Palu si Paul

Seorang lelaki ingin menggantung sebuah foto. Paku sudah dia punya, tapi sayangnya dia tidak punya palu. Tetangganya punya palu. Maka, lelaki itu memutuskan untuk datang ke tetangganya dan meminjam palu darinya. Namun, tiba-tiba dia ragu: Apa yang terjadi jika tetanggaku tidak mau meminjamkan palunya? Kemarin saja dia menyapaku sambil lalu. Mungkin dia sedang terburu-buru. Atau mungkin dia hanya pura-pura terburu-buru karena dia tidak suka padaku. Tapi mengapa? Aku tidak berbuat apapun padanya; dia cuma mengada-ngada. Jika seseorang mau meminjam sesuatu dariku, aku akan segera memberikannya. Dan mengapa dia tidak? Bagaimana mungkin orang tidak mau menolong orang lain? Orang-orang seperti dia hanya akan meracuni hidup orang lain. Lalu dia akan menganggap bahwa aku bergantung padanya. Hanya karena dia punya sebuah palu. Baiklah, cukup sampai di sini. – Lalu lelaki itu menggedor pintu rumah tetangganya, berteriak, tetangganya membukakan pintu, tapi sebelum dia berkata „Selamat siang“, lelaki itu sudah berteriak lebih dulu pada tetangganya: „Simpan palu Anda!“.

Bayreuth, 121110

(diterjemahkan dari „Hammer Geschichte“ Paul Watzlawick dalam „Anleitung zum unglücklich sein“ atau „Petunjuk Untuk Tidak Bahagia“)

Advertisements

2 Gedanken zu „Palu si Paul

  1. „Nggak butuh komentar di blog ini. Sana pergi!“ kata si Paul, penuh tekanan batin. Tekanan yang menghebat, meluruhkan tubuhnya, menjelma jadi gurita. Kesebelasan mana yang menang malam ini?

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s