Praha

Kali kedua ke Praha, tak menemui Kafka, tapi Smetana, di tepi Vltava. 8 tahun lalu ruang dibuka oleh Kafka yang merindu rumah. 8 tahun kemudian iringan Smetana memenuhi jiwa. Dan Praha tetap menjadi ensemble klasik, paduan harmonis budaya dan manusianya. Kafka dan Smetana di tepian Vltava, yang membelah Praha. (Bayreuth, November 2003 – Bayreuth, November 2011)

Werbeanzeigen

(Belajar) Puasa

Bulan Ramadhan di Jerman biasanya bulan saya mendadak „beken“. Bukan karena apa-apa, tetapi karena banyak orang yang bertanya tentang puasa, dari mulai pertanyaan yang murni karena tidak tahu dan ingin tahu seperti mengapa puasa, bagaimana menjalankannya, bagaimana kalau tidak kuat, dll sampai ke pertanyaan yang jawabannya kadang mereka sudah punya sendiri, misalnya puasa itu tidak bagus untuk kesehatan karena tubuh tidak mendapatkan nutrisi dan cairan sepanjang puasa, sampai ke masalah penyiksaan badan. Saya bukan pakar di bidang agama, belum cukup sholeh dan pintar dalam mengutip ayat-ayat dan hadist lengkap dengan istilah dalam bahasa Arab, jadi saya jawab pertanyaan-pertanyaan itu semampu logika dan pemahaman saya.  Kalau mood sedang bagus, biasanya saya jawab dengan „bagus“ juga, tapi kalau mood sedang jelek ya tidak saya jawab juga, atau saya jawab pendek agak jutek. Ya, ya, ini penyakit saya. Namun, saya jarang kok menjawab seperti itu, kan sedang puasa, masa jutek sama orang lain sih. Paling saya buat jadi candaan saja. Atau saya sudah „mengancam“ duluan dengan bilang: bosan pertanyaannya begitu  terus, sepertinya saya harus merekam jawaban saya karena dari tahun ke tahun pertanyaannya tidak kreatif, itu terus, jawaban saya juga jadinya tidak kreatif. :)

Jadi, tahun ini kalau dihitung sudah 7 kali saya puasa di Jerman, walau tak berurutan. Pertama kalinya di tahun 1997. Saat itu tak terasa kalau mau dilihat puasa sebagai saat menahan lapar dan haus, karena musim dingin, siang jauh lebih pendek. Matahari baru terbit jam 7.30an dan terbenam jam 16.30an. Lagipula saat itu saya kerja sampai jam 15. Selesai kerja, siap-siap bentar, maghrib deh. Begitu juga tahun-tahun berikutnya, saya masih kebagian puasa di musim dingin. Tahun lalu baru saya „kena“ puasa di musim panas, dan tahun ini juga. Puasa yang „menakutkan“ karena siang yang panjang. Imsak jam 2.30an dan buka jam 21 bahkan 21.30an. Terus terang, awalnya juga saya „takut“ membayangkan apakah saya kuat menahan lapar dan haus selama itu. Selama di Jerman, saat „membayar“ puasa pun biasanya saya lakukan segera saat musim dingin, takut siang keburu panjang. :)

Namun, bicara ketakutan, rasanya saya memang penakut. Dulu pun sempat takut saat pertama kali akan menjalani puasa di Jerman, saat musim dingin. Takut tidak kuat lah karena harus berpuasa pada suhu di bawah nol, takut ngiler lihat makanan ini itu, takut semua.  Perlukah? Ternyata tidak, karena setelah dijalani ternyata puasa ya biasa-biasa saja. Lapar memang, haus memang, tapi rasanya saya malah sering merasa kelaparan dan kehausan berat saat tidak berpuasa. Ah, sugesti saja. Mungkin. Karena otak „memanipulasi“ perut untuk tidak terlalu merasa lapar dan haus. Tergantung niat, kata orang-orang yang mengerti agama. Dan puasa di musim panas, yang tadinya saya bayangkan akan terasa sangat panjang,lama, pokoknya menakutkan, ternyata tidak semenakutkan itu. Entah kenapa juga, dua kali puasa saat musim panas, suhu dan cuacanya juga cukup mendukung untuk tidak merasa terlalu kehausan dan kelaparan.

Itu kalau masalah lapar dan haus. Bagaimana dengan godaan lainnya? Melihat orang bebas makan dan minum di mana-mana? Ternyata tidak berpengaruh juga. Puasa jalan terus. Ngiler? Yah, sedikit, tapi bisa tahan lah. Godaan lainnya? Lihat yang telanjang di sana sini termasuk melakukan „adegan panas“? Lama-lama biasa juga, lagipula tidak harus ikutan bernafsu :). Untuk saya yang paling sulit ditahan itu jutsru nafsu belanja dan urusan mengantuk yang tiada tara. Selain tentu saja nafsu mau marah kalau ada hal-hal yang tidak berkenan di hati. Atau nafsu bergossip. Hmm, banyak juga ya? Hehe.

Khusus untuk puasa di musim panas ini, saya baru sadar bahwa mengantuk adalah godaan terbesar saya. Saya yang makhluk nocturnal biasanya tahan begadang sampai subuh dan tidur setelah subuh. Namun, di bulan puasa ini, segera setelah saya berbuka, mata pun langsung terasa dikenai beban seberat beberapa ton. Lebay. Tapi memang sulit sekali untuk bisa tetap membuka mata saat berbuka puasa dan menahan diri untuk tetap terjaga dan sadar bahkan di saat shalat maghrib. Biasanya saya sulit untuk beranjak ke tempat tidur (kalau sudah kena bantal sih saya memang selalu mudah tidur, tapi beranjak menuju tempat bantal itu berada yang sulit), kali ini di mana pun saya bisa jatuh tertidur.

Tadi sore saya diwawancara seorang sahabat untuk sebuah acara di sebuah radio di Jerman (ini wawancara serius walaupun sebelum dan sesudah wawancara acara ngobrol sana sininya lebih banyak), dia bertanya bagaimana cara saya mengatur waktu shalat saat puasa di musim panas ini. Saya terdiam sejenak, iya ya, ini yang sulit untuk saya. Subuh jam 3an, dhuhur jam 13an, ashar jam 17an, maghrib jam 20an dan isha jam 23an. Tarawihnya kapan? Ya pasti setelah isha dong. Bisa sampai jam 24 itu, kalau kebetulan sedang ikut tarawih di mesjid Arab (istilah untuk mesjid yang pengunjungnya kebanyakan dan dikelola orang Arab, bukan orang Turki, tapi orang Indonesia sih enak, bisa ke mesjid mana saja, dan diakui di mesjid mana saja. Tinggal pilih ingin yang cepat atau yang pendek, hehe. Eh, mesjid juga politis lho, walaupun seharusnya tidak  ;) ) yang imamnya sering membacakan surat-surat panjang dan tarawihnya sampai 21 bahkan 23 rakaat. Pulang ke rumah istirahat sebentar sudah siap-siap lagi untuk sahur. Nah lho, tidurnya kapan?

Ternyata untuk saya pertanyaannya jadi terbalik,  bukan lagi bagaimana saya mengatur waktu shalat jadinya, karena shalat ya jadwalnya sudah ditetapkan, dan ingin saya jalankan sesuai waktu. Namun, bagaimana saya mengatur waktu tidur saya. Karena di bulan puasa ini, biasanya saya juga suka mendadak jadi ingin lebih rajin melakukan ritual spiritual saya. Atau jangankan itu lah, untuk „urusan duniawi“ saja, di bulan puasa juga saya tetap harus bekerja dan menyelesaikan urusan ini itu yang seringkali harus dilakukan pagi-pagi jam 8 atau jam 9. Sehabis makan sahur dan buka saya tidak bisa langsung tidur juga, berbahaya untuk kesehatan (ini tentu berlaku untuk setelah jam-jam makan lainnya juga).  Jadi kapan saya tidur, jika saya baru bisa tidur sekitar jam 5 atau jam 6 pagi kemudian jam 8 atau jam 9 sudah berkegiatan sepanjang hari sampai sore, sementara waktu malam yang pendek juga tidak memungkinkan untuk tidur langsung sampai subuh, kecuali kalau mau tidak sahur. Namun, saya bukan tipe orang yang bisa puasa tanpa makan sahur atau dengan cukup minum air putih saja. Tepatnya lagi saya tidak mau, sadar diri saja, perut saya sudah cukup bermasalah, jadi tidak mau mengambil resiko sok kuat tidak pakai sahur, walaupun biasanya saat sahur pun saya masih cukup kenyang, karena jarak dari waktu berbuka ke sahur itu cukup pendek. Akhirnya, saya mencuri-curi waktu untuk tidur di antara waktu dhuhur dan ashar, atau di antara ashar dan maghrib atau di antara maghrib dan isha. Sejam dua jam saja. Tidak cukup kalau mau mengikuti keinginan, tapi daripada tidak tidur sama sekali, waktu ini sudah sangat berharga.

Jadi, masalah utama saya ternyata bukan di saat berpuasa siang hari, tapi justru di saat malam ketika sedang tidak berpuasa lagi. Itu kesulitan utama untuk saya, jika saya ditanya apa kesulitan puasa saat musim panas:  menyesuaikan waktu tidur. Dan makhluk nocturnal seperti saya pun ternyata menyerah juga pada godaan kantuk ini. Ujian terberat untuk saya ternyata bukan pada saat menahan lapar dan haus, menahan nafsu makan dan minum di siang hari, namun menahan kantuk, ya itu tadi, agar saya bisa tetap dalam keadaan sadar saat makan dan minum di waktu berbuka dan di saat shalat, agar saya tidak jatuh tertidur menelungkup di atas piring atau langsung nyenyak saat sujud di waktu shalat.

Ya, tentu saja, puasa bermakna lebih dari sekedar menahan lapar dan haus, begitu pelajaran yang saya ketahui dari orang-orang yang lebih mengerti agama. Puasa katanya juga bermakna pengendalian diri. Dan saya bersetuju dengan itu, sudah disebutkan di atas. Namun, puasa untuk saya juga adalah proses penyeimbangan, lahir dan batin, dengan menahan beberapa hal untuk melakukan beberapa hal lainnya. Dan proses ini, saya tahu, seharusnya tidak hanya terjadi di bulan puasa saja, tetapi –idealnya- di bulan-bulan yang lainnya juga. Tidak mudah, saya sering –dan hampir selalu- gagal.  Lebih dari itu semua, puasa untuk saya juga bermakna syukur. Tidak hanya pada kenikmatan mencecap teh hangat pertama setelah belasan jam tak minum, tapi juga pada kenikmatan bisa memejamkan mata di sela-sela proses penyeimbangan lahir dan batin tadi. Untuk ini, saya harus selalu diingatkan dan mengingatkan diri sendiri, karena saya masih sering juga lupa pada nikmatNya yang bertebaran dalam hidup saya. Termasuk nikmat jadi orang yang mendadak „beken“ di bulan puasa, karena saya pun jadi bisa bertanya lebih banyak pada diri sendiri dan lebih banyak belajar untuk mencari jawabannya. Semoga :)

Surprising Turkey #8

Kejutan 8: Hammam: turkish bath dan dondurma!

Agak santai kami dijemput oleh mobil J&J travel untuk pergi ke Hammam, bisa sarapan dulu di tepi pantai, hehe. Yang pergi bersama kami juga sepasang suami istri asal India. Hammamnya sendiri ada di Marmaris, di sebuah hotel. Lupa namanya. Kami masuk dan berganti baju, diberi handuk lebar dan kemudian masuk ke tempat sauna. Hmm….:) Setelah dari sauna, ini dia bagian yang paling utama: mandi busa sabun. Hammam! Dari makna katanya Hammam ini sebenarnya adalah mandi uap, dikenal di daerah-daerah oriental jazirah Arab, Iran dan Turki. Biasanya yang dimandikan akan berbaring di atas marmer, kemudian disiram, disabuni dengan busa yang penuh sampai menutupi  seluruh badan dan dipeeling oleh seorang Tellak (Bademeister). Benar-benar enak deh, hehe. Setelah  selesai mandi, kemudian dilanjut dengan masker. Saya sampai tertidur saat proses masker ini, saking relaxnya tubuh. Selesai masker, mulailah massage dengan aromatherapy oil. Sayangnya, yang memijat saya tidak terlalu enak pijatannya. Atau mungkin karena saya terbiasa dipijat shiatsu yang keras, ketika dipijat biasa malah jadi terasa tidak enak. Kayak diusap-usap saja, bukannya dipijat, hehe. Tapi ngga apa-apa, proses yang lainnya sudah bikin tubuh saya relax sekali kok.

Membersihkan diri lagi dan kembali ke Marmaris dengan badan harum dan relax. Segar sekali! Memang pilihan yang tepat menempatkan hammam di akhir perjalanan, setelah capek jalan-jalan, tubuh dimanjakan dengan sauna, mandi, masker dan pijat. Surga dunia deh, hehe.

Sempat makan siang di hotel, setelah itu kami tidak ada acara lagi. Ngapain ya, di Turunc saja bosan, ya sudah kami memutuskan ke Marmaris lagi, mau beli pembatas buku tambahan dan mau mencari dondurma. Es krim khas Turki. Di Turunc belum nemu soalnya.

Nyari-nyari-nyari, keliling sana sini, sempat belanja-belanja dulu, belum ketemu juga yang menjual dondurma. Sudah pasrah aja, eeehh..tahunya kami melihat kios kecil didominasi warna pink, dengan gambar penguin lucu bertuliskan “sunshine. ice rock. dondurma” haha, yes! Nemu juga. Tapi, tentu saja ini bukan dondurma tradisional melainkan dondurma yang sudah dimodifikasi dengan isi macam-macam. Yang jualannya juga anak-anak muda, yang agak heran melihat kami berdua yang heran saat si anak mulai “mengolah” dondurmanya. Jadi, dondurma yang berarti: freezing itu adalah es krim khas daerah Aegean yang terbuat dari krim dicampur salep yang terbuat dari bunga anggrek dan chewing gum. Es krim ini bisa ditarik-tarik, dipenyet-penyet, dibolak-balik tanpa meleleh. Perlu waktu sekitar 10 detik untuk membuat es krim dari sendok mencair. Dan kami heran betul saat si anak membolak balik dan menarik-narik es, mencampurnya dengan strawberry dan kacang, dibolak balik lagi dan dimasukkan ke dalam wafel segede gaban kemudian diberi sendok. Ya, makannya harus menggunakan sendok. Masih terkagum-kagum dengan proses pembuatan dondurma tadi, kami menyendok dondurma besar seharga 5 TL itu dan rasanya….enak!! Segar dan enak deh, ngga bisa diterangkan bagaimana rasanya, harus dicoba sendiri. Pokoknya berbeda dengan es krim biasa dan gelato yang biasa saya beli di Jerman.

Puas makan dondurma, kami melanjutkan lagi acara jalan-jalan di Marmaris kemudian duduk-duduk lagi di tepi teluknya. Hari terakhir di Marmaris. Keesokan harinya kami akan kembali ke Jerman. Sore hari, kembali lagi ke Turunc. Dinner terakhir di tepi pantai, diiringi lagu „Goodbye my lover“nya James Blunt. Huaaa…males balik ke Jerman, masih ingin liburan, hehe.

Surprising Turkey #7

Kejutan 7: Izmir dan entertainment on “bus”
Pagi-pagi kami sudah keluar hotel akan berangkat ke Izmir lewat Marmaris, karena bisnya berangkat dari Marmaris. Naik dolmush, belum sarapan, kami berniat akan sarapan di Marmaris saja, karena memang belum jadwalnya sarapan juga di hotel, juga karena kami tidak mau sampai ketinggalan bis. Bis akan berangkat jam 9, perjalanan ke Izmir menempuh waktu sekitar 3 jam, jadi diperkirakan kami bisa sampai tengah hari di Izmir. Dicky, teman saya, akan menjemput di stasiun bis nya.

Sampai di Marmaris, check in dulu, terus mencari sarapan. Tidak jauh-jauh dari pool perusahaan bis Kamilkoc di tengah kota Marmaris, ada sebuah bakery yang juga menyediakan tempat duduk di dalam dan di luar. Asyik juga. Kami membeli Börek, yaitu sejenis roti yang terbuat dari sejenis pastry biasanya diisi keju, daging cincang atau bayam. Sarapan di Turki memang biasanya asin. Selain Börek, tentu saja kami juga minum cay, turkish tea yang enak itu. Minuman wajib, hehe. Untuk menu sarapan itu, per orang kami hanya mengeluarkan uang 1,5 TL atau sekitar 75 cent atau sekitar 7500 rupiah. Murah sekali. Di Jerman 75 cent Cuma harga rotinya saja. Hehe, jadilah kami sarapan dengan senang.

Kami kemudian naik mini bus dulu, diantar ke terminal bis yang berada sedikit di pinggir kota Marmaris. Bis antarkota sudah menunggu di sana. Kejutan manis kami terima begitu masuk ke bis antarkota tersebut. Bisnya bagus dan nyaman sekali dan…dilengkapi dengan layar hiburan layaknya di pesawat di masing-masing tempat duduknya. Wow! Ini belum seberapa, bisnya juga punya “pramugara” berpakaian lengkap, berjas dan berdasi. Kalau sopirnya sih jelas. Itu juga belum seberapa, ternyata….tidak lama bis berjalan kami kemudian disuguhi air (ini masih biasa), tapi lalu datang es krim! Lalu datang lagi kue-kue. Wah! Hahaha, tidak menyangka sama sekali. Itu semua sudah termasuk service mereka. Benar-benar seperti layanan di pesawat. Jadi kita tidak perlu repot-repot bawa bekal air dan makanan, padahal kami sudah siap lho dengan bekal makanan dan minuman, mikirnya perjalanan panjang pasti lapar dan haus, ternyata….tidak perlu! Jangan-jangan, kalau perjalanannya lebih panjang lagi, ada service makan berat juga nih, hehe.

Akhirnya sepanjang jalan menuju Izmir, yang jalurnya sama dengan jalur ke Ephesus, saya menonton film. Semua filmnya didubbing bahasa Turki, ngga ngerti sih, tapi ngga apa-apa lah, hehe. Sisanya, dipakai tidur, hehe. Izmir adalah kota terbesar ketiga di Turki setelah Istanbul dan Ankara, sebuah kota industri. Memasuki kota Izmir sudah tampak pabrik di mana-mana. Dicky sudah menunggu kami di stasiun. Karena kami hanya punya waktu sedikit, kami langsung naik shuttle bus gratis, service dari perusahaan bis Kamilkoc juga,  ke kota Izmir. Izmir terletak di tepi pantai juga. Kotanya cukup sibuk dan padat, maklum, kota industri. Kami kemudian menuju grand bazaar Izmir. Tujuan utamanya memang itu, sekalian makan siang dan beli oleh-oleh.

Masuk ke pasar yang bersih penuh dengan toko-toko souvenir dan turkish delight. Kalau punya waktu banyak, ingin sekali menyusuri pasar dengan santai, tapi saat itu kami sudah lapar juga. Akhirnya mencari tempat makan dulu di tengah pasar. Wow! Ramainya dan seru! Kami memesan makanan khas Turki. Saya memesan izgara köfte, semacam perkedel daging yang dicampuri bumbu oregano, jintan, paprika bubuk,m merica, bubuk cengkeh dan kayu manis. Ah, saya memang selalu suka makanan Turki dan yang sedaerahnya, karena bumbu-bumbunya kaya.

Selesai makan, Dicky membawa kami ke toko langganan dia membeli souvenir. Tawar menawar diserahkan kepada Dicky deh, kami tahu beres. Tidak banyak yang kami beli, hanya barang-barang kecil seperti dompet dan pembatas buku dengan motif-motif karpet Turki dan gantungan kunci. Saya kemudian membeli satu gantungan bumbu berisi beragam bumbu khas Turki. Lola membeli tambahan turkish delight. Setelah itu, kami berjalan pulang menuju pool Kamilkoc, naik shuttle bus nya lagi menuju terminal bis antarkota Izmir. Yup, kami cuma mau makan dan belanja saja di Izmir dan ketemu Dicky tentu saja, haha. Niat banget ya. Namun, dengan begitu kami jadi tahu bagaimana naik bis antarkota super nyaman di Turki, yang kata Dicky bahkan untuk jarak jauh misalnya ke Istanbul dan Ankara bisnya dilengkapi wifi dengan kursi yang juga nyaman untuk tidur. Harganya pun tentu sangat jauh lebih murah dibandingkan naik pesawat. Kalau naik bis bisa senyaman itu, semua orang juga mau naik bis. Coba ya, bis di Indonesia bisa dibuat seperti itu, hehe.

Sampai ke Marmaris jam 9 malam. Sudah kami perkirakan, jadi kami bisa naik dolmush terakhir ke Turunc. Saat itu malam minggu, suasana di jalan sih masih ramai, tetapi Dolmush yang kami tumpangi isinya hanya kami berdua,  ditambah sopir dan pacar si sopir. Dan si sopir tampaknya sedang ingin pamer sama pacarnya, dia menjalankan dolmushnya dengan amat sangat ngebut, ngepot ke sana ke mari, di jalanan yang naik dan turun dengan terjal, bolak belok pula. Belum lagi ditambah house music dengan volume full. Hoalaaaah…tinggal kami berdua yang badannya kecil dan langsing ini sudah terpental-pental di belakang, sambil pegangan erat, kalau ngga jangan-jangan sudah terlempar ke luar, hehehe,sementara si sopir tampak asyik pacaran. Dan bukan hanya itu saja kejutan dari si sopir, tiba di Turunc, dia masih mengajak kami ke rumah pacarnya dulu sebelum akhirnya menurunkan kami di samping hotel. Hoalaaaah….turun dari dolmush lutut gemetaran dan jantung serasa mau copot deh. Bener-bener deh, haha.

Karena itu, makanya kami jadi lapar juga, dan akhirnya memutuskan makan malam dulu di resto kebab dekat hotel. Kebab ayam, tidak terlalu enak sih, tapi daripada kelaparan, toko-toko semua sudah tutup, dan Turunc kan desa, jadi sepi. Semua turis pergi ke Marmaris untuk menghabiskan malam minggu. Memangnya kami, jam 11 sudah selimutan. Turis yang aneh, hehe. Tapi biarin saja, kami sudah senang karena besoknya adalah jadwal kami untuk pergi ke hammam. Yeah!

Surprising Turkey #6

Kejutan 6: “Cotton castle” Pamukkale, Cleopatra’s Thermal dan karpet Turki
Bangun tidur, terus kembali sarapan dengan nyaman dan enak, energi kami sudah siap untuk dipakai berkeliling perbukitan Pamukkale dengan teraseringnya yang indah sehingga membuatnya masuk ke dalam warisan sejarah dunia oleh UNESCO.  Bis membawa kami ke atas. Tiket masuk ke dalam area wisata yang terletak di provinsi Denizli ini sebesar 12 TL. Ahmed masih memandu kami dan seperti biasa memberikan penjelasan yang detil tentang terasering ini.

Saya tidak punya cukup kata untuk menggambarkan keindahan terasering putih dengan airnya yang membiru. Indah! Indah! Indah! Apalagi dari ketinggian bukit ini kita bisa melihat juga pemandangan kehijauan nun jauh di sana. Ditambah lagi dengan langit yang biru terang yang memantul pada teras-teras berisi air yang mengalir ke bawah, menjadikannya seperti  paduan lukisan karya Sang Maha Pencipta dan Maha Indah. Semampu-mampunya saya gunakan mata saya mencerap dan merekamnya dalam ingatan bahwa saya pernah berada di salah satu tempat yang sangat indah ini.

Ingin rasanya berlama-lama di sana, berjalan-jalan telanjang kaki menyusuri tepian terasering ini sambil merendam kaki di airnya yang hangat, tapi ingat harus hati-hati karena batunya cukup licin. Ya, air hangat. Di sini terdapat juga sumber air panas yang kemudian dibuat pemandian bernama Cleopatra’s Thermal. Uniknya pemandian air hangat ini ada di reruntuhan kuil. Jadi jika kita berendam, maka di dasar kolam itu adalah reruntuhan pilar. Menarik dan unik. Untuk berendam kita harus membayar extra sebesar 25 TL. Lola berendam, sedangkan saya duduk-duduk saja sambil beristirahat dan foto-foto.

Selain Cleopatra’s Thermal di kawasan ini juga ada museum dan tentu reruntuhan kota tua Hierapolis. Waktu itu kami sudah dibiarkan bebas, tidak mengikuti rombongan lagi. Karena melihat jalan menuju ke Hierapolis cukup jauh juga, padahal sudah mendekati waktu untuk pulang, akhirnya kami hanya mendekati Hierapolis saja kemudian menuju bis. Capek juga sih.

Dalam perjalanan pulang, setelah makan siang kami mampir dulu ke pabrik karpet Turki terkenal.  Di sana kami diperlihatkan proses pembuatan dengan tangan karpet Turki yang terkenal itu. Pantas harganya mahal: hand made, bo. Setelah itu kami dipersilakan masuk ke ruang pamer, sekaligus galeri tokonya. Sambil menikmati “suguhan” beragam karpet yang indah dari jaman kuno sampai modern, kami juga disuguhi teh apel. Duh, hanya bisa ngiler deh lihat karpet-karpet indah menawan dan empuk itu. Karpet kecil untuk kepala yang digunakan saat shalat juga harganya sudah 50 €, apalagi yang besar, bisa ribuan Euro. Yah, cukup melihat-lihat saja deh.

Setelah dari sana, kami mengunjungi galeri dan tempat pembuatan perhiasan dan hiasan dari batu onyx. Kalau punya uang banyak pasti kalap deh ingin belanja di sini. Bagus-bagus! Yah dan di sini pun kami juga hanya bisa ngiler, hehe. Lain kali ya, kalau ada rejeki nomplok ;)

Selesai, kami pun pulang ke Turunc. Masih sempat makan malam di restoran tepi pantai Hotel Özcan dengan diiringi lagu “Goodbye, my lover”nya James Blunt. Bikin pengen nyemplung aja ke laut, hehe. Istirahat dan tidur cepat, besok paginya akan ke Izmir. Jalan-jalan lagiii…

Surprising Turkey #5

Kejutan 5: Rumah Maryam dan kota tua Ephesus
Subuh-subuh sudah bangun. Jam 6 kami dijemput di depan hotel oleh travel yang akan membawa kami tour. Yang berangkat dari Turunc ada 6 orang termasuk kami, semuanya perempuan. Di Icmeler kami pindah ke mini bis bergabung dengan yang lainnya. Ada dua mobil yang berangkat. Guide kami bernama Ahmed. Ramah dan bercerita dengan cukup detil. Mobil yang satunya lagi dipandu oleh Delia, perempuan Inggris. Peserta tour memang kebanyakan orang Inggris, ada 2 orang dari Rusia dan kami berdua dari Indonesia. Ada salah satu peserta tour yang tampaknya mabuk berat, ngoceh macam-macam, sampai Delia pindah mobil, dan akhirnya orang itu diturunkan dan dikembalikan.
Perjalanan pagi cukup lancar. Seperti yang saya bilang, sarana dan prasarana di Turki cukup bagus, jalan tolnya pun bagus dan mulus, walaupun ada banyak pembangunan jalan di sana-sini, tapi tidak membuat macet. Di tengah jalan antara Marmaris – Mugla kami berhenti untuk sarapan di sebuah restoran. Oh ya, sebelumnya kami sempat salah berhenti di salah satu restoran yang cukup nyaman. Sudah mengambil posisi duduk yang enak, eh tahunya bukan di restoran itu kami seharusnya berhenti. Lanjut lagi deh. Sarapan a la Turki biasanya asin: roti, keju, timun, tomat dan telur.  Memang disediakan selai juga sih. Dan seperti biasa, sarapan kami harus banyak, untuk cadangan energi. Waktu berhenti untuk sarapan kami manfaatkan juga untuk pergi ke toilet.

Perjalanan ke Ephesus melewati Mugla dan pemandangan sepanjang jalan itu benar-benar indah. Jalan tol yang lebar, kadang jalan naik turun berkelok-kelok juga, di kiri kanan jalan pemandangannya juga menyenangkan. Ada di satu kawasan, saya lupa apa, yang di kiri kanan jalannya penuh dengan batu-batu besar seperti cadas, batu-batu yang umurnya juga sudah tua. Ya, Turki memang termasuk daerah yang “tua”.

Mobil berhenti sebentar di sebuah dam besar tidak jauh dari Efes. Pemandangannya bagus sekali dari situ. Di sana kami berkenalan dengan seorang bapak tua asal Inggris yang dulunya seorang pelaut, dan kapalnya pernah mendarat di Medan dan Surabaya. Ya, peserta tour ini memang kebanyakan orang tua, hehe. Bahkan ada satu ibu-ibu yang jalan pun sudah susah karena memiliki masalah di kakinya, tapi tetap semangat ikut tour dan dia pergi sendirian!

Perjalanan dilanjutkan menuju sebuah pabrik keramik di Efes yang terkenal. Selain diperlihatkan bagaimana produksinya, kami tentu saja masuk ke tokonya. Wah, wah, wah! Langsung  kalap melihat keramik-keramik yang indah itu. Kalau tidak ingat bahwa ini baru akan jalan-jalan, dan kami masih harus terbang kembali ke Jerman, pasti sudah belanja ini itu deh. Akhirnya kami hanya membeli wadah perhiasan kecil seharga sekitar 15 TL, juga gelang. Itu saja, supaya ringkes.

Setelah dari sana, kami meneruskan perjalanan ke Rumah Maryam/Rumah Maria (Meryem ana evi) di daerah Efes. Rumah itu dipercaya sebagai rumah terakhir tempat Maryam/Maria tinggal sampai meninggalnya. Selain banyak dikunjungi umat Katolik, umat dari agama lain termasuk Islam juga banyak yang datang berkunjung. Di situ juga ada sumber air yang disebut Meryemana Kaynak Suyu  atau Air Maryam/Maria yang dipercaya dapat membawa kesuburan jika orang meminumnya. Selain itu di dinding “harapan”, tempat orang memasang tissue atau kertas bertuliskan harapan-harapan baik dari orang yang menggantungkannya. Selain Meryem ana evi, di sekitar rumah ini juga terdapat banyak peninggalan sejarah lainnya.

Lola sempat membeli souvenir di sini, sebelum kami kemudian melanjutkan perjalanan ke tujuan utama tour ini, yaitu kota tua Ephesus atau dalam bahasa Turkinya Efes. Ini adalah reruntuhan kota tua jaman Yunani kuno dan di kemudian hari menjadi kota yang cukup penting di jaman Romawi. Ephesus ini terletak di Selçuk, provinsi Izmir. Untuk masuk ke tempat ini, pengunjung dikenai biaya tiket masuk 11 TL. Harga tour kami sudah termasuk biaya tiket masuk ini.

Kami kemudian dipandu oleh Ahmed yang menjelaskan dengan sangat detil sejarah kota tua ini. Saat itu terus terang kepala saya migren karena lapar dan panas, jadi tidak terlalu mendengarkan penjelaskan Ahmed, tetapi Lola menyimak dengan serius, hehe. Saya malah sibuk membuat banyak foto untuk mengalihkan sakit kepala dan terutama untuk sebanyak mungkin mengabadikan tempat itu. Saya penyuka sejarah, jadi kunjungan ke sana untuk menapaki jejak peradaban dunia ini seperti mimpi yang jadi kenyataan. Saya tuliskan sedikit saja. Lebih lengkapnya bisa dibaca dan digoogle sendiri, hehe.

Ephesus adalah salah satu dari dua belas kota anggota Liga Ionia pada masa Yunani klasik. Pada masa Romawi, selama bertahun-tahun kota ini menjadi kota kedua terbesar di kekaisaran Romawi setelah kota Roma. Ephesus memiliki populasi sejumlah lebih dari 250.000 orang pada abad ke-1 SM, yang ketika itu menjadikannya sebagai kota terbesar kedua di dunia.

“Dilindungi” oleh Artemis Temple, Ephesus termasuk ke dalam salah satu dari keajaiban dunia. Kota ini sebenarnya sudah ada dari sebelum jaman Yunani, kemudian dibangun kembali di jaman Yunani klasik dengan tatanan kota yang cukup modern. Kota ini tadinya adalah kota pelabuhan, namun karena proses sedimentasi, akhirnya kota ini mundur berpuluh-puluh kilometer dari laut.

Di jaman Romawi kota ini semakin modern. Kıta bisa melihat reruntuhan bekas pengadilan, tempat pertemuan senat, selain tentu saja kuil-kuil untuk menghormati para kaisar (misalnya Hadrian Temple), perpustakaan (Celcus Library), bahkan pemandian dan toilet umumnya, hehe. Jalan menurun menuju Celcus Library terbuat dari batu-batu granit dan marmer. Indah! Belum lagi pilar-pilar dan gerbang-gerbangnya, seperti gerbang Hercules. Ini memang membuktikan bahwa peradaban masa lalu itu sudah sedemikian maju. Di sana ditemukan juga potongan batu berbentuk persegi panjang berreliefkan dewi Nike. Bentuknya itu kemudian dijadikan logo salah satu produsen barang-barang olah raga yang terkenal. Ada juga Amphitheater dan sarkofagus-sarkofagus yang bertebaran di luar area kota.

Kalau tidak karena migren dan waktu yang juga terbatas, saya sebenarnya ingin berlama-lama di sana, dan mengamati dengan lebih detil lagi. Namun, itu pasti membutuhkan waktu seharian penuh. Mudah-mudahan ada rejeki bisa pergi ke sana lagi, hehe.

Setelah dari kota tua Ephesus, kami masih mampir ke daerah tempat Artemis Temple berada. Sayang kami tidak masuk ke dalamnya. Hanya dapat melihat dari kejauhan. Padahal menarik juga melihat kuil pagan (Artemis) berdiri di dekat gereja Katolik (St. John Basilika) dan sebuah mesjid Islam yang dibangun oleh seorang arsitek dari Syria. Menyiratkan kedamaian :)

Setelah melihat-lihat sambil beristirahat sejenak, kami melanjutkan perjalanan menuju…restoran! Yeah! Makan juga akhirnya. Makanan khas Turki dan beberapa jenis makanan Eropa berlimpah ruah di meja. Kami dapat memilih sesukanya. Namun, tampaknya saya sudah terlalu lapar dan masuk angin, sehingga tidak dapat menikmati makanan tersebut. Ya, daripada maag saya kambuh, lebih baik saya makan yang moderate saja. Tapi perut harus tetap diisi.

Selesai makan, kami melanjutkan perjalanan ke Pamukkale. Tiba di sana sudah sore, sebenarnya kami ditawarkan juga apakah mau melihat sunset di sana, karena katanya pemandangan saat matahari terbenam di Pamukkale itu indah sekali. Jıka mau, kami bisa mendapatkan diskon untuk tiket masuknya. Namun, tampaknya tidak ada yang berniat pergi ke sana melihat sunset, karena saat itu langit juga agak mendung. Akhirnya sebelum dibawa ke hotel tempat kami akan menginap, kami bersantai dulu di pinggiran kolam di taman di bawah bukit Pamukkale yang di kejauhan sudah terlihat memutih. Bukit yang memutih itu bukan karena salju, tapi karena bebatuannya yang mengandung calsium hydrocarbonat.

Sudah tidak sabar rasanya menunggu esok hari untuk melihat “cotton castle” Pamukkale beserta sumber air panasnya dan Hierapolisnya. Tapi sabar dulu, sekarang istirahat dulu. Memulihkan dulu migren dan masuk angin nih, sampai akhirnya bisa makan malam dengan enak di hotel bintang 4 yang bagus di Pamukkale ini. Ini benar-benar tour yang paling menyenangkan!

Surprising Turkey #4

Kejutan 4: Marmaris, OctoBUS, Castle Museum, Café “tertinggi” dan nazar boncuğu lagi
Liburan kami kali ini memang benar-benar santai. Jadi bangun tidur juga santai kemudian dilanjutkan dengan sarapan yang santai juga. Benar-benar dinikmati sarapan pagi berlimpah ruah. Ini penting untuk menambah energi dan menjaga stamina. Sarapan yang baik dan menyenangkan selalu bisa membuat hari menjadi menyenangkan juga.
Kemudian kami menunggu Dolmush di „halte“ dekat jembatan desa Turunc sambil memperhatikan bagaimana cara menggunakan „angkot“nya Turki ini. Dolmus ini semacam mini bus dengan kapasitas penumpang sekitar 16 orang. Ongkos Dolmush dari Turunc ke Marmaris ini 5 TL atau sekitar 25.000 Rupiah. Perjalanan dari Turunc ke Marmaris menempuh waktu sekitar 45 menit. Ongkos dibayarkan ke sopir sebelum Dolmush berangkat. Cukup penuh juga Dolmush ini dengan para turis yang akan pergi ke Marmaris. Tampaknya Marmaris memang jadi tujuan untuk belanja dan mencari hiburan lainnya, dan Turunc dipakai untuk istirahat dan berjemur saja, karena lebih tenang dan sepi. So, mari kita berangkat ke Marmaris.

Dan di perjalanan siang hari itu lah untuk pertama kalinya kami melihat pemandangan yang luar biasa indahnya: jalanan yang berkelok-kelok naik turun dengan kondisi jalan yang cukup bagus, bukit dan tebing  di satu sisi, di sisi lainnya jurang dengan tebing yang terjal dan di bawahnya laut membiru. Duh, indah betul.  Perjalanan dari Turunc ke Marmaris juga melewati Icmeler, kota kecil yang dipenuhi oleh hotel-hotel dan tempat peristirahatan yang nyaman menghadap ke laut.

Marmaris sendiri adalah kota yang cukup besar, berada di teluk dengan marina yang cukup besar dan penuh dengan perahu dan kapal untuk pesiar. Tentu saja suasananya lebih hidup dan ramai dibandingkan Turunc. Orang-orang duduk di bangku-bangku yang ada di trotoar pinggir pantai sambil makan es krim atau bermain-main di pantainya. Jalan di jalur Turunc – Marmaris itu juga cukup lebar dan ditanami pohon palem yang tinggi. Satu kesan yang cukup kuat terasa setelah dua hari ada di Turki ini adalah: bersih dengan management wisata yang cukup baik ditunjang dengan sarana dan prasarana yang juga baik.

Ini terbukti juga ketika kami mencari bis untuk pergi ke Izmir. Jika di Jerman, kereta api adalah sarana transportasi utama yang nyaman untuk bepergian antarkota, maka di Turki bis adalah sarana transportasi utama. Kemudian kami masuk ke salah satu perusahaan moda transportasi bernama Kamilkoc. Itu juga iseng. Pokoknya begitu melihat spanduk: bus Marmaris – Izmir, kami masuk saja. Hehe. Selain Efes dan Pamukkale, kami juga memang akan pergi ke Izmir untuk mengunjungi teman saya, Dicky, yang sedang kuliah di Izmir, sekaligus mencari oleh-oleh di Grand Bazaar Izmir. Itu saran Dicky, katanya di sana bisa dapat oleh-oleh lebih murah dibandingkan di tempat lain dan dia berjanji akan membawa kami ke toko langganannya, supaya bisa dapat diskon juga. Hehe.

Tarif bis dari Marmaris ke Izmir pp 75 TL dengan waktu tempuh perjalanan sekitar 3 jam. Kami akan berangkat pagi-pagi sekali dari Turunc dan pulang sebelum Dolmush terakhir dari Marmaris. Perjalanan sehari saja. Setelah tiket bis ada di tangan, kami memutuskan pergi makan siang dulu. Sudah tengah hari dan kami sudah mulai lapar juga, walaupun sebelumnya kami sarapan cukup banyak, hehe. Makanan yang kami incar tentu saja seafood, terutama grill octopusnya.

Setelah mencari-cari, kami akhirnya masuk ke Yüksel Restaurant, sebuah restoran yang menyediakan menu seafood dan traditional Turkish dishes di jalur utama Turunc – Marmaris dan menghadap ke teluk. Restoran ini ternyata sudah berdiri sejak tahun 1983 dan termasuk salah satu restoran tertua dan terkenal di Marmaris. Kami duduk di teras dekat pintu masuk, supaya dapat memandang ke teluk dengan lebih leluasa. Lola memesan grill octoBUS, demikian tulisan di menunya, hehe, dan saya memesan casserole udang. Selain itu kami juga masih memesan salad udang. Duh, benar-benar makanan berkalori super tinggi, hehe. Untung ngga sering-sering. Selain itu, kami masih mendapat roti pita sebagai pelengkap. Dan… grill octoBUS dan casserole udangnya mantap! Dengan harga tidak terlalu mahal, kami bisa menikmati makanan yang enak itu. Senangnyaaa…

Perut kenyang, hati senang, kami melanjutkan jalan-jalan lagi. Kali ini ke arah marina, dan tidak sengaja kami melihat papan penunjuk jalan ke arah castle museum. Museum? Yuk! Museum memang kesukaan kami, selain juga kami tidak punya rencana yang pasti mau apa di Marmaris, jadi pas lah. Jalan menuju museum ini berupa tangga-tangga batu di antara rumah-rumah nelayan khas laut Aegean dengan dominasi warna biru dan putih. Indah. Tak berapa lama kami tiba di atas dan membayar tiket masuk kalau tidak salah sebesar 5 TL.

Menurut sejarahnya castle ini pertama kali dibangun oleh bangsa Ionian tahun 1044 sebelum masehi kemudian direnovasi pada era Alexander Agung. Castle ini dibangun kembali dan diperluas oleh Raja Suleyman saat berusaha merebut Pulau Rhodes di tahun 1522 dan menjadikannya markas militer. Castle ini ada di ketinggian kota Marmaris dengan pemandangan menuju ke arah teluk Marmaris. Indah! Museumnya sendiri ada di dalam castle dan dibuka untuk umum sejak tahun 1991. Museum ini menyimpan benda-benda arkeologi dari jaman Helenistik, Romawi dan Byzantium dari mulai coin, karpet, peralatan rumah tangga sampai senjata, lukisan dan patung-patung. Sebagai penyuka sejarah, pilihan pergi ke museum ini adalah pilihan yang tepat. Ditambah lagi pemandangan yang indah dari atas, kami benar-benar senang :)

Selesai dari museum, kami berniat melihat-lihat grand bazaarnya kota Marmaris. Niatnya mau beli kartu pos sambil lihat-lihat. Kami tidak berbekal peta, jalan mengandalkan intuisi saja, eh kok tahu-tahu melihat satu papan tentang cafe „tertinggi“ di Marmaris. Hmm, tampaknya seru juga nih. Jadilah kami naik tangga-tangga lagi. Memang tinggi. Namun tidak sia-sia, pemandangan dari atas bagus sekali! Duduk di terasnya, memandang jauh ke laut sambil menikmati es krim, hmm…..Oh ya, tentang es krim ini, kami sebenarnya mencari Dondurma, es krim khas Turki, tapi belum ketemu, dan kami sudah sangat ingin makan es krim. Jadi ngga apa-apa lah, sementara es krim Algida dulu saja deh.
Setelah cukup beristirahat di atas, kami menuju Grand Bazaarnya Marmaris yang mirip dengan Pasar Baru, tapi lebih bersih dan teratur, hehe. Mau mencari kartu pos saja kok, sambil melihat-lihat harga souvenir pernak pernik kecil, untuk bandingan saja, karena niatnya kan nanti beli oleh-oleh di Izmir. Kemudian masuklah kami ke salah satu toko souvenir, eh…ternyata kami masih dapat diskon dan juga hadiah nazar boncuğu. Wah, senangnya! Sungguh beruntung memang kami!

Setelah puas dan capek berjalan-jalan di Marmaris yang saat itu sedang ramai karena mau ada pemilihan umum, kami memutuskan kembali ke Turunc, supaya tidak terlewatkan makan malam di restoran tepi pantainya hotel Özcan yang selalu diiringi lagu “Goodbye, my lover”nya James Blunt. Duh, itu lagu bikin orang pengen nyemplung ke laut aja. Ngga ada yang lebih “menyenangkan” sedikit apa lagunya, hehe. Selain itu juga kami perlu cukup tidur, karena esok harinya sudah akan dijemput jam 6 pagi untuk pergi ke Ephesus. Yeah!