Birthday Trip #2: Ski! Todtnauberg, Muggenbrunn

Malam itu saya sudah mimpi belajar ski saja, jadi bangun tidur dengan cukup semangat pula. Tak sabar untuk memulai hari. Sarapan dulu mie instan, supaya tidak masuk angin, dan ya yang ada memang hanya itu. Tidak sempat pesan Brötchen atau Croissant pada Elke, karena kami datang kemalaman.

Kami keluar rumah sekitar pukul 10an. Agak santai memang, karena berniat mengambil kursus lepas siang, sehingga akan sempat makan siang dulu di Todtbauberg. Tetep dong, makan itu harus. Naik bis sampai ke Bahnhof Hinterzarten dari Hirschenberg, halte dekat Ferienwohnung kami. Cuaca cerah sekali, matahari bersinar terang. Dingin memang, tapi tidak terlalu. Masih tahan lah. Lagipula baju pun berlapis-lapis. Baru terlihat daerah Hirschenberg dan Hinterzarten itu indah sekali! Berbukit-bukit dan berhutan-hutan. Bergunung-gunung? Mmm….sebagai orang Indonesia yang hidup di Bandung yang dilingkung gunung, saya tidak bisa menyebutnya gunung. Bukit rasanya lebih tepat, hehe. Tapi indah! Salju masih tampak di kejauhan. Cemara dan pinus tampak kehitaman di kejauhan. Tak heran disebut Schwarzwald memang. Blackforest.

Dari Bahnhof Hinterzarten kami naik kereta ke arah Freiburg dan berhenti di Kirchzarten lalu naik bis lagi menuju Todtnauberg. Dan pemandangan dari Hinterzarten ke Kirchzarten itu…indah!! Terutama di daerah sekitar Himmelreich. Wow! Kereta api keluar masuk terowongan yang menembus gunung. Melewati jalan dengan tebing-tebing batu di sekelilingnya. Es ist himmlisch! Saya langsung membayangkan daerah ini saat musim gugur. Pasti misterius, magis dan romantis.

Sampai di Kirchzarten, yang besarnya kurang lebih sama dengan Hinterzarten, menunggu bis agak lama. Bisnya sih sebenarnya sudah ada, hanya memang belum waktunya berangkat saja. Jalan-jalan sebentar bolak balik, dan di jam yang ditentukan, bis yang cukup besar itu membawa kami ke Todtnauberg. Perjalanan ke atas memakan waktu sekitar 30 menit. Duh, sekali lagi pemandangan sepanjang jalan ke atas itu indah betul. Berkelok-kelok, naik turun, salju masih ada sana sini, rumah-rumah petani khas daerah selatan, indah! Sampai di Todtnauberg, kami berhenti di Rathaus-nya.

Todtnauberg adalah dusun kecil berkontur naik turun. Indah! Memang dusun kecil. Tak banyak rumah ada di sana. Saya kemudian menelfon pemilik Skikurs untuk memastikan bahwa kami sudah datang dan bertanya bagaimana kami bisa menemui mereka. Sedianya kami mau dijemput, tapi daripada menunggu, akhirnya kami bertanya di Tourist Information dekat situ. Tak sulit menemukan tempatnya, karena tampaknya memang jalannya cuma segitu-gitunya, hehe.

Tak lama menunggu, ternyata ada salah pengertian. Sandra, istri pemilik Skikurs heran mengapa kami tidak membawa perlengkapan ski. Sedangkan kami menyangka, kami lapor dulu ke mereka kemudian mengambil peralatan ski di tempat penyewaan yang seharusnya tak jauh dari situ, karena pasti ribet membawa alat-alat. Sepanjang jalan lihat orang-orang membawa tas besar-besar saja sudah ribet. Yang menjadi masalah juga ternyata tidak ada orang di tempat penyewaan peralatan ski yang jauh-jauh hari sebelumnya sudah kami hubungi itu. Tampaknya mereka sedang istirahat makan siang. Dan Sandra memberitahu, karena cuaca dan suhu belakangan ini cukup hangat, jadi salju sudah tinggal sedikit, sehingga mereka biasanya tutup lebih awal. Tidak terlalu banyak yang datang untuk menyewa peralatan ski. Yah, jadi kita lihat saja.

Akhirnya kami memutuskan makan siang dulu, mencari restoran yang ada di dekat-dekat situ. Kami masuk ke salah satu restoran khas Jerman (ah, define khas Jerman, please, paling cuma Schweinefleisch mit Spätzle und Sauerkraut atau Bratwurst mit Kartoffeln dan lagi-lagi Sauerkraut, atau Braten dan sebangsanya, hehehe). Interior restorannya cukup khas, kayu-kayu, ditambah errr….binatang-binatang yang tampaknya hasil buruan si empunya restoran yang sudah diairkeras lalu dipajang di situ. Yang melayani kami cukup ramah. Dia memakai Dirndl, pakaian khas perempuan petani di Jerman daerah selatan (jaman dulu ya, sekarang sih mana ada yang pakai Dirndl, selain di acara karnaval dan Oktoberfest).

Baca, baca, baca, pilih, pilih, pilih, saya terus terang agak kesulitan menentukan pilihan, karena kebanyakan hidangan dari Schweinefleisch dan terutama karena porsinya juga pasti besar. Menghabiskannya itu juga satu masalah lain. Akhirnya saya memutuskan pesan Bratkartoffeln mit Spiegeleier und Salat ohne Speck, sedangkan Lola memesan Strammer Max. Apakah Strammer Max ini? Silakan diklik hyperlinknya, maka akan terlihat apa dan seperti apa. Yang jelas, Lola makan itu, hahaha. Duh, saya ngga tega nulisnya di sini, hihi. Eh, tapi saat itu kami tidak tahu apa itu kok, dan Lola begitu „terpesona“ pada setumpuk Schinken (ini setumpuk yang benar-benar banyak, Schinken terbanyak yang pernah dimakan Lola dalam beberapa jam saja) di atas roti khas Jerman (Mischbrot), ada telur mata sapi juga dan saladnya. Sedangkan di piring saya ada kentang goreng (yang menurut saya kebanyakan minyak), tiga butir telur mata sapi setengah matang (saya lupa bilang, bahwa saya tidak suka telur setengah matang yang masih cenderung mentah itu) dan salad. Porsinya memang banyak. Tapi kami juga butuh tenaga untuk ski, jadi kami habiskan pula menu pesanan kami.

Selesai makan, kami mendatangi lagi rumah tempat penyewaan peralatan ski itu. Tadinya kami sudah pasrah saja, kalau sampai ternyata tidak ada orang, dan kami tidak bisa menyewa peralatan ski dan itu artinya tidak jadi ski, ya sudah. Mau bagaimana lagi. Kami akan mencari alternatif lainnya, walaupun Ski adalah tujuan kami berlibur ini. Sudah beli-beli baju dan celana ski-nya juga lho (walaupun yang dibeli juga baju dan celana yang tetap bisa dipakai selain untuk ski). Syukurlah, ternyata ada yang keluar juga membukakan pintu saat kami bel rumahnya. Frau Mühl kemudian membawa kami dengan mobilnya ke tempat penyewaan peralatan ski yang terletak agak ke atas dari desa tersebut. Ditanyakan nomor sepatu kami dan kami diberikan sepatu ski 1 nomor di atas nomor sepatu yang biasa kami pakai. Dan…sepatu ini berat! Wah, untuk memakai dan membiasakan diri dengan sepatu ini saja sudah jadi seni sendiri. Berat banget! Hihihi. Kaki rasanya langsung diberi beban berkilo-kilo. Agak tidak nyaman dengan sepatunya, kaki saya tidak bisa bergerak sama sekali, akhirnya saya memutuskan melepas kaos kaki saya supaya bisa muat, karena jika diberi yang 2 nomor lebih besar dari ukuran sepatu normal, maka akan terlalu besar. Duh, mana ada yang mau ski telanjang kaki begitu. Tapi biarin saja, daripada ngga muat. Toh di dalam sepatu juga hangat.

Kami ganti kostum di situ, karena Alex sang instruktur ski, akan menjemput kami dan membawa kami ke tempat kursus. Duh, memang benar, pelajaran sudah dimulai dari memakai sepatu sampai berjalan dengan sepatu yang beratnya sepertinya seperempat berat badan kami *lebay hihi*. Ngangkat kaki saja susah. Papan ski-nya pun berat, hahah. Untung kami tidak usah nenteng-nenteng papan itu karena Alex yang membawanya ke mobil. Untuk penyewaan peralatan ini kami membayar 10 €/per orang. Ini jauh lebih murah dari yang kami duga, karena di website mereka, harga 1 set peralatan ski itu 19 €. Belakangan, setelah di cek lagi, harga 10 € untuk 1 set peralatan ski untuk anak-anak. Hahaha, ternyata ukuran kami itu termasuk ukuran anak-anak. Hihi, enak juga kan punya badan kecil, jadi bisa menghemat 9 €.

Lokasi tempat kami akan belajar Ski adalah Muggenbrunn, lebih tinggi sedikit dari Todtnauberg, masuk ke Landkreis Lörrach. Alex, instruktur kami, adalah laki-laki tua yang ramah. Sepanjang jalan kami berbincang dan tertawa-tawa. Oh ya, dia harus kami beritahu dulu bahwa kami adalah pemula yang benar-benar pemula dan datang ingin belajar dengan modal nekad saja, jadi kami harap dia cukup sabar menghadapi kami, hehehe. Dan ini terbukti kemudian, bagaimana kesabaran Alex benar-benar diuji oleh kami (jangan-jangan kami adalah murid paling „kacau“ yang pernah dia ajar, hahaha).

Ya, seperti sudah saya bilang, pelajaran sudah dimulai dari saat memasang sepatu sampai berjalan dengan sepatu itu. Eh, tapi enak juga lho, berjalan di atas salju dengan sepatu itu, ngga licin. Mantap betul. Iyalah, berat soalnya, hihi. Kami kemudian diajarkan memasang sepatu ke papan ski. Ini juga tricky, harus pas dan klop betul. Setelah itu pelajaran dimulai. Untuk bisa mengangkat kaki dengan sepatu itu saja sudah berat, apalagi ditambah dengan papan yang terpasang erat di sepatu. Hihi, dan acara kursus yang penuh ketawa-ketawa ini dimulailah.

Pelajaran dimulai dengan berdiri dengan benar, saudara-saudara. Eits, ini juga sulit, karena licin kan, untuk bisa mempertahankan keseimbangan badan supaya ngga melorot-lorot terus, tongkat ski memang membantu menopang supaya bisa tetap berdiri. Lalu jalan. Cara jalan yang pertama kali diajarkan adalah cara jalan berbentuk V, gaya pinguin. Duh, hihi, mengangkat kakinya sulit betul, belum lagi eits…sudah kepeleset peleset saja karena licin. Aduh, hehehe, perlu kaki dan tangan yang kuat juga memang. Namun, saat meluncur itu enak, seerr….gitu. Kalau ngga ter-rem gawat juga sih, bisa meluncur terus sampai mentok dan nabrak. Lola sudah beberapa kali jadi korban ditabrak oleh saya yang tidak bisa mengerem diri saat meluncur, hihihi. Pelajaran berikutnya adalah naik ke bukit. Haduh, hahaha, ini gila-gilaan. Sampai keringetan, susaaahh…Salju sudah memenuhi papan ski sementara kami masih belum bisa naik juga dan Alex sudah santai dong ada di atas. Duh. Untuk naik ini, selain jalan dengan bentuk V tadi juga ada jalan menyamping seperti naik tangga. Untuk saya ini lebih mudah. Sesampainya di atas, kami kemudian meluncur lagi. Ini saat menyenangkan sekaligus juga menggelikan. Saya jatuh berkali-kali, kebanyakan karena saya tidak bisa mengerem laju luncuran saya, hahaha. Lebih baik menjatuhkan diri deh, hihi. Untung enak jatuh di salju sih. Lola sempat tertabrak-tabrak juga (heran, saya terus yang nabrak dia, dia ngga pernah nabrak saya, hihi). Eh, tapi jangan sangka begitu jatuh di salju kita bisa serta merta bangun dengan sendirinya. Susah! Kaki rasanya seperti tertanam langsung di salju, sulit untuk diangkat lagi, boro-boro mengangkat badan. Jadinya seringnya setelah jatuh, langsung dihampiri oleh Alex dan ditarik oleh dia. Eh, tapi lama-lama saya juga akhirnya bisa bangun sendiri setelah jatuh itu. Lola juga. Kalau putus asa banget, ngga bisa bangun, ya lepas sepatu dari papan, lalu berdiri, terus pasang lagi, hihi. Dan yang ada, kami cuma tertawa-tawa, haduuh…ini sih lebih banyak tertawanya daripada belajar seriusnya.

Pelajaran berikutnya adalah meluncur dan mengerem dengan „gaya“ Pizza-Stück. Melihat Alex, sekali lagi tampaknya ringan betul, tapi saya tetap tidak bisa-bisa. Tampaknya ada ketidaksinkronan antara kaki, betis, lutut dan tangan saya, haha. Disuruh Pizza Stück malah jadinya lurus saja. Eh, bukannya direm dengan tongkat, saya malah meluncur dengan sukses ke bawah. Itupun bukannya lurus, tapi tahu-tahu berbelok ke arah mesin pembuat salju atau ke arah jalan, hihi. Daripada daripada, mendingan saya menjatuhkan diri deh, itupun ngga bisa langsung plek jatuh, kadang masih terseret juga, hahaha. Eh, tapi Lola bisa lho meluncur dengan Pizza Stück ini, hebat dia, walaupun ujung-ujungnya jatuh ngga bisa menahan diri juga, tapi itu sudah prestasi besar, hahaha. „Bravo, Lola!“ hihi.

Duh, ini benar-benar pelajaran ski paling aneh mungkin yang pernah dilakukan Alex. Kami ketawa-tawa terus dan susah bisanya, hihi. Tapi menyenangkan, sangat. Dan karena kami „gadis-gadis baik dan menyenangkan,“ begitu kata Alex, dia jadi menambah jam kursus kami tanpa kami harus membayar lebih, hehehe. Selain itu kami juga masih bisa main-main sendiri. Asyik sih, cuma ternyata badan sudah tidak cukup kuat. Tangan dan kaki sudah mulai sakit, hahaha. Benar-benar perlu latihan fisik tambahan dulu sebelumnya, biar kuat. Untung juga sebelumnya kami sudah makan dengan benar, lumayan jadi ada tenaga. Yah, dan siap-siap saja dengan resiko sakit badan, memar atau parahnya lagi patah tulang. Tapi sejauh ini kami hanya menderita sakit badan dan memar-memar saja, untungnya.

Dan saking “serius”nya kami belajar, kami sampai lupa mengabadikan kegiatan kami itu. Satu-satunya dokumentasi adalah rekaman „video“ dari iPodnya Lola. Video maksa, tapi lumayan jadi kenang-kenangan dan „bukti“ bahwa kami pernah terjatuh-jatuh, jatuh bangun tepatnya saat belajar ski, hihi. Kalau mengutip apa kata Lola, ya kita tidak akan pernah tahu sampai kita mencobanya sendiri. Ya, sekarang kami sudah tahu rasanya, kalau saya sendiri masih ingin mencoba lagi, walaupun mengutip seorang teman „olah raga macam apa“ yang semua perlengkapannya serba mahal itu, hehehe. Kalau ngga nyewa, ngga akan mampu deh belinya.

Dan untuk kursus privat yang seperti saya bilang penuh dengan ketawa-tawa itu, kami membayar 36 € untuk kami berdua. Ini lebih murah dibandingkan perjanjian awal yang 39 €. Itu pun jam kursusnya sudah ditambah, ditambah lagi kami juga masih bisa bebas bermain-main sendiri. Wah, senangnya! Dan terutama kami juga beruntung mendapat instruktur seperti Alex yang ramah, baik hati, tidak sombong dan terutama sabar menghadapi kami yang susah sekali bisanya, dibandingkan anak-anak kecil yang sekali belajar tampaknya langsung mahir, hihi.

Alex kemudian mengantar kami ke halte bis, dan karena kami masih punya banyak waktu sampai bis datang, kami akhirnya memutuskan menunggu di satu cafè di Campingplatz depan halte bis. Hmm, kalori yang dikeluarkan cukup banyak juga, jadi perut sudah terasa lapar lagi (alasan, hehe). Dan tampaknya secangkir kopi atau teh panas ditambah sepotong kue menjadi pilihan yang menyenangkan.

Sayang sekali, begitu sampai sana, kue yang diinginkan ternyata cuma tinggal satu macam dan satu potong saja. Si ibu pemilik cafè menawarkan kepada kami –mungkin untuk mengobati kekecewaan kami, untuk membagi dua kue itu tapi di masing-masing potongan kami mendapat ekstra Sahne dan es krim, hehehe. Oke, langsung disetujui. Jadi, Lola minum kopi, saya teh, dan kami masing-masing mendapat sepotong Apfelkuchen dengan Sahne dan es krim, hehe. Ngobrol naglor ngidul lagi. Cafè tidak terlalu penuh, hanya ada sekelompok bapak-bapak dan ibu-ibu di pojokan yang tampaknya berasal dari Belanda dan ada seorang bapak duduk sendirian.

Jalanan sudah berkabut saat kami keluar cafè sekitar jam 17 kurang. Tebal sekali, jarak pandang mungkin hanya sekitar 50 m saja. Ya, kami memang ada di puncak gunung. Bis datang untuk membawa kami kembali ke Kirchzarten. Belum terlalu malam, kami masih bisa mencari makan malam (duh, ini kok kayaknya makan melulu yang dipikirkan, hehe) dan Blackforest Cake.

Namun, Kirchzarten memang sebuah Ort, bukan kota, hehehe, susahnya mencari cafè atau restoran yang kira-kira menyediakan Blackforest Cake. Kami sempat melihat gambarnya di tourist information di Todtnauberg, tapi di Kirchzarten tidak ada. Akhirnya setelah berkeliling Ortsmitte (bukan Stadtmitte ya), kami mampir ke sebuah supermarket. Ya, kami memutuskan untuk makan malam di rumah saja. Toh ada dapur juga, kami bisa memasak sesuatu yang mudah, yang tinggal masuk oven misalnya. Akhirnya kami belanja chicken wings, sup instan, salad, joghurt dan strawberry. Oh ya, kami tetap harus makan sehat, hehe. Dan karena saya tidak tahan ingin mencoba Blackforest di daerah Schwarzwald, jadilah kami membeli sepotong Blackforest di bakery supemarket itu. Daripada ngga ada, hehe. Ceritanya ini jadi kue ulang tahun kami, walaupun ternyata rasanya tidak terlalu enak. Ya, bukan yang asli sih, hehe. Lola masih membeli bir khas daerah situ, walaupun bir itu juga pada kenyataannya baru diminum setelah dia kembali ke Dortmund.

Menunggu kereta agak lama di Bahnhof Kirchzarten, masih sempat-sempatnya juga membuat foto narsis dengan Lola sebagai pemeran utamanya. Iseng banget memang. Eh, tapi keisengan ini berbuah satu buku kok, hehe. Sampai di Hinterzarten tentu saja sudah tidak ada bis, karena bis di sana hanya sampai jam 19. Saat kami sedang melihat-lihat jadwal bis, seorang nenek menghampiri kami dan bertanya apakah dia bisa membantu kami. Kami kemudian disarankan untuk memanggil Anrufsammeltaxi. Cara memanggilnya juga lucu, saya hanya perlu bicara di satu speaker yang dikotaki, setelah sebelumnya memencet satu tombol hitam. Tidak ada nomor apapun, dan itu langsung terhubung ke Taxi Hermann, satu-satunya perusahaan taxi di sana, hehe.

Tak lama, taxi datang. Sopirnya ramah, selama perjalanan juga ngobrol ngalor ngidul ke sana ke mari. Tampaknya memang orang di desa itu saling mengenal satu sama lain. Ah, akhirnya, sampai juga kami di rumah (saya sudah merasa bahwa Ferienwohnung itu adalah rumah saya. Maunya, hihi). Hari yang menyenangkan. Capek memang, tapi badan rasanya segar karena sudah bergerak banyak. Masak dulu sedikit, lalu makan. Masih sambil ngobrol dan cerita ngalor ngidul lagi. Ngga habis-habis rasanya bahan cerita. Namun, kami tidak bisa begadang terlalu lama, selain karena juga sudah capek, keesokan harinya kami ingin berangkat pagi-pagi ke… Colmar. Jadi, mari tidur, setelah tubuh dibalur macam-macam, haha, dasar “nenek-nenek”.

Advertisements

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s