Surprising Turkey #3

Kejutan 3: Turunc dan tour sejarah murah meriah
Hari pertama, seperti rencana kami menghabiskan waktu di Turunc saja. Tempat ini layak disebut desa saja, kecil soalnya, tapi nyaman. Setelah paginya berjemur, kami kemudian mencari travel biro J&J tour yang menyediakan paket wisata sejarah di Turki seputaran Aegean ini. Yang jelas kami ingin ke Efes dan Pamukkale. Harus. Sudah melihat-lihat di internet dan kami pokoknya harus pergi ke sana, hehe.  Akhirnya kami mengambil satu paket wisata ke Efes dan Pamukkale seharga 40 €/orang  dengan menginap semalam di Pamukkale, itu sudah termasuk bis, tiket masuk ke tempat-tempat tersebut, guide, 3 kali makan serta hotel bintang 4. Wah, daripada ribet kalau harus mengecer, kami  langsung ambil saja paket itu ditambah satu paket hamam atau Turkish bath seharga 20 €. Senang!
Selanjutnya sore itu kami menghabiskan waktu dengan minum Kahve (Turkish coffee) yang pekat tapi intensitasnya sih tidak terlalu kuat dan makan revani. Revani ini adalah sejenis cake khas daerah Mediterania Timur yang terbuat dari tepung semolina dan direndam dengan sirup yang dicampur jeruk atau air mawar, kemudian di atasnya ditaburi kelapa parut atau kacang pistachio cincang. Revani yang kami makan ini untungnya tidak terlalu manis. Enak. Lola sendiri memesan Efes bier, khas dari daerah itu. Menikmati sore yang cukup panas sambil duduk-duduk selonjoran di sebuah kafe di tepi pantai yang dipenuhi karpet-karpet Turki dan pipa-pipa shisha, jadi berasa di negeri 1001 malam deh, hehe. Menyenangkan dan bikin ngantuk, hehe.

Selanjutnya kami masih jalan-jalan sedikit mengelilingi desa Turunc yang cuma seuprit itu, melihat-lihat toko-tokonya yang kecil-kecil lalu membeli air mineral 5 liter seharga 1 TL saja. Wah, murah! Sekalian kami juga melihat jadwal Dolmuş, semacam angkot di Turki, ke Marmaris. Rencana kami hari kedua memang mau ke Marmaris.  Orang-orang di Turunc juga ramah-ramah dengan turis-turis yang kebanyakan berasal dari Inggris dan Rusia.

Selain sarapan, makan siang dan makan malam kami disediakan pula oleh pihak hotel. Menu makanannya cukup wah dan banyak, tentu saja dengan rasa yang enak, cocok dengan lidah kami. Benar-benar menyenangkan dan mengenyangkan.

Selesai makan malam, kami juga masih berjalan-jalan di seputaran Turunc. Ingin melihat kira-kira kehidupan malamnya seperti apa. Namun, tampaknya dua turis ini agak pemalas untuk begadang, akhirnya kami pulang ke hotel dan malah begadang sambil bercerita seru di kamar. Tujuan esok harinya: Marmaris.

Werbeanzeigen

Surprising Turkey #1

Kalau saya dan sahabat saya, Lola, disatukan, tampaknya akan ada banyak keisengan terjadi, terutama iseng belanja dan iseng jalan-jalan. Apalagi kalau sudah menemukan sale dan penawaran tiket pesawat dan perjalanan murah, sudah deh, kacau dunia. Hehe. Selain itu, ciri-ciri jalan-jalan kami adalah murah meriah dan pergi ke tempat-tempat yang jarang dijadikan tujuan wisata oleh kebanyakan orang. Untuk yang pertama memang iya lah, siapa sih yang tidak mau jalan-jalan murah meriah tapi menyenangkan. Nah, untuk yang kedua sebenarnya itu bukan maksud kami, tapi itu adalah efek dari faktor murah meriah tadi, yang biasanya berakibat kami sampai di tempat-tempat terpencil. Namun, justru di situ menariknya dan banyak efek kejutnya, hehe.

Perjalanan ke Turki ini juga sama: iseng. Dan ini juga sebenarnya dampak lanjutan dari keisengan kami yang spontan nonton konser Boyce Avenue di Köln. Saya yang tinggal jauh di Bayreuth akhirnya menginap di tempat Lola di Dortmund. Besok paginya, kami mau ke kota dan melewati beberapa travel biro di dekat rumah Lola lalu memutuskan mampir ke salah satu travel biro. Iseng saja ingin tanya tentang paket perjalanan ke Turki. Memang sih di chating-chating kami sebelumnya sempat terutarakan keinginan untuk ke Turki. Inginnya ke Istanbul, tapi kemudian diganti dengan: pantai. Pokoknya pantai. Sempat hunting juga di internet dan menemukan beberapa tempat yang menarik.

Namun, itu semua masih dalam tahap rencana, sampai akhirnya kami iseng masuk ke sebuah travel biro itu. Pokoknya kami ingin ke pantai dengan biaya kurang dari 300 €. Irit banget kan, hehe. Maklumlah, stipendiat dengan keuangan terbatas. Tidak disangka kami dapat paket itu! Paket seharga 263/orang itu sudah meliputi tiket pesawat Jerman – Turki pp, lalu transfer ke dan dari bandara Dalaman ke Turunç, hotel selama 7 malam termasuk makan pagi, siang dan malam. Eh, tapi sebentar, di mana itu Dalaman dan Turunç? Osman Tekeli dari Sunfly Reisecentre di Dortmund dekat rumahnya Lola yang „melayani“ kami menunjukkan petanya. Ternyata Dalaman dan Turunç terletak di teluk dekat Laut Aegean. Berseberangan dengan Yunani. Kota besar yang ada dekat situ adalah Marmaris dan Izmir. Wah, semakin bersemangat. Apalagi melihat pantainya indah sekali: warna biru turkish dengan kontras tebing-tebing batu di tepinya. Tak jauh dari situ juga katanya ada tempat reruntuhan bangunan tua. Wah! Setelah berpikir sejenak, kami akhirnya mengambil paket tersebut. Selanjutnya, kejutan banyak terjadi. Tiket pesawat ternyata sudah termasuk rail and fly, jadi kami bisa naik kereta gratis ke dan dari airport dan bisa naik kereta ICE yang super cepat itu tentunya. Untuk saya ini menguntungkan, karena saya jadi bisa menghemat biaya kereta yang harga normalnya bisa mencapai lebih dari 100 € sekali jalan.
Jadi, pergilah kami. Saya berangkat pagi-pagi dari Bayreuth.  Janjian ketemu Lola langsung di Düsseldorf Airport.  Perjalanan panjang untuk saya, karena perlu waktu sekitar 5 jam lebih untuk sampai ke Düsseldorf Airport, kemudian akan dilanjutkan dengan penerbangan menggunakan TUI Fly ke Dalaman selama 4 jam, lalu transfer dari Dalaman ke Turunç sekitar 3 jam.
Kejutan 1: Dalaman dan Visa
Jam 19:30 waktu Turki, pesawat mendarat di Dalaman Airport yang cukup besar. Bagi orang Indonesia yang akan masuk ke Turki kurang dari 30 hari diperlukan visa on arrival dengan biaya sebesar 25 $. Kami berdua memegang paspor dinas dan dari keterangan yang kami baca, pemegang paspor dinas dari Indonesia tidak memerlukan visa untuk masuk ke Turki. Namun, untuk meyakinkan diri, kami menuju counter visa, ternyata benar saja petugasnya tidak tahu aturan itu.
Susah payah mengerti dan berkomunikasi dengan petugas yang tetap menyebutkan bahwa kami perlu visa dan harus membayar 25 US $. Namun, katanya, karena dia tidak punya stempel visa dengan besaran 25 $, hanya yang 20 $ dan 30 $, maka kami harus membayar 30 $. Tidak terima dengan logika yang aneh ini, kami kemudian bertanya ke petugas imigrasinya. Beruntung mereka mau memperjelas dan menanyakan status passport kami. Setelah menunggu beberapa saat sambil terheran-heran karena si petugas malah ngobrol dengan rekannya, paspor kami akhirnya dicap dan kami bisa masuk Turki tanpa visa dan tentu saja tanpa bayar.  Ini sama seperti haknya orang-orang Inggris. Orang Jerman saja masuk Turki perlu visa kok, hehe.
Ah, tapi kami lega akhirnya tiba juga di Dalaman. Tinggal mencari shuttle bus yang akan membawa kami ke Turunc.

Menyusuri Aegean: #1Turunçda Hoşgeldiniz

Perjalanan kali ini benar-benar tak direncanakan. Memang beberapa kali saat berbincang malam-malam, kami mengungkapkan keinginan berlibur ke Turki. Sempat juga browsing tempat dan berapa kira-kira biaya yang dibutuhkan, selain juga menyesuaikan waktu yang kami punya, karena kami juga berkejaran dengan tugas dan deadlines. Dan akhirnya ketika saya juga dengan spontan memutuskan pergi ke NRW kemudian menginap di tempat Lola, kami iseng mampir ke sebuah travel biro di Dortmund untuk mencari informasi tentang paket tour ke Turki. Kalau bisa kurang dari 300 € dan ternyata dapat! Paket seharga 263/orang dari 1-2 fly itu sudah meliputi tiket pesawat Jerman – Turki pp, lalu transfer ke dan dari bandara Dalaman ke Turunç, hotel selama 7 malam termasuk makan pagi, siang dan malam.

Sebentar, di mana itu Dalaman dan Turunç? Osman Tekeli dari Sunfly Reisecentre di Dortmund dekat rumahnya Lola yang „melayani“ kami menunjukkan petanya. Ternyata Dalaman dan Turunç terletak di teluk dekat Laut Aegean. Berseberangan dengan Yunani. Kota besar yang ada dekat situ adalah Marmaris dan Izmir. Wah, semakin bersemangat. Apalagi melihat pantainya indah sekali: warna biru turkish dengan kontras tebing-tebing batu di tepinya. Tak jauh dari situ juga katanya ada reruntuhan kota tua Amos. Wah! Setelah berpikir sejenak, kami langsung mengambil paket tersebut. Selanjutnya, kejutan banyak terjadi. Tiket pesawat ternyata sudah termasuk rail and fly, jadi kami bisa naik kereta gratis ke dan dari airport dan bisa naik kereta ICE yang super cepat itu tentunya. Untuk saya ini menguntungkan, karena saya jadi bisa menghemat biaya kereta yang harga normalnya bisa mencapai lebih dari 100 € sekali jalan. Maka, pergilah kami.

Berangkat pagi-pagi dari Bayreuth. Janjian ketemu Lola langsung di Düsseldorf Airport. Perjalanan panjang untuk saya, karena perlu waktu sekitar 5 jam lebih untuk sampai ke Düsseldorf Airport, kemudian akan dilanjutkan dengan penerbangan ke Dalaman selama 4 jam, lalu transfer dari Dalaman ke Turunç sekitar 3 jam. Kami tiba 2 jam sebelum take off, tetapi counter check in TUI Fly sudah penuh oleh antrian panjang orang-orang yang juga mau pergi ke Dalaman. Ternyata banyak yang mau pergi liburan dan pulang kampung juga. Tiba giliran kami, kami sudah menyangka akan ada sedikit masalah dengan service passport kami yang memang agak-agak aneh dan tidak terlalu dikenali di Jerman. Belum lagi tiba-tiba komputer si petugas mendadak tidak mau diajak bekerja sama. Jadi kami berada cukup lama di check in counter.

Setelah urusan di sana beres, kami menyempatkan diri membeli dulu croissant dengan harapan dapat mengganjal perut dulu sebelum terbang. Ternyata tidak bisa juga. Melewati pemeriksaan pertama, saya sempat diminta membongkar kembali ransel saya, karena dicurigai ada spray. Itu spray asthma yang saya bawa untuk berjaga-jaga, walaupun tidak saya pakai juga. Lola juga membawa spray yang sama, tetapi dia untungnya tidak kena. Hehehe.

Setelah melewati “screening” pertama, pemeriksaan passport kembali menjadi masalah. Kami sampai menjadi orang yang terakhir diperiksa, padahal waktu boarding sudah hampir habis. Ya, lagi-lagi soal si biru yang aneh dan tidak dikenali. Berdasarkan pengalaman saya yang selalu mendapat masalah dengan si biru setiap kali masuk dan keluar Jerman, maka berilah mereka “peringatan” terlebih dahulu, bahwa passport itu “bermasalah”, jadi kita tidak akan terlalu “dijuteki”, hehe. Dengan tampang dan intonasi yang lurus, Lola bahkan mendapat ucapan selamat berlibur dari petugasnya.

Bernafas lega setelah akhirnya bisa duduk di pesawat beberapa saat sebelum take off. Cukup penuh. Kami duduk terpisah. Saya duduk dengan salah seorang perempuan Turki dengan anaknya yang masih berumur 2 tahun. Mereka mau pulang kampung. Cukup menyenangkan. Bisa ngobrol-ngobrol dan tanya-tanya tentang Turki. Namun, jadinya saya yang sudah capek dan lapar berat tidak bisa tidur juga, karena anak-anak kecil di sebelah, di depan dan di belakang saya bermain dengan riang gembira. Tak apalah, sekali-sekali. Lagipula si Muçteba ini lucu sekali, langsung menempel saja pada saya.

Pelayanan dari TUI Fly pun cukup bagus. Saya tidak menyangka, kami akan mendapat makan siang juga. Jam 19:30 waktu Turki, pesawat mendarat di Dalaman Airport yang cukup besar. Untuk meyakinkan diri, kami menuju counter visa, walaupun dari keterangan yang kami baca, pemegang service paspor dari Indonesia tidak memerlukan visa untuk masuk ke Turki. Susah payah mengerti dan berkomunikasi dengan petugas yang tetap menyebutkan bahwa kami perlu visa dan harus membayar 25 US $. Namun, katanya, karena dia tidak punya stempel visa dengan besaran 25 $, hanya yang 20 $ dan 30 $, maka kami harus membayar 30 $.

Tidak terima dengan logika yang aneh ini, kami kemudian bertanya ke petugas imigrasinya. Beruntung mereka mau memperjelas dan menanyakan status passport kami. Setelah menunggu beberapa lama, sambil terheran-heran karena si petugas malah ngobrol dengan rekannya, paspor kami dicap dan kami bisa masuk Turki tanpa visa dan tentu saja, tanpa bayar. Sama seperti haknya orang-orang Inggris, hehe. Setelah mengambil bagasi yang tinggal tersisa punya kami berdua, kami keluar menuju shelter tempat shuttle bus yang akan membawa kami ke Turunç, tepatnya ke Hotel Özcan tempat kami akan menginap. Sudah lepas maghrib saat shuttle bus berangkat, jadi tidak terlalu bisa melihat-lihat pemandangan di luar. Capek, tapi tidak bisa tidur juga, lagipula lapar sudah mulai mendera. Makan di pesawat hanya sekedar mengganjal saja. Melewati Marmaris yang ramai oleh turis-turis yang duduk-duduk di bar, café dan restoran, dan banyak juga yang jalan-jalan, saya merasa sedang melewati jalan-jalan yang penuh turis di Bali, hehe. Suasana liburan sudah terasa. Lima orang Jerman yang ada di shuttle bus sudah sibuk berkomentar, ada 4 orang Asia termasuk kami cuma senyam senyum saja.

Melewari Marmaris menuju Turunç, jalanan mulai menanjak dan berbelok-belok cukup tajam, kemudian menurun dan masih berbelok-belok pula. Walaupun gelap, tapi pemandangan ke bawah bagus sekali. Lampu-lampu berkelap-kelip. Wah, jadi tak sabar menunggu perjalanan siang hari. Pasti indah juga. Sebelum sampai ke hotel, kami dibagikan peniti kecil dengan gantungan nazar boncuğu (lucky eye atau evil eye stone) berwarna biru muda dengan “mata biru tua”, yang dalam budaya dan adat Turki dipercaya sebagai pelindung dan pembawa keberuntungan. Saya mendapat gantungan dengan tambahan bunga. Nanti di Marmaris saya juga mendapat peniti lagi dengan nazar boncuğu dan kupu-kupu.

Hotel Özcan tempat kami menginap terletak di tengah desa Turunç. Hotel ini cukup besar dengan interior bangunan didominasi kayu berwarna coklat. Tampaknya masih memakai gaya Turki jaman Attaturk. Kamar tidurnya cukup luas dan bersih, dilengkapi TV, telfon, lemari es kecil, safety box dan AC! Duh, langsung merasa ada di Indonesia begitu memasuki kamar ini.  Setiap kamar memiliki balkon dilengkapi dengan dua kursi, meja dan jemuran pakaian. Jadi kami bisa mencuci sendiri juga, hehe. Kamar mandi cukup bersih. Kami sempat terkejut melihat hair dryer nya yang tak biasa kami jumpai: satu kotak kecil dengan “belalai” panjang. Pelayanan di hotel ini cukup memuaskan. Selain itu, di hari-hari berikutnya kami tahu bahwa makanannya juga cocok dengan lidah dan selera kami. Kerjasama hotel ini dengan 1-2 fly yang mengatur perjalanan kami dari da ke Jerman juga baik sekali, sehingga kami tidak mengalami kesulitan apapun (bahkan tidak perlu ribet-ribet mikir, hehe).

Lobby Hotel Özcan

Karena kami tiba cukup larut, sekitar pukul 23, kami sudah tertinggal waktu makan malam. Sekalian mencari makan malam, kami melihat-lihat desa Turunç yang kecil dan tampaknya didominasi oleh turis-turis Inggris. Di sebelah hotel ada supermarket dan di depannya ada mesjid. Tak jauh dari sana berjejer tempat makan dan toko-toko souvenir. Dokter dan warnet juga tak jauh dari situ. Semua berkumpul dalam satu jalan saja. Here we are, tampaknya in the middle of nowhere lagi nih, hehe. Namun, tampaknya semua menyenangkan :)

Mesjid di depan hotel Özcan

Memutuskan makan di sebuah restoran. Sudah hampir tengah malam saat itu, tetapi kami masih dilayani dengan ramah sambil tentu saja ditanya-tanya kami berasal dari mana, dll. Kami dibilang orang Indonesia pertama di Turunç. Mengingat desa ini kecil dan tampaknya orang-orang yang datang ke sana juga tamu “tetap” sehingga sudah saling mengenal, jadi mungkin apa yang dikatakan benar juga, hehe.

Kami memesan stuffed mushroom dan beef kebab untuk berdua, karena porsinya memang besar. Lola memesan “Efes”, bir dari Turki dan saya orange juice segar. Selesai makan dengan nikmat, kami kembali ke hotel, bersiap-siap istirahat. Pfui, perjalanan yang cukup panjang. Besok kami hanya akan bersantai dan melihat-lihat Turunç saja. Lola sudah mau berjemur dan saya mau berburu objek foto.

#5: Adéu, Catalunya!

Walaupun tidur subuh, paginya bangun dengan cukup segar. Mungkin karena tidurnya nyaman juga. Mengurus administrasi dengan Abdiel sambil sarapan sangat santai. Kami tidak terburu-buru. Lagipula bis kecil ke Ordino datang satu jam sekali, dan bis yang akan membawa kami ke Girona juga berangkat sore hari jam 17. Jam 12 baru keluar hotel, setelah pamitan yang “hangat” pakai acara peluk cium pipi kiri kana pula dengan si Abdiel, hehe.

Sampai di Andorra la Vella, menyimpan tas dulu di locker Estacio de Busosnya, lalu kami melanjutkan jalan-jalan di seputaran Andorra la Vella. Ada taman yang indah di dekat Estacio de Busos dan jalan di pinggir sungai yang dipenuhi bunga-bungan sakura yang sedang mekar. Indah!! Foto-foto tentu tidak dilewatkan. Menyusuri jalan di pinggir sungai menuju pusat kota, mengambil beberapa foto.

Di tengah kota ternyata sedang ada pasar loak filateli dan pin. Melihat-lihat sebentar, lalu kami melanjutkan lagi perjalanan ke sisi kota yang lain. Pusat pertokoannya. Andorra memang terkenal sebagai pusat belanja. Namun, tentu saja kami tidak masuk ke toko apapun, hehe. Yang terjadi malah kami berdua kok mencium wangi-wangi masakan. Dua orang ini memang indera penciumannya langsung bekerja dua kali lebih cepat jika ada wangi makanan, bahkan membayangkan wanginya saja kami bisa, hihi.

Jadi, kami mengikuti wangi itu (kok jadi berasa seperti anjing ya yang mengendus-endus bau, hihi) dan sampai di salah satu restoran yang dalam daftar menunya menyediakan menu khas Katalonia. Wah, ini harus kami kunjungi. Apalagi menu paket makan siang seharga 9,50 € per orang yang terdiri atas makanan pembuka, utama dan penutup. Duh, ini super murah.

Masuklah kami ke restoran bernama La Taberna del Mallol ini. Ruangan restoran ini nyaman sekali. Ruang didominasi warna putih dengan sentuhan warna marun. Kami mengambil tempat di pojokan dan segera dilayani dengan ramah pula oleh ibu-ibu –tampaknya- pemiliknya. Tidak banyak tamu yang datang saat itu. Mungkin karena belum waktunya makan siang. Sepertinya jam makan siang di Andorra sama seperti di Spanyol, agak telat.

Saya memesan salad dan ikan trout a la Andorra (kita lihat seperti apa), sedangkan Lola memesan sup dan Llom. Tentu saja Sangre de Toro, wine dari Catalunya, dipesan oleh Lola. Harus dicoba dong. Saya sendiri memesan coke.

Ternyata, makanan pembuka yang kami pesan itu porsinya cukup besar. Salad dalam piring cukup besar, begitu juga supnya. Namun, kami memang perlu energi ekstra karena harus menempuh lagi 3 jam perjalanan kembali ke Girona. Menu utama datang, ikan trout a la Andorra adalah ikan yang digoreng dengan sedikit tepung dan di atasnya ditaburi bacon yang dipotong kecil dan digoreng kering, ditambah Pommes Frites. Karena saya tidak memakannya, maka baconnya saya berikan Lola yang selama perjalanan kali ini hampir setiap hari makan Llom, hehe.

Puas dan kekenyangan menikmati menu masing-masing, kami kaget ketika ditawari makanan penutup. Oalah, mana bisa masuk lagi? Perut sudah kenyang sekali. Namun, ini kan sudah termasuk paket. Nah lho! Akhirnya dengan komunikasi yang lagi-lagi aneh, karena kami berbahasa Inggris dan si ibu serta pelayan restorannya memakai bahasa Katalanis, dan tentu saja karena mencari aman dan gampangnya. Sebenarnya kami memesan buah segar, tapi yang datang ternyata 1 mangkuk buah segar dan 1 mangkuk Flan caramel. Ini salah pengertian, karena di awal saya menunjuk Flan caramel ini, tapi kemudian membatalkannya dan menggantinya dnegan buah. Ternyata mereka tetap menganggap saya memesan Flan caramel itu. Akhirnya Lola makan buah segarnya  untuk mengimbangi makanan berat sebelumnya dan saya makan Flan caramelnya, karena sebelumnya saya sudah makan salad. Kalori! Tapi biarin lah, hihi, lagipula Flan-nya enak.

Sempat agak ragu juga takut harganya tidak sesuai dengan paket, karena uang tunai kami sudah tidak cukup dan berharap bisa membayar pakai kartu kredit. Ternyata bisa dan harganya –di luar minuman- benar 9,50 € per orang. Wah! Untuk makanan selengkap dan rasa seenak itu, ini harga benar-benar murah. Kami memang beruntung :)

Inginnya istirahat sebentar setelah selesai makan itu, tapi kami masih harus naik bis ke Girona. Dan ups, kami tidak tahu jalan ke Estacio de Busosnya, hihi. Mengandalkan intuisi lagi kira-kira kami ada di mana dan kami harus berjalan ke arah mana. Untungnya Andorra la Vella memang cuma segitu-gitu saja besarnya, jadinya cukup mudah juga menemukan jalan ke Estacio de Busos. Patokan saya adalah sebuah tempat penyewaan mobil dan salah satu hotel.

Sampai tepat waktu, masih sempat ke toilet dulu, dan masuklah kami ke bis kecil yang akan membawa kami ke Girona. Penuh juga bis-nya. Sopirnya ramah. Dia menyangka Lola dari Filipina, karena namanya Maria, hehe. Perjalanan melewati pegunungan Pyrenees yang indah itu dimulai lagi, dan saya tampaknya “mabuk” darat lagi, karena pusing lagi seperti saat datang ke Andorra. Heran nih, biasanya juga tahan-tahan saja saat naik mobil. Sementara Lola masih bersemangat cerita, saya sudah teler berat dan akhirnya tidur. Lola juga akhirnya tidur sih, hehe.

Bis mampir dulu ke Aeroport Girona dan penumpang yang lain turun di sana, kecuali kami berdua yang akan turun di Estacio de Busosnya Girona. Tak lama, sampai juga. “Adéu, Señorita,” kata sopirnya, hehe. “Adéu”.  Estacio de Busosnya ada di depan stasiun kereta api Girona.

Dan kami mulai lagi membiasakan diri lagi dengan “sistem” Spanyol. Kami mencari loket penjualan tiket bis, karena besoknya saya harus ke Aeroport Girona dan Lola ke Aeroport Barcelona. Logikanya pasti loketnya dekat situ. Memang dekat, tapi agak tersembunyi juga. Ternyata tidak ada loket yang buka dan tidak ada informasi tentang jadwal keberangkatan bis. Jadi ya sudahlah.

Setelah mengambil uang, kami naik bis ke arah Salt yang haltenya untung tidak jauh dari situ. Tahu harus berhenti di Espai Girones, tapi di mana kah itu? Hehe, jangan tanya. Petunjuk yang ada dalam bis juga membingungkan, karena kami tak bisa membacanya dan tidak ada petunjuk halte apa yang akan dilewati. Maka, berdasarkan pengalaman: berhentilah di halte terakhir. Tanya ke sopir juga percuma, lha wong bahasanya ngga ngerti, hehe. Dan pengalaman adalah guru yang terbaik, benar saja halte terakhir adalah Espai Girones, dan nama hotel Sidorme tempat kami akan menginap sudah terpampang jelas di depan mata. Syukurlah, hehe.

Hotel ini yang harganya paling mahal di antara hotel-hotel tempat kami menginap sebelumnya yang di bawah 20 €, ini 21 € dan masih murah untuk ukuran hotel seperti Sidorme. Ya, letaknya memang di pinggir, tapi tak apa. Pusat perbelanjaan dan halte bis dekat situ juga, jadi bisa mudah mencari dna pergi ke manapun sebenarnya. Lagipula kami cuma semalam menginap di sana.

Simpan barang dan cari makan malam. Btw, kayaknya perjalanan kali ini isinya makan-makan terus ya? Atau tepatnya saya menulis tentang makan-makannya terus, hehe. Yah, pokoknya kami masuk ke mall Espai Girones yang mungkin “hanya” sebesar BIP, hehe. Suasananya mirip mall-mall di Bandung, tapi tentu kalah mewah dibandingkan mall-mall di Jakarta. Daerah ini tampaknya daerah imigran, karena kami perhatikan banyak orang-orang dari Afrika Utara di daerah ini.

Jalan-jalan keliling dulu, baru kami memilih salah satu tempat makan di foodcourt lantai 3 mall itu. Pesan menu paket lagi, kali ini bukan paella, tapi…Lola beli Llom lagi dan saya ayam lagi, hahaha. Puas puas deh makan Llom dan ayam. Bukan karena apa-apa, ini semata karena hanya Llom dan ayam yang kami mengerti, dan itu pun setelah melalui komunikasi yang memakai seluruh anggota tubuh dan segala macam daya dan upaya, hihi.

Selesai makan, kami mau mencari roti atau croissant dan air untuk sarapan, karena harga 21 € tidak termasuk penginapan. Masuk ke supermarket di bawah, ambil air dan croissant. Dan terjadi lagi kejadian lucu karena masalah bahasa. Kasir mengambil croissant kami sambil ngomong blablablabla lalu dengan santai membuang croissant yang akan kami bayar tadi. Hah? Ada apa ini? Kami bengong. Jadi kami hanya perlu membayar 45 cent untuk air mineral, sedangkan croissant tidak kami bayar. Iyalah, croissantnya dibuang, hihi. Keluar dari situ masih terkaget-kaget dengan kejadian croissant yang dibuang itu setelah itu kami ketawa-ketawa ngga jelas. Terus terang, sampai sekarang saya masih tidak tahu kenapa croissant itu dibuang, padahal belum masuk kadaluarsa.

Akhirnya kami keliling-keliling mencari cafe yang masih buka dan berharap bisa membeli croissant untuk dibawa pulang. Ternyata ada juga. Pfui! Selamat lah, hehe. Pulang ke hotel, Lola masih melanjutkan pekerjaannya, sementara selesai mandi saya masih membaca 1 jurnal lalu tidur. Esok pagi saya harus pergi cukup pagi ke Estacio de Busos dan lanjut ke  Aeroport  Girona. Sementara Lola masih bisa tidur agak lama, karena dia baru akan berangkat agak siang ke Aeroport Barcelona.

Ah, tidak terasa sudah harus kembali lagi ke Jerman. Masih betah sebenarnya di Spanyol, tapi kembali ke Jerman juga menyenangkan. Setelah hampir seminggu ditinggalkan, membayangkan tidur di kamar sendiri di bawah selimut hangat nyaman juga.

Tampaknya dua Doktorandinnen ini memang suka iseng mencari selingan-selingan yang menyenangkan di antara pekerjaan yang semakin lama semakin menumpuk (heran, padahal sudah dikerjakan, tapi tetap saja terlihat numpuk, hihi) dan rangkaian deadlines yang tak menunggu waktu. Jadi, mari kita tunggu selingan yang menyenangkan lainnya ;))

#4 Andorra (yang bukan drama)

Bangun pagi, buka tirai jendela dan kami disuguhi pemandangan indah gunung dan tebing serta..seekor kuda gendut gondrong dan kucel sedang merumput, hehe. Setelah selesai mandi, kami sarapan di bawah. Tampaknya tamu Hotel Anem tempat kami menginap ini hanya kami berdua, soalnya sepi sekali. Sarapan cornflakes dan roti kering. Kemudian kami minta informasi dari Abdiel, sekaligus meminta peta Andorra dan jadwal bis. Ini penting, supaya kejadian semalam tidak terjadi lagi.

Tadinya kami mau ikut tour saja ke beberapa objek wisata di Andorra, mengingat transportasi umumnya agak sulit. Namun, hari Jumat itu tidak ada jadwal tour, akhirnya kami memutuskan untuk mencoba naik cable car di La Masana, kemudian jalan-jalan di Andorra la Vella, mampir ke outletnya MNG, setelah itu lihat nanti, hehe. Kami memang turis yang tidak ambisius. Sedapatnya saja.

Nunggu bis di depan hotel, sambil agak ragu juga, di sebelah mana kami harus menunggu, karena tidak ada tanda-tanda halte bis. Hmm…ya sudah, nebak saja. Nunggu bis sambil menikmati pemandangan yang betul-betul indah, udara yang sejuk, angin sepoi-sepoi, matahari yang juga muncul, suara gemericik air dari sungai di dekat jalan, melihat kuda-kuda yang sedang merumput dengan tenang. Ah, indahnya dunia. Tenang dan nyaman sekali.

Hotel Anem ini ternyata terletak di daerah La Cortinada, tepatnya di perbatasan La Cortinada, sebelum ke El Serrat, yang tampaknya masih jauh lagi. Akhirnya bis yang kami tunggu datang juga. Bis kecil warna putih dengan jendela banyak, hehe. Ticket bisnya juga cukup murah 1,20 dari Serrat ke Ordino. Kami akan menuju tourist information di Ordino, mencari info lagi sambil menunggu bis no 6 ke La Massana. Dilayani dengan ramah di tourist information, heran juga tampaknya ada dua perempuan Indonesia nyasar jauh-jauh ke Ordino, hehe.

Di La Massana, kami menuju kantor tourist information lagi, diberi tahu untuk naik ke atas menuju stasiun cable car yang akan membawa kami ke ketinggian Arinsal. Pfui, ini “uji nyali” juga untuk kami berdua yang takut ketinggian, hehe. Ticket seharga 10 euro sudah di tangan, jadi harus berani lah ya. Naiklah kami ke kabin cable car bersama dua orang turis lainnya. Tampaknya dari Spanyol. Ramah. Saling foto memfoto juga. Dan pemandangan dari menuju ke atas itu bagus sekali….Ambil beberapa gambar, terus terang kalau itu saya lakukan untuk meredakan ketakutan saya naik kereta yang semakin tinggi. Kaki sudah lemas dan gemetar sebenarnya, hehe.

Sepuluh menitan waktu yang ditempuh untuk sampai ke atas. Vallnord Arinsal itu salah satu tempat main ski. Salju masih banyak, orang-orang yang datang ke sana berpakaian ski lengkap, sementara kami  cuma bertrench coat saja. Pantas ketika mau beli ticket ditanya apakah kami mau main ski atau tidak. Hihihi, ngga, kami hanya mau melihat-lihat saja.

Tidak lama kami di sana, karena memang di sana “hanya” tempat bermain ski.  Mau menikmati pemandangan kok ya kostum tidak mendukung. Dingin dan berangin. Daripada masuk angin, mendingan kami turun dan ke Andorra la Vella untuk mencari makan siang juga.  Turun, kemudian lanjut naik bis dari La Massana ke Andorra la Vella.

Karena tidak ada petunjuk halte sama sekali, jadi kami turun saat kami “diusir” oleh si mbak-mbak sopir bisnya, hehe. Suhu agak dingin dan langit juga agak mendung. Kami putuskan untuk mencari makan siang dulu. Mengikuti ke mana kaki melangkah mencari-cari tempat makan. Akhirnya kami mampir ke salah satu snack bar di daerah dekat Casa de la Vall.

Hmm, namanya boleh snack bar, tapi sebenarnya kami makan lengkap di situ. Menu yang saya pesan chicken dan pommes frites, sedangkan Lola makan Llom lagi. Hehe. Kali ini espresso jadi minuman kami. Saya sendiri memang butuh kaffein, ngantuk berat saat itu. Walaupun pada akhirnya ngga ngaruh juga sih, mau mi num espresso atau apa, ngantuk sih tetap, hehe. Selesai makan, kami jalan ke Casa de la Vall. Ini adalah gedung pemerintahan negara Andorra. Bangunan-bangunan di Andorra ini khas, karena dindingnya terbuat dari batu-batu kali dan lempengan batu-batu dari tebing-tebing, arsitekturnya pun minimalis. Saya menduga, arsitektur rumah-rumah atau tempat-tempat –khususnya restoran- bergaya minimalis di Indonesia dengan ornamen batu-batu kali ini mengambil ide dari gaya bangunan di Andorra, karena kok rasanya familiar dengan bangunan resto-resto mewah di pinggir tebing di daerah Dago Atas. Dugaan saja, hehe.

Mengambil beberapa gambar sebentar, menyusuri gang-gang kecil berbatu menuju ke arah kota. Karena kotanya juga hanya segitu-gitunya, kami tidak terlalu kesulitan menemukan outlet MNG tujuan kami berikutnya, hehe. Lihat lihat lihat, tergoda sih, saya bahkan sempat mencoba beberapa celana jeans. Untung tidak ada yang cocok, hehe. Kalau ada yang pas, pasti belanja juga deh. Bisa menahan diri tidak belanja juga karena saya berpikir di mana saya akan menyimpan belanjaannya? Barang yang bisa dibawa ke kabin terbatas dan tas saya kalau dipaksa lagi pasti sobek restletingnya. Ada untungnya juga, walaupun sekarang saya agak menyesal tidak membeli trench coat seharga 20 € an. Huhuhu, maklum saya agak fetish dengan jaket, hehe.Tapi ya sudahlah :)

Agak capek juga saat itu, kami lalu lanjut jalan ke Estacio de Busos membeli tiket ke Girona untuk besok harinya. Setelah dari situ, kami memutuskan kembali ke Ordino, takut terlalu sore, secara kami menginap di Andorra coret, hihi. Jadi kami kembali ke Ordino dan memutuskan masuk ke Micro miniatur museum Nikolai Siadistry. Kami tadinya berpikir itu semacam museum miniatur kota seperti di Madurodam atau Gullivers Welt di Saarbrücken. Dugaan kami salah besar.

Disambut sangat ramah oleh penjaga museumnya, kami membeli tiket seharga 7 € untuk masuk ke micro miniatur museum itu dan museum ikonografi. Di awal nonton film dulu, tentang Nikolai Siadistry, seorang seniman dari Ukraina. Museum ini pun hanya ada di Andorra dan di Kiev.Penasaran seperti apa museumnya, kami pun masuk ke ruangan yang tidak terlalu besar di belakang meja informasi. “Cuma” ada tabung-tabung kaca di sana. Ternyata di situlah miniaturnya. Yang memang mikromini, kami harus menggunakan kaca pembesar yang dipasang di tabung-tabung kaca itu. Hasilnya: luar biasa! Ini karya besar dalam medium micro. Figur-figur dari emas yang dipasang pada lubang jarum misalnya, atau pada sebutir beras atau pada sehelai rambut. Selain itu Nikolai Siadistry juga masih membuat lukisan wajahnya dari huruf-huruf yang bisa dibaca dengan menggunakan kaca pembesar. Ini benar-benar pekerjaan besar!

Selesai melihat micro miniatur museum yang membuat kami terkagum-kagum, kami mulai “perjalanan” di museum ikonografi gereja timur. Proses pembuatan ikon-ikon tersebut diterangkan dengan sangat antusias proses oleh si ibu penjaga museu,  juga tentang figur-figur yang ada dalam ikon-ikon itu. Beres melihat-lihat ikon-ikon di museum ikonografi yang terasa dingin (memang dingin, mungkin untuk menjaga suhu ruangan agar tidak merusak ikon-ikon yang kebanyakan terbuat dari kayu supaya tidak berjamur), kami membeli beberapa kartu pos. Inginnya sih membeli matrioshka-matrioshka lucu (ada Winnie the Pooh dan teman-temannya yang “beranak pinak” sampai ke yang imut seimut-imutnya. Lucu…) atau anting-anting kecil atau hiasan apapaun yang diberi lukisan bunga sangat detil dan kecil. Saya tak bisa lepas kagum dengan keindahan dan ketelitian seniman yang mengerjakannya.

Hujan di luar ketika kami meninggalkan museum. Niat mencari makan malam, mumpung masih di Ordino, karena jika sudah sampai hotel mau cari makan di mana lagi? Ngga enak juga kalau minta tolong Abdiel pesan dan ambil pizza lagi, sedangkan restaurant di hotel sebelah tampaknya juga tidak buka. Sebelum ke museum, kami sudah mengincar satu restaurant kecil dekat museum. Tampaknya menarik dan menu yang ditawarkan juga cukup menarik dan murah. Masuklah ke dalam, memang menarik tempatnya. Sudah duduk nyaman dan siap memesan makanan, tentu dengan harapan besar akan makan enak, ternyata pelayannya menghampiri kami sambil berkata bahwa mereka sudah tidak menyediakan makanan berat jam segitu (kurang lebih jam 19). Yaahh….dengan kecewa kami keluar restaurant itu dan kembali bingung harus mencari makanan di mana, karena setahu kami di dekat-dekat situ tidak ada restaurant yang representatif. Representatif dalam arti harga terjangkau, hehe.

Ada dua restaurant yang kami ketahui ada di sekitar situ, setelah mencoret cafe di gym dekat tourist information. Satu restaurant juga kami coret karena pasti mahal (again, hehe). Jadi kami menuju ke atas, tempat kami pertama datang. Dengan kesadaran bahwa jam tujuh malam tentu saja restaurant belum buka untuk dinner, jadi ya dengan terpaksa kami makan di cafe. Tak apalah, daripada ngga makan, hehe. Menunya tortilla de patatas –Spanish omelette- saja kok cukup, hehe. Itu saja sudah mengenyangkan sekali.

Selesai makan, memutuskan kembali ke hotel daripada ketinggalan bis yang datang cuma sejam sekali itu sambil berbekal muffin, jaga-jaga kalau lapar tengah malam. Dan benar saja, muffin itu berguna, karena kami kemudian di kamar memang mengobrol panjang lebar sampai jam 4 pagi. Hehehe, begitulah. Padahal hari itu kami sudah harus meninggalkan Andorra menuju Girona. Duh, kok rasanya males juga ya, hehe.

#3 Barca – Andorra: such a perfect day :)

Bangun pagi, Lola langsung dong bekerja sambil selimutan, sementara saya mandi kemudian packing. Kami akan berangkat ke Andorra sore itu, jadi siangnya masih bisa dipakai jalan dan makan di La Rambla. Selesai sarapan dengan menu yang sama seperti kemarinnya, kemudian check out, kami pergi ke Estacio de Busos untuk menyimpan barang. Kali ini tidak ada masalah dengan orientasi di stasiun metro. Yang menjadi masalah adalah mesin validasi ticket. Kami membeli ticket group, yang artinya untuk kami berdua kami hanya pegang satu ticket. Ini ternyata tidak praktis, karena kami harus melewati mesin validasi ticket satu-satu. Setelah Lola masuk, dia menyerahkan ticketnya kepada saya, baru saya bisa masuk. Sekali waktu, ticket bisa divalidasi untuk Lola, tapi ketika saya mau lewat, tidak bisa lagi. Walah, bagaimana ini. Lola sudah di seberang, sementara saya masih di dalam. Terpaksa saya membeli ticket baru supaya bisa lewat. Ada-ada saja.

Setelah menyimpan tas di locker di Estacio de Busos, kami jalan kaki melewati Arc du Triompf menuju Placa Catalunya. Tidak terlalu sulit, petunjuk arahnya juga cukup jelas. Foto-foto sebentar di Placa Catalunya yang penuh dengan burung merpati, lalu kami lanjut lagi menyusuri La Rambla. Sambil cari-cari souvenir dan kartu pos. Akhirnya kami masuk ke salah satu toko souvenir, yang punyanya tampaknya orang India atau at least dari Asia Selatan lah, yang menyapa kami dalam bahasa Indonesia, hehe. Mungkin India-Malaysia. Lumayan juga, jadi dapat diskon, hehe.

Beres urusan souvenir, lanjut lagi cari makan siang. Wah, menggoda sekali duduk-duduk sambil makan di La Rambla. Kalau Lola sambil minum Sangria, itu yang belum tercapai, karena kalau minum Sangria pasti harus dalam porsi besar.  Cuaca saat itu juga cukup cerah. Oh ya, ada satu keinginan yang terpaksa kami lewatkan: melihat pertunjukan Flamenco. Ingin sekali, tapi mahal, jadi ya sudahlah, dicoret dari list saja.

Setelah lihat-lihat, akhirnya kami memutuskan duduk di pinggiran La Rambla di depan salah satu restoran yang menyediakan menu paket Tapas dan Paella untuk lunch dengan harga 9,95 € saja dan menyediakan Sangria dalam porsi yang tidak terlalu besar. Dan ternyata, sebenarnya restoran itu restoran Cina yang menyediakan Spanish Menu. Hehe, tak apalah. Toh kemarinnya kami sudah makan di restoran Spanyol juga.

Pilih-pilih menu Tapas, kami minta kroket tanpa daging, setelah ditanyakan daging yang dipakai adalah Llom. Saya tidak bisa makan. Sedangkan Paellanya kami pilih yang biasa. Tapas datang, saya agak curiga karena kroket yang datang ternyata berdaging, seperti kornet begitu. Lola mencicipinya duluan. Dia sendiri tidak tahu itu daging apa, memang rasanya seperti kornet. Ya sudah, saya coba juga. Saat akan memasukkan suapan kecil kedua atau ketiga, tiba-tiba pelayan yang awalnya melayani kami dan tahu betul bahwa kami memesan kroket tanpa daging datang menghampiri kami dengan tergopoh-gopoh dan dari ekspresi wajahnya saat itu, lalu jari yang menunjuk ke kroket, kami tahu bahwa kroket itu berdaging babi. Ups! Hahahaha. Kami langsung berhenti makan, saya maksudnya. Lola juga kaget. Tapi mau gimana lagi?! Hihihi. Memang yang mengantarkan kroket itu bukan pelayan yang mencatat pesanan kami, jadi dia pasti tidak tahu bahwa kami memesan kroket tak berdaging. Tak ada yang berkata-kata saat itu terjadi, cuma ekspresi wajah yang menunjukkan ada yang salah, jadinya kami malah tertawa-tawa, sementara si pelayan balik kanan dengan ekspresi wajah yang entah merasa bersalah atau apa, ngga jelas, haha. Ya sudah, akhirnya kroket dihabiskan Lola, sambil menunggu Paella yang menyusul kemudian. Ini aman, karena isinya seafood. Hehehe, ada-ada saja.

Hari itu memang acara kami hanya makan siang saja di Barcelona, karena bis ke Andorra akan berangkat jam 15. Jadi selesai makan, kemudian mampir sebentar ke Cortes de Ingles untuk nebeng ke toiletnya seperti biasa, kali ini sambil lihat-lihat barang juga karena kami sudah tahu toiletnya ada di mana, hehe. Selesai dari situ, naik metro ke Arc de Triompf (sampai hafal daerah itu, saking bolak balik terus ke sana), ambil barang dan menunggu bis berangkat ke Andorra. Ticket bis ke sana sendiri seharga 25 €. Bisnya besar dan nyaman. Perjalanan Barcelona – Andorra sendiri akan memakan waktu sekitar 3 jam. So, adéu Barcelona. Masih ingin menjelajahi Barca sih, tapi lain kali lah. Sekarang ke Andorra dulu.

Dan pemandangan pegunungan Pyrenees amat sangat indah!!! Sepertinya semua mimpi dan gambar-gambar yang saya lihat di buku-buku waktu kecil terpampang di depan mata. Gunung dan tebing-tebing tinggi, masih ada sisa-sisa salju, jalan yang berkelok-kelok naik turun, belum lagi melintasi danau yang tampak hijau turkish. Indah, indah, indah. Tapi lho, kenapa lama-lama saya mual dan pusing ya? Lama-lama kok merasa gunung-gunung tinggi itu mau menimpa saya? Apa karena jalannya berkelok-kelok juga? Ngga tahu, tapi daripada saya mabuk darat, mendingan saya tidur menyusul Lola yang sudah nyenyak dari tadi.

Kami bangun saat bis berhenti di perbatasan dan ada pemeriksaan dokumen. Cukup ketat juga, bahkan anjing pelacak juga sampai masuk ke dalam bis. Namun, semua aman dan kami melanjutkan perjalanan lagi. Tak lama sampai juga kami di Estacio de Busosnya Andorra La Vella, ibu kota negara Andorra yang terletak di antara Perancis (daerah Arriege) dan Spanyol (Catalunya). Ini negara kecamatan, kalau meminjam istilah teman saya, karena kecil, walaupun tak sekecil dua negara kecamatan yang pernah saya kunjungi yaitu: Vatican dan Liechtenstein.  Luas Andorra 468 km², 8 %nya dihuni dan 92%nya hutan, danau, sungai dan pegunungan. Ups! Hehe.  Jumlah penduduk negara Andorra juga hanya sekitar 84.000 orang.

Kami sudah berbekal nomor bis yang harus kami ambil untuk sampai ke Ordino, tempat kami akan menginap. Namun, jangan harap kami bisa sampai ke sana dengan mudah. Setelah menanyakan ke petugas di Estacio de Busos di mana kami bisa naik bis ke Ordino, yang dijawab dengan “La Poste” saja, tanpa tahu apa-apa kami kemudian jalan ke belakang stasiun bis melewati tempat parkir dan menemukan La Poste, kantor posnya. Ada papan penunjuk arah ke Ordino dan ada halte bis di sana. Dan sekali lagi, jangan harap kami bisa dengan mudah naik bis, karena bis yang kami tunggu, nomor 6 tidak datang-datang juga, sementara di halte bis tidak tertera sama sekali bis apa saja yang lewat dan jadwalnya. Haduh. Udara dingin saat itu dan hujan gerimis pula. Ada dua halte di sana, kami juga bingung harus menunggu di halte yang mana. Menunggu ada mungkin sekitar 1 jam atau lebih, saya lupa,  sudah hampir putus asa, bahkan Lola sempat menelfon dulu yang punya penginapan, menanyakan bagaimana caranya kami bisa sampai ke hotel tempat kami akan menginap. Ternyata dari Ordino itu kami masih harus naik bis kecil lagi ke arah El Serrat. Duh, mas, kenapa ngga bilang dari dulu.

Dan tunggu punya tunggu akhirnya ada juga bis nomor 6 bertuliskan Ordino, aaahhh…..lega. Naiklah kami, beli tiket di sopir bisnya seharga 1,50 €. Tidak terlalu mahal, karena ternyata Ordino itu jauh juga dari Andorra La Vella. Melewati lagi pemandangan yang bagus, sambil memperhatikan jalan, karena kami sejujurnya tidak tahu kami harus berhenti di mana, hehehe. Menurut petunjuk yang punya hotel ya berhenti di Ordino, tapi di halte apa ya kami tidak tahu. Dan semua halte bis tidak ada namanya dan tidak ada pemberitahuan kami sudah sampai mana. Hoalah! Ya sudah, akhirnya mengandalkan intuisi lagi: berhenti di halte bis terakhir.

Ya, halte bis terakhir. Di mana ini? Lalu kami harus naik apa? Katanya harus naik bis kecil warna putih ke arah El Serrat. Tapi itu di mana? Tidak ada informasinya sama sekali. Hanya ada tulisan tourist bus 100 m, tanda panah ke bawah. Lah, ke bawah mana? Jalan sebentar, cari-cari, apa mungkin ada halte yang lain, tidak ada juga. Waktu itu sekitar jam 18an, masih terang, karena sudah akhir Maret. Tapi dingin tetap lah ya. Saya lalu bertanya pada tiga orang yang sedang mengobrol di seberang, bagaimana kami bisa sampai ke El Serrat. Beruntung salah seorang dari mereka bisa bahasa Inggris. Dan informasi yang diberikan cukup mengagetkan, katanya El Serrat cukup jauh dari Ordino sementara bis sudah tidak ada lagi, baru ada besok pagi dan naik taxi tentu saja mahal. Waduh! Bagaimana ini? Kami benar-benar ada in the middle of nowhere.

Akhirnya Lola menelfon lagi yang punya penginapan, katanya kami harus naik bis di depan tourist information, gedung putih berjendela banyak. Bis masih ada sampai jam 9. Yang jadi tantangan sekarang adalah di manakah letak tourist information-nya? Jalan lagi ke bawah, cari-cari tidak ditemukan juga. Tanda “i” menunjuknya ke atas, balik lagi. Dan jalan di Andorra, terutama di Ordino itu naik turun cukup terjal. Akhirnya kami memutuskan untuk naik lagi dan menunggu di halte sebelum halte terakhir. Di situ ada jadwal bis memang, keciiill…sampai ngga kelihatan. Bis ke El Serrat memang ada: 1 jam sekali.

Nunggu lagi, gelap lah lama-lama dan semakin dingin dong, sementara bis yang katanya kecil berwarna putih tidak datang-datang juga. Yang datang ya bis no 6 dari Andorra la Vella ke Ordino dan kembali lagi ke Andorra. Jam 8 lewatlah sudah, tidak ada bis yang diinginkan yang datang. Sampai ada bis nomor 6 lagi, dan sopirnya bertanya kami mau ke mana. Pakai bahasa Katalanis tentu saja. Tapi bisa diperkirakan lah kira-kira maksudnya. Dan kami menjelaskan dalam bahasa Inggris. Komunikasi yang aneh memang. Kami bertanya di mana tourist informasi dan kami mau menuju El Serrat. Dia bilang kami harus jalan ke bawah, karena bis ke El Serrat tidak melewati tempat kami menunggu saat itu. Oalaaah, jadi betul toh, kami betulan salah, hehe.

Jadi kami jalan lagi ke bawah, itupun masih tidak punya ide di mana letak tourist informationnya. Sopir yang membantu kami tadi kemudian lewat lagi dan dia memanggil kami, sambil menggambarkan peta bagaimana sampai ke El Serrat dari Ordino itu dan di mana kami harus menunggu bis-nya. Ternyata kami harus menunggu bis di tempat dia memanggil kami dan tentu saja: itu di depan tourist information! Halah!

Lega karena tourist informationnya sudah ketemu, tapi kami masih harus menunggu 1 jam lagi karena bis ke El Serrat akan datang sejam lagi. Perut sudah lapar, kedinginan pula, mau cari makanan di mana? Semua toko dan restoran dekat situ tutup, sudah lewat  jam 20 soalnya. Okay, harus menahan lapar ini dan kami ragu apakah kami bisa dapat makanan juga, secara itu tempat jauh kemana-mana. Hmm.

Sambil menunggu itu, Lola ternyata dapat miscalled dari hotel tempat kami akan menginap. Ditelfon balik, si yang punya hotel heran kenapa kami belum sampai juga. Ngga nemu bis-nya. Mau gimana? Salah tempat nunggu. Akhirnya dia bilang mau menjemput kami. Halaaah! Lega! Senang betul! Akhirnya kami tidak harus menunggu sambil kedinginan selama 1 jam. Kami akhirnya menunggu di depan tourist informasi.

Menunggu sekitar 15 menitan itu tak seberapa dibandingkan harus sejam lagi menunggu bis. Ada mobil orange datang menghampiri dan itu dari Hotel Anem tempat kami akan menginap. Duh! Rasanya seperti mendapat apa. Yang menjemput namanya Abdiel. Masih muda, ramah. Ngobrol-ngobrol sepanjang jalan. Pfui, ternyata memang hotelnya jauh.  Hahaha. Beruntunglah si Abdiel mau menjemput kami.

Hotel Anem ini tidak terlalu besar. Hostel tepatnya. Kalau menurut pesanan, kami harusnya berbagi kamar mandi, tapi karena tidak ada pengunjung hotel yang lain, kami bisa pakai kamar mandi itu untuk mandi sendiri. Asiikk…  Kamar kami nyaman, kamar mandinya pun nyaman. Ada bathtub-nya. Sudah membayangkan berendam dengan nyaman di situ. Enak kayaknya.

Kami minta tolong Abdiel untuk memesan pizza, karena cuma satu-satunya itu yang masih bisa dipesan. Si Abdiel ini benar-benar baik, karena dia mau mengambil pizza yang hanya bisa diantar sampai Ordino. Duh, kami memang “terkurung” di tempat entah di mana. Tidak bisa kabur ke manapun.

Menghangatkan diri dulu di dekat Heizung sambil menunggu pizza dan air minum. Pizza datang, langsung disantap dengan kalap. Tak habis memang, karena kami pesan dua pizza ukuran besar. Tapi itupun cuma bersisa sedikit. Selesai makan, siap-siap tidur. Eh, Lola masih bisa bekerja denk. Hehehe, saya sih sudah teler berat. Mari kita tidur saja berselimut hangat. Kami bersyukur hari itu bisa terlewati dengan banyak keberuntungan dan bertemu orang-orang yang baik. Oh ya, kata Abdiel yang pernah ke Indonesia, kami adalah orang Indonesia pertama yang datang ke hotelnya. Okay, patut dicatat ini. Dua orang perempuan mungil dari Indonesia, malam-malam nyasar-nyasar di Ordino, hihi. Lagian iseng mau ke Andorra segala, hehehe. Namun, kalau ngga nyasar ya ngga akan tahu apapun juga. Ah, mari tidur saja. Besok kami akan menelusuri negara kecamatan ini.

#2: Hola Barcelona!

Bangun pagi, sarapan di bawah, menunya baguette, marmelade dan manteiga (hehe, langsung kenal dengan kata ini), orange juice dan earl grey untuk saya, kopi untuk Lola. Sebagai „penikmat“ sarapan, kami sarapan dengan santai dan tenang, tidak terburu-buru. Ini penting, kalau tidak, kami bisa bete seharian, hehe. Setelah selesai, mulai meluncur ke tujuan utama kami. Kali ini kami sudah tahu ticket apa yang harus kami beli. Beli D ticket seharga 6,45 € untuk sehari, bisa dipakai naik turun metro.

Tujuan pertama adalah Parc Güell. Naik L6 sampai Catalunya, dari situ kami harus pindah naik L3 atau L4. Dan dimulailah lagi kebingungan di Catalunya. Setelah turun, kami mengikuti petunjuk menuju L3 dan L4, yang sudah kami naiki hari sebelumnya.  Naik ke atas, ternyata tidak ada tanda apa-apa lagi tempat L3 dan L4 ini berada. Naik lagi ke arah jalan raya, tidak ditemukan juga. Turun lagi, mencoba jalur keluar yang lain, tidak ada juga. Muter-muter sampai sekitar 10 menit, tidak kami temukan juga. Di mana kami harus naik L3 dan L4? Sampai bolak-balik kami lihat papan petunjuk arah, tertulis L3 dan L4. Tapi di mana? Ada tanda panah melingkar membuat kami berpikir mungkin harus berputar, tapi juga berputar di mana? Ayo, ayo, berpikir a la Spanyol, jangan a la Jerman yang lurus-lurus saja. Kami kemudian memutuskan jalan kea rah Plaça Catalunya dan ada petunjuk L3 dan L4 lagi. Kami coba turun, dan yeah….benar! Pfui, akhirnya! Jadi ketawa-ketawa juga. Haduuh… susah betul ternyata berorientasi dan membiasakan diri dengan aturan suatu kota, yang biasanya juga mencerminkan cara berpikir manusianya.

Ah, akhirnya kami bisa juga melanjutkan perjalanan ke Parc Güell. Parc Güell adalah sebuah kompleks taman dengan elemen-elemen arsitektural yang dirancang oleh Antoni Gaudi. Taman yang dibandung dari tahun 1900 sampai 1914 ini terletak di Bukit el Carmel dan menjadi bagian dari daerah yang termasuk ke dalam UNESCO World Heritage. Hanya empat stasiun dari Catalunya ke Lesseps, tempat kami harus turun untuk menuju ke Parc Güell. Beruntung petunjuk di Plaça Lesseps ke Parc Güell cukup jelas, jadi kami tidak terlalu kesulitan. Beruntung hari itu cerah sekali, sehingga kami bisa berjalan kaki ke dengan nyaman ke Parc Güell. Tidak sulit juga jalan ke sana, melewati Travessera de Dalt, belok ke Avenue Santuari de Sant Josep de la Muntanya yang berujung di Parc Güell. Sepanjang jalan kami tertawa-tawa karena banyak sekali turis dari Jerman. Jauh-jauh ke Barcelona, ketemunya orang-orang Jerman lagi dan mendengar bahasa Jerman lagi. Hehe, Spanyol memang tempat kesukaan mereka. Dan kami senang, karena kami bisa „ngomongin“ mereka tanpa diketahui, soalnya pakai bahasa Indonesia, hehe.

Dan Parc Güell penuh sekali! Haduh! Niatnya motret-motret bangunan dan taman yang penuh dengan ornament mosaic-mosaik warna-warni khasnya Gaudi di sana jadi tak cukup leluasa. Orang semua. Menikmati arsitektur bangunan-bangunan yang dibuat Gaudi ini juga jadi tak tenang. Tapi ya tak bisa disalahkan, di akhir musim dingin, menjelang musim semi, tiket ke Spanyol memang murah, dan Barcelona sudah tak usah diragukan lagi, kota ini tak pernah sepi. Lihat-lihat di bawah, kami naik ke atas bukit dengan harapan di atas agak kosong. Memang agak kosong, tapi juga tak banyak yang bisa dilihat. Namun, minimal kami bisa melihat Barcelona dan Laut Mediterania dari ketinggian bukit el Carmel. Indah! Tak berhasil memotret karya Gaudi, Lola akhirnya jadi „korban“ kamera saya, hehe.

Setelah istirahat sebentar di atas, kami kemudian memutuskan turun dan mencari tempat untuk makan siang. Memotret dulu sebisanya, lalu kami turun dan makan di salah satu restoran yang menyediakan Paella. Ini memang makanan yang kami incar, walaupun kami tahu, “nasi goreng” a la Spanyol ini nasinya pasti tidak matang, hehe. Tapi, makanan khas harus dicoba lah ya.

Di restoran yang kecil namun cukup nyaman dengan pelayannya yang ramah kami memesan calamari untuk pembuka dan Paella satu pinggan untuk kami berdua. Kecuali nasinya yang masih aron tentu saja, Paella seharga 11 € itu cukup terasa bumbunya. Lumayan lah. Selesai makan, kami melanjutkan perjalanan ke La Sagrada Familia, gereja katolik Roma terbesar di Barcelona yang juga dirancang oleh Gaudi. Letak gereja ini tak jauh dari Parc Güell. Kami hanya perlu naik L3 atau L4 lagi kea rah sebaliknya, berhenti di Diagonal, kemudian naik L9 atau L10 ke arah La Sagrera dan berhenti di Sagrada Familia. Hanya dua stasiun juga dari Diagonal. Kali ini kami tidak terlalu kesulitan berorientasi, syukurlah, hehe.

Sagrada Familia, gereja ini jadi obsesi terbesar Gaudi. Mulai dibangun tahun 1882, sampai Gaudi meninggal di tahun 1926 gereja ini belum selesai dibangun dan direncanakan selesai tahun 2026 sekaligus untuk memperingati 100 tahun wafatnya Gaudi. Walaupun belum selesai, gereja yang mengombinasikan gaya Gothik dan curvilinear serta bentuk Art Nouveau ini termasuk ke dalam salah satu bangunan terindah di dunia dan juga masuk ke dalam situs UNESCO World Heritage. Kami tidak masuk ke dalam gerejanya, karena antrian yang panjang dan hehe…agak mahal ticket masuknya, jadi kami hanya melihat-lihat gereja ini dari luar. Terus terang saya agak takut saat melihat gereja ini, entah kenapa, kesannya spooky dan takut juga gereja itu meleleh. Jika dilihat dari kejauhan memang seperti lelehan tanah liat, padahal kalau dari dekat, ornamen-ornamen yang berbentuk daun, bunga-bunga dan sulur-sulur yang membawa kesan gereja ini seperti mau meleleh.

Tidak terlalu lama di sana, kami melanjutkan perjalanan ke tujuan berikutnya: Plaça Catalunya, La Rambla dan marina-nya. Naik metro sampai Universitat, dari situ kami berjalan kaki sampai ke Plaça Catalunya, alun-alunnya Barcelona, yang ramai dan dipenuhi burung merpati. Dari situ kami berjalan kaki menyusuri La Rambla yang sangat ramai dan hidup. Semua orang tumplek di sana, banyak pertunjukan seni juga. Café-café dan restoran yang menyediakan kursi-kursi di luar ditambah cuaca yang cerah cukup menggoda kami, begitu juga toko-toko di pinggir jalannya. Kami sempat masuk ke salah satu jalan kecil dan foto-foto dulu di depan sebuah gereja yang rupanya juga jadi tempat berkumpul anak-anak mudanya. Banyak yang bisa dilihat di sepanjang La Rambla ini, tidak cukup sehari!

Kami lanjut berjalan ke arah marina, setelah sempat foto-foto iseng di dekat Mirador de Colom. Dasar dua turis ini tukang makan, hidung kami cukup peka mencium wangi kue dan makanan. Kali ini wangi crepes dan wafel. Akhirnya kami memutuskan beli wafel dan minum sambil duduk-duduk menikmati matahari sore di depan Port Vell. Setelah menghabiskan wafel, kami menyeberang Rambla de Mar dan duduk-duduk di depan Multicines. Angin sepoi-sepoi, matahari sore yang hangat membuat ngantuk juga. Rebahan sebentar di bangku kayu di sana, lama-lama sakit juga soalnya, hehe.

Selesai menikmati keindahan sore di tepi pantai di Barcelona, kami kembali menyusuri La Rambla menuju Catalunya, kemudina kembali ke Arc du Triompf dank e Estacio de Busosnya untuk membeli tiket bis ke Andorra. Kami akan berangkat keesokan harinya ke Andorra. Di stasiun metro Catalunya saya sempat didesak-desak oleh seorang perempuan yang tangannya ternyata sedang berusaha merogoh tas kamera saya. Untung tas itu agak sulit dibuka, jadi selamatlah. Ya, harus berhati-hati memang.

Sempat agak bingung juga di mana kami harus membeli tiket karena semua loket tutup, ternyata tiket bis ke Andorra bisa dibeli di salah satu automat. Beres urusan tiket, kami kembali ke Catalunya untuk makan malam, sebelum pulang ke penginapan. Setelah „insiden“ toilet di Estacio de Busosnya, setibanya di Catalunya tentu saja kami harus mencari toilet dulu. Ini juga perjuangannya luar biasa deh, hehe. Masuk ke salah satu department store besar El corte Inglés, dengan harapan bisa ke toilet yang cukup bersih. Tapi itu toilet juga ada di sebelah mana? Muter-muter-muter, boro-boro ingin lihat barang-barang bagus (ya tertarik juga sih), naik turun, tidak tampak juga toilet yang dicari. Setelah putus asa dan memutuskan untuk keluar saja, eh, ternyata ketemu juga itu toilet. Nyempil di pojokan. Oalaaahh….

Selesai urusan mendesak ini, kami melihat-lihat dulu sebentar barang-barang bagus yang dari tadi sudah melambai-lambai minta ditengok. Ditengok bolehlah, beli? Hmm…pikir pikir dulu, hehe. Setelah itu kami lanjut jalan mencari restoran. Ini satu “perjuangan” lain lagi. Perut sudah lapar, tapi ya seperti biasa, restoran menyediakan makan malam di atas jam 21. Kami jalan kaki lagi kea rah Universitat dengan pemikiran di daerah Universitas mungkin akan ada café atau restoran mahasiswa yang murah meriah dan buka lebih awal. Dan tidak ada dong, saudara-saudara, hehe. Akhirnya, ya sudah lah, seketemunya saja. Saat itu baru jam 20-an juga. Beruntung di jalan menuju ke arah Catalunya kami menemukan restoran Cina yang buka dan menyediakan menu dengan harga cukup terjangkau. Ya sudah, masuklah ke sana. Makan makanan Cina di Spanyol? Tak apalah, haha.

Pesan nasi, sayur dan daging. Nasi yang benar-benar nasi, hehe. Tampaknya memang cuma orang Asia yang bisa memasak nasi dengan benar. Makan kenyang dan akhirnya saya minum teh juga, hehe. Duduk cukup lama di sana sambil cerita-cerita, baru terasa juga capeknya setelah jalan seharian dan nyasar-nyasar di Catalunya. Akhirnya kami memutuskan pulang, karena kaki rasanya sudah mau copot, hehe.

Sebelum kembali ke penginapan, kami masih mampir dulu ke „Dim“, membeli air. Cuma itu satu-satunya tempat yang kami tahu masih buka. Sampai penginapan, sudah tidak bisa apa-apa lagi. Sikat gigi, cuci muka, langsung tidur. Besoknya kami masih akan menyusuri lagi La Rambla sebelum pergi ke Andorra.  Walaupun melelahkan, tapi kami senang J