Pada Malam Itu

Dan aku tiba-tiba rindu pada malam itu. Malam saat pepohonan tidur diselimuti salju putih dingin yang turun berebutan menyentuh dan menyelimuti bumi. Malam saat angin berdesir menusuk tulang membekukan kulit. Malam saat langit kelabu kelam. Malam saat hening mendekap mata dan telinga. Malam saat sisa langkah meninggalkan jejak di salju yang menebal. Malam saat kehangatan kemudian pelahan menyelusup jiwa dan raga. Malam saat hening tak lagi sunyi. Malam saat salju merundukkan daun cemara. Aku yang berdiri di tengah alam raya memutih. Merasakan kehangatan dari salju yang berebutan menyentuh tanah. Tak ada dingin, hanya hangat. Dan aku tunduk bersama seisi jagat: pada-Nya.

Dan aku rindu pada malam yang menjanjikan cahaya terang surga. Pada malam saat air mata dan dosa-dosa diseka.

Bahasa, Sastra, Budaya, dan Identitas Diri

Identitas diri yang mana? Apa kaitannya dengan bahasa, sastra, dan budaya? Apakah ada pengaruh bahasa, sastra, dan budaya terhadap ”penciptaan” identitas diri? Apakah identitas yang dimaksud adalah yang tercantum dalam formulir-formulir saat harus dituliskan: bahasa ibu, nasionalitas/suku bangsa? Terus terang jika ”hanya” itu saya bingung menjawabnya, karena saya berbahasa ibu bahasa Sunda (Sunda yang mana?) dan bahasa Indonesia (Indonesia yang mana?), plus bahasa Jerman yang sudah ”merasuki” alam bawah sadar pikiran dan perasaan saya. Bahasa Jerman jadi bahasa ibu? Sok betul. Saya bukan orang Jerman, saya orang Indonesia dengan separuh darah Sunda dan Jawa Tengah. Jadi, apa hubungannya? Saya orang Indonesia yang ”pernah” cukup intens menggemari sastra dan budaya Sunda, menolak berbahasa Jawa tetapi ”pernah” cukup gemulai menari Jawa, kemudian belajar bahasa Inggris dan lebih intensif lagi belajar dan mengajar bahasa, sastra dan budaya Jerman. Pernah hidup cukup lama di ruang dan waktu sebuah tanah orang-orang Teutsch. Saya adalah orang Indonesia yang beruntung bisa menelusuri Zeitgeist dan elan vital orang-orang dan pemikir-pemikir dari sumber dan bahasa pertamanya. Merasakan Stimmung pemikiran dan semangat mereka secara langsung. Bekerja di lingkungan yang Sunda, tetapi mengajarkan bahasa bukan Sunda, melainkan bahasa milik orang-orang Teutsch tadi. Menaruh minat besar pada linguistik, namun tak bisa melepaskan diri dari sastra. Dan saya adalah orang Islam, dengan segala kekurangannya. Islam yang setengah Sunda, setengah Jawa, Indonesia, yang berbahasa Arab pasif saja, bersentuhan dengan ”Barat” tetapi tetap berpikir dan merasa ”Timur” (jika ”Barat” dan ”Timur” diasumsikan ada). Berada di ”Timur”, tetapi tak lepas dari logika ”Barat”. Kalau begitu, identitas yang mana? Rasanya kok kacau balau.

Pertanyaan-pertanyaan di atas mungkin tidak hanya ”menghinggapi” dan menggelisahkan saya. Ternyata saya tidak sendirian, beruntung. Banyak teman yang juga gelisah –terutama di tempat saya bekerja-. Ada banyak sekali hal yang menjadi pemikiran kami saat kami berhadapan dengan situasi kerja, dengan mahasiswa, dan situasi hidup yang rasanya kok begitu ya? Ada yang tidak sreg. Mengapa bahasa, sastra, dan budaya ”terpinggirkan” di era ”katanya” globalisasi ini? Apakah bahasa, sastra, dan budaya ini hanya sebatas aura tak tersentuh? Berjarak dengan tubuh fisikal yang ditempeli identitas seragam, lencana, ijazah, peci, kerudung, jam tangan, baju, dan seterusnya masih panjang lagi. Lalu bagaimana kesejarahan tubuh yang penuh tempelan itu ada? Apakah berjarak juga dengan “sejarah” tubuh itu sendiri? Tubuh yang berbahasa, bersastra, dan berbudaya? Apakah bisa lepas dari itu semua? Mengapa masih ada minderheitwertig, saat harus mengisi kolom: fakultas sastra. Mahasiswa sastra. Terus terang, saya juga dulu merasakan hal yang sama. Fakultas Sastra cuma jadi pilihan kedua, karena saya tidak suka ilmu hukum dan ekonomi. Itu saja alasannya. Ketika pada akhirnya saya selalu jatuh cinta pada bahasa, sastra, dan budaya, itu adalah satu proses panjang yang membuat saya jatuh bangun.

Kegelisahan kami diakomodasi (atau dikerjai atau kami yang memaksa – apapun itu) oleh pimpinan Fakultas, sehingga kami akhirnya bisa mengundang Yudi Latif dari Reform Institute untuk bicara pada kuliah umum kemarin. Tema yang diusung adalah ”Kontribusi Bahasa, Sastra, Budaya terhadap Penciptaan Indentitas Diri”. Menarik sekali mengikuti kuliah di bulan Ramadhan yang penuh cahaya terang ini. Yudi Latif tidak hanya bicara tentang bahasa dan sastra sebagai ”ibu pengetahuan”, tetapi dia pun menyinggung soal sejarah peradaban dan kebangkitan bangsa-bangsa besar di dunia yang berawal dari bahasa dan sastra. Indonesia pun ”pernah” menjadi bangsa yang sangat besar dan penting dalam percaturan bangsa-bangsa dunia, sampai akhirnya budaya materialisme mendominasi kehidupan. Sampai ketika bahasa, sastra, dan budaya disejarahkan. Sampai ketika identitas keberagaman bangsa Indonesia diseragamkan pada beberapa babakan sejarah, dan masih berlangsung sampai sekarang. Tak ada diri dengan kerumitan identitas yang justru membuatnya jadi khas, yang ada hanya orang-orang dengan cara berpikir dan bertindak seragam. Yudi Latif membahasnya dengan lugas dan tajam, pun memberikan solusi-solusi yang bersifat teknis dan praktis ketika ada pertanyaan: apa yang bisa diberikan oleh Fakultas Sastra yang ”abstrak” terhadap peradaban dunia yang semakin bersifat teknis dan pragmatis. Ternyata banyak sekali.

Contoh yang diberikan Yudi Latif adalah pemikir-pemikir besar dunia, termasuk di antaranya Soekarno, Hatta, Syahrir, Tan Malaka. Mereka berbahasa, mereka bersastra, dengan itu mereka menciptakan ”budaya” dan ”alam berpikir” untuk merdeka. Untuk sebuah kemerdekaan dan kebangkitan. Tidak hanya diri mereka, tetapi juga bangsa yang sudah amat sangat lama dijajah oleh ”pikiran” bangsa lain yang lebih kuat bahasa, sastra, dan budayanya. Dan ketika bangsa ini sedikit demi sedikit menghilangkan peran penting bahasa, sastra, dan ”akar” budaya-nya, pelahan tapi pasti bangsa yang sempat besar ini menuju kehancurannya.

Di mana peran Fakultas Sastra -yang sebentar lagi akan berganti nama menjadi Fakultas Ilmu Budaya seperti di universitas-universitas lain di Indonesia? „Idealnya“ di garda depan. Kembali kepada kata. Kepada puisi. Kepada sejarah. Agar tidak jatuh untuk kesekian kalinya. Issue terpenting lainnya adalah kurikulum yang sudah harus -mau tidak mau- diubah. Bukan yang mengikuti pasar dalam arti ikut arus ke mana si pasar itu menderas. Namun, kurikulum yang punya ciri dan identitas yang jelas. Kami mau jadi apa? Kami ingin ke mana? Karena kami adalah universitas. Universal. Bukan multifakultas yang tersebar tak saling kenal dan sapa pada lautan ilmu yang seharusnya jadi samudera yang indah.

Ini tugas kami semua, untuk fakultas dan ilmu yang kami cintai dengan segala carut marut dan tambal sulamnya. Dan ini adalah awal untuk langkah yang masih sangat panjang ke depan.

Tertulis di situ: „Pada mulanya adalah kata!“. Sejenak aku berhenti cemas! Siapa dapat membantuku meneruskannya? Aku menilai kata tak sedemikian tinggi. Betapapun aku harus menerjemahkannya, jika benar aku dibimbing jiwa. Tertulis di situ: Pada mulanya adalah tujuan. Pikirkan benar-benar, karena itulah kalimat pertama, agar penamu tidak terlalu tergesa! Apakah segalanya dipengaruhi dan dicipta oleh tujuan?. Seharusnya tertulis: Pada mulanya adalah kekuasaan! Namun, selagi aku menuliskannya, sesuatu memperingatkanku agar tak berhenti di situ. Ruh itu membantuku! Sekaligus aku mendapat tuntutan untuk menulis dengan lega: Pada mulanya adalah perbuatan! – (Goethe „Faust“, terjemahan Agam Wispi)

Bandung, 110908

Tulisanmenjelangmatahariyangterpaksaterhenti.

Post Scriptum: Kuliah umum berikutnya oleh Remy Sylado, yang akan mengusung tema: ”Kontribusi Bahasa, Sastra, Budaya, dan Identitas Bangsa”.