#3 Barca – Andorra: such a perfect day :)

Bangun pagi, Lola langsung dong bekerja sambil selimutan, sementara saya mandi kemudian packing. Kami akan berangkat ke Andorra sore itu, jadi siangnya masih bisa dipakai jalan dan makan di La Rambla. Selesai sarapan dengan menu yang sama seperti kemarinnya, kemudian check out, kami pergi ke Estacio de Busos untuk menyimpan barang. Kali ini tidak ada masalah dengan orientasi di stasiun metro. Yang menjadi masalah adalah mesin validasi ticket. Kami membeli ticket group, yang artinya untuk kami berdua kami hanya pegang satu ticket. Ini ternyata tidak praktis, karena kami harus melewati mesin validasi ticket satu-satu. Setelah Lola masuk, dia menyerahkan ticketnya kepada saya, baru saya bisa masuk. Sekali waktu, ticket bisa divalidasi untuk Lola, tapi ketika saya mau lewat, tidak bisa lagi. Walah, bagaimana ini. Lola sudah di seberang, sementara saya masih di dalam. Terpaksa saya membeli ticket baru supaya bisa lewat. Ada-ada saja.

Setelah menyimpan tas di locker di Estacio de Busos, kami jalan kaki melewati Arc du Triompf menuju Placa Catalunya. Tidak terlalu sulit, petunjuk arahnya juga cukup jelas. Foto-foto sebentar di Placa Catalunya yang penuh dengan burung merpati, lalu kami lanjut lagi menyusuri La Rambla. Sambil cari-cari souvenir dan kartu pos. Akhirnya kami masuk ke salah satu toko souvenir, yang punyanya tampaknya orang India atau at least dari Asia Selatan lah, yang menyapa kami dalam bahasa Indonesia, hehe. Mungkin India-Malaysia. Lumayan juga, jadi dapat diskon, hehe.

Beres urusan souvenir, lanjut lagi cari makan siang. Wah, menggoda sekali duduk-duduk sambil makan di La Rambla. Kalau Lola sambil minum Sangria, itu yang belum tercapai, karena kalau minum Sangria pasti harus dalam porsi besar.  Cuaca saat itu juga cukup cerah. Oh ya, ada satu keinginan yang terpaksa kami lewatkan: melihat pertunjukan Flamenco. Ingin sekali, tapi mahal, jadi ya sudahlah, dicoret dari list saja.

Setelah lihat-lihat, akhirnya kami memutuskan duduk di pinggiran La Rambla di depan salah satu restoran yang menyediakan menu paket Tapas dan Paella untuk lunch dengan harga 9,95 € saja dan menyediakan Sangria dalam porsi yang tidak terlalu besar. Dan ternyata, sebenarnya restoran itu restoran Cina yang menyediakan Spanish Menu. Hehe, tak apalah. Toh kemarinnya kami sudah makan di restoran Spanyol juga.

Pilih-pilih menu Tapas, kami minta kroket tanpa daging, setelah ditanyakan daging yang dipakai adalah Llom. Saya tidak bisa makan. Sedangkan Paellanya kami pilih yang biasa. Tapas datang, saya agak curiga karena kroket yang datang ternyata berdaging, seperti kornet begitu. Lola mencicipinya duluan. Dia sendiri tidak tahu itu daging apa, memang rasanya seperti kornet. Ya sudah, saya coba juga. Saat akan memasukkan suapan kecil kedua atau ketiga, tiba-tiba pelayan yang awalnya melayani kami dan tahu betul bahwa kami memesan kroket tanpa daging datang menghampiri kami dengan tergopoh-gopoh dan dari ekspresi wajahnya saat itu, lalu jari yang menunjuk ke kroket, kami tahu bahwa kroket itu berdaging babi. Ups! Hahahaha. Kami langsung berhenti makan, saya maksudnya. Lola juga kaget. Tapi mau gimana lagi?! Hihihi. Memang yang mengantarkan kroket itu bukan pelayan yang mencatat pesanan kami, jadi dia pasti tidak tahu bahwa kami memesan kroket tak berdaging. Tak ada yang berkata-kata saat itu terjadi, cuma ekspresi wajah yang menunjukkan ada yang salah, jadinya kami malah tertawa-tawa, sementara si pelayan balik kanan dengan ekspresi wajah yang entah merasa bersalah atau apa, ngga jelas, haha. Ya sudah, akhirnya kroket dihabiskan Lola, sambil menunggu Paella yang menyusul kemudian. Ini aman, karena isinya seafood. Hehehe, ada-ada saja.

Hari itu memang acara kami hanya makan siang saja di Barcelona, karena bis ke Andorra akan berangkat jam 15. Jadi selesai makan, kemudian mampir sebentar ke Cortes de Ingles untuk nebeng ke toiletnya seperti biasa, kali ini sambil lihat-lihat barang juga karena kami sudah tahu toiletnya ada di mana, hehe. Selesai dari situ, naik metro ke Arc de Triompf (sampai hafal daerah itu, saking bolak balik terus ke sana), ambil barang dan menunggu bis berangkat ke Andorra. Ticket bis ke sana sendiri seharga 25 €. Bisnya besar dan nyaman. Perjalanan Barcelona – Andorra sendiri akan memakan waktu sekitar 3 jam. So, adéu Barcelona. Masih ingin menjelajahi Barca sih, tapi lain kali lah. Sekarang ke Andorra dulu.

Dan pemandangan pegunungan Pyrenees amat sangat indah!!! Sepertinya semua mimpi dan gambar-gambar yang saya lihat di buku-buku waktu kecil terpampang di depan mata. Gunung dan tebing-tebing tinggi, masih ada sisa-sisa salju, jalan yang berkelok-kelok naik turun, belum lagi melintasi danau yang tampak hijau turkish. Indah, indah, indah. Tapi lho, kenapa lama-lama saya mual dan pusing ya? Lama-lama kok merasa gunung-gunung tinggi itu mau menimpa saya? Apa karena jalannya berkelok-kelok juga? Ngga tahu, tapi daripada saya mabuk darat, mendingan saya tidur menyusul Lola yang sudah nyenyak dari tadi.

Kami bangun saat bis berhenti di perbatasan dan ada pemeriksaan dokumen. Cukup ketat juga, bahkan anjing pelacak juga sampai masuk ke dalam bis. Namun, semua aman dan kami melanjutkan perjalanan lagi. Tak lama sampai juga kami di Estacio de Busosnya Andorra La Vella, ibu kota negara Andorra yang terletak di antara Perancis (daerah Arriege) dan Spanyol (Catalunya). Ini negara kecamatan, kalau meminjam istilah teman saya, karena kecil, walaupun tak sekecil dua negara kecamatan yang pernah saya kunjungi yaitu: Vatican dan Liechtenstein.  Luas Andorra 468 km², 8 %nya dihuni dan 92%nya hutan, danau, sungai dan pegunungan. Ups! Hehe.  Jumlah penduduk negara Andorra juga hanya sekitar 84.000 orang.

Kami sudah berbekal nomor bis yang harus kami ambil untuk sampai ke Ordino, tempat kami akan menginap. Namun, jangan harap kami bisa sampai ke sana dengan mudah. Setelah menanyakan ke petugas di Estacio de Busos di mana kami bisa naik bis ke Ordino, yang dijawab dengan “La Poste” saja, tanpa tahu apa-apa kami kemudian jalan ke belakang stasiun bis melewati tempat parkir dan menemukan La Poste, kantor posnya. Ada papan penunjuk arah ke Ordino dan ada halte bis di sana. Dan sekali lagi, jangan harap kami bisa dengan mudah naik bis, karena bis yang kami tunggu, nomor 6 tidak datang-datang juga, sementara di halte bis tidak tertera sama sekali bis apa saja yang lewat dan jadwalnya. Haduh. Udara dingin saat itu dan hujan gerimis pula. Ada dua halte di sana, kami juga bingung harus menunggu di halte yang mana. Menunggu ada mungkin sekitar 1 jam atau lebih, saya lupa,  sudah hampir putus asa, bahkan Lola sempat menelfon dulu yang punya penginapan, menanyakan bagaimana caranya kami bisa sampai ke hotel tempat kami akan menginap. Ternyata dari Ordino itu kami masih harus naik bis kecil lagi ke arah El Serrat. Duh, mas, kenapa ngga bilang dari dulu.

Dan tunggu punya tunggu akhirnya ada juga bis nomor 6 bertuliskan Ordino, aaahhh…..lega. Naiklah kami, beli tiket di sopir bisnya seharga 1,50 €. Tidak terlalu mahal, karena ternyata Ordino itu jauh juga dari Andorra La Vella. Melewati lagi pemandangan yang bagus, sambil memperhatikan jalan, karena kami sejujurnya tidak tahu kami harus berhenti di mana, hehehe. Menurut petunjuk yang punya hotel ya berhenti di Ordino, tapi di halte apa ya kami tidak tahu. Dan semua halte bis tidak ada namanya dan tidak ada pemberitahuan kami sudah sampai mana. Hoalah! Ya sudah, akhirnya mengandalkan intuisi lagi: berhenti di halte bis terakhir.

Ya, halte bis terakhir. Di mana ini? Lalu kami harus naik apa? Katanya harus naik bis kecil warna putih ke arah El Serrat. Tapi itu di mana? Tidak ada informasinya sama sekali. Hanya ada tulisan tourist bus 100 m, tanda panah ke bawah. Lah, ke bawah mana? Jalan sebentar, cari-cari, apa mungkin ada halte yang lain, tidak ada juga. Waktu itu sekitar jam 18an, masih terang, karena sudah akhir Maret. Tapi dingin tetap lah ya. Saya lalu bertanya pada tiga orang yang sedang mengobrol di seberang, bagaimana kami bisa sampai ke El Serrat. Beruntung salah seorang dari mereka bisa bahasa Inggris. Dan informasi yang diberikan cukup mengagetkan, katanya El Serrat cukup jauh dari Ordino sementara bis sudah tidak ada lagi, baru ada besok pagi dan naik taxi tentu saja mahal. Waduh! Bagaimana ini? Kami benar-benar ada in the middle of nowhere.

Akhirnya Lola menelfon lagi yang punya penginapan, katanya kami harus naik bis di depan tourist information, gedung putih berjendela banyak. Bis masih ada sampai jam 9. Yang jadi tantangan sekarang adalah di manakah letak tourist information-nya? Jalan lagi ke bawah, cari-cari tidak ditemukan juga. Tanda “i” menunjuknya ke atas, balik lagi. Dan jalan di Andorra, terutama di Ordino itu naik turun cukup terjal. Akhirnya kami memutuskan untuk naik lagi dan menunggu di halte sebelum halte terakhir. Di situ ada jadwal bis memang, keciiill…sampai ngga kelihatan. Bis ke El Serrat memang ada: 1 jam sekali.

Nunggu lagi, gelap lah lama-lama dan semakin dingin dong, sementara bis yang katanya kecil berwarna putih tidak datang-datang juga. Yang datang ya bis no 6 dari Andorra la Vella ke Ordino dan kembali lagi ke Andorra. Jam 8 lewatlah sudah, tidak ada bis yang diinginkan yang datang. Sampai ada bis nomor 6 lagi, dan sopirnya bertanya kami mau ke mana. Pakai bahasa Katalanis tentu saja. Tapi bisa diperkirakan lah kira-kira maksudnya. Dan kami menjelaskan dalam bahasa Inggris. Komunikasi yang aneh memang. Kami bertanya di mana tourist informasi dan kami mau menuju El Serrat. Dia bilang kami harus jalan ke bawah, karena bis ke El Serrat tidak melewati tempat kami menunggu saat itu. Oalaaah, jadi betul toh, kami betulan salah, hehe.

Jadi kami jalan lagi ke bawah, itupun masih tidak punya ide di mana letak tourist informationnya. Sopir yang membantu kami tadi kemudian lewat lagi dan dia memanggil kami, sambil menggambarkan peta bagaimana sampai ke El Serrat dari Ordino itu dan di mana kami harus menunggu bis-nya. Ternyata kami harus menunggu bis di tempat dia memanggil kami dan tentu saja: itu di depan tourist information! Halah!

Lega karena tourist informationnya sudah ketemu, tapi kami masih harus menunggu 1 jam lagi karena bis ke El Serrat akan datang sejam lagi. Perut sudah lapar, kedinginan pula, mau cari makanan di mana? Semua toko dan restoran dekat situ tutup, sudah lewat  jam 20 soalnya. Okay, harus menahan lapar ini dan kami ragu apakah kami bisa dapat makanan juga, secara itu tempat jauh kemana-mana. Hmm.

Sambil menunggu itu, Lola ternyata dapat miscalled dari hotel tempat kami akan menginap. Ditelfon balik, si yang punya hotel heran kenapa kami belum sampai juga. Ngga nemu bis-nya. Mau gimana? Salah tempat nunggu. Akhirnya dia bilang mau menjemput kami. Halaaah! Lega! Senang betul! Akhirnya kami tidak harus menunggu sambil kedinginan selama 1 jam. Kami akhirnya menunggu di depan tourist informasi.

Menunggu sekitar 15 menitan itu tak seberapa dibandingkan harus sejam lagi menunggu bis. Ada mobil orange datang menghampiri dan itu dari Hotel Anem tempat kami akan menginap. Duh! Rasanya seperti mendapat apa. Yang menjemput namanya Abdiel. Masih muda, ramah. Ngobrol-ngobrol sepanjang jalan. Pfui, ternyata memang hotelnya jauh.  Hahaha. Beruntunglah si Abdiel mau menjemput kami.

Hotel Anem ini tidak terlalu besar. Hostel tepatnya. Kalau menurut pesanan, kami harusnya berbagi kamar mandi, tapi karena tidak ada pengunjung hotel yang lain, kami bisa pakai kamar mandi itu untuk mandi sendiri. Asiikk…  Kamar kami nyaman, kamar mandinya pun nyaman. Ada bathtub-nya. Sudah membayangkan berendam dengan nyaman di situ. Enak kayaknya.

Kami minta tolong Abdiel untuk memesan pizza, karena cuma satu-satunya itu yang masih bisa dipesan. Si Abdiel ini benar-benar baik, karena dia mau mengambil pizza yang hanya bisa diantar sampai Ordino. Duh, kami memang “terkurung” di tempat entah di mana. Tidak bisa kabur ke manapun.

Menghangatkan diri dulu di dekat Heizung sambil menunggu pizza dan air minum. Pizza datang, langsung disantap dengan kalap. Tak habis memang, karena kami pesan dua pizza ukuran besar. Tapi itupun cuma bersisa sedikit. Selesai makan, siap-siap tidur. Eh, Lola masih bisa bekerja denk. Hehehe, saya sih sudah teler berat. Mari kita tidur saja berselimut hangat. Kami bersyukur hari itu bisa terlewati dengan banyak keberuntungan dan bertemu orang-orang yang baik. Oh ya, kata Abdiel yang pernah ke Indonesia, kami adalah orang Indonesia pertama yang datang ke hotelnya. Okay, patut dicatat ini. Dua orang perempuan mungil dari Indonesia, malam-malam nyasar-nyasar di Ordino, hihi. Lagian iseng mau ke Andorra segala, hehehe. Namun, kalau ngga nyasar ya ngga akan tahu apapun juga. Ah, mari tidur saja. Besok kami akan menelusuri negara kecamatan ini.

Advertisements