#4 Andorra (yang bukan drama)

Bangun pagi, buka tirai jendela dan kami disuguhi pemandangan indah gunung dan tebing serta..seekor kuda gendut gondrong dan kucel sedang merumput, hehe. Setelah selesai mandi, kami sarapan di bawah. Tampaknya tamu Hotel Anem tempat kami menginap ini hanya kami berdua, soalnya sepi sekali. Sarapan cornflakes dan roti kering. Kemudian kami minta informasi dari Abdiel, sekaligus meminta peta Andorra dan jadwal bis. Ini penting, supaya kejadian semalam tidak terjadi lagi.

Tadinya kami mau ikut tour saja ke beberapa objek wisata di Andorra, mengingat transportasi umumnya agak sulit. Namun, hari Jumat itu tidak ada jadwal tour, akhirnya kami memutuskan untuk mencoba naik cable car di La Masana, kemudian jalan-jalan di Andorra la Vella, mampir ke outletnya MNG, setelah itu lihat nanti, hehe. Kami memang turis yang tidak ambisius. Sedapatnya saja.

Nunggu bis di depan hotel, sambil agak ragu juga, di sebelah mana kami harus menunggu, karena tidak ada tanda-tanda halte bis. Hmm…ya sudah, nebak saja. Nunggu bis sambil menikmati pemandangan yang betul-betul indah, udara yang sejuk, angin sepoi-sepoi, matahari yang juga muncul, suara gemericik air dari sungai di dekat jalan, melihat kuda-kuda yang sedang merumput dengan tenang. Ah, indahnya dunia. Tenang dan nyaman sekali.

Hotel Anem ini ternyata terletak di daerah La Cortinada, tepatnya di perbatasan La Cortinada, sebelum ke El Serrat, yang tampaknya masih jauh lagi. Akhirnya bis yang kami tunggu datang juga. Bis kecil warna putih dengan jendela banyak, hehe. Ticket bisnya juga cukup murah 1,20 dari Serrat ke Ordino. Kami akan menuju tourist information di Ordino, mencari info lagi sambil menunggu bis no 6 ke La Massana. Dilayani dengan ramah di tourist information, heran juga tampaknya ada dua perempuan Indonesia nyasar jauh-jauh ke Ordino, hehe.

Di La Massana, kami menuju kantor tourist information lagi, diberi tahu untuk naik ke atas menuju stasiun cable car yang akan membawa kami ke ketinggian Arinsal. Pfui, ini “uji nyali” juga untuk kami berdua yang takut ketinggian, hehe. Ticket seharga 10 euro sudah di tangan, jadi harus berani lah ya. Naiklah kami ke kabin cable car bersama dua orang turis lainnya. Tampaknya dari Spanyol. Ramah. Saling foto memfoto juga. Dan pemandangan dari menuju ke atas itu bagus sekali….Ambil beberapa gambar, terus terang kalau itu saya lakukan untuk meredakan ketakutan saya naik kereta yang semakin tinggi. Kaki sudah lemas dan gemetar sebenarnya, hehe.

Sepuluh menitan waktu yang ditempuh untuk sampai ke atas. Vallnord Arinsal itu salah satu tempat main ski. Salju masih banyak, orang-orang yang datang ke sana berpakaian ski lengkap, sementara kami  cuma bertrench coat saja. Pantas ketika mau beli ticket ditanya apakah kami mau main ski atau tidak. Hihihi, ngga, kami hanya mau melihat-lihat saja.

Tidak lama kami di sana, karena memang di sana “hanya” tempat bermain ski.  Mau menikmati pemandangan kok ya kostum tidak mendukung. Dingin dan berangin. Daripada masuk angin, mendingan kami turun dan ke Andorra la Vella untuk mencari makan siang juga.  Turun, kemudian lanjut naik bis dari La Massana ke Andorra la Vella.

Karena tidak ada petunjuk halte sama sekali, jadi kami turun saat kami “diusir” oleh si mbak-mbak sopir bisnya, hehe. Suhu agak dingin dan langit juga agak mendung. Kami putuskan untuk mencari makan siang dulu. Mengikuti ke mana kaki melangkah mencari-cari tempat makan. Akhirnya kami mampir ke salah satu snack bar di daerah dekat Casa de la Vall.

Hmm, namanya boleh snack bar, tapi sebenarnya kami makan lengkap di situ. Menu yang saya pesan chicken dan pommes frites, sedangkan Lola makan Llom lagi. Hehe. Kali ini espresso jadi minuman kami. Saya sendiri memang butuh kaffein, ngantuk berat saat itu. Walaupun pada akhirnya ngga ngaruh juga sih, mau mi num espresso atau apa, ngantuk sih tetap, hehe. Selesai makan, kami jalan ke Casa de la Vall. Ini adalah gedung pemerintahan negara Andorra. Bangunan-bangunan di Andorra ini khas, karena dindingnya terbuat dari batu-batu kali dan lempengan batu-batu dari tebing-tebing, arsitekturnya pun minimalis. Saya menduga, arsitektur rumah-rumah atau tempat-tempat –khususnya restoran- bergaya minimalis di Indonesia dengan ornamen batu-batu kali ini mengambil ide dari gaya bangunan di Andorra, karena kok rasanya familiar dengan bangunan resto-resto mewah di pinggir tebing di daerah Dago Atas. Dugaan saja, hehe.

Mengambil beberapa gambar sebentar, menyusuri gang-gang kecil berbatu menuju ke arah kota. Karena kotanya juga hanya segitu-gitunya, kami tidak terlalu kesulitan menemukan outlet MNG tujuan kami berikutnya, hehe. Lihat lihat lihat, tergoda sih, saya bahkan sempat mencoba beberapa celana jeans. Untung tidak ada yang cocok, hehe. Kalau ada yang pas, pasti belanja juga deh. Bisa menahan diri tidak belanja juga karena saya berpikir di mana saya akan menyimpan belanjaannya? Barang yang bisa dibawa ke kabin terbatas dan tas saya kalau dipaksa lagi pasti sobek restletingnya. Ada untungnya juga, walaupun sekarang saya agak menyesal tidak membeli trench coat seharga 20 € an. Huhuhu, maklum saya agak fetish dengan jaket, hehe.Tapi ya sudahlah :)

Agak capek juga saat itu, kami lalu lanjut jalan ke Estacio de Busos membeli tiket ke Girona untuk besok harinya. Setelah dari situ, kami memutuskan kembali ke Ordino, takut terlalu sore, secara kami menginap di Andorra coret, hihi. Jadi kami kembali ke Ordino dan memutuskan masuk ke Micro miniatur museum Nikolai Siadistry. Kami tadinya berpikir itu semacam museum miniatur kota seperti di Madurodam atau Gullivers Welt di Saarbrücken. Dugaan kami salah besar.

Disambut sangat ramah oleh penjaga museumnya, kami membeli tiket seharga 7 € untuk masuk ke micro miniatur museum itu dan museum ikonografi. Di awal nonton film dulu, tentang Nikolai Siadistry, seorang seniman dari Ukraina. Museum ini pun hanya ada di Andorra dan di Kiev.Penasaran seperti apa museumnya, kami pun masuk ke ruangan yang tidak terlalu besar di belakang meja informasi. “Cuma” ada tabung-tabung kaca di sana. Ternyata di situlah miniaturnya. Yang memang mikromini, kami harus menggunakan kaca pembesar yang dipasang di tabung-tabung kaca itu. Hasilnya: luar biasa! Ini karya besar dalam medium micro. Figur-figur dari emas yang dipasang pada lubang jarum misalnya, atau pada sebutir beras atau pada sehelai rambut. Selain itu Nikolai Siadistry juga masih membuat lukisan wajahnya dari huruf-huruf yang bisa dibaca dengan menggunakan kaca pembesar. Ini benar-benar pekerjaan besar!

Selesai melihat micro miniatur museum yang membuat kami terkagum-kagum, kami mulai “perjalanan” di museum ikonografi gereja timur. Proses pembuatan ikon-ikon tersebut diterangkan dengan sangat antusias proses oleh si ibu penjaga museu,  juga tentang figur-figur yang ada dalam ikon-ikon itu. Beres melihat-lihat ikon-ikon di museum ikonografi yang terasa dingin (memang dingin, mungkin untuk menjaga suhu ruangan agar tidak merusak ikon-ikon yang kebanyakan terbuat dari kayu supaya tidak berjamur), kami membeli beberapa kartu pos. Inginnya sih membeli matrioshka-matrioshka lucu (ada Winnie the Pooh dan teman-temannya yang “beranak pinak” sampai ke yang imut seimut-imutnya. Lucu…) atau anting-anting kecil atau hiasan apapaun yang diberi lukisan bunga sangat detil dan kecil. Saya tak bisa lepas kagum dengan keindahan dan ketelitian seniman yang mengerjakannya.

Hujan di luar ketika kami meninggalkan museum. Niat mencari makan malam, mumpung masih di Ordino, karena jika sudah sampai hotel mau cari makan di mana lagi? Ngga enak juga kalau minta tolong Abdiel pesan dan ambil pizza lagi, sedangkan restaurant di hotel sebelah tampaknya juga tidak buka. Sebelum ke museum, kami sudah mengincar satu restaurant kecil dekat museum. Tampaknya menarik dan menu yang ditawarkan juga cukup menarik dan murah. Masuklah ke dalam, memang menarik tempatnya. Sudah duduk nyaman dan siap memesan makanan, tentu dengan harapan besar akan makan enak, ternyata pelayannya menghampiri kami sambil berkata bahwa mereka sudah tidak menyediakan makanan berat jam segitu (kurang lebih jam 19). Yaahh….dengan kecewa kami keluar restaurant itu dan kembali bingung harus mencari makanan di mana, karena setahu kami di dekat-dekat situ tidak ada restaurant yang representatif. Representatif dalam arti harga terjangkau, hehe.

Ada dua restaurant yang kami ketahui ada di sekitar situ, setelah mencoret cafe di gym dekat tourist information. Satu restaurant juga kami coret karena pasti mahal (again, hehe). Jadi kami menuju ke atas, tempat kami pertama datang. Dengan kesadaran bahwa jam tujuh malam tentu saja restaurant belum buka untuk dinner, jadi ya dengan terpaksa kami makan di cafe. Tak apalah, daripada ngga makan, hehe. Menunya tortilla de patatas –Spanish omelette- saja kok cukup, hehe. Itu saja sudah mengenyangkan sekali.

Selesai makan, memutuskan kembali ke hotel daripada ketinggalan bis yang datang cuma sejam sekali itu sambil berbekal muffin, jaga-jaga kalau lapar tengah malam. Dan benar saja, muffin itu berguna, karena kami kemudian di kamar memang mengobrol panjang lebar sampai jam 4 pagi. Hehehe, begitulah. Padahal hari itu kami sudah harus meninggalkan Andorra menuju Girona. Duh, kok rasanya males juga ya, hehe.

Advertisements

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s