Catatan Perjalanan: Ditolak Jatim, dipikat Bali (4)

Sebelum subuh saya sudah bangun. Saya ingin menikmati fajar tanggal 15 Februari di pantai. Sendirian. Langit masih gelap, saat saya berada di pantai, ada adzan berkumandang jelas di sebelah barat pantai. Mesjid tak jauh dari situ. Dan ada doa dan puja-puja dari pura di belakang tempat saya berdiri menatap ke timur. Langit pelahan memerah, saya merinding, saya merasa penuh dan terberkati. Saya bersyukur sepenuh syukur atas hidup yang telah diberikan dengan penuh kasih oleh Sang Maha Hidup dan Sang Maha Kasih. Dada saya sesak. Saya merasa begitu kecil, tidak berarti apapun. Saya hanya berharap, semoga saya, kehadiran saya, keberadaan saya, hidup saya, kerja saya, langkah saya, cinta saya, bisa membawa senyum dan  kebahagiaan untuk banyak orang. Ya, saya hanya ingin bisa membawa kebahagiaan untuk orang lain. Langit semakin terang.

Saat pantai semakin ramai dikunjungi banyak orang, saya beranjak kembali ke hotel. Langkah terasa begitu ringan. Saya senang menghadapi hari itu. Sebelum sarapan, saya masih sempat berendam sejenak di kolam renang hotel yang masih sepi pengunjung. Maklum masih cukup pagi, turis-turis lain –kebanyakan dari Belanda- masih tidur. Sarapan pagi sambil bercakap-cakap dengan pegawai hotel dan mendapat ucapan selamat ulang tahun serta doa-doa dari orang-orang yang saya cintai. Ya, saya memang diberkahi Sang Maha Kasih lewat orang-orang yang mengelilingi dan mencintai saya. Saya bersyukur sangat.

Selesai sarapan, saya berangkat ke Singaraja. Perlu mencari ATM, mengingat persediaan uang sudah menipis. Naik angkot yang cukup mahal menurut saya, Rp 8.000, padahal rasanya jarak dari Kalibukbuk ke kota Singaraja mungkin sekitar 12 km. Tapi rasanya wajar dibuat mahal begitu, angkot tidak berpenumpang, hanya saya sendiri.  Penduduk Bali lebih suka naik motor. Sampai di Singaraja, panas terik, karena sampai di sana pas tengah hari. Memang saya agak santai keluar hotel. Tidak ada satu ATM pun yang saya temukan di daerah dekat pasar Singaraja. Mampir ke warnet sebentar untuk  mengirim email memberi tahu teman saya di Jerman bahwa saya sudah bertemu dengan Luh Putu Asrini, sambil bertanya di mana ATM BNI terdekat. Ternyata yang terdekat itu cukup jauh dari tempat saya bertanya. Namun, beruntung karena tidak sulit untuk mencapainya. Belanja sedikit, saya memutuskan untuk kembali ke hotel untuk makan siang, karena jam 16 hari itu saya sudah membuat janji untuk di-massage. Naik angkot dari pusat kota Singaraja sampai mendekati terminal, cukup dekat, dan ongkosnya: Rp 4.000. Tercengang. Mahal betul. Ya memang segitu.

Janji massage jam 16. Sudah semangat saya pergi ke tempat massage, sampai di sana saya ditanya apakah yakin saya mau dimasage. Saya heran kenapa saya ditanya begitu. Ternyata yang akan memassage saya adalah seorang transvestite. Kaget juga saya. Waduh, gimana ini. Tapi saya sudah tanggung ada di sana. Akhirnya jadi dimassage, tapi saya cuma minta dimassage bahu dan kaki saja. Kok masih merasa tidak nyaman juga. Kami ngobrol, awalnya agak canggung. Namun, saya berusaha membuat suasana secair mungkin. Untung saya punya beberapa kenalan dekat yang gay dan transvestite, jadi saya tahu kira-kira mereka seperti apa. Akhirnya suasana benar-benar cair. Dia bercerita banyak tentang dirinya, awal dia menjadi transvestite, alasannya, pergaulannya, bagaimana dunia transvesitite di Bali, sudut-sudut kehidupan mereka, harapan dan keinginan dia. Semua, semua dia ceritakan. Dan dia sopan sekali. Sosok yang menyenangkan. “Saya heran, kok saya bisa langsung bercerita begini ya sama Dian. Makasih ya” katanya. Saya bahagia, dia percaya bercerita pada saya tentang hidupnya. “Kamu datang ya nanti di pengupacaraan Hindu saya jadi perempuan. Tahun depan, saya undang kamu ke sini”. Saya mau sekali datang.

Setelahnya saya masih merasa takjub dengan kejadian yang saya alami. Tidak pernah terbayangkan sebelumnya, tetapi saya senang ada orang yang masih mempercayakan kisah hidupnya yang paling sensitif pada saya. Orang yang sama sekali tidak saya kenal, bahkan mungkin dijauhi oleh semua orang. Saya hanya mendengarkan dan membiarkannya bercerita. Berusaha menganggap dan memperlakukannya sebagaimana saya ingin diperlakukan. Tuhan mengabulkan doa saya.

Mandi dan ibu Asrini tak lama kemudian menjemput saya. Saya dibawa ke rumahnya yang ada di sebuah desa, agak masuk dari jalan raya Singaraja. Rumah yang belum jadi, dinding belum diplester, jendela masih belum berkaca. Tempat sesaji dan sembahyang seperti biasa ada di sebelah kiri halaman. Ada beberapa rumah sederhana di dekat rumahnya. Sekeluarga kumpul di situ. Khas rumah-rumah di desa di Indonesia, tidak hanya di Bali. Beberapa penghuninya sedang duduk-duduk di halaman. Mengaso. Cuaca memang agak panas. Mengaso di halaman yang teduh oleh pepohonan yang rindang yang laki-laki bertelanjang dada, yang perempuan berkain dan menutupi dadanya dengan baju dalam. „Om Swastiastu“ sambut mereka sambil segera berdiri dan menyambut saya. Menangkupkan tangan di dada. Terus terang saya bingung harus menjawab dan bertindak apa saat mereka member salam. Jabat tangan tampaknya tidak lazim, akhirnya saya menangkupkan tangan juga sambil menganggukkan kepala. „Om Swastiastu“.  Saya langsung merasa di rumah, disambut dengan begitu bersemangat dan ramah oleh wajah-wajah jujur dan sederhana. Sambutan yang hangat. Saya dipersilakan masuk. Di ruang depan hanya ada satu lemari, ada TV menyala. „Komang sudah bisa Bahasa Indonesia, Mbak. Pintar dia. Padahal tidak pernah saya ajari. Dia belajar sendiri. Dari nonton TV“, begitu kata Bu Asrini bangga gadis kecilnya sudah bisa berbahasa Indonesia. Ah ya, Bahasa Indonesia.

Semua berkumpul di ruang depan, ada suaminya Bu Asrini, kedua mertuanya, kakak-kakak iparnya, anak pertama Bu Asrini –Gde Rudi-  yang memperhatikan semua bincang-bincang kami dengan pandangan penuh ketertarikan-, anak kedua Bu Asrini, tapi tak lama dia pergi lagi, kemudian keponakannya. Kami berbincang ke sana ke mari. Mereka antusias bertanya, seperti apa Jerman itu, seperti apa salju, dan kenapa kok saya mau saja sekolah sampai sebegitu lama di Jerman. Ups, pertanyaan yang saya juga tidaktahu jawabannya.

Bu Asrini menyiapkan makan. Bukan capcay seperti yang dibilang, tapi sate kambing, sate pentul, urab, dan pepes ikan. Ini makan besar, saya tahu makanan ini bukan makanan yang sehari-hari mereka makan. Dan itu memang saya ketahui waktu obrolan kami berpindah ke soal makanan khas Bali. Dan itu Indonesia, apapun akan dilakukan untuk menghormati tamu. Dan alangkah tidak sopannya saya jika menolak. Apalagi makanan enak-enak begitu. Bincang-bincang hangat masih dilanjut sambil makan. Salah seorang kakak ipar Bu Asrini bercerita tentang kondisi yang sulit sekarang ini. Dia sedang mencoba menjadi nelaya, sebelumnya petani. Laki-laki setengah baya yang saya lihat cukup cerdas. Hanya dia sendiri di keluarga itu yang bersekolah sampai SMA kemudian sempat merantau ke luar Bali. Pemikirannya luas dan menganggap pendidikan masih jadi hal yang terpenting untuk hidup yang lebih baik. „Saya selalu berusaha, Mbak. Tapi Tuhan pasti punya rencana lain yang saya tidak pernah tahu. Saya hanya menjalani dharma saya di dunia“, begitu katanya. Kesederhanaan dan ketulusan seorang desa menjalani hidup. Sungguh, saya terharu melihat keluarga itu. Mereka kaya dibalik kesederhanaannya. Mereka saling menyayangi dan membagi kasih sayangnya ke luar. Mereka tetap berbesar hati menjalani dharma mereka. „Sudah tersurat begini, Mbak. Apa yang tidak bisa kami syukuri? Masih banyak yang lebih susah dari kami. Mereka masih harus diberi“. Ah. Sungguh saya tercekat. Bahkan untuk menulis di sini, setelah berjarak sekali pun, saya masih tercekat. Tak heran teman saya di Jerman begitu ingin membantu mereka. Mereka menebar cinta, yang sampai pada banyak orang. Juga saya.

Sebelum pulang, saya masih sempat diberi oleh-oleh setumpuk kain pantai, sekantung plastic asesoris, dan satu kantung keripik tempe, karena saya sempat bilang di Jerman saya kangen sekali tempe, makanan favorit saya. Ah, itu semua barang dagangan mereka. Mereka mendapatkan uang dari situ dan itu diberikan begitu saja pada saya. Pantaskah saya menolak? Perang batin saya harus dihentikan, saya tak kuasa melihat mata penuh cinta itu. Sungguh. Rasanya ingin menangis. Tiba saatnya pulang, sudah malam. Mereka meminta saya kembali lagi suatu saat nanti. Ya, pasti. Saya akan kembali lagi ke sana. “Mbak Dian sudah tahu sekarang, Mbak punya rumah di sini. Punya keluarga di Bali”. Adakah hal yang lebih indah selain punya rumah dan keluarga di mana pun? Untuk saya tidak ada yang lebih indah dari itu.

Malam itu di kamar hotel saya menangis. Tiba-tiba saja jadi sangat melankolis. Saya bahagia, Sang Maha Cinta langsung mengabulkan doa saya. Hari ulang tahun yang paling indah dan tidak akan pernah saya lupakan seumur hidup saya. Saya bersyukur sekali. Sangat.

Pagi hari, masih bertemu dulu Bu Asrini, kemudian dilanjut sarapan, dan menunggu travel yang akan membawa saya ke Ubud. Travel datang tepat waktu kemudian menjemput penumpang-penumpang lainnya. Hanya saya dan sopirnya yang orang Indonesia. Penumpang lainnya, semua perempuan, datang dari Austria dan Belanda. Di daerah utara memang kebanyakan turis datang dari Eropa. Berbincang seru sepanjang jalan: dalam bahasa Jerman. Tidak!

Perjalanan Singaraja – Ubud melewati Bedugul yang sangat sangat indah. Kami sempat minta berhenti sebentar untuk berhenti di Bedugul karena tak tahan untuk menghirup wangi dan kesegaran udaranya. Saya dan dua penumpang dari Austria turun di Ubud. Saya mencari pool XTrans yang akan membawa saya nanti ke Kuta. Duh, salahnya pool Xtrans berada tepat di depan Pasar Tradisional Bedugul. Ya sudah, buyar semua rencana. Saya tidak mau jadi turis yang belanja oleh-oleh. Tapi melihat barang-barang di bagus di Ubud, hati siapa tidak goyah? Tutup mata, saya belanja. Sudahlah. Toh buat orang-orang yang saya sayangi juga. Alasan. Hehehe.

Perjalanan Ubud – Kuta juga indah. Mata saya tak lepas dari patung-patung indah sepanjang jalan. Sampai di Kuta, saya titipkan bawaan saya, kemudian berjalan kaki lagi menuju pantainya. Ini sisi Bali yang lain, yang saya hindari. Sisi turisme. Orang Bali hidup juga dari sini. Campur baur jadi satu. Saya hanya jalan kaki, melihat lebih tepatnya memindai saja. Untuk saya tidak terlalu menarik. Sampai mendekati malam saya di sana. Tak lama bertahan, saya lebihmemilih menunggu di bandara. Pesawat akan membawa saya ke Jakarta pukul 21.

Pukul 00.30 tiba di Bandung. Home sweet home. Bandung sehabis hujan selalu membuat saya senang. Ah. Betapa perjalanan yang mengisi penuh hidup saya. Me-recharge banyak hal. Perjalanan-perjalanan yang saya lakukan 6 bulan terakhir, ke Jerman, Italia, Indonesia. Bertemu dengan orang-orang yang memperkaya hidup saya.  Berdamai dengan masa lalu saya. Berjalan ke depan. Saya sepertinya memang masih ditolak Jatim walaupun saya tetap ingin berdamai dengannya, tapi Bali berhasil memikat saya dengan kuat. Lalu, apa lagi yang kurang dari hidup saya?  Tidak ada. Hidup saya penuh. Sempurna.

Advertisements

3 Gedanken zu „Catatan Perjalanan: Ditolak Jatim, dipikat Bali (4)

  1. Pingback: Rumah di Seribu Ombak: Berombak dengan Damai | From This Moment

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s