Ruang

Menurut kamus besar bahasa Indonesia ruang kurang lebih bermakna sela-sela antara dua (deret) tiang atau sela-sela antara empat tiang (di bawah kolong rumah)atau rongga yang berbatas atau rongga yang tidak berbatas, tempat segala yang ada. Agak tidak jelas memang pengertiaannya. Terasa semakin mengabstrakkan makna ruang yang memang sudah abstrak. Yang jelas, dari pengertian di atas, bisa disimpulkan bahwa ruang berhubungan dengan sesuatu atau tempat yang kosong, yang berada di antara sesuatu.

Pada akhirnya makna ruang meluas dan istilahnya pun semakin bertambah. Dalam perkembangannya dikenal pula istilah ruang pribadi dan ruang publik yang muncul secara metaforis untuk menunjukkan dan memberi batas antara diri pribadi dan publik. Jika pengertian ruang dalam kamus besar bahasa Indonesia  cukup jelas dan nyata batasannya (sela di antara dua deret tiang atau di antara empat tiang), maka dalam istilah ruang pribadi dan ruang publik sangat kabur batasannya. Pribadi itu apa dan siapa? Publik itu apa dan siapa? Apa yang dibatasi dan sampai sejauh mana batasannya? Batasannya pun berupa apa? Pada kenyataannya semua menjadi sangat bias dan relatif. Irisannya pun tidak jelas.

Saya bisa berkata bahwa di tempat tinggal saya ada „ruang“ publik dalam makna banyak orang bisa masuk (tapi tidak semua orang), misalnya di ruang tamu, tetapi saya juga punya „ruang“ pribadi yang tidak bisa dimasukin oleh semua orang, misalnya „ruang“ tidur saya. Itu ruang yang berhubungan dengan makna tempat dengan batas dinding atau tiang tadi. Mengapa saya tidak mengijinkan semua orang masuk ke ruang tidur saya, misalnya? Karena ada hal-hal yang sifatnya intim dan personal yang berhubungan dengan “ruang” tubuh, hati, dan pikiran saya yang “dibatasi” oleh misalnya kerangka badan saya, pakaian saya, tempat tidur, sampai ke cara saya berpikir dan merasa. Bahkan ruang pribadi seperti ruang tidur itu pun masih “dibatasi” dan dibagi” menjadi ruang-ruang lainnya. Saat ini saya tinggal di satu apartment berbentuk studio dengan pembagian ruang yang tidak terlalu kentara. Namun, saya membatasinya secara sadar tidak sadar dengan menempatkan buku-buku yang berhubungan dengan pekerjaan saya jauh dari tempat tidur, meja yang di atasnya disimpan makanan dan alat-alat makan dekat dengan arah dapur dan kamar mandi yang lebih privat. Pembagian itu membuat saya merasakan hal yang berbeda setiap saya berada di “ruang-ruang” yang tidak seberapa besar tadi dan tidak jelas batasnya. Jika saya duduk di kursi dengan meja cukup besar, di atas meja ada lampu baca, laptop, di sebelah meja ada rak buku, saya selalu merasa “harus” bekerja. Di tempat tidur tentu lain lagi rasanya. Mengingat ruangan berbentuk studio yang tidak begitu besar tadi, saya misalnya tidak bisa meracik bahan masakan dengan nyaman di atas meja kerja, sehingga saya lebih suka melakukannya di dapur (yang juga tidak besar) atau di atas meja “makan”. Sadar tidak sadar saya lakukan. Ruangan yang tidak besar itu juga memungkinkan “ruang pribadi” saya yang abstrak dimasuki oleh orang lain, tentunya dengan ijin saya. Jika saya tidak ijinkan, maka saya bisa dengan mudah tidak membukakan pintu masuk ruang saya.

Saya merasa perlu memberikan batas-batas pada ruang pribadi dan ruang publik. Bahkan kalau misalnya di kereta pun, sadar atau tidak sadar saya meletakkan misalnya tas atau jaket di samping saya sebagai batas. Ah, tidak usah terlalu rumit, pakaian pun bisa jadi pembatas “ruang”, saya rasa. Saya juga akan merasa teriritasi jika ruang-ruang pribadi saya dimasuki orang lain tanpa ijin. Masuk lewat cara apapun, bahkan lewat kata atau kalimat, karena ternyata kata dan kalimat bisa pula menjadi pembatas “ruang”. Misalnya dengan kalimat yang berisi pertanyaan atau pernyataan yang berhubungan dengan hal-hal yang bersifat pribadi seperti uang, perasaan, kepercayaan, dll.  Itu saya. Dan dalam banyak hal saya merasa beruntung karena saya masih bisa membatasi dan membagi ruang-ruang saya seperti yang saya mau. Beberapa orang tidak punya keberuntungan itu.

Belakangan ini saya merasa sangat terganggu dengan pemberitaan di hampir semua media massa di Indonesia yang merasa berhak masuk pada ruang pribadi mereka yang disebut „publik figur“, seolah „ruang pribadi“ milik si „figur“ itu adalah ruang pribadi „publik“ juga. Ruang yang berhak diacak-acak dan diobrak-abrik tanpa ijin dengan alasan agama, moral, etika, sopan santun, adat istiadat, penyelamatan generasi muda penerus bangsa, dll.  Serbuan yang tiba-tiba atas ruang pribadi si figur oleh publik membuat si figur tampak tak mungkin lagi mengelak dan menutup pintu ruangnya untuk menahan serangan bertubi yang muncul tidak hanya dari publik yang tidak tahu apa-apa sampai dari publik yang sok tahu apa-apa. Ditambah lagi „media massa“ yang seolah merasa jadi tuhan yang punya kuasa lebih untuk menentukan siapa yang salah dan siapa yang benar, siapa yang berhak mati dan siapa yang berhak hidup. Pintu si figur dibuka paksa, si figur dilempari dan dirajam habis, mungkin juga dibakar dan dibunuh. Sadar atau tidak sadar. Si figur sudah bersalah, sudah berbuat nista, sudah menghancurkan generasi bangsa, sudah mencoreng nama baik kota yang agamis, sudah melanggar susila. Siapa yang berhak menentukan itu? Siapa yang berhak menilai itu? Atas dasar apa penilaian salah tidak salah, agamis tidak agamis, susila asusila itu? Batasannya apa? Siapa merugikan siapa? Apa merugikan apa?

Saya sadar bahwa ruang pribadi pun beririsan erat dengan ruang publik, karena manusia memang hidup secara sosial, tidak sendirian. Namun, rasanya setiap pribadi berhak pula untuk menjaga ruang pribadinya sepanjang tidak merugikan pribadi-pribadi yang lain secara langsung atau tidak langsung. Dan ini juga sifatnya relatif. Dalam kasus si figur yang katanya melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan agama dan moral, adat istiadat bangsa, yang merusak akhlak generasi muda, siapa sebenarnya yang terganggu dan dirugikan? Ini menjadi kasus yang massal karena „dipublikasikan“, dimassalkan. Ruang pribadi sudah jadi ruang publik. Siapa yang melakukan dengan maksud apa, saya tidak peduli. Yang saya peduli adalah reaksi dan tindakan „publik“ dalam menyikapi ruang pribadi yang dibuka(kan) itu, terutama tindakan dari pribadi-pribadi yang merasa dirinya jadi wakil dari „publik“, yang merasa dirinya lebih „bijak“ dan punya kuasa untuk menilai dan memutuskan orang lain salah dan benar.  Apakah sebaiknya mereka tidak mengurusi saja ruang „publik“ yang sudah nyata-nyata untuk dan milik publik? Apakah sebaiknya ruang pribadi tetap menjadi milik pribadi saja, tidak perlu dan tidak berhak dicampuri oleh pribadi-pribadi lain, apalagi oleh publik? Saya terganggu, saya muak, saya marah, dan saya merasa miris -sebagai pribadi yang juga punya ruang yang ingin saya jaga- saat melihat ruang pribadi diobrak-abrik dengan mudah dan semena-mena oleh pihak-pihak yang mengatasnamakan „publik“. Melihat ini saya jadi berpikir dan merasa, jangan-jangan Tuhan mungkin tidak akan marah seperti saya (karena Tuhan Maha Penyayang, bukan seperti saya yang manusia, karena saya masih pemarah), tapi Dia hanya akan tertawa melihat manusia-manusia yang diciptakanNya sibuk berlagak jadi tuhan yang sok bisa menghakimi manusia-manusia lainnya, yang sibuk menjagaNya, padahal Dia yang sebenarnya Maha Menghakimi dan Menjaga.

Ruang: sela di antara batas. Sayangnya dalam kamus besar Bahasa Indonesia juga bermakna: rongga tak berbatas. Semua merasa berhak berdesakan di dalamnya. Saya harus pergi, mencari ruang untuk bernafas. Sudah terlalu sempit di dalam. Pengap.

Bayreuth, 170610

13:33

Advertisements

3 Gedanken zu „Ruang

  1. Pingback: Sebuah Pengakuan Terlambat dari Seorang Penggemar Peterpan | From This Moment

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s