani, salah seorang pemain. Hal ini tentu menimbulkan banyak kekecewaan dan tanda tanya muncul dari para penggemar STN, mengapa STN dihentikan di tengah cerita yang menggantung begitu saja.

Sebagai seorang peminat dan pemerhati media, saya tahu betul bahwa satu tayangan di TV sangat bergantung pada rating. Rating tinggi berarti banyak penontonnya, mengundang banyak iklan yang berarti banyak pemasukan, yang artinya lagi, pemasukan itu adalah modal bagi biaya produksi berikutnya. Seterusnya begitu dan menjadi lingkaran setan, karena jika ratingnya rendah, maka acara sebagus apapun dapat diputus semena-mena. Namun, realita di dunia media memang keras. Karena persaingan cepat dan ketat, maka apapun dapat dilakukan untuk sebuah tayangan agar mendapat sharing rating yang tinggi.

Promosi adalah salah satu cara untuk membantu menaikkan rating. Sayangnya STN sepertinya tidak mendapatkan “hak” ini dari NETmediatama yang menaungi mereka. Jika di awal-awal masa tayangnya NET cukup gencar mempromosikan STN, bahkan membawa mereka ke acara live sebuah talk show besar di NET, semakin lama hak promosi ini semakin menurun –jika tidak dikatakan hilang- dari NET. Kalau pun masih ada, iklan STN ditayangkan di malam hari, saat hanya sedikit orang yang menonton TV. Lalu sebagai stasiun TV yang mengklaim dirinya sebagai “TV Masa Kini” dengan format “digital” untuk promosinya, salah satunya dengan berbagai sosial media, admin promosi STN pun tampaknya tidak segencar admin tayangan NET lainnya dalam mempromosikan STN. Entah karena apa. Bahkan beberapa kali admin STN justru lebih banyak mempromosikan acara lain di akun resmi STN. Juga entah karena apa. Jam tayang STN yang cenderung sering berubah –lagi-lagi tanpa pemberitahuan- mungkin juga mengakibatkan jumlah penonton STN tidak bertambah banyak. Akun STN baik di twitter maupun di instagram lebih sering tidak aktifnya daripada aktifnya. Tidak hanya akun STN, akun NETmediatama pun sering tidak mempromosikan STN, entah lupa atau karena apa. STN pun pernah diistirahatkan cukup panjang, sehingga memungkinkan tayangan-tayangan baru di NET masuk dan mengisi slot STN. Maka, ketika STN masuk kembali, penonton STN mungkin sudah memiliki pilihan tayangan yang lain. Namun, menurut pendapat awam saya, jika pihak NET memang ingin STN tetap bertahan, maka segala upaya perlu dilakukan untuk mempromosikannya. Apakah keinginan itu ada? Itu pertanyaannya.

Selain kualitas teknis, penceritaan, dan terutama promosi yang semakin menurun, STN beruntung memiliki pemain yang sangat berkualitas dan kompak. Kualitas dan kekompakan mereka inilah yang menghidupkan dan menyelamatkan STN. Kurangnya kualitas script terbantu oleh kualitas para pemain ini. Kehadiran bintang tamu-bintang tamu yang mungkin diniatkan untuk menaikkan rating STN, menurut saya malah justru “merusak” cerita, karena cenderung dipaksakan, bahkan hanya sekedar tempelan karena tidak masuk ke dalam konteks cerita atau tidak memiliki benang merah yang jelas dengan tokoh-tokohnya atau dengan tema ceritanya. Keempat pemain utama STN ini sangat kuat dari sisi akting dan kekompakan, bahkan cerita dapat menjadi sangat lucu jika hanya dimainkan oleh mereka berempat, karena mereka sudah mendapat “feel”nya. Tidak perlu ditambahi bintang tamu, cukuplah. Hal ini terasa, misalnya saat Dimas Aditya absen sekitar dua minggu dari STN, dan saat itu dengan “paksa” dimasukkan beberapa bintang tamu ke dalam cerita. Kecuali di episode “Tari Datang”, episode lain saat Dimas absen hasilnya cukup mengecewakan. Padahal tidak hanya saat itu ada pemain yang absen. Ray Sahetapy pun pernah absen beberapa lama di Season 1, tetapi cerita bisa tetap dibuat menarik, tanpa kehadiran Ray Sahetapy dan tanpa bintang tamu.

Lepas dari apapun dugaan saya, lepas dari alasan apapun yang melingkupi diberhentikannya STN oleh NETmediatama, lepas dari kelebihan dan kekurangan STN, secara pribadi saya merasakan hal yang berbeda dari dan karena tayangan ini. Tidak pernah sebelumnya saya terlibat dengan intens, baik secara pikiran dan emosi, pada satu tayangan TV. Tidak pernah sebelumnya saya merasa sesedih ini saat satu tayangan TV berhenti. Tidak pernah juga sebelumnya saya merasa sekecewa ini atas perlakuan yang saya rasa tidak adil terhadap tayangan ini. Adanya sosial media pun memungkinkan saya mendapatkan pertemanan baru dengan sesama penggemar berat STN, juga pemainnya. Pertemanan yang terjadi begitu saja, tetapi sangat intens, walaupun kami baru saja kenal dan belum pernah bertemu muka. Mengapa hal ini bisa terjadi? Saya rasa ini karena energi cinta, kehangatan, dan kebersamaan yang sudah berhasil diteruskan oleh para pemain STN kepada penonton yang menyaksikannya. Mereka bermain dengan sepenuh hati dan jiwa untuk membuat tayangan yang menarik dan menghibur, yang “membahagiakan pemain dan yang menontonnya” –seperti kata Nungki Kusumastuti-,dan yang menularkan cinta dan kasih sayang mereka lewat scene-scene manis dan kadang-kadang membuat “kupu-kupu di dalam perut” ikut menari, tetapi tetap wajar tidak lebay. Mungkin sampai di bagian ini saya lah yang lebay, tetapi tak apa lah.

STN mungkin memang harus “menerima” realita, bahwa dia kalah bersaing dalam persaingan di dunia media yang keras. Namun, STN juga mendapatkan realita bahwa ternyata banyak orang yang terhibur dan merasa kehilangan saat STN dihentikan. STN memang boleh berhenti sejak tadi sore, tetapi cinta, kasih sayang, dan kebersamaan yang disampaikannya akan tetap ada melekat. Seperti yang diungkapkan oleh Tika Bravani dalam “pemberitahuan resmi”nya tentang berakhirnya STN. Dan saya berterima kasih untuk semua usaha, kerja keras sepenuh hati dan jiwa dari para pemain STN serta tim kreatifnya untuk menghasilkan tayangan yang berkualitas dan berbeda dari tayangan lainnya. STN dan para pemainnya berhak mendapatkan hal yang lebih baik dari apa yang mereka dapatkan selama ini.

Mungkin ke depannya dapat pula dibuat film STN dengan pemain yang sama, karena menurut saya, sayang sekali kualitas mereka hanya dipakai untuk satu tayangan akhir pekan berdurasi 30 menit, itu pun masih dipotong iklan. Tema konflik mertua laki-laki dan menantu laki-laki pun jarang –atau bahkan belum pernah- diangkat dalam kisah apapun, sehingga hal ini bisa menjadi point yang menjual. Tema ini ada “di luar” pakem dan selama ini tidak pernah dengan gamblang diungkap, yang sebenarnya di balik itu tersembunyi „keposesivan“ laki-laki pada perempuan lewat caranya sendiri: ayah pada anak perempuannya, dan suami pada istrinya. Sehingga mereka dengan caranya masing-masing bersaing untuk itu. STN berhasil mengemas tema ini dengan menarik dan lucu tanpa harus menghakimi salah satu pihak dan menjadikannya dikotomi protagonis vs antagonis.

Pada tanggal 26 Januari STN dibuka oleh Prasta yang gugup saat akan menikah. Dan sore tadi, 6 September, STN juga diakhiri oleh Prasta yang “menerima” bahwa suara Papi dan Mami memang menganggunya, tetapi karena itu tidak bisa dihindari, maka dia memilih menyumbat telinganya dengan kapas lalu tersenyum agar dia bisa tidur dengan tenang. Ya, masalah memang selalu ada, namun hidup terus berjalan :)

Bandung, 070915, 00:00

Advertisements

„Saya Terima Nikahnya“: ‚Menerima‘ Realita (1)

sayaterimanikahnya

Seperti biasa saya selalu terlambat jika menyukai sesuatu, tetapi kemudian biasanya saya akan menyukainya dengan sepenuh hati. Contohnya saat saya menyukai “Saya Terima Nikahnya” (STN) salah satu judul komedi situasi yang ditayangkan oleh NET TV sejak tanggal 26 Januari sampai 6 September 2015. Saya memang tahu bahwa ada acara situasi komedi ini, iklannya pun beberapa kali saya lihat, tampaknya menarik, tetapi saya tetap tidak menontonnya karena satu dan lain hal. Baru pada suatu hari di bulan Maret, saya tumben-tumbenan dapat menonton tayangan talkshow “Just Alvin” di Metro TV dengan bintang tamu salah satunya Tika Bravani dan Dimas Aditya, dua pemain di komedi situasi STN. Melihat mereka berdua saat diwawancara Alvin Adam membuat saya tersenyum-senyum sendiri dan entah mengapa juga “kupu-kupu di perut” saya ikut “menari”. Sejak itu saya penasaran pada STN sampai akhirnya saya membuka youtube. Untungnya NET TV memang mengunggah semua tayangan di saluran youtube, sehingga memudahkan saya untuk melihat semua rekaman tayangan STN dari episode awal. Episode “Preman KW” lah yang akhirnya saya saksikan langsung di TV. Untuk pertama kalinya, setelah 2 bulan STN tayang, saya menontonnya dan ternyata saya suka.

STN berkisah tentang sebuah keluarga menengah ke atas bernama Keluarga Arifin dengan tokoh utama Papi (Ray Sahetapy) yang berprofesi sebagai dokter spesialis jantung, tetapi harus pensiun dini karena menderita sakit jantung, Mami (Nungki Kusumastuti) seorang ibu rumah tangga yang sangat peduli pada kesehatan Papi dan keluarganya, tetapi dia juga sangat memperhatikan penampilan dan kecantikan dirinya, Kirana (Tika Bravani) anak tunggal Papi dan Mami berpendidikan S2, tetapi tidak berkarir di luar rumah karena menikah dengan Prasta (Dimas Aditya), seorang creative director yang memiliki karir bagus di sebuah perusahaan periklanan besar, tetapi di rumah tidak pernah ‘dianggap’ oleh Papi.

Dengan judul yang diambil dari kalimat sakral saat proses akad nikah, yang mengandung tanggung jawab dan “konsekuensi” besar untuk menerima apapun yang terjadi setelah kalimat tersebut diucapkan, maka STN mengangkat tema keseharian keluarga yang cukup “heboh” tersebut dan “konflik” yang tercipta antara Prasta dan Papi setelah Prasta masuk ke dalam kehidupan keluarga itu, yang pada akhirnya juga melibatkan Mami dan Kirana. Penggambaran keseharian, masalah-masalah yang muncul dalam kehidupan keluarga, dan konflik-konflik yang melibatkan anggotanya ini sering menimbulkan situasi yang lucu, menggemaskan, dan juga manis.

Diawali dengan tayangan perdana saat Prasta akan melakukan proses akad nikah, kegugupannya, dan klimaksnya adalah gangguan panggilan dari telefon genggam milik Abi, sahabatnya. Scene ini yang kemudian menjadi awal bagi “konflik-konflik” dan masalah-masalah lain yang terjadi antara dirinya dan Papi, yang pada akhirnya mau tidak mau juga melibatkan anggota keluarga lainnya. “Konflik” dan masalah yang dimaksud di sini bukanlah konflik dan masalah dalam arti per sè sehingga memunculkan dikotomi protagonis vs antagonis, seperti yang sering digambarkan dalam kisah sinetron-sinetron Indonesia pada umumnya, melainkan “konflik” dan masalah amat sangat ringan yang justru sering muncul dan dialami dalam kehidupan siapapun. Dengan demikian, siapapun yang menontonnya akan dapat tertawa atau minimal tersenyum simpul, karena penonton seolah dapat bercermin pada kisah yang diangkat. Misalnya tentang kekesalan Papi kepada Prasta karena burung kenari dan ayam kate peliharaannya tidak sengaja mati dan lepas oleh Prasta di epidose “Macan” dan “Cobra dan Singa”. Atau usaha-usaha keras Prasta untuk mengambil hati Papi, tetapi sayangnya selalu gagal, seperti dalam episode “Keran Air”, “Ramalan Zodiac”, “Mesin Cuci”, “Belajar Golf”, dll. Konflik batin Kirana sebagai istri, yang lulusan S2 tetapi tidak berkarir dalam episode “Melamar Kerja”, “Miss Kirana” atau “Fashion Blogger”, namun dia tetap berusaha belajar dan selalu ingin menyenangkan Prasta, walaupun juga sering gagal seperti dalam episode “Masakan Kirana”, “Satu Rumah Dua Koki”, dll. Konflik batin Papi yang biasanya sibuk, tetapi terpaksa harus pensiun dini karena penyakitnya dalam episode “Gelang Kolesterol”, dan juga konflik batin Mami sebagai seorang ibu yang takut kehilangan anak tunggal yang sangat dicintainya dalam episode “Brosur Rumah”. Tak ketinggalan tentu konflik batin Prasta yang selalu salah di mata Papi, seperti dalam episode „Preman KW“, „Menantu Pemberani“, „Prasta Minder“atau „Mobil Antik“.

Selain itu, tentu saja kisah cinta Prasta dan Kirana menarik untuk dimunculkan, misalnya dalam episode “Flash Back”. Lalu masalah-masalah yang muncul dalam kehidupan mereka sebagai pasangan muda yang baru menikah juga menjadi sumber cerita yang menarik. Tema cemburu misalnya muncul dalam episode “Salah Paham”, “Masuk 86”, “Pria Idaman”, “Garage Sale”, “Personal Trainer”, “Kiriman Masa Lalu”, “Rahasia Baju Kenangan”, dll, sampai pada “konflik batin” pasangan muda yang belum juga memiliki anak seperti dalam „Ayo ke Posyandu“ dan “Cara Cepat Pengen Hamil”. Hal-hal kecil yang dalam kehidupan rumah tangga sering menjadi masalah disajikan dalam “Honeymoon Tertunda”, “Gara-gara Handphone”, “Liburan ke Bali”, “Mau Kerja Kok Repot”, “Gagal Nonton Bola”, dll. Selain itu, tema-tema yang sangat akrab dengan kehidupan perempuan seperti dalam “Diet”, “Penuaan Dini” atau “DVD Mami” atau kebalikannya hal-hal yang biasanya sangat disukai laki-laki, seperti “Bimasakti”, “Gamebox Idaman”, “Nobar”, dll. Tema-tema umum, terutama yang berkaitan dengan kesehatan, dimunculkan dengan segar dalam “Hidup Sehat”, “Cacar”, “Salah Obat”, “Demam Berdarah” atau “Sakit Gigi”.

Dari sisi tema, STN mengusung tema besar yang sangat tidak biasa sebagai benang merahnya, yaitu mengangkat konflik menantu laki-laki dan mertua laki-lakinya. Selain itu, jam tayang awal dari Senin sampai Jumat memungkinkan penulis cerita untuk menggali beragam tema sehari-hari yang tetap mengacu kepada benang merah kisah ini. Menariknya, STN dapat mengintegrasikan program acara lain di NET TV ke dalam ceritanya, seperti dalam “Berpacu dalam Melodi”, “Masuk 86” dan pada episode terakhir STN sore tadi “Mami Belajar Nyanyi”.

Dari sisi pemain, STN didukung oleh pemain-pemain kawakan yang sudah dikenal dan tidak diragukan lagi kemampuannya dalam dunia perfilman dan pertelevisian Indonesia. Ray Sahetapy sangat berhasil menghidupkan sosok Papi yang tegas, galak, posesif, percaya diri, tetapi juga jahil, suka iseng, manja, dan romantis. Nungki Kusumastuti adalah Mami yang lembut, sangat perhatian, penuh cinta, teliti, pandai memasak, tetapi sebenarnya sangat tegas dan galak. Pada akhirnya, rumah besar itu  sebenarnya dimotori oleh Mami, walaupun Papi adalah “Kepala Negara” nya. Tika Bravani juga berhasil menghidupkan sosok Kirana, anak tunggal kesayangan Mami –Papi, yang manja, kadang terlihat lugu dan polos, tetapi pintar dan sangat menyayangi serta setia pada Prasta, suaminya. Apapun akan dilakukannya untuk kebahagiaan Prasta, walaupun dia harus berbohong pada Papi. Dimas Aditya adalah sosok sentral dalam STN ini. Dia menjelma menjadi Prasta yang sering gugup, minder, tidak percaya diri, dan penakut –terutama bila berhadapan dengan Papi, tetapi tulus, penyayang, sekaligus jahil dan suka iseng. Wajah ganteng Dimas Aditya dan aktingnya sebagai Prasta yang penurut, tulus, dan penuh cinta, membuatnya langsung menjadi suami idaman para istri dan menantu idaman para mertua. Namun, tentu tidak di mata Papi.

Keempat pemain STN ini bermain sangat natural. Kedekatan dan keakraban mereka in frame tidak terasa dibuat-buat, mengalir alami begitu saja. Bahkan emosi marah, cemburu, atau pertengkaran pun muncul seolah-olah memang begitu adanya. Apalagi ekspresi cinta dan kasih sayang. Dengan demikian penonton dapat merasa, bahwa mereka sepertinya tidak sedang berakting, melainkan sedang memperlihatkan kisah kehidupan mereka sendiri di layar kaca. Celetukan-celetukan spontan dan lucu juga sering muncul dari Dimas Aditya dan Ray Sahetapy. Celetukan-celetukan itu menjadi lucu, karena mereka melakukannya dengan biasa saja, tidak dibuat-buat.

Para pemain STN bermain dengan hati sehingga menubuh kuat pada karakter-karakter yang mereka mainkan. Sehingga pada akhirnya penonton pun sulit untuk memisahkan Ray Sahetapy dari sosok Papi, Nungki Kusumastuti dari Mami, Tika Bravani dari Kirana, dan Dimas Aditya dari Prasta. Energi yang mereka mainkan in frame bisa sampai pada penonton. Sampai-sampai banyak komentar muncul dari penggemar STN di media sosial yang mengungkapkan bahwa mereka kasihan pada Prasta karena terus menerus dibully oleh Papi atau ikut terhanyut pada romantisme Kirana dan Prasta, dan sebagainya. Pertanyaan-pertanyaan yang sifatnya peduli seperti kapan Kirana dan Prasta punya anak, atau mengapa orang tuanya Prasta tidak dimunculkan, menunjukkan bahwa STN cukup berhasil menarik perhatian penontonnya. Penonton tidak sedang melihat suatu tayangan komedi situasi di televisi, tetapi mereka sedang “diputarkan” dan melihat kisah kehidupan mereka sendiri, hal-hal yang mereka rasakan, mereka alami atau yang mereka inginkan. Pengalaman, rasa, dan impian para penonton direfleksikan lewat tokoh-tokoh dan setiap episode STN. STN menyuguhkan realita rasa dan kehidupan.

Hal ini pula lah yang mungkin membuat saya juga akhirnya menjadi betah dan sangat intens mengikuti STN sampai episode terakhirnya sore tadi. Saya yang biasanya tidak pernah menonton TV, kalau menonton pun hanya sekilas-sekilas untuk update saja dan untuk kepentingan mengajar, ternyata merasa harus mengosongkan waktu untuk menonton STN di hari dan jam tayangnya. Saya bahkan dapat mengulang-ulang scene-scene yang menarik perhatian saya. Saya sampai hafal dialog apa muncul dalam episode apa dan detil serta alur ceritanya. Beberapa kali pula dialog dan tema-tema di STN saya angkat dan diskusikan dalam perkuliahan saya.

Namun, sebagai penonton yang selalu melihat tayangan dengan detil –kalau ini memang kebiasaan saya-, saya merasa bahwa secara kualitas teknis STN Season 1 lebih baik daripada Season 2. Di kedua Season memang tetap ditampilkan gambar-gambar yang sangat “DSLR”, dengan samaran dan fokus yang pas. Sudut-sudut pengambilan gambarnya juga cukup bagus. Season 1 lebih berkisar mengambil gambar di sudut ruang yang sempit, tetapi sangat fokus, sedangkan Season 2 lebih berani mengambil sudut yang lebar dan luas. Mengenai detil setting dan properti, STN Season 1 juga lebih baik dari Season 2. Bahkan jarum jam pun diperhatikan betul kesesuaiannya dengan konteks cerita yang muncul dalam scene. Demikian juga dengan tattoo yang dimiliki Dimas Aditya  diperhatikan betul agar tidak tampak, walaupun sesekali sempat sedikit terlihat pula. Season 2 agak lemah dalam hal ini. Misalnya beberapa kali Kirana dan Prasta terlihat tidak menggunakan cincin kawin mereka, yang dalam Season 1 selalu tidak pernah lepas dari jari manis tangan kanan mereka. Jarum jam pun demikian, sering tidak sesuai konteks cerita, misalnya Prasta yang akan berangkat kerja pagi-pagi, tapi jarum jam dinding menunjuk ke angka 4 dan di luar terang benderang. Belum lagi setting ruang kerja Prasta yang tiba-tiba berubah menjadi sangat “tidak jelas”. Setting kamar Papi dan Mami pun baru dimunculkan di episode terakhir. Behind the scenes, yang biasanya sangat menarik perhatian penonton, juga dihilangkan diganti dengan foto-foto pemain, yang pemilihan warnanya menurut saya agak sendu. Script STN Season 2 pun tampak lemah. Beberapa cerita bahkan mengalir hambar tanpa alur yang jelas. Sayang sekali.