Keberhasilan (lagi)

Saya memang sedang tidak banyak pekerjaan di sini, selain berkutat dengan video yang saya lihat berulang-ulang dan transkripsi percakapan yang (harus) saya buat dengan detil sampai semua kata masuk ke dalam mimpi. Jadi, saya punya banyak waktu untuk jalan-jalan, bermalas-malasan dan untuk memikirkan hal-hal yang tidak penting :)

Sudah beberapa hari ini saya bertemu dan bercakap-cakap dengan sahabat-sahabat saya tentang keberhasilan, kebahagiaan, prestasi, pintar atau tidak pintar, dll. Benar-benar tema yang sama sekali tidak penting. Namun, saya tetap ingin menuliskannya di sini, semata-mata agar mimpi saya cukup disesaki oleh ujaran dan intonasi orang-orang yang saya transkripsikan percakapannya saja, jangan ditambah oleh yang lain.

Jadi, banyak orang menyangka saya ada lagi di Jerman untuk melakukan sesuatu yang tidak penting alias kuliah lagi itu karena saya pintar, rajin, penuh motivasi, ambisius, dll. Terima kasih atas pujiannya. Saya hanya bisa bilang: saya beruntung. Saat saya sedang bosan dan ingin lari sejenak dari kejenuhan saya, tiba-tiba ada tawaran beasiswa, tiba-tiba kesukaan saya menantang diri sendiri muncul, tiba-tiba saya sudah bikin proposal, tiba-tiba saya sudah mengontak profesor, tiba-tiba saya sudah dipanggil wawancara, tiba-tiba saya dapat beasiswa. Semua biasanya dilakukan tanpa harapan mendapatkan beasiswa itu, karena biasanya saat saya benar-benar menginginkan sesuatu, justru saya tidak pernah dapat. Jadi, saya bersyukur, karena saya beruntung, karena dengan keberuntungan ini saya belajar banyak dan saya sadar, suatu saat keberuntungan ini akan hilang juga. Jadi, saya juga bersyukur, karena pelajaran yang saya dapat setelah keberuntungan itu saya terima itu jauh lebih besar dibandingkan sekedar apa yang orang sebut pintar, rajin, dan lain sebagainya itu. Ya, karena justru dengan keberuntungan itu saya belajar tentang diri saya sendiri, berkompromi dengan diri saya sendiri dan berjuang melawan diri sendiri. Sehingga pada akhirnya saya bisa menyebutkan dengan sangat jelas bahwa saya tidak sepintar itu, tidak serajin itu, tidak punya motivasi sebesar itu, dan sama sekali tidak ambisius. Sekali lagi: saya hanya beruntung.

Dalam percakapan virtual, seorang sahabat merasa bahwa untuk kuliah S3 „harus“ pintar, karena yang „pintar“ saja sulit untuk lulus dan masih punya banyak kesulitan, apalagi bagi yang tidak „pintar“. Menurut saya kuliah di manapun, jenjang apapun tidak  menuntut adanya kepintaran. Kalau sudah pintar mengapa juga harus sekolah? Saya melihat –berdasarkan pengalaman saya juga- faktor tekun, rajin, dan sabar berperan lebih besar, ditambah sedikit –atau banyak- keberuntungan, hehe, karena ada juga yang malas-malasan namun tetap berhasil. Kata berhasil ini juga patut dipertanyakan. Berhasil itu apa? Dalam hal apa? Mendapat nilai bagus? Mendapat IPK besar? Lulus cepat? Dapat pekerjaan dengan gaji dan posisi bagus? Atau berhasil karena dia menikmati dan bahagia dengan apa yang dia lakukan? Baik di sekolah, kampus, atau di tempat kerjanya? Berhasil menikmati dan bahagia dengan hidupnya?

Kembali ke soal pintar tidak pintar, rajin tidak rajin, dan semacamnya itu, saya sendiri belajar amat sangat banyak saat saya bersekolah jauh dari rumah, bahwa ternyata management diri dan stress saya sangat lemah. Saya bisa mudah jatuh pada kondisi tertekan dan depresi, saya bisa menangis tiba-tiba, merasa sangat kesepian, menjadi sangat perasa, seharian bisa tidak melakukan apapun tapi tetap merasa bersalah karena saya merasa „harus“ melakukan sesuatu untuk hal-hal yang „menyangkut“ kuliah saya: entah membaca atau menulis. Saya membaca, tapi membaca hal yang lain, saya juga menulis, tapi juga menulis hal yang lain. Kalaupun pada akhirnya saya bisa membaca dan menulis hal-hal yang “berhubungan” dengan kuliah saya, itu dengan perjuangan mati-matian dan berdarah-darah. Saya jadi teringat  percakapan telefon dengan seorang sahabat yang mengutip salah satu kalimat dalam naskah lama yang dibuat di abad pertengahan, bahwa makna dari perang itu adalah untuk bertahan hidup. Ya, saya sebenarnya sedang berperang dengan diri saya sendiri dan perasaan bersalah untuk bisa bertahan hidup. Salah satu cara saya untuk bertahan hidup ternyata dengan jalan-jalan juga membaca dan menulis hal-hal yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan studi saya. Jika tidak begitu, saya rasa saya sudah lama gila.

Lalu apa hubungannya kepintaran dengan keberhasilan? Saya rasa sangat relatif. Pintar dan berhasil itu juga pilihan. Banyak teman dan mahasiswa saya yang pintar secara akademis, dalam arti punya IPK yang besar, namun misalnya lulus terakhir. Saya dulu termasuk salah satu mahasiswa S1 yang kuliah sampai  7 tahun, walaupun IPK saya katanya tinggi, di atas 3. Teman-teman yang lain, yang biasa-biasa saja, malah lulus lebih cepat dan dapat pekerjaan yang bagus juga, mereka pun bahagia dengan hidupnya. Namun, banyak juga teman dan mahasiswa saya yang pintar secara akademis dan lulus sangat cepat juga, mereka juga kemudian berhasil dalam karier dan hidupnya. Jadi, tidak bisa diambil kesimpulan yang sederhana, bahwa IPK bagus, nilai bagus itu sama dengan pintar sama dengan (akan) berhasil.

Percakapan berikutnya dengan seorang sahabat yang sudah lama tak kontak dan ternyata dia sudah menjadi direktur utama sebuah organisasi internasional yang bergerak di bidang kemanusiaan dan pendidikan bagi anak-anak kurang beruntung secara finansial. Dalam waktu sekitar 3 tahun dia sekarang mengurusi organisasi yang berpusat di Amerika itu dan mengatur cabang-cabangnya di Indonesia (Aceh, Medan, Jakarta, Bali), Thailand dan Kenya. Saat ini dia berada di Amerika untuk mengatur semua dan berencana melanjutkan sekolah. Saya senang mendengar keberhasilannya. Keberhasilan yang mana, katanya. „Saya lelah dan tidak punya waktu untuk diri saya sendiri. Saya bahkan tidak punya waktu lagi untuk sekedar menulis puisi,“ katanya lagi. Saat orang memandangnya hebat dan berhasil, justru dia merasa sangat tertekan, sampai suatu saat pernah berpikir untuk mengakhiri hidupnya sendiri. Saya sendiri (sekarang) bisa mengerti mengapa orang sampai ingin mengakhiri hidupnya, bukan hanya karena tekanan masalah tapi juga karena „keberhasilan“ yang besar dan berlimpah. Keberhasilan yang hanya dilihat secara kasat mata saja. Pada tataran ini saya bisa memahami, karena pernah pada saat sedang meracik bahan masakan saya memperhatikan pisau yang saya pegang dan berpikir bahwa pisau itu cukup tajam untuk diiriskan pada urat nadi tangan saya atau ditusukkan ke perut saya. Saat itu saya ada dalam situasi yang menurut orang „just perfect“, semua saya punya dan bisa membuat orang lain iri, maka saya “tidak boleh” mengeluh, karena itu artinya tidak bersyukur. Namun, untungnya saya masih takut darah dan masih takut sakit, jadi pisau itu saya pakai untuk mengiris bawang bombay bukan urat nadi saya. Maka, ketika teman saya berniat mengakhiri hidupnya, saya bisa sedikit mengerti beban yang dia tanggung dari harapan-harapan banyak orang yang dibebankan padanya. „Tuhan tidak adil, karena diciptakanNya kemiskinan, sehingga beban dan pekerjaan saya jadi banyak,“ katanya saking putus asanya dia. Dia yang ada dalam posisi bisa mengatur semuanya, „tinggal“ menunjukkan jari dan terlaksanalah semua, tetapi ternyata tidak.Yang kata orang „keberhasilan“ buat dia adalah beban. Karena semua harap dari orang-orang yang dia sayangi dibebankan padanya:harap dari ibunya, keluarganya, teman-temannya dan  anak-anak miskin yang butuh kasih sayang dan bantuannya. Semua sudah terlalu banyak untuknya, sampai saat bercakap virtual dengan saya dia hanya bisa terus menangis. Hal yang sudah lama tidak bisa dilakukannya, katanya, karena masih banyak yang “berhak” menangis dibandingkan dia.  Kalaupun saya berkata, berhenti dan lepaskan semua tanggung jawab itu, karena semua sudah ada yang mengatur, tentu pada kenyataannya tidak akan semudah itu. Bertahan hidup dari perang melawan dirinya sendiri itu bukan proses yang mudah. Saya rasa saya bisa cukup mengerti. Maka, ucapan-ucapan seperti “kamu beruntung, seharusnya disyukuri. Ayo, semangat. Kalau bukan kamu siapa lagi? Kamu pasti bisa lah,” hanya akan membuatnya semakin tertekan. Ups, untuk saya juga, hehehe. Jadi, maaf, ini permintaan serius dari saya –sekalian curhat colongan-, untuk sahabat-sahabat saya yang baik dan penuh pengertian, jangan lagi mengucapkan kalimat semacam itu pada saya dan pada teman saya, karena  kalimat semacam itu hanya akan membuat tekanan bertambah besar. Mungkin lebih baik tidak berkata apapun, selain tersenyum dan mendengarkan atau mungkin cuma mengucapkan kalimat pendek “Capek ya? Tidak apa-apa. Istirahat saja.”

Maka saya membiarkan sahabat saya menangis, karena saya rasa dia sangat membutuhkannya. Saya hanya berharap suatu saat akan bisa membaca puisi-puisi karyanya lagi, karena dengan menulis –apapun itu- saya yakin dia akan tetap hidup dan tidak menjadi gila. Saya katakan itu padanya, karena saya hanya ingin dia bahagia sebahagia-bahagianya, bisa menikmati hidupnya, tanpa diembeli-embeli label “keberhasilan” yang kadang tak jelas dilihat dari sudut pandang apa. Untuk saya, menikmati dan bahagia dengan apa yang dilakukan itu adalah keberhasilan sebenarnya. Jika apa yang dilakukan bisa membawa pengaruh yang baik untuk orang lain, itu hanya akibat.

Dan kemudian saya bertemu dengan sahabat saya yang lain, yang menguatkan saya dengan analogi berenang, laut dan pulau yang dibuatnya, saat saya sedang panik menghadapi presentasi yang harus saya lakukan sore itu. Dia membuat analogi ini karena dia sudah dan sedang melakukannya. Katanya, „Kita ini hidup seperti orang yang diceburkan ke laut, diminta mencapai suatu pulau, tapi kita tidak bisa berenang dan tidak diberi tahu arah untuk mencapai pulau itu. Apa yang terjadi? Bisa saja kita langsung tenggelam, atau kita berusaha belajar berenang dulu. Setelah kita bisa berenang, kita harus berenang mencapai pulau itu tanpa tahu arah yang tepat karena laut begitu luas. Mungkin kita nyasar ke pulau lain, mungkin kita capek dan memutuskan untuk berhenti, mungkin juga kita sampai ke pulau itu dengan mudah, atau justru bersusah payah dengan luka dan berdarah-darah. Tapi, kalaupun akhirnya kita sampai di pulau itu, kita tidak pernah tahu apa yang harus kita lakukan di sana atau apa yang menanti  kita di sana. Sampai ke pulau itu ternyata jadi tidak penting.  Ternyata yang penting adalah kita belajar sesuatu. Kita belajar berenang, kita belajar mencari arah, kita belajar hidup di pulau yang mungkin bukan jadi tujuan awal kita, kita melihat banyak, kita menemukan banyak hal, sekalipun kita nyasar atau lelah dan kemudian memutuskan untuk berhenti. Saya rasa bukan pulau itu tujuannya, tapi perjalanannya. Dan itu hidup. Dan dalam perjalanan itulah keberhasilanmu. Bahkan jika kemudian kamu memutuskan untuk istirahat dan berhenti. Karena tidak pernah ada yang sia-sia.”  Ya, tidak pernah ada yang sia-sia.

“Jadi, kalau kamu dikritik atau bahkan dipuji dari sana sini, masuk telinga kiri dan keluar telinga kanan saja. Kalau disimpan, kritikan atau pujian yang berlebihan dari banyak pihak, hanya akan membuatmu sesak nafas. Kritikan dan pujian itu persis seperti air yang masuk ke hidung dan mulutmu saat sedang berenang. Jika terlalu banyak masuk ke tubuhmu, kamu lambat laun akan mati dan tenggelam,“ katanya lagi. Kalau kata salah seorang sahabat saya yang lain: „Orang lain mau bilang apa, bae weh lah.“ Hehehe

Sore itu lagi-lagi saya merasa jadi orang yang sangat beruntung karena dipertemukan baik virtual atau nyata dengan sahabat-sahabat yang dengan caranya membuat pelajaran berenang saya menjadi semakin baik. Untuk itu saya berterima kasih pada Yang Maha Mengatur Pertemuan. Dan ketika saya dapat menuliskan ini semua, maka ini adalah salah satu keberhasilan saya sesungguhnya.

Cuaca cerah, matahari bersinar dan ini berarti waktunya untuk jalan-jalan menikmati matahari dan padang canola :)

Bayreuth, 040610

13:46

Advertisements

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s