Birthday Trip #3: Bienvenue à Colmar!

Bangun lebih pagi. Kami berencana berangkat ke Colmar dengan menggunakan bis jam 7.25. Kepagian sih, tapi ya karena ingin berlama-lama di Colmar, maka tidak apa berangkat pagi. Walaupun pada kenyataannya, kami ternyata baru berangkat jam 8.06. Bukan karena kami bangun kesiangan, tapi karena « ritual » sarapan kami. Sarapan sih boleh seadanya (maksudnya yang ada « cuma » mie instan, sup instan dan chicken wings), tapi sarapan kami harus « benar », hehe, belum lagi ditambah acara ngobrolnya, jadi memang lama. Anyway, tidak apa-apa tapinya berangkat terlambat, kami memang mau santai saja. Dandan cantik, badan tidak terlalu pegal dan sakit sehabis ski hari kemarinnya, kami siap berangkat. Perbekalan hari ini adalah kamera.

Berangkat lagi naik bis ke stasiun kemudian naik kereta sampai Freiburg. Menunggu tidak terlalu lama, tapi cukup untuk dipakai ke toilet dulu, dll. Selanjutnya naik Breisgrau S-Bahn ke Breisach, kota kecil perbatasan dengan Perancis. Di sana menunggu lagi bis menuju Colmar. Dan ternyata harga tiket bis ke Colmar cukup murah, hanya 7,70 € pp/orang. Ke luar negeri lho, hehe. Perjalanan dari Breisach ke Colmar memakan waktu sekitar 30 menit. Melewati desa-desa kecil dan padang-padang rumput. Terasa bedanya, saat ke luar perbatasan Jerman, terlihat dari rumah-rumahnya yang lebih berwarna-warni dibandingkan di Jerman, juga dari rambu lalu lintas yang dipasang. Rambu-rambunya tidak sebanyak di Jerman, hehe.

Sampai di Colmar, banyak orang turun di Theater, sepertinya memang pusat kotanya. Kami memutuskan untuk lanjut sampai ke Bus stationnya di Colmar Gare, karena niatannya mau mencari info dulu ke Tourist Information. Ternyata jarak dari pusat kota ke Gare itu cukup jauh. Hehe, maklum, kami menyangka seperti di Jerman saja, begitu keluar Bahnhof langsung kota. Ini Perancis, bukan Jerman. Tapi tak apalah, di sana kami sempat mengambil peta kota Colmar, dan salah ambil dong, informasi pada petanya berbahasa Belanda. Ya, ya, jalan-jalan di Perancis dengan peta berbahasa Belanda, hehe.

Setelah mampir ke toilet dulu, kami kemudian mencoba mencari apakah kami bisa membeli tiket kendaraan umum untuk berkeliling kota Colmar, yang diakhiri dengan rasa putus asa karena semua informasinya dalam bahasa Perancis. Akhirnya kami memutuskan berjalan kaki ke kota berbekal peta yang kami pegang. Cuaca mendung saat itu dan cukup dingin. Yang selalu menarik perhatian saya dari kota-kota di Perancis yang pernah saya kunjungi adalah lampu lalu lintasnya yang dipasang tidak terlalu tinggi. Bahkan kali ini saya melihat dalam satu tiang lampu lalu lintas ada lagi lampu lintas yang kecil.

Kami kemudian masuk ke taman Place du Champs de Mars yang indah. Taman khas Perancis, di tengah taman ada Bruat Fontaine dengan patung Armand Joseph Bruat seorang Admiral Perancis yang berasal dari Colmar. Colmar juga tempat asal Frédéric-Auguste Bartholdi, pembuat patung Liberty di New York. Tak heran, miniatur patung Liberty juga ada di kota ini.

Mengambil, maksud saya mencoba mengambil beberapa foto di sini, kami melanjutkan jalan kaki kami ke kota. Niatnya mencari Tourist Information. Begitu memasuki pusat kota tuanya, wow! Kami langsung terkagum-kagum pada jalanan kecil dari batu dan bangunan-bangunan tuanya (Fachwerke) yang berwarna-warni lengkap dengan kayu-kayu penyangganya. Sangat « klasik » dan indah. Terasa sangat « Eropa » hehehe.

Mengambil foto dulu di Rue Unterlinden di seputaran Musee Unterlinden dan tempat Tourist Infromation itu berada. Tapi kami tidak jadi masuk, karena rasanya dengan berbekal peta ini juga bisa. Tujuan utama adalah La petite Venise, karena Colmar selain jadi «ibukota»nya Elsässer Wein, juga terkenal dengan La petite Venise-nya. Penasaran ingin melihat seperti apa Venesia « kecil » di Colmar. Namun, tentu saja dalam perjalanan mencari La petite Venise tadi kami berhenti di sana-sini, melihat-lihat, ambil gambar, tidak habis-habis lah.

Indah betul kota ini. St. Martin Cathedral yang atapnya khas (motif atapnya mengingatkan saya pada Stephansdom di Wina),  lalu Koïfhus Oude Douane, kemudian ke Rue des Marchands, tahu-tahu sampai di Place de L’Ècole yang menurut peta di sekitar situ ada rumah yang pernah ditinggali Voltaire. Hmm, cari, cari, kok tidak ada tanda-tanda apapun yang menunjukkan bahwa Voltaire pernah tinggal di salah satu rumah-rumah yang ada di situ. Rasanya –menurut peta- kami sudah ada di tempat yang tepat. Ya sudahlah, akhirnya kami menunjuk saja salah satu rumah yang ada sebagai rumah yang pernah ditinggali Voltaire.

Sebelum lanjut mencari La petite Venise, kami memutuskan untuk makan siang dulu, karena memang sudah jamnya makan siang. Sambil mencari restoran yang khas, tentu saja kami masih mengambil gambar dan melihat-lihat toko-toko makanan dan baju. Walaupun untuk yang terakhir ini lebih sering pura-pura tidak dilihat. Sebelumnya Lola juga sempat menandai satu toko Wein, karena dia akan membeli Elsässer Wein (ya dong, harus itu) dan Kirschwasser yang ternyata cukup murah juga harganya. Kami sudah menemukan restoran yang akan kami masuki dan satu cafè yang unik di Rue des Marchands. Restoran yang kami pilih adalah Chez Hansi juga di Rue des Marchands yang menyediakan makanan khas daerah itu. Restoran ini direkomendasikan oleh Michellin tahun 2010. Nyaman restorannya. Kami juga disambut ramah oleh pemiliknya. Saya memesan Seelachsfillet mit Rieslingsoße dan Bandnudeln, Lola memesan Hähnchen mit Rieslingsoße dan homemade Spätzle, tak lupa Wein-nya. Duh, ini makanan memang benar-benar enak. Saus-nya benar-benar pas rasanya, bumbunya semua terasa. Selain itu, ikannya pun tidak hambar –seperti kebanyakan makanan Eropa, mmm… Jerman maksudnya-, rasanya ikannya sudah diasap dulu. Dan saladnya, ini salah satu salah paling enak yang pernah saya makan, dressingnya itu…hmm…ada bumbu yang khas selain dill salah satunya yang cukup terasa, rosemary ? ya ada juga. Dia juga memakai Crème fraîche ditambah bumbu-bumbu lain dan sedikit rasa bawang putih. Pokoknya : enak ! (kenapa saat menulis ini saya tiba-tiba lapar ya ?! hehe).  Benar-benar French quality with German quantity, karena selain enak juga mengenyangkan, harganya pun masih terjangkau, tidak terlalu mahal. Makan santai saja, sambil ngobrol, dan ya…ujung-ujungnya jadi membahas pekerjaan pula, hehe.

Cukup lama juga kami duduk di sana, kemudian memutuskan melanjutkan perjalanan lagi. Iyalah, masa harus diam di restoran terus. Saya juga sekalian mencari supermarket untuk membeli pembalut, karena tiba-tiba saya mendapatkan tamu bulanan di luar jadwal. Namun, anehnya, di sepanjang jalan yang kami lewati tidak ada supermarket, malah toko makanan, cafè, restoran dan toko baju saja yang kami temui. Di mana supermarketnya ya ?!

Dalam pencarian menuju La petite Venise kami melewati banyak bangunan menarik (semua menarik sebenarnya) seperti Maison Pfister, Maison des têtes dan tentu saja Koïfhus Oude Douane tadi. Membaca peta sampai dibalik-balik, akhirnya kami sampai juga di daerah tempat La petite Venise berada. Tidak terlalu mirip Venesia, hanya memang ada kanal kecil di sana, dengan « Gondola » (Gondola-gondola-an). Cukup indah, walaupun saya lebih suka gang-gang kecil dan rumah berwarna-warni di Rue de la Poissonnerie menuju Quai de la Poissonnerie. Indah betul !

Di depan Rue de la Poissonnerie ada Markthalle yang bangunannya cukup khas. Berbata merah. Di dalamnya : jualan makanan semua!

Dan saya masih perlu ke supermarket, tapi kok ya tidak ada. Akhirnya kami memutuskan pergi ke apotek saja, pasti di sana dijual pembalut. Terjadilah peristiwa « aneh » di sini. Bahasa Perancis janganlah tanya, ya, kami cuma mengerti amat sangat sedikit saja. Jadi, saya bertanya pada petugas apotik dengan menggunakan bahasa Inggris (yang tentu saja bahasa Inggris saya sudah belepotan). Dia sendiri sudah menyapa kami terlebih dulu dalam bahasa Perancis. « I’m looking for … ((jeda sebentar, menoleh pada Lola yang berprofesi sebagai dosen bahasa Inggris di sebuah perguruan tinggi negeri di Indonesia)) pembalut bahasa Inggrisnya apa, La ? » Lola (diam sebentar kemudian menjawab) : « Damenbinden ». « Hah ?! » saya diam sebentar mencoba mencerna apa saya tidak salah dengar. Damenbinden? Sebentar, itu sepertinya bahasa Jerman  deh, hihi. Lola sendiri tampaknya sadar bahwa apa yang diucapkannya itu salah, dan dia berusaha mencari kata yang tepat, tapi si mbak petugas apotek keburu terheran-heran dan saya juga sibuk menjelaskan dengan bahasa tangan dan wajah, hehehe. Ini cukup berhasil, si mbak membawa saya ke dekat kasir dan memperlihatkan beberapa pilihan. Dan Lola akhirnya bisa menemukan padanan kata Damenbinden dalam bahasa Inggris. Hihi, aduuhh…kami ketawa-ketawa menertawakan campur aduknya bahasa kami. Si Mbak sampai bingung melihat kami yang ketawa-ketawa. Maaf, Mbak, kami memang agak-agak aneh, hehe.

Setelah si Damenbinden itu ada di tangan, kami kemudian lanjut pergi ke cafè unik yang di depannya dipajang barang-barang tua seperti teko, piring-piring dan cangkir-cangkir antik. Sempat melongok ke dalamnya juga kok tampaknya menyenangkan ya. Sayang, kami tidak sempat melihat nama cafè itu. Masuklah kami ke dalam, dan memang benar-benar menyenangkan. Penuh juga cafè yang didominasi warna orange itu. Tidak terlalu besar, dan ada lorong yang masuk ke dalam. Kami memilih tempat di dalam. Dan, yang melayani dong, satu orang nenek yang sudah bungkuk, dan satu lagi nenek ada di kasir. Tentu saja mereka hanya berbahasa Perancis. Hihihi, duh bahasa, bahasa. Akhirnya bahasa tangan dan wajah bermain lagi. Tapi si nenek ini hebat lho, bisa mengerti kami yang ngomong ngga jelas juga sambil nunjuk-nunjuk menu, dia lanjut juga ngomong terus pakai bahasa Perancis. Duh, nek, ngga ngerti nih. Saya yang tadinya mau pesan hot chocolate yang saya maknai tidak ada karena dia menunjuk-nunjuk mesin pembuat minuman yang sedang diperbaiki, jadinya memesan thé japonais alias teh jepang. Lola pesan kopi, yang gampang, hehe. Lalu kami pesan macaroon juga. Ngga milih, sudah langsung dipilihkan oleh si nenek : chocolate dan pistachio. Hmm, ini macaroon enak bener ! Apalagi yang pistachio untuk Lola. Tidak terlalu manis. Yang coklat juga enak sih, tapi saya tidak terlalu suka coklat yang manis. Ini gara-gara supaya acara pesan memesan cepat selesai saja, jadi terima apa kata si nenek deh, hehe.

Cukup lama juga kami duduk di cafè yang nyaman itu, tapi harus beranjak dong. Sudah sore, kami masih mau membeli Wein. Mampir ke toko yang sudah sempat dilihat sebelumnya. Lola bahkan sempat Wine testing. Dia membeli 1 botol Wein (apa jenisnya, La, lupa, hehe) dan 1 botol Kirschwasser. Setelah dari situ baru kami mencari kartu pos dan magnet kulkas, cari souvenir yang murah saja, hehe. Kebetulan kami juga memang pengoleksi magnet kulkas. Kalau kartu pos ya memang untuk dikirimkan ke teman-teman.

Bis yang akan membawa kami ke Breisach ternyata masih cukup lama datangnya. Jadi daripada kedinginan menunggu di halte,  akhirnya kami jalan muter-muter lagi di Unterlinden. Lola masih sempat ambil gambar juga. Colmar di malam hari, hehe. Akhirnya bis datang juga, kami pulang ke Jerman. Pfui, terasa juga capeknya nih. Mana suhu udara saat itu juga cukup rendah, dinginnya terasa. Oh ya, memang masih Winter juga kan, hehe.

Sampai Freiburg, lanjut ke Hinterzarten lalu pulang ke Hirschenberg dengan menggunakan Anrufsammel Taxi. Dan tampaknya malam itu kami tidak bisa bertahan melek cukup lama, karena mengantuk tiada tara. Capek sekali. Setelah makan malam (makan lagi ? iya dong, hehe) yang lagi-lagi mie instan, tak lama kemudian kami sudah terlelap di bawah selimut masing-masing yang hangat. Besoknya kami harus pulang kembali ke kota kami masing-masing. Duh, rasanya masih betah, masih ingin libur, badan mulai terasa sakit-sakit dan kaki lumayan pegal juga, masih ingin istirahat. Hehe, alasan, liburan harus segera diakhiri sayangnya. Tidur nyenyak, dengan harapan besok paginya akan sarapan croissant yang lezat, yang sudah kami pesan pada Elke. Hmm…

Advertisements

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s