(Masih) Egois

Saya pernah menulis di sini bahwa kesenangan dan kesedihan itu adalah sesuatu yang egois. Mungkin kata itu kurang tepat, mungkin lebih tepat disebut sifatnya sangat personal. Ah, terlalu panjang. Toh kembali berhubungan dengan ego. Kesedihan bisa muncul di saat orang lain bahagia, dan kebahagiaan justru juga bisa muncul di saat orang lain sedih. Jarang sekali ada kesedihan bersama yang benar-benar kesedihan bersama dengan rasa yang sama dan kebahagiaan bersama-sama yang rasanya juga benar-benar sama. Namun, mungkin itu yang membuat hidup menjadi lebih seimbang, karena pada akhirnya kita tidak bisa benar-benar bersedih karena biasanya ada yang membuat bahagia dan sebaiknya tidak senang berlebihan karena biasanya juga ada kesedihan yang terselip.

Dan saya kembali disadarkan pada hal itu. Di tengah kondisi „low and down“ yang sedang saya alami dan „temporary suicide“ yang sudah beberapa lama ini saya lakukan, selalu saja ada kesenangan dan kejutan-kejutan membahagiakan yang membantu saya tetap berpijak tak jatuh. Hidup memang adil.

Hari ini, setelah kejutan-kejutan beruntun yang membahagiakan, kebahagiaan saya disempurnakan. Hari ini, doa saya bertahun-tahun terjawab. Dijawab olehNya dengan cara apapun dan lewat siapapun.  Maka saat seorang sahabat dulu bertanya pada saya, apakah saya percaya pada kekuatan doa, jawaban saya masih sama seperti saat itu: ya, saya percaya. Sudah saya buktikan, setelah banyak doa yang terjawab, hari ini doa saya terjawab lagi, walaupun saya harus menunggu tahunan untuk datangnya hari ini.

Hari ini saya berbahagia berlipat-lipat, tetapi saya tahu, ada keluarga, saudara, sahabat saya yang lain yang sedang bersedih. Sepantasnya saya pun ikut merasakan kesedihan mereka. Tapi itu tidak pernah bisa benar-benar saya rasakan, apalagi jika saya sedang ada dalam kondisi sebaliknya. Saya berharap saya bisa, tetapi saya berbohong jika saya berkata saya bisa ikut merasakan kesedihan itu, karena tidak pernah benar-benar bisa sama. Pun ketika saya dalam kondisi bersedih, sementara orang lain berbahagia. Ikut berbahagia-nya tidak akan pernah selepas orang yang sedang merasakan kebahagiaan itu. Paling hanya sepersekian persennya saja. Rasanya tak pernah ada yang benar-benar merasakan kebahagiaan dan kesedihan seseorang setepat saat orang itu merasakannya, kecuali jika kebetulan kita ada dalam kondisi yang sama, walaupun kadarnya juga pasti berbeda.

Ternyata saya masih egois. Maaf, maksud saya, saya masih merasakan kebahagiaan dan kesedihan itu sebagai sesuatu yang sifatnya sangat personal. Untuk itu, saya masih harus belajar untuk mengasah kepekaan perasaan saya. Saya masih harus belajar untuk menyeimbangkan kedua rasa itu. Namun, satu yang saya tahu, hidup saya sempurna: dengan suka dan dukanya, dengan naik dan turunnya. Dan semakin disempurnakan dengan kebahagiaan orang lain di saat saya sedih, dan kesedihan orang lain di saat saya bahagia: menjadi pengingat.

Bayreuth, 110810

23:53

Advertisements

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s