Über dian

"Teetrinkerin" and "Aquarian"

Menuliskan Kenangan

Entah mengapa, hari ini tumben saya malas sekali menyalakan laptop dan membuka internet. Pagi-pagi sudah ke kampus, dilanjut belanja sedikit, kemudian mencoba tidur sebentar dilanjut dengan santai shalat dan dan melanjutkan membaca quran. Baru sampai Al Anbiya. Ayat 35 terbaca: setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kemarin seorang teman bertanya tentang kabar seorang ibu baik hati dan titip salam untuknya. Saya bilang, ibu baik hati itu sudah meninggal 4 tahun lalu. Kagetlah teman saya, karena katanya tak ada yang memberitahunya. Saya kemudian jadi membuka kembali catatan lama saya tentang ibu baik hati itu. Rasa rindu padanya menyelinap. Kemarin pula, di saat shalat pikiran dan perasaan saya melayang ke Bandung. Memikirkan seorang sosok ibu baik hati lainnya yang sedang terbaring sakit. Entah mengapa juga, saat itu saya merasa bahwa dia sebentar lagi akan berbahagia sama seperti ibu baik hati yang meninggal 4 tahun lalu. Lalu tadi, selesai shalat dhuhur, akhirnya saya membuka laptop dan internet dan mendapat 2 offline messages dari dua orang sahabat saya. Yang satu memberitahukan bahwa ibu baik hati itu meninggal tadi sore, yang satu lagi hanya memanggil nama saya, tapi saya tahu maksudnya. Ya, ibu baik hati yang saya pikirkan kemarin (dan hari-hari sebelumnya).

Heran juga, saya tidak kaget dan tidak menangis, sewajarnya reaksi orang yang menerima kabar semacam ini. Ada rasa lega menyelinap malah. Mungkin saya masih merasa „kebas“ atau mungkin saya sudah puas menangis justru saat saya pertama kali menerima kabar bahwa Ibu baik hati itu masuk rumah sakit sebulan lalu karena sakit parah yang sebenarnya sudah dideritanya sejak 2010. Saat itu badan saya gemetar hebat dan saya menangis terus menerus sepanjang hari, bahkan sampai keesokan harinya dan setiap ada pembicaraan tentangnya. Saat itu perasaan saya juga didominasi oleh rasa marah pada diri saya sendiri yang sampai tidak tahu bahwa sosok ibu baik hati itu sebenarnya sudah menderita sakit sedemikian lama. Ya, tidak ada yang tahu. Ibu baik hati itu tidak mau ada orang yang tahu tentang kondisinya. Bahkan di tengah sakitnya, dia juga yang masih berharap bahwa saya harus sehat selama di Jerman ini. Kami sempat berkirim sms sehari sebelum dia masuk rumah sakit. „Saya baik, Dian sayang. Dian sehat-sehat terus ya di sana. Miss you too. Muach muach,“ demikian tulisnya.

Setelah puas menangis dan „memarahi“ diri saya sendiri karena bisa „lalai“ dan tidak peka terhadap kondisinya, malah seringnya merepotkan dia, saya kemudian hanya bisa berharap dan berdoa agar ibu baik hati itu diberi yang terbaik, tidak kesakitan terlalu lama. Apapun. Dia orang yang sangat baik, rasanya kok tidak rela melihatnya kesakitan. Karena itu pula, saya sangat marah saat ada yang memasang foto di media sosial saat mereka menjenguk ibu baik hati yang sedang terbaring lemah, sementara mereka bergaya sambil senyum-senyum di sebelah tempat tidurnya. Bukan hanya sekedar masalah privacy, tapi untuk saya lebih dari itu. Mungkin ada semacam penolakan dari dalam diri saya saat melihat ibu baik hati itu dalam kondisi sakit. Diam-diam saya hanya ingin menyimpan kenangan yang manis-manis saja atasnya. Pada senyum lembut dan manisnya serta tatapan matanya yang teduh. Saya hanya ingin mengingatnya dalam kondisi itu.

Membaca berita dari sahabat saya kemudian membuka email yang dikirim sehari sebelumnya –yang juga entah kenapa baru saya baca tadi-, kemudian rentetan ucapan duka cita mendalam dari para mantan mahasiswanya, ingatan saya melayang jauh ke 20 tahun yang lalu, saat saya pertama kali mengenal sosok lembut ini yang ternyata menyembunyikan kekuatan sangat besar di baliknya. Dia dosen saya. Saya hanya mengenalnya di perkuliahan: Sprachübung dan Landeskunde. Aksen Jawanya cukup medok. Cantik, lembut, ayu. Yang saya tahu, dia tinggal di Jakarta, hanya ke Bandung saat mengajar. Seminggu dua hari dia di Bandung. Saya cukup sering bertemu dengannya di bis DAMRI Kebon Kalapa – Tanjungsari. Biasanya dia naik kereta dari Jakarta, kemudian dilanjut naik bis DAMRI atau naik angkot St. Hall – Gedebage dilanjutkan dengan naik angkot Gedebage – Rancaekek, lanjut lagi naik angkot Cileunyi – Sumedang. Kadang dia juga naik travel 4848 saat itu kalau mau pulang ke Jakarta. Mobil BMWnya hanya dipakai kalau ada jurusan ada acaranya. Jarang dipakai, padahal kabarnya dia punya beberapa mobil BMW. Biasa, mahasiswa suka bergossip soal dosennya J Belakangan saya tahu kenapa dia lebih senang naik kendaraan umum, karena katanya supaya dia bisa tidur di jalan, tidak perlu capek-capek nyetir Jakarta – Bandung. Setelah dibuka jalur tol Jakarta – Bandung, dia berganti trayek, jadi naik bis Primajasa ke arah Garut atau Tasikmalaya.

Ya, itu dia. Sosok yang senang menggambar dan menyanyi. Dia pernah memperlihatkan gambar yang dia buat saat dia di Jerman: suasana di depan kamarnya. Suaranya juga bagus. Dia sering didaulat untuk menyanyi kalau Fakultas ada acara. Sosok yang pernah bercerita pada saya, bahwa dia sempat datang ke Berlin tahun 1989, ikut dengan para mahasiswa membongkar tembok Berlin. Kebanggaannya menjadi saksi sejarah: “Pecahan temboknya saya bawa pulang”, demikian kisahnya. Saya tak terlalu dekat dengannya saat saya menjadi mahasiswa. Hanya relasi biasa: dosen dan mahasiswa. Saat itu, mana ada mahasiswa yang berani berdekat-dekat dengan dosen. Menelfon dia pun hanya sekali-kalinya, untuk menanyakan apakah skripsi saya perlu dikirim ke Jakarta atau disimpan di Jurusan saja. Ya, dia co-pembimbing skripsi saya dan saya tidak pernah bimbingan dengannya. Belakangan saya tahu bahwa skripsi saya baru dibacanya saat hari saya sidang. Dia berkata, “Saya percaya sama Dian.”

Dia yang mempercayai saya. Dari dulu sampai saat meninggalnya. Dia yang mempercayai saya seperti saya juga mempercayainya. Saya semakin mengenalnya saat dia menjadi lebih banyak ada di Bandung setelah suaminya meninggal. Saya dan beberapa kolega juga sempat menginap di rumahnya, saat kami ada acara di Jakarta. Saya pernah juga menginap di rumah keluarganya yang nyaman di Malang saat kami berdua mewakili Jurusan melakukan studi banding ke Malang. Tidur bersamanya. Menjadi tahu ritualnya sebelum tidur, menjadi tahu bahwa dia sangat takut naik pesawat, menjadi tahu tentang keinginannya yang kuat untuk melanjutkan sekolah lagi, menjadi tahu tentang kekhawatirannya, menjadi tahu tentang harapannya, menjadi tahu sedikit tentang keluarganya. Dia juga yang membuat saya jatuh cinta pada Malang. Saya pun diajak jalan-jalan dan berwisata kuliner di sana. Adiknya yang saat itu menjadi staf PR 1 Unibraw menemani kami. Adiknya yang baik, yang meninggal setahun setelah kunjungan kami ke Malang. Keluarga yang baik, yang saya tahu kemudian bahwa semua anak perempuan di keluarga itu diberi nama awal: Hesti.

Saya semakin mengenalnya lagi saat dia jadi ketua jurusan. Pada saat itu saya tahu, bahwa sosok ini berhati amat besar dan lapang di tengah segala macam intrik. Dia tetap dan meneguhkan diri sebagai sosok yang tidak pernah bergossip, tidak pernah mau mencari masalah, tidak banyak bicara tapi banyak bekerja, sosok yang tetap tenang dan lapang dada walaupun banyak hal mengecewakannya dan membuatnya sakit hati, sosok yang selalu mau belajar dan bertanya, sosok yang jujur dan rendah hati, selalu tersenyum dan berkata “Ya sudah, ngga apa-apa, biarin saja,” padahal saya misalnya dengan cerewet protes ini itu. Dia sosok ketua jurusan yang tidak pernah mau duduk di kursi “kebesaran” ketua jurusan. Tempat duduk favoritnya adalah di kursi depan lemari buku. Bersama dengan kami. “Lebih enak di sini,” begitu katanya selalu. Sosok yang selalu datang paling pagi, pulang paling sore, tapi tetap membebaskan stafnya untuk pulang duluan. Sosok yang masih setia naik bis DAMRI, kali ini bis DAMRI khusus dosen. Sosok yang selalu „keukeuh“ membayari kami makan siang atau membayari ongkos angkot. Bisa rebutan dengannya dahulu mendahului membayar ongkos angkot. Biasanya dia cemberut kalau kami „berhasil“ membayarinya. Sosok yang takut naik ojek, lebih suka jalan kaki, lalu kami bertemu di bawah dan naik angkot sama-sama. Dipikir-pikir kami suka keterlaluan juga memintanya pulang lebih dulu dan membiarkannya jalan kaki sendirian sementara kami enak-enak naik ojek. Sosok yang belakangan sangat bahagia jika bergabung bersama kami, dosen-dosen muda yang rusuh, yang senang karaoke dan kemudian makan-makan. Dia menjadi „guru besar Fakultas Sebelah“, partner menyanyinya „Pak Dekan Faksebel“. Mungkin dia terhibur oleh tingkah kami yang gila-gilaan. Pertemuan terakhir saya dengannya pun tahun lalu saat dia untuk kesekian kalinya berhasil kami „culik“ untuk ikut karaoke dengan kami di Ciwalk, setelah itu dilanjut makan seperti biasa. Dia selalu senang kami culik.  Seandainya saya tahu, bahwa saat itu dia sudah sakit. Namun, melihatnya tertawa dan berbahagia, rasanya saya tidak menyesali kelakuan kami yang suka semena-mena „menculik“nya berkaraoke dan makan bersama. Dia berbahagia. Menyanyi memang nafas hidupnya, seperti yang pernah dia ceritakan pada saya.

Dia juga adalah sosok yang selalu dengan berhati-hati bertanya pada saya, apakah saya sedang sibuk karena dia ingin bertanya sesuatu pada saya tentang materi kuliahnya saat dia studi lanjut dan tentang bahan tesisnya. Padahal saya amat sangat rela diganggu olehnya. Bayangkan, dia dulu dosen saya dan dia mau bertanya pada saya. Namun, bertanya tidak berarti kemudian dia tidak melakukan apapun. Dia belajar, dia mau belajar. Tidak ada yang direpotkannya, semua dikerjakan sendiri. Kami berdiskusi banyak hal. Dia mau mendengarkan saya yang suka sok tahu ini. Dia juga yang menemani saya dan beberapa teman menghadap dekan saat ada masalah dalam status kepegawaian kami. Dia orang pertama yang memberikan tanda tangan dukungan saat kami mengajukan protes ke universitas. Dia orang yang tetap mempercayai saya sampai kapanpun, pun saat saya menggamit lengannya dan sambil berjalan menuju tempat karaoke saya bercerita panjang lebar tentang masalah yang saya hadapi dengan studi saya. Komentarnya saat itu, „Pokoknya saya mendukung apapun yang terbaik untuk Dian.“ Dia juga sosok yang selalu saya repotkan soal urusan tanda tangan dan surat menyurat yang suka dadakan. Dia sosok yang dengan sangat sabar mendengarkan semua protes saya tentang ini itu. Dia juga sosok yang dengan selewat berkomentar saat kami sibuk menghitung penetapan uang kursus yang mau ditetapkan, „Jangan kemaruk,“ katanya dan kami langsung terdiam.

Saya mencoba mencari kenangan yang tak mengenakkan tentangnya. Tak ada. Dia tetap sosok yang selalu ingin dan harus saya temui saat saya mudik ke Bandung. Sayangnya, saat awal tahun ini saya mudik, saya tidak bisa menemuinya, karena dia sakit. Saat itu dia bilang, „Ah, cuma kecapean saja.“ Saya tidak curiga, karena saya kemudian masih melihat foto-fotonya ada ikut serta dalam kegiatan Jurusan. Bahkan tiga hari sebelum dia masuk rumah sakit pun, tampaknya dia masih memimpin rapat.

Dari banyaknya ucapan duka cita dan doa-doa untuknya, tangis dan keterkejutan yang sangat dari teman, kolega dan mahasiswa serta mantan mahasiswanya, saya semakin yakin bahwa dia memang sosok amat sangat baik yang pernah ada. Itu membuat saya lega. Tadinya saya berpikir bahwa saya akan menangis saat menuliskan ini semua, ternyata tidak. Mungkin saya masih „kebas“ atau mungkin saya sudah puas menangis sebelumnya. Namun, ada kelegaan menyelinap menyadari bahwa dia sudah tak sakit lagi (karena ini yang menyakitkan: mengetahui dia sakit), bahwa dia bisa istirahat dengan tenang, bahwa dia sudah lepas dari gonjang ganjing masalah hidup, bahwa dia bisa bertemu lagi dengan orang tuanya, dengan suaminya, dengan kakak dan adiknya, dengan Yang Maha Mencintai nya.

Saya menuliskan kenangan-kenangan manis tentangnya di sini, karena hanya itu yang bisa saya lakukan, untuk „menyimpannya“ agar tetap indah, selain memanjatkan doa untuk keindahan dan kelapangan jalannya menemui Sang Maha Indah di bulan penuh ampunan ini. Saya tidak menangisi kepergiannya, karena dia sangat berhak mendapatkan yang terbaik. Kalaupun tadi sempat air mata saya menitik sedikit mungkin karena saya membayangkan bahwa saat saya kembali ke Bandung nanti saya tidak akan pernah lagi menemukan sosok lembut itu duduk di kursi di depan lemari buku. Saya tidak akan pernah lagi mendengar suara merdunya saat bernyanyi. Saya tidak akan lagi melihat senyumnya sambil berkata „Biarin aja.“ Saya memang tidak sekuat dan setabah dirinya. Saya belum punya hati selapang dan seluas hatinya untuk bisa tersenyum dan berkata, „Biarin aja.“ Untuk saya dia sosok yang mendekati „sempurna“, seperti lagu „Sempurna“nya Andra and The Backbones yang sering dinyanyikannya.

Selamat jalan, Ibu yang baik. Berbahagialah di sana dan tolong sampaikan salam dan terima kasih saya pada Sang Maha Kasih yang sudah mempertemukan saya denganmu dan membuatmu ada dalam hidup saya.

Dan ternyata sekarang (akhirnya) saya benar-benar menangis.

Bayreuth, 080812

„Hallo!“ „Danke!“ dan teman-temannya

Dua bulan lalu seorang teman yang berkunjung ke Bayreuth memberi komentar, katanya saking kecilnya kota Bayreuth sampai saya kenal dengan semua orang, begitu juga sebaliknya saya mengenal mereka: sopir taxi, sopir bis, resepsionis hotel, kasir di supermarket, orang yang bertemu di jalan, dll. Indikasinya adalah karena saking seringnya saya bilang „Hallo!“ kemudian berbincang dengan mereka. Sampai-sampai teman saya itu menjuluki saya sebagai „walikota“nya Bayreuth, karena katanya saya mengenal hampir semua orang.

Komentar teman saya itu tidak sepenuhnya salah dan tidak sepenuhnya benar juga. Memang sih, setiap saya pergi terutama ke kota, pasti saja bertemu dengan orang yang sama atau sering bertemu dengan orang-orang yang saya kenal. Maklum, kota ini memang kecil, hanya berpenduduk sekitar 80 ribu orang. Wajar lah ya kalau jadinya saya juga sering ber“hallo, hallo“ dan ngobrol sebentar dengan beberapa orang yang saya temu di jalan.

Namun, kata sapaan „hallo“ ini sebenarnya satu bentuk ritual sapaan yang wajar dilakukan di Jerman ini, selain kata sapaan lain seperti „Guten Tag“, „Tag“, „Gruß dich“, „Moin!“ atau „Gruß Gott“. Orang menyalami siapapun yang mereka temui di jalan, saat memasuki sebuah tempat, walaupun kita tidak mengenal orang-orang tersebut. Jadi jangan heran, saat masuk ke ruang tunggu praktek dokter orang menyapa „Hallo!“ atau „Tag!“ kepada orang-orang yang sedang menunggu, atau menyapa sopir bis dan kasir di supermarket dengan „Hallo“ atau „Gruß Gott!“, termasuk menyapa orang yang berpapasan di tangga atau di lift. Tak perlu kita mengenal orang tersebut, sapaan ini diucapkan sebagai sebagian kecil dari bentuk interaksi yang dalam konteks Luhmann berarti „merasakan“ keberadaan orang lain dan „menunjukkan“ keberadaan kita.

Kata sapaan ini sebenarnya hanya sebentuk ujaran verbal yang kecil saja, selebihnya kita lebih banyak menyadari keberadaan orang lain dan menunjukkan keberadaan kita dengan cara lain yang sifatnya nonverbal. Kadang –sering bahkan- kata sapaan ini diucapkan begitu saja, tanpa diiringi dengan prosodi dan intonasi yang „diharapkan“ mendukung „makna“ kata sapaan ini jika diujarkan, pun kadang tanpa ditunjang oleh mimik dan gestik yang „kebayangnya“ mengikuti kata sapaan ini. Jadi, jangan heran pula kalau kata sapaan „Hallo“ atau „Tag“ dan lain-lain tadi hanya diujarkan lurus saja tanpa ekspresi, bahkan kadang tanpa adanya kontak mata atau senyum. Jangan heran, ini „ritual“ yang kadang hanya dilakukan sekedar menjalani fungsinya sebagai „saling menyapa“, tetapi tanpa makna yang lebih dari itu. Idealnya tentu melaksanakan „ritual“ dengan menjalankan maknanya juga. Namun, manusia terlalu sibuk dan terburu-buru untuk itu, hehe.

Selain kata sapaan „Hallo!“ dan lain-lain di atas, kata terima kasih „Danke“ juga sering diucapkan kepada siapapun. Pola berpasangan „Hallo!“ – „Danke“ – „Auf Wiedersehen/Tschüß/Ciao“ sangat lazim ditemukan misalnya dalam situasi membayar di kasir supermarket atau „Hallo!“ – „Tschüß“ saat berada dalam satu lift dengan orang lain. Jadi, pertemuan dibuka dan ditutup dengan ujaran verbal. Jangan disinggung soal elemen-elemen nonverbal yang diharapkan menyertainya, ya. Jangan berharap lebih pula. Namun, pola berpasangan dalam ritual sapa-menyapa, berterima kasih dan berpisah ini saya rasa cukup menarik untuk disimak. Ini sifatnya kultural dan secara sosiologis akhirnya berakar kuat dalam pola interaksi masyarakatnya. Maka untuk orang yang datang dari latar belakang budaya dan sosiologi yang berbeda, yang memiliki ritual interaksi yang berbeda pula, hal-hal kecil semacam ini mungkin awalnya akan terasa asing. Begitu juga dengan mereka yang datang dari latar belakang budaya yang saling menyapa dengan verbal –tanpa dukungan unsur nonverbal- akan merasa asing saat berada dalam situasi interaksi dalam masyarakat yang berkonteks budaya tinggi, di mana unsur nonverbal mendapat tempat yang lebih dibandingkan unsur verbal. Misalnya menyapa „hanya“ dengan tersenyum atau menganggukkan kepala atau mengangkat tangan saja. Itu bentuk interaksi dan komunikasi juga, seperti kata Watzlawick: manusia tidak bisa tidak berkomunikasi.

Berada cukup lama dalam lingkup budaya yang lekat dengan situasi interaksi verbal seperti di Jerman ini, kadang membuat saya juga jadi ikut melakukannya di saat saya berada di dalam satu situasi budaya lain yang berbeda. Misalnya di Indonesia saya juga sering mengucapkan „Hallo“ kepada kasir di supermarket. Kalau ke sopir angkot atau sopir bis agak sulit, karena mereka kadang tetap menjalankan kendaraannya saat saya naik. Reaksi yang saya dapat adalah pandangan heran, saat saya misalnya menyapa kasir super market atau pelayan restoran dengan salam “hallo”. “Terima kasih” juga sering saya ucapkan, sampai beberapa orang teman saya di Indonesia heran karena saya katanya sering sekali berterima kasih. Kebiasaan juga sih. Walaupun saya rasa ini kebiasaan yang bagus, karena bagi saya menyap dan berterima kasih ini mengandung makna yang sangat dalam: penghargaan.

Tanpa bermaksud membandingkan ritual interaksi di dalam satu budaya dengan budaya lainnya, saya hanya menyadari bahwa elemen-elemen verbal yang kecil ini pada saat berjumpa, berpisah, berterima kasih –yang kadang keluar begitu saja tanpa dipikirkan dan tanpa maksud khusus- jika ditunjang dengan elemen-elemen lainnya, apalagi jika dipahami benar maknanya, maka akan dapat membawa efek sosial dan psikologis yang besar. Terdengar seperti sedang berbicara tentang ritual keagamaan ya?! Hehe. Saya rasa tak ada bedanya. Kadang orang perlu mengujarkan sesuatu dulu kemudian melakukannya untuk akhirnya memahami nya atau memahami, melakukan dan mengujarkannya. Bebas saja lah, hehe.

Karena perbedaan dalam ritual interaksi tadi, maka tak heran akan ada pula “ruang kosong” dalam satu budaya, bahkan tidak ditemukan ujaran verbalnya, tetapi „ruang kosong“ ini „terisi“ di dalam budaya lainnya –lengkap dengan ujaran verbalnya-. Misalnya di Jerman ini saya “merindukan” kata “punten” dalam Bahasa Sunda yang artinya “permisi” saat saya melewati sekelompok manula yang sedang berjemur sore-sore di tepi danau. Padahal di Bandung, saya selalu berusaha menghindari kata ini, saking banyaknya orang yang bergerombol nongkrong di jalan yang saya lewati dan harus saya “punten”i yang ujung-ujungnya malah sering membuat saya marah karena komentar-komentar yang tidak saya harapkan menjadi jawaban dari kata “punten” tersebut. Namun, dalam satu proses interaksi, apa yang dujarkan bisa dipahami dan direaksikan berbeda, bukan?

Perubahan yang saya rasakan juga terjadi pada proses berujar saya adalah berkurangnya intensitas penggunaan kata “maaf” untuk “permohonan maaf” yang sebenar-benarnya permohonan maaf, bukan yang bermakna „permisi“. Entah, saya jadi irit betul menggunakan kata ini, bahkan cenderung “takut” kalau kata ini sampai akhirnya harus keluar dari mulut saya. Mengapa? Karena jika kata ini terucap biasanya itu diiringi dengan perasaan yang amat sangat tidak enak dan menyesal berkepanjangan dari diri saya pada orang yang saya mintai maaf. Oleh karena itu, sebisa mungkin saya berusaha untuk tidak melakukan apapun atau berkata apapun yang mengakibatkan kata ini harus keluar dari mulut saya. Saya merasa lebih nyaman jika saya ber”terima kasih” lebih banyak daripada sedikit-sedikit minta “maaf”, tapi sedetik kemudian lupa dan melakukan kesalahan yang sama (bahkan lebih parah) sehingga kata „maaf“ hanya jadi sekedar “pemutihan” saja, habis perkara, nanti beda lagi urusannya. Malah mungkin kalau bisa saya lebih suka menggunakan ujaran untuk pemberian maaf. Namun, sampai sekarang, di dalam bahasa-bahasa yang saya pelajari, belum saya temukan satu ujaran khusus –satu kata saja- yang mewakili tindak „pemberian maaf“ ini. Apakah mungkin karena memberi maaf lebih sulit dibandingkan meminta maaf ya?! Atau mungkin ada yang tahu kata yang mewakili tindakan ini?

Sebuah Pengakuan Terlambat dari Seorang Penggemar Peterpan

Bild

Ya, tampaknya saya memang sedang ikut „termakan“ oleh eforia bebasnya sang vokalis. Tak apalah, toh sekarang saya memang akhirnya ingin mengaku bahwa saya adalah salah seorang penggemar sosok yang begitu dihebohkan dan terutama saya adalah penggemar musik Peterpan, yang kebetulan kebanyakan dibuat oleh sosok yang katanya fenomenal ini. Saya penggemar baru, baru sekitar setahunan ini dan saya berani bertaruh bahwa banyak yang menyukai Peterpan dengan sembunyi-sembunyi, seperti saya dulu.

Mengapa saya kok bisa terlambat begini? Karena saat Peterpan muncul sekitar 2004, saya sedang di Jerman. Saat itu youtube belum terlalu booming, begitu juga media sosial yang membuat saya bisa selalu terupdate dengan berita-berita baru. Akhir tahun 2004 saya mudik sebentar, di Indonesia sedang terkenal lagu „Mimpi yang Sempurna“ milik Peterpan. Siapa sih? Lagu apa sih kok gitu? Lagunya Peterpan, kata adik saya. Lagunya enak lho, katanya. Ih, lagu begitu saja enak, cibir saya saat itu. Penyanyinya ganteng, kata adik saya lagi. Yang begitu ganteng? cibir saya lagi melihat sosok di video klip dengan rambut lurus agak gondrong dengan potongan ngga jelas. Eh, keyboardisnya temen saya, kata adik saya lagi. Adik kelas saya waktu SD memang, saya tahu. So? Pokoknya saya tidak suka. Saat itu saya lebih senang mendengarkan lagu-lagunya Kla Project, Padi, Dewa, Java Jive dan tentu saja masih setia mendengarkan lagu-lagunya Chrisye dan Iwan Fals (ketahuan kan saya angkatan berapa, hehe).

Saya tidak mendengarkan Peterpan lebih jauh, keburu balik lagi ke Jerman. Saat balik lagi itu saya dibelikan CD berisi MP3 lagu-lagu Indonesia dan lagu barat (bajakan tentu saja, maaf) oleh adik saya, dan salah satunya ada album bajakannya Peterpan „Taman Langit“ (maaf yaaaa…). Itu pun tidak pernah saya dengarkan. Sampai pada tahun 2005, salah seorang mahasiswa saya yang baru pulang dari kuliah praktek di Indonesia selama 6 bulan bercerita bahwa dia suka lagu-lagu Peterpan. Aduh, Peterpan lagi. Siapa sih mereka? Murid saya itu sampai membeli CD album Peterpan „Bintang di Surga“ dan dia meng-copy-nya untuk saya (maaf lagi). Dia mempromosikan benar album itu, terutama lagu „Ada apa denganmu“. Saya kemudian dengarkan albumnya. Hmm, dari sekitar 10 lagu kok saya cuma suka 2, haha. „Ada apa denganmu“ begitu saja, tidak terlalu menarik. Lagu dan lirik yang aneh. Namun, saya langsung suka „Bintang di Surga“, mungkin karena ada unsur orkestranya jadi terdengar megah. Saya memang sedang suka musik klasik saat itu. Suara Ariel mulai menarik perhatian saya. Enak juga. Kemudian lagu „Mungkin nanti“ yang kata salah seorang teman saya saat itu liriknya membuat dia „kasuat-suat“. Buat saya sih biasa saja. Namun, oke lah. Ya, tiga lagu itu saja yang saya dengarkan.  Ternyata, ada salah seorang lagi murid saya yang baru datang dari Indonesia pulang ke Jerman dengan membawa 1 CD Peterpan “Bintang di Surga” dengan cerita yang sama: “Ada apa denganmu“ harus saya dengarkan. Ah, ada apa sih denganmu, Peterpan. Sampai-sampai murid saya itu minta tolong kepada saya untuk menerjemahkan lirik „Ada apa denganmu“ ke Bahasa Jerman saking sukanya dia pada lagu itu. Hoalah, macam-macam saja. Jadilah saya terjemahkan lirik yang tampaknya mudah, ternyata sulit juga saat diterjemahkan. „Tuduhan“ saya saat itu: si Ariel sok puitis, padahal liriknya hanya berisi soal pacar yang marah. Bahasa Indonesianya juga aneh. Diterjemahkan ke dalam Bahasa Jerman jadi lebih aneh.

Waktu berlalu, cuma „Bintang di Surga“ yang sering saya dengarkan dengan volume kencang. Liriknya cinta-cintaan sih, biasa, ditinggal pacar, kontekstual sekali, hehe. Tapi Ariel membuatnya dengan „sok puitis“ sehingga tidak terdengar cengeng. Lumayan, walaupun saya tetap tidak mengakui bahwa dia oke, hehe. Namun, saya mulai suka dengan gaya menyanyi dan teriakan dia di bagian refrain.

Peterpan kemudian berlalu begitu saja, sampai saat saya pulang ke Indonesia tahun 2006. Saya mendengarkan saja cerita kolega saya yang heboh soal Ariel yang ganteng, sexy, dll. Duh, yang begitu ganteng dan sexy? Saat itu setahun setelah munculnya album „Menunggu Pagi“ yang menjadi OST film „Alexandria“. Ah, film apa pula itu. Terus terang film itu juga baru saya lihat beberapa bulan lalu di Jerman, itupun lewat youtube, hehe. Saya tetap tidak (mau) mengenal Peterpan. Lagipula saya tidak suka menonton TV jadi tidak tahu pula gossip-gossip heboh terutama tentang sang vokalis, saya hanya mendengar sekilas saya dari kolega-kolega saya yang heboh bercerita. Saya tidak peduli.

Kemudian tahun 2007 saya ingat pertama kalinya saya mendengar lagu baru Peterpan „Menghapus Jejakmu“ dari album „Hari yang Cerah“ di sebuah gerai pizza di Bandung, sambil makan dengan kolega-kolega saya. Salah seorang kolega sekaligus sahabat saya yang selalu heboh „menggunjingkan“ Ariel komentar, „Ah, lagu ini lagi, Peterpan lagi, bosan.“ Saya baru tahu lagu itu, dia malah sudah bosan dan kesal sekali lagu Peterpan terus yang diputar. Saat itu Peterpan sedang heboh lagi, maaf, Ariel maksud saya, yang bikin heboh lagi dunia perselebritisan Indonesia dengan kasusnya. Kemana saja ya saya? Ada, hehe.

Lagu “Menghapus jejakmu” lumayan ear catching, saya cukup suka. “Terus melangkah melupakanmu, lelah hati perhatikan sikapmu…” Lagu patah hati (lagi), tapi musiknya ceria. Lumayan ringan dan enak didengar. Suatu saat saya lihat video clipnya, cukup unik konsepnya. Akhir 2007, di Malaysia, entah bagaimana tiba-tiba obrolan saya dan ex teman dekat saya jadi membahas lagu dan lirik Peterpan. Ternyata si ex suka dengan lirik dan lagu-lagu Peterpan. Saya yang memang tidak tahu Peterpan cuma mengejek “dari Padi pindah ke Peterpan?” karena dia pernah mengklaim sebagai penggemar Padi. “Kalau ‘Sally sendiri’ bolehlah, musiknya oke”, kata saya.  Sebelumnya saya pernah mendengarkan lagu “Sally sendiri” juga dari album “Hari yang Cerah” dan saya suka. Dua lagu itu menurut saya agak berbeda dari lagu-lagu Peterpan yang sebelumnya saya dengar. Musiknya lebih tenang dan lebih dominan gitar dan drumnya, bukan musik-musik “remaja”, lagipula suara Ariel tidak “cempreng” lagi. Si ex membela diri dengan argumen-argumen psikologinya sok membahas lirik lagu-lagu Ariel. Saya tidak peduli, pokoknya saya tidak suka Peterpan, hehe. Apalagi salah satu lagunya “Aku dan Bintang” dijadikan soundtrack sebuah sinetron stripping di TV dan saya benci sinetron. Makinlah saya tidak suka.

Suatu saat seorang sahabat saya misuh-misuh “Memangnya kenapa sih kalau saya suka Peterpan?” karena dia diolok-olok oleh koleganya tentang kesukaannya pada lagu-lagu Peterpan. Saya yang juga tidak suka pada musik mainstream kegemarannya para ABG itu hanya senyum-senyum saja, takut sahabat saya makin ngambek kalau saya bilang saya juga tidak suka Peterpan, hehe. Begitulah. Sampai kemudian suatu saat sedang karaoke, salah seorang sahabat memilih lagu “Kupu-kupu malam” versi Peterpan. Enak juga. Eh, tapi itu kan memang lagu lama dan enak, jadi ya wajar saja kan kalau enak.
Judulnya saya tetap tidak mau mengakui keberadaan Peterpan, hehe. Padahal saat itu saya mulai sering mengikuti infotainment dan beberapa kali menonton penampilan mereka di TV, baik itu konsernya atau acara yang khusus dibuat untuk mereka. Mulai mengikuti. Mulai tahu siapa saja nama personilnya dan berita-berita heboh terutama seputar Ariel. Namun, saya tetap biasa-biasa saja, walaupun saya suka lagu „Menunggumu“ yang dinyanyikan duet oleh Ariel dengan Chrisye. Itu karena ada Chrisye ya, bukan karena Ariel, sosok yang membuat seorang sahabat saya histeris saat melihatnya di sebuah restoran di Bandung datang bersama Luna Maya saat kami selesai buka puasa. Sahabat saya yang saat itu sedang curhat sambil berurai air mata mendadak cerah ceria dan panik karena kedatangan mereka berdua „Ariel! Ariel! Ariel!“ katanya panik. Halaaah, langsung deh curhatnya buyar terpesona oleh sosok yang saat itu menggunakan jeans, t-shirt, topi dan sneakers andalannya. Saya masih biasa-biasa saja.

Itu tahun 2009. Tahun sebelumnya album „Sebuah Nama Sebuah Cerita“ diluncurkan. Album the best Peterpan sebenarnya, ditambah lagu baru: „Walau Habis Terang“, „Tak Ada yang Abadi“, „Dilema Besar“ dan covering lagu Chrisye „Kisah Cintaku“. Saya menyukai keempatnya. „Walau Habis Terang“ juga lagu patah hati, tapi beatnya ceria. Kelak lagu ini menjadi salah satu lagu favorit saya saat jalan-jalan atau jogging di hutan. Lagu ini juga disenangi oleh salah seorang murid saya di Jerman ini, dan lagi-lagi saya diminta menerjemahkannya ke dalam Bahasa Jerman. Kemudian „Tak Ada yang Abadi“ lagunya cukup gelap, efeknya agak misterius, apalagi dengan dominasi piano dan lirik yang lebih dewasa. Masih puitis, tapi bukan puitis yang aneh lagi. Ada cerita, ada pesan. Saya mulai agak sering menyimak Peterpan. Lumayan juga.

Tahun 2010 adalah tahun yang paling heboh untuk Ariel terutama. Saya kebetulan sedang mudik juga ke Indonesia saat kasus itu terjadi, tapi saya tidak peduli. Saya sibuk dengan urusan saya sendiri, mana sempat nonton infotainment. Kembali lagi ke Jerman, kasus itu ternyata semakin heboh. Akses internet yang tidak terbatas memungkinkan saya untuk jadi mengikuti beritanya juga walaupun jauh di Indonesia, toh berita itu ada juga di media Jerman saking hebohnya. Ah Ariel, Ariel. Dari situlah saya mulai iseng browsing video lagu-lagu Peterpan. Tahun 2011 sih tepatnya. Eh, kok „Cobalah Mengerti“ enak ya, ngerock begitu dan sekali lagi teriakan Ariel itu lama-lama terdengar „gahar“, hehe. „Yang Terdalam“ asik juga ya, „Semua Tentang Kita“ kok mewakili perasaan saya saat rindu teman-teman, „Topeng“ seru juga nih, „Tak bisakah“ bisa membuat kepala goyang-goyang (pantas saja sampai dijiplak oleh penyanyi India dan jadi lagu India), „2DSD“ seru nih apalagi pas lihat mereka memainkannya dengan Kang Capunk (kecengan saya dari SMA, haha) dan Kang Noey Java Jive, dan ternyata „Mimpi yang Sempurna“ yang dulu saya ejek-ejek enak didengar dan liriknya oke. Belum lagi „Kukatakan dengan Indah“, „Melawan Dunia“, „Di Balik Awan“, dll. Sejak itulah saya diam-diam menyukai lagu-lagu Peterpan. Bukan Arielnya. Sosok Ariel baru saya perhatikan setelah dia divonis dan saya tulis di sini. Lama-lama diperhatikan dan mengikuti berita-beritanya, memang menarik juga orang ini, hehehe. Sejak itu diam-diam saya juga menjadi penggemar-nya Ariel. Dia sosok yang punya pengaruh kuat, sampai teman-temannya saja begitu mendengarkan dia. „Juragan“ kalau kata si Kang Capunk sih.

Lagu-lagu Peterpan kemudian menjadi teman setia saya saat menulis disertasi, selain lagu-lagu Pearl Jam, Sting, Alanis dan tentu saja Chrisye serta lagu-lagu dan musik-musik lain yang sesukanya saya putar, tergantung mood. Dari mulai klasik sampai dangdut, dari mulai lagu berbahasa Inggris sampai lagu India, dari lagu Batak sampai Papua, dari mulai lagu solo, duet, choir sampai instrumental. Lagu-lagu dan musik dari Peterpan selalu ada setiap hari. Berita tentang mereka dan tentang Ariel, terutama belakangan ini, jadi semakin diikuti bahkan dibahas sambil ketawa-ketawa dengan sahabat-sahabat saya dan akhirnya membuahkan ide gila memasang foto Ariel sebagai avatar account twitter kami. Ceritanya mau jadi groupies, tapi tengsin juga, haha. Coba, sejak kapan saya bisa tergila-gila pada seorang penyanyi atau kelompok band sampai segitunya. Sebagai penggemar berat Pearl Jam dan Eddie Vedder saja tidak saya pasang fotonya. Pearl Jam dan Peterpan memang tak bisa dibandingkan, selain bahwa saya menyukai keduanya dengan alasan lagu, lirik dan suara serta penampilan vokalisnya. Yang terakhir ini tak terelakkan lah, hehe. Saya jadi mengerti mengapa para perempuan itu begitu histeris begitu melihat Ariel, yang juga menarik perhatian para lelaki, “Suami gue aja suka”, kata seorang sahabat.

Kesukaan saya pada Peterpan semakin bertambah dengan keluarnya lagu “Dara” yang diciptakan Ariel di penjara. Sebuah lagu sederhana dengan lirik yang dalam. Saya pernah merasa sangat terhibur mendengar lagu ini saat sedang down. Kemudian album instrumental „Suara Lainnya“ menambah kekaguman saya pada mereka. Ini bukan Peterpan, dan cocok karena mereka memang akan ganti nama. Aransemen ulang dari lagu-lagu mereka benar-benar top. Orkestrasi yang megah di lagu „Di Atas Normal“, „Bintang di Surga“, „Melawan Dunia“,  instrumen karinding dan suling Sunda memberi efek misterius dan magis di lagu „Sahabat“, saluang yang menyayat hati di „Di belakangku“, biola yang semakin menyayat hati ditingkahi permainan pianonya David di „Taman Langit“ dan „Kota Mati“, serta bossanova yang benar-benar soothing dan relaxing di „Walau Habis Terang“ dan „Langit Tak Mendengar“. „Cobalah Mengerti“ dibuat slow dan dinyanyikan oleh Momo Geisha. Bagus sih, tapi untuk saya terlalu menghiba. Saya tetap lebih suka versi Ariel yang „gahar“ dan „cowok sekali“. „Dara“ pun dimasukkan ke dalam album ini. Memberi efek menenangkan dan menghibur hati.

Dan eforia kebebasan Ariel ternyata sampai juga ke Jerman, diiringi rasa kagum pada perjalanan, jatuh bangun dan kekompakan band ini, pada musikalitas mereka yang semakin matang, lirik yang masih puitis tapi tidak “sok rumit” lagi, seperti pada “Separuh Aku” lagu baru mereka dari album yang belum keluar tapi sudah bocor di youtube, pada semua personelnya yang sederhana dan „manusiawi“, tentu saja pada Ariel yang tetap jadi magnet utama –lepas dari berita apapun tentang dia, saya kemarin melihat mata yang lelah dan kosong di sana, sangat „manusiawi“. Ah ya, selain Ariel, saya punya „kecengan“ baru di Peterpan: David, sang keyboardist dan pianist, hehe. Masuknya David yang punya latar belakang piano klasik membawa warna baru untuk musik Peterpan sehingga tidak terlalu nge-pop lagi. Album „Suara Lainnya“ boleh dibilang albumnya David. Kuat sekali dia di sana. Selain memang dia jago main keyboard dan piano (dan juga gitar), gaya mainnya itu lucu menurut saya: sampai merem-merem. Menghayati sekali. Tampangnya yang lucu jadi terlihat makin lucu saat main, hehe.

Jadi lengkap sudah alasan mengapa saya kemudian berani mengakui bahwa saya adalah penggemar Peterpan. Walaupun terlambat tahu, tapi boleh diuji  soal cerita, lagu-lagu mereka dari album pertama sampai terbaru, termasuk gossip-gossip mereka, hehehe. Tidak kalah juga pengetahuannya dengan para remaja yang histeris setiap melihat mereka manggung, terutama melihat Ariel. Hanya saja saya belum jadi penggemar yang baik karena saya belum memiliki satupun CD album-album mereka, hehehe, aneh ya. Soalnya selama ini saya hanya mendengar dari youtube saja dan sekarang dari website resmi mereka yang untungnya bermurah hati memasang lagu-lagu mereka dari awal sampai yang terbaru. Nanti deh kalau pulang ke Indonesia saya beli semua CDnya. Lalu impian saya sebagai penggemar mereka (kalau groupies sih tidak lah ya) tentu saja melihat mereka konser secara langsung. Masa nonton konser Sting dan Coldplay sudah, konser Peterpan belum sih, hehe. Namun, saya tidak menyesali keterlambatan saya menjadi penggemar mereka, karena saat ini saya justru bisa melihat banyak sisi lain dari band yang bagus ini: kekompakan, setia kawan, kesederhanaan, konsistensi dan mau terus belajar.

Sehari di Kota Wagner – Sebuah Catatan untuk Sebuah Mimpi

Tujuh tahun lalu, juga di bulan Juni, saya pernah iseng menulis di buku tamu sebuah blog menarik dan inspiratif dengan diakhiri kalimat “Salam dari Bayreuth”. Tidak disangka, sang pemilik blog membalas keisengan saya dengan sebuah email balasan berisi permintaan agar saya menulis tentang sehari di kota Wagner, Bayreuth. Permintaan itu diiringi dengan kata “pliizz….”. Permintaan yang kemudian tidak bisa saya tolak dan akhirnya saya tuliskan cerita saya dengan panjang lebar. Ternyata tulisan saya dipasang di blognya yang inspiratif tersebut, digabungkan dengan tulisan-tulisan lain yang jauh lebih berbobot di kolom Wagner. Merasa terhormat juga tulisan saya dimasukkan ke blog seorang blogger senior dan banyak penggemarnya itu :)

Dan tujuh tahun kemudian, juga di bulan Juni, si pemilik blog, yang pernah bertanya bagaimana rasanya tinggal di kota Wagner dan pernah meminta saya menulis tentang sehari di Bayreuth, akhirnya berkunjung juga ke Bayreuth dan berkesempatan mengalami sendiri bagaimana rasanya sehari berada di kota Wagner. Bagaimana rasanya? Harus ditanyakan sendiri kepada yang mengalaminya. Yang jelas hari itu sang pencinta Wagner tidak dapat masuk ke Haus Wahnfried dan Festspielhaus untuk merasakan aura ke-Wagner-an di kedua tempat itu, karena sayangnya kedua tempat itu ditutup untuk sementara waktu. Namun, mudah-mudahan aura ke-Wagner-an di Bayreuth cukup terwakili dengan dingin, mendung dan hujan yang menyambutnya di Bayreuth, dengan Fachwerkhaus tempatnya menginap, dengan halaman dan kebun Haus Wahnfried yang sudah lama tak terawat karena sedang dalam proses renovasi, dengan rumah yang untuk saya juga terasa agak menyeramkan di malam hari, dengan makam yang hanya berbatu granit hitam tanpa tulisan apapun, dengan Hofgarten, dengan Opernhaus yang menjadi alasan mengapa Wagner kemudian memutuskan untuk menemukan damai bagi “kegilaan”nya di kota kecil ini, dengan istana rokoko milik Wilhelmine, dengan jalan-jalan berbatu di Bayreuth, dengan gedung Festspielhaus berbatu bata merah di atas bukit kota Bayreuth, dengan patung kepala Wagner yang sedang mengerutkan kening dan menatap serius taman di depannya, dan dengan tupai mungil warna coklat kemerahan yang akhirnya berhasil ditemukan juga dan dengan senyum kebanyakan orang yang ditemui.

Lalu, seperti yang pernah saya tulis di tulisan saya untuknya dulu, bahwa satu hari di Bayreuth untuk saya berisi ingatan saya tentang masa lalu, hidup saya saat ini dan harapan saya tentang nanti, maka itu juga yang saya rasakan kemarin. Satu hari di Bayreuth mengingatkan saya pada pertanyaan retoris tujuh tahun lalu: “Gimana ya rasanya tinggal di kota Wagner?” dan “Kapan ya bisa ke sana?”, kemudian membawa pada saat ini, saat di mana pertanyaan itu terjawab dengan kenyataan bahwa saya bisa menunjukkan kepada orang yang bertanya itu: inilah rasanya dan ikutlah merasakan, karena rasa tidak bisa diwakili dan diceritakan. Rasa haruslah dirasakan sendiri. Termasuk juga merasakan mencuci dengan menggunakan koin di asrama mahasiswa :) Dan satu hari itu juga membawa harapan tentang nanti, terutama membawa kesadaran bahwa hidup memang harus tetap mempunyai harapan dan mimpi. Menekuninya akan membawa harap dan mimpi itu kembali kepada kita. Toh hidup juga berputar di situ-situ saja. Tak pernah jauh. Kemarin adalah ingatan dari hari ini dan esok adalahnya mimpinya. Dan semua itu adalah sesuatu yang niscaya, walaupun kadang masih selalu terasa ajaib untuk saya :)

 

Rumah di Seribu Ombak: Berombak dengan Damai

Bild

Baru membaca halaman-halaman awal novel karya Erwin Arnada ini, bayangan saya langsung ikut terbang jauh ke Pantai Lovina, tepatnya di daerah Kalibukbuk, Singaraja Bali. Saya bisa merasakan kembali dengan jelas suasana pantai subuh hari yang sepi, anginnya yang sejuk menyentuh kulit, langit masih cukup gelap yang lambat-lambat disaput sinar memerah, ombak berdebur pelan mendamaikan hati yang juga sejuk diiringi mekidung yang dikumandangkan dari pura agung di belakang saya dan gema adzan subuh dari mesjid tak jauh dari pura.

Saya membaca lagi halaman-halaman berikutnya, masuk dengan tertib ke dalam narasi si aku pencerita: anak laki-laki kelas 5 SD bernama Samihi Ismail. Dia anak seorang perantau dari Sumatera Barat yang sudah berdiam di Singaraja lebih dari 20 tahun. Samihi yang saya imajinasikan dari narasi yang saya baca adalah anak kecil yang kurus dan penyakitan (dia menderita asma dan tak pernah lepas dari inhalernya), penakut (dari takut air sampai takut berbuat salah, takut berbohong sampai takut menjadi anak durhaka), tapi rajin dan pintar. Tipikal. Samihi, yang biasa dipanggil Samii, bersahabat tanpa sengaja dengan Wayan Manik, yang biasa dipanggil Yanik, anak asli Singaraja yang putus sekolah karena tak punya uang untuk melanjutkan sekolah, anak yang ulet, pekerja keras, pemberani dan setia kawan.

Persahabatan yang terjadi antara Samihi dan Yanik terjalin dengan manis di tengah perbedaan yang melatarbelakangi mereka berdua. Samihi adalah dan berasal dari keluarga muslim yang taat, sedangkan Yanik adalah seorang penganut Hindu yang taat. Mereka saling mendukung, menginginkan yang terbaik satu sama lain. Yanik adalah orang yang sangat menginginkan Samihi menjadi juara qiraah, maka dia pun mengenalkan Samihi kepada ahli-ahli mekidung untuk melatih suaranya. Samihi sangat menginginkan Yanik kembali bersekolah, maka dia pun melawan rasa takut dosanya karena mendukung Yanik ikut metajen –sabung ayam, yang dianggapnya judi-, satu-satunya cara yang cepat untuk menghasilkan uang agar Yanik bisa kembali bersekolah.

Persahabatan mereka tidak mulus-mulus saja. Ada banyak trauma dan ketakutan. Ada niat baik yang tentu saja tak selalu bisa diterima dengan baik pula, sehingga berujung pada konflik. Ada curiga, ada percaya. Namun, saya masih bisa menangkap bahwa sahabat adalah tetap sahabat, apapun yang terjadi. Klisenya mungkin: dalam suka dan duka selalu mengharapkan dan berbuat yang terbaik.

Narasi kilas balik dari si aku pencerita dituturkan dengan tenang, tidak menggebu-gebu. Seperti debur ombak di Lovina, tidak besar, tetapi tetap saja orang harus waspada. Namun, saat setting berpindah ke pantai Kuta, narasinya pun terasa lebih menggebu. Saya hanyut, terus terang. Sudut pandang Samihi, seorang murid SD yang sederhana dan neko-neko pun terlihat dari “caranya” yang “begitu saja” saat menceritakan peristiwa pelecehan seksual terhadap Yanik.

Beragam perbedaan “dibenturkan” dengan halus oleh Erwin. Tampaknya dia memang sedang berusaha mencari „harmoni“ dari perbedaan-perbedaan, yang tak bisa dielakkan karena memang sudah ada, dengan cara „membalikkan“ stereotipe yang telah dimunculkan (dengan salah): perantau yang menyatu dengan penduduk desa, orang bule yang justru membawa petaka, bukan hanya „devisa“ atau orang Bali yang berhasil.

Novel ini juga berkisah tentang usaha tokoh-tokohnya berperang sekaligus berdamai dengan diri, tubuh dan pikirannya, melawan sekaligus keluar dari ketakutan, trauma, kemarahan yang sublim, kecurigaan dan prasangka yang muncul karena rasa percaya yang dicerabut tanpa sebab yang jelas. Ketakutan dan trauma akan air yang dialami Samihi menjadi benang merah bagi ketakutan yang lebih besar karena ketidakpercayaan kepada diri, kepada sekitar, kepada orang lain, kepada sistem, kepada hidup yang tidak selamanya indah dan kepada Yang Memberikan Hidup. „Perjuangan“ Samihi dan Yanik untuk itu semua dinarasikan dengan cukup menyentuh dan tentu saja tidak selamanya berujung baik. Berdamai dengan hidup, meminta dan memberi maaf serta menerima bahwa diri dan hidup memiliki batas tentu bukan hal yang mudah. Ketika pada akhirnya Samihi yang pendiam dan penakut berhasil „menaklukan ombak“, Yanik yang pemberani dan menggebu-gebu lebih memilih „berdamai dengan ombak“ . Toh keduanya sama-sama memilih akhir yang „hening“ di antara „seribu ombak“, sebergejolak atau setenang apapun ombak itu. Itu hidup, yang akan „selalu dihadapkan pada hal-hal yang indah dan memilukan.“

Cukup banyaknya kesalahan tipografi dan peletakan tanda baca yang tidak tepat, ternyata tidak cukup mampu menahan air mata saya agar tidak keluar saat membaca kerinduan Samihi kepada Yanik yang sudah menemukan „rumah abadinya“ di „seribu ombak“ Laut Lovina dan seribu pertanyaan yang kadang memang tak perlu dijawab. Seperti laut dan ombak yang juga tetap penuh rahasia.

 „Kita memang berbeda. Aku tahu. Sama tahunya seperti dirimu. Warna yang mengalir di nadimu tak sewarna dengan yang mengalir di nadiku. Namun, bukankah kita tak pernah bisa memilih dengan warna apa kita lahir? Kita lahir, lalu menemukan tawa bersama. Menyatukan cerita bersama. Menjumputi mimpi bersama. Mengapa kini kau lari menjauh? Lalu, apa kabarmu? Mengangakah masih lukamu yang dulu? Atau, kini sudah terpilihkan bagimu akhir yang bahagia? Maafkan aku. Maafkan karena tak bisa selalu menjadi laut yang tetap menyimpan rahasiamu“.


Dan kenangan-kenangan saya akan Pantai Lovina dan Kalibukbuk, suasana desanya, penduduknya, dan „rasa“ yang muncul saat saya menghabiskan beberapa hari di sana, kembali menari-nari dengan jelas  saat saya membaca novel ini. Ini Bali yang saya ingin cari saat itu dan saya temukan di sana serta segera memikat saya: “Tahukah kau mengapa Tuhan menciptakan langit dan laut? Semata agar kita tahu, dalam perbedaan ada batas yang membuat mereka tampak indah dipandang.“

Bayreuth, 290312

Quo vadis, pendidikan tinggi Indonesia? – Catatan Iseng dari Sebuah Pembacaan (Bagian 1)

Jadi minggu lalu saya diminta untuk menambah satu bab lagi untuk penelitian saya, yaitu bab yang membahas tentang institusi pendidikan tinggi di Indonesia dan di Jerman, serta satu subbab tentang dinamika norma-norma interaksi dalam konteks interdiskursus institusional dari jaman Orde Baru sampai pasca-reformasi. Ah, ini sebenarnya lebih dari sekedar subbab, semestinya jadi bab baru juga. Mengenai kata „dinamika“ ini juga kami berdebat cukup panjang. Tadinya saya memilih kata perkembangan. Namun, setelah dilihat apanya yang berkembang ya? Norma-norma kok berkembang. Lagi pula perkembangan biasanya konotasinya maju, linear saja, menjadi lebih baik, tetapi ini kan belum tentu. Akhirnya kami bersepakat memilih kata „dinamika“ yang mengacu kepada kata sifat „dinamis“ yang terlihat tidak hanya dari data saya saja, tetapi juga dari perjalanan sejarah institusi (terutama institusi pendidikan tinggi) di Indonesia, interaksi antarmanusianya dan keterkaitannya dengan konteks serta diskursus yang melingkupinya, baik itu sistem dan atau kondisi sosiokultural masyarakatnya. Dalam kata dinamika terkandung unsur gerak yang cepat, ada unsur yang hidup, tidak statis, saling memengaruhi, bisa mundur, kemudian maju lagi, bisa memutar, bisa juga naik atau turun.

Banyak?  Ya, banyak sekali. Terutama karena saya harus mencari literatur dan tulisan-tulisan sebelumnya yang mungkin ada menulis tentang itu yang dapat mendukung pengamatan, pemikiran dan pendapat saya yang secara langsung atau tidak langsung juga menjadi bagian dari institusi pendidikan tinggi di Indonesia dan di Jerman . Jangan sampai pendapat saya sifatnya subyektif saja, walaupun secara heuristik, etnografis dan dari metode observasi partisipatoris yang saya pilih untuk kajian saya ini, saya „berhak“ (bahkan „harus“) memasukkan deskripsi dan pendapat pribadi saya, tetapi adanya dukungan dari kajian-kajian sebelumnya tentu dapat lebih melegitimasi pendapat saya. Supaya dibilang ilmiah, hehe.

Literatur  tentang Jerman, tidak sulit saya temukan. Sudah banyak penelitian yang membahas tentang institusi pendidikan tinggi di sini, mulai dari sejarahnya sampai ke hal-hal “kecil” seperti cara berpikir dan menulis ilmiah. Tentang Indonesia, agak sulit saya temukan. Tak banyak yang mengkaji tema ini (atau saya yang tidak tahu? Kalau ada yang tahu, boleh dong saya dikasih tahu). Kalaupun ada bentuknya kebanyakan berupa peraturan-peraturan. Bahkan Direktorat Pendidikan Tinggi Kemendiknas Indonesia sampai memiliki laman khusus mengenai peraturan-peraturan ini. Namun, ini lumayan lah, setidaknya saya punya acuan untuk melihat seperti apa sih “kerangka” pendidikan tinggi di Indonesia dilihat dari aturan-aturannya yang berjibun itu, karena kok rasanya pendidikan tinggi di Indonesia (seperti sudah sering saya „omelkan“ dalam tulisan-tulisan saya di blog ini) itu “kacau balau” ya. Ini asumsi saya saja,  bisa saja salah, makanya saya ingin kembali ke “kerangka” awal dengan melihat sejarah dan aturan yang menjadi kerangkanya.

Kemudian saya menemukan satu buku berjudul “Kooperation mit Hochschulen in Indonesien” (2003) dari Solvay Gerke dan Hans-Dieters Evers. Buku ini sebenarnya lebih berisi hasil pengamatan dan pengalaman kedua penulis selama menjalankan tugas mereka sebagai lektor Dinas Pertukaran Akademik Jerman di Indonesia, tetapi tetap saja perlu dibaca dengan kritis. Cukup politis memang isinya. Namun, setidaknya saya jadi tahu apa yang „diharapkan“ pihak Jerman terhadap negara-negara partnernya –dalam hal ini Indonesia. „Harapan“ ini menurut saya sebenarnya bisa disikapi sebagai „ancangan“ positif bagi pihak Indonesia, supaya terjalin kerjasama yang sifatnya simbiosis mutualisma, bukannya menjadikan satu pihak menjadi lebih superior dibandingkan pihak lainnya dan pihak lainnya menjadi inferior. Kalau relasinya taksetara begitu, maka tampaknya „kerjasama“ ini dapat menjadi „penjajahan“ bentuk baru yang menurut saya lebih mengerikan dari penjajahan „tradisional“, yaitu dengan „menjajah“ isi kepala dan identitas.

Lepas dari itu semua, yang hanya beberapa halaman disinggung dalam buku ini, saya justru jadi banyak „bercermin“ dan mempertanyakan kembali kondisi pendidikan tinggi di Indonesia, terlepas dari kondisi yang sudah berubah dalam kurun waktu 12 tahun dari saat data untuk buku ini diambil. Sampai tahun 2000, ada tiga kategori yang membedakan 76 PTN serta sekitar 1500 PTS di Indonesia. Kategori I yaitu PTN yang menjadi „center of excellence“ (menurut ukuran Indonesia, bukan menurut ukuran internasional, demikian kata si penulis, hehe) yaitu UI, IPB, ITB dan UGM.  Selain alasan sejarah, keempat PTN ini juga dari sisi sarana, prasarana sampai sistem pendidikan dan penelitiannya sudah „lebih“ dibandingkan dengan PTN lain yang masuk kategori II dan III. Ke dalam kategori II ini masuk UNAIR, USU, UNAND, UNDIP, UNIBRAW, UNHAS, UNUD, dan banyak lagi lainnya (saya mengutip saja apa yang ditulis dalam buku ini). Eh, institusi saya masuk ke mana ya? Kok tidak saya temukan. Mungkin termasuk ke dalam “dan banyak lagi yang lainnya” itu, karena dalam kategori III juga institusi saya tidak ditemukan. Kategori ke III ini adalah PTN yang ada di provinsi-provinsi lainnya di Indonesia (tidak disebutkan di provinsi mana), yang secara kualitas masih sangat jauh tertinggal dari hmm…Malaysia dan Singapura (kenapa bandingannya ini ya? Jauh sekali).

Saya mengerutkan kening, sontak muncul pertanyaan-pertanyaan: apa ukuran pembuatan kategori ini? Sarana dan prasarana nya kah? Kuantitas tenaga pengajar, mahasiswa atau jumlah penelitian yang dihasilkan dan lain sebagainya? Atau dari kualitasnya? Bagaimana mengukur kualitas? Dan seperti biasa, saya juga suka agak defensif jika “terpaksa” membandingkan Indonesia dengan kedua negara tetangga itu. Oke, mari kita lanjutkan dengan kepala dingin, sebagai peneliti yang „baik“, saya “harus” bisa berjarak dan bersikap objektif.

Selanjutnya buku ini membahas tentang organisasi pendidikan tinggi, yang secara sistem sangat mengacu kepada sistem organisasi pendidikan tinggi Amerika. Ini lebih ke masalah organisasi dan gremium yang ada di perguruan tinggi, seperti senat, rektor, pembantu rektor, dekan, pembantu dekan, kemudian fakultas, jurusan, dan unit-unit pelaksana teknis lainnya. Kemudian dibahas juga tentang badan-badan apa saja yang “membantu” institusi pendidikan tinggi di Indonesia, salah satunya Bank Dunia yang sejak tahun 1985 membentuk Inter-University-Centers atau Pusat Antar Universitas (PAU) yang membantu pendirian gedung, laboratorium, perpustakaan dan sarana prasarana penelitian, memberikan beasiswa dan mendatangkan dosen tamu. Tujuan utama dibentuknya PAU ini adalah untuk membina dan memberikan kesempatan untuk studi lanjut bagi dosen-dosen serta lulusan dari universitas-universitas dalam kategori III di atas, menyediakan laboratorium dan alat-alatnya serta membantu membuat jejaring dengan peneliti-peneliti internasional.  Sejauh mana ini berjalan, saya perlu mencari tahu lebih banyak lagi.

Masalah akreditasi, program studi dan lulusannya juga dibahas dalam buku ini. Sekedar informasi, lulusan S1 dari Indonesia, hanya disetarakan dengan tingkat Bachelor di Jerman, walaupun untuk masa studinya sebenarnya bisa lebih dari studi bachelor di Jerman yang memakan waktu 6 semester, sedangkan masa studi S1 di Indonesia secara regular 8 semester (bahkan ada yang sampai 14 semester, saya salah satunya, hehe). Maka seorang sarjana S1 lulusan Indonesia, jika dia berniat meneruskan studi master di Jerman, untuk bidang yang sama dengan studinya di Indonesia, ijazahnya dapat disetarakan dengan ijazah Bachelor. Itu pun biasanya hanya sedikit mata kuliah tertempuh yang diakui. Kalau dia ingin studi lanjut untuk jurusan yang berbeda, maka ijazah S1 nya tidak diakui, dan dia harus mengulang kembali dari studi Bachelor. Oh ya, sebagai tambahan lagi, sistem Bachelor dan Master sendiri di Jerman baru dilaksanakan sekitar tahun 2005/2006, sebelumnya Jerman hanya menganut sistem studi Magister (untuk ilmu-ilmu humaniora dan sosial) serta Diplom (untuk ilmu eksakta dan teknik). Tentang ini sudah pernah saya bahas di beberapa tulisan saya sebelumnya dalam blog ini juga.

Hal yang paling menarik perhatian saya, selain bagian kurikulum, tentunya bagian yang membahas tenaga pendidik di perguruan tinggi, karena saya ada di dalamnya, selain itu fokus kajian saya juga terletak pada interaksi dosen dan mahasiswa. Kalimat dalam paragraf pertama bagian ini langsung menohok saya. Disebutkan bahwa dalam banyak hal, kualitas tenaga pendidik di perguruan tinggi di Indonesia tidak memenuhi standar internasional. Sekali lagi lagi saya bertanya standar yang mana? Dibuat oleh siapa? Rasanya saya cukup banyak mengenal orang-orang yang secara kualitas bahkan lebih „baik“ dari tenaga-tenaga pengajar di Jerman (saya sempitkan dengan Jerman, karena di negara lain saya tidak tahu dan ukuran baik atau tidak baik juga relatif). Pertanyaan saya dijawab dalam kalimat berikutnya di bagian ini yaitu sebenarnya ada cukup banyak tenaga-tenaga pendidik yang bagus dan potensial serta memiliki kualifikasi yang tinggi, tetapi mereka seringnya dan biasanya “terjebak” atau –ini istilah saya- “dijebakkan”  dan di(ter)bebani oleh tugas-tugas struktural dan administratif, sehingga ini membatasi ruang gerak mereka untuk mengajar dan melakukan penelitian. Selain itu disebutkan pula bahwa kebanyakan dosen dari PTN juga mengajar di PTS, padahal sebenarnya banyak PTS yang justru memiliki tenaga pengajar sendiri yang kualitasnya juga lebih bagus. Ups!

Sampai di sini saya tidak bisa berkata-kata lagi. Ini bukan hal yang aneh dan baru sebenarnya, saya sudah tahu itu, karena ini juga terjadi di institusi saya sendiri. Tolong betulkan jika saya salah, karena jauh di lubuk hati saya (duh!) agaknya saya tidak mengharapkan hal semacam ini ditulis dalam buku ini. Saya berusaha mengabaikan dan menolak kenyataan bahwa hal ini hanya menjadi diskusi atau tepatnya misuh-misuh saya dan teman-teman dekat saya saja. Namun, sebagai orang yang sedang berusaha menjadi peneliti yang baik, saya tentunya „harus“ bisa menerima, bahwa kondisi ini juga diamati dan ditulis oleh orang lain, bukan? Saya berusaha objektif. Oke, ini memang kenyataan yang terjadi, ketika banyak tenaga potensial „dikebiri“ dengan dijadikan „tenaga administratif“, yang sebetulnya bagian ini juga bisa dilakukan oleh tenaga-tenaga profesional dan potensial lain di bidang ini. The right man in the right place. Ini yang di(ter)abaikan oleh sistem, diakui atau tidak diakui. Padahal jika mengacu kepada undang-undang tentang sistem pendidikan nasional tahun 2003, tugas tenaga pendidik adalah merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, bukan melakukan kegiatan administrasi yang sudah menjadi tugas tenaga kependidikan. Jangan-jangan jadinya malah mengambil jatah dan tugas orang nih, hehe.

Tenaga pendidik perguruan tinggi juga terikat pada apa yang disebut tri dharma perguruan tinggi, yang dalam beberapa diskusi sudah diperdebatkan apakah harus dilaksanakan oleh setiap orang atau justru sebaiknya dilakukan oleh universitas secara umum. Pengejawantahannya mungkin bisa dengan cara membagi mana tenaga pendidik yang khusus melakukan penelitian, mana yang mengajar, mana yang memiliki kompetensi administratif dan struktural yang dapat menjembatani pengabdian pendidikan tinggi kepada masyarakat . Saling mendukung dan sinergis antara penelitian dan pengajaran, karena menurut saya tujuan akhir dari semua itu toh untuk diabdikan kepada masyarakat dan untuk kemaslahatan umat (duh, bahasanya nih, hehe). Sayangnya, ini pengamatan subjektif saya saja, ketiga dharma ini diharapkan dilakukan oleh masing-masing tenaga pengajar, tetapi deskripsi „tugas“nya dipisah-pisahkan dengan jelas: meneliti adalah meneliti, mengajar adalah mengajar, pengabdian kepada masyarakat adalah misalnya terjun ke desa-desa. Sempit. Saya suka iseng bertanya: memangnya kalau saya mengajar dengan baik itu artinya saya tidak mengabdikan diri saya untuk masyarakat? Atau saya juga pernah ngedumel, pantas saja ada beberapa penelitian yang mengawang-awang tidak menyentuh bumi, karena tidak dihitung sebagai pengabdian kepada masyarakat sih, hehe. Tolong betulkan ini juga jika pengamatan dan „omelan“ saya salah, karena saya sampai saat ini hanya bisa mengamati institusi saya sendiri, siapa tahu di tempat lain berbeda.

Oke, berhenti di sini dulu deh. Banyak juga. Besok saya lanjutkan lagi dengan tujuan dan tugas pendidikan tinggi yang kemudian diimplementasikan pada kurikulum. Oh ya, curcol juga sebentar,  tampaknya saya masih belum bisa menjadi peneliti yang baik, karena saya masih sering tidak bisa „berjarak“ dan „objektif“ dengan kajian saya, masih sering terbawa emosi, karena ternyata mengkaji „rumah“ sendiri itu seperti mengorek-ngorek luka sendiri: painfull. Salah sendiri ya, milihnya tema beginian, hehehe.

Offside

Di saat orang berpesta pora di luar, di malam pergantian tahun seperti biasa saya memilih menepi dan menyepi. Kebetulan pula saya menonton film Iran yang dibuat tahun 2006 berjudul “Offside”. Film berbahasa Persia dan disutradarai oleh Jafar Panahi ini berkisah tentang anak-anak perempuan yang ingin menonton pertandingan sepakbola antara Iran dan Bahrain. Pertandingan ini adalah pertandingan penentuan babak kualifikasi piala dunia untuk menentukan negara mana yang akan menjadi wakil Asia dalam babak final Piala Dunia di Jerman.

Diawali dengan seorang bapak yang pergi ke stadion untuk mencari anak gadisnya yang kabarnya pergi menonton bola ke stadion, karena di Iran perempuan dilarang menonton sebuah pertandingan di lapangan secara langsung. Akibatnya banyak perempuan penggemar bola berusaha dengan beragam cara untuk menonton pertandingan di lapangan, dari mulai berdandan a la laki-laki, sampai mencuri-curi masuk ke dalam stadion melewati penjagaan dan pemeriksaan yang ketat dari tentara. Film semi documenter ini hampir seluruhnya berisi dialog-dialog antara anak-anak perempuan yang tertangkap dengan para penjaganya. Namun, dialog ini tidak membosankan, karena lewat dialog-dialog ini Panahi menyoroti aspek-aspek sosial kemasyarakatan di Iran, terutama tema-tema seputar dinas militer dan peraturan-peraturan yang mengatur peran perempuan Iran dalam masyarakat. Kritik tajam misalnya dilontarkan salah seorang anak perempuan “tomboy” yang ditahan terhadap si penjaga  yang marah-marah karena menurut si penjaga gara-gara para perempuan-perempuan itu, dia tidak bisa pulang ke desanya dan membantu ibunya menggembalakan kambing dan mengolah ladang. Menurut si anak perempuan, si penjaga seharusnya bisa lebih tegas menolak perintah dan menuntut hak liburnya, karena tugas dia sebagai anak lebih penting. Si anak perempuan kemudian juga “menggugat” mengapa perempuan tidak boleh menonton pertandingan bola di lapangan, yang dijawab oleh si penjaga, karena para lelaki yang ada di lapangan bola itu kasar, suka mengumpat dan itu berbahaya bagi perempuan, yang kemudian “digugat” lagi oleh si anak perempuan, mengapa perempuan boleh berduaan pergi dengan lelaki ke bioskop, padahal justru di sana lebih “berbahaya” lagi. Stereotype tentang perempuan tidak mengerti sepak bola juga disorot di sini, karena ternyata mereka juga tahu teknik-teknik dalam permainan sepak bola, tidak hanya masalah fanatisme dan wajah tampang para pemain bola, ini juga membuat para lelaki penjaga heran. Scene yang cukup menggelitik adalah saat salah seorang anak perempuan ingin buang air kecil, karena di stadion tidak ada WC untuk perempuan, maka  setelah memaksa-maksa akhirnya dia diijinkan ke WC dengan wajah ditutupi poster bergambar wajah salah seorang pemain sepak bola. Si penjaga kemudian mengusir semua laki-laki yang ada di toilter atau yang ingin ke toilet, karena tidak boleh ada yang melihat anak perempuan itu. Demikian juga si anak perempuan diwanti-wanti untuk tidak membaca tulisan apapun yang ada di dinding toilet, karena katanya bahasanya sangat kasar dan tidak pantas dibaca oleh seorang wanita.

Banyak paradoks yang menarik ditampilkan dalam film ini, di satu sisi ada hal-hal “naif” dan “humanis” dari sisi para penjaga, yang notabene juga manusia biasa, laki-laki yang punya ibu, istri dan saudara perempuan. Ada ketidakberdayaan melawan para petinggi dan pimpinan yang juga semena-mena saja terhadap bawahannya. Dan tentu saja “protes” para perempuan yang “ingin disetarakan” dalam hal menonton sepak bola, yang tentu saja menjadi sebagian kecil dari protes terhadap ketidakadilan yang mereka dapatkan.

Di akhir film diceritakan bagaimana anak-anak perempuan itu dan para penjaga mereka bersuka cita bersama saat tim Iran bisa menang 1 – 0 atas Bahrain dan kemudian bisa lolos ke putaran final Piala Dunia di Jerman saat itu. Sepakbola menghilangkan sekat-sekat itu ternyata, semua menyatu dalam kegembiraan yang sama, walaupun sepakbola juga tak lepas dari intrik dan permainan politik.

Film yang penuh kewajaran, tidak meledak-ledak, namun berhasil membuat saya tersenyum di beberapa bagian. Senyum dengan kesadaran penuh, bahwa hidup ini memang paradoksal. Seperti saya yang lebih suka memilih menepi di saat kebanyakan orang tumpah ruah berpesta.