Piala Dunia dan Identitas Bangsa (Lagi)

Tadi saya sempat bingung memilih melihat pertandingan Belanda vs. Denmark atau kuliah. Ternyata saya tetap bisa melihat pertandingan dan setelahnya kuliah. Dan saya tidak menyesal, karena dalam perkuliahan kami tetap membicarakan sepak bola juga. Temanya masih berkutat di masalah identitas. Identitas nasional, identitas bangsa. Apa sih identitas itu? Saya jadi teringat tulisan lama saya di tahun 2006, juga saat piala dunia. Saat itu saya beruntung mengalami piala dunia di Jerman, dan juga saat ini saya kembali berada di Jerman untuk mengalami lagi suasana Jerman yang berbeda. „Musim terpenting di tahun ini“ demikian kata dosen saya. Kami kemudian berdiskusi tentang identitas dan makna kebangsaan yang masih sering disimbolkan „hanya“ dengan bendera, lagu kebangsaan, dan nasionalisme yang sempit. Dosen saya sendiri mengaku terus terang, bahwa dia baru merasa menjadi orang Jerman pada tahun 2006, saat piala dunia berlangsung di Jerman. Dia baru merasa bangga menjadi orang Jerman. Maklum, sebagai generasi yang lahir di masa Jerman masih terbagi dua, ditambah lagi dengan „luka sejarah“ masa lalu membuatnya tidak merasa cukup percaya diri untuk mengaku sebagai orang Jerman, demikian katanya. Namun, sampai sekarang ternyata dia masih menyimpan trauma yang muncul dari tidak maunya dia menyanyikan lagu kebangsaan Jerman dan tidak mau memegang bendera Jerman dalam bentuk apapun. Bahkan dalam „sekedar“ bentuk warna hitam, merah, emas, yang dicoretkan di pipi.

„Kebanggaan“ dan „kesadaran“ atas bangsa Jerman terasa berubah pada generasi setelah tahun 1990. Puncak „kesadaran“ berbangsa itu terjadi pada tahun 2006 dan semua orang Jerman merasakan dampak yang positif dan menyenangkan dari kesadaran dan pemaknaan yang lebih „sehat“ terhadap „negara“ dan „bangsa“ Jerman sebagai bagian dari identitas diri mereka. Masa lalu -seburuk apapun itu- tidak bisa dan tidak boleh dilupakan, tapi yang terpenting sekarang adalah menyikapi masa kini dan bersiap untuk masa depan, begitu pendapat teman-teman yang saya yakin mereka lahir di atas tahun 1990. „Wajah“ integrasi terlihat juga misalnya dari nama-nama pemain Jerman yang beragam asal usulnya dan katanya, itu sudah cukup membanggakan orang-orang Jerman.

Yang menarik lagi, sejak tahun 2006 itu muncul satu kosa kata baru dalam bahasa Jerman yaitu „public viewing“, di mana layar lebar dipasang di tempat terbuka dan pertandingan –terutama jika Jerman main- disiarkan langsung dan masyarakat bisa nonton bersama. Menonton TV yang dulunya ada di ruang pribadi menjadi pindah ke ruang publik. Namun, istilah „public viewing“ sendiri mengundang senyum, karena diterjemahkan langsung ke dalam bahasa Inggris dari istilah Jerman „öffentliches Anschauen“, padahal kata „public viewing“ sendiri di Inggris bermakna sangat berbeda, yakni meletakkan jenazah (biasanya keluarga kerajaan) di suatu ruangan untuk dilihat oleh para pelayat.

Dan kemarin saat bercakap di telefon, sahabat saya di Indonesia sempat bertanya bagaimana situasi di Jerman saat Jerman mau bertanding. „Pasti ramai sekali ya,“ katanya, „di Indonesia yang negaranya tidak pernah masuk piala dunia pun, ramai sekali, apalagi di Jerman.“ Ya, memang ramai, semua orang sudah siap dengan kostum dan bir lalu menonton beramai-ramai. Apalagi ketika kemudian Jerman memenangkan pertandingan, situasi semakin ramai. Pesta berlangsung sampai pagi. Itu baru di putaran awal, apalagi jika masuk sampai ke final. Namun, mungkin karena Indonesia tidak (pernah) masuk ke piala dunia, kita tidak peduli pada identitas apapun, selain Indonesia. Semua sama, yang penting sepak bola, begitu saya dan sahabat saya bersepakat. Terbukti kalau piala dunia berlangsung tidak pernah ada kerusuhan, walaupun tim jagoannya kalah. Tapi kalau Persib lawan Persija, jangan harap suasana akan tenang. Di dalam negeri, “identitas” kedaerahan terasa semakin kental dan tak jarang berujung rusuh.

Bayreuth, 140610
21:33 (sambil melihat pertandingan antara Italia vs. Paraguay. Paraguay sementara unggul 1:0. Yeah :) )

Advertisements

3 Gedanken zu „Piala Dunia dan Identitas Bangsa (Lagi)

  1. Hai :D
    Saya orang indonesia, jawa tengah tepatnya, sangat tertarik dengan tulisan2 di sini, karena saya juga fans Jerman yang terbilang fanatik, dan berharap suatu saat bisa berkesempatan seperti penulis untuk merasakan atmosfer euforia di sana.
    I really enjoy this article, thankz yaaa :D
    Ngomong2, bagaimana bisa belajar di Jerman?? Bisa berbagi?

  2. hai, terima kasih sudah mampir. senang ada yang sama-sama jadi fans deutsche nationalmannschaft :) alhamdulillah, saya mendapat kesempatan untuk belajar di jerman dengan beasiswa. sukses untuk studimu ya!

  3. Saya smpai tertawa waktu baca kerudung hitam, baju merah, dan celana kuning.. ::membayangkan ^^
    Wah pinternyaaaaa :DD
    Iya amin, trmakasih :)
    Dari dubes Jerman ya? Kasih tau donk caranya, hehehe, kalau nggak keberatan ^^

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s