Catatan Perjalanan:Ditolak Jatim, dipikat Bali (2)

Jadi, candi pertama yang kami kunjungi di hari kedua di Malang adalah Candi Badut. Setelah menunggu angkot dekat hotel yang lama tak kunjung datang, kami memutuskan jalan (lagi) sampai menemukan angkot yang dimaksud. Duh, saya kok lupa angkot apa yang menuju ke Candi Badut, yang jelas angkot-angkot di Malang menggunakan singkatan untuk menunjukkan tujuannya. Misalnya AL = Arjosari – Landungsari, AG = Arjosari – Gadang, GA ya kebalikannya. Satu lagi, ongkos angkot di sana murah. Jauh dekat  Rp 2500 saja (bandingannya Bandung dan nanti Bali). Setelah berjalan melewati daerah perumahan penduduk  yang bersih dan membuat kami tidak tahan untuk tidak mengomentari  tulisan-tulisan yang dibuat oleh orang-orangnya, kami kemudian naik angkot menuju Candi Badut. Memakan waktu 30 menit mungkin untuk sampai di sana. Candi terlewat, karena kami tidak melihat papan penunjuk arah menuju candi. Lagipula kami jalan hanya mengandalkan perasaan dan mengikuti  ke mana si kaki mau melangkah saja. Balik arah, dan ketemulah Candi Badut yang berada di belakang beberapa rumah. Area candi dipagar dan diberi taman yang cukup asri. Sayangnya, pintu masuk ke area candi digembok. Kami pikir tadinya ada jalan masuk lain, ternyata tidak ada. Pintu benar-benar digembok, ditutup 5 menit sebelum kami datang. Jadilah kami hanya mengamati candi dari kejauhan dan mengambil beberapa gambar dari luar. Sahabat saya heran, saya apalagi, karena pintu candi digembok. Sebelum saya datang, dia pergi ke candi Singosari, dan tahun-tahun sebelumnya dia pernah juga ke Candi Badut, tapi tidak ada yang digembok satu pun. Kami tertawa-tawa saja melihat hal ini. Belum terpikir bahwa kejadian-kejadian berikutnya pun akan sama.  Lalu kami mampir dulu ke warung kecil di dekat situ untuk menanyakan candi apa lagi yang bisa dikunjungi. Masih siang, baru jam 14-an saat itu. Sambil makan singkong goreng, kami berbincang dengan si pemilik warung. Menyenangkan.

Kami makan siang dulu sebelum memutuskan melanjutkan perjalanan ke Candi Jago di daerah Lawang. Spontan saja, karena belum mau kembali ke hotel dan tidak ada keinginan untuk jalan-jalan di kota. Namun, jangan ditanya dulu sejarah kedua candi ini. Sahabat saya sudah cerita, tapi saya lupa. Nanti lah dilihat lagi. Candi Jago terletak di daerah Lawang, cukup jauh dari pusat kota Malang. Dataran tinggi. Naik angkot juga lama. Ada mungkin 1,5 jam.  Pemandangan yang indah di sepanjang jalan, ditimpali dengan obrolan ringan dengan si sopir angkot yang terheran-heran melihat kami berdua ingin sekali pergi ke sana padahal sudah diperkirakan kami akan tiba lepas maghrib, membuat perjalanan menjadi lebih menarik. “Tempatnya angker” katanya, “atau mungkin Mbak-nya lagi ngidam ya, ingin pergi ke candi”. Halah! Ngidam ke candi, biar anaknya jadi raja atau jadi arca, hehe.

Adzan maghrib baru saja selesai berkumandang, saat kami turun angkot di depan jalan menuju candi.  Candi Jago terletak tidak jauh dari jalan raya, jalan masuknya lewat gang kecil juga di antara rumah penduduk. Ada mesjid kecil di depan kompleks candi. Dan, kali ini sudah tidak terlalu heran saat melihat pintu masuk ke kompleks candi juga sudah digembok. “5 menit lalu” kata orang di sana. Barulah kami tertawa. Menertawakan diri kami yang datang selalu  5 menit setelah pintu kompleks candi ditutup. Mengelilingi kompleks candi sebentar, maksa mengambil foto di kegelapan, sahabat saya menertawakan saya yang tidak juga berhasil masuk ke dua candi yang dikunjungi hari itu. Dia bilang, saat dia sendiri, dia bisa masuk ke candi-candi itu. Dan saya akhirnya memutuskan untuk masuk mesjid saja, shalat maghrib di sana. Antara geli dan heran, setelah shalat ada kesadaran yang muncul dan keinginan untuk minta maaf pada Sang Pemilik Waktu dan Pemberi Maaf bahwa saya telah lama sekali menolak masa lalu dan kesejarahan saya. Entahlah, rasa itu muncul begitu saja. Saya mungkin berlebihan, tapi saya memang benar-benar ingin berdamai . Saya ingin damai.

Tanggung karena waktu isha sudah dekat juga, saya menunggu di mesjid diiringi tatapan heran ibu-ibu yang juga lepas maghrib menunggu shalat isha di sana. Heran mungkin melihat perempuan asing ada di sana. Selesai shalat kami kembali ke Malang. Jalan yang kami lewati sore hari terasa misterius saat malam hari. Saya suka perjalanan malam hari. Kami menunggu sangat lama di terminal Arjosari, karena angkotnya tidak akan berangkat sebelum dipenuhi penumpang. Cukup melelahkan, namun saya tetap merasa senang dan tentu saja penasaran, karena dua candi tidak bisa saya masuki hari itu. Hari berikutnya, karena jadwal pengambilan data tidak sampai siang dan saya masih penasaran ingin pergi ke candi, kami memutuskan untuk pergi ke candi Penataran. Blitar. Hehehe.

Teman-teman di UM terheran-heran saat kami bertanya jalur menuju Candi Penataran, karena mereka pikir ada banyak hal menarik yang bisa dikunjungi selain candi itu. Selain itu juga perjalanan dari Malang ke Blitar memakan waktu sekitar 3 jam. Ini hanya untuk memenuhi rasa penasaran saya saja. Selesai makan, kami naik angkot ke arah Landungsari. Setelah angkot yang kami tumpangi mogok dua kali sampai sahabat saya ikut membantu mendorong si angkot, dan setelah hampir mendekati terminal Landungsari, kami baru bertanya apakah arah kami benar. Tentu saja salah, hehe. Ya, kami salah arah. Harusnya kami mengambil arah kebalikannya, yaitu ke Gadang. Jadi balik arahlah kami. Dan itu artinya kami kembali melewati UM, hotel, ke kota, lalu ke Gadang. Dari Gadang kami naik bis kecil menuju Blitar.

Pemandangan sepanjang Malang – Blitar yang berkelok-kelok juga indah. Saya sangat menikmatinya. Cuaca cerah sekali saat itu. Panas malah. Meminta kondektu bis untuk memberi tahu kami jika sudah dekat ke arah Candi Penataran, kami tetap juga melihat-lihat penunjuk jalan. Mendekati kota Blitar, ada penunjuk arah ke kanan: Penataran. Saat kami mau berhenti di sana, si kondektur berkata bahwa kami masih harus terus, nanti dia yang akan menunjukkan. Antara percaya dan tidak, kami mengikuti juga maunya si kondektur, sampai bis masuk ke kota Blitar. Di pertigaan menuju ke arah terminal kami dipersilakan turun. „Makam ke kiri“ kata si kondektur. Makam? Ah, Candi Penataran memang candi makam. Namun, jelaslah apa yang dimaksud makam oleh si kondektur, saat kami mendekati papan penunjuk jalan. Kiri. Makam Bung Karno. Gubrak! Kami ingin ke Candi Penataran bukan makam Bung Karno. Sambil menertawakan kejadian-kejadian yang kami alami sesiangan itu, kami kemudian bertanya pada seorang polisi di pos jaga, jalan menuju ke Candi Penataran. Ternyata memang seharusnya kami mengikuti kata hati kami untuk turun jauh sebelum masuk kota Blitar. Di tempat kami melihat penunjuk jalan: Penataran itu. Ke kanan, bukan ke kiri.

Setelah mempertimbangkan waktu dan kurangnya angkutan ke arah sana, kami akhirnya memutuskan pergi ke makam Bung Karno saja, itupun masih dengan harapan siapa tahu saja ada angkutan umum ke arah Penataran. Masih penasaran ke Penataran. 6 kilometer kata sang polisi. Ke makam tapi. Tidak ada satu pun kendaraan umum yang lewat. Ada ojek memang, tetapi kami tidak mau naik ojek ke sana. Akhirnya kami jalan kaki lagi. Jalanan kota Blitar yang bersih, masih ada banyak pohon, dan suasana sore yang cerah, tidak terlalu panas, membuat acara jalan kaki kami tidak terlalu terasa melelahkan. Sempat diselingi makan es buah di pinggir jalan, menambah perbekalan minum, juga membeli lagi singkong goreng yang tampak enak (dan memang enak), kami sampai di kompleks makam Bung Karno. Tepat 5 menit setelah pintu kompleks makam digembok!

Tawa pun langsung meledak melihat kejadian ini. Kami selalu datang 5 menit setelah pintu ditutup. Untungnya si petugas yang menjaga kompleks makam cukup berbaik hati mau membukakan pintu gerbang. Mungkin karena kami datang dari jauh, dan tampaknya tampang kami sudah lelah juga. Bukan 6 kilometer kami berjalan, Pak Polisi, rasanya dua kali lipat dari 6 KM.  Jauh nian. Masuk kompleks makam. Mengambil beberapa gambar, sahabat saya menggoda saya karena gambar saya tak nampak, sementara gambar dia ada. Mungkin saya tak diperbolehkan ada di situ, katanya. Mungkin juga saya belum diterima oleh Jatim. „Kelamaan ditolak olehmu“, katanya lagi. Hehehe. Mungkin.

Tak lama berada di sana, sudah hampir maghrib. Kami berjalan lagi menuju ke arah jalan yang dilewati bis menuju Malang. Mampir dulu ke mesjid untuk shalat maghrib dan isha. Tak bisa masuk ke candi, minimal mesjid masih terbuka. Selesai shalat, kami jalan lagi menuju tempat menunggu bis. Sambil menunggu, sahabat saya masih pula dimintai tolong mendorong mobil yang mogok. Hari itu, dua kali dia mendorong mobil mogok. Doanya untuk bisa menolong orang sebanyak mungkin langsung dikabulkan. Tertawa-tawa juga kami mencermati pengalaman hari itu.

Hujan turun deras lagi selama perjalanan Blitar – Malang, menambah misterius perjalanan malam kami. Namun, beruntung saat kami turun di depan hotel, hujan sudah berhenti. Keesokan paginya, hari terakhir pengambilan data. Puas tidak puas, kami harus berhenti. Sahabat saya akan pulang ke Bandung, saya masih akan tinggal sehari di Malang, untuk selanjutnya ke Surabaya, menginap semalam di sana, dan melanjutkan perjalanan ke Bali. Kami berpisah setelah mengambil data terakhir, sahabat saya ke Arjosari, saya ke Landungsari, karena akan melanjutkan jalan-jalan saya ke Batu. Oh bukan, tepatnya mengantarkan amanat seorang teman di Jerman. Tidak pakai acara nyasar, sampai di Batu dengan selamat, disediakan Soto Banjar yang lezat, bincang-bincang yang hangat, dioleh-olehi banyak makanan, kemudian saya menuju Songgoriti. Pemandian air panas. Begitu sampai di Songgoriti, hujan turun, padahal selama di jalan cuaca cerah saja. Tampaknya saya memang tidak boleh bersenang-senang di Malang. Tujuan awal adalah mengambil data, bukan bersenang-senang, hehe.

Hari terakhir di Malang sebelum berangkat ke Surabaya, saya ke Singosari. Kali ini sendiri. Masih penasaran mengapa saya kok tidak berhasil masuk ke satu candi pun di sekitaran Malang. Jalan kaki lagi dari jalan depan masuk ke situs purbakala Singosari. Arca Dwarapala sudah saya temukan, tidak ada satu candi pun yang saya lihat. Agak heran, namun saya tetap jalan. Akhirnya memutuskan naik ojek ke candi Sumberawan. Jauh nian. Di atas gunung, itupun masih harus merangsek masuk melewati pematang. Banyak mata memandang heran, ada seorang perempuan menggendong ransel, melewati pematang sawah sendirian, ke arah candi. Pemandangannya indah sekali. Udaranya sejuk dan segar. Air sungai mengalir jernih. Indonesia. Tanah saya memang indah. Saya bahagia sebahagia-bahagianya. Saya hirup, saya penuhi dada saya dengan udara tanah dan air saya.

Saya berhasil masuk ke candi Sumberawan, sebuah candi Buddha, bukan Hindu seperti kebanyakan candi di Jawa Timur. Katanya Ken Arok pernah beristirahat di sana, makanya dibuatkan candi. Pintu kompleks candi belum ditutup. Masih diikuti pandangan heran si penjaga kompleks, saya mengambil beberapa gambar. Dupa dan sesaji cukup banyak disimpan di dekat stupa. Si penjaga mungkin merasa aneh melihat perempuan sendirian pergi ke gunung. Dari sana, diantar oleh tukang ojek yang dengan baik hati menunggu di jalan, saya menuju Petirtaan Watu Gede, yang konon adalah pemandian Ken Dedes. Ada cukup banyak orang sedang bersembahyang dan berdoa di sana. Tak lama saya di sana, setelah mengisi perut saya kembali ke Malang. Mengejar waktu ke Surabaya bersama teman. Saya akan menginap di rumahnya di Surabaya. Candi Singosari tak tampak sama sekali oleh saya. Sahabat saya heran sekaligus geli, saya apalagi, saat kami bertukar pesan pendek dan saya bercerita bahwa Candi Singosari benar-benar tak nampak oleh saya. Tak ada satu candi makam pun yang berhasil saya masuki, hehe. Tampaknya Jatim belum mau berteman dengan saya.

Perjalanan Malang  – Surabaya kembali terhadang macet di Porong, kali ini disertai air berlumpur yang tumpah ke jalan karena hujan deras membuat lumpur tumpah ruah. Saya gerah, walaupun hujan turun deras di luar bis.

Dugaan bahwa Jatim tampaknya belum mau berteman dengan saya tampaknya benar juga.  Di hari saya berangkat ke Bali, 13 Februari lalu, saya harus menunggu di Bandara Juanda selama 7 jam, karena bandara ditutup akibat pecahnya ban pesawat salah satu maskapai penerbangan. Saya benar-benar geli mencermati hari-hari saya di Jawa Timur ini. Sahabat saya hanya tertawa, terheran-heran sambil berharap bahwa Bali bisa memberi saya nyaman. Ya, saya harap Bali memang memberi nyaman.

Advertisements

2 Gedanken zu „Catatan Perjalanan:Ditolak Jatim, dipikat Bali (2)

  1. Hm, Lucu juga ceritanya mbak,
    Bahkan mbak sampai di Songgoriti dan melewatkan Candi Songgoriti !!
    Candinya masuk pagar hotel !!
    Padahal mau ke candi, bersenang – senang sampai kelupaan….
    hehehehe……….

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s