Menyeruput Kopi a la Dee


Seperti yang pernah saya tuliskan sebelumnya, kesan dan pendapat seseorang terhadap bacaannya itu sangat subyektif. Untuk saya, bacaan atau buku yang bisa menahan saya berjam-jam membacanya tanpa jeda dan kemudian meninggalkan kesan begitu mendalam adalah bacaan atau buku yang menarik. Untuk orang lain belum tentu. Tidak hanya dalam hal buku, tapi untuk hal lain pun demikian, seperti musik, film atau lukisan bahkan suatu tempat tertentu. Biasanya ada hal-hal yang menarik saya secara fisik dan psikis sehingga akhirnya seperti medan magnet yang membawa saya terus kembali mendengar, melihat, membaca, menghirup dan sebagainya. Kadang saya bisa jelaskan alasannya, seringnya tidak. Namun, itu bukan berarti bahwa bacaan, film, musik, lukisan yang tidak saya „kunjungi“ lagi adalah tidak menarik (mungkin juga memang tidak menarik), bisa jadi itu karena daya tariknya tidak cukup besar untuk menahan saya dan membawa saya kembali. Hanya masalah seberapa besar dan seberapa kecil saja, saya rasa, karena toh saya tetap „melahap“ semuanya.

Kembali ke bacaan yang menarik perhatian saya, salah seorang penulis yang mampu menahan saya lewat tulisan-tulisannya adalah Dewi Lestari dengan nama pena Dee. Sudah tersentuh oleh lirik „Satu Bintang di Langit Kelam“ yang ditulisnya saat dia baru memulai karir menyanyinya, saya kemudian tertawan oleh trilogi Supernova terutama „Ksatria, Putri dan Bintang jatuh“ dan „Petir“, serta yang terakhir adalah kumpulan cerita pendek yang terangkum dalam „Filosofi Kopi“.

Saya seorang linguist, bukan kritikus sastra. Saya menikmati karya sastra lewat bahasanya. Jadi saya tidak terlalu intens melihat dan menilai karya-karya Dewi dari segi yang lain, walaupun saya tahu, bahwa bahasa itu adalah salah satu “kunci” yang bisa jadi pisau bedah analisa suatu karya sastra –tepatnya mungkin untuk menikmati suatu karya-. Mungkin pula kesan saya terhadap tulisan-tulisan Dewi sudah terlalu basi, mengingat sudah banyak orang dan media yang membahasnya, terutama membahas karyanya yang terakhir (“Filosofi Kopi”). Tak apalah, karena saya memang tertinggal 3 tahun, sehingga karyanya itu baru saya baca belakangan hari ini.

Karya-karya Dewi menurut rasa bahasa saya adalah karya yang cerdas dan santun. Di tengah maraknya penulis perempuan yang berbicara cukup vulgar tentang seks dan ketelanjangan, juga di tengah karya “tandingan” yang –sekali lagi menurut kesan saya- jadi memperkuat dikotomi hitam-putih serta benar dan salah, Dewi hadir bukan di antaranya. Menurut saya dia tidak berada di area abu-abu, dia memilih berada di areanya sendiri. Seperti yang tertuang dalam salah satu tulisannya dalam kumpulan tulisan “Filosofi Kopi” berjudul “Salju Gurun” (ditulis 1998). Di tulisan yang sepertinya tulisan “perenungan” dia di buku hariannya, karena terlalu pendek untuk jadi sebuah cerpen apalagi novel, dia mempertanyakan harus menjadi apa di tengah gurun agar tetap bisa terlihat. Tak mungkin menjadi pasir, tidak menjadi kaktus, tidak pula menjadi oase, karena semua itu akan tetap tampak maya di tengah luas dan panasnya gurun. Dia berharap bisa menjadi “salju yang abadi”, karena “embun pagi tak akan kalahkan dinginmu, angin malam akan menggigil ketika melewatimu, oase akan jengah, dan kaktus akan terperangah. Semua butir pasir akan tahu jika kau pergi, atau sekadar bergerak dua inci. Dan setiap senti gurun akan terinspirasi karena kau berani beku dalam neraka, kau berani putih meski sendirian, karena kau…berbeda”.

Menjadi berbeda. Dewi sudah mengangkatnya dalam „Supernova: Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh“. Riset yang dilakukan tentang tema-tema fisika dan metafisika lantas dituangkan pelahan, diramu dengan bahasa yang sederhana namun puitis, akhirnya tercampur sempurna di dalam novelnya. Dia membungkus tema cinta yang tulus, cinta sesama jenis, cinta tak tergapai, juga perselingkuhan, menjadi tidak terasa biasa-biasa, tapi juga tidak bombastis luar biasa. Menurut saya, semua itu karena kemampuan dia meramu tema dengan diksi yang tepat, menjalin alur dengan bahasa yang santun, mengatur konflik dengan letupan-letupan yang asyik. Dewi berbeda, karena saat itu dunia sastra Indonesia baru saja dikejutkan dengan kontroversi Ayu Utami dengan„Saman“ kemudian diikuti oleh „Larung“. Dewi tetap berbeda dengan tema dan gaya bertutur yang diusung dalam „Akar“ kemudian „Petir“ („Petir“ bahkan jelas berbeda dengan dua buku sebelumnya). Saat Dewi meluncurkan keduanya, penulis (prosa) perempuan Indonesia sedang „bangkit“ dengan munculnya (lagi) Fira Basuki, Helvi Tiana Rosa, Djenar Maesa Ayu, Nukila Amal, diikuti Anjar, ada pula Herlinatiens, perkembangan berikutnya adalah karya-karya jenis Chicklit dan Teenlit. Tema-tema yang diusung dari para penulis di atas menurut saya hampir sama, menjadi sangat hitam putih, bahkan cenderung mengekor.

Dewi tetap ajeg. Dia tetap santun dalam berpikir dan berbahasa, tanpa menghilangkan kekritisannya dan kedalamannya berpikir dan mengamati sesuatu. Ya, untuk saya Dewi adalah pengamat. Dia mengamati fenomena-fenomena kecil yang sering terlewat begitu saja, kemudian dipikirkan dengan mendalam dan dituangkan dengan bahasa yang tetap setia pada aturan. Hal ini membuat saya sebagai seorang linguist merasa nyaman membaca karya-karyanya, karena saya tak perlu mengerutkan kening melihat peletakan yang salah dari –misalnya- awalan „di-„ sebagai imbuhan atau sebagai preposisi, atau kesalahan penempatan koma dan penggunaan huruf besar, juga ketidaktepatan proses asimilasi kata. Dewi berusaha tetap berada dalam pakem aturan kebahasaan, karena walaupun sastra adalah media ekspresif pengarang yang cenderung bebas, tetapi –saya pikir- tidak begitu saja bebas nilai, termasuk nilai-nilai kebahasaan. Pengamatan Dewi pada hal-hal kecil, semisal kopi, bisa dilihat dalam cerpen „Filosofi Kopi“nya.

Dalam jagat sastra, hasrat yang mendalam terhadap sesuatu yang membuat si tokoh bisa begitu tergila-gila memang bukan hal yang baru. Membaca passion tokoh Ben terhadap kopi sehingga bisa membedakan dan meramu kopi „terbaik di dunia“ adalah sama dengan passion Grenouille terhadap wewangian dalam „Das Parfüm“nya Patrick Suskind. Walaupun tak sedalam dan sedetil Suskind dalam bertutur, saya tetap bisa „menghirup“ aroma kopi yang wangi dalam tuturan Dewi lewat deskripsi serta percakapan tokoh-tokohnya. Bukan kopi yang kental memang, tetapi cukuplah untuk bisa sedikit turut menikmati hasrat tokoh Ben terhadap kopi. Kopi yang sarat dengan filosofinya, yang tidak diceritakan detil tetapi cukup menarik. Saya rasa wajar saja, karena cerita ini hanya berbentuk cerpen bukan novel seperti „Das Parfüm“nya Suskind.

Cerpen „Mencari Herman“ yang ditulis dengan ringan juga cukup menarik. Mengisahkan tentang Hera yang terobsesi pada lelaki bernama Herman yang terus dicari sampai mati. Ide cinta tak tergapai dibungkus sedemikian rupa lewat obsesi terhadap nama Herman. Tulisan (saya tidak bisa menyebutnya cerpen) berjudul „Surat Yang Tak Pernah Sampai“ juga cenderung berupa perenungan yang dicatat dalam buku harian, karena rasa bahasanya begitu terasa akrab dengan blog-blog yang menjamur tahun-tahun belakangan ini. Judul-judul lainnya juga menarik untuk dibaca, seperti „Rico de Coro“, „Sikat Gigi“, „Selagi Kau Lelap“, „Lilin Merah“ dan sepuluh tulisan lainnya.

Tak ada sesuatu yang sempurna, begitu juga tulisan-tulisan Dewi. Jika sampai sekarang tulisan-tulisannya masih mampu membuat saya betah berlama-lama dan mengulang-ngulang membacanya, berarti masih ada yang menarik perhatian saya, terhidu oleh penciuman saya kemudian menyelusup pelan di hati saya. Apakah itu, saya kurang tahu pasti dan masih saya cari serta rasakan. Rasanya seperti kopi yang baru saya kenal dan seruput nikmatnya beberapa bulan belakangan ini. Tidak sering dan intens, tetapi mulai membuat saya mencari.

 

Bandung, 261106

14:10

Advertisements

13 Gedanken zu „Menyeruput Kopi a la Dee

  1. Ugh. Kok bisa nyambung kesini yak ?….
    Anyway. Behind the scene desain kover buku-buku Dee saya publish di blog ini. Belum semua sih. Sisanya: FIlosofi Kopi, Ksatria, Puteri & Bintang Jatuh, dll bakal segera nyusul.
    Simak aja. Thanx.

  2. „Filosofi Kopi“ bagus apalagi Rico the Coro-nya. Tapi, menurut saya ada yang kurang di Filosofi Kopi. Semua penggila kopi harusnya tahu kalau salah satu kopi terbaik di Indonesia bahkan di dunia berasal dari Toraja. Kalau ada yang belum tahu berarti belum penggila kopi sejati. Di Filosofi Kopi kok sama sekali gak ada Toraja?

  3. Dear Dian, this is Dee. Sama seperti Fahmi yang terhubungkan secara ’sinkronisitas‘ dengan blog ini. Saya pun mendarat di sini akibat iseng2 mencari bahan untuk dicantumkan di cover Petir yang sedang di-redesain (oleh Fahmi), dan di dalam salah satu search Google saya, saya pilih mengintip blog ini. So, salam kenal dari saya. I also have a blog, pls visit: http://www.dee-idea.blogspot.com

  4. Salam kenal juga, Dee. Terima kasih sudah mampir (karena ’sinkronisitas‘ :)). Saya (masih) selalu suka tulisan-tulisanmu dan bolehkan blogmu saya link, bergabung dengan teman-teman ‚unik‘ saya yang lain? :)

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s