Ruang

Menurut kamus besar bahasa Indonesia ruang kurang lebih bermakna sela-sela antara dua (deret) tiang atau sela-sela antara empat tiang (di bawah kolong rumah)atau rongga yang berbatas atau rongga yang tidak berbatas, tempat segala yang ada. Agak tidak jelas memang pengertiaannya. Terasa semakin mengabstrakkan makna ruang yang memang sudah abstrak. Yang jelas, dari pengertian di atas, bisa disimpulkan bahwa ruang berhubungan dengan sesuatu atau tempat yang kosong, yang berada di antara sesuatu.

Pada akhirnya makna ruang meluas dan istilahnya pun semakin bertambah. Dalam perkembangannya dikenal pula istilah ruang pribadi dan ruang publik yang muncul secara metaforis untuk menunjukkan dan memberi batas antara diri pribadi dan publik. Jika pengertian ruang dalam kamus besar bahasa Indonesia  cukup jelas dan nyata batasannya (sela di antara dua deret tiang atau di antara empat tiang), maka dalam istilah ruang pribadi dan ruang publik sangat kabur batasannya. Pribadi itu apa dan siapa? Publik itu apa dan siapa? Apa yang dibatasi dan sampai sejauh mana batasannya? Batasannya pun berupa apa? Pada kenyataannya semua menjadi sangat bias dan relatif. Irisannya pun tidak jelas.

Saya bisa berkata bahwa di tempat tinggal saya ada „ruang“ publik dalam makna banyak orang bisa masuk (tapi tidak semua orang), misalnya di ruang tamu, tetapi saya juga punya „ruang“ pribadi yang tidak bisa dimasukin oleh semua orang, misalnya „ruang“ tidur saya. Itu ruang yang berhubungan dengan makna tempat dengan batas dinding atau tiang tadi. Mengapa saya tidak mengijinkan semua orang masuk ke ruang tidur saya, misalnya? Karena ada hal-hal yang sifatnya intim dan personal yang berhubungan dengan “ruang” tubuh, hati, dan pikiran saya yang “dibatasi” oleh misalnya kerangka badan saya, pakaian saya, tempat tidur, sampai ke cara saya berpikir dan merasa. Bahkan ruang pribadi seperti ruang tidur itu pun masih “dibatasi” dan dibagi” menjadi ruang-ruang lainnya. Saat ini saya tinggal di satu apartment berbentuk studio dengan pembagian ruang yang tidak terlalu kentara. Namun, saya membatasinya secara sadar tidak sadar dengan menempatkan buku-buku yang berhubungan dengan pekerjaan saya jauh dari tempat tidur, meja yang di atasnya disimpan makanan dan alat-alat makan dekat dengan arah dapur dan kamar mandi yang lebih privat. Pembagian itu membuat saya merasakan hal yang berbeda setiap saya berada di “ruang-ruang” yang tidak seberapa besar tadi dan tidak jelas batasnya. Jika saya duduk di kursi dengan meja cukup besar, di atas meja ada lampu baca, laptop, di sebelah meja ada rak buku, saya selalu merasa “harus” bekerja. Di tempat tidur tentu lain lagi rasanya. Mengingat ruangan berbentuk studio yang tidak begitu besar tadi, saya misalnya tidak bisa meracik bahan masakan dengan nyaman di atas meja kerja, sehingga saya lebih suka melakukannya di dapur (yang juga tidak besar) atau di atas meja “makan”. Sadar tidak sadar saya lakukan. Ruangan yang tidak besar itu juga memungkinkan “ruang pribadi” saya yang abstrak dimasuki oleh orang lain, tentunya dengan ijin saya. Jika saya tidak ijinkan, maka saya bisa dengan mudah tidak membukakan pintu masuk ruang saya.

Saya merasa perlu memberikan batas-batas pada ruang pribadi dan ruang publik. Bahkan kalau misalnya di kereta pun, sadar atau tidak sadar saya meletakkan misalnya tas atau jaket di samping saya sebagai batas. Ah, tidak usah terlalu rumit, pakaian pun bisa jadi pembatas “ruang”, saya rasa. Saya juga akan merasa teriritasi jika ruang-ruang pribadi saya dimasuki orang lain tanpa ijin. Masuk lewat cara apapun, bahkan lewat kata atau kalimat, karena ternyata kata dan kalimat bisa pula menjadi pembatas “ruang”. Misalnya dengan kalimat yang berisi pertanyaan atau pernyataan yang berhubungan dengan hal-hal yang bersifat pribadi seperti uang, perasaan, kepercayaan, dll.  Itu saya. Dan dalam banyak hal saya merasa beruntung karena saya masih bisa membatasi dan membagi ruang-ruang saya seperti yang saya mau. Beberapa orang tidak punya keberuntungan itu.

Belakangan ini saya merasa sangat terganggu dengan pemberitaan di hampir semua media massa di Indonesia yang merasa berhak masuk pada ruang pribadi mereka yang disebut „publik figur“, seolah „ruang pribadi“ milik si „figur“ itu adalah ruang pribadi „publik“ juga. Ruang yang berhak diacak-acak dan diobrak-abrik tanpa ijin dengan alasan agama, moral, etika, sopan santun, adat istiadat, penyelamatan generasi muda penerus bangsa, dll.  Serbuan yang tiba-tiba atas ruang pribadi si figur oleh publik membuat si figur tampak tak mungkin lagi mengelak dan menutup pintu ruangnya untuk menahan serangan bertubi yang muncul tidak hanya dari publik yang tidak tahu apa-apa sampai dari publik yang sok tahu apa-apa. Ditambah lagi „media massa“ yang seolah merasa jadi tuhan yang punya kuasa lebih untuk menentukan siapa yang salah dan siapa yang benar, siapa yang berhak mati dan siapa yang berhak hidup. Pintu si figur dibuka paksa, si figur dilempari dan dirajam habis, mungkin juga dibakar dan dibunuh. Sadar atau tidak sadar. Si figur sudah bersalah, sudah berbuat nista, sudah menghancurkan generasi bangsa, sudah mencoreng nama baik kota yang agamis, sudah melanggar susila. Siapa yang berhak menentukan itu? Siapa yang berhak menilai itu? Atas dasar apa penilaian salah tidak salah, agamis tidak agamis, susila asusila itu? Batasannya apa? Siapa merugikan siapa? Apa merugikan apa?

Saya sadar bahwa ruang pribadi pun beririsan erat dengan ruang publik, karena manusia memang hidup secara sosial, tidak sendirian. Namun, rasanya setiap pribadi berhak pula untuk menjaga ruang pribadinya sepanjang tidak merugikan pribadi-pribadi yang lain secara langsung atau tidak langsung. Dan ini juga sifatnya relatif. Dalam kasus si figur yang katanya melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan agama dan moral, adat istiadat bangsa, yang merusak akhlak generasi muda, siapa sebenarnya yang terganggu dan dirugikan? Ini menjadi kasus yang massal karena „dipublikasikan“, dimassalkan. Ruang pribadi sudah jadi ruang publik. Siapa yang melakukan dengan maksud apa, saya tidak peduli. Yang saya peduli adalah reaksi dan tindakan „publik“ dalam menyikapi ruang pribadi yang dibuka(kan) itu, terutama tindakan dari pribadi-pribadi yang merasa dirinya jadi wakil dari „publik“, yang merasa dirinya lebih „bijak“ dan punya kuasa untuk menilai dan memutuskan orang lain salah dan benar.  Apakah sebaiknya mereka tidak mengurusi saja ruang „publik“ yang sudah nyata-nyata untuk dan milik publik? Apakah sebaiknya ruang pribadi tetap menjadi milik pribadi saja, tidak perlu dan tidak berhak dicampuri oleh pribadi-pribadi lain, apalagi oleh publik? Saya terganggu, saya muak, saya marah, dan saya merasa miris -sebagai pribadi yang juga punya ruang yang ingin saya jaga- saat melihat ruang pribadi diobrak-abrik dengan mudah dan semena-mena oleh pihak-pihak yang mengatasnamakan „publik“. Melihat ini saya jadi berpikir dan merasa, jangan-jangan Tuhan mungkin tidak akan marah seperti saya (karena Tuhan Maha Penyayang, bukan seperti saya yang manusia, karena saya masih pemarah), tapi Dia hanya akan tertawa melihat manusia-manusia yang diciptakanNya sibuk berlagak jadi tuhan yang sok bisa menghakimi manusia-manusia lainnya, yang sibuk menjagaNya, padahal Dia yang sebenarnya Maha Menghakimi dan Menjaga.

Ruang: sela di antara batas. Sayangnya dalam kamus besar Bahasa Indonesia juga bermakna: rongga tak berbatas. Semua merasa berhak berdesakan di dalamnya. Saya harus pergi, mencari ruang untuk bernafas. Sudah terlalu sempit di dalam. Pengap.

Bayreuth, 170610

13:33

Advertisements

Pengembara, siapakah dirimu? (Friedrich Nietzsche)

Pengembara, siapakah dirimu? Aku melihatmu berjalan di jalanmu, tanpa celaan, tanpa cinta, dengan mata tak tertebak; lembab dan sedih seperti batu duga, yang kembali muncul tak terpuaskan dari kedalaman menuju cahaya – apa yang  kau cari di bawah sana? – dengan dada, yang tak berkeluh kesah, dengan bibir, yang menyembunyikan rasa muak, dengan tangan, yang dengan lambat menggenggam: siapakah dirimu? Apa yang sudah kau lakukan? Istirahatlah di sini: tempat ini terbuka untuk siapapun – hiburlah dirimu! Dan siapapun juga dirimu: apa yang kau sukai sekarang? Apa yang bisa membuatmu terhibur? Sebutkan saja: apa yang aku punya, aku tawarkan untukmu! – >>Untuk hiburan? Untuk hiburan? Oh, kau, yang selalu ingin tahu, kau bicara apa! Tapi tolong berikan aku — << Apa? Apa? Bicaralah!- >> Sebuah topeng lagi! Topeng yang kedua!<<…

Diterjemahkan dari Nietzsche, Friedrich: Jenseits von Gut und Böse. DB Sonderband: Die digitale Bibliothek der Philosophie, S. 44309 (Nr. 278).

Piala Dunia dan Identitas Bangsa (Lagi)

Tadi saya sempat bingung memilih melihat pertandingan Belanda vs. Denmark atau kuliah. Ternyata saya tetap bisa melihat pertandingan dan setelahnya kuliah. Dan saya tidak menyesal, karena dalam perkuliahan kami tetap membicarakan sepak bola juga. Temanya masih berkutat di masalah identitas. Identitas nasional, identitas bangsa. Apa sih identitas itu? Saya jadi teringat tulisan lama saya di tahun 2006, juga saat piala dunia. Saat itu saya beruntung mengalami piala dunia di Jerman, dan juga saat ini saya kembali berada di Jerman untuk mengalami lagi suasana Jerman yang berbeda. „Musim terpenting di tahun ini“ demikian kata dosen saya. Kami kemudian berdiskusi tentang identitas dan makna kebangsaan yang masih sering disimbolkan „hanya“ dengan bendera, lagu kebangsaan, dan nasionalisme yang sempit. Dosen saya sendiri mengaku terus terang, bahwa dia baru merasa menjadi orang Jerman pada tahun 2006, saat piala dunia berlangsung di Jerman. Dia baru merasa bangga menjadi orang Jerman. Maklum, sebagai generasi yang lahir di masa Jerman masih terbagi dua, ditambah lagi dengan „luka sejarah“ masa lalu membuatnya tidak merasa cukup percaya diri untuk mengaku sebagai orang Jerman, demikian katanya. Namun, sampai sekarang ternyata dia masih menyimpan trauma yang muncul dari tidak maunya dia menyanyikan lagu kebangsaan Jerman dan tidak mau memegang bendera Jerman dalam bentuk apapun. Bahkan dalam „sekedar“ bentuk warna hitam, merah, emas, yang dicoretkan di pipi.

„Kebanggaan“ dan „kesadaran“ atas bangsa Jerman terasa berubah pada generasi setelah tahun 1990. Puncak „kesadaran“ berbangsa itu terjadi pada tahun 2006 dan semua orang Jerman merasakan dampak yang positif dan menyenangkan dari kesadaran dan pemaknaan yang lebih „sehat“ terhadap „negara“ dan „bangsa“ Jerman sebagai bagian dari identitas diri mereka. Masa lalu -seburuk apapun itu- tidak bisa dan tidak boleh dilupakan, tapi yang terpenting sekarang adalah menyikapi masa kini dan bersiap untuk masa depan, begitu pendapat teman-teman yang saya yakin mereka lahir di atas tahun 1990. „Wajah“ integrasi terlihat juga misalnya dari nama-nama pemain Jerman yang beragam asal usulnya dan katanya, itu sudah cukup membanggakan orang-orang Jerman.

Yang menarik lagi, sejak tahun 2006 itu muncul satu kosa kata baru dalam bahasa Jerman yaitu „public viewing“, di mana layar lebar dipasang di tempat terbuka dan pertandingan –terutama jika Jerman main- disiarkan langsung dan masyarakat bisa nonton bersama. Menonton TV yang dulunya ada di ruang pribadi menjadi pindah ke ruang publik. Namun, istilah „public viewing“ sendiri mengundang senyum, karena diterjemahkan langsung ke dalam bahasa Inggris dari istilah Jerman „öffentliches Anschauen“, padahal kata „public viewing“ sendiri di Inggris bermakna sangat berbeda, yakni meletakkan jenazah (biasanya keluarga kerajaan) di suatu ruangan untuk dilihat oleh para pelayat.

Dan kemarin saat bercakap di telefon, sahabat saya di Indonesia sempat bertanya bagaimana situasi di Jerman saat Jerman mau bertanding. „Pasti ramai sekali ya,“ katanya, „di Indonesia yang negaranya tidak pernah masuk piala dunia pun, ramai sekali, apalagi di Jerman.“ Ya, memang ramai, semua orang sudah siap dengan kostum dan bir lalu menonton beramai-ramai. Apalagi ketika kemudian Jerman memenangkan pertandingan, situasi semakin ramai. Pesta berlangsung sampai pagi. Itu baru di putaran awal, apalagi jika masuk sampai ke final. Namun, mungkin karena Indonesia tidak (pernah) masuk ke piala dunia, kita tidak peduli pada identitas apapun, selain Indonesia. Semua sama, yang penting sepak bola, begitu saya dan sahabat saya bersepakat. Terbukti kalau piala dunia berlangsung tidak pernah ada kerusuhan, walaupun tim jagoannya kalah. Tapi kalau Persib lawan Persija, jangan harap suasana akan tenang. Di dalam negeri, “identitas” kedaerahan terasa semakin kental dan tak jarang berujung rusuh.

Bayreuth, 140610
21:33 (sambil melihat pertandingan antara Italia vs. Paraguay. Paraguay sementara unggul 1:0. Yeah :) )

Dari Seorang Yahudi kepada Para Tentara Zionis – 1988 (Erich Fried)

Apa mau kalian sebenarnya?
Apakah kalian benar-benar ingin memukul mereka
mereka yang pernah merendahkanmu
di suatu masa
saat darah
dan kotoran kalian pun tak berharga lagi?
Apakah sekarang kalian ingin penyiksaan yang dulu
sekarang dilakukan pada yang lain
dengan darah
dan hal-hal kotor lainnya
dengan kenikmatan yang brutal
para tukang jagal
yang menyebabkan
ayah-ayah kita dulu menderita?
Apakah sekarang kalian benar-benar ingin
jadi Gestapo baru
jadi angkatan bersenjata baru
jadi tentara SA dan SS yang baru
dan membuat orang Yahudi baru
yang berasal dari orang-orang Palestina?
Kalau begitu aku pun mau
karena dulu 50 tahun yang lalu
aku juga seorang anak Yahudi
yang disakiti
oleh para penyiksa
aku mau jadi orang Yahudi baru
orang-orang Yahudi baru ini
yang kalian buat
dari orang-orang Palestina
Dan aku mau membantu mengembalikan mereka
menjadi manusia merdeka
di tanahnya sendiri Palestina
di tanah yang kalian rebut dan usir penghuninya
atau yang kalian sakiti
oleh kalian para pemuda berlambang swastika
kalian yang gila dan sadis
yang dengan cepat
mengubah sejarah dunia
dari bintang Nabi Daud
di atas bendera kalian
menjadi tanda-tanda terkutuk
berkaki empat
yang kalian sendiri tak ingin lihat
tapi di jalan itulah
kalian sedang berjalan sekarang!

Diterjemahkan dari karya asli Erich Fried berjudul „Ein Jude an die zionistischen Kämpfer – 1988“ di Bayreuth, 060610
14:58

Catatan: Erich Fried lahir di Wina tanggal 6 Mai 1921 dan meninggal tanggal 22 November 1988 di Baden-Baden. Dia adalah seorang penyair, penerjemah dan esais dari Austria keturunan Yahudi. Puisi dan tulisan-tulisannya lugas dan tajam, sehingga bersama Hans Magnus Enzensberger dikenal sebagai penyair utama di Jerman masa setelah perang. Nama „Fried“ sendiri bermakna „kedamaian.“

Keberhasilan (lagi)

Saya memang sedang tidak banyak pekerjaan di sini, selain berkutat dengan video yang saya lihat berulang-ulang dan transkripsi percakapan yang (harus) saya buat dengan detil sampai semua kata masuk ke dalam mimpi. Jadi, saya punya banyak waktu untuk jalan-jalan, bermalas-malasan dan untuk memikirkan hal-hal yang tidak penting :)

Sudah beberapa hari ini saya bertemu dan bercakap-cakap dengan sahabat-sahabat saya tentang keberhasilan, kebahagiaan, prestasi, pintar atau tidak pintar, dll. Benar-benar tema yang sama sekali tidak penting. Namun, saya tetap ingin menuliskannya di sini, semata-mata agar mimpi saya cukup disesaki oleh ujaran dan intonasi orang-orang yang saya transkripsikan percakapannya saja, jangan ditambah oleh yang lain.

Jadi, banyak orang menyangka saya ada lagi di Jerman untuk melakukan sesuatu yang tidak penting alias kuliah lagi itu karena saya pintar, rajin, penuh motivasi, ambisius, dll. Terima kasih atas pujiannya. Saya hanya bisa bilang: saya beruntung. Saat saya sedang bosan dan ingin lari sejenak dari kejenuhan saya, tiba-tiba ada tawaran beasiswa, tiba-tiba kesukaan saya menantang diri sendiri muncul, tiba-tiba saya sudah bikin proposal, tiba-tiba saya sudah mengontak profesor, tiba-tiba saya sudah dipanggil wawancara, tiba-tiba saya dapat beasiswa. Semua biasanya dilakukan tanpa harapan mendapatkan beasiswa itu, karena biasanya saat saya benar-benar menginginkan sesuatu, justru saya tidak pernah dapat. Jadi, saya bersyukur, karena saya beruntung, karena dengan keberuntungan ini saya belajar banyak dan saya sadar, suatu saat keberuntungan ini akan hilang juga. Jadi, saya juga bersyukur, karena pelajaran yang saya dapat setelah keberuntungan itu saya terima itu jauh lebih besar dibandingkan sekedar apa yang orang sebut pintar, rajin, dan lain sebagainya itu. Ya, karena justru dengan keberuntungan itu saya belajar tentang diri saya sendiri, berkompromi dengan diri saya sendiri dan berjuang melawan diri sendiri. Sehingga pada akhirnya saya bisa menyebutkan dengan sangat jelas bahwa saya tidak sepintar itu, tidak serajin itu, tidak punya motivasi sebesar itu, dan sama sekali tidak ambisius. Sekali lagi: saya hanya beruntung.

Dalam percakapan virtual, seorang sahabat merasa bahwa untuk kuliah S3 „harus“ pintar, karena yang „pintar“ saja sulit untuk lulus dan masih punya banyak kesulitan, apalagi bagi yang tidak „pintar“. Menurut saya kuliah di manapun, jenjang apapun tidak  menuntut adanya kepintaran. Kalau sudah pintar mengapa juga harus sekolah? Saya melihat –berdasarkan pengalaman saya juga- faktor tekun, rajin, dan sabar berperan lebih besar, ditambah sedikit –atau banyak- keberuntungan, hehe, karena ada juga yang malas-malasan namun tetap berhasil. Kata berhasil ini juga patut dipertanyakan. Berhasil itu apa? Dalam hal apa? Mendapat nilai bagus? Mendapat IPK besar? Lulus cepat? Dapat pekerjaan dengan gaji dan posisi bagus? Atau berhasil karena dia menikmati dan bahagia dengan apa yang dia lakukan? Baik di sekolah, kampus, atau di tempat kerjanya? Berhasil menikmati dan bahagia dengan hidupnya?

Kembali ke soal pintar tidak pintar, rajin tidak rajin, dan semacamnya itu, saya sendiri belajar amat sangat banyak saat saya bersekolah jauh dari rumah, bahwa ternyata management diri dan stress saya sangat lemah. Saya bisa mudah jatuh pada kondisi tertekan dan depresi, saya bisa menangis tiba-tiba, merasa sangat kesepian, menjadi sangat perasa, seharian bisa tidak melakukan apapun tapi tetap merasa bersalah karena saya merasa „harus“ melakukan sesuatu untuk hal-hal yang „menyangkut“ kuliah saya: entah membaca atau menulis. Saya membaca, tapi membaca hal yang lain, saya juga menulis, tapi juga menulis hal yang lain. Kalaupun pada akhirnya saya bisa membaca dan menulis hal-hal yang “berhubungan” dengan kuliah saya, itu dengan perjuangan mati-matian dan berdarah-darah. Saya jadi teringat  percakapan telefon dengan seorang sahabat yang mengutip salah satu kalimat dalam naskah lama yang dibuat di abad pertengahan, bahwa makna dari perang itu adalah untuk bertahan hidup. Ya, saya sebenarnya sedang berperang dengan diri saya sendiri dan perasaan bersalah untuk bisa bertahan hidup. Salah satu cara saya untuk bertahan hidup ternyata dengan jalan-jalan juga membaca dan menulis hal-hal yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan studi saya. Jika tidak begitu, saya rasa saya sudah lama gila.

Lalu apa hubungannya kepintaran dengan keberhasilan? Saya rasa sangat relatif. Pintar dan berhasil itu juga pilihan. Banyak teman dan mahasiswa saya yang pintar secara akademis, dalam arti punya IPK yang besar, namun misalnya lulus terakhir. Saya dulu termasuk salah satu mahasiswa S1 yang kuliah sampai  7 tahun, walaupun IPK saya katanya tinggi, di atas 3. Teman-teman yang lain, yang biasa-biasa saja, malah lulus lebih cepat dan dapat pekerjaan yang bagus juga, mereka pun bahagia dengan hidupnya. Namun, banyak juga teman dan mahasiswa saya yang pintar secara akademis dan lulus sangat cepat juga, mereka juga kemudian berhasil dalam karier dan hidupnya. Jadi, tidak bisa diambil kesimpulan yang sederhana, bahwa IPK bagus, nilai bagus itu sama dengan pintar sama dengan (akan) berhasil.

Percakapan berikutnya dengan seorang sahabat yang sudah lama tak kontak dan ternyata dia sudah menjadi direktur utama sebuah organisasi internasional yang bergerak di bidang kemanusiaan dan pendidikan bagi anak-anak kurang beruntung secara finansial. Dalam waktu sekitar 3 tahun dia sekarang mengurusi organisasi yang berpusat di Amerika itu dan mengatur cabang-cabangnya di Indonesia (Aceh, Medan, Jakarta, Bali), Thailand dan Kenya. Saat ini dia berada di Amerika untuk mengatur semua dan berencana melanjutkan sekolah. Saya senang mendengar keberhasilannya. Keberhasilan yang mana, katanya. „Saya lelah dan tidak punya waktu untuk diri saya sendiri. Saya bahkan tidak punya waktu lagi untuk sekedar menulis puisi,“ katanya lagi. Saat orang memandangnya hebat dan berhasil, justru dia merasa sangat tertekan, sampai suatu saat pernah berpikir untuk mengakhiri hidupnya sendiri. Saya sendiri (sekarang) bisa mengerti mengapa orang sampai ingin mengakhiri hidupnya, bukan hanya karena tekanan masalah tapi juga karena „keberhasilan“ yang besar dan berlimpah. Keberhasilan yang hanya dilihat secara kasat mata saja. Pada tataran ini saya bisa memahami, karena pernah pada saat sedang meracik bahan masakan saya memperhatikan pisau yang saya pegang dan berpikir bahwa pisau itu cukup tajam untuk diiriskan pada urat nadi tangan saya atau ditusukkan ke perut saya. Saat itu saya ada dalam situasi yang menurut orang „just perfect“, semua saya punya dan bisa membuat orang lain iri, maka saya “tidak boleh” mengeluh, karena itu artinya tidak bersyukur. Namun, untungnya saya masih takut darah dan masih takut sakit, jadi pisau itu saya pakai untuk mengiris bawang bombay bukan urat nadi saya. Maka, ketika teman saya berniat mengakhiri hidupnya, saya bisa sedikit mengerti beban yang dia tanggung dari harapan-harapan banyak orang yang dibebankan padanya. „Tuhan tidak adil, karena diciptakanNya kemiskinan, sehingga beban dan pekerjaan saya jadi banyak,“ katanya saking putus asanya dia. Dia yang ada dalam posisi bisa mengatur semuanya, „tinggal“ menunjukkan jari dan terlaksanalah semua, tetapi ternyata tidak.Yang kata orang „keberhasilan“ buat dia adalah beban. Karena semua harap dari orang-orang yang dia sayangi dibebankan padanya:harap dari ibunya, keluarganya, teman-temannya dan  anak-anak miskin yang butuh kasih sayang dan bantuannya. Semua sudah terlalu banyak untuknya, sampai saat bercakap virtual dengan saya dia hanya bisa terus menangis. Hal yang sudah lama tidak bisa dilakukannya, katanya, karena masih banyak yang “berhak” menangis dibandingkan dia.  Kalaupun saya berkata, berhenti dan lepaskan semua tanggung jawab itu, karena semua sudah ada yang mengatur, tentu pada kenyataannya tidak akan semudah itu. Bertahan hidup dari perang melawan dirinya sendiri itu bukan proses yang mudah. Saya rasa saya bisa cukup mengerti. Maka, ucapan-ucapan seperti “kamu beruntung, seharusnya disyukuri. Ayo, semangat. Kalau bukan kamu siapa lagi? Kamu pasti bisa lah,” hanya akan membuatnya semakin tertekan. Ups, untuk saya juga, hehehe. Jadi, maaf, ini permintaan serius dari saya –sekalian curhat colongan-, untuk sahabat-sahabat saya yang baik dan penuh pengertian, jangan lagi mengucapkan kalimat semacam itu pada saya dan pada teman saya, karena  kalimat semacam itu hanya akan membuat tekanan bertambah besar. Mungkin lebih baik tidak berkata apapun, selain tersenyum dan mendengarkan atau mungkin cuma mengucapkan kalimat pendek “Capek ya? Tidak apa-apa. Istirahat saja.”

Maka saya membiarkan sahabat saya menangis, karena saya rasa dia sangat membutuhkannya. Saya hanya berharap suatu saat akan bisa membaca puisi-puisi karyanya lagi, karena dengan menulis –apapun itu- saya yakin dia akan tetap hidup dan tidak menjadi gila. Saya katakan itu padanya, karena saya hanya ingin dia bahagia sebahagia-bahagianya, bisa menikmati hidupnya, tanpa diembeli-embeli label “keberhasilan” yang kadang tak jelas dilihat dari sudut pandang apa. Untuk saya, menikmati dan bahagia dengan apa yang dilakukan itu adalah keberhasilan sebenarnya. Jika apa yang dilakukan bisa membawa pengaruh yang baik untuk orang lain, itu hanya akibat.

Dan kemudian saya bertemu dengan sahabat saya yang lain, yang menguatkan saya dengan analogi berenang, laut dan pulau yang dibuatnya, saat saya sedang panik menghadapi presentasi yang harus saya lakukan sore itu. Dia membuat analogi ini karena dia sudah dan sedang melakukannya. Katanya, „Kita ini hidup seperti orang yang diceburkan ke laut, diminta mencapai suatu pulau, tapi kita tidak bisa berenang dan tidak diberi tahu arah untuk mencapai pulau itu. Apa yang terjadi? Bisa saja kita langsung tenggelam, atau kita berusaha belajar berenang dulu. Setelah kita bisa berenang, kita harus berenang mencapai pulau itu tanpa tahu arah yang tepat karena laut begitu luas. Mungkin kita nyasar ke pulau lain, mungkin kita capek dan memutuskan untuk berhenti, mungkin juga kita sampai ke pulau itu dengan mudah, atau justru bersusah payah dengan luka dan berdarah-darah. Tapi, kalaupun akhirnya kita sampai di pulau itu, kita tidak pernah tahu apa yang harus kita lakukan di sana atau apa yang menanti  kita di sana. Sampai ke pulau itu ternyata jadi tidak penting.  Ternyata yang penting adalah kita belajar sesuatu. Kita belajar berenang, kita belajar mencari arah, kita belajar hidup di pulau yang mungkin bukan jadi tujuan awal kita, kita melihat banyak, kita menemukan banyak hal, sekalipun kita nyasar atau lelah dan kemudian memutuskan untuk berhenti. Saya rasa bukan pulau itu tujuannya, tapi perjalanannya. Dan itu hidup. Dan dalam perjalanan itulah keberhasilanmu. Bahkan jika kemudian kamu memutuskan untuk istirahat dan berhenti. Karena tidak pernah ada yang sia-sia.”  Ya, tidak pernah ada yang sia-sia.

“Jadi, kalau kamu dikritik atau bahkan dipuji dari sana sini, masuk telinga kiri dan keluar telinga kanan saja. Kalau disimpan, kritikan atau pujian yang berlebihan dari banyak pihak, hanya akan membuatmu sesak nafas. Kritikan dan pujian itu persis seperti air yang masuk ke hidung dan mulutmu saat sedang berenang. Jika terlalu banyak masuk ke tubuhmu, kamu lambat laun akan mati dan tenggelam,“ katanya lagi. Kalau kata salah seorang sahabat saya yang lain: „Orang lain mau bilang apa, bae weh lah.“ Hehehe

Sore itu lagi-lagi saya merasa jadi orang yang sangat beruntung karena dipertemukan baik virtual atau nyata dengan sahabat-sahabat yang dengan caranya membuat pelajaran berenang saya menjadi semakin baik. Untuk itu saya berterima kasih pada Yang Maha Mengatur Pertemuan. Dan ketika saya dapat menuliskan ini semua, maka ini adalah salah satu keberhasilan saya sesungguhnya.

Cuaca cerah, matahari bersinar dan ini berarti waktunya untuk jalan-jalan menikmati matahari dan padang canola :)

Bayreuth, 040610

13:46

Tentang Bimbingan dan Konsultasi (sementara selesai)

Kembali ke soal data, dengan bantuan yang sangat berharga dari kedua sahabat saya, saya merekam beberapa situasi percakapan. Situasi bimbingan dan konsultasi murni hanya saya dapatkan dua data. Satu dosen Indonesia dan satu dosen Jerman. Yang menarik, dosen Indonesia yang biasanya membimbing dalam bahasa Indonesia, pada saat direkam menjadi bicara dalam bahasa Jerman.  Untuk kepentingan penelitian saya, data ini menjadi tidak valid, karena secara etnometodologis, data harus benar-benar alami, tidak dibuat-buat. Namun, tentu saja data ini bisa dijadikan bahan penelitian dengan tema lain. Situasi lain yang saya rekam adalah situasi perkuliahan di Jakarta, Bandung dan Malang. Bukan tanpa kesulitan, saya melakukan perekaman dibantu sahabat-sahabat saya tadi. Ada satu peristiwa di mana listrik mati hampir sepanjang waktu perkuliahan, sehingga ruangan berAC menjadi terasa begitu panas, akibat lainnya handycam tidak bisa discharge saat batere habis. Belum lah lagi dosen yang selalu berjalan-jalan, posisi duduk yang diubah-ubah sedangkan ruangan kelas tidak terlalu besar dengan jumlah mahasiswa yang cukup banyak. Hal ini juga menyebabkan kamera tidak bisa berada dalam posisi diam. Sebenarnya kondisi yang bergerak-gerak terus ini juga tidak terlalu bagus. Masalah lainnya adalah waktu pergantian ruangan yang cukup sempit, sehingga menyulitkan saya saat harus memasang kamera dan mencari posisi yang tepat. Kamera harus didekatkan dengan colokan listrik, yang biasanya hanya ada satu, dan saya terus terang tidak antisipatif dengan membawa perpanjangan kabel. Kendala lain, misalnya saat sedang bekerja kelompok, mahasiswa cukup ribut, sehingga suara-suara gaduh lebih jelas masuk ke kamera dibandingkan suara si dosen yang sedang berkeliling. Solusinya sebenarnya adalah memasang minimikrofon pada si dosen yang disambungkan ke kamera. Selain kendala-kendala yang bersifat teknis, kendala lain sifatnya lebih fisikal dan psikologis. Cukup melelahkan berkonsentrasi penuh pada saat perekaman, memperhatikan dengan seksama pada layar kamera peristiwa komunikasi itu. Untuk saya yang mengerti bahasa Jerman, situasi ini agak lumayan, tetapi untuk kedua sahabat saya yang tidak berbahasa Jerman, hal itu pasti membosankan dan melelahkan. Jadi kalau sampai mereka mengantuk dan bosan, sehingga ada bagian yang direkam dengan cara yang aneh,atau tiba-tiba kamera terlepas sedikit dari pegangan,  saya bisa mengerti. Terima kasih setulusnya untuk Lusi dan Bima atas bantuan yang sangat besar dan berharga itu. Tanpa mereka, saya tidak bisa melakukannya sendirian. Terlalu banyak.

Proses merekam sebenarnya juga sekaligus proses menganalisis. Menarik untuk diamati, bagaimana proses konsultasi dan bimbingan bisa berlangsung sebelum perkuliahan, selama perkuliahan dan setelah perkuliahan. Mahasiswa biasanya datang sendiri menghadap dosennya, biasanya lagi diikuti kemudian oleh teman-temannya yang lain. Ada yang memang ingin juga bertanya dan menunggu gilirannya, ada yang ikut nimbrung bertanya atau berkomentar, ada juga yang hanya memperhatikan. Pertanyaan biasanya berkisar pada hal-hal yang tidak dimengerti dalam pelajaran. Hal ini menariknya tidak ditanyakan saat misalnya dosen bertanya: „Apakah ada pertanyaan? Ada yang tidak dimengerti?“ Biasanya saat dosen bertanya demikian, tidak ada yang menunjukkan tanda untuk bertanya. Namun, ini muncul saat kuliah berakhir, atau sebelum perkuliahan, atau jika dosen membuat bentuk kerja kelompok, maka muncul fenomena „bertanya tentang hal-hal yang tidak dimengerti“, baik yang sifatnya akademis (berhubungan dengan perkuliahan) atau yang sifatnya administratif (misalnya masalah KRS, ekskursi, dll.). Pertanyaan lebih sering muncul dalam ruang yang „sedikit privat“ artinya dalam lingkup ruang yang lebih kecil, dengan jarak sosial yang lebih pribadi, tetapi tidak terlalu intim (sekitar 0,5 meter).  Fenomena ini juga terjadi dalam penelitian yang dilakukan oleh House & Levy (2008) pada mahasiswa-mahasiswa asing di 3 universitas di Hamburg. Apakah faktor budaya berperan di sini? Atau justru faktor psikologis yang lebih berperan? Saya belum bisa masuk terlalu jauh ke sana.

Pengamatan sementara lainnya adalah relatif lebih lambatnya dosen-dosen itu bicara saat di kelas. Sebagai native speaker dan juga dosen yang berpengalaman, hal ini biasa terjadi, bahwa saat mengajarkan bahasa asing „seharusnya“ memang bicara tidak terlalu cepat dengan melakukan tekanan pada kata-kata dan suku kata tertentu serta melakukan jeda yang cukup lama di antara ujaran satu ke ujaran yang lain. Dengan cara ini, lagi-lagi berdasarkan pengamatan saya lewat layar kamera dan kemudian lewat transkripsi percakapan yang saya buat, mahasiswa terlihat memiliki kesempatan lebih banyak untuk mendengar, menyimak , mengerti atau tidak mengerti dan memahami  atau tidak memahami maksud ujaran si dosen, tanpa harus mengerti semua kata yang diujarkan dan dituturkan. Proses mengerti ini terlihat dari respon yang diberikan mahasiswa saat si dosen menuturkan sesuatu (dalam istilah analisis percakapan biasanya disebut „back channel“ atau dalam bahasa Jerman dikenal dengan sebutan „Rückmeldesignale“). Respon yang diberikan bisa verbal atau nonverbal atau keduanya. Misalnya anggukan, senyuman, kerutan di kening, memicingkan mata, gelengan kepala, kedipan, tawa, untuk verbal seperti „hm=hm“, „mm=mm“, „o:h“, „ya“. Saya tidak menemukan respon penolakan langsung dengan „tidak“ , ada beberapa yang menggunakan „tapi“. Namun, kebanyakan proses „mempertahankan pendapat“ atau „mempertentangkan pendapat“  ini  langsung „terpatahkan“ oleh penyelaan yang dilakukan si dosen sehingga terjadi proses tumpang tindih ujaran  (overlap) yang dilakukan antara lain dengan cara meninggikan volume suara, menaikkan intonasi dan mempercepat kecepatan bicara serta menggunakan pola tuturan „ya, tapi di sini …“ atau „bukan begitu, tapi …“. Pada titik ini, biasanya giliran bicara akan langsung beralih pada si dosen, karena tepat pada saat proses overlap tadi, secara prosodis biasanya mahasiswa otomatis merendahkan dan memperlambat suaranya dan ujaran biasanya tidak dilanjutkan.  Respon lain dari si  mahasiswa biasanya berupa mengangguk  atau mengerutkan kening. Itu sedikit yang bisa dikenali dari sisi prosodi dan tuturan verbal. Gestik dan mimik tentu juga menunjang.

Fenomena dan sekuens di atas mungkin bisa dijadikan salah satu petunjuk untuk mendukung kenyataan relasi yang tak setara antara dosen dan mahasiswa. Masalah siapa yang lebih berkuasa di sini, itu faktor lain yang bisa dijadikan penelitian lanjutan. Apakah benar dosen lebih punya kuasa dibandingkan mahasiswanya? Apakah diam juga bisa dimaknai sebagai jenis kuasa yang lain? Yang jelas, dari data-data yang ada, terlihat banyak fenomena yang menarik untuk dikupas lebih lanjut, baik dari pola interaksi yang terjadi (tataran mikro dan meso) dan apa yang ada di balik fenomena tersebut (tataran makro). Itu nanti saja, untuk saat ini cukup dulu. Sudah terlalu panjang  :)

Namun, sayangnya data yang ada pada saya belum cukup untuk digunakan sebagai data penelitian yang sifatnya lebih mencari model dan prototype. Selain karena kualitas rekaman yang kurang begitu mendukung, juga karena sekuen-sekuen yang saya inginkan –untuk dibahasa lebih lanjut- juga masih terlalu sedikit. Entah ini kerugian atau kekurangan, belum ada yang membuat penelitian semacam untuk konteks interaksi Indonesia-Jerman, sehingga saya cukup sulit menyandarkan diri pada teori atau penelitian sebelumnya. Saya tidak bisa memakai teori-teori dari Jerman atau dari negara-negara lain, karena konteks dan subjek penelitiannya sendiri sudah berbeda. Memaksakan teori Jerman dalam konteks Indonesia sama saja dengan membelah kayu dengan memakai pisau dapur. Jadi, pengambilan data kedua akan dilakukan lagi di Indonesia dengan lebih terfokus. Ada bagusnya juga karena saya sudah berjarak beberapa saat dengan pengambilan data pertama, sehingga saya bisa melihat kekurangan dan bagian-bagian yang kosongnya. Data yang  juga direncanakan diambil berikutnya adalah interaksi dosen Indonesia dan mahasiswa Jerman di Jerman. Kesimpulannya, akan ada banyak perjalanan lagi yang akan saya lakukan. Dan ini sudah membuat saya senang :)

Masih tentang Bimbingan dan Konsultasi (German Edition)

In dem Kolloquium des letzten Semesters wurde mein Thema ein bisschen erweitert. Der Begriff „Sprechstunde“, den ich am Anfang benutzt habe, wurde mit Oberbegriff: „Interkulturelle Kontaktgespräche deutsch-indonesischer Interaktionen im universitären Bereich“ ersetzt, wobei aber in dem Begriff „Kontaktgespräche“ die Besprechung sowie die Beratung enthält.  „Beratung“ im Sinne Luckmann (1992)und Günthner (2001) hat asymmetrische Interaktion zwischen den Gesprächsbeteiligten und ist bereits unmittelbar sinnfällig durch die Bezeichnung „Ratsuchendr“ und „Ratgeber“ für die beiden komplementären Beteiligungsrollen. Diese asymmetrische Beteiligungsrolle manifestiert sich nach Nothdurft, Reitemeier und Schröder (1994) im Einzelnen in Differenzen im Fachwissen, im unterschiedlichen Sichtwissen auf Gegendstand der Beratung, in unterschiedlicher Distanz zum Problem, in unterschiedlicher Betroffenheit und in der Unterscheidung in den Handlungs- und Lösungsmöglichkeiten.

Unter dem Begriff „Beratung“ bzw. „Beraten“ definiert Nothdurft als „einen komplexen Zusammenhang aufeinander abgestimmter und sequentiell organisierter Aktivitäten mindestens zweier Individuen“. Nothdurft erläutert, dass Beratungs- sowie Sprechstundengespräche haben meistens folgende Gesprächszwecke: fachliche Unterstützungswünsche (Literaturhinweise erbitten, fachliche Rückfragen zu Veranstaltungsinhalten, fachliche Vertiefungsgespräche), bewertungsbezogene Inhalte (Klärungen von Anforderungen an eine Hausarbeit, Nachbesprechung einer Leistungsnachweisarbeit, Vorbesprechung von Fachprüfungen), kooperationsbezogene Klärungen (Kontakt- und Imagepflege vor einer Prüfung, Nachbesprechung einer Prüfung), studienorganisatorische Zwecke (Auskunft einholen, Unterschriften holen, Anmeldungen), Ratschläge/Beratungen (Sprechen über Studienprobleme, Prüfungsprobleme, Ratschläge bzw.Beratung zum Studiengangwechsel), karrierebezogene Anliegen (Bitte um Gutachten, Bewerbung zur studentischen Hilfskraft, Fragen nach Master- und Promotionsmöglichkeiten).

Anhand der möglichst  vorherigen Erfahrung der deutschmuttersprachlichen Dozenten haben sie wahrscheinlich andere Vorstellung über Sprechstunde sowie Beratungsgespräch in Indonesien, die völlig anders manifestiert sind. Dazu komme ich zu meinen Fragestellungen, und zwar:
Wie werden deutsch-indonesische Kontaktgespräche aufgebaut? Welche Rolle spielen sprachliche Mittel bei dem Verständigungsprozess der deutsch-indonesischen Kontaktgespräche? Welche problempotentiellen Faktoren kommen in den deutsch-indonesischen Beratungsgesprächen vor? Welche Rolle spielen die unterschiedlichen kulturspezifischen Wissensbestände und Erwartungen?
Die Fragestellungen sollen dazu dem Zweck dienen, die Besonderheiten und die Problempotentiale der deutsch-indonesischen Interaktionen im universitären Bereich aufzudecken.

Gesprächslinguistisches Verfahren sowie die Theorie der kommunikativen Gattung sollte als theoretische Rahmen meiner Arbeit gelten, in dem ich die Daten anhand der auftauchenden Phänomenen im Gespräch und im umfassenden Kontext analysieren werde. Der Forschungsstil bzw. –aufbau sowie das Analyseverfahren werden mit folgenden methodischen Schritten erfolgt, in dem ich erst einmal die Situationen aufgenommen (Video mit zwei Kameras, Audio mit einem Aufnahmegerät) und meine Rolle als Teilnehmerin und auch gleichzeitig als Beobachterin von dem ganzen Interaktionsprozess benutzt habe. Diese teilnehmende Beobachtung ermöglicht die Mitwirkung der gesamten Interaktion. Interview und Fragebogen sollten für die Bereicherung der Daten gedacht werden, um den Feedback zu bekommen, da man sich mit der „schon passierten“ Interaktion mehr oder weniger distanziert und hoffentlich andere Blickwinkel gebaut hat. Die aufgenommenen Daten werden danach transkribiert und kategorisiert.  Durch sequentielle Analyse der Videosequenzen wird die zeitliche Strukturierung der aufgenommenen Gespräche nachvollziehbar erfasst und die kommunikativen Aktivitäten in jeden Gesprächen  rekonstruiert. Damit sind die Daten ausgewertet und analysiert.

Es entstand schon unterschiedliche Forschungen über das Thema Kontaktgespräche in dem Sinne „Beratung“ und „Besprechung“ in Deutschland. Man kann an die Arbeit von  Schwedhelm:2009 über rekonstruktiven Analysen  von interkulturellen Beratungsgesprächen in Uganda, von House, Levy:2008 über universitären Kontaktgespräche als interkulturelle Kommunikation; die Arbeit von  Meer:2003, 2001 über Sprechstundengespräche sowie von Boettchert, Meer:2000 anlehnen. Das Thema wurde auch von  Nothdurft, Reitemeier, Schröder: 1994; Nothdurft: 1994; Rost-Roth: 2003, 2002,1994 thematisiert.

Über deutsch-indonesische Kommunikation bzw. Interaktion beschäftigen sich Ulrike Schwegler (2008) Vertrauen zwischen Fremden: Die Genese von Vertrauen am Beispiel deutsch – indonesischer Kooperationen und Peter Kistler (2004) Die interaktive Produktion von Formalität und Informalität, in derer Arbeit das Thema mit der Text- sowie Gesprächsanalyse erfolgt ist.

In dem indonesischen Kontext und Gespräch sind die Kontaktgespräche in dem Sinne Besprechung und Beratung nicht so streng wie die in dem deutschen Sinne aufgebaut. Nach der vorläufigen Beobachtung kann die Kontaktgespräche so aufgebaut: Vor der Unterrichtsituation (nur ganz selten), während der Unterrichtssituation (während die Lehrende die Arbeitsgruppe kontrollieren, passieren oft) oder nach der Unterrichtssituation (am meistens). Ziel der Kontaktgespräche sowie die Themen, die sie zu dem Gespräch gekommen sind, sind meistens die Besprechung der Abschlussarbeit oder Hausarbeit, meistens über akademische Probleme (mit indonesischen Lehrenden) und über studienorganisatorische Zwecke (Auskunft einholen, Unterschriften holen, Anmeldungen, Frage nach Exkursion, etc.)

Wenn man über Indonesien spricht, dann ist es problematisch zu definieren, was man eigentlich über Indonesien verstehen will. Über welches Indonesien spricht man? Auf Grund dieser Problematisierung habe ich mich für Feldzugang und Auswahl der Gespräche auf Java entschieden, da:
a.    Deutsche Muttersprachler (DAAD Lektoren) befinden sich nur auf Java.
b.    2 Universitäten in Jakarta (UI und UNJ) sind multikulturell, 2 weitere Universitäten (UNPAD und UM) sind relativ monokulturell.
c.    Universitas Indonesia und Universitas Padjadjaran bieten reine Germanistik bzw. Deutsch als Studienfach an.
d.    Universitas Negeri Jakarta und Universitas Negeri Malang  sind pädagogische Hochschulen und haben traditionell ein eher lehrerbildendes Profil.

Anhand dieser Uberlegungen sind folgende Materialien erhoben:
1. Deutschabteilung Universitas Padjadjaran, Bandung:
– Prüfungs- und Sprechstundensituationen (Video) : 2 Stunde 30 Minuten à Brauchbar im engeren  Sinne: 1 Std
– Unterrichtssituation: 7 Stunden 22 Minuten
– 1 Sprechstundengespräch(mit Deutschlektorin ) (ca. 2 Stunden) à Brauchbar im engeren Sinne: 2 Std
2.  Deutschabteilung Universitas Indonesia, Jakarta
– Unterrichtssituationen (mit Besprechung) : 5 Stunden 18 Minuten àBrauchbar im engeren Sinne: 30 Min
–  1 Interviews (Video) auf Indonesisch (mit 5 Studierenden)
– 1 Interviews (Audio) auf Deutsch (mit Dozentin)
3.  Deutschabteilung Universitas Negeri Jakarta
– Unterrichtssituationen (mit Besprechung): 3 Stunden 42 Minuten à Brauchbar im engeren Sinne: 30 Min
– 1 Interview (Audio) mit Dozentin auf Deutsch
– 1 Interviews (Video) auf Indonesisch (mit 5 Studierenden)
4.  Deutschabteilung Universitas Negeri Malang
– Unterrichtssituationen (reine): 5 Stunden 01 Minute.
– 1 Interviews (Ton) auf Indonesisch (mit Studierenden)

Die Daten sind nicht unproblematisch erstellt, wobei  Bürokratie (schriftlich offiziell), kein Erlaubnis von indonesischer Seite, technische Probleme (Stromausfall, nur eine Steckdose, u.a), Millieu (zu laut, Raum zu klein für 40 – 50 Leute), Zeit: Semesteranfang , keine bestimmte Sprechstundenzeit bzw. Orte, knappe Zeit zum Raumwechsel  für Probleme der Datenerhebung eine Rolle spielten. Deshalb habe ich die Daten mit noch keiner guten Aufnahmequalität (laute Nebengeräusche, Störungen, etc.) und auch aus diesem Grund sind die Daten noch ungenugend für die Analyse. Dazu habe ich vor, die zweite Datenerhebung in Indonesien zu machen. Um den Prozess der Interaktionen kontrastiv zu analysieren, sind die Aufnahme von indonesisch-indonesischen Gesprächen in Indonesien und indonesisch-deutschen Gesprächen in Köln, Bonn, Passau geplant. Danach werden die Evaluierung und Triangulation der Arbeit erwartet.

Bayreuth, 010610