Tentang Bimbingan dan Konsultasi (sementara selesai)

Kembali ke soal data, dengan bantuan yang sangat berharga dari kedua sahabat saya, saya merekam beberapa situasi percakapan. Situasi bimbingan dan konsultasi murni hanya saya dapatkan dua data. Satu dosen Indonesia dan satu dosen Jerman. Yang menarik, dosen Indonesia yang biasanya membimbing dalam bahasa Indonesia, pada saat direkam menjadi bicara dalam bahasa Jerman.  Untuk kepentingan penelitian saya, data ini menjadi tidak valid, karena secara etnometodologis, data harus benar-benar alami, tidak dibuat-buat. Namun, tentu saja data ini bisa dijadikan bahan penelitian dengan tema lain. Situasi lain yang saya rekam adalah situasi perkuliahan di Jakarta, Bandung dan Malang. Bukan tanpa kesulitan, saya melakukan perekaman dibantu sahabat-sahabat saya tadi. Ada satu peristiwa di mana listrik mati hampir sepanjang waktu perkuliahan, sehingga ruangan berAC menjadi terasa begitu panas, akibat lainnya handycam tidak bisa discharge saat batere habis. Belum lah lagi dosen yang selalu berjalan-jalan, posisi duduk yang diubah-ubah sedangkan ruangan kelas tidak terlalu besar dengan jumlah mahasiswa yang cukup banyak. Hal ini juga menyebabkan kamera tidak bisa berada dalam posisi diam. Sebenarnya kondisi yang bergerak-gerak terus ini juga tidak terlalu bagus. Masalah lainnya adalah waktu pergantian ruangan yang cukup sempit, sehingga menyulitkan saya saat harus memasang kamera dan mencari posisi yang tepat. Kamera harus didekatkan dengan colokan listrik, yang biasanya hanya ada satu, dan saya terus terang tidak antisipatif dengan membawa perpanjangan kabel. Kendala lain, misalnya saat sedang bekerja kelompok, mahasiswa cukup ribut, sehingga suara-suara gaduh lebih jelas masuk ke kamera dibandingkan suara si dosen yang sedang berkeliling. Solusinya sebenarnya adalah memasang minimikrofon pada si dosen yang disambungkan ke kamera. Selain kendala-kendala yang bersifat teknis, kendala lain sifatnya lebih fisikal dan psikologis. Cukup melelahkan berkonsentrasi penuh pada saat perekaman, memperhatikan dengan seksama pada layar kamera peristiwa komunikasi itu. Untuk saya yang mengerti bahasa Jerman, situasi ini agak lumayan, tetapi untuk kedua sahabat saya yang tidak berbahasa Jerman, hal itu pasti membosankan dan melelahkan. Jadi kalau sampai mereka mengantuk dan bosan, sehingga ada bagian yang direkam dengan cara yang aneh,atau tiba-tiba kamera terlepas sedikit dari pegangan,  saya bisa mengerti. Terima kasih setulusnya untuk Lusi dan Bima atas bantuan yang sangat besar dan berharga itu. Tanpa mereka, saya tidak bisa melakukannya sendirian. Terlalu banyak.

Proses merekam sebenarnya juga sekaligus proses menganalisis. Menarik untuk diamati, bagaimana proses konsultasi dan bimbingan bisa berlangsung sebelum perkuliahan, selama perkuliahan dan setelah perkuliahan. Mahasiswa biasanya datang sendiri menghadap dosennya, biasanya lagi diikuti kemudian oleh teman-temannya yang lain. Ada yang memang ingin juga bertanya dan menunggu gilirannya, ada yang ikut nimbrung bertanya atau berkomentar, ada juga yang hanya memperhatikan. Pertanyaan biasanya berkisar pada hal-hal yang tidak dimengerti dalam pelajaran. Hal ini menariknya tidak ditanyakan saat misalnya dosen bertanya: „Apakah ada pertanyaan? Ada yang tidak dimengerti?“ Biasanya saat dosen bertanya demikian, tidak ada yang menunjukkan tanda untuk bertanya. Namun, ini muncul saat kuliah berakhir, atau sebelum perkuliahan, atau jika dosen membuat bentuk kerja kelompok, maka muncul fenomena „bertanya tentang hal-hal yang tidak dimengerti“, baik yang sifatnya akademis (berhubungan dengan perkuliahan) atau yang sifatnya administratif (misalnya masalah KRS, ekskursi, dll.). Pertanyaan lebih sering muncul dalam ruang yang „sedikit privat“ artinya dalam lingkup ruang yang lebih kecil, dengan jarak sosial yang lebih pribadi, tetapi tidak terlalu intim (sekitar 0,5 meter).  Fenomena ini juga terjadi dalam penelitian yang dilakukan oleh House & Levy (2008) pada mahasiswa-mahasiswa asing di 3 universitas di Hamburg. Apakah faktor budaya berperan di sini? Atau justru faktor psikologis yang lebih berperan? Saya belum bisa masuk terlalu jauh ke sana.

Pengamatan sementara lainnya adalah relatif lebih lambatnya dosen-dosen itu bicara saat di kelas. Sebagai native speaker dan juga dosen yang berpengalaman, hal ini biasa terjadi, bahwa saat mengajarkan bahasa asing „seharusnya“ memang bicara tidak terlalu cepat dengan melakukan tekanan pada kata-kata dan suku kata tertentu serta melakukan jeda yang cukup lama di antara ujaran satu ke ujaran yang lain. Dengan cara ini, lagi-lagi berdasarkan pengamatan saya lewat layar kamera dan kemudian lewat transkripsi percakapan yang saya buat, mahasiswa terlihat memiliki kesempatan lebih banyak untuk mendengar, menyimak , mengerti atau tidak mengerti dan memahami  atau tidak memahami maksud ujaran si dosen, tanpa harus mengerti semua kata yang diujarkan dan dituturkan. Proses mengerti ini terlihat dari respon yang diberikan mahasiswa saat si dosen menuturkan sesuatu (dalam istilah analisis percakapan biasanya disebut „back channel“ atau dalam bahasa Jerman dikenal dengan sebutan „Rückmeldesignale“). Respon yang diberikan bisa verbal atau nonverbal atau keduanya. Misalnya anggukan, senyuman, kerutan di kening, memicingkan mata, gelengan kepala, kedipan, tawa, untuk verbal seperti „hm=hm“, „mm=mm“, „o:h“, „ya“. Saya tidak menemukan respon penolakan langsung dengan „tidak“ , ada beberapa yang menggunakan „tapi“. Namun, kebanyakan proses „mempertahankan pendapat“ atau „mempertentangkan pendapat“  ini  langsung „terpatahkan“ oleh penyelaan yang dilakukan si dosen sehingga terjadi proses tumpang tindih ujaran  (overlap) yang dilakukan antara lain dengan cara meninggikan volume suara, menaikkan intonasi dan mempercepat kecepatan bicara serta menggunakan pola tuturan „ya, tapi di sini …“ atau „bukan begitu, tapi …“. Pada titik ini, biasanya giliran bicara akan langsung beralih pada si dosen, karena tepat pada saat proses overlap tadi, secara prosodis biasanya mahasiswa otomatis merendahkan dan memperlambat suaranya dan ujaran biasanya tidak dilanjutkan.  Respon lain dari si  mahasiswa biasanya berupa mengangguk  atau mengerutkan kening. Itu sedikit yang bisa dikenali dari sisi prosodi dan tuturan verbal. Gestik dan mimik tentu juga menunjang.

Fenomena dan sekuens di atas mungkin bisa dijadikan salah satu petunjuk untuk mendukung kenyataan relasi yang tak setara antara dosen dan mahasiswa. Masalah siapa yang lebih berkuasa di sini, itu faktor lain yang bisa dijadikan penelitian lanjutan. Apakah benar dosen lebih punya kuasa dibandingkan mahasiswanya? Apakah diam juga bisa dimaknai sebagai jenis kuasa yang lain? Yang jelas, dari data-data yang ada, terlihat banyak fenomena yang menarik untuk dikupas lebih lanjut, baik dari pola interaksi yang terjadi (tataran mikro dan meso) dan apa yang ada di balik fenomena tersebut (tataran makro). Itu nanti saja, untuk saat ini cukup dulu. Sudah terlalu panjang  :)

Namun, sayangnya data yang ada pada saya belum cukup untuk digunakan sebagai data penelitian yang sifatnya lebih mencari model dan prototype. Selain karena kualitas rekaman yang kurang begitu mendukung, juga karena sekuen-sekuen yang saya inginkan –untuk dibahasa lebih lanjut- juga masih terlalu sedikit. Entah ini kerugian atau kekurangan, belum ada yang membuat penelitian semacam untuk konteks interaksi Indonesia-Jerman, sehingga saya cukup sulit menyandarkan diri pada teori atau penelitian sebelumnya. Saya tidak bisa memakai teori-teori dari Jerman atau dari negara-negara lain, karena konteks dan subjek penelitiannya sendiri sudah berbeda. Memaksakan teori Jerman dalam konteks Indonesia sama saja dengan membelah kayu dengan memakai pisau dapur. Jadi, pengambilan data kedua akan dilakukan lagi di Indonesia dengan lebih terfokus. Ada bagusnya juga karena saya sudah berjarak beberapa saat dengan pengambilan data pertama, sehingga saya bisa melihat kekurangan dan bagian-bagian yang kosongnya. Data yang  juga direncanakan diambil berikutnya adalah interaksi dosen Indonesia dan mahasiswa Jerman di Jerman. Kesimpulannya, akan ada banyak perjalanan lagi yang akan saya lakukan. Dan ini sudah membuat saya senang :)

Advertisements

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s