Surprising Turkey #3

Kejutan 3: Turunc dan tour sejarah murah meriah
Hari pertama, seperti rencana kami menghabiskan waktu di Turunc saja. Tempat ini layak disebut desa saja, kecil soalnya, tapi nyaman. Setelah paginya berjemur, kami kemudian mencari travel biro J&J tour yang menyediakan paket wisata sejarah di Turki seputaran Aegean ini. Yang jelas kami ingin ke Efes dan Pamukkale. Harus. Sudah melihat-lihat di internet dan kami pokoknya harus pergi ke sana, hehe.  Akhirnya kami mengambil satu paket wisata ke Efes dan Pamukkale seharga 40 €/orang  dengan menginap semalam di Pamukkale, itu sudah termasuk bis, tiket masuk ke tempat-tempat tersebut, guide, 3 kali makan serta hotel bintang 4. Wah, daripada ribet kalau harus mengecer, kami  langsung ambil saja paket itu ditambah satu paket hamam atau Turkish bath seharga 20 €. Senang!
Selanjutnya sore itu kami menghabiskan waktu dengan minum Kahve (Turkish coffee) yang pekat tapi intensitasnya sih tidak terlalu kuat dan makan revani. Revani ini adalah sejenis cake khas daerah Mediterania Timur yang terbuat dari tepung semolina dan direndam dengan sirup yang dicampur jeruk atau air mawar, kemudian di atasnya ditaburi kelapa parut atau kacang pistachio cincang. Revani yang kami makan ini untungnya tidak terlalu manis. Enak. Lola sendiri memesan Efes bier, khas dari daerah itu. Menikmati sore yang cukup panas sambil duduk-duduk selonjoran di sebuah kafe di tepi pantai yang dipenuhi karpet-karpet Turki dan pipa-pipa shisha, jadi berasa di negeri 1001 malam deh, hehe. Menyenangkan dan bikin ngantuk, hehe.

Selanjutnya kami masih jalan-jalan sedikit mengelilingi desa Turunc yang cuma seuprit itu, melihat-lihat toko-tokonya yang kecil-kecil lalu membeli air mineral 5 liter seharga 1 TL saja. Wah, murah! Sekalian kami juga melihat jadwal Dolmuş, semacam angkot di Turki, ke Marmaris. Rencana kami hari kedua memang mau ke Marmaris.  Orang-orang di Turunc juga ramah-ramah dengan turis-turis yang kebanyakan berasal dari Inggris dan Rusia.

Selain sarapan, makan siang dan makan malam kami disediakan pula oleh pihak hotel. Menu makanannya cukup wah dan banyak, tentu saja dengan rasa yang enak, cocok dengan lidah kami. Benar-benar menyenangkan dan mengenyangkan.

Selesai makan malam, kami juga masih berjalan-jalan di seputaran Turunc. Ingin melihat kira-kira kehidupan malamnya seperti apa. Namun, tampaknya dua turis ini agak pemalas untuk begadang, akhirnya kami pulang ke hotel dan malah begadang sambil bercerita seru di kamar. Tujuan esok harinya: Marmaris.

Werbeanzeigen

Surprising Turkey #2

Kejutan 2: nazar boncuğu dan Turunc
Setelah mengambil bagasi yang tinggal tersisa punya kami berdua, kami keluar menuju shelter tempat shuttle bus yang akan membawa kami ke Turunç, tepatnya ke Hotel Özcan tempat kami akan menginap. Sudah lepas maghrib saat shuttle bus berangkat, jadi tidak terlalu bisa melihat-lihat pemandangan di luar. Capek, tapi tidak bisa tidur juga, lagipula lapar sudah mulai mendera. Makan di pesawat hanya sekedar pengganjal saja.
Melewati Marmaris yang ramai oleh turis-turis yang duduk-duduk di bar, café dan restoran, dan banyak juga yang jalan-jalan, saya merasa seperti sedang melewati jalan-jalan yang penuh turis di Bali, hehe.  Suasana liburan sudah terasa. Lima orang Jerman yang ada di shuttle bus sudah sibuk berkomentar, ada 4 orang Asia termasuk kami cuma senyam senyum saja. Dari  Marmaris menuju Turunç, jalanan mulai menanjak dan berbelok-belok cukup tajam, kemudian menurun dan masih berbelok-belok pula. Walaupun gelap, tapi pemandangan ke bawah bagus sekali. Lampu-lampu berkelap-kelip. Wah, jadi tak sabar menunggu perjalanan siang hari. Pasti indah juga.
Sebelum sampai ke hotel, kami dibagikan peniti kecil dengan gantungan nazar boncuğu (lucky eye atau evil eye stone) berwarna biru muda dengan “mata biru tua”, yang dalam budaya dan adat Turki dipercaya sebagai pembawa keberuntungan dan sebagai pelindung. Saya sendiri mendapat gantungan dengan tambahan bunga. Nanti di Marmaris saya juga mendapat peniti lagi dengan nazar boncuğu dan kupu-kupu.
Hotel Özcan tempat kami menginap terletak di tengah desa Turunç. Hotel ini cukup besar dengan interior bangunan didominasi kayu berwarna coklat. Tampaknya masih memakai gaya Turki jaman Attaturk. “Mengejutkan” dan sekaligus tentu saja menyenangkan kami bisa menginap di hotel yang cukup nyaman ini. Kamarnya cukup luas dan bersih, dilengkapi TV, telfon, lemari es kecil, safety box dan AC! Duh, langsung merasa ada di Indonesia begitu memasuki kamar ini. Saya merasa de ja vu seperti  menginap di sebuah hotel kecil di Yogya dan Malang, hehehe. Setiap kamar memiliki balkon dilengkapi dengan dua kursi, meja dan … jemuran pakaian. Jadi kami bisa mencuci sendiri juga, hehe. Kamar mandi cukup bersih. Kami terkejut melihat hair dryer nya yang tak biasa kami jumpai: satu kotak kecil dengan “belalai” panjang. Pelayanan di hotel ini juga cukup memuaskan. Selain itu, di hari-hari berikutnya kami tahu bahwa makanannya juga cocok dengan lidah dan selera kami. Kerjasama hotel ini dengan  1-2 fly yang mengatur perjalanan kami dari dan ke Jerman juga baik sekali, sehingga kami tidak mengalami kesulitan apapun (bahkan tidak perlu ribet-ribet mikir, hehe).
Karena kami tiba cukup larut, sekitar pukul 23, kami sudah tertinggal waktu makan malam.  Sekalian mencari makan malam, kami melihat-lihat desa Turunç yang kecil dan tampaknya didominasi oleh turis-turis Inggris. Di sebelah hotel ada supermarket dan di depannya ada mesjid. Tak jauh dari sana berjejer tempat makan dan toko-toko souvenir. Dokter dan warnet juga tak jauh dari situ. Semua berkumpul dalam satu jalan saja. Here we are, tampaknya in the middle of nowhere lagi nih, hehe. Namun, tampaknya semua menyenangkan :)
Memutuskan makan di sebuah restoran. Sudah hampir tengah malam itu. Dilayani dengan ramah sambil tentu saja ditanya-tanya kami berasal dari mana, dll. Dia bilang, kami adalah orang Indonesia pertama di Turunç. Mengingat desa ini kecil dan tampaknya orang-orang yang datang ke sana juga tamu “tetap” sehingga sudah saling mengenal, jadi mungkin apa yang dia bilang benar juga, hehe.
Kami memesan stuffed mushroom dan hidangan daging untuk berdua, karena porsinya memang besar. Lola memesan “Efes”, bir dari Turki dan saya orange juice segar. Selesai makan dengan nikmat, kami kembali ke hotel, bersiap-siap istirahat.Pfui, perjalanan panjang, terutama untuk saya. Besoknya kami hanya akan bersantai dan melihat-lihat Turunç saja. Lola sudah mau berjemur dan saya mau hunting objek foto.
Jadi, menurut rencana, hari pertama di Turki kami akan menikmati Turunc terlebih dulu, setelah itu baru ke tempat-tempat lain. Yang ada dalam list rencana kami adalah Marmaris, Efes, Pamukkale, Izmir dan di hari terakhir kami berencana pergi ke sebuah Hamam untuk melakukan Turkish bath dan massage. Hmm….sudah tak sabar.

Surprising Turkey #1

Kalau saya dan sahabat saya, Lola, disatukan, tampaknya akan ada banyak keisengan terjadi, terutama iseng belanja dan iseng jalan-jalan. Apalagi kalau sudah menemukan sale dan penawaran tiket pesawat dan perjalanan murah, sudah deh, kacau dunia. Hehe. Selain itu, ciri-ciri jalan-jalan kami adalah murah meriah dan pergi ke tempat-tempat yang jarang dijadikan tujuan wisata oleh kebanyakan orang. Untuk yang pertama memang iya lah, siapa sih yang tidak mau jalan-jalan murah meriah tapi menyenangkan. Nah, untuk yang kedua sebenarnya itu bukan maksud kami, tapi itu adalah efek dari faktor murah meriah tadi, yang biasanya berakibat kami sampai di tempat-tempat terpencil. Namun, justru di situ menariknya dan banyak efek kejutnya, hehe.

Perjalanan ke Turki ini juga sama: iseng. Dan ini juga sebenarnya dampak lanjutan dari keisengan kami yang spontan nonton konser Boyce Avenue di Köln. Saya yang tinggal jauh di Bayreuth akhirnya menginap di tempat Lola di Dortmund. Besok paginya, kami mau ke kota dan melewati beberapa travel biro di dekat rumah Lola lalu memutuskan mampir ke salah satu travel biro. Iseng saja ingin tanya tentang paket perjalanan ke Turki. Memang sih di chating-chating kami sebelumnya sempat terutarakan keinginan untuk ke Turki. Inginnya ke Istanbul, tapi kemudian diganti dengan: pantai. Pokoknya pantai. Sempat hunting juga di internet dan menemukan beberapa tempat yang menarik.

Namun, itu semua masih dalam tahap rencana, sampai akhirnya kami iseng masuk ke sebuah travel biro itu. Pokoknya kami ingin ke pantai dengan biaya kurang dari 300 €. Irit banget kan, hehe. Maklumlah, stipendiat dengan keuangan terbatas. Tidak disangka kami dapat paket itu! Paket seharga 263/orang itu sudah meliputi tiket pesawat Jerman – Turki pp, lalu transfer ke dan dari bandara Dalaman ke Turunç, hotel selama 7 malam termasuk makan pagi, siang dan malam. Eh, tapi sebentar, di mana itu Dalaman dan Turunç? Osman Tekeli dari Sunfly Reisecentre di Dortmund dekat rumahnya Lola yang „melayani“ kami menunjukkan petanya. Ternyata Dalaman dan Turunç terletak di teluk dekat Laut Aegean. Berseberangan dengan Yunani. Kota besar yang ada dekat situ adalah Marmaris dan Izmir. Wah, semakin bersemangat. Apalagi melihat pantainya indah sekali: warna biru turkish dengan kontras tebing-tebing batu di tepinya. Tak jauh dari situ juga katanya ada tempat reruntuhan bangunan tua. Wah! Setelah berpikir sejenak, kami akhirnya mengambil paket tersebut. Selanjutnya, kejutan banyak terjadi. Tiket pesawat ternyata sudah termasuk rail and fly, jadi kami bisa naik kereta gratis ke dan dari airport dan bisa naik kereta ICE yang super cepat itu tentunya. Untuk saya ini menguntungkan, karena saya jadi bisa menghemat biaya kereta yang harga normalnya bisa mencapai lebih dari 100 € sekali jalan.
Jadi, pergilah kami. Saya berangkat pagi-pagi dari Bayreuth.  Janjian ketemu Lola langsung di Düsseldorf Airport.  Perjalanan panjang untuk saya, karena perlu waktu sekitar 5 jam lebih untuk sampai ke Düsseldorf Airport, kemudian akan dilanjutkan dengan penerbangan menggunakan TUI Fly ke Dalaman selama 4 jam, lalu transfer dari Dalaman ke Turunç sekitar 3 jam.
Kejutan 1: Dalaman dan Visa
Jam 19:30 waktu Turki, pesawat mendarat di Dalaman Airport yang cukup besar. Bagi orang Indonesia yang akan masuk ke Turki kurang dari 30 hari diperlukan visa on arrival dengan biaya sebesar 25 $. Kami berdua memegang paspor dinas dan dari keterangan yang kami baca, pemegang paspor dinas dari Indonesia tidak memerlukan visa untuk masuk ke Turki. Namun, untuk meyakinkan diri, kami menuju counter visa, ternyata benar saja petugasnya tidak tahu aturan itu.
Susah payah mengerti dan berkomunikasi dengan petugas yang tetap menyebutkan bahwa kami perlu visa dan harus membayar 25 US $. Namun, katanya, karena dia tidak punya stempel visa dengan besaran 25 $, hanya yang 20 $ dan 30 $, maka kami harus membayar 30 $. Tidak terima dengan logika yang aneh ini, kami kemudian bertanya ke petugas imigrasinya. Beruntung mereka mau memperjelas dan menanyakan status passport kami. Setelah menunggu beberapa saat sambil terheran-heran karena si petugas malah ngobrol dengan rekannya, paspor kami akhirnya dicap dan kami bisa masuk Turki tanpa visa dan tentu saja tanpa bayar.  Ini sama seperti haknya orang-orang Inggris. Orang Jerman saja masuk Turki perlu visa kok, hehe.
Ah, tapi kami lega akhirnya tiba juga di Dalaman. Tinggal mencari shuttle bus yang akan membawa kami ke Turunc.