Ein Jubelschrei geht durch die Republik

Was für einen tollen Job, Jungs! Auf geht’s, bis ihr das Ziel erreicht!

Pfuiii, einfach ein tolles Gefühl nach dem anstrengenden und gespannten Spiel! Super! Ihr habt das verdient :-)

Advertisements

Iris

And I don't want the world to see me/Cause I don't think that they'd understand/ When everything's made to be broken/ I just want you to know who I am//
And I can't fight the tears that ain't coming/ Or the moment of truth in your lies / When everything seems like the movies / I bleed just to know i'm alive//


26062006

02:06

Piala Dunia, Identitas Bangsa, dan Kursus Bahasa Indonesia


Apa hubungannya ketiga hal di atas? Tentu ada. Terutama bagi saya yang sedang ada di negara tempat diselenggarakannya Piala Dunia 2006, yang cukup sering berkutat dengan tema identitas bangsa di perkuliahan, dan yang mengajar Bahasa Indonesia di negara penyelenggara Piala Dunia tadi.

Eforia Piala Dunia 2006 di Jerman semakin terasa pada awal tahun ini. Banyak hal dibuat dalam rangka menyambut penyelenggaraan pesta sepak bola empat tahunan. Eforia itu tentu semakin terasa saat Piala Dunia yang akan berlangsung selama sebulan itu dibuka. Dalam tulisan saya sebelumnya, saya menggambarkan bagaimana kebanyakan orang Jerman tiba-tiba menjadi ramah. Ini “mengingkari” stereotype orang Jerman yang umumnya terkenal dingin dan serius. Gaung Piala Dunia ternyata memang membawa efek yang berbeda bagi keseharian masyarakat Jerman. Pihak penyelenggara tentu bukan tanpa maksud menggunakan motto “Die Welt zu Gast bei Freunden” – A time to make friends. Franz Beckenbauer dalam wawancara singkatnya dengan salah satu stasiun TV Jerman usai pertandingan antara Belanda dan Argentina pun menyinggung masalah stereotype orang Jerman yang dingin dan serius yang ingin diubah menjadi lebih „santai“ dan terbuka lewat penyelenggaraan Piala Dunia ini. “Ini kesempatan yang baik untuk mengubah citra Jerman” menurutnya.

Weiterlesen

Selamat Ulang Tahun

„Selamat Ulang Tahun, Pak“ – „Sama-sama“. Lho?  „Naha sama-sama, Pak? Pan Dian mah teu ulang taun?!“  – „Hehehe, ngobrol jeung ibu weh nya. Aya da“. Nah lho. „Ih, si Bapak mah, kumaha sih. Kangen nya?!“ „Hehe, yeuh ibu yeuh“. Telfon berpindah ke ibuku. Laaahhh…gimana sih…

Siapa sih? Bapakku. Yang diberi ucapan selamat ulang tahun oleh anaknya nun jauh di seberang samudera, dan dijawab dengan „sama-sama“. Bingung aku. Kok bisa, ya?! Hehe, ya itu. Bapakku memang begitu. Suka ngga mau ngaku kangen anaknya padahal kangen berat. Suka ngga mau ngaku kalau seneng dikasih ucapan selamat, malah jawab „sama-sama“, padahal mungkin maksudnya bukan itu. Kesenengan kali, hehe. Laki-laki yang nervös dan cemas berat saat anaknya ngga mau juga beres-beres koper saat mau berangkat lama ke Jerman dan akhirnya aku dimarahin „Niat pergi ngga sih, beres-beres aja ngga mau“. Lho? Aku gangguin, „Beneran nih, mau nih aku pergi?“. Hihi, langsung ngeloyor dia. Laki-laki yang cemas saat kombinasi kunci koperku diubah sama si Bagus Centil, karena anak kecil sok iye itu juga ngga mau Mbak Dian-nya pergi. Duh. Laki-laki yang bisa membuatku menangis sepanjang jalan hanya karena tidak sempat pamitan padanya yang cemas dan lebih suka diam di mushala bandara. Shalat dan mendoakanku. Iya, Bapakku, yang jarang sekali mau bicara denganku di telfon setiap minggu hanya karena setiap kami bicara kami tidak bisa saling menahan getar rindu yang merambat lewat kabel rumit telefon. Saking jarangnya ngobrol panjang lebar, ketika bicara, jadinya kayak di atas, hehe. Iya, Bapakku. Suka ngga nyambung.
Tapi, bicara tentangnya tidak akan pernah ada habisnya. Rindu padanya tidak akan pernah tuntas. Kagumku padanya tidak akan pernah hilang. Suka ngga nyambungnya itu yang selalu bikin aku, kami semua rindu. He’s my -our- life. Hey, I really miss you, Pak. Selamat Ulang Tahun! Jangan dijawab „sama-sama“ lagi ya. Ulang tahunku kan sudah lewat dan saat itu aku pun diberi ucapan selamat olehmu dan tidak kujawab „sama-sama“, hihi. Anyway, love you so much!!!

My Beloved Child (Brit Jorunn Hundsnes, Norway: 2004:103′)

Film berjudul asli "Mitt elskede barn" ini disutradarai oleh sutradara Norwegia Brit Jorunn  Hundsnes dan diproduksi pada tahun 2004. Durasinya yang cukup panjang, 103 menit, membutuhkan kesabaran ekstra untuk menyaksikan film tersebut sampai habis.

Film dibuka dengan siaran berita di televisi tentang pembunuhan yang dicurigai dilakukan oleh seorang ibu dan kedua anak perempuannya. Laki-laki berusia 66 tahun yang dibunuh adalah suami dan ayah dari kedua anak perempuan itu. Salah seorang anak perempuan itu, Sigrid Beate Edvardsen (33 tahun), mengakui perbuatannya dan diberi hukuman 7 tahun penjara atas tuduhan pembunuhan.

Weiterlesen

Ketika Orang Jerman Jadi Ramah

103_03771.JPG Kapan orang Jerman jadi ramah? Saat mabuk.Saat acara pembukaan Piala Dunia 2006. Saat kesebelasan Jerman menang. Tiba-tiba orang-orang Jerman jadi ramah tamah, senyum sana sini, bahkan pengemudi trem pun jadi senang bercanda. Tak hanya itu, tiba-tiba orang Jerman jadi berbahasa Inggris, menyapa semua orang asing, tak lupa dengan senyum ramah mengembang.

Tapi orang Jerman tetap orang Jerman. Mereka tetap antri saat mau masuk dan keluar trem yang penuh. Tak berdesak-desak ingin saling mendahului. Menunggu dengan sabar dan tertib saat diperiksa satu-satu menuju ke Allianz-Arena. Tak protes banyak saat Olympia-Stadion ditutup karena sudah kelebihan penonton, sementara masih banyak orang yang menunggu di luar berharap bisa masuk. Ketika diminta pulang kembali atau disarankan sebaiknya menonton acara pertandingan di cafe atau Kneipe atau bar atau bahkan di rumah saja, mereka hanya protes sebentar lalu pergi. Polisi hanya perlu menjaga tanpa perlu berbuat apapun. Ada satu dua yang mencoba menerobos, tapi tak berhasil.

Dan orang Jerman tetap orang Jerman. Aturan tetap aturan. Layar lebar tak bisa dipasang sembarangan. Harus dipasang di tempat yang sudah ditetapkan. Massa tidak bisa berkumpul seenaknya pula. Salah-salah akan terjadi kerusuhan. Bukan oleh orang Jerman, tapi oleh orang asing yang datang. Itu yang polisi takutkan. Akibatnya mereka menjaga ketat di mana-mana. Mereka boleh mabuk, tapi mabuknya malah membuat mereka jadi ramah. Tak lantas mencopet atau bikin rusak. Tapi namanya mabuk ya tetap saja mabuk. Terlalu ramah bikin heran dan takut juga.

Ingin melihat orang Jerman jadi ramah? Piala Dunia ini kesempatannya. Ketika gerbong kereta menjadi riuh rendah oleh suara-suara nyanyian dan tawa. Ketika ribut-ribut itu tak disikapi dengan marah, tapi dengan ramah. Tak ada lagi orang yang duduk melihat ke jendela, melainkan ikut terlibat percakapan seputar bola. Ketika tiba-tiba semua orang jadi merasa terlibat di dalamnya. Wajah-wajah yang biasanya dingin pun berubah jadi hangat. Seiring matahari musim panas yang akhirnya muncul, mungkin dibawa oleh orang-orang dari Timur dan Selatan. Jerman pun jadi hangat.

Tapi Jerman memang tetap Jerman. Aturan tetap aturan. Kegembiraan pun diaturkan pula. Spontan dikit kenapa, sih, takut amat :)

Seimbang

Saya selalu berpikir, merasa, percaya dan yakin bahwa Islam adalah agama yang mengajarkan keseimbangan. Dalam hal apapun. Karena Allah yang menciptakan semua dan sejatinya tahu apa yang dibutuhkan oleh ciptaan-Nya. Ia tahu yang terbaik. Ia menyeimbangkan segalanya. Namun, kadang –sering- yang terjadi adalah manusia lupa pada keseimbangan itu. Banyak alasannya. Tidak bisa dipungkiri, namanya juga manusia. Wajar lah. Padahal kalau dipikir, dikaji lagi, Islam itu memudahkan kita. Islam itu tidak berlebih dalam segala hal. Islam itu mengajarkan bahwa kita harus biasa saja. Tidak berlebihan. Dalam semua hal.

Ya, tetap saja pada kenyataannya sesuatu yang biasa dibuat tidak biasa, yang tidak biasa dibuat biasa. Saya juga melakukannya. Saya masih begitu juga. Masih belum bisa seimbang dan biasa-biasa saja. Berlebihan di satu sisi, malah banyak kurangnya di sisi yang lain. Saya masih berproses untuk bisa seimbang dan biasa-biasa saja.

Islam mengajarkan hidup. Hidup yang benar-benar hidup. Hidup yang bisa dijadikan jalan menuju-Nya. Itu yang sering dilupakan. Bahwa manusia itu hidup untuk menuju-Nya dengan tidak melupakan hidup itu sendiri. Dengan tidak melupakan bahwa hidup itu tidak bersendiri tapi bersama sesuatu dan bersama yang lain. Saya pikir, di situlah justru kita berkesempatan untuk menuju-Nya. Menjadi diri yang hidup sekaligus juga menjadi bagian dari hidup.

Ketika akhirnya yang ada adalah menutup diri dari hidup, dari lingkungannya, hanya memikirkan dirinya sendiri saja, menjaga kesucian dirinya saja, sudahkah dia menjalankan Islam dengan seimbang? Bisakah dia menutup mata, hanya agar dirinya tidak ternoda, hanya agar dirinya tetap terjaga, sementara lingkungan dan orang-orang di sekitarnya masih perlu dibantu? Bisakah dia menutup mata dan telinganya, menutup diri dan tubuhnya, agar tidak tersentuh sama sekali oleh hal-hal yang menurutnya bisa mengotori dirinya, sementara di sekitarnya masih banyak orang yang perlu diingatkan? Bisakah dia menarik diri dari hidup yang mengelilinginya agar dia tetap suci?

Apakah sebenarnya makna „hidup di jalan-Nya“? Saya kok merasa bahwa itu berarti kita hidup dalam hidup itu sendiri, di jalan yang sudah digariskan-Nya untuk menuju-Nya dengan tanpa melupakan hidup itu sendiri. Dengan tanpa membutakan mata dan menulikan telinga. Kok saya merasa bahwa itu berarti Allah ada di hidup dan perjalanan kita, bahwa Allah ada di sekitar kita, Allah ada setiap saat di mana pun. Dekat dengan kita. Dan kadang –seringnya- kita mengabaikan-Nya saja. Kita memfokuskan diri seolah-olah Dia jauh untuk dituju, sulit untuk dituju, jadinya kita lupa pada hidup itu sendiri. Kok saya merasa bahwa „hidup di jalan-Nya“ itu bermakna hidup bersama-Nya. Hidup dengan kasih-Nya, hidup dengan larangan-Nya. Hmm…

00:21

"Wer vermag seinen Glauben von seinen Taten zu trennen oder sein Bekenntnis von seinem Beruf?" (KG)