Quizas

Siempre que te pregunto
que
como, cuando y donde
tu siempre me respondes

Quizas, Quizas, Quizas

Y asi pasan los dias
y yo desesperado,y Tu,Tu contestando

Quizas,Quizas,Quizas,

Estas perdiendo el tiempo, pensando, pensando
Por lo que mas Tu quieras
hasta cuando, hasta cuando
Y asi pasan los dias, y yo desesperado
y Tu,Tu contestando

Quizas, Quizas, Quizas.

Skeptisisme dan Beberapa Kerabatnya

Judul di atas tidak seprovokatif judul yang tertera di brosur: „Skeptisisme/Nihilisme/Fatalisme/Atheisme“. Dan Pak Bambang Sugiharto menyajikan kuliah pembuka Extension Course Filsafat dan Budaya di Unpar ini dengan sangat sangat menarik. Khas Pak Bambang. Kalimatnya runut dan mudah dimengerti, dengan selera humor yang juga tinggi. Lihat saja di brosur „Ucapan Selamat Datang“, Karl Jaspers dan Nietzsche pun disandingkan dengan Tukul Arwana. „Berfilsafat adalah juga proses „kristalisasi keringat…“, kata Tukul. Tak kalah „dalam“ dengan filsafatnya Nietzsche dan Jaspers, kan? Belum lagi contoh-contoh yang membuat kami tertawa sekaligus merenung: „Orang-orang Barat itu ngga ada kerjaan, bikin teori dan berfilsafat rumit-rumit, padahal mereka sendiri sebenarnya kebingungan“ atau „Bagaimana kalau kita menduduki semut dan semut kemudian berkomentar: Manusia ini kejam sekali ya. Padahal kita kan ngga sengaja menduduki semut. Nah, sekarang gimana kalau kita lihat bencana juga jangan dari sudut pandang manusia saja, tapi mungkin dari sudut pandang alam. Cuma ingin nguliat aja kok gunungnya. Apalagi kalau kita mau lihat dari sudut pandang Tuhan. Bisa ngga? Ngga kan? Rumit. Makanya Tuhan ngga usah dituduh macem-macem deh. Manusia ini memang suka sok tahu.“

Jadi, bahasan tentang skeptisisme dkk di kuliah semalam itu bagaimana? Seru! Diskusinya juga seru. Kuliah sampai diperpanjang 30 menit saking serunya diskusi. Yang jelas, saya yakin, setelah keluar dari ruangan yang penuh (bahkan sampai ada yang duduk di luar), orang-orang jadi terdekonstruksi pikirannya. Mungkin semuanya jadi skeptis sekaligus pragmatis yang nihilis dan fatalis juga dogmatis yang atheis :) Komplex deh judulnya, sesuai dengan tema kompleksitas yang sejatinya milik manusia. Syampai syuka pusying syaking kompleksnya, tapi juga bersyukur jadi manusia karena kompleksitasnya.

Kuliah Pak Bambang semalam saya rasa menjadi pengantar sekaligus merangkum semua sesi pertemuan yang masih akan berlanjut 12 kali lagi. Saya bersetuju dengan pendapatnya bahwa hidup ini adalah tumbuh. Jika secara jasmani kita tumbuh, kenapa tidak secara spiritual. Tumbuh membesar dan memupuk diri dengan hal-hal yang masih amat sangat banyak untuk dicari. Hidup ini indah kok. Sangat indah dengan kerumitan dan kemudahannya :)

Mengutip Gadamer bahwa bermain adalah tindakan manusia yang paling serius, hidup sepertinya memang penuh dengan permainan (kayak lagunya siapa ya?! Hehe) dan permainan yang paling serius itu adalah ritual keagamaan. Sayangnya saya kok yakin bahwa tidak ada yang serius di dunia ini selain Tuhan. Tidak ada permainan yang serius selain permainan untuk dan menuju Tuhan. Tuhan sudah menyediakan permainan itu, masa kita sia-siakan. Bukankah menyenangkan disediakan mainan ?! :)

Dan, bahasan minggu depan: Romantisisme/Naturalisme/Intuisionisme. Fabianus Heatubun yang akan memberikan kuliahnya.

Mak Ebah

Dering telefon jam 23 semalam, mengingatkan saya pada sosok tua berwajah bening dan teduh. Sosoknya kecil dan tubuhnya beberapa tahun terakhir ini semakin membungkuk. Hampir menyentuh tanah, kata ibu saya. Sudah tak bisa apa-apa lagi, kata bapak saya.

Terbungkuk-bungkuk berjalan pelahan beliau kunjungi rumah kami setiap hari Minggu pagi. Saat kami masih jadi tetangganya di Gatot Subroto, bahkan saat kami sudah pindah ke Lengkong, beliau masih setia mengunjungi kami. Dengan begitu tubuh bungkuknya sering saya temui berjalan pelahan menuju tempat pemberhentian angkot. Kami pernah memintanya untuk tidak datang lagi, khawatir dengan kesehatannya dan kondisi tubuhnya yang merenta. Beliau tidak pernah mau, „Melang ka Bapa“, katanya. Khawatir pada Bapak saya. Ya, karena Bapak saya beliau setia mengunjungi kami. Bapak saya sudah menjadi „anaknya“.

Perempuan tua itu guru mengaji kami. Tidak dari awal mengajar kami, karena kami sudah bisa. Namun, biasalah, kami semua pemalas. Saya dan adik-adik saya suka mencari-cari alasan untuk memperlambat atau kabur tidak mau mengaji. Pura-pura tidur lah, asyik nonton TV lah, bertemu teman lah, semua kami jadikan alasan. Kalau tak ada alasan lagi, kami mengaji dengan bacaan yang dilambat-lambatkan dengan nada mengantuk dan malas, tentu sambil menguap pula. Namun, beliau tetap dengan sabar duduk di sebelah kami, dengan tubuh membungkuk memperhatikan apakah bacaan dan tajwid kami sudah benar.

Itu dulu ketika kami kecil. Kami beranjak dewasa, lain lagi alasannya. Sibuk dengan urusan kampus dan pekerjaan. Namun, beliau masih dengan setia duduk setiap Minggu pagi di sebelah kami, jika kami ada di rumah. Kali ini kami mengaji dengan cepat-cepat. Jika kami tak mendengar komentarnya atau kami tak dihentikan walaupun sudah berlembar-lembar membaca, kami tahu, beliau pasti tertidur dengan kepala tertunduk. Biasanya kami bangunkan dengan suara pelan. Ya, beliau memang sudah semakin tua. Namun, beliau masih bersetia datang setiap Minggu pagi.

Beberapa tahun lalu kondisinya sudah tidak memungkinkan untuk beliau datang. Jika bukan Bapak saya yang memintanya untuk tak datang lagi dan meminta beliau untuk tak mengkhawatirkannya lagi, mungkin beliau masih akan terus datang. Terakhir kali saya bertemu ketika saya „mudik“ tahun 2004 lalu. „Neng Dian ka Jerman teh siga jalan ka cai“, katanya, karena saya hanya enam minggu di Bandung untuk kemudian kembali lagi ke Jerman. Pandangan matanya begitu teduh dan memandang bangga pada saya.

Dua tahun lalu saya merasa begitu berterima kasih padanya. Pada semua yang sudah diberikannya kepada kami, saya terutama. Pada waktu itu Nina meminta saya mengajarinya membaca Al Quran. Suatu kehormatan untuk saya. Dan saya teringat pada beliau. Pada sosok membungkuk di samping saya. Membimbing saya membaca kalam suci tuntunan hidup. Saat itu Nina meminta saya. Saya di sampingnya, juga membungkukkan tubuh. Juga mengantuk saat Nina sudah lancar membaca. Saya jadi tahu rasanya. Tiba-tiba saja saya merindukannya. Saya sampaikan salam untuknya yang sudah tidak bisa apapun lewat orang tua saya.

Dering telefon jam 23 semalam merangkum lagi semua kenangan. Beliau memenuhi panggilan Sang Maha Sayang yang selalu beliau rindukan. Mata teduhnya terpejam tenang, wajahnya bersih. Tubuhnya lurus terbaring. Tak bungkuk lagi. „Wilujeng angkat, Mak“.

Kafka

„Menschen werden schlecht und schuldig, weil sie reden und handeln, ohne die Folgen ihrer Worte und Taten vorauszusehen.“ (Kafka)

Saya jadi teringat Kafka. Bukan karena cerpen ”Heimkehr”-nya saya jadikan salah satu bahan untuk mata kuliah penerjemahan. Hanya, tiba-tiba saja saya jadi teringat Kafka. Bukan pula karena ”Der Prozess”-nya sedemikian gelap. Saya hanya tiba-tiba teringat pada suatu lepas tengah hari di awal Mei. Gerimis. Tidak terlalu dingin. Saya baru saja turun dari Pražský Hrad kemudian menyusuri Karlův most yang dibangun tahun 1357 dan masuk ke lorong-lorong tua dengan jalanan berbatu kali di kota Praha. Tujuan saya: Námèsti Franze Kafky 1. Rumah Kafka yang dijadikan museum. Berdasarkan peta, letaknya tak jauh dari Staromìstské Námìstí yang jadi alun-alun tua kota Praha dan Josefov –Jüdisches Viertel-.

Kafka

Saya sampai di Námèsti Franze Kafky. Jalannya tak terlalu besar. Gedung-gedung tua khas Praha di sekelilingnya. Gerimis turun tapi tak mengganggu. Berulang kali saya melihat peta yang saya bawa plus catatan tambahan dari Michaela. Di mana rumah itu? Tak ada tanda-tanda sama sekali. Saya yakin saya ada di tempat yang benar. Saya berkeliling sebentar, melihat-lihat. Belum mau bertanya. Saya membayangkan ada papan nama atau apapun yang menunjukkan rumah salah seorang pengarang besar bernama Kafka. Namun, tak ada apapun. Saya hanya melihat Mc.Donald. Saya masih tidak mau bertanya.

Perut saya sudah menuntut untuk diisi. Mampir ke Mc.Donald sebentar. Duduk menghadap ke jendela luar. Masih tetap dengan mata yang mencari. Tak ada yang saya maksud. Selesai, keluar. Saya hampir menyerah, tapi tetap tak mau bertanya, walaupun dengan Bahasa Jerman yang sebenarnya bisa „menyelamatkan“ saya di Praha. Saya masih ingin mencoba sekali lagi mencari rumah itu. Saya melangkah dan melihat ke atas salah satu gedung di belokan dengan papan nama: Námèsti Franze Kafky dan hey! di dinding terpasang patung kepala seorang laki-laki berwajah tirus: Franze Kafky alias Franz Kafka. Ah, sebelumnya saya kan sudah melewati rumah itu beberapa kali, kenapa bisa tidak terlihat?

Bergegas masuklah saya ke rumah yang sekarang ini dijadikan Museum Franz Kafka. Rumah itu tidak terlalu besar dan hanya lantai dasar yang dijadikan tempat untuk memamerkan potret ”kehidupan” Kafka. Warna hitam, putih, kelabu mendominasi ruangan. Kesan yang saya dapat di ruangan itu pun demikian. Gloomy. Apakah memang hidup Kafka sudah sedemikian ”kelabu”nya hingga kesan yang saya dapatkan pun demikian? Apakah Kafka memang sedemikian ”kesepian”nya, hingga dinginnya ruangan itu pun begitu terasa? Apakah Kafka memang sedemikian ”tak nampak” bahkan patung dirinya pun terlewat begitu saja?

Dan hari ini tiba-tiba saja saya teringat lagi pada Kafka. Pada sosok kurus dengan wajah tirus. Pada sosok yang selalu merasa sendiri dan merasa tak pernah dimengerti oleh orang lain. Pada sosok yang menuliskan kalimat di atas: manusia menjadi sosok yang buruk dan bersalah, karena mereka bicara dan bertindak tanpa memikirkan dan melihat akibat yang akan muncul dari kata-kata dan perbuatannya.


Djokdja #2

Borobudur adalah tujuan saya pagi itu. Sengaja saya berangkat pagi-pagi sekali, karena takut hujan turun menjelang siang dan saya tidak ingin bertemu terlalu banyak orang di sana. Langit mendung sejak pagi. Jalanan di hari Sabtu pagi itu pun sepi, tapi saya tetap bersemangat pergi. Di kejauhan, Merapi tampak mengepulkan asapnya.

Borobudur memang sepi, walaupun sudah dibuka sejak jam 6 pagi. Hanya tampak beberapa mobil terparkir. Udara cukup sejuk karena mendung dan angin semilir yang lembut membelai diri. Sebentar saya tatap dari kejauhan bangunan yang menurut saya kok seperti mengecil. Ah, saya memang suka berpikiran aneh-aneh, mana mungkin Borobudur mengecil. Saya yang tumbuh, walaupun tak banyak pula rasanya.

Saya naiki satu per satu tangga batu yang masih juga membuat kagum. Saya kelilingi walaupun relief-reliefnya tak saya perhatikan sedetil dulu. Menuju ke atas, mengambil beberapa gambar, memandang kehijauan nan luas dari puncak candi. Pagi yang indah dan Borobudur juga tetap indah, semakin terasa karena mungkin saat itu masih sepi. Saya bisa sepuasnya menikmati keindahan itu. Setelah puas, saya turun, dan saya kok semakin merasa yakin bahwa Borobudur mengecil. Keyakinan yang dipaksakan.

Pintu keluar kompleks Candi Borobudur dibuat sedemikian rupa berbentuk labirin yang kiri kanannya adalah kios para pedagang souvenir. Tak ramai, tak banyak yang ditawarkan dan tak ada yang ingin saya beli. Orang Jogja masih kreatif, orang Jogja masih ulet, orang Jogja masih ramah, tetapi orang Jogja memang harus bertahan hidup. Pemandangan yang ada adalah banyaknya pengemis yang ada dalam sejengkalan jarak. Itu yang berubah dari Jogja, atau mungkin tidak juga.

Dari Borobudur saya melanjutkan perjalanan ke Prambanan. Hujan gerimis saat saya tiba di sana. Suasana sepi semakin terasa. Kompleks candi ditutup untuk umum karena kerusakan yang parah saat gempa. Pengunjung hanya bisa melihat dari batas aman yang ditentukan, mengingat kondisi candi yang rawan runtuh. Runtuhan batu-batu candi masih dibiarkan bergeletakan seperti awal jatuhnya. Ada rasa miris melihatnya. Sudah hampir setahun sejak gempa, dan sudah hampir 4 tahun ketika terakhir kali saya mengunjungi Prambanan. Namun, jika Sang Penguasa Alam sudah berkehendak, apapun terjadilah.

Tak lama saya di sana, saya lanjutkan perjalanan ke Kota Gede, bagian tua Kota Jogja, jaman Mataram Kuno. Tak banyak pula yang bisa saya lihat di sana, karena jalan kecil dengan toko-toko perak bergaya bangunan khas Kota Gede ditutup karena ada yang meninggal. Tak apa. Setelah beristirahat sebentar untuk shalat dan makan, saya lanjutkan lagi perjalanan saya. Kembali ke kota. Tujuan kali ini tidak termasuk Kraton, saya ke daerah K.S. Tubun. Apalagi kalau bukan Bakpia yang menjadi incaran. Ini makanan kesukaan saya dan keluarga. Menuju toko langganan, setelah itu saya kembali ke Malioboro. Saya masih senang menyusuri jalan itu. Setelah puas, saya kembali ke Cik di Tiro dengan becak.

Cukup melelahkan hari itu.Bayangan mandi air panas sudah memenuhi kepala saya. Tak terasa keesokan harinya saya sudah harus kembali lagi ke Bandung. Masih ingin tinggal sebenarnya. Namun, hidup harus dimulai lagi. Malam harinya saya sempatkan diri berjalan-jalan di sekitar Cik di Tiro dan UGM. Menikmati Sabtu malam yang sedikit terasa ramai.

Bangun pagi badan tak terasa segar. Sedikit demam dan mual. Enggan juga beranjak dari tempat tidur dan selimut yang hangat. Dipaksakan karena memang harus pulang. Dan sepanjang jalan menuju Bandung, saya tak lagi emotionally collaps, melainkan physically collaps. Seperti biasa, saya suka overestimate dengan kondisi tubuh saya. Rasanya saya hanya mimpi sudah ada di kota yang menjadi setengah bagian diri saya. Perjalanan panjang dan saya sudah ada di Bandung lagi. Di rumah saya juga. Jogja membantu memulihkan kondisi psikis, tetapi fisik saya ternyata ikut berontak. Bandung akan membantu memulihkannya. Saya akan kembali bertemu mahasiswa-mahasiswa saya, kembali mengajar, kembali bertemu dengan manusia-manusia dengan dunia yang berbeda-beda. Satu manusia adalah satu dunia. Dan saya akan bertemu „banyak dunia“. Betapa saya adalah orang yang beruntung.

Djokdja #1

Setelah dua minggu terkena „emotionally collaps“, Jogja tetap menjadi pilihan menarik untuk sekedar menenangkan diri sejenak. Untuk kesekian kalinya, jadilah akhir pekan kemarin saya berangkat ke sana. Ke bagian diri yang pernah saya tolak habis-habisan. Namun, diri adalah diri. Tak bisa saya lepaskan satu dari yang lain. Dan Jogja memang tak pernah membiarkan saya lepas darinya.

Jadi saya tiba di Jogja. Lepas tengah hari setelah hujan reda. Perjalanan cukup panjang tak bisa membiarkan saya lelah. Bagaimana mungkin saya lelah, jika sepanjang jalan mata saya dimanjakan oleh gunung dan hamparan sawah, sungai dan langit yang cerah. Ada rasa yang melonjak-lonjak saat memasuki kota yang terakhir kali saya kunjungi 3,5 tahun lalu. Dua minggu sebelum keberangkatan saya ke Bayreuth, saya merasa „harus berpamitan“ pada kota ini.

Saya ada di Jogja lagi. Tidak menuju Malioboro seperti dulu-dulu, tetapi menuju Jl. Cik di Tiro ke arah UGM. Saya ingin mencoba suasana lain. Dan pilihan saya tepat. Penginapan yang dipilih cocok benar dengan suasana hati saya saat itu. Sebuah rumah bergaya Belanda, dengan halaman luas dan teras yang sudah dibangun ulang menjadi resepsionis. Bukan resepsionis yang kaku. Hanya meja rendah menyudut dengan satu komputer. Di halaman ada kursi-kursi kayu yang nyaman dengan taman yang asri. Di dekat pintu masuk ada satu meja consolle dengan dua foto keluarga, satu buku tamu dan satu setrika arang model lama (dulu nenek saya menggunakannya). Di bawahnya ada hiasan bebek-bebek dari kayu. Di teras samping ada empat kursi rotan yang mirip dengan kursi rotan di rumah nenek saya (sampai sekarang pun kursi itu masih ada). Selain itu juga ada dua kursi kayu di sana.

Diterima dengan ramah, saya kemudian diantar ke lantai atas menuju kamar saya. Saya masuk rumah, bukan penginapan. Diiringi suara gending lamat-lamat, saya masuk ke ruang tamu dan ruang makan yang sangat cozy, dengan nuansa Jawa yang kuat. Foto-foto keluarga si pemilik penginapan berpadu harmonis dengan foto-foto Borobudur, Prambanan, Tugu, Kraton, Tamansari dan Malioboro, juga dengan beberapa lukisan tua. Tidak membuat kesan penuh, malah artistik. Kursi-kursi dan meja-meja kayu bernuansa coklat tua mendominasi ruangan berjendela besar bentuk oval. Saya naik dan terperangah senang menghadapi ruangan di hadapan mata saya.

Lantai atas adalah ruang terbuka yang hanya dibatasi oleh satu tiang kayu penyangga dan dua sofa empuk bergaya Belanda. Satu set berwarna krem dan satu set berwarna coklat tua. Nuansa coklat dan krem memang tampak di mana-mana. Langit-langit rumah yang tinggi membuat ruangan semakin terasa nyaman. Di dinding menghadap tangga ada satu bufet rendah yang dijadikan tempat buku. Ya, buku! Bufet itu penuh oleh buku-buku. Tak terlalu memedulikan pengantar saya, saya segera menuju bufet itu dan melihat-lihat koleksi buku di sana. Beberapa set ensiklopedi tua jaman Belanda, buku-buku roman terbitan Balai Pustaka, komik pewayangan R.A. Kosasih, Senopati Pamungkas, dan banyak lagi. Not bad. Saya sudah bisa membayangkan betapa asyiknya membaca buku di ruang yang nyaman, duduk di sofa yang empuk di sudut dengan lampu baca sambil menikmati Jogja yang saat itu mulai hujan lagi.

Namun, saya harus masuk kamar. Kamar yang juga nyaman. Dachboden. Nuansa coklat dan krem masih terasa. Nyaman. Fasilitas lengkap, kamar mandi pun bersih. Rasanya saya ingin segera membersihkan badan dan meluruskan tubuh sejenak sebelum mulai „menyapa“ Jogja.

Tujuan saya malam itu adalah Malioboro. Jalan yang selalu saya sukai. Entah kenapa. Seperti biasa saya susuri Malioboro dari arah Stasiun Tugu menuju Kraton. Ada yang berbeda. Malioboro terasa sepi. Sepi karena jalan tak macet dan tak banyak orang lalu lalang, dan sepi yang „sepi“. Saya pikir mungkin karena hari Jumat, tapi rasanya tidak juga. Jogja tak pernah „sepi“ -menurut saya-. Saat itu tidak. Mungkin ada ekses dari gempa 27 Mei 2006 lalu, kemudian angin puting beliung yang menimpa Jogja beberapa minggu sebelumnya, atau mungkin karena Jogja sekarang sudah menjadi „kota“. Saya tidak tahu. Saya hanya merasakan Malioboro yang berbeda dengan Malioboro yang memikat hati saya 14 tahun lalu. Malioboro yang sama yang masih memikat saya 5 tahun lalu. Saat saya bisa dengan nyamannya duduk dan berbincang dengan para pedagang atau sekedar orang yang lewat di sana. Malioboro sedikit berubah 4 tahun lalu. Perubahan yang cepat. Dan Malioboro kemarin adalah kota yang „sepi“.

Bagaimanapun Malioboro tetap Malioboro. Masih ada sisa-sisa keramaian dengan keramahan yang masih terasa walaupun samar. Masih terlihat sedikit geliatnya, walaupun sudah melemah seiring dengan banyaknya pengemis -tua dan muda, lelaki dan perempuan- hanya setiap selang beberapa langkah. Malioboro masih berusaha ceria dengan pengamen jalanannya, walaupun tanpa pesona yang khas.

Saya makan malam di sana. Lesehan. Menikmati sedikit malam dan sisa-sisa Malioboro yang masih bisa saya rasakan. Tidak terlalu kecewa, karena saya tidak sedang ingin bermelankoli dengan masa lalu. Hidup itu dinamis dan punya banyak sisi. Jika saya bisa menikmati Jogja yang dulu, mengapa tidak pula kini?

Saya kembali ke Cik di Tiro. Hangatnya air yang mengguyur badan saya langsung menyerap dan terasa sampai ke seluruh tubuh dan jiwa saya. Seluruh penat seolah terbasuh. Dan itu terasa saat saya bangun keesokan harinya saat adzan shubuh. Saya hanya merasa begitu segar dan bahagia. Rasanya saya ingin melompat-lompat. Dan itu saya lakukan.

Sarapan pagi Nasi Gurih disediakan. Ditambah berita: hari Jumat siang, angin puting beliung melewati Jogja lagi. Berhenti tak lama sebelum kedatangan saya. Pantaslah saya merasakan „keheningan“ dan „sepi“ serta bekas hujan yang „aneh“. Ada korban, katanya (dan begitu juga yang termuat di koran lokal). Siapa? Ayam-ayam yang kandangnya berantakan diterjang angin. Ayam-ayam itu mati. Mau tak mau saya tersenyum juga. Bahkan dalam musibah pun, kita memang masih harus bisa tersenyum.

Bersambung.