Ich will du sein

Ich will du sein

Advertisements

Ein Gedanke zu „Ich will du sein

  1. Hi Dian,
    aku senang banget baca terjemahan-terjemahan kamu di blog ini. Kasih inspirasi. Makasih, ya! Sekarang aku mau komen tentang terjemahanmu kali ini.
    Pertama-tama „Ich will du sein“ merupakan salah satu karya Rainer Maria Rilke yang dihimpun dalam „Rilke Projekt“ (Rilke Projekt III) oleh tim komponis dan produsen Schönherz & Fleer (http://www.rilke-projekt.de/das-rilke-projekt/rilke-3-ueberfliessende-himmel/) dan dibacakan oleh Ben Becker (http://www.youtube.com/watch?v=1BNwwuXNpOc).
    Tulisan Rilke itu adalah cuplikan dari surat yang ditulis oleh Rilke kepada kekasihnya Lou Andreas-Salomé di München tertanggal 9 Juni 1897 (Rainer Maria Rilke Lou Andreas-Salomé Briefwechsel. Hers. Ernst Pfeiffer. Insel Taschenbuch. Frankfurt am Main. 1989: 19).
    Jadi tulisan itu bukan tentang Tuhan. Memang kalau kita membaca „Ich will den Segen deiner Hände auf meinen Händen und meinem Haar in meine Nacht mitnehmen“ seolah-olah tentang Tuhan. Kalau interpretasiku adalah: Rilke mengagungkan kekasihnya tersebut bagaikan Tuhan.
    Terus anak kalimat „um am Feuer deiner Augen tausend leise Opfer zu entzünden“ yang dimaksud „Opfer“ itu menurut pendapatku adalah „Opferkerze“ yang ada di gereja, yang biasa dinyalakan untuk memanjatkan doa setelah memberikan sedekah ke dalam kaleng yang sudah disediakan. Kalo menurut pendapat pribadiku Rilke menyingkat „Opferkerze“ jadi „Opfer“ karena alasan stilistik.
    Menurutku yang nomor dua paling sulit diterjemahkan adalah bagian kalimat „Ich will aufgehen in dir“. Ini maksudnya dia ingin tumbuh bagaikan bibit (tumbuhan), sementara kekasihnya itu adalah tanahnya. Lalu yang dimaksud dengan „Rakete“ dalam „wie die Rakete bei den einsamsten Sternen“ memang benar-benar roket, bukan panah api (seperti yang dimiliki orang Indian). Memang pada waktu Rilke hidup (1875-1926), belum ada roket, namun sudah ada cerita (seperti science fiction) tentang roket yang terbang ke bintang-bintang.
    Menurutku yang paling sulit diterjemahkan adalah kalimat terakhir „Ich will du sein“. Kalo interpretasiku, Rilke begitu mengagungkan kekasihnya itu, sehingga dia ingin menjadi satu dengan kekasihnya itu. Atau lebih tepatnya: Dia ingin, dirinya adalah kekasihnya itu.
    Terakhir, karena karya Rilke tersebut adalah bagian dari surat (bukan puisi biasa), maka setiap kalimat diakhiri dengan titik.
    Ini versi interpretasiku:

    Aku ingin bermimpi tentang impian yang lembut dan menyambutnya dengan binar bagai bunga rambat yang menghiasi rumahku.
    Aku ingin membawa berkat dari tanganmu di tanganku dan di kepalaku pada malamku ini.
    Aku tak ingin bicara dengan manusia, agar aku tak menyia-nyiakan gaung kata-katamu (yang bergetar merdu di atas kata-kataku dan memperluas khazanahnya), dan aku tak ingin melihat cahaya lagi selepas matahari senja, agar dapat menyalakan sunyi ribuan lilin doa dengan cahaya matamu…
    Aku ingin tumbuh di dalam dirimu, bagai doa anak-anak yang bersorak-sorai di pagi yang gaduh, bagai roket di bintang-bintang yang paling sunyi.
    Kuingin aku adalah dirimu.

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s