Sesederhana itukah?

Dikenalkan oleh Mbak Enggar pada Bu Ida Sitompul, akhirnya hari Kamis minggu lalu saya mengajar di SMP Terbuka di daerah Kompleks Arcamanik Endah. Saya diminta membantu Bu Ida mengajar Bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia. Di Bayreuth memang saya mengajar Bahasa Indonesia untuk mahasiswa Jerman. Bahasa Jerman –yang sebenarnya memang bidang utama saya- sangat membantu untuk mengajar Bahasa Indonesia di sana. Namun, di sini? Terus terang saya takut dan tidak bisa tidur. Apakah saya bisa? Ini akan menjadi pengalaman pertama saya mengajar anak-anak SMP dalam satu kelas. Biasanya saya mengajar mahasiswa. Kalaupun mengajar siswa yang berusia lebih muda, biasanya dalam bentuk privat. Sehingga relasinya sangat personal. Kondisi ini relatif lebih mudah dibandingkan dalam kelas.

Dua minggu sebelumnya bersama Bu Ida saya mendiskusikan materi Bahasa Indonesia untuk kelas 2 SMP. Sulit. Saya sendiri tidak mudah memahaminya, saya membayangkan anak-anak pun akan sulit menerimanya. Dugaan saya tampaknya tidak terlalu salah, karena Bu Ida sendiri mengalami kesulitan menyampaikan materi kepada murid-muridnya. Apalagi saya, saya pikir. Alhasil, selama beberapa hari saya memikirkan bagaimana cara menyampaikan materi tentang pembuatan latar belakang, isi, dan kesimpulan dalam suatu teks. Susah-susah gampang. Kekhawatiran lainnya adalah saya sama sekali tidak mempunyai bayangan tentang bagaimana ”kondisi” dan ”kesiapan” anak-anak kelas 2 SMP tersebut.

Hari itu pun tiba. Saya gemetaran, walaupun persiapan sudah saya lakukan dari rumah. Karena ini adalah kali pertama saya mengajar berarti harus ada sesi perkenalan dulu. Seperti biasa, saya selalu ingin menerapkan metode berkenalan yang personal, tidak hanya permukaan berupa nama saja. Kartu-kartu saya bagikan. Saya minta mereka menuliskan apa hobby dan makanan kesukaan mereka. Hanya itu. Nama mereka tidak boleh tercantum di atasnya. Kartu-kartu dikumpulkan, kemudian saya acak dan saya bagikan lagi. Selanjutnya, mereka saya minta untuk mencari orang yang data-datanya tercantum di atas kartu yang mereka pegang. Seru. Mereka bersemangat sekali mencari teman mereka yang memiliki hobby menyulam dan suka makan mie, atau yang hobby menyanyi dan suka makan coklat, atau senang main bola dan suka makan nasi goreng. Kemudian mereka harus menuliskan nama temannya tersebut. Kemudian mereka bacakan nama dan data teman yang kartunya mereka pegang. Saya akan mendekati anak tersebut sambil mengulang nama dan data yang disebutnya. Saya lakukan terus berulang-ulang. Saya hafalkan, karena saya ingin mengenal mereka lebih dekat. Alhamdulillah cukup berhasil dan mereka pun senang karena biasanya percakapan jadi berkembang. Saya jadi tahu ada anak yang senang musik R n B, senang Persib, senang berenang, senang menyanyi atau menyulam.

Itulah awal saya masuk ke pembahasan dan latihan tentang pembuatan latar belakang. Kami kumpulkan bersama alasan-alasan kenapa mereka suka pada sesuatu hal. Satu orang berkata, dia suka sepak bola karena bermain bola itu menyenangkan. Yang lainnya berkata, main bola itu menyehatkan. Yang lainnya lagi memberikan alasan, main bola menambah teman. Semua anak laki-laki di kelas suka main bola karena ingin menjadi pemain Persib. Kenapa? Agar punya banyak uang dan bisa jalan-jalan atau agar bisa masuk TV. Anak gadis yang suka menyulam berkata, dia menyulam karena ingin bisa menyulam pakaian dan mukenanya sendiri. Yang suka menyanyi ingin menjadi penyanyi terkenal. Yang suka berenang ingin menjadi guru berenang. Ada juga yang senang membaca. Dia suka karena membaca bisa menambah wawasan.

Semua itu saya tuliskan di papan tulis dalam bentuk kata-kata saja, bukan kalimat. Kemudian saya minta mereka membuat kalimat berdasarkan kata-kata yang dituliskan di papan tulis (sesuai dengan hobby mereka masing-masing). Itulah yang dimaksud latar belakang dalam suatu teks. Hasilnya? Beberapa anak perempuan membuatnya dengan bagus. Beberapa anak lelaki kehabisan ide dan hanya berhasil membuat dua kalimat, lainnya bisa sampai 4 kalimat. Tidak apa.

Kemudian kami beranjak ke tahap selanjutnya. Kira-kira apa yang harus dilakukan agar mereka bisa mencapai apa yang mereka inginkan? Adakah hambatan dan kesulitan yang mereka temui? Metode pengumpulan ide saya terapkan lagi. Hasilnya bermacam-macam. Namun, mereka tahu mereka harus apa. Harus berlatih. Harus ikut klub sepak bola. Harus belajar lebih keras. Harus banyak membaca buku. Kesulitan yang muncul utamanya adalah kesulitan keuangan. Kurangnya buku. Tidak punya kaset jika ingin mendengarkan lagu. Mahalnya harga benang. Tidak bisa sering berlatih berenang. Tidak punya sepatu sepak bola. Tidak ada lapangan sepak bola. Kemudian mereka kembali saya minta menuliskannya dalam kalimat lengkap. Itulah isi dari suatu teks.

Pertanyaan panduan terakhir adalah apakah mereka memiliki usul atau ide untuk mengatasi masalah dan kesulitan itu? Ya. Harus mencari uang lebih? Caranya: jadi pengamen, jadi pemulung, membantu orang tua berdagang. Dengan demikian mereka akan mendapatkan uangnya dan uangnya bisa mereka tabung untuk membeli sepatu sepak bola atau benang sulam atau baju berenang. Itulah kesimpulan dari suatu teks. Mereka senang ketika saya berkeliling memeriksa pekerjaan mereka. Mereka senang ketika mereka sadar bahwa mereka sudah menghasilkan satu teks utuh dengan latar belakang, isi dan kesimpulan.

Sesederhana itu? Tidak. Setengah jam pertama saya berhasil menahan konsentrasi mereka untuk tetap duduk. Sisanya, ada yang berjalan-jalan, ada yang ngobrol dengan temannya. Ada yang lari ke belakang, ada juga yang datang terlambat. Sesederhana itu jugakah saya mengumpulkan ide-ide dari mereka? Tidak. Satu ide dari satu anak bisa menjadi satu menit perbincangan. Kebetulan, saya suka menonton sepak bola juga dan saya memang mengikuti perkembangan sepak bola di tanah air terutama di Bandung. Anak lelaki terlihat senang ketika saya tahu bahwa Persib kalah, bahwa saya juga tahu nama-nama pemainnya. Bahkan ada yang bertanya bagaiman caranya agar dia bisa ikut klub Persib Junior. Berapa biayanya, dan sebagainya. Kebetulan juga saya berbahasa ibu Bahasa Sunda, sehingga komentar dan pertanyaan mereka dalam Bahasa Sunda bisa saya mengerti. Namun, saya selalu berusaha meminta mereka menerangkannya kembali ke dalam Bahasa Indonesia, mengingat jam itu adalah jam mata pelajaran Bahasa Indonesia.

Sesederhana itu jugakah? Tidak. Selama 1,5 jam saya harus menahan air mata saya agar tidak jatuh mendengar dan membaca keinginan mereka. Keinginan mereka begitu sederhana. Anak-anak lelaki itu ingin menjadi pemain bola agar bisa mendapat uang. Agar mereka bisa bermain bola dengan sepatu bola, karena selama ini mereka bermain bola bertelanjang kaki dan kaki mereka bengkak karenanya. Seorang gadis ingin menjadi guru berenang agar dia tidak dihina orang lagi. Si penyuka menyulam hanya ingin membuat mukenanya lebih indah. Si penyuka R n B ingin bisa membeli kaset sendiri, karena selama ini dia harus pinjam dari temannya, sementara tape recorder di rumahnya sering macet karena kotor dan harus sering dia bersihkan. Si pembaca buku hanya ingin bisa membeli buku sendiri. Si penyuka menyanyi juga hanya ingin mendapat uang dengan suaranya.

Sesederhana itu? Ya. Sesederhana itu mereka membuat suara saya beberapa kali tercekat. Sesederhana itu pula mereka membuat saya merasa apa yang sudah saya dapat, saya lakukan dan saya kejar tidak banyak artinya lagi. Mereka tidak ingin banyak hal. Pilihan yang ada di depan mereka adalah ada uang – tidak ada uang. Untuk apa mereka bersekolah? Sejatinya adalah untuk memberikan mereka pilihan lain dari ”sekedar” ada uang – tidak ada uang. Memberikan mereka pilihan bahwa ada banyak cabang jalan dalam hidup.

Sesederhana itu? Seandainya ya. Namun, tetap saja tidak. Saya hanya tiba-tiba merasa begitu tak berarti di depan sosok-sosok yang menyimpan keinginan besar tersebut. Tersadarkan bahwa saya sudah lama berada di ”menara gading” yang disebut ilmu, pengetahuan, universitas, yang akhirnya malah membuat saya terasing dari kenyataan hidup yang sebenarnya pernah saya alami sendiri. Saya hampir lupa rasanya ketika saya harus mengalihkan seluruh isi buku teman saya tentang alam semesta dengan cara menulis dan menggambar ulang. Saya hampir lupa rasanya menabung untuk membeli baju dan sepatu atau sekedar pernak pernik hiasan sekolah. Saya hampir lupa rasanya ketika saya pun harus sering membersihkan tape recorder agar bisa mendengarkan kaset yang juga saya pinjam dari teman-teman saya. Saya hampir lupa itu semua.

Saya merasa begitu asing berhadapan dengan mereka. Sudah lama saya tidak bersentuhan langsung dengan realitas dan pilihan yang dulu juga pernah saya akrabi. Ternyata sudah selama ini saya berada di ”awang-awang”. Dan saya begitu bersyukur karena orang tua saya membawa saya dan adik-adik pada pilihan hidup yang lain. Keluar dari pilihan uang – tidak ada uang. Terutama dengan membuka pilihan jalan yang menuju pada satu titik yang sama: menjadi diri sendiri.

Saya menyimpan harapan yang besar pada anak-anak tersebut. Saya bersyukur diingatkan oleh mereka. Namun, tetap tidak mudah untuk saya menerima kenyataan saat berjalan pulang dari sekolah tersebut menuju suatu tempat: kantor PR IV bidang kerjasama luar negeri untuk mengambil berkas pengajuan beasiswa studi lanjut kembali. Apakah masih ada gunanya lagi? Sementara saat ini pun saya masih gelisah menghadapi hari Kamis. Bertemu dengan mereka. Bertemu dengan kenyataan hidup senyata-nyatanya.

Advertisements