KIAMAT atawa Dunia Tak Lama Lagi Pasti Hancur – Sebuah Catatan Penerjemah

Suatu malam saat Nietzsche dibicarakan di Bandung, saya bertemu dengan Kang Wawan Sofwan dari mainteater yang kemudian memperkenalkan saya pada Boris dari Pädagogische Hochschule Heidelberg. Perbincangan hangat sambil menyimak Nietzsche membuahkan sinergi kreatif antara mainteater dan Boris. Saya kemudian resmi diikutsertakan dalam sinergi kreatif ini pada lepas tengah hari saat Bahuy berhujan-hujan mendatangi saya di Dipati Ukur.  “Transaksi” singkat penyerahan naskah terjadi di tempat parkir motor. “Dua minggu,” jawab saya saat Bahuy bertanya kira-kira kapan saya bisa menyelesaikan terjemahannya. Saat itu saya baru melihat sekilas naskah dengan judul yang langsung saya terjemahkan dalam hati saat itu juga. Tampaknya bahasanya tidak terlalu sulit. Lagipula memang saya berniat menyelesaikan terjemahan naskah itu sebelum saya kembali lagi ke Jerman. Dan itu dua minggu kemudian dari hari kami ber”transaksi”. Saya minta maaf, jika pada akhirnya saya tidak bisa menepati janji karena naskah terjemahan baru diserahkan lewat beberapa hari dari hari yang saya janjikan.

Malam itu juga naskah langsung saya terjemahkan dan dalam waktu dua jam saya bisa menerjemahkan sekitar 10 halaman. Penerjemaha bagian awal ini cukup mudah dilakukan, karena memang bahasa yang digunakan oleh Jura Soyfer di awal-awal tidak terlalu sulit. Bagian-bagian awal yang berisi percakapan antara matahari dan planet-planet lain tentang bumi yang sakit membawa kesan bahwa naskah ini “agak lain” daripada tematik naskah-naskah yang pernah saya terjemahkan untuk mainteater sebelumnya. Sambil menerjemahkan saya berpikir apa benar mainteater mau mementaskan naskah ini? Membayangkan para pemainnya memakai kostum matahari, mars, venus, komet, bulan membuat saya tersenyum sendiri. Mungkin juga karena percakapan di antara benda-benda luar angkasa itu untuk saya terasa lucu dan ringan –dibandingkan dengan percakapan dalam naskah-naskah yang saya terjemahkan sebelumnya yang kebanyakan cukup membuat kening saya berkerut. Saat itu kening saya tidak berkerut, saya hanya tersenyum tipis, karena ternyata cukup menghibur juga percakapan dari personifikasi benda-benda langit tersebut. Bumi yang sakit karena punya kutu yang bernama manusia. Matahari yang anggun dan berwibawa, Mars yang „galak“ dan Venus yang „genit“. Bumi harus dibersihkan dari kutu-kutu yang membuatnya sakit, artinya manusia harus dibasmi. Komet diserahi tugas untuk membasminya. Ternyata asyik juga menerjemahkannya, sambil tersenyum-senyum membayangkan jika benar-benar benda-benda luar angkasa itu membicarakan bumi yang kian hari kian sakit. Dan manusia memang penyebabnya.

Semakin lama ternyata semakin menarik menerjemahkan naskah ini, tetapi juga semakin sulit. Rupanya saya agak underestimate di awal. Naskah ini punya „sesuatu“. Kalimat-kalimat dalam dialog-dialognya singkat, padat tapi sangat “menohok”. Ada banyak ironi yang muncul di situ, yang mau tidak mau membuat saya tersenyum penuh arti saat menerjemahkannya. Sang Pemimpin yang mengangkat Profesor Guck menjadi Menteri Negara Pendayagunaan Tenaga Panas kemudian mencabut lagi gelar yang diberikannya, karena Guck tidak setuju dengan anggapan Sang Pemimpin bahwa kiamat adalah rekayasa manusia, buatan orang Yahudi. Dialog saat Sang Pemimpin sibuk meminta wartawan mengabadikan dirinya. Dua diplomat negara adikuasa bersitegang soal kiamat. Satu tak peduli, karena bukan hal darurat, satu lagi tak ingin keseimbangan Eropa terganggu gara-gara kiamat ini. Radio-radio di berbagai belahan dunia menyiarkan terus-terus menerus berita tentang kiamat yang akan segera dan tentang Guck yang berusaha menyelamatkan dunia dari kiamat ini. Guck sendiri berusaha mendatangi semua tempat untuk meyakinkan orang-orang bahwa dunia harus segera diselamatkan dari kehancuran. Dia punya alatnya. Tak ada yang mendengar, tak ada yang peduli. Semua tahu kiamat akan datang, tapi semua sibuk dengan urusan dan kepentingannya masing-masing. Bahkan kiamat kemudian diakomodir, dijadikan alat untuk menipu dan mengeruk banyak uang dari orang-orang kaya yang bodoh yang merasa dengan uangnya mereka bisa selamat dari apapun. Guck pun putus asa. Tak ada yang mau mendengarnya. Kalaupun ada, Guck harus menunggu. Alat yang dia ciptakan harus dipatenkan dulu, supaya uang mengalir. Birokrasi pun harus dia lewati. Kiamat bukan satu-satunya urusan yang harus diperhatikan. Masih banyak urusan lain yang harus diselesaikan manusia. Kiamat mau tidak mau harus menunggu sampai urusan lain beres.

Naskah ini adalah naskah pertama yang ditulis Soyfer dan dipentaskan untuk pertama kalinya di awal musim panas tahun 1936. Lewat naskah ini Soyfer ingin menunjukkan situasi kemanusiaan beberapa saat sebelum dunia hancur yang semuanya berujung pada penekanan tentang kebodohan manusia dan tindakan-tindakannya. Guck sang ilmuwan yang berniat menyelamatkan dunia dan kemanusiaan pun kemudian hanya berhenti di tataran klise, karena dia tak punya kuasa atas apapun. Jika pada akhirnya dunia tak jadi kiamat, ini terjadi bukan karena Guck berhasil meyakinkan orang-orang untuk menggunakan mesin ciptaannya, tetapi karena Konrad – si komet- tidak tega menghancurkan bumi, karena saat proses mendekati bumi, si komet jatuh cinta pada bumi yang „penuh kemiskinan dan kekayaan“, yang „penuh kehidupan dan kematian“, yang punya „kemiskinan dan kekayaan tanpa batas“, yang „terberkahi dan terkutuk“, yang punya „kecantikan yang bersinar terang“ dan yang „masa depannya indah dan gemilang“. Namun, adakah manusia yang sadar dan peduli akan itu? Kiamat pada akhirnya tidak terjadi hanya karena belas kasihan si komet, bukan karena kepedulian manusia atas bumi tempat mereka hidup dan memberi mereka kehidupan.

 

Jura Soyfer, penulis Yahudi dari Ukraina yang lahir tahun 1912 di Charcow, Ukraina dan meninggal di kamp konsentrasi Buchenwald, Jerman pada tahun 1939, memainkan tematik kehancuran dunia ini lewat dialog-dialog singkat yang satiris antartokohnya. Monolog cukup panjang muncul saat tokoh Guck berkeluh kesah tentang ketidakpedulian manusia pada dunia dan kemanusiaan. Sofyer yang tumbuh besar di Austria menggunakan bahasa Jerman dialek Austria untuk beberapa bagian naskah, dicampur dengan bahasa Perancis dan Inggris. Soyfer sendiri memang tumbuh di dalam lingkungan keluarga dan tempat tinggal yang berbahasa Jerman, Perancis, dan Rusia. Beragam bahasa juga dialek yang kental digunakan Soyfer dalam naskahnya ini menjadi tantangan tersendiri bagi saya saat menerjemahkannya. Walaupun kebetulan saya sudah beberapa tahun tinggal di daerah Bavaria, sehingga saya cukup familiar dengan dialek yang digunakan Soyfer dan cukup membantu saya dalam memahami teks ini, tetapi ternyata tidak mudah mengadaptasinya dalam terjemahan saya. Dalam beberapa bagian, dialek juga digunakan Soyfer untuk menyindir kalangan dan orang-orang tertentu atau mempertegas stereotype negara dan orang-orangnya. Soyfer menggunakan beragam bahasa untuk memperjelas kritiknya, sehingga membuat naskah ini semakin terasa ironis dan satiris. Kelebihan naskah yang terletak pada beragam permainan bahasa dan dialek ini, juga bahasanya yang di beberapa bagian puitis satiris, menjadi kesulitan tersendiri dalam proses penerjemahan. Ada beberapa „jiwa“ yang hilang. Namun, saya yakin, dalam pengolahannya mainteater mampu menerjemahkan kembali dan membawa „jiwa“ naskah ini dengan lebih baik ke atas panggung. Untuk itu saya cukup berdebar menunggu naskah ini dipentaskan pada tanggal 14, 15, dan 16 Desember 2010 di Bandung, walaupun mungkin saya hanya bisa menyaksikan hasil rekaman pementasan naskah yang ditulis 74 tahun yang lalu, tetapi temanya tetap aktual sampai saat ini. Saat dunia mungkin sebentar lagi (pasti) akan hancur.

Bayreuth, 141110

*Tulisan ini dibuat sebagai pengantar untuk pementasan naskah „KIAMAT atawa Dunia Tak Lama Lagi Pasti Hancur“ oleh mainteater pada tanggal 14,15, dan 16 Desember 2010 di GK Rumentang Siang Bandung.

Advertisements

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s