Catatan Perjalanan: Ditolak Jatim, dipikat Bali (3)

Dan Bali memang memberi saya nyaman, walaupun hari pertama di Denpasar sedikit membuat saya merasa terancam.  Tiba di Ngurah Rai lepas maghrib, mengurus ini itu dulu termasu langsung mencari penginapan. Disarankan menginap langsung dekat terminal Ubung, Denpasar, karena hari Minggunya saya akan langsung menuju Singaraja. Naik taxi ke sana, diajak berbincang macam-macam sambil ditawari sewa mobil ke Singaraja. Tidak mau, saya ingin naik kendaraan umum saja. Jauh. Biarin. Tiba di hotel yang sudah direservasi untuk dua malam. Ramai betul oleh rombongan piknik yang berasal dari Pulau Jawa. Agak kecewa dengan harga kamar hotel yang mahal  tanpa sarapan pula –lebih mahal daripada harga kamar hotel di Malang yang bagus-, namun kondisi kamarnya sendiri jelek. Berbau apek, agak kotor, banyak sarang laba-laba dan lobang di sana-sini. Saya langsung membatalkan pesanan malam berikutnya dan memutuskan menginap lebih lama di Singaraja. Istirahat sebentar, kemudian keluar mencari minum dan roti untuk sarapan keesokan paginya, sambil berharap bisa mendapat sesuatu untuk makan malam. Tidak terlalu yakin karena  sudah hampir jam 21 saat itu.

Mengambil arah ke kiri, saya ingin tahu letak Terminal Ubung. Namun, keputusan saya salah. Di sepanjang jalan banyak laki-laki duduk-duduk bertelanjang dada dan berteriak-teriak di pinggir jalan, menggoda siapapun yang lewat. Bukan orang Bali. Pendatang. Mereka melihat saya, merasa terancam, saya berbalik arah. Di depan ada sekelompok orang berpakaian ada baru pulang sembahyang. Mereka hanya memperhatikan saya. Berjalan terus akhirnya menemukan toko kecil yang itu pun sudah hampir tutup, sesaji sedang dibersihkan, tetapi saya masih sempat membeli roti, minuman, dan kue-kue. Selain untuk sarapan juga untuk bekal perjalanan esok paginya ke Singaraja.

Semalaman itu saya tidak bisa tidur nyenyak. Seluruh lampu saya nyalakan, TV pun tidak saya matikan. Entahlah, ada perasaan tidak nyaman di sana, alhasil pagi hari migren pun muncul. Selesai mandi, sarapan, check out, saya kemudian berangkat ke Terminal Ubung. Memang dekat, sekitar 100 meter saja dari tempat saya menginap. Terminal belum cukup ramai. Menunggu bis agak lama, setelah di dalam bis pun masih menunggu lama. Bis jalan sebentar saja untuk kemudian lama lagi menunggu penumpang. Namun, saya menikmatinya. Menarik memperhatikan orang-orang yang naik bis itu. Ibu-ibu tua berkebaya khas Bali membawa bakul buah, ibu-ibu setengah baya, keluarga kecil dengan anak-anaknya menggunakan ikat kepala khas Bali. Seorang bapak tua pergi sendirian. Seorang bapak dan gadis kecilnya. Semua penumpang saling menyapa ramah bahkan kemudian berbincang. Bis tidak terlalu penuh. Saya duduk sendirian dengan tas di sebelah. Masih migren, tetapi saya berusaha terus mengisi perut saya agar tidak masuk angin yang bisa mengakibatkan migren makin parah. Saya tidak boleh sakit.

Perjalanan dari Denpasar ke Singaraja melewai daerah Tabanan. Indah. Jalanan kecil bekelok-kelok, naik turun, di pinggir-pinggir jalan rumah khas Bali dan pura-puranya. Rumah dengan tempat pemujaan dan sesaji yang letaknya saya perhatikan selalu berada di sisi kiri gerbang dan halaman rumah. Ada yang besar, ada yang kecil. Bentuknya beragam. Orang-orang yang bersembahyang. Agama adalah hidup, hidup adalah agama. Di kendaraan umum pun demikian. Menarik juga memperhatikan bagaimana masyarakatnya berinterkasi. Sopir bis bisa menghentikan bis sesukanya di manapun dia mau untuk buang air kecil, beli minum, atau sekedar ngobrol sejenak dengan orang atau kenalan yang dia temui di jalan. Penumpang tidak ada yang protes, malah kadang ikut berbincang. Saya pun tidak protes. Melihatnya dengan senang. Rasanya kok menyenangkan melihat mereka. Kalau di Bandung mungkin saya sudah misuh misuh saat angkot ngetem lama atau turun cari angkot baru. Saat itu tidak bisa dan tidak mau misuh-misuh karena saya tidak punya pilihan lain, bis itu cuma satu-satunya bis yang akan membawa saya ke Singaraja. Saya harus ikut aturan main mereka, untungnya saya menikmatinya. Menyenangkan memang jika hidup tidak terburu-buru.

Migren sangat jauh berkurang saat melewati daerah Pupuan. Sawah-sawah berteras, hutan lebat, pohon-pohon kelapa, jalan naik turun berkelok-kelok. Rumah-rumah dan pura. Perempuan-perempuan kuat memanggul sesaji atau hasil panen padi di atas kepalanya. Bali yang terpampang di hadapan saya saat itu masihlah Bali –Pulau Dewata- di lukisan-lukisan dan tulisan-tulisan Mooi Indie. Mungkin memang masih demikian. Tapi memang indah. Mata saya tak bisa lepas dari paparan lukisan alam yang saya lihat. Itu di luar jendela bis. Di dalam bis adalah Bali yang nyata. Hidup sehidup-hidupnya. Gadis kecil yang terlelap di pangkuan bapaknya. Gadis remaja tanggung yang sibuk dengan HPnya. Nenek tua yang terkantuk-kantuk sambil memegang bakul buahnya. Juga si bapak tua yang pergi sendirian, hanya membawa satu kantong plastik di tangan.

Di Seririt, ada anak kecil –laki-laki- naik ke bis. Ibunya minta si sopir agar menurunkan anaknya di Kali Bukbuk. Tujuan saya. Saya juga mau ke Kali Bukbuk. Minimal begitu informasi pendek dari teman saya si pemberi amanat.  Sudah mendekati daerah pantai Lovina, saya turun saat si anak turun di Kali Bukbuk. Tadinya saya mau terus sampai ke terminal Singaraja, tetapi tiba-tiba saja saya memutuskan untuk ikut turun. Asal saja, ikuti kata hati. Turun ya turun. Saya tanya di mana Jl. Rambutan pada si anak. Tidak tahu, jawabnya. Eh ternyata jalan Rambutan itu tepat di hadapan saya. Masuk, saya harus mencari penginapan, minimal untuk menyimpan bawaan saya yang cukup berat. Asal saja mencari hotel, sambil mata memindai kiri kanan. Tempat makan, salon, toko souvenir. Salah satu hotel yang terlihat nyaman dimasuki, namun hati saya ternyata tidak sreg. Salah satu hotel lagi tampak menarik, tetapi anjingnya sudah menghadang galak di gerbang. Akhirnya pilihan jatuh ke Puri Bali. Tempatnya cukup terbuka namun teduh. Dan murah. Rp 150.000 untuk kamar standar, memang tanpa AC dan air panas, tapi setelah saya lihat: ini luxus. Besar sekali, dua kali lipat kamar saya di Bayreuth. Luas dan nyaman. Ada balkonnya juga. Pilihan saya tidak salah. Saya sudah berniat liburan di sana.

Setelah makan siang, saya bertanya di mana Sri Shop, karena dari informasi minim yang saya dapat, saya harus mencari Sri Shop di Jl. Rambutan, Kalibukbuk. Tuhan Maha Baik, Sri Shop ternyata berada tepat di depan hotel dan si pemilik adalah paman dari perempuan yang saya cari. Menunggu agak lama karena ibu yang saya cari masih bekerja, ngobrol ngalor ngidul dengan si paman, mengeluhkan kondisi tokonya yang jarang dikunjungi orang. Bali Utara yang sudah minim turis dan hidup yang semakin sulit. Namun begitu sempat-sempatnya si paman menawari saya laki-laki, mengingat saya datang dan menginap sendirian di sana. Ups! Terima kasih, pak, tidak usah repot-repot. Tidak mau berlama-lama di sana karena obrolan si bapak sudah mulai menjurus ke arah yang tidak enak, saya kembali ke hotel untuk beristirahat sejenak. Sore hari saya mau ke pantai.

Pantai Lovina bukan pantai landai berpasir yang sering dijadikan tempat berjemur . Turis-turis memang tak banyak, hanya ada beberapa orang. Berjalan-jalan di bibir pantai, menikmati suasana sore yang cerah. Saya suka pantai, seperti juga saya suka gunung, walaupun kalau mau dibandingkan, gunung lebih menarik perhatian saya. Apapun, saya tetap suka ada di sana. Menikmati desir angin pantai dan debur ombak yang halus, sambil berjalan-jalan di atas pasirnya yang hangat. Setelah cukup puas, saya kembali ke penginapan. Di jalan saya dihampiri oleh seorang ibu yang tergopoh datang dan dengan penuh semangat bertanya, “Mbak Dian ya? Dari Bandung? Mencari Luh Putu Asrini? Kami sudah menunggu Mbak dari tanggal 5”. Waduh! Itu tanggal 14 Februari. Dan ternyata, seluruh orang di pantai itu sudah diberitahu bahwa aka nada orang dari Bandung, bernama Dian, menemui Luh Putu Asrini, harap dipertemukan. Rupanya teman saya di Jerman mengirimi ibu Luh Putu Asrini itu sepucuk kartu pos, dan berita cepatlah menyebar. Senang karena merasa jadi orang beken di sana, akhirnya saya bertemu dengan sosok perempuan yang menjadi tujuan utama saya datang ke Bali. Luh Putu Asrini. Perempuan yang ternyata usianya jauh lebih muda dari wajahnya dengan ramah menghampiri saya, memeluk saya, berkata bahwa dia sudah mengharapkan saya datang sejak tanggal 5 Februari, kekhawatiran saya nyasar atau tidak berhasil menemukan dia,  bertanya tentang teman saya di Jerman yang dikenal baik olehnya, semua, semua dibincangkan. Kami seperti orang yang sudah kenal lama. Menyenangkan rasanya disambut sedemikian penuh suka cita di tempat yang jauh dari rumah. Tiba-tiba saya sudah merasa di rumah.

Saya ajak ibu ramah itu ke hotel untuk mengambil amanat dari teman saya yang diterimanya penuh haru dan suka cita. Ah, reaksi jujur dari wajahnya terpancar jelas. Kebahagiaan yang sederhana, namun tulus. Saya terharu. Matanya berbinar. Komang, gadis kecilnya yang manis, memperhatikan saya. Saya sempatkan mengambil gambar mereka berdua. Untuk teman sayadi Jerman. Ibu itu kemudian bercerita sedikit tentang kondisi keluarganya. Suaminya mengalami kecelakaan. TUjuh tahun lalu motornya ditabrak, dia jatuh dan kepalanya terbentur. Sampai sekarang tidak bisa bekerja, karena pendarahan di kepalanya. Mereka memiliki 3 anak usia sekolah. Yang mencari nafkah sekarang adalah ibu Asrini. Dulunya bekerja sebagai pedagang kain di pantai, sekarang bekerja di dapur sebuah hotel milik orang Swiss di Lovina. Mereka tinggal bersama keluarga dari pihak suaminya. Saya sudah bisa membayangkan bagaimana kondisinya. Bukan hal aneh, banyak keluarga di Indonesia kondisinya sperti ibu Asrini. Perempuan kuat dan hebat. Berkaca-kaca mendengar ceritanya, apalagi sesaat sebelum pamit kerja lagi, dia masih bertanya pada saya, “Mbak Dian suka capcay? Besok makan malam di rumah saya, ya, Mbak. Saya ingin mengenalkan Mbak ke semua keluarga saya. Saya senang bisa ketemu Mbak. Mbak baik sekali mau datang jauh-jauh dari Bandung untuk ketemu saya.” Ah, saya yang berbahagia bisa berkenalan dengan perempuan sehebat dia. Dan saya tahu pasti, mereka pasti akan menjamu saya, walaupun mereka tidak punya apapun.Tamu adalah raja, layak dihormat. Saya tak layak menolak kehormatan menjadi tamu mereka, walaupun saya tahu, merekalah yang lebih layak saya jamu.

Advertisements

3 Gedanken zu „Catatan Perjalanan: Ditolak Jatim, dipikat Bali (3)

  1. Dua jempol mengacung buat teh dian. 2 hari, kemarin dan hari ini membaca „ditolak jatim, dipikat bali“ menemani pagi hari saya sambil minum teh hangat.
    Berasa ikut menikmati perjalanan teh dian yang ala reporter national geographic..hehehe…

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s