#5: Adéu, Catalunya!

Walaupun tidur subuh, paginya bangun dengan cukup segar. Mungkin karena tidurnya nyaman juga. Mengurus administrasi dengan Abdiel sambil sarapan sangat santai. Kami tidak terburu-buru. Lagipula bis kecil ke Ordino datang satu jam sekali, dan bis yang akan membawa kami ke Girona juga berangkat sore hari jam 17. Jam 12 baru keluar hotel, setelah pamitan yang “hangat” pakai acara peluk cium pipi kiri kana pula dengan si Abdiel, hehe.

Sampai di Andorra la Vella, menyimpan tas dulu di locker Estacio de Busosnya, lalu kami melanjutkan jalan-jalan di seputaran Andorra la Vella. Ada taman yang indah di dekat Estacio de Busos dan jalan di pinggir sungai yang dipenuhi bunga-bungan sakura yang sedang mekar. Indah!! Foto-foto tentu tidak dilewatkan. Menyusuri jalan di pinggir sungai menuju pusat kota, mengambil beberapa foto.

Di tengah kota ternyata sedang ada pasar loak filateli dan pin. Melihat-lihat sebentar, lalu kami melanjutkan lagi perjalanan ke sisi kota yang lain. Pusat pertokoannya. Andorra memang terkenal sebagai pusat belanja. Namun, tentu saja kami tidak masuk ke toko apapun, hehe. Yang terjadi malah kami berdua kok mencium wangi-wangi masakan. Dua orang ini memang indera penciumannya langsung bekerja dua kali lebih cepat jika ada wangi makanan, bahkan membayangkan wanginya saja kami bisa, hihi.

Jadi, kami mengikuti wangi itu (kok jadi berasa seperti anjing ya yang mengendus-endus bau, hihi) dan sampai di salah satu restoran yang dalam daftar menunya menyediakan menu khas Katalonia. Wah, ini harus kami kunjungi. Apalagi menu paket makan siang seharga 9,50 € per orang yang terdiri atas makanan pembuka, utama dan penutup. Duh, ini super murah.

Masuklah kami ke restoran bernama La Taberna del Mallol ini. Ruangan restoran ini nyaman sekali. Ruang didominasi warna putih dengan sentuhan warna marun. Kami mengambil tempat di pojokan dan segera dilayani dengan ramah pula oleh ibu-ibu –tampaknya- pemiliknya. Tidak banyak tamu yang datang saat itu. Mungkin karena belum waktunya makan siang. Sepertinya jam makan siang di Andorra sama seperti di Spanyol, agak telat.

Saya memesan salad dan ikan trout a la Andorra (kita lihat seperti apa), sedangkan Lola memesan sup dan Llom. Tentu saja Sangre de Toro, wine dari Catalunya, dipesan oleh Lola. Harus dicoba dong. Saya sendiri memesan coke.

Ternyata, makanan pembuka yang kami pesan itu porsinya cukup besar. Salad dalam piring cukup besar, begitu juga supnya. Namun, kami memang perlu energi ekstra karena harus menempuh lagi 3 jam perjalanan kembali ke Girona. Menu utama datang, ikan trout a la Andorra adalah ikan yang digoreng dengan sedikit tepung dan di atasnya ditaburi bacon yang dipotong kecil dan digoreng kering, ditambah Pommes Frites. Karena saya tidak memakannya, maka baconnya saya berikan Lola yang selama perjalanan kali ini hampir setiap hari makan Llom, hehe.

Puas dan kekenyangan menikmati menu masing-masing, kami kaget ketika ditawari makanan penutup. Oalah, mana bisa masuk lagi? Perut sudah kenyang sekali. Namun, ini kan sudah termasuk paket. Nah lho! Akhirnya dengan komunikasi yang lagi-lagi aneh, karena kami berbahasa Inggris dan si ibu serta pelayan restorannya memakai bahasa Katalanis, dan tentu saja karena mencari aman dan gampangnya. Sebenarnya kami memesan buah segar, tapi yang datang ternyata 1 mangkuk buah segar dan 1 mangkuk Flan caramel. Ini salah pengertian, karena di awal saya menunjuk Flan caramel ini, tapi kemudian membatalkannya dan menggantinya dnegan buah. Ternyata mereka tetap menganggap saya memesan Flan caramel itu. Akhirnya Lola makan buah segarnya  untuk mengimbangi makanan berat sebelumnya dan saya makan Flan caramelnya, karena sebelumnya saya sudah makan salad. Kalori! Tapi biarin lah, hihi, lagipula Flan-nya enak.

Sempat agak ragu juga takut harganya tidak sesuai dengan paket, karena uang tunai kami sudah tidak cukup dan berharap bisa membayar pakai kartu kredit. Ternyata bisa dan harganya –di luar minuman- benar 9,50 € per orang. Wah! Untuk makanan selengkap dan rasa seenak itu, ini harga benar-benar murah. Kami memang beruntung :)

Inginnya istirahat sebentar setelah selesai makan itu, tapi kami masih harus naik bis ke Girona. Dan ups, kami tidak tahu jalan ke Estacio de Busosnya, hihi. Mengandalkan intuisi lagi kira-kira kami ada di mana dan kami harus berjalan ke arah mana. Untungnya Andorra la Vella memang cuma segitu-gitu saja besarnya, jadinya cukup mudah juga menemukan jalan ke Estacio de Busos. Patokan saya adalah sebuah tempat penyewaan mobil dan salah satu hotel.

Sampai tepat waktu, masih sempat ke toilet dulu, dan masuklah kami ke bis kecil yang akan membawa kami ke Girona. Penuh juga bis-nya. Sopirnya ramah. Dia menyangka Lola dari Filipina, karena namanya Maria, hehe. Perjalanan melewati pegunungan Pyrenees yang indah itu dimulai lagi, dan saya tampaknya “mabuk” darat lagi, karena pusing lagi seperti saat datang ke Andorra. Heran nih, biasanya juga tahan-tahan saja saat naik mobil. Sementara Lola masih bersemangat cerita, saya sudah teler berat dan akhirnya tidur. Lola juga akhirnya tidur sih, hehe.

Bis mampir dulu ke Aeroport Girona dan penumpang yang lain turun di sana, kecuali kami berdua yang akan turun di Estacio de Busosnya Girona. Tak lama, sampai juga. “Adéu, Señorita,” kata sopirnya, hehe. “Adéu”.  Estacio de Busosnya ada di depan stasiun kereta api Girona.

Dan kami mulai lagi membiasakan diri lagi dengan “sistem” Spanyol. Kami mencari loket penjualan tiket bis, karena besoknya saya harus ke Aeroport Girona dan Lola ke Aeroport Barcelona. Logikanya pasti loketnya dekat situ. Memang dekat, tapi agak tersembunyi juga. Ternyata tidak ada loket yang buka dan tidak ada informasi tentang jadwal keberangkatan bis. Jadi ya sudahlah.

Setelah mengambil uang, kami naik bis ke arah Salt yang haltenya untung tidak jauh dari situ. Tahu harus berhenti di Espai Girones, tapi di mana kah itu? Hehe, jangan tanya. Petunjuk yang ada dalam bis juga membingungkan, karena kami tak bisa membacanya dan tidak ada petunjuk halte apa yang akan dilewati. Maka, berdasarkan pengalaman: berhentilah di halte terakhir. Tanya ke sopir juga percuma, lha wong bahasanya ngga ngerti, hehe. Dan pengalaman adalah guru yang terbaik, benar saja halte terakhir adalah Espai Girones, dan nama hotel Sidorme tempat kami akan menginap sudah terpampang jelas di depan mata. Syukurlah, hehe.

Hotel ini yang harganya paling mahal di antara hotel-hotel tempat kami menginap sebelumnya yang di bawah 20 €, ini 21 € dan masih murah untuk ukuran hotel seperti Sidorme. Ya, letaknya memang di pinggir, tapi tak apa. Pusat perbelanjaan dan halte bis dekat situ juga, jadi bisa mudah mencari dna pergi ke manapun sebenarnya. Lagipula kami cuma semalam menginap di sana.

Simpan barang dan cari makan malam. Btw, kayaknya perjalanan kali ini isinya makan-makan terus ya? Atau tepatnya saya menulis tentang makan-makannya terus, hehe. Yah, pokoknya kami masuk ke mall Espai Girones yang mungkin “hanya” sebesar BIP, hehe. Suasananya mirip mall-mall di Bandung, tapi tentu kalah mewah dibandingkan mall-mall di Jakarta. Daerah ini tampaknya daerah imigran, karena kami perhatikan banyak orang-orang dari Afrika Utara di daerah ini.

Jalan-jalan keliling dulu, baru kami memilih salah satu tempat makan di foodcourt lantai 3 mall itu. Pesan menu paket lagi, kali ini bukan paella, tapi…Lola beli Llom lagi dan saya ayam lagi, hahaha. Puas puas deh makan Llom dan ayam. Bukan karena apa-apa, ini semata karena hanya Llom dan ayam yang kami mengerti, dan itu pun setelah melalui komunikasi yang memakai seluruh anggota tubuh dan segala macam daya dan upaya, hihi.

Selesai makan, kami mau mencari roti atau croissant dan air untuk sarapan, karena harga 21 € tidak termasuk penginapan. Masuk ke supermarket di bawah, ambil air dan croissant. Dan terjadi lagi kejadian lucu karena masalah bahasa. Kasir mengambil croissant kami sambil ngomong blablablabla lalu dengan santai membuang croissant yang akan kami bayar tadi. Hah? Ada apa ini? Kami bengong. Jadi kami hanya perlu membayar 45 cent untuk air mineral, sedangkan croissant tidak kami bayar. Iyalah, croissantnya dibuang, hihi. Keluar dari situ masih terkaget-kaget dengan kejadian croissant yang dibuang itu setelah itu kami ketawa-ketawa ngga jelas. Terus terang, sampai sekarang saya masih tidak tahu kenapa croissant itu dibuang, padahal belum masuk kadaluarsa.

Akhirnya kami keliling-keliling mencari cafe yang masih buka dan berharap bisa membeli croissant untuk dibawa pulang. Ternyata ada juga. Pfui! Selamat lah, hehe. Pulang ke hotel, Lola masih melanjutkan pekerjaannya, sementara selesai mandi saya masih membaca 1 jurnal lalu tidur. Esok pagi saya harus pergi cukup pagi ke Estacio de Busos dan lanjut ke  Aeroport  Girona. Sementara Lola masih bisa tidur agak lama, karena dia baru akan berangkat agak siang ke Aeroport Barcelona.

Ah, tidak terasa sudah harus kembali lagi ke Jerman. Masih betah sebenarnya di Spanyol, tapi kembali ke Jerman juga menyenangkan. Setelah hampir seminggu ditinggalkan, membayangkan tidur di kamar sendiri di bawah selimut hangat nyaman juga.

Tampaknya dua Doktorandinnen ini memang suka iseng mencari selingan-selingan yang menyenangkan di antara pekerjaan yang semakin lama semakin menumpuk (heran, padahal sudah dikerjakan, tapi tetap saja terlihat numpuk, hihi) dan rangkaian deadlines yang tak menunggu waktu. Jadi, mari kita tunggu selingan yang menyenangkan lainnya ;))

Advertisements

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s