Surprising Turkey #5

Kejutan 5: Rumah Maryam dan kota tua Ephesus
Subuh-subuh sudah bangun. Jam 6 kami dijemput di depan hotel oleh travel yang akan membawa kami tour. Yang berangkat dari Turunc ada 6 orang termasuk kami, semuanya perempuan. Di Icmeler kami pindah ke mini bis bergabung dengan yang lainnya. Ada dua mobil yang berangkat. Guide kami bernama Ahmed. Ramah dan bercerita dengan cukup detil. Mobil yang satunya lagi dipandu oleh Delia, perempuan Inggris. Peserta tour memang kebanyakan orang Inggris, ada 2 orang dari Rusia dan kami berdua dari Indonesia. Ada salah satu peserta tour yang tampaknya mabuk berat, ngoceh macam-macam, sampai Delia pindah mobil, dan akhirnya orang itu diturunkan dan dikembalikan.
Perjalanan pagi cukup lancar. Seperti yang saya bilang, sarana dan prasarana di Turki cukup bagus, jalan tolnya pun bagus dan mulus, walaupun ada banyak pembangunan jalan di sana-sini, tapi tidak membuat macet. Di tengah jalan antara Marmaris – Mugla kami berhenti untuk sarapan di sebuah restoran. Oh ya, sebelumnya kami sempat salah berhenti di salah satu restoran yang cukup nyaman. Sudah mengambil posisi duduk yang enak, eh tahunya bukan di restoran itu kami seharusnya berhenti. Lanjut lagi deh. Sarapan a la Turki biasanya asin: roti, keju, timun, tomat dan telur.  Memang disediakan selai juga sih. Dan seperti biasa, sarapan kami harus banyak, untuk cadangan energi. Waktu berhenti untuk sarapan kami manfaatkan juga untuk pergi ke toilet.

Perjalanan ke Ephesus melewati Mugla dan pemandangan sepanjang jalan itu benar-benar indah. Jalan tol yang lebar, kadang jalan naik turun berkelok-kelok juga, di kiri kanan jalan pemandangannya juga menyenangkan. Ada di satu kawasan, saya lupa apa, yang di kiri kanan jalannya penuh dengan batu-batu besar seperti cadas, batu-batu yang umurnya juga sudah tua. Ya, Turki memang termasuk daerah yang “tua”.

Mobil berhenti sebentar di sebuah dam besar tidak jauh dari Efes. Pemandangannya bagus sekali dari situ. Di sana kami berkenalan dengan seorang bapak tua asal Inggris yang dulunya seorang pelaut, dan kapalnya pernah mendarat di Medan dan Surabaya. Ya, peserta tour ini memang kebanyakan orang tua, hehe. Bahkan ada satu ibu-ibu yang jalan pun sudah susah karena memiliki masalah di kakinya, tapi tetap semangat ikut tour dan dia pergi sendirian!

Perjalanan dilanjutkan menuju sebuah pabrik keramik di Efes yang terkenal. Selain diperlihatkan bagaimana produksinya, kami tentu saja masuk ke tokonya. Wah, wah, wah! Langsung  kalap melihat keramik-keramik yang indah itu. Kalau tidak ingat bahwa ini baru akan jalan-jalan, dan kami masih harus terbang kembali ke Jerman, pasti sudah belanja ini itu deh. Akhirnya kami hanya membeli wadah perhiasan kecil seharga sekitar 15 TL, juga gelang. Itu saja, supaya ringkes.

Setelah dari sana, kami meneruskan perjalanan ke Rumah Maryam/Rumah Maria (Meryem ana evi) di daerah Efes. Rumah itu dipercaya sebagai rumah terakhir tempat Maryam/Maria tinggal sampai meninggalnya. Selain banyak dikunjungi umat Katolik, umat dari agama lain termasuk Islam juga banyak yang datang berkunjung. Di situ juga ada sumber air yang disebut Meryemana Kaynak Suyu  atau Air Maryam/Maria yang dipercaya dapat membawa kesuburan jika orang meminumnya. Selain itu di dinding “harapan”, tempat orang memasang tissue atau kertas bertuliskan harapan-harapan baik dari orang yang menggantungkannya. Selain Meryem ana evi, di sekitar rumah ini juga terdapat banyak peninggalan sejarah lainnya.

Lola sempat membeli souvenir di sini, sebelum kami kemudian melanjutkan perjalanan ke tujuan utama tour ini, yaitu kota tua Ephesus atau dalam bahasa Turkinya Efes. Ini adalah reruntuhan kota tua jaman Yunani kuno dan di kemudian hari menjadi kota yang cukup penting di jaman Romawi. Ephesus ini terletak di Selçuk, provinsi Izmir. Untuk masuk ke tempat ini, pengunjung dikenai biaya tiket masuk 11 TL. Harga tour kami sudah termasuk biaya tiket masuk ini.

Kami kemudian dipandu oleh Ahmed yang menjelaskan dengan sangat detil sejarah kota tua ini. Saat itu terus terang kepala saya migren karena lapar dan panas, jadi tidak terlalu mendengarkan penjelaskan Ahmed, tetapi Lola menyimak dengan serius, hehe. Saya malah sibuk membuat banyak foto untuk mengalihkan sakit kepala dan terutama untuk sebanyak mungkin mengabadikan tempat itu. Saya penyuka sejarah, jadi kunjungan ke sana untuk menapaki jejak peradaban dunia ini seperti mimpi yang jadi kenyataan. Saya tuliskan sedikit saja. Lebih lengkapnya bisa dibaca dan digoogle sendiri, hehe.

Ephesus adalah salah satu dari dua belas kota anggota Liga Ionia pada masa Yunani klasik. Pada masa Romawi, selama bertahun-tahun kota ini menjadi kota kedua terbesar di kekaisaran Romawi setelah kota Roma. Ephesus memiliki populasi sejumlah lebih dari 250.000 orang pada abad ke-1 SM, yang ketika itu menjadikannya sebagai kota terbesar kedua di dunia.

“Dilindungi” oleh Artemis Temple, Ephesus termasuk ke dalam salah satu dari keajaiban dunia. Kota ini sebenarnya sudah ada dari sebelum jaman Yunani, kemudian dibangun kembali di jaman Yunani klasik dengan tatanan kota yang cukup modern. Kota ini tadinya adalah kota pelabuhan, namun karena proses sedimentasi, akhirnya kota ini mundur berpuluh-puluh kilometer dari laut.

Di jaman Romawi kota ini semakin modern. Kıta bisa melihat reruntuhan bekas pengadilan, tempat pertemuan senat, selain tentu saja kuil-kuil untuk menghormati para kaisar (misalnya Hadrian Temple), perpustakaan (Celcus Library), bahkan pemandian dan toilet umumnya, hehe. Jalan menurun menuju Celcus Library terbuat dari batu-batu granit dan marmer. Indah! Belum lagi pilar-pilar dan gerbang-gerbangnya, seperti gerbang Hercules. Ini memang membuktikan bahwa peradaban masa lalu itu sudah sedemikian maju. Di sana ditemukan juga potongan batu berbentuk persegi panjang berreliefkan dewi Nike. Bentuknya itu kemudian dijadikan logo salah satu produsen barang-barang olah raga yang terkenal. Ada juga Amphitheater dan sarkofagus-sarkofagus yang bertebaran di luar area kota.

Kalau tidak karena migren dan waktu yang juga terbatas, saya sebenarnya ingin berlama-lama di sana, dan mengamati dengan lebih detil lagi. Namun, itu pasti membutuhkan waktu seharian penuh. Mudah-mudahan ada rejeki bisa pergi ke sana lagi, hehe.

Setelah dari kota tua Ephesus, kami masih mampir ke daerah tempat Artemis Temple berada. Sayang kami tidak masuk ke dalamnya. Hanya dapat melihat dari kejauhan. Padahal menarik juga melihat kuil pagan (Artemis) berdiri di dekat gereja Katolik (St. John Basilika) dan sebuah mesjid Islam yang dibangun oleh seorang arsitek dari Syria. Menyiratkan kedamaian :)

Setelah melihat-lihat sambil beristirahat sejenak, kami melanjutkan perjalanan menuju…restoran! Yeah! Makan juga akhirnya. Makanan khas Turki dan beberapa jenis makanan Eropa berlimpah ruah di meja. Kami dapat memilih sesukanya. Namun, tampaknya saya sudah terlalu lapar dan masuk angin, sehingga tidak dapat menikmati makanan tersebut. Ya, daripada maag saya kambuh, lebih baik saya makan yang moderate saja. Tapi perut harus tetap diisi.

Selesai makan, kami melanjutkan perjalanan ke Pamukkale. Tiba di sana sudah sore, sebenarnya kami ditawarkan juga apakah mau melihat sunset di sana, karena katanya pemandangan saat matahari terbenam di Pamukkale itu indah sekali. Jıka mau, kami bisa mendapatkan diskon untuk tiket masuknya. Namun, tampaknya tidak ada yang berniat pergi ke sana melihat sunset, karena saat itu langit juga agak mendung. Akhirnya sebelum dibawa ke hotel tempat kami akan menginap, kami bersantai dulu di pinggiran kolam di taman di bawah bukit Pamukkale yang di kejauhan sudah terlihat memutih. Bukit yang memutih itu bukan karena salju, tapi karena bebatuannya yang mengandung calsium hydrocarbonat.

Sudah tidak sabar rasanya menunggu esok hari untuk melihat “cotton castle” Pamukkale beserta sumber air panasnya dan Hierapolisnya. Tapi sabar dulu, sekarang istirahat dulu. Memulihkan dulu migren dan masuk angin nih, sampai akhirnya bisa makan malam dengan enak di hotel bintang 4 yang bagus di Pamukkale ini. Ini benar-benar tour yang paling menyenangkan!

Advertisements

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s