Der Weltnichtrauchertag, 31. Mai 2006

Zum Gedenken des Weltnichtrauchertages am 31. Mai 2006 möchte der Schreiber dieser Seite allen an die Gefahr von Rauchen zum Erinnern bringen, dass:

  1. Tabak in allen Formen tödlich ist. All diese folgende Tabakprodukte sind tödlich: Zigaretten, Pfeifen, Bidies, Nelken Zigaretten, Snus, Schnupftabak, rauchlose Zigaren, Zigaren, usw.
  2. Tabak in allen Arten und Namen genauso tödlich ist. Tabak ist in allen Formen und Verhüllungen tödlich. Sei es Mildes, Leichtes, gering-enthaltendes Teer, Vollgeschmack, Obstgeschmack, Schokoladengeschmack, Natural, Zusatzstoffsfrei, organische Zigaretten, PREPS (Potentially Reduced-Exposure Products), schädliche Verringerung, die sind alles tödlich. Alle Arten von Beschriftung und Etikettierung zeigen keine geringere Gefahr der Produkte.
  3. die Regierung der Republik Indonesien fordern, die WHO Framework Convention on Tobacco Control (WHO FCTC) für die zukunftige Generation Indonesiens so bald wie möglich zu ratifizieren. Es fehlt nur noch Indonesien als der einzige Staat Asiens, der die FCTC immer noch nicht unterschrieb.

 

Internet, den 31. Mai 2006

Memang seperti itu

Tak masuk akal

Kata sang nalar

Memang seperti itu

Kata sang cinta

Merugikan

Kata sang neraca

Hanya kesakitan

Kata sang takut

Tak bermasa depan

Kata sang ramalan

Memang seperti itu

Kata sang cinta

Menggelikan

Kata sang bangga

Ceroboh

Kata sang hati-hati

Mustahil

Kata sang pengalaman

Memang seperti itu

Kata sang cinta

Dari "Es ist was es ist" (Erich Fried)

Tentang Kematian

Karena kematian tak lain hanya berdiri telanjang di dalam angin
dan melebur di dalam matahari.
Karena kematian tak lain hanya tarikan nafas terakhir
yang membebaskan helaan naik turun tak tenang.
Agar dia bisa naik tanpa rintang menuju Tuhan.

Hanya jika minum dari mata air, kita menang.
Hanya jika mencapai puncak gunung, kita naik.
Hanya jika bumi merangkul jasad, kita menari.

(Dari „Tentang Kematian“ Khalil Gibran)

Bayreuth, 170305

01:29

Franz Kafka: Pulang

heimkehr

Aku pulang. Kulewati koridor dan kuberbalik memandangi semua. Halaman rumah ayahku. Genangan air di tengah halaman itu. Perkakas tua tak terpakai, bergeletakan membentuk jalan menuju tangga. Kucing bermalas-malasan di teras. Kain yang dirobek terikat di tiang, berkibar ditiup angin. Aku datang. Siapa yang akan menyambutku? Siapa yang menunggu di belakang pintu dapur? Asap keluar dari cerobong, kopi untuk makan malam sedang dimasak. Tidakkah aneh untukmu, apakah kau merasa ada di rumah? Aku tidak tahu, aku sangat tidak yakin. Itu memang rumah ayahku, tapi bagian demi bagiannya terasa dingin, seakan masing-masing sibuk dengan kegiatannya sendiri, yang sebagian kulupakan, sebagian lagi tidak pernah kukenal. Apa yang bisa kulakukan untuk mereka, apa arti diriku untuk mereka, dan apakah aku memang anak ayahku, anak seorang petani tua itu? Dan aku tak bergerak mengetuk pintu dapur, hanya dari jauh aku patuh, hanya dari jauhlah aku berdiri patuh. Tidak begitu tepatnya, aku mungkin terkejut karena menjadi orang yang patuh. Dan karena aku patuh dari tempat yang jauh, aku sebenarnya tidak mematuhi apapun. Aku hanya mendengar suara halus jam berdetik, atau aku hanya menduga mendengarnya, muncul dari hari-hari masa kecil. Apa lagi yang terjadi di dapur, itu adalah rahasia orang-orang yang duduk di sana, rahasia yang mereka simpan dariku. Semakin lama orang berdiri ragu di depan pintu, semakin merasa asinglah dia. Apa yang akan terjadi jika sekarang seseorang membuka pintu dan bertanya sesuatu padaku. Tidakkah aku sendiri pun akan seperti dia, dia yang ingin menyimpan rahasianya.

Bayreuth, 23.11.03

12:31

Diterjemahkan dari karya asli "Heimkehr" (Franz Kafka)