Geschwister Scholl: Sebuah Semangat

Geschwister Scholl (Scholl Bersaudara) mungkin menjadi salah satu nama jalan, tempat atau nama sekolah yang paling banyak ditemui di di Jerman. Nama ini diberikan untuk menghormati kakak beradik Hans dan Sophie Scholl yang dikenal karena keanggotaan mereka dalam kelompok Weiße Rose „Mawar Putih“, salah satu perkumpulan mahasiswa di München yang selama masa Perang Dunia II aktif menentang gerakan Nationalsozialismus dengan menyebarkan pamflet dan selebaran berisi protes dan perlawanan terhadap perang dan kediktatoran Hitler,

Hans dan Sophie adalah anak kedua dan ketiga dari keluarga Scholl. Hans lahir tanggal 22 September 1918 sedangkan Sophie lahir tanggal 9 Mei 1921di daerah sekitar Ulm. Seperti layaknya remaja masa itu, mereka pun masuk ke dalam organisasi pemuda di bawah Nazi yaitu Hitler Jugend dan Bund Deutscher Mädel. Bahkan Hans termasuk salah seorang anggota yang aktif dalam Hitler Jugend sampai dengan perkenalannya –kemudian menjadi anggota- dengan kelompok das Ulmer Volk yang didirikan oleh Max von Neubeck yang bersifat lebih „kiri“. Hans kemudian menjadi anggota, diikuti oleh Sophie, selanjutnya keduanya aktif menentang Nazi.

Peran aktif mereka dalam menentang Nazi semakin mendapat tempat saat mereka berkuliah di Ludwig Maximilian Universität München. Hans berkuliah kedokteran, sedangkan Sophie mengambil jurusan biologi dan filsafat. Di München inilah mereka bergabung dengan beberapa mahasiswa lain yang juga memiliki kegelisahan dan tujuan yang sama yaitu menentang Nazi dan menuntut kebebasan, keadilan serta kemandirian dalam berpikir dan bertindak. Mereka kemudian mendirikan perkumpulan „Weiße Rose“ atau Mawar Putih yang awalnya dimotivasi oleh kepercayaan mereka pada agama Kristen dan dalam perkembangannya diperkuat oleh kemarahan mereka terhadap deportasi dan perlakuan Nazi terhadap orang-orang Yahudi dan lawan-lawan politik Hitler.

Hans dan Sophie Scholl sendiri dididik dalam keluarga yang liberal dan sosialhumanis. Sastra, seni dan musik menjadi bagian dari masa kecil mereka. Faktor ini juga yang semakin memperkuat tekad mereka melawan kediktatoran Hitler saat itu. Gerakan perlawanan ini semakin menguat setelah Hans Scholl, Alexander Schmorell dan Willi Graf kembali dari penempatan mereka di Polandia pada tahun 1942 dan di sana menyaksikan pembunuhan massal serta penderitaan orang-orang Yahudi di ghetto di Warsawa

Para mahasiswa itu melawan dengan cara menyebarkan pamflet dan selebaran di kampusnya. Sayang, pada tanggal 18 Februari 1943 saat Hans dan Sophie Scholl sedang menyebarkan selebaran di hall kampus LMU, mereka tertangkap oleh pengurus kampus dan diserahkan kepada Gestapo. Tanggal 22 Februari 1943 mereka diadili dan dijatuhi hukuman mati. Hukuman mati dengan guillotine dilakukan hari itu juga di penjara München-Stadelheim.

Hari-hari terakhir kedua bersaudara ini, terutama tentang Sophie Scholl, diangkat ke layar lebar dalam film berjudul „Sophie Scholl – die letzten Tage“. Film ini mendapatkan banyak perhargaan dalam berbagai festival film internasional dan dimainkan dengan sangat apik oleh Julia Jentsch, yang berperan sebagai Sophie. Tak heran dari perannya ini Jentsch dianugerahi gelar aktris terbaik dalam Festival Film Berlin tahun 2005.

Saya masih dapat mengingat adegan-adegan dalam film ini saat Scholl bersaudara menebarkan selebaran di hall LMU, kemudian keduanya tertangkap dan dibawa ke pengadilan. Dalam pembelaannya, Sophie berkata di depan majelis hakim „Di mana kami berdiri sekarang ini, di sini pula kalian akan berdiri tak lama lagi.“

Saya juga masih ingat bagaimana dalam film ini tokoh Sophie Scholl berusaha menjaga sikapnya untuk tetap tenang saat dibawa ke sebuah ruangan untuk menuliskan testamen terakhirnya. Di ruangan itulah dia tahu, bahwa orang tuanya datang menjenguk untuk memberikan dukungan. Sophie kemudian dibawa masuk ke sebuah sel, di mana Hans dan Christoph Probst –salah seorang teman seperjuangan mereka yang juga tertangkap- sudah menunggunya. Mereka kemudian merokok bersama untuk terakhir kalinya, kemudian berpelukan. Sophie dibawa lebih dulu, disusul oleh Hans yang masih sempat meneriakkan kalimat „Hidup kebebasan!“ sebelum dijatuhi guillotine.

Minggu lalu saya beruntung dapat mengikuti simposium yang mengambil tempat di gedung tempat kejadian bersejarah ini terjadi. Saya beruntung dapat berada di hall tempat kedua bersaudara ini berlari ke sana ke mari menyebarkan selebaran perlawanan. Hall yang hening dan megah. Di sana dipasang patung Sophie Scholl setengah dada. Patung yang selalu diberi bunga mawar putih oleh orang-orang yang datang ke sana. Di sebelah patung ini juga ada semacam tugu kecil tempat orang juga meletakkan vas bunga yang diisi bunga mawar putih yang terus diganti. Di tempat ini, tepatnya di bawah tangga, dibuat museum kecil tentang gerakan Weiße Rose. Tempat ini dulunya adalah tempat berkumpul para mahasiswa penentang ketidakadilan. Saya juga beruntung bisa berada di halaman depan pintu utama gedung universitas tua sarat sejarah bernama latin Vniversitas Lvdovic Maximona Censis, yang di lantai berbatu halamannya diberi tanda dari batu berupa „selebaran-selebaran“ kelompok Weiße Rose ini. Berada di sana, ingatan saya melayang kepada adegan-adegan menyentuh penuh semangat dalam film Sophie Scholl tadi dan pada dua bersaudara yang terus berjuang sampai akhir hidup mereka untuk sebuah keadilan dan kebebasan, yang mereka sendiri tidak sempat merasakannya.

Minggu lalu, hujan dan dingin di luar. Geschwister Scholl Platz, di mana LMU berada, sudah dipenuhi ratusan orang yang bergerak menuju pusat kota. Ada demonstrasi besar-besaran menentang dan menuntut penutupan seluruh reaktor nuklir di Jerman: demi keadilan dan kebebasan dunia dari bahaya nuklir. Kepala boleh terpenggal, tetapi semangat untuk bergerak mencari keadilan dan kebebasan akan selalu ada. Di sana: di kampus.

Werbeanzeigen

Enam-Enam: Menuliskan Terima Kasih

Tanggal 23 November 6 tahun lalu saya terkantuk-kantuk mengikuti salah satu perkuliahan yang namanya entah lupa (saking tidak menariknya mata kuliah itu). Untuk menghilangkan rasa kantuk yang semakin menyerang saya baca cerpen Kafka „Heimkehr“ yang ada di buku Fremdgänge. Iseng saya terjemahkan, dan selesai sebelum perkuliahan selesai.  Hasil dari perjuangan melawan kantuk itu yang menjadi postingan awal blog. Awal saya menulis lagi setelah 6 tahun juga memutuskan berhenti menulis.

Sebagai seorang yang cenderung introvert dan reseptif, menulis menjadi kegiatan yang menyenangkan, karena saya bisa menuliskan apapun tanpa  perlu malu dan takut diprotes. Alhasil saya punya banyak buku harian dari sejak SD sampai tahun 1997. Pada tahun itu, di Köln, saya memutuskan untuk berhenti menulis di buku harian dan juga memutuskan untuk berhenti menangis. Maklum, saya bisa menulis sambil dan sampai menangis.  Berada sendirian di tempat yang jauh dari rumah , dari orang-orang yang saya cintai dengan sarana komunikasi yang terbatas, email belum memasyarakat di Indonesia, biaya telefon yang mahal, sms belum ada, surat yang baru tiba 2 minggu setelah dikirimkan, membuat saya harus bisa bertahan sendiri. Namun, tentu saja kebiasaan menulis (yang benar-benar menulis dalam arti menulis dengan tangan) tidak bisa hilang begitu saja. Peristiwa, pengalaman, perasaan, pikiran saya tuliskan dalam bentuk surat yang selalu panjang, berlembar-lembar pada sahabat-sahabat saya. Sekarang, di era serba elektronik ini, kebiasaan menulis surat ditulis tangan ini saya rindukan.  Saat ini saya sedang mencoba lagi berkirim kartu pos dengan sahabat di Bandung.

Setelah 6 tahun berhenti menulis  buku harian, sebagai gantinya saya menulis dalam bentuk surat pada sahabat dan teman, serta dan berubah menjadi Dian yang cerewet, Dian menjadi pengajar, karena dengan mengajar semua kegelisahan dan pikiran bisa tersalurkan. Beberapa teman menyarankan saya membuat blog, tapi saya tidak mau saat itu. Saya bukan orang yang cukup percaya diri untuk membuka diri saya pada publik. Namun, saya iseng juga mencoba membuat blog di Friendster yang akhirnya tidak pernah diisi sama sekali. Kemudian Jeng ini datang dengan ide Diary Project-nya. Dia tidak memaksa saya ikut, dia hanya memberikan pemberitahuan tentang kegiatan itu sambil bilang selewat, „ikut ya, jeng“. Saya yang pada saat itu sedang berada di titik terendah hidup saya melihat ini sebagai kesempatan yang bagus untuk menuliskan lagi apa yang saya rasa, saya lihat, saya dengar, saya pikir dalam bentuk buku harian. „Tugasnya“ mudah, yaitu menuliskan apa saja selama bulan September saat itu. Ternyata, itu bukan tugas yang mudah juga. Saya sering kehabisan ide untuk menulis apa, walaupun pada akhirnya tidak punya ide pun bisa jadi bahan tulisan. Saya rasa ini pancingan yang bagus, karena saya kemudian jadi terbiasa mempertanyakan kembali, mendengar dan melihat kembali banyak hal dari banyak sisi. Hal ini membantu saya juga menstrukturkan lagi pikiran dan merekam kembali perasaan saya untuk kemudian berjarak dan melihatnya dengan perspektif lain. Dimulai dengan tulisan tentang komentar salah seorang penyiar radio Bayern Drei tentang penggunaan bahasa Jerman yang kemudian di diary saya jadi berkembang ke tema politik bahasa, diary bulan September itu diakhiri dengan kesan terhadap Catatan Pinggir-nya  Goenawan Mohamad tentang meninggalnya Munir. Ya, di dalam diary project saya, saya menulis tentang meninggalnya Munir, meninggalnya Nurcholis Madjid, meninggalnya Paus Johannes Paulus II, menulis tentang terbakarnya perpustakaan Anna Amalia di Weimar yang menghanguskan sejumlah karya besar yang fenomenal, menuliskan kembali tema-tema perkuliahan di kelas, menuliskan percabangan ide saat menulis makalah, menuliskan catatan perjalanan saya ke beberapa kota di Jerman, menuliskan pemaknaan terhadap hidup, mati, kehidupan dan kematian, sampai hal-hal sepele seperti pelajaran naik sepeda yang penuh canda, juga gigi yang dicabut dan membuat saya tidak bisa tidur. Pada akhirnya saya tidak bisa berhenti . Saya melanjutkan kebiasaan menulis diary lagi dalam bentuk elektronik, karena memang kenyataannya saya jadi semakin jarang menulis di buku harian lagi dengan tulisan tangan.

Dengan mengikuti diary project ini, otomatis diary saya akan dibaca oleh orang lain. Hal ini membantu saya untuk bisa lebih membuka diri tentang perasaan, dan pikiran saya. Namun, tetap saja, tawaran untuk membuat blog tidak saya indahkan, walaupun saya selalu iseng mencoba-coba seperti apa sih blog itu. Sampai kemudian salah seorang teman mengundang saya untuk membuat blog di Multiply dalam rangka berlatih menulis dan saling mengingatkan untuk menyelesaikan tesis.  Tidak bertahan lama, blog itu kembali kosong karena saya tetap merasa tidak nyaman saat tulisan saya dibaca orang, apalagi dikomentari oleh orang lain.

Menulis blog memang saya belum mau, tetapi blog walking menjadi kegiatan yang menyenangkan. Saya menemukan blog yang isinya murni curhat dan buka-bukaan masalah pribadi sehingga saya kok merasa orang itu seperti di dalam aquarium, terlihat jelas oleh banyak orang, tetapi saya juga banyak menemukan blog yang menarik , bagus, dan inspiratif. Salah satunya blog bapak ini. Tahun 2002 saya nyasar ke blog bapak ini saat mencari keyword  “toko buku kecil” di google. Tahun 2005 saya nyasar lagi ke blog itu saat mencari keyword yang sama. Blog itu inspiratif dan menarik, ditulis dengan bahasa yang diusahakan ringan –kadang lucu tapi sinis- walaupun untuk tema-tema tertentu tetap saja sulit saya pahami, dan saya mendapat kesan “pencarian” yang tidak pernah berhenti dari si pemilik blog.  Temanya beragam, dari mulai sains, agama, musik, kopi, buku, orang-orang terkenal, peristiwa sehari-hari, banyak sekali. Kemudian saya berhenti pada halaman khusus tentang Wagner  dan saya iseng meninggalkan komentar di sana.Tidak disangka komentar saya dibalas dengan email pendek dan permintaan untuk menuliskan pengalaman saya selama 1 hari di Bayreuth.  Permintaan yang dilengkapi kata “Plizzzz…” itu membuat pikiran saya bergejolak dan merambat melewati ruang dan waktu.  Satu hari untuk saya bisa berarti kumpulan ingatan tentang tahun-tahun sebelumnya, hari ini dan khayalan saya tentang nanti. Alhasil saya memang menulis 6 halaman tentang 1 hari di kota Wagner ini. Bapak ini membaca saya. Saya tidak menduga bahwa tulisan itu akan dipasang di blognya, di halaman khusus tentang Wagner bergabung dengan tulisan-tulisan lain yang tentu saja jauh lebih bagus.  Tulisan saya bukan apa-apa, walaupun ini cukup membuat rasa percaya diri saya untuk terus menulis menjadi bertambah. Namun, bapak ini juga tidak bisa membuat saya mau membuat blog sendiri. „Aquarius sejati tidak suka dipaksa“ demikian tulis saya saat itu dan „Gemini sejati tidak pernah memaksa“ katanya. Jadi, saya tetap menulis seperti biasa dalam diary saya dan dalam bentuk surat elektronik.

Kemudian sahabat saya ikut meminta saya membuat blog. Sahabat yang mau dan rela membantu saya yang gaptek untuk urusan komputer, internet, dll, sahabat yang menemani saya begadang dan sahabat yang mau merelakan dirinya didebat dan dikerjai oleh saya yang cerewet dan menyebalkan ini. Namun, tentu saja saya tetap keukeuh tidak mau, tidak ada alasan yang mampu membuat saya bergerak membuat blog. Dia juga tidak mau memaksa, tahu saya tidak suka dipaksa, tetapi dia hanya mengeluarkan satu komentar yang membuat kekeraskepalaan saya rontok, “Bilang aja lu takut. Elu kan memang penakut”. Wah, kalimat itu langsung menohok saya. Tampaknya saya memang hanya membuat segala macam pembenaran yang terlihat logis untuk menutupi banyak ketakutan dan rasa tidak percaya diri saya. Dan akhirnya saya memutuskan untuk membuat membuat blog dengan domain sendiri, tetapi semua itu harus sahabat saya yang mengurus, saya tahu beres. Dia menyanggupi dan akhirnya semua berlangsung cepat sampai saya memiliki domain dian.or.id. Namun, dasarnya saya gaptek, pemalas, dan belum sepenuhnya yakin dengan diri saya sendiri, blog di domain itu terbengkalai juga. Saya lebih sering menulis di Multiply.  Dan ketika beberapa kali menemui kesulitan mengoperasikan blog saya di domain dian.or.id itu, saya yang tidak sabaran lebih memilih tidak melanjutkan kepemilikan domain itu, namun berganti menulis di blog gratisan ini. Sampai sekarang, selama 6 tahun. Dan sahabat saya masih setia menemani saya menulis, memberikan ide dari bincang-bincang kami yang bisa berlangsung berjam-jam, memandu saya dari jauh jika saya punya masalah dengan internet dan aplikasi yang aneh-aneh, bahkan suka rela memperbaiki  laptop kesayangan saya yang menggunakan bahasa paling menyesatkan sedunia tu.

From this moment. Saya suka lagu Shania Twain dengan judul yang sama. Lagu cinta. Namun, untuk saya “from this moment” adalah saat-saat saya merekam segala yang saya cerap dan inderai dalam hidup saya, kemudian saya tuliskan. Di mana pun saya berada. Bahkan menulis di sini membantu saya menyelesaikan tulisan-tulisan lain yang karena beragam faktor harus saya tulis. Kutipan dari Khalil Gibran tentang waktu “ kemarin hanya ingatan dari hari ini dan esok adalah mimpinya (…) biarkan hari ini memeluk masa lalu dengan ingatannya dan masa depan dengan rindunya” saya pasang di blog saya sebagai pengingat agar saya memaknai hari ini, hari yang tak bisa lepas dari hari kemarin, namun tetap diwarnai mimpi tentang esok hari. Warna hijau yang mendominasi blog-blog saya membantu saya untuk berpikir lebih segar dan positif, selain karena warna ini juga memang warna kesukaan saya. Foto pepohonan, sungai,  dan jembatan yang saya ambil saat-saat saya melintasi Hofgarten selalu mengingatkan saya pada hubungan masa lalu, masa kini, dan masa depan yang sejuk. Hidup yang tenang dan menyejukkan.

Saat ini, enam tahun saya menulis setelah enam tahun saya berhenti. Saat ini, saya ingin berterima kasih khusus pada ketiga sahabat saya tadi, karena mereka selalu ada, menyemangati, dan menemani saya menuliskan hari-hari saya dengan tulisan-tulisan mereka yang inspiratif dan menyejukkan.  Menulis tanpa titik berhenti. Saat ini, saya ingin berterima kasih pada hidup yang sudah menjadi mata air dari semua yang saya tulis. Saat ini, saya ingin berterima kasih pada waktu dan Sang Pemilik Segala Waktu.

Untuk: Tarlen, Koen, dan Insan. Terima kasih karena kalian ada. Untuk menulis.

Raum 1.4

Sudah banyak ruangan yang saya masuki sepanjang pekerjaan saya mengajar. Di Tengku Angkasa, di Jatinangor, di Dipati Ukur, di ITB, di Bayreuth. Sudah beragam orang juga saya temui di ruangan-ruangan yang saya masuki. Orang-orang dengan dunianya masing-masing. Banyak yang berkesan. Banyak pula yang terlupakan begitu saja. Banyak yang membahagiakan. Tak sedikit pula yang mengesalkan. Baik ruangannya ataupun orangnya. Ruangan yang berbeda. Orang yang berbeda. Cerita yang berbeda. Dengan saya dan orang-orang di dalamnya sebagai tokoh cerita. Ruangan jadi panggung cerita itu berjalan.

Dan ada satu ruangan di Labtek VIII ITB. Ruangan 1.4. Sudah sering saya masuki, jadi tidak ada yang terlalu istimewa saat saya masuk lagi ke ruangan itu di satu petang di bulan September 2007. Cukup penuh. Saya pindai satu-satu siapa-siapa saja yang ada di dalamnya. Beberapa wajah dan beberapa nama menempel dengan cepat di ingatan. Lalu 1,5 jam berlalu dengan cepat. Seperti biasa. Maklum, masih di awal. Bahasa Jerman masih menyenangkan. Biasanya itu bertahan sampai Lektion 3. Setelah itu, selamat belajar bahasa paling menyesatkan sedunia –itu komentar salah seorang murid saya dulu.

Memang terbukti, dari jumlah murid yang awalnya sekitar 20 orang, lambat laun menghilang satu-satu karena satu dan lain alasan atau tanpa alasan sama sekali. Sampai akhirnya ada 8 orang yang bertahan sampai ujian akhir. Delapan orang survivor yang luar biasa dan membawa kesan sangat mendalam untuk saya. Bukannya kelas-kelas lain tidak ada yang istimewa, tapi kelas ini bisa membuat saya amat sangat bersemangat berangkat mengajar ke ITB, dan melewatkan waktu 2,5 jam saat itu (tambahan dari waktu normal 1,5 jam, karena kami ingin berhenti sebelum lebaran) dengan sangat cepat. Delapan orang survivor inilah yang membawa saya pada malam yang istimewa ini. Mereka: Andika, Bahrelfi, Dita, Fima, Ira, Riana, Yusuf, dan Zico (di tahun berikutnya ditambah Meta).

Pertemuan Senin – Rabu kami di Raum 1.4 selalu menyenangkan. Ada banyak cerita (selalu ada cerita baru dari mereka), ada banyak tawa (Dita yang paling ceria dan paling banyak tertawa), ada banyak kisah (ini bagian penting tulisan ini), ada kreativitas (jika sudah diberi tugas mengarang atau membuat dialog jadinya aneh-aneh), ada banyak makanan (Kartoffelsalat dan oleh-oleh kalau ada yang pulang kampung, masak dan makan bersama di rumah Meta, makan soto di dekat gerbang belakang ITB, di Waroeng Pasta, ditraktir Andika di Suis Butcher, hmm…), ada banyak curhat (tentang banyak hal, langsung atau lewat chating), ada kehilangan (Andika kehilangan sepatu dan Zico kehilangan tempat pensil nyawanya), ada bincang-bincang tentang astronomi (Andika dari S1 astronomi dan S2 di SBM), elektro (Yusuf yang tekun sekali membolak-balik kalimat), seni rupa (Zico sang seniman), biologi (Fima dan Bah yang cinta mati pada biologi), fisika (Meta sang fisikawati), ekonomi (Dita dari Ekonomi tapi mengaku tidak bisa menghitung), dan kedokteran (Riana yang gaya belajarnya seperti sedang mendiagnosa pasien. Ada ujian lisan yang membuat saya tak bisa berhenti tertawa sekaligus bangga. Ada diskusi dan canda tawa hanya dari satu tema kecil saja dari buku dengan tokoh utama Timo, Anton, dan Corinna. Plus Koko tentu. Dan saya terlibat di dalamnya. Mereka melibatkan saya dalam hari-hari mereka. Entah kenapa, saya juga bisa langsung masuk dengan nyamannya pada mereka. Ada persahabatan di sana. Kuat. Saya bisa rasakan itu. Jika belakangan ada kisah kasih di sana, saya tidak heran. Di depan kelas saya bisa melihat semuanya dengan jelas. Juga bahasa tubuh mereka. Persahabatan tak berhenti sampai kursus selesai dan beberapa orang harus pergi. Saya tetap dilibatkan. Ini yang membuat istimewa.

Seperti pada malam itu, 24 Oktober 2008, saya makan bersama Andika, Bah, dan Fima di sebuah warung steak di daerah Tamansari. Dari sms yang dikirim Bah untuk saya sebelumnya saya sudah tahu bahwa ada hal istimewa yang ingin disampaikan Andika. Sambil duduk sambil melipat-lipat tissue di depannya, dia bilang bahwa dia mau menikah. Dengan Dita. Saya tidak heran. Saya sudah tahu dari awal bagaimana relasi mereka tumbuh dan berkembang. Mereka menutupinya, tapi tidak bisa membohongi saya. Memang tersamarkan oleh persahabatan yang begitu akrab. Namun, yang membuat saya merasa sangat istimewa, saat itu Andika belum lagi memberitahu orang tuanya tentang rencana mereka. Dia merasa saya harus diberitahu pertama kali tentang hal itu, baru yang lain. Untuk saya ini agak aneh: murid saya „minta ijin“ menikah pada saya? Antara heran dan geli –tiba-tiba saya jadi merasa sangat tua, hehe- saya bahagia mendengarnya. Untuk selanjutnya saya juga masih dilibatkan dalam rencana pernikahan mereka. Sungguh ajaib, Dita di Jerman, Andika di Bandung, lalu ke Amerika, dan rencana pernikahan diwujudkan di Bandung oleh teman-teman mereka.

Malam ini, tadi, saya hadir dan ada di resepsi pernikahan Andika dan Dita. Udara dan nafas bahagia terhidu di seluruh kebun belakang The Kartipah yang sudah didekorasi dengan indah. Ada kehangatan yang menyejukkan. Musik jazz lembut mengiringi senyum dan bahagia yang merebak. Andika dari  ITB dan Dita dari Maranatha bertemu pertama kali di Raum 1.4. Malam itu The Kartipah menjadi saksi awal langkah mereka ke depan. Banyak sekali yang saya ingin ungkapkan. Namun, kata memang tak pernah cukup ruah mewakili rasa. Saya senang, bahagia, bangga, terharu, terpesona pada semua yang sudah Sang Maha Kasih aturkan. Pertemuan-pertemuan. Kisah-kisah dari pertemuan-pertemuan itu. Semua  tidak pernah ada yang kebetulan. Semua sudah diatur begitu indah seperti bintang di langit. Semua indah pada waktunya. Saya rasakan itu. Getaran itu –entah apa- yang membuat saya tak putus syukur. Kalau ini yang disebut bahagia tanpa sebab, tadi saya merasakannya. Indah.

Suatu saat saya pernah ditanya tentang apa itu keberhasilan untuk saya. Bolehkah malam ini saya hitung sebagai keberhasilan saya? Karena keberhasilan identik dengan rasa bahagia, rasanya bisa. Saya senang bahwa saya bisa menjadi bagian dari kehidupan mereka. Bukan Andika dan Dita saja, tapi juga yang lain. Betapa saya sangat bangga dengan apa yang sudah mereka semua lakukan. Dan apa yang akan mereka lakukan selanjutnya. Entah bagaimana saya yakin, suatu saat mereka akan menjadi orang-orang yang membanggakan negeri ini.

Für Andika und Dita, ich freue mich riesig mit Euch. Herzlichen Glückwünsch! Es gibt kein Ende. Heute ist es ein Anfang für das neue Leben. Und ich bin sehr glücklich, dass ich in einem Teil von Eurem Leben dabei sein konnte. Und für Alle: ich liebe Euch alle und bin wirklich sehr stolz auf Euch. Möge Allah Euch immer schützen.

Bandung, 160809

Agung

Agak ragu saya buka email yang saya terima tadi. Saya pikir spam, karena judulnya: Hello Mrs. Dian ;) This is Andreas. Alamat emailnya pun agak aneh: yusufibrahim@xxx. Agak mencurigakan, karena alamat dan judul email tidak sinkron -menurut saya-. Namun, saya buka juga setelah didiamkan berapa saat. Penasaran.

Andreas. Andreas Agung tepatnya. Saya langsung ingat begitu membaca baris-baris pertama emailnya. Ya, dia Agung. Salah seorang murid saya dulu di Potensi. Murid yang paling sering saya marahi (benar-benar marah) karena dia tidak pernah memperhatikan, pasif, sering melamun, suka memberikan alasan ngantuk (dan memang benar-benar tidur di kelas) dan membuat saya sering harus berbicara beberapa desibel lebih keras dengannya, hanya agar dia memperhatikan saya. Selain itu, dia juga suka bertindak „aneh“ menurut saya: langsung mengajak kencan seorang gadis yang berpapasan dengannya ketika sedang berjalan ke Goethe Institut dengan akibat dia akhirnya dipukul oleh pacar si gadis saat itu juga, datang ke fakultas saya untuk bertemu dengan salah seorang mahasiswi saya dan mengajak dia kencan padahal baru bertemu sekali atau (ini terjadi belakangan ketika dia sudah di Jerman) ditangkap polisi karena dia membawa uang tunai 1000 € di sakunya saat sedang belanja di supermarket (disangka baru mencuri mungkin oleh polisi Jerman yang over-paranoid).

Tentang kurang perhatian ini, belakangan dia bilang pada saya bahwa telinganya tidak terlalu bisa mendengar akibat dipukul ayahnya waktu kecil. Sejak itu saya tidak pernah marah lagi jika dia kurang perhatian atau sangat lambat menerima pelajaran dari saya: karena memang pendengarannya kurang. Sejak itu juga saya tidak menerapkan standar yang tinggi lagi padanya. Ada kemajuan sedikit pun saya bersyukur sekali.

Kami –Mbak Rita dan saya- punya kekhawatiran yang sama pada dia saat itu. Apakah dia mampu bertahan di Jerman, apakah dia bisa mengikuti pelajaran di sana, dll. Kami melihat dia termasuk anak manja dari orang tua yang berada yang hanya menghadiahi anak-anaknya dengan uang. Dibandingkan dengan peserta kursus yang lain, Agung ini memang „istimewa“. Kami harus ekstra bekerja lebih keras untuknya. Oleh karena itu, mengejutkan sekaligus membahagiakan mengetahui dia bisa lolos ujian tingkat dasar di Jerman.

Kabar baik itu saya terima darinya lewat email. Itu sekitar 7 tahun lalu. Emailnya tadi mengingatkan saya bahwa dia termasuk murid yang sebenarnya paling rajin memberi saya kabar setelah dia berada di Jerman. Dan tadi dia bercerita dalam emailnya, bahwa dia sekarang sudah bekerja di Kuala Lumpur di sebuah perusahaan besar gabungan Indonesia _ Malaysia dan menjadi manager bagian eksport-import. Sering bolak balik Malaysia – Indonesia. Juga sedang merintis usaha sendiri sebagai investasi masa depan dengan membuat perusahaan yang mengeksport garmen dari Bandung untuk dipasarkan di Afrika. Itu membuat dia cukup sering datang ke Bandung. Dia juga menulis bahwa terakhir kali menulis email untuk saya sekitar 6 tahun lalu dan sangat ingin bertemu saya jika suatu saat dia bertugas ke Bandung.

Saya bahagia sekali membacanya. Seorang guru akan merasa sangat bahagia dan bangga jika muridnya bisa melebihi dirinya, begitu kata Bu Melani Budianta dalam seminar yang saya ikuti siang tadi, karena dua pembicara yang duduk semeja dulunya adalah muridnya. Itu memang benar. Saya bahagia dan bangga padanya. Rasa itu membuat dada saya penuh sesak. Hanya itu padahal: beberapa baris kalimat tentang dirinya sekarang dan sebaris kalimat bahwa dia ingin bertemu saya.

Tentu saja, tentu saja saya ingin bertemu dengannya juga. Seorang Andreas Agung yang dulu sering saya marahi dan membuat suara saya menjadi beberapa desibel lebih keras. Seorang Andreas Agung yang masih „aneh“ dan „unik“: Suratnya sampai sini dulu ya, Mrs. Dian. Saya mau jalan-jalan dulu dengan girlfriend saya ke Plaza Semanggi“. Saya tersenyum. Semoga dia tidak dipukul lagi oleh laki-laki pacar seorang gadis yang berpapasan dengannya di jalan dan dengan polosnya dia ajak kencan :) Good luck, Agung! Mbak Rita juga pasti tersenyum senang Di Sana melihat kamu sekarang.

Wagner-Festspiele 07

Tahun ini Wagner Festspiele akan diadakan dari tanggal 25 Juli – 28 Agustus. Yang ditampilkan adalah Die Meistersinger von Nürnberg, Tannhäuser, Das Rheingold, Die Walküre, Siegfried, Götterdämmerung, dan Parsifal.

Seperti biasa, Bayreuth yang biasanya sepi akan ramai dengan adanya Wagner-Festspiele ini. Sekitar 60.000 tiket sudah laku terjual untuk 30 pertunjukan yang akan berlangsung di „Grüner Hügel“ Richard-Wagner-Opernhaus. „Mythos Bayreuth“ yang sudah berlangsung selama lebih dari 130 tahun akan diulang lagi tahun ini. Keluarga Wagner masih memegang mitos ini. Richard Wagner yang membuatnya. Dilanjutkan oleh Cosima, istri keduanya. Kemudian oleh Siegfried, anak lelakinya. Selanjutnya oleh Winifred, istri Siegfried. Wieland Wagner, sang cucu melanjutkan. Setelah Wieland meninggal, „mitos keluarga“ ini dipegang oleh Wolfgang Wagner. Dialah yang „menguasai“ bukit hijau di utara kota Bayreuth. Mitos ini sepertinya semakin dikuatkan dengan penampilan pembuka „Die Meistersinger von Nürnberg“ yang disutradarai oleh sang buyut Katharina Wagner yang baru berusia 29 tahun. Seperti tahun-tahun sebelumnya, seluruh Bayreuth akan ikut memeriahkan festival ini. Toko buku, supermarket, mall, sekolah, dan universitas, bahkan toko teh di dekat Haus Wahnfried.

„Mitos Bayreuth“ dengan Wagner dan eforia Festspiele-nya tentu saja bukan tanpa kritikan. Kritikan ini berlangsung setiap tahun, seperti Festspiele itu sendiri. Jan Brachman dalam artikelnya di rubrik Feuilleton Berliner Zeitung misalnya mengkritik penunjukkan Katharina Wagner sebagai sutradara yang konon tak lepas dari campur tangan dan ambisi sang ayah, Wolfgang. „Perseteruan“ pun terjadi di dalam keluarga ini, Nike Wagner anak Wieland turut pula memberikan kritikannya terhadap Katharina. Konflik keluarga ini sepertinya menarik banyak media di Jerman sebagai bahan kritik baru terhadap festival yang selalu mengundang kontroversi ini. Der Spiegel pun turut membahasnya.

Lepas dari itu semua, tahun ini saya akan mengikuti Wagner Festpiele dari Bandung. Mungkin lebih aktif dibandingkan dengan tahun-tahun saat saya di Bayreuth. Bagaimana tidak, di semester yang akan datang untuk pertama kalinya saya memegang mata kuliah „Deutsche Kultur- und Literaturgeschichte“ dan mau tidak mau saya harus memberikan pembabakan sejarah budaya dan sastra Jerman sebagai materi kuliah. Kisah-kisah dari opera Wagner di atas hanya sebagian kecil dari materi yang akan saya berikan. Selain bahan-bahan yang sudah saya kumpulkan dengan senang hati dan penuh semangat, saya sih inginnya membawa mahasiswa saya ekskursi ke Bayreuth. Inginnya… :)

Mak Ebah

Dering telefon jam 23 semalam, mengingatkan saya pada sosok tua berwajah bening dan teduh. Sosoknya kecil dan tubuhnya beberapa tahun terakhir ini semakin membungkuk. Hampir menyentuh tanah, kata ibu saya. Sudah tak bisa apa-apa lagi, kata bapak saya.

Terbungkuk-bungkuk berjalan pelahan beliau kunjungi rumah kami setiap hari Minggu pagi. Saat kami masih jadi tetangganya di Gatot Subroto, bahkan saat kami sudah pindah ke Lengkong, beliau masih setia mengunjungi kami. Dengan begitu tubuh bungkuknya sering saya temui berjalan pelahan menuju tempat pemberhentian angkot. Kami pernah memintanya untuk tidak datang lagi, khawatir dengan kesehatannya dan kondisi tubuhnya yang merenta. Beliau tidak pernah mau, „Melang ka Bapa“, katanya. Khawatir pada Bapak saya. Ya, karena Bapak saya beliau setia mengunjungi kami. Bapak saya sudah menjadi „anaknya“.

Perempuan tua itu guru mengaji kami. Tidak dari awal mengajar kami, karena kami sudah bisa. Namun, biasalah, kami semua pemalas. Saya dan adik-adik saya suka mencari-cari alasan untuk memperlambat atau kabur tidak mau mengaji. Pura-pura tidur lah, asyik nonton TV lah, bertemu teman lah, semua kami jadikan alasan. Kalau tak ada alasan lagi, kami mengaji dengan bacaan yang dilambat-lambatkan dengan nada mengantuk dan malas, tentu sambil menguap pula. Namun, beliau tetap dengan sabar duduk di sebelah kami, dengan tubuh membungkuk memperhatikan apakah bacaan dan tajwid kami sudah benar.

Itu dulu ketika kami kecil. Kami beranjak dewasa, lain lagi alasannya. Sibuk dengan urusan kampus dan pekerjaan. Namun, beliau masih dengan setia duduk setiap Minggu pagi di sebelah kami, jika kami ada di rumah. Kali ini kami mengaji dengan cepat-cepat. Jika kami tak mendengar komentarnya atau kami tak dihentikan walaupun sudah berlembar-lembar membaca, kami tahu, beliau pasti tertidur dengan kepala tertunduk. Biasanya kami bangunkan dengan suara pelan. Ya, beliau memang sudah semakin tua. Namun, beliau masih bersetia datang setiap Minggu pagi.

Beberapa tahun lalu kondisinya sudah tidak memungkinkan untuk beliau datang. Jika bukan Bapak saya yang memintanya untuk tak datang lagi dan meminta beliau untuk tak mengkhawatirkannya lagi, mungkin beliau masih akan terus datang. Terakhir kali saya bertemu ketika saya „mudik“ tahun 2004 lalu. „Neng Dian ka Jerman teh siga jalan ka cai“, katanya, karena saya hanya enam minggu di Bandung untuk kemudian kembali lagi ke Jerman. Pandangan matanya begitu teduh dan memandang bangga pada saya.

Dua tahun lalu saya merasa begitu berterima kasih padanya. Pada semua yang sudah diberikannya kepada kami, saya terutama. Pada waktu itu Nina meminta saya mengajarinya membaca Al Quran. Suatu kehormatan untuk saya. Dan saya teringat pada beliau. Pada sosok membungkuk di samping saya. Membimbing saya membaca kalam suci tuntunan hidup. Saat itu Nina meminta saya. Saya di sampingnya, juga membungkukkan tubuh. Juga mengantuk saat Nina sudah lancar membaca. Saya jadi tahu rasanya. Tiba-tiba saja saya merindukannya. Saya sampaikan salam untuknya yang sudah tidak bisa apapun lewat orang tua saya.

Dering telefon jam 23 semalam merangkum lagi semua kenangan. Beliau memenuhi panggilan Sang Maha Sayang yang selalu beliau rindukan. Mata teduhnya terpejam tenang, wajahnya bersih. Tubuhnya lurus terbaring. Tak bungkuk lagi. „Wilujeng angkat, Mak“.