(Malas) Membaca

Kalau saya pikir-pikir, saya ini sebenarnya malas dan tidak hobby membaca. Dulu mungkin iya, tapi sekarang tidak. Di jaman SD saya rajin membaca komik pewayangan dari R.A. Kosasih, sampai saya hafal betul jalan cerita dan tokoh-tokoh dalam epos Mahabharata dan Ramayana. Saya membaca cerita bergambar dalam majalah Bobo dan Kawanku (saat itu Kawanku masih jadi majalah anak-anak dan isinya pun bagus). Saya juga membaca biografinya Soekarno dan Hatta milik kakek saya. Saya membaca buku serial Malory Towers, Lima Sekawan dan Pasukan Mau Tahu, Trio Detektif, Tintin, Nina, Asterix, Steven Sterk, Smurf, Pippi si Kaos Kaki Panjang dan semua buku-bukunya Astrid Lindgren. Menginjak bangku SMP saya membaca habis semua roman terbitan Balai Pustaka. Dan ketika teman-teman saya keranjingan majalah Hai, Mode, dan Gadis, saya malah sibuk membaca novel-novelnya Mira W dan Marga T serta membaca majalah Femina, Kartini dan Sarinah. Setiap saya membeli buku sejarah, saat itu juga saya langsung membacanya sampai habis.


Semua bacaan saya pun membawa kesan yang mendalam sampai saya sering berimajinasi dan mengidentifikasikan diri dengan tokoh-tokoh bacaan saya. Saya hafal isi dan jalan cerita serta tokoh-tokoh bacaan saya. Saya bisa membayangkan dengan jelas gambar-gambar yang ada dalam bacaan saya. Begitu masuknya saya ke dalam dunia dalam bacaan saya.

Sejak SMA kebiasaan membaca itu justru berhenti. Entah kenapa, tapi rasanya saya tidak lagi menemukan bahan bacaan yang menarik. Tidak berhenti total memang, karena saya masih membaca buku-bukunya Agatha Christie dan buku-buku sejarah serta artikel-artikel lainnya. Hanya saja intensitasnya tidak seperti saat saya SD dan SMP dulu, yang bisa seharian menghabiskan waktu dengan membaca.

Saat kuliah apa lagi. Saya hanya membaca apa yang disuruh oleh dosen saya untuk dibaca. Roman, novel, drama, puisi yang saya baca adalah untuk kepentingan kuliah saja. Itupun seringnya tidak saya mengerti, karena saya membacanya dengan terpaksa. Bahan-bahan referensi lainnya sangat sedikit saya baca. Yang bisa membuat saya bertahan membaca sampai habis adalah “Freud dan Interpretasi Sastra” yang dipinjam dari salah seorang teman saya. Beberapa karya Pramoedya saya baca di masa kuliah, itu pun dipinjam dari teman saya tadi dan diberikan dengan sembunyi-sembunyi dengan dibungkus kertas koran. Mungkin karena saat itu dilarang jadi menambah rasa ingin tahu.

Saya tidak tahu, entah kenapa saya jadi begitu malas membaca dan itu berlangsung sampai sekarang ternyata. Cukup parah. Karena sampai sekarang saya hanya membaca kalau „terpaksa“. Misalnya: saatnya saya „harus“ membaca tentang satu tema untuk kepentingan membuat makalah, saya malah tertarik membaca yang lain. Bentuk penghindaran dari tugas. Atau kalau saya baru membeli buku, biasanya saya baca sebagian (kalau menarik, saya teruskan). Atau saya membaca buku atau artikel karena saya harus mengajar dengan bahan tersebut.

Sekarang ini sangat jarang saya temukan buku yang bisa membuat saya betah bertahan berlama-lama membacanya sampai habis saat itu juga. Sekarang saya lebih memilih membaca kumpulan cerpen daripada membaca satu roman utuh. Saya lebih memilih membaca kumpulan puisi daripada satu novel. Saya lebih memilih membaca artikel singkat dari weblog daripada autobiografi. Mungkin fenomena media yang semakin cepat, ringkas dan banyak pilihan semakin memicu kemalasan saya yang memang sudah dari sananya pemalas. Dan ternyata saya memang benar-benar pemalas.

Sekarang bisa dihitung dengan jari buku-buku yang benar-benar membuat saya bertahan membacanya tanpa jeda (paling lama ada jeda pun hanya dua hari) dan membawa kesan sangat dalam. Di antara yang sedikit itu adalah “Supernova – Pangeran, Putri dan Bintang Jatuh” serta “Supernova – Petir”nya Dewi Lestari, “Toto Chan”-nya Tetsuko Kuroyanagi, semua buku kumpulan cerpen dan artikel „Affair“nya Seno Gumira Ajidarma, „9 dari 10 Kata dalam Bahasa Indonesia adalah asing“nya Remy Sylado (dalam buku ini memakai nama Alif Danya Munsyi), dua buku kumpulan cerpennya Puthut EA, kumpulan puisi „Es ist was es ist“-nya Erich Fried, “Der Kontrabass” dan “Die Geschichte von Herrn Sommer”-nya Patrick Süskind serta satu buku berjudul „Gebrauchsanweisung zum Verlieben“-nya Kirsten Kruck untuk keperluan makalah, tetapi ternyata menarik untuk dibaca sampai habis dalam waktu dua jam saja.

Buku-buku lainnya biasanya saya baca sepotong-sepotong dan secara acak. Ada yang bagian awalnya saja, ada yang tengahnya, ada yang belakangnya saja. Bahkan ada yang daftar isinya saja. Semua koleksi buku dan artikel itu tersusun rapi di rak dan lemari buku saya di Indonesia dan di Jerman dengan jumlah sudah lebih dari seribu buku dan artikel-artikel yang entah berapa banyaknya. Biasanya saya membaca sekilas dua kilas untuk tahu gambaran isinya tentang apa, jadi kalau suatu saat saya perlukan dan sedang berminat membacanya, saya tinggal ambil saja.

Sekarang, buku apa yang saya baca? Saya baru menyelesaikan satu roman dari Uwe Timm “Am Beispiel meines Bruders”, itu pun setelah berbulan-bulan. Lainnya? Belakangan saya memang membaca artikel dan beberapa buku tentang “Erinnerungskultur”, “Kollektives Gedächtnis” dan “How societies remember”, tentang Dresden dan -satu lagi yang saya berhasil selesaikan- adalah kumpulan puisinya Durs Grünbein „Porzellan – Poem vom Untergang meiner Stadt“. Itu juga karena saya harus membuat makalah. Kemarin saya membaca kumpulan zitat, itupun karena bukunya baru datang. Beberapa hari sebelumnya saya membaca dengan acak „Baum Tests“ dari Ursula Avé-Lallemant, buku pesanan teman saya, yang saya baca dulu. Buku ini berisi tentang bagaimana menganalisa dan mengenali karakter, sifat, dan masalah seseorang lewat simbol, gambar dan tulisan tangannya. Sebelum-sebelumnya saya membaca artikel tentang mimik dan analisa percakapan untuk kepentingan tesis saya. Ini biasanya saya lakukan sambil sekaligus menulis. Tidak pernah ada lagi waktu khusus untuk membaca dengan intens.

Jadi, apa yang saya baca sekarang? Saya membaca e-mail, percakapan saat chatting, sms,beberapa weblog serta artikel-artikel di media online. Saya membaca mimik dan gestik. Saya mencoba membaca fenomena sosial yang muncul. Saya mencoba membaca individu. Saya mencoba kembali membaca sejarah. Saya mencoba membaca alam. Saya mencoba membaca diri saya. Saya mencoba membaca hidup.

Itu hobby saya sekarang. Namun, terus terang saya rindu pada hobby membaca saya yang dulu. Membaca yang hanya sekedar membaca tanpa diembel-embeli pikiran dan analisa macam-macam. Parahnya efek ini pun ternyata terjadi juga pada saat saya melihat film, menulis dan bercakap-cakap, bahkan pada saat saya diam.

Ah, saya betul-betul rindu. Rindu pada sekedar membaca, sekedar melihat film, sekedar menulis, sekedar bercakap-cakap dan sekedar diam. Mungkinkah?
Bayreuth, 010306

22:23

Advertisements

4 Gedanken zu „(Malas) Membaca

  1. Pingback: Menyeruput Kopi a la Dee « From This Moment

  2. secara umum semua orang mempunyai hobi masing masing entah itu memancing, golf, dengar musik, semua tergantung ia prefer yang mana aja. semua kan tergantung kebiasaan tiap orang.mungkin waktu yang dihabiskan untuk hal-hal selain membaca terlalu banyak so, kayak udah kehabisan waktu belum capek lagi!. ada temenku yang membaca untuk pengantar tidur, jadi waktu ia gak bisa tidur dibacanya semua jenis buku apa aja asal bisa membuat dia merasa ngantuk. Anehnya apa yang ia baca itu akan cepat terekam dalam memorynya. Karena belum tertutup oleh hal-hal lainnya mungkin.menurutku sih membaca itu hal yang mengasikkan karena sejak kecil aku paling hobi baca. Semua buku kakakku aku baca karena udah kehabisan buku(bukuku sendiri cuman dikit). Semenjak itu aku jadi keranjingan baca, kalo orang nyabu bisa ketagihan sedang aku kena efek juga alias kecanduan baca.pesenku nih buat siapa aja yang gak seneng baca kayaknya rugi deh! dari membaca kita bisa lebih banyak tahu dunia.kalo baca pun aku gak terlalu musingin soal kapan harus selesai?pokoknya dibaca aja semuanya.sepertinya setiap individu punya pilihan sendiri buku apa yang akan dibacanya. Sampai ia merasa bacaan itu memperluas wawasannya dari yang semula tidak tahu menjadi tahu. Inget kata kata I SEE I KNOW,I HEAR I UNDERSTAND, I THINK I LIFE. JUST READ GUY’S!!

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s