Sehari di Kota Wagner – Sebuah Catatan untuk Sebuah Mimpi

Tujuh tahun lalu, juga di bulan Juni, saya pernah iseng menulis di buku tamu sebuah blog menarik dan inspiratif dengan diakhiri kalimat “Salam dari Bayreuth”. Tidak disangka, sang pemilik blog membalas keisengan saya dengan sebuah email balasan berisi permintaan agar saya menulis tentang sehari di kota Wagner, Bayreuth. Permintaan itu diiringi dengan kata “pliizz….”. Permintaan yang kemudian tidak bisa saya tolak dan akhirnya saya tuliskan cerita saya dengan panjang lebar. Ternyata tulisan saya dipasang di blognya yang inspiratif tersebut, digabungkan dengan tulisan-tulisan lain yang jauh lebih berbobot di kolom Wagner. Merasa terhormat juga tulisan saya dimasukkan ke blog seorang blogger senior dan banyak penggemarnya itu :)

Dan tujuh tahun kemudian, juga di bulan Juni, si pemilik blog, yang pernah bertanya bagaimana rasanya tinggal di kota Wagner dan pernah meminta saya menulis tentang sehari di Bayreuth, akhirnya berkunjung juga ke Bayreuth dan berkesempatan mengalami sendiri bagaimana rasanya sehari berada di kota Wagner. Bagaimana rasanya? Harus ditanyakan sendiri kepada yang mengalaminya. Yang jelas hari itu sang pencinta Wagner tidak dapat masuk ke Haus Wahnfried dan Festspielhaus untuk merasakan aura ke-Wagner-an di kedua tempat itu, karena sayangnya kedua tempat itu ditutup untuk sementara waktu. Namun, mudah-mudahan aura ke-Wagner-an di Bayreuth cukup terwakili dengan dingin, mendung dan hujan yang menyambutnya di Bayreuth, dengan Fachwerkhaus tempatnya menginap, dengan halaman dan kebun Haus Wahnfried yang sudah lama tak terawat karena sedang dalam proses renovasi, dengan rumah yang untuk saya juga terasa agak menyeramkan di malam hari, dengan makam yang hanya berbatu granit hitam tanpa tulisan apapun, dengan Hofgarten, dengan Opernhaus yang menjadi alasan mengapa Wagner kemudian memutuskan untuk menemukan damai bagi “kegilaan”nya di kota kecil ini, dengan istana rokoko milik Wilhelmine, dengan jalan-jalan berbatu di Bayreuth, dengan gedung Festspielhaus berbatu bata merah di atas bukit kota Bayreuth, dengan patung kepala Wagner yang sedang mengerutkan kening dan menatap serius taman di depannya, dan dengan tupai mungil warna coklat kemerahan yang akhirnya berhasil ditemukan juga dan dengan senyum kebanyakan orang yang ditemui.

Lalu, seperti yang pernah saya tulis di tulisan saya untuknya dulu, bahwa satu hari di Bayreuth untuk saya berisi ingatan saya tentang masa lalu, hidup saya saat ini dan harapan saya tentang nanti, maka itu juga yang saya rasakan kemarin. Satu hari di Bayreuth mengingatkan saya pada pertanyaan retoris tujuh tahun lalu: “Gimana ya rasanya tinggal di kota Wagner?” dan “Kapan ya bisa ke sana?”, kemudian membawa pada saat ini, saat di mana pertanyaan itu terjawab dengan kenyataan bahwa saya bisa menunjukkan kepada orang yang bertanya itu: inilah rasanya dan ikutlah merasakan, karena rasa tidak bisa diwakili dan diceritakan. Rasa haruslah dirasakan sendiri. Termasuk juga merasakan mencuci dengan menggunakan koin di asrama mahasiswa :) Dan satu hari itu juga membawa harapan tentang nanti, terutama membawa kesadaran bahwa hidup memang harus tetap mempunyai harapan dan mimpi. Menekuninya akan membawa harap dan mimpi itu kembali kepada kita. Toh hidup juga berputar di situ-situ saja. Tak pernah jauh. Kemarin adalah ingatan dari hari ini dan esok adalahnya mimpinya. Dan semua itu adalah sesuatu yang niscaya, walaupun kadang masih selalu terasa ajaib untuk saya :)

 

Tulah Nietzsche

„Irgendwann sitzen wir alle in Bayreuth zusammen und begreifen gar nicht mehr, wie man es anderswo aushalten konnte.“ (Nietzsche)

Kutipan di atas pernah saya baca dalam sebuah kartu pos bergambar karikatur Nietzsche dan Wagner duduk bersama di ruang tengah Haus Wahnfried. Relasi yang „ambivalent“ di antara mereka berdua tampaknya menginspirasi gambar di kartu pos tersebut. Nietzsche pengagum berat Wagner, sekaligus juga membencinya. Relasi cinta dan benci. Namun, bukan soal cinta dan benci itu yang ingin saya tulis di sini, juga bukan tentang kekaguman Nietzsche pada Cosima Wagner, sehingga dia membuatkan puisi berjudul „Klage der Ariadne“ yang ditujukan untuk Cosima. Bukan itu semua yang ingin saya tulis, melainkan tentang Bayreuth yang disebut-sebut Nietzsche dalam kutipan di atas. „Suatu saat kita semua akan duduk bersama di Bayreuth dan sama sekali tidak sadar, bagaimana kita dapat bertahan di tempat lain.“

Tahun 1998 adalah kali pertama saya datang ke Bayreuth, kota kecil yang ada di cekungan Fichtel Gebirge dan Fränkische Schweiz. Sama seperti Bandung, Bayreuth juga „dilingkung ku gunung“. Kunjungan singkat yang tidak membawa kesan mendalam atas kota ini, karena saya lebih terkesan pada alam di sekelilingnya. Tahun 2001 saya kembali lagi, juga untuk sebuah kunjungan singkat.Kesan tentang kota ini cukup membaik. Kota kecil yang cukup membuat saya nyaman. Tahun 2003 saya kembali lagi, bukan untuk kunjungan singkat, melainkan untuk menetap untuk waktu yang saat itu rasanya saya tidak bisa pastikan berapa lama. Saya hidup di Bayreuth, seperti sudah saya sering tuliskan: dengan segala suka dukanya. Ternyata tepat tiga tahun saya hidup di kota ini. Tiga tahun rasanya cukup untuk hidup di kota yang bisa sangat sepi di akhir pekan dan hari libur. Tiga tahun rasanya cukup untuk berbahagia bersama teman-teman yang rasanya sudah seperti saudara sendiri, bahkan mungkin lebih dari saudara sendiri. Saya memutuskan pindah, ke Zürich. Namun, ternyata, karena satu dan lain hal, hampir setahun lalu saya ternyata ada lagi di Bayreuth. “Apakah tidak akan terlalu banyak rasanya 3 tahun tinggal lagi di Bayreuth?” tanya seorang penguji saat saya diwawancara untuk kepentingan pengajuan beasiswa saya. “Tidak, saya sudah kenal Bayreuth dan bagaimana hidup di sana. Saya mengenal semua sudutnya, juga orang-orangnya,” jawab saya yakin. Dan saya kena karmanya. Hidup berubah. Saya berubah. Bayreuth sedikit banyak juga berubah. Cara saya memandang dan menghayati kota ini juga berubah. Tidak mudah ternyata, bahkan terasa lebih sulit dari sebelum-sebelumnya.

Namun, bukan itu juga sebenarnya yang ingin saya tulis. Saya ingin mengomentari kutipan dari Nietzsche di atas. Kutipan itu terasa jadi semacam tulah, saat saya bertemu dengan seorang teman dari Russia di hari pertama kedatangan saya tahun lalu. Kemudian teman-teman saya saat kuliah magister dulu juga ternyata melanjutkan studinya di sini (tentu saja dengan keluhan-keluhan yang sama seperti dulu), bertemu dengan Lydia, sahabat dari Bustanu An Nuur dulu yang melanjutkan studinya di Berlin, kemudian kembali lagi ke Bayreuth mengambil kuliah ganda, lalu masih ada teman-teman lain yang sebelumnya meninggalkan Bayreuth, pindah ke kota lain, kemudian kembali lagi dan melanjutkan kuliahnya di sini. Janganlah tanya tentang professor dan beberapa dosen yang masih sama. Bayreuth berubah, tapi tak banyak juga.

Seminggu ini rasanya kutipan Nietzsche di atas tampak terbukti kebenarannya. Saya berkunjung ke rumah Kathrin, seorang sahabat saya yang lain, dan mendapat kabar darinya bahwa Sandra akan kembali lagi ke Bayreuth dan tinggal di sini. Aisha akan datang juga, suaminya memang masih di Bayreuth. Linnea pun akan berkunjung ke Bayreuth. Sebelumnya saya bertemu Khadija, yang melakukan post doc-nya di Bayreuth, lalu Amadou, yang sekarang tinggal di Kanada, kemudian Marat yang datang lagi ke Bayreuth untuk melakukan penelitian. Lalu ada Stefan yang datang untuk berlibur. Ternyata Yasmin dan Nina pun datang juga ke Bayreuth. Fatma, Hatice dan Aliye pun ternyata tinggal tak jauh dari Bayreuth dan akan berkunjung. Saya juga bertemu Sarah dan Thorsten. Kemudian tak sengaja juga saya bertemu sahabat saya Szilvia, yang langsung „mencekik“ dan mengguncang-guncangkan tubuh saya karena dia tidak menyangka saya datang lagi ke Bayreuth, sudah hampir setahun pula, tanpa mengabarinya (maaf, semua nomor hilang bersama HP saya yang hilang tepat pada hari HP itu lunas). „Jangan bilang kamu datang lagi ke sini karena MJ. Kamu bunuh diri,“ katanya. Hmm, tampaknya dia benar, saya rasanya sedang membunuh diri saya pelan-pelan.

Dan tampaknya Nietzsche juga benar, suatu saat kami semua akan berkumpul kembali di Bayreuth, tanpa menyadari, bahwa kami sudah melakukan banyak hal di luar (atau tidak melakukan banyak hal sama sekali). Berkumpul kembali bersama teman-teman lama. Bercerita tentang banyak hal. Menyenangkan.

Disputation

Kata „disputation“ berasal dari bahasa latin „disputatio“ dan „quaestio disputata“ yang maknanya kurang lebih „perdebatan ilmiah“. Disputasi ini adalah bentuk ujian lisan untuk mencapai gelar doktor  dan profesor dengan cara mempertahankan disertasi. Di Jerman, disputasi sudah dikenal sejak abad pertengahan. Disputasi Martin Luther adalah salah satu disputasi yang paling terkenal. Dalam perdebatan ilmiah ini, seorang proponent atau respondent atau defendant mengemukakan tesisnya, yang kemudian akan didebat oleh para opponent yang mengemukakan antitesisnya. Disputasi bersifat terbuka. Dalam sejarahnya, disputasi dihadiri oleh pendengar, disebut „corona“,  yang berdiri di belakang dinding pembatas „carceres“. Selain disputasi, untuk pencapaian gelar doktor dikenal juga jenis ujian lisan lainnya yang disebut „rigorosum“  (examen rigorosum; rigor = streng, keras).  Berbeda dengan disputasi, rigorosum bersifat tertutup, tidak bisa dilihat dan didengarkan oleh umum. Dalam rigorosum tidak hanya disertasi doktorand yang dipertahankan, tapi juga diujikan pertanyaan-pertanyaan untuk bidang yang lain. Rigorosum masih digunakan di Swiss dan Austria, sedangkan di Jerman doktorand boleh memilih, apakah dia akan mengikuti disputasi atau rigorosum. Namun, kebanyakan universitas menerapkan disputasi untuk pencapaian gelar doktor.

Dan hari ini saya menghadiri disputasi teman saya, Martin. Selain penguji yang terdiri atas pembimbing, co pembimbing dan pembaca, ada juga dekan yang menjadi notulis, serta kami, teman-teman Martin yang datang selain untuk memberi dukungan moral padanya, juga yang ingin tahu bagaimana proses „pembantaian“ berlangsung. Ternyata bayangan akan adanya „pembantaian“ atau minimal debat ilmiah yang terdengar begitu menegangkan dan mendebarkan seperti dalam sejarah tidak terjadi. Kecuali Martin dan dekan yang berjas, profesor lain masuk ke ruangan dengan pakaian sangat santai. Mereka hanya mengenakan kemeja casual lengan pendek, bercelana panjang jeans, seorang profesor malah hanya menggunakan t-shirt dan bercelana panjang jeans. Posisi duduk dibuat melingkar, kami juga sebenarnya bisa masuk ke dalam lingkaran, namun karena tidak cukup luas, kami membuat lapis lingkaran sendiri di belakang. Martin sudah siap dengan disertasinya dan handout yang dibagikan pada hadirin. Dekan membuka dengan menanyakan apakah berkas formal sudah lengkap, setelah itu disputasi dimulai dengan presentasi Martin selama 20 menit. Setelah itu dilanjutkan dengan diskusi. Sekali lagi diskusi. Pertanyaan digunakan bukan untuk menyerang Martin, tetapi hanya untuk memperjelas apa yang sudah dilakukan dan ditulis oleh Martin. Suasana benar-benar terasa nyaman. Martin sendiri terlihat cukup nyaman walaupun masih terasa tegang, beberapa kali dia memotong pertanyaan si profesor, dia juga akhirnya melepas jas-nya dan menggulung lengan kemejanya. Suhu memang cukup panas, sehingga bertanya atau menjawab pertanyaan sambil minum juga menjadi hal yang lumrah. Pertanyaan para profesor itu berkisar pada metodologi yang digunakan, data dan hasilnya. Teori yang aneh-aneh tidak terlalu banyak dibahas, bahkan tidak dibahas sama sekali. Tidak muncul istilah dan nama-nama asing, yang ada adalah apa yang Martin lakukan, bagaimana melakukannya, apa pendapat dan penilaiannya. Disertasi tidak dibuka sama sekali. Semua sudah ada di dalam kepala. Tiga tahun berkutat dengan disertasi tersebut, rasanya cukup untuk mengenalnya sangat dekat. Para profesor pun demikian. Semua mengalir dengan lancar. Pertanyaan tidak melenceng dan melebar ke mana-mana. Fokus pada tema dan bahasan disertasi. 90 menit disputasi berlangsung. Kami menunggu di luar selama beberapa menit, kemudian Martin dipanggil masuk untuk menerima hasil ujian. Selesai. Semua senang. Memberi selamat. Lalu kami pergi ke sebuah restoran, Martin menraktir kami teman-temannya dan profesor pembimbing dan co pembimbingnya untuk  minum (makan tentu saja bayar masing-masing). Suasananya sangat santai, kami berbincang-bincang dengan nyaman. Seorang doktor baru sudah dihasilkan. Biasa saja, tidak ada acara dan upacara aneh-aneh. Martin tampak sangat lega. Oh ya, gelar doktor tidak boleh dipakai, jika disertasi tidak diterbitkan.

Begitu saja. Tidak seseram yang saya baca, tidak „seseram“ pengalaman saya saat diminta menjadi penguji ujian proposal teman-teman di S2 Unpad (saya yang menjadi penguji, tapi saya yang tegang saat itu), atau tidak seperti pengalaman saya saat menguji skripsi mahasiswa S1 atau ketika saya menjalani ujian sidang S1 dulu. Ujian magister saya lakukan di Bayreuth juga, dan suasananya sama seperti disputasi Martin tadi siang, bedanya hanya dua orang profesor yang menguji saya. Saya juga sama sekali tidak merasa „diserang“ dan „dipojokkan“ kemudian merasa jadi orang yang paling bodoh sedunia, malah saat itu saya dibantu dan diarahkan untuk menjawab ke arah jawaban yang diinginkan penguji saya. Jika tidak, ya tidak apa-apa, paling nilai berkurang sedikit, hehe. Yang jelas, tidak ada “terror” mental di sana. Itu yang saya rasakan berbeda dari ujian lisan di Indonesia dan di Jerman. Khususnya di Bayreuth (saya tidak tahu di universitas-universitas lain di Jerman), tidak pernah ada perayaan khusus dan besar-besar setelah ujian akhir. Saya ingat saat selesai ujian lisan magister, nilai dimumkan, kami diberi selamat dan langsung „tschüß“ pulang ke rumah masing-masing. Kalau pun mau merayakan, dirayakan pribadi saja dengan keluarga dan teman-teman. Saya sendiri saat itu langsung berangkat ke NRW untuk pamitan pada teman-teman saya di sana dan seminggu kemudian pulang ke Indonesia. Ijazah saya minat dikirimkan per pos ke Indonesia dan jasa pengiriman ditanggung oleh pihak universitas. Tidak ada seremoni seperti wisuda dengan toga dll. Teman-teman dari jurusan IPA biasanya mengarak teman-temannya keliling kampus diiringi tetabuhan sekadarnya dan “toga” yang dibuat dari kertas ditempeli foto-foto dan tanda tangan teman-teman si doktor baru.

Ngomong-ngomong tentang “pembantaian”, Martin dari jurusan media, saya dengar pada disputasi sebelumnya dari jurusan sastra, situasinya lebih “menegangkan”. Jadi semua memang tergantung pada profesor-profesor pengujinya. Saya sendiri pernah mengalami perasaan “habis” saat selesai kolloquium. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan memang menuntut argumentasi yang runut dan logis. Namun, pada dasarnya semua pertanyaan itu memang memperjelas bagian yang masih kabur atau bias. Saya belajar banyak dari disputasi yang saya hadiri tadi. Belajar untuk tidak bersikap jumawa sebagai penanya, karena ilmu bisa didapat dari siapa saja, terbuka pada hal-hal yang baru (para profesor tadi misalnya tidak segan bertanya tentang program yang Martin untuk mengolah data dan meminta Martin mengajari mereka), belajar untuk mengungkapkan pendapat tanpa takut dianggap bodoh dan belajar tentang kesederhanaan. Pengetahuan itu sederhana dan semakin tinggi seseorang mencapai tingkat pengetahuan tertentu, justru dia semakin sederhana. Saat saya Tanya Martin, apa yang akan dilakukannya setelah ini, dia menjawab “saya mau pulang ke rumah. Istirahat. Besok bekerja seperti biasa”. Ah. Oh ya, satu lagi yang patut diingat dan dipelajari, ujian lah di musim panas, saat matahari sedang terik. Orang-orang jadi enggan bertanya, karena sudah ingin cepat cepat ke luar ruangan: minum atau makan es krim. Selain terbukti pada Martin, saya juga sudah membuktikannya dulu, dan berhasil.  Hehehe. Namun, untuk sampai ke ruangan tempat Martin tadi berdiskusi (tempat saya juga dulu berdiskusi), saya masih harus melewati banyak fase yang saya tahu tidak akan mudah. Itu semua termasuk di dalam babak kehidupan yang sedang saya jalani sekarang. Saya berjalan pelan, tapi berusaha tidak berhenti :-)

Bayreuth, 140710

Menyanyi

Minggu lalu, masih dalam rangka mengetes „penglihatan“ baru saya, saya mampir ke toko buku langganan. Lihat-lihat saja, sudah lama tidak ke sana. Selain belakangan saya lebih sering membeli buku secara online, saya juga agak menghindari toko buku. Masih belum bisa mengendalikan diri kalau ke sana. Jadi, minggu lalu saya pindai sebentar bagian roman, mencari buku Patrick Süskind yang terbaru. Bersyukur karena tidak ada, lalu pindah ke bagian buku anak-anak. Menahan diri untuk tidak membeli. Pindah lagi ke bagian Bayreuth dan Wagner. Ada beberapa buku menarik tentang komponis yang setiap musim panas difestivalkan di kota ini. Kemudian saya memaku diri di bagian buku panduan wisata. Ada dua buku tentang Indonesia, satu dari Lonely Planet saya buka-buka dulu sekilas, satu buku lagi buku baru terbitan 2010 dari seri Reise Know How Kulturschock tentang Indonesia dari Bettina David. Saya pindai daftar isinya, cukup menarik. Selain tentang Indonesia dan suku-suku yang ada di Indonesia, agama-agama dan kepercayaannya, kehidupan keluarga, tema kehidupan sehari-hari, hari raya, kematian, dan satu kapitel tentang „bule“ di kehidupan Indonesia. Ini agak berbeda menurut saya. Judulnya boleh Kulturschock, tapi ternyata isinya lebih menarik dibandingkan sekedar cerita seorang „bule“ yang datang berkunjung dan „hidup“ sementara di Indonesia.

Seperti biasa saya pindai gambar-gambarnya. Tidak hanya keindahan alam Indonesia yang ditampilkan, tapi hal-hal kontras dalam kehidupan sehari-hari. Gadis berkerudung sedang merias temannya yang memakai pakaian penari Bali, ibu-ibu saat sembahyang Idul Fitri, tukang becak yang tertawa lepas sambil memegang rokok di tangan, perempuan bercadar naik sepeda motor buatan Cina, penjual nasi goreng di jalan, sampai ke polisi yang sedang merazia sepeda motor di sebuah jalan di desa. Penasaran, saya baca beberapa bagian. Penjelasannya cukup menarik, tidak menghakimi dan berprasangka. Penulisnya mengungkap sisi-sisi yang menarik yang kadang saya, sebagai orang Indonesia pun tidak menyadarinya, saking terbiasanya saya dengan situasi tersebut. Salah satunya di bagian Freizeitvergnügungen (menikmati waktu luang), ada subbagian tentang Singen und Musizieren (menyanyi dan bermain musik).

Bettina David menulis kegiatan mengisi waktu luang baik yang  paling disukai oleh orang miskin atau kaya, di kota dan di desa, oleh laki-laki atau perempuan adalah menyanyi dan bermain gitar. Saat piknik dengan keluarga atau teman, di beranda rumah kaum menengah, di kamar kost mahasiswa atau di gubuk-gubuk petani hampir selalu ditemukan gitar, atau ada orang yang memainkannya, ditambah nyanyian lagu-lagu lama atau hits dangdut terbaru. Apalagi saat malam hari, tulisnya, di saat orang-orang bersantai melepas penat, duduk-duduk bersama, berbincang dan bercanda selepas bekerja seharian, dentingan gitar menjadi bagian yang tak terpisahkan dari malam-malam orang Indonesia.

Orang Indonesia, tulisnya kemudian, menyanyi dengan sepenuh hati dan semangat. Diiringi petikan gitar sambil bersantai, atau  di paduan suara gereja, atau di kelompok nasyid, di sebuah band, atau di di depan layar monitor lengkap dengan mikrofon di ruang karaoke ;-) (saya langsung senyum-senyum membaca bagian ini). Mereka menyanyi sebagus orang Indonesia bisa menyanyi, katanya. Bettina David menulis begitu mungkin karena banyak juga yang menyanyi dengan nada ke timur, suara ke barat, hehehe. Tak apa, yang penting menyanyi. Beberapa etnis di Indonesia, seperti Batak dan Ambon, terkenal memiliki bakat alam dalam hal menyanyi, tetapi menyanyi dengan aktif menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Indonesia. Menyanyi menjadi bagian dari kegembiraan hidup orang Indonesia, yang juga sering ditimpali dengan senda gurau dan candaan yang berujung dengan tawa terbahak-bahak penuh keceriaan. Orang Indonesia menyanyi dengan penuh perasaan bahkan kadang menghayatinya dengan sungguh-sungguh.

Karaoke, tulis Bettina, juga sangat digemari. Dari mulai lagu-lagu Indonesia yang sedang hits, sampai lagu-lagu barat yang sedang mendunia, tidak lupa juga lagu-lagu dangdut yang membuat badan ikut bergoyang. Semua dinyanyikan orang Indonesia tanpa ragu dan biasanya juga dengan bagus. Orang Indonesia, lanjut Bettina, seperti juga kebanyakan orang Asia lainnya mungkin pemalu dalam beberapa hal, tapi tidak saat menyanyi. Mereka bisa bebas lepas. Ini berbeda dengan orang “Barat” yang biasanya baru mau menyanyi di depan umum jika mereka yakin bahwa suara dan teknik menyanyinya bagus atau saat mereka ada di bawah pengaruh alcohol, barulah mereka bisa berteriak-teriak menyanyi. Cape deehh, hehehe. Saya tersenyum geli juga membaca baris terakhir tulisan Bettina David tentang menyanyi di Indonesia ini, teringat teman-teman dari Jerman yang tadinya tidak mau diajak karaoke, mereka malu-malu, tapi kemudian “kecanduan”. Dan memang, di antara mereka tidak ada yang bisa menyanyi, hehehe.

Kalau dipikir-pikir, betul juga apa yang ditulisnya. Di manapun di Indonesia –saya tulis Bandung saja lah-  tidak pernah lepas dari musik dan nyanyian. Pengamen jalanan dari anak kecil pakai kecrek-kecrek menyanyi sambil melihat ke sana ke mari dengan suaranya yang juga ke sana ke mari, sampai ke “orkestra” lengkap di bis Damri Dipatiukur – Jatinangor memainkan lagu klasik. Dari lagu Sunda sampai lagu Barat. Dari yang menyakitkan telinga sampai yang membuat kaki ikut menghentak-hentak. Dari pagi hari sampai malam hari. Di TV atau di kamar mandi. Dari yang serius, sampai yang penuh dengan tawa. Dari lagu jatuh cinta sampai lagu patah hati. Dari tema setia sampai tema selingkuh. Dari yang liriknya lengkap sampai yang „lupa lupa ingat“. Semua orang menyanyi. Tidak peduli sedang sedih atau gembira, kena musibah atau dapat hadiah, menyanyi memang rasanya tidak bisa dilepaskan dari keseharian orang Indonesia.

Ternyata memang sebegitunya arti menyanyi bagi orang Indonesia. Bahkan kami –dosen-dosen muda Fakultas Sastra- sampai punya „fakultas“ sendiri lengkap dengan jajaran pengurus dan stafnya, khusus memfasilitasi kegiatan bersenang-senang kami menyanyi di tempat karaoke. Kami menyanyi kapan pun, saat sedang punya uang atau tidak punya uang. Saat ada yang ulang tahun atau tidak ada yang ulang tahun. Saat ada yang mentraktir atau bayar masing-masing. Saat sedang stress (seringnya sih ini, hehehe) atau tidak sedang stress. Saat banyak kerjaan atau saat liburan. Sangat ingin atau tidak ingin. Saat pulang kerja atau sengaja janjian untuk berkumpul. Saat iseng atau serius. Saat…pokoknya kapanpun ingin karaoke, ya kami karaoke.

Benarkah kami menyanyi? Benar. Menyanyi sesuka hati tentu saja. Tertawanya sering lebih banyak dibandingkan menyanyinya, hehehe. Ada saja yang dijadikan bahan bercanda. Lirik lagunya. Video clip-nya, sampai cara menyanyinya. Dua jam rasanya selalu sebentar untuk acara yang gila-gilaan ini. Kalau sudah capek, biasanya kami persilahkan Pak Dekan dan Guru Besar yang bersuara merdu untuk unjuk kemampuan, yang lain menikmatinya. Lumayan, dapat hiburan gratis. Kapan lagi telinga dimanjakan oleh suara merdu begitu, hehehe. Tapi biasanya itu juga cuma tahan sebentar, selanjutnya forum akan menguasai „lapangan“. Gila-gilaan lagi, menyanyi lagi, ketawa-ketawa lagi. Dua jam selesai, kadang dilanjut makan sambil masih menyanyi-nyanyi juga. Apalagi di tempat makan selalu ada musik yang mengiringi. Lanjut lagiii…Sampai rumah saya yakin masih ada sisa-sisa nyanyian yang dinyanyikan di kamar mandi atau menjelang tidur. Keesokan harinya kerja lagi seperti biasa. Untuk kapan-kapan janjian lagi untuk karaoke. Menyanyi sudah jadi bagian dari profesi kami. “Menyanyi” di kelas apalagi, hehehe.

Membaca tulisan Bettina David di atas saya jadi kangen fakultas sebelah dengan kegiatannya. Di sini, saya tidak punya radio dan TV, tapi musik selalu saya dengarkan lewat alat apapun. Kalau tidak, sepiiii….bahkan di toko atau di kendaraan umum jarang diperdengarkan music dengan keras. Ada sih beberapa pemusik jalanan yang memang indah membawakan musik mereka, tapi biasanya di Bayreuth ini hanya di akhir pekan mereka baru ada. Makanya tadi saya agak heran, ada pengamen ganteng bersuara merdu di lorong yang menghubungkan Rotmain Center dan Markt. Tumben, hehe. Kalau sedang kangen fakultas sebelah dan karaokenya, saya biasanya pasang headset dengan volume full, buka youtube, dan bernyanyi keras-keras. Saya tidak peduli apakah tetangga sebelah appartemen saya terganggu atau tidak, karena kadang saya menyanyi menjelang tengah malam. Biarin saja, hehehe.

Ngomong-ngomong bukunya Bettina David, yang menulis tentang musik dangdut untuk tesisnya itu, akhirnya saya beli. Menarik untuk membaca lebih lanjut tentang hal-hal ringan di Indonesia, ditulis dengan ringan dengan bahasa yang mudah dan “gaul”, tapi tetap bisa mengungkap sisi yang khas, yang kadang dalam tulisan serius tidak terakomodir. Judul „Kultur schock“ mungkin agak kurang tepat, karena isinya lebih ke pengungkapan yang memihak Indonesia. Tak heran, penulisnya kuliah Indonesistik di Hamburg, menulis tesis tentang musik dangdut, menjadi penerjemah bahasa Indonesia dan Jerman, juga membuat buku “Javanisch – Wort für Wort” dan “Indonesisches Slang – Bahasa Gaul”. Narasumber dan teman-teman diskusi Bettina David juga orang-orang yang berasal dari berbagai macam kalangan di Indonesia, multikultural.  Salah satunya Wayan Lessy, teman saat saya masih aktif di Multiply dulu. Perempuan Bali yang cantik, pintar, dan berkerudung. Tak heran jika Bettina David lebih leluasa menampilkan keragaman Indonesia yang berwarna warni. Indah. Apa sih yang tidak indah dan disikapi dengan indah di Indonesia? Hehehe. Inginnya begitu.

Dan tiba-tiba, saya jadi kangen dengan fakultas sebelah :-) “Bernyanyi kita bernyanyi. Tandanya bergirang hati …”

Enam-Enam: Menuliskan Terima Kasih

Tanggal 23 November 6 tahun lalu saya terkantuk-kantuk mengikuti salah satu perkuliahan yang namanya entah lupa (saking tidak menariknya mata kuliah itu). Untuk menghilangkan rasa kantuk yang semakin menyerang saya baca cerpen Kafka „Heimkehr“ yang ada di buku Fremdgänge. Iseng saya terjemahkan, dan selesai sebelum perkuliahan selesai.  Hasil dari perjuangan melawan kantuk itu yang menjadi postingan awal blog. Awal saya menulis lagi setelah 6 tahun juga memutuskan berhenti menulis.

Sebagai seorang yang cenderung introvert dan reseptif, menulis menjadi kegiatan yang menyenangkan, karena saya bisa menuliskan apapun tanpa  perlu malu dan takut diprotes. Alhasil saya punya banyak buku harian dari sejak SD sampai tahun 1997. Pada tahun itu, di Köln, saya memutuskan untuk berhenti menulis di buku harian dan juga memutuskan untuk berhenti menangis. Maklum, saya bisa menulis sambil dan sampai menangis.  Berada sendirian di tempat yang jauh dari rumah , dari orang-orang yang saya cintai dengan sarana komunikasi yang terbatas, email belum memasyarakat di Indonesia, biaya telefon yang mahal, sms belum ada, surat yang baru tiba 2 minggu setelah dikirimkan, membuat saya harus bisa bertahan sendiri. Namun, tentu saja kebiasaan menulis (yang benar-benar menulis dalam arti menulis dengan tangan) tidak bisa hilang begitu saja. Peristiwa, pengalaman, perasaan, pikiran saya tuliskan dalam bentuk surat yang selalu panjang, berlembar-lembar pada sahabat-sahabat saya. Sekarang, di era serba elektronik ini, kebiasaan menulis surat ditulis tangan ini saya rindukan.  Saat ini saya sedang mencoba lagi berkirim kartu pos dengan sahabat di Bandung.

Setelah 6 tahun berhenti menulis  buku harian, sebagai gantinya saya menulis dalam bentuk surat pada sahabat dan teman, serta dan berubah menjadi Dian yang cerewet, Dian menjadi pengajar, karena dengan mengajar semua kegelisahan dan pikiran bisa tersalurkan. Beberapa teman menyarankan saya membuat blog, tapi saya tidak mau saat itu. Saya bukan orang yang cukup percaya diri untuk membuka diri saya pada publik. Namun, saya iseng juga mencoba membuat blog di Friendster yang akhirnya tidak pernah diisi sama sekali. Kemudian Jeng ini datang dengan ide Diary Project-nya. Dia tidak memaksa saya ikut, dia hanya memberikan pemberitahuan tentang kegiatan itu sambil bilang selewat, „ikut ya, jeng“. Saya yang pada saat itu sedang berada di titik terendah hidup saya melihat ini sebagai kesempatan yang bagus untuk menuliskan lagi apa yang saya rasa, saya lihat, saya dengar, saya pikir dalam bentuk buku harian. „Tugasnya“ mudah, yaitu menuliskan apa saja selama bulan September saat itu. Ternyata, itu bukan tugas yang mudah juga. Saya sering kehabisan ide untuk menulis apa, walaupun pada akhirnya tidak punya ide pun bisa jadi bahan tulisan. Saya rasa ini pancingan yang bagus, karena saya kemudian jadi terbiasa mempertanyakan kembali, mendengar dan melihat kembali banyak hal dari banyak sisi. Hal ini membantu saya juga menstrukturkan lagi pikiran dan merekam kembali perasaan saya untuk kemudian berjarak dan melihatnya dengan perspektif lain. Dimulai dengan tulisan tentang komentar salah seorang penyiar radio Bayern Drei tentang penggunaan bahasa Jerman yang kemudian di diary saya jadi berkembang ke tema politik bahasa, diary bulan September itu diakhiri dengan kesan terhadap Catatan Pinggir-nya  Goenawan Mohamad tentang meninggalnya Munir. Ya, di dalam diary project saya, saya menulis tentang meninggalnya Munir, meninggalnya Nurcholis Madjid, meninggalnya Paus Johannes Paulus II, menulis tentang terbakarnya perpustakaan Anna Amalia di Weimar yang menghanguskan sejumlah karya besar yang fenomenal, menuliskan kembali tema-tema perkuliahan di kelas, menuliskan percabangan ide saat menulis makalah, menuliskan catatan perjalanan saya ke beberapa kota di Jerman, menuliskan pemaknaan terhadap hidup, mati, kehidupan dan kematian, sampai hal-hal sepele seperti pelajaran naik sepeda yang penuh canda, juga gigi yang dicabut dan membuat saya tidak bisa tidur. Pada akhirnya saya tidak bisa berhenti . Saya melanjutkan kebiasaan menulis diary lagi dalam bentuk elektronik, karena memang kenyataannya saya jadi semakin jarang menulis di buku harian lagi dengan tulisan tangan.

Dengan mengikuti diary project ini, otomatis diary saya akan dibaca oleh orang lain. Hal ini membantu saya untuk bisa lebih membuka diri tentang perasaan, dan pikiran saya. Namun, tetap saja, tawaran untuk membuat blog tidak saya indahkan, walaupun saya selalu iseng mencoba-coba seperti apa sih blog itu. Sampai kemudian salah seorang teman mengundang saya untuk membuat blog di Multiply dalam rangka berlatih menulis dan saling mengingatkan untuk menyelesaikan tesis.  Tidak bertahan lama, blog itu kembali kosong karena saya tetap merasa tidak nyaman saat tulisan saya dibaca orang, apalagi dikomentari oleh orang lain.

Menulis blog memang saya belum mau, tetapi blog walking menjadi kegiatan yang menyenangkan. Saya menemukan blog yang isinya murni curhat dan buka-bukaan masalah pribadi sehingga saya kok merasa orang itu seperti di dalam aquarium, terlihat jelas oleh banyak orang, tetapi saya juga banyak menemukan blog yang menarik , bagus, dan inspiratif. Salah satunya blog bapak ini. Tahun 2002 saya nyasar ke blog bapak ini saat mencari keyword  “toko buku kecil” di google. Tahun 2005 saya nyasar lagi ke blog itu saat mencari keyword yang sama. Blog itu inspiratif dan menarik, ditulis dengan bahasa yang diusahakan ringan –kadang lucu tapi sinis- walaupun untuk tema-tema tertentu tetap saja sulit saya pahami, dan saya mendapat kesan “pencarian” yang tidak pernah berhenti dari si pemilik blog.  Temanya beragam, dari mulai sains, agama, musik, kopi, buku, orang-orang terkenal, peristiwa sehari-hari, banyak sekali. Kemudian saya berhenti pada halaman khusus tentang Wagner  dan saya iseng meninggalkan komentar di sana.Tidak disangka komentar saya dibalas dengan email pendek dan permintaan untuk menuliskan pengalaman saya selama 1 hari di Bayreuth.  Permintaan yang dilengkapi kata “Plizzzz…” itu membuat pikiran saya bergejolak dan merambat melewati ruang dan waktu.  Satu hari untuk saya bisa berarti kumpulan ingatan tentang tahun-tahun sebelumnya, hari ini dan khayalan saya tentang nanti. Alhasil saya memang menulis 6 halaman tentang 1 hari di kota Wagner ini. Bapak ini membaca saya. Saya tidak menduga bahwa tulisan itu akan dipasang di blognya, di halaman khusus tentang Wagner bergabung dengan tulisan-tulisan lain yang tentu saja jauh lebih bagus.  Tulisan saya bukan apa-apa, walaupun ini cukup membuat rasa percaya diri saya untuk terus menulis menjadi bertambah. Namun, bapak ini juga tidak bisa membuat saya mau membuat blog sendiri. „Aquarius sejati tidak suka dipaksa“ demikian tulis saya saat itu dan „Gemini sejati tidak pernah memaksa“ katanya. Jadi, saya tetap menulis seperti biasa dalam diary saya dan dalam bentuk surat elektronik.

Kemudian sahabat saya ikut meminta saya membuat blog. Sahabat yang mau dan rela membantu saya yang gaptek untuk urusan komputer, internet, dll, sahabat yang menemani saya begadang dan sahabat yang mau merelakan dirinya didebat dan dikerjai oleh saya yang cerewet dan menyebalkan ini. Namun, tentu saja saya tetap keukeuh tidak mau, tidak ada alasan yang mampu membuat saya bergerak membuat blog. Dia juga tidak mau memaksa, tahu saya tidak suka dipaksa, tetapi dia hanya mengeluarkan satu komentar yang membuat kekeraskepalaan saya rontok, “Bilang aja lu takut. Elu kan memang penakut”. Wah, kalimat itu langsung menohok saya. Tampaknya saya memang hanya membuat segala macam pembenaran yang terlihat logis untuk menutupi banyak ketakutan dan rasa tidak percaya diri saya. Dan akhirnya saya memutuskan untuk membuat membuat blog dengan domain sendiri, tetapi semua itu harus sahabat saya yang mengurus, saya tahu beres. Dia menyanggupi dan akhirnya semua berlangsung cepat sampai saya memiliki domain dian.or.id. Namun, dasarnya saya gaptek, pemalas, dan belum sepenuhnya yakin dengan diri saya sendiri, blog di domain itu terbengkalai juga. Saya lebih sering menulis di Multiply.  Dan ketika beberapa kali menemui kesulitan mengoperasikan blog saya di domain dian.or.id itu, saya yang tidak sabaran lebih memilih tidak melanjutkan kepemilikan domain itu, namun berganti menulis di blog gratisan ini. Sampai sekarang, selama 6 tahun. Dan sahabat saya masih setia menemani saya menulis, memberikan ide dari bincang-bincang kami yang bisa berlangsung berjam-jam, memandu saya dari jauh jika saya punya masalah dengan internet dan aplikasi yang aneh-aneh, bahkan suka rela memperbaiki  laptop kesayangan saya yang menggunakan bahasa paling menyesatkan sedunia tu.

From this moment. Saya suka lagu Shania Twain dengan judul yang sama. Lagu cinta. Namun, untuk saya “from this moment” adalah saat-saat saya merekam segala yang saya cerap dan inderai dalam hidup saya, kemudian saya tuliskan. Di mana pun saya berada. Bahkan menulis di sini membantu saya menyelesaikan tulisan-tulisan lain yang karena beragam faktor harus saya tulis. Kutipan dari Khalil Gibran tentang waktu “ kemarin hanya ingatan dari hari ini dan esok adalah mimpinya (…) biarkan hari ini memeluk masa lalu dengan ingatannya dan masa depan dengan rindunya” saya pasang di blog saya sebagai pengingat agar saya memaknai hari ini, hari yang tak bisa lepas dari hari kemarin, namun tetap diwarnai mimpi tentang esok hari. Warna hijau yang mendominasi blog-blog saya membantu saya untuk berpikir lebih segar dan positif, selain karena warna ini juga memang warna kesukaan saya. Foto pepohonan, sungai,  dan jembatan yang saya ambil saat-saat saya melintasi Hofgarten selalu mengingatkan saya pada hubungan masa lalu, masa kini, dan masa depan yang sejuk. Hidup yang tenang dan menyejukkan.

Saat ini, enam tahun saya menulis setelah enam tahun saya berhenti. Saat ini, saya ingin berterima kasih khusus pada ketiga sahabat saya tadi, karena mereka selalu ada, menyemangati, dan menemani saya menuliskan hari-hari saya dengan tulisan-tulisan mereka yang inspiratif dan menyejukkan.  Menulis tanpa titik berhenti. Saat ini, saya ingin berterima kasih pada hidup yang sudah menjadi mata air dari semua yang saya tulis. Saat ini, saya ingin berterima kasih pada waktu dan Sang Pemilik Segala Waktu.

Untuk: Tarlen, Koen, dan Insan. Terima kasih karena kalian ada. Untuk menulis.

Bertiga

Judulnya reuni. Setelah tiga Idul Fitri di Bayreuth, kali ini di Bandung dimanfaatkan untuk reuni. Reuni bertiga, karena ternyata selalu jadi bertiga, walaupun dalam satu meja ada „bertiga-bertiga“ lainnya. Jadi ada Evi, Lusi, dan Dian. Kemudian Joe, Ahyat. dan Dian. Berikutnya Mia, Asep, dan Dian. Terakhir Evi, Tika, dan Dian. Yang pertama tentu mengulang pertemuan rutin setiap hari kedua Idul Fitri yang sudah tiga tahun „tertunda“. Yang kedua mengulang pertemuan Bonn. Yang ketiga reunian masa kuliah (jadul banget yak!). Yang keempat tentu saja karena tiga „Burung Camar“ (cieeee…) akhirnya kembali juga ke sarang, setelah melanglangbuana ke Bayreuth, Binghamton, dan Pittsburgh. Pertemuan di Bayreuth, Paris, dan Roma diulang lagi di Bandung. Senang!

Yang dibicarakan? Hal-hal tidak penting seperti beragam keasingan yang masih juga menyergap dan hal-hal penting semacam makan apa ya berikutnya (duh!).

Jadi memang judulnya reuni bertiga. Lalu? Sampai pertemuan berikutnya di Tangerang, Pemalang, Padang, dan Makassar -insha Allah dalam waktu dekat ini-. Bis dahin, selamat mengikuti arus balik!

A Room of Melancholia

Tak perlu tiga, satu saja cukup. Di dalamnya ada longing, breathing dan remembering. Lebih mungkin. Ditambah rasa-rasa yang lain. Saya memang sedang bermelankoli. Seperti biasa, saya memang posesif. Saya tidak suka keterpisahan. Juga dengan kamar ini. Juga dengan kota ini. Juga dengan orang-orangnya. Juga dengan hidup di dalamnya. Saya tahu, sudah begitu aturannya. Toh pada akhirnya saya akan terbiasa juga dengan keterpisahan itu. Bukankah itu malah membuat saya jadi lebih menghargai makna keterikatan? Bukankah dengan tak suka pada keterpisahan itu saya sudah rela mengikatkan diri saya?

Apapun. Semalam saya cuma tidur satu jam. Tidak bisa tidur. Banyak yang saya kerjakan walaupun sebenarnya adalah bentuk pengalihan kesekian kalinya dari kewajiban beres-beres dan melakukan persiapan pulang. Seperti biasa. Berpamitan pada orang-orang yang entah kenapa saya rasa begitu dekat dengan saya selama menjalani potongan hidup saya di sini. Ibu penjaga copy shop di belakang rumah, tukang döner di belakang rumah juga, dan tentu saja berpamitan pada orang-orang di toko buku belakang rumah. Hai, ternyata saya pun cukup berarti untuk mereka. Walaupun rasanya lucu, karena mereka tahu nama saya, tapi saya tak pernah tahu nama mereka. Kami berinteraksi sewajarnya relasi penyedia jasa dan pengguna jasa. Tapi mereka mencemaskan saya saat saya ada di Indonesia saat kejadian Tsunami besar dua tahun lalu. Betapa mereka bahagia saat melihat saya kembali berkunjung ke toko mereka: membeli döner, foto copy atau memesan buku. Pelukan erat pun tak terhindarkan. Begitu pula tadi. Mereka bagian jalan hidup saya di Bayreuth.

Saya akan rindu mereka. Seperti saya akan rindu pada kebersamaan saat Ramadhan dan Idul Fitri bersama sahabat-sahabat yang membuat pesta kejutan untuk saya hari ini. Saya tidak suka pesta perpisahan, mereka tahu itu. Tidak ada pesta perpisahan memang. Yang ada hanya mereka yang bersama-sama membuat pancake kesukaan saya. Mereka tahu saya suka sekali pancake. Yang ada hanya bincang-bincang biasa yang selalu kami lakukan. Yang ada hanya menikmati kebersamaan kami. Namun, ternyata tak bisa dihindari juga bahwa ada juga rasa sedih yang terselip saat sadar bahwa saya tak akan terlibat pada rencana tarawih bersama Ramadhan tahun ini atau pada malam-malam ifthar dengan undangan makan dari rumah ke rumah atau merayakan Idul Fithri bersama. Saya semakin bermelankoli. Ternyata air mata juga tak bisa ditahan untuk tidak jatuh berurai. Kami saling menguatkan. Saya tahu. Tapi kami pun punya jalan hidup masing-masing yang harus kami jalani. Sayangnya mungkin tak bersama-sama. Tapi bukankah itu indah juga?

Saya sedang mencoba menghibur diri. Tersenyum melihat hadiah-hadiah yang mereka berikan. Ya, benar: buku. Semua memberi saya buku. Tak perlu susah-susah. Mereka tahu apa yang bisa membuat saya bahagia dengan mata berbinar. Tapi, sambil tersenyum saya berpikir: bagaimana saya membawanya? Sedangkan saya sudah mengirimkan 10 kotak besar. Isinya? Tentu saja buku. Apa lagi.

Mereka memang sahabat-sahabat saya. Mereka tahu saya bahagia punya mereka dan berterima kasih atas keberadaan mereka. Saya pun tahu, mereka akan bahagia kalau buku-buku itu bisa saya bawa pulang. Tinggal saya harus berpikir keras, apalagi yang harus dibuang. Dan itu tentu saja bukan buku.