„Hallo!“ „Danke!“ dan teman-temannya

Dua bulan lalu seorang teman yang berkunjung ke Bayreuth memberi komentar, katanya saking kecilnya kota Bayreuth sampai saya kenal dengan semua orang, begitu juga sebaliknya saya mengenal mereka: sopir taxi, sopir bis, resepsionis hotel, kasir di supermarket, orang yang bertemu di jalan, dll. Indikasinya adalah karena saking seringnya saya bilang „Hallo!“ kemudian berbincang dengan mereka. Sampai-sampai teman saya itu menjuluki saya sebagai „walikota“nya Bayreuth, karena katanya saya mengenal hampir semua orang.

Komentar teman saya itu tidak sepenuhnya salah dan tidak sepenuhnya benar juga. Memang sih, setiap saya pergi terutama ke kota, pasti saja bertemu dengan orang yang sama atau sering bertemu dengan orang-orang yang saya kenal. Maklum, kota ini memang kecil, hanya berpenduduk sekitar 80 ribu orang. Wajar lah ya kalau jadinya saya juga sering ber“hallo, hallo“ dan ngobrol sebentar dengan beberapa orang yang saya temu di jalan.

Namun, kata sapaan „hallo“ ini sebenarnya satu bentuk ritual sapaan yang wajar dilakukan di Jerman ini, selain kata sapaan lain seperti „Guten Tag“, „Tag“, „Gruß dich“, „Moin!“ atau „Gruß Gott“. Orang menyalami siapapun yang mereka temui di jalan, saat memasuki sebuah tempat, walaupun kita tidak mengenal orang-orang tersebut. Jadi jangan heran, saat masuk ke ruang tunggu praktek dokter orang menyapa „Hallo!“ atau „Tag!“ kepada orang-orang yang sedang menunggu, atau menyapa sopir bis dan kasir di supermarket dengan „Hallo“ atau „Gruß Gott!“, termasuk menyapa orang yang berpapasan di tangga atau di lift. Tak perlu kita mengenal orang tersebut, sapaan ini diucapkan sebagai sebagian kecil dari bentuk interaksi yang dalam konteks Luhmann berarti „merasakan“ keberadaan orang lain dan „menunjukkan“ keberadaan kita.

Kata sapaan ini sebenarnya hanya sebentuk ujaran verbal yang kecil saja, selebihnya kita lebih banyak menyadari keberadaan orang lain dan menunjukkan keberadaan kita dengan cara lain yang sifatnya nonverbal. Kadang –sering bahkan- kata sapaan ini diucapkan begitu saja, tanpa diiringi dengan prosodi dan intonasi yang „diharapkan“ mendukung „makna“ kata sapaan ini jika diujarkan, pun kadang tanpa ditunjang oleh mimik dan gestik yang „kebayangnya“ mengikuti kata sapaan ini. Jadi, jangan heran pula kalau kata sapaan „Hallo“ atau „Tag“ dan lain-lain tadi hanya diujarkan lurus saja tanpa ekspresi, bahkan kadang tanpa adanya kontak mata atau senyum. Jangan heran, ini „ritual“ yang kadang hanya dilakukan sekedar menjalani fungsinya sebagai „saling menyapa“, tetapi tanpa makna yang lebih dari itu. Idealnya tentu melaksanakan „ritual“ dengan menjalankan maknanya juga. Namun, manusia terlalu sibuk dan terburu-buru untuk itu, hehe.

Selain kata sapaan „Hallo!“ dan lain-lain di atas, kata terima kasih „Danke“ juga sering diucapkan kepada siapapun. Pola berpasangan „Hallo!“ – „Danke“ – „Auf Wiedersehen/Tschüß/Ciao“ sangat lazim ditemukan misalnya dalam situasi membayar di kasir supermarket atau „Hallo!“ – „Tschüß“ saat berada dalam satu lift dengan orang lain. Jadi, pertemuan dibuka dan ditutup dengan ujaran verbal. Jangan disinggung soal elemen-elemen nonverbal yang diharapkan menyertainya, ya. Jangan berharap lebih pula. Namun, pola berpasangan dalam ritual sapa-menyapa, berterima kasih dan berpisah ini saya rasa cukup menarik untuk disimak. Ini sifatnya kultural dan secara sosiologis akhirnya berakar kuat dalam pola interaksi masyarakatnya. Maka untuk orang yang datang dari latar belakang budaya dan sosiologi yang berbeda, yang memiliki ritual interaksi yang berbeda pula, hal-hal kecil semacam ini mungkin awalnya akan terasa asing. Begitu juga dengan mereka yang datang dari latar belakang budaya yang saling menyapa dengan verbal –tanpa dukungan unsur nonverbal- akan merasa asing saat berada dalam situasi interaksi dalam masyarakat yang berkonteks budaya tinggi, di mana unsur nonverbal mendapat tempat yang lebih dibandingkan unsur verbal. Misalnya menyapa „hanya“ dengan tersenyum atau menganggukkan kepala atau mengangkat tangan saja. Itu bentuk interaksi dan komunikasi juga, seperti kata Watzlawick: manusia tidak bisa tidak berkomunikasi.

Berada cukup lama dalam lingkup budaya yang lekat dengan situasi interaksi verbal seperti di Jerman ini, kadang membuat saya juga jadi ikut melakukannya di saat saya berada di dalam satu situasi budaya lain yang berbeda. Misalnya di Indonesia saya juga sering mengucapkan „Hallo“ kepada kasir di supermarket. Kalau ke sopir angkot atau sopir bis agak sulit, karena mereka kadang tetap menjalankan kendaraannya saat saya naik. Reaksi yang saya dapat adalah pandangan heran, saat saya misalnya menyapa kasir super market atau pelayan restoran dengan salam “hallo”. “Terima kasih” juga sering saya ucapkan, sampai beberapa orang teman saya di Indonesia heran karena saya katanya sering sekali berterima kasih. Kebiasaan juga sih. Walaupun saya rasa ini kebiasaan yang bagus, karena bagi saya menyap dan berterima kasih ini mengandung makna yang sangat dalam: penghargaan.

Tanpa bermaksud membandingkan ritual interaksi di dalam satu budaya dengan budaya lainnya, saya hanya menyadari bahwa elemen-elemen verbal yang kecil ini pada saat berjumpa, berpisah, berterima kasih –yang kadang keluar begitu saja tanpa dipikirkan dan tanpa maksud khusus- jika ditunjang dengan elemen-elemen lainnya, apalagi jika dipahami benar maknanya, maka akan dapat membawa efek sosial dan psikologis yang besar. Terdengar seperti sedang berbicara tentang ritual keagamaan ya?! Hehe. Saya rasa tak ada bedanya. Kadang orang perlu mengujarkan sesuatu dulu kemudian melakukannya untuk akhirnya memahami nya atau memahami, melakukan dan mengujarkannya. Bebas saja lah, hehe.

Karena perbedaan dalam ritual interaksi tadi, maka tak heran akan ada pula “ruang kosong” dalam satu budaya, bahkan tidak ditemukan ujaran verbalnya, tetapi „ruang kosong“ ini „terisi“ di dalam budaya lainnya –lengkap dengan ujaran verbalnya-. Misalnya di Jerman ini saya “merindukan” kata “punten” dalam Bahasa Sunda yang artinya “permisi” saat saya melewati sekelompok manula yang sedang berjemur sore-sore di tepi danau. Padahal di Bandung, saya selalu berusaha menghindari kata ini, saking banyaknya orang yang bergerombol nongkrong di jalan yang saya lewati dan harus saya “punten”i yang ujung-ujungnya malah sering membuat saya marah karena komentar-komentar yang tidak saya harapkan menjadi jawaban dari kata “punten” tersebut. Namun, dalam satu proses interaksi, apa yang dujarkan bisa dipahami dan direaksikan berbeda, bukan?

Perubahan yang saya rasakan juga terjadi pada proses berujar saya adalah berkurangnya intensitas penggunaan kata “maaf” untuk “permohonan maaf” yang sebenar-benarnya permohonan maaf, bukan yang bermakna „permisi“. Entah, saya jadi irit betul menggunakan kata ini, bahkan cenderung “takut” kalau kata ini sampai akhirnya harus keluar dari mulut saya. Mengapa? Karena jika kata ini terucap biasanya itu diiringi dengan perasaan yang amat sangat tidak enak dan menyesal berkepanjangan dari diri saya pada orang yang saya mintai maaf. Oleh karena itu, sebisa mungkin saya berusaha untuk tidak melakukan apapun atau berkata apapun yang mengakibatkan kata ini harus keluar dari mulut saya. Saya merasa lebih nyaman jika saya ber”terima kasih” lebih banyak daripada sedikit-sedikit minta “maaf”, tapi sedetik kemudian lupa dan melakukan kesalahan yang sama (bahkan lebih parah) sehingga kata „maaf“ hanya jadi sekedar “pemutihan” saja, habis perkara, nanti beda lagi urusannya. Malah mungkin kalau bisa saya lebih suka menggunakan ujaran untuk pemberian maaf. Namun, sampai sekarang, di dalam bahasa-bahasa yang saya pelajari, belum saya temukan satu ujaran khusus –satu kata saja- yang mewakili tindak „pemberian maaf“ ini. Apakah mungkin karena memberi maaf lebih sulit dibandingkan meminta maaf ya?! Atau mungkin ada yang tahu kata yang mewakili tindakan ini?

Advertisements

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s